Mereka Juga Pernah Gagal
Bayangkan ini.
Seorang pria berusia 40 tahun duduk di ruang kerjanya yang sederhana. Di mejanya tergeletak puluhan surat penolakan dari penerbit. Naskahnya—yang ia tulis dengan susah payah—ditolak berkali-kali. "Terlalu panjang." "Tidak menarik." "Tidak akan laku."
Kebanyakan orang akan menyerah. Tapi tidak dia.
Pria itu adalah Dale Carnegie. Dan buku yang ditolak berkali-kali itu? "How to Win Friends and Influence People"—yang kemudian terjual lebih dari 30 juta kopi dan mengubah jutaan hidup.
Inilah ironi yang indah: Dale Carnegie, yang mengajarkan jutaan orang tentang kesuksesan, juga mengalami penolakan demi penolakan. Dia bukan lahir sukses. Dia membangunnya—satu kegagalan pada satu waktu.
Dan dia tidak sendirian.
Di balik setiap nama besar yang kita kagumi—Lincoln, Edison, Shakespeare, Churchill—ada cerita yang jarang diceritakan. Cerita tentang kegagalan memalukan. Kesalahan bodoh. Momen di mana mereka hampir menyerah.
"Little Known Facts About Well Known People" adalah koleksi cerita-cerita ini. Bukan biografi lengkap. Bukan hagiografi yang memuji-muji tanpa kritik. Tapi potret jujur tentang sisi manusiawi dari orang-orang besar.
Dale Carnegie percaya bahwa kita bisa belajar lebih banyak dari kegagalan orang sukses daripada dari kesuksesan orang biasa. Karena jika mereka—dengan semua keterbatasan, kesalahan, dan keraguan mereka—bisa mencapai hal luar biasa, maka kita juga bisa.
Mari kita mulai dengan kisah yang mungkin mengubah cara Anda melihat kegagalan selamanya.
Bagian 1: Abraham Lincoln—Katalog Kegagalan
Daftar Kegagalan yang Menakjubkan
Ini adalah resume Abraham Lincoln sampai usia 51 tahun:
● 1832 (usia 23): Kalah dalam pemilu legislatif negara bagian
● 1833 (usia 24): Bisnis bangkrut, menghabiskan 17 tahun membayar hutang
● 1835 (usia 26): Tunangan meninggal, dia depresi parah selama berbulan-bulan
● 1836 (usia 27): Mengalami nervous breakdown
● 1838 (usia 29): Kalah dalam pemilihan ketua DPR negara bagian
● 1843 (usia 34): Kalah dalam nominasi kongres
● 1848 (usia 39): Kalah lagi dalam nominasi kongres
● 1855 (usia 46): Kalah dalam pemilihan Senator
● 1856 (usia 47): Kalah dalam nominasi wakil presiden—mendapat kurang dari 100 suara
● 1858 (usia 49): Kalah lagi dalam pemilihan Senator
Bayangkan itu adalah resume Anda. Berapa banyak dari kita yang akan terus mencoba setelah kegagalan kesepuluh? Kesebelas?
Tapi Lincoln tidak berhenti.
1860 (usia 51): Terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16—dan menjadi salah satu presiden terbesar dalam sejarah, memimpin negara melalui Perang Saudara dan menghapus perbudakan.
Apa yang Membuat Lincoln Berbeda?
Bukan kecerdasan luar biasa. Lincoln hampir tidak punya pendidikan formal—total sekolahnya kurang dari satu tahun.
Bukan koneksi. Dia tumbuh dalam kemiskinan di kabin kayu di Kentucky.
Bukan kepercayaan diri alami. Lincoln sering menderita depresi yang dia sebut "melankoli".
Yang membuat Lincoln berbeda adalah dia melihat kegagalan sebagai guru, bukan hukuman.
Setelah kalah dalam pemilihan Senator tahun 1858, Lincoln menulis: "Jalan menuju kesuksesan jarang lurus. Lebih sering berliku-liku dengan banyak jalan buntu. Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdas."
Pelajaran: Kegagalan bukan akhir cerita. Kegagalan adalah plot twist dalam perjalanan menuju kesuksesan.
Bagian 2: Thomas Edison—10.000 Cara yang Tidak Berhasil
"Saya Tidak Gagal"
Ketika seorang wartawan bertanya kepada Thomas Edison tentang kegagalannya dalam menemukan bola lampu—setelah ribuan percobaan yang tidak berhasil—Edison menjawab dengan tenang:
"Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil."
Ini bukan sekadar kutipan inspiratif. Ini adalah filosofi hidup.
Edison mematenkan 1.093 penemuan selama hidupnya. Tapi di balik setiap paten ada ratusan, bahkan ribuan, eksperimen yang gagal.
Laboratorium Api
Pada Oktober 1914, ketika Edison berusia 67 tahun, kebakaran besar menghancurkan laboratoriumnya di West Orange, New Jersey. Puluhan tahun pekerjaan—prototipe, catatan, peralatan senilai jutaan dolar—lenyap dalam api.
Apa yang Edison lakukan?
Dia menonton api sambil berdiri dengan tenang. Lalu dia berteriak memanggil putranya: "Pergi cepat dan bawa ibumu! Dia tidak akan pernah melihat api sebesar ini lagi dalam hidupnya!"
Keesokan harinya, di antara reruntuhan yang masih berasap, Edison—seorang pria hampir 70 tahun—berkata kepada karyawannya:
"Ada nilai besar dalam bencana. Semua kesalahan kita sudah terbakar. Sekarang kita bisa memulai yang baru."
Tiga minggu kemudian, dia sudah mengirimkan fonograf pertamanya yang baru.
Apa yang Membuat Edison Tidak Menyerah?
Carnegie mengidentifikasi tiga hal:
1. Curiosity yang tak pernah padam Edison tidak menciptakan untuk uang atau ketenaran (meskipun dia dapat keduanya). Dia menciptakan karena dia penasaran. Dia ingin tahu apakah sesuatu bisa dilakukan.
2. Redefinisi kegagalan Bagi kebanyakan orang, eksperimen yang gagal adalah waktu terbuang. Bagi Edison, itu adalah data berharga—informasi tentang apa yang tidak berhasil.
3. Fokus pada proses, bukan hasil Edison menikmati proses penemuan itu sendiri. Hasilnya adalah bonus, bukan tujuan utama.
Pelajaran: Perspektif kita tentang kegagalan menentukan apakah kita akan bangkit atau menyerah.
Bagian 3: Beethoven—Tuli Tapi Tetap Menciptakan Simfoni
Mimpi Buruk Seorang Musisi
Bayangkan Anda seorang pianis virtuoso. Musik adalah hidup Anda. Lalu, perlahan, Anda mulai kehilangan pendengaran.
Pada awalnya hanya suara tinggi yang hilang. Kemudian percakapan menjadi sulit. Akhirnya, bahkan nada musik yang Anda cintai mulai memudar menjadi keheningan.
Ini adalah mimpi buruk Ludwig van Beethoven.
Pada usia 28—di puncak karirnya sebagai pianis dan komposer—Beethoven mulai menyadari telinganya bermasalah. Pada usia 44, dia hampir sepenuhnya tuli.
Bagaimana seorang komposer bisa menciptakan musik jika dia tidak bisa mendengar?
Heiligenstadt Testament—Surat Bunuh Diri yang Tidak Terkirim
Pada tahun 1802, dalam keputusasaan mendalam, Beethoven menulis surat untuk saudara-saudaranya—sebuah surat perpisahan. Dia merencanakan bunuh diri.
Dalam surat itu dia menulis: "Betapa rendah hatinya saya harus hidup dalam pengasingan... Jika saya mendekat ke sekelompok orang, saya dipenuhi kecemasan mengerikan bahwa saya mungkin berisiko membiarkan kondisi saya diketahui."
Dia merasa terisolasi. Malu. Putus asa.
Tapi dia tidak mengirim surat itu. Dia tidak bunuh diri.
Mengapa? Karena, seperti yang dia tulis: "Seni saja yang menahan saya. Tampaknya mustahil bagiku untuk meninggalkan dunia sampai aku telah memproduksi semua yang aku rasakan ditakdirkan untuk aku hasilkan."
Simfoni Kesembilan—Mahakarya dari Keheningan
Beethoven menciptakan beberapa karya terbaiknya setelah dia tuli sepenuhnya.
Termasuk Symphony No. 9—salah satu komposisi paling terkenal dalam sejarah musik, dengan "Ode to Joy" yang ikonik.
Dia menciptakannya tanpa mendengar satu nada pun.
Bagaimana? Dia mendengar musik di pikirannya. Dia merasakan getaran melalui lantai. Dia mengingat nada-nada dari memori. Dan dia menciptakan dengan hati, bukan telinga.
Pada premiere Symphony No. 9 tahun 1824, Beethoven berdiri di panggung—tidak bisa mendengar tepuk tangan meriah dari penonton. Seorang penyanyi harus memutar tubuhnya agar dia bisa melihat standing ovation yang dia terima.
Pelajaran: Keterbatasan fisik tidak harus membatasi kreativitas dan kontribusi kita. Kadang justru keterbatasan yang memaksa kita menemukan cara baru yang lebih brilian.
Bagian 4: Winston Churchill—Dari Gagap ke Orator Terbesar
Anak yang Gagap dan Dianggap Bodoh
Winston Churchill, yang akan dikenang sebagai salah satu orator terbesar dalam sejarah, memulai hidupnya dengan gangguan bicara yang parah.
Dia gagap. Dia kesulitan mengucapkan huruf "S". Guru-gurunya menganggapnya lambat dan tidak terlalu cerdas.
Di sekolah Harrow, Churchill berada di kelas paling bawah. Dia gagal ujian masuk Royal Military College dua kali. Ayahnya menulis surat yang menyakitkan, menyebutnya "dungu" dan meramalkan masa depan yang suram.
Tapi ada satu hal yang Churchill lakukan yang mengubah segalanya: Dia tidak menyerah pada kelemahan bicaranya. Dia malah menghadapinya.
Latihan, Latihan, Latihan
Churchill menghabiskan berjam-jam berlatih pidato di depan cermin. Dia merekam dirinya. Dia berlatih pelafalan kata-kata sulit berulang-ulang sampai lidahnya patuh.
Dia menulis setiap pidato dengan detail luar biasa—bahkan jeda napas dan penekanan kata. Tidak ada yang spontan. Semua direncanakan, dilatih, dipoles.
Yang terlihat sebagai "keahlian alami" sebenarnya adalah hasil dari persiapan obsesif.
Pidato yang Menyelamatkan Inggris
Pada tahun 1940, ketika Inggris menghadapi invasi Nazi dan hampir semua sekutunya telah dikalahkan, Churchill memberikan serangkaian pidato yang mengubah moral bangsa.
"We shall fight on the beaches, we shall fight on the landing grounds, we shall fight in the fields and in the streets... we shall never surrender!"
Kata-kata ini—diucapkan oleh pria yang dulu gagap—menginspirasi bangsa untuk bertahan di saat paling gelap.
Pelajaran: Kelemahan Anda hari ini bisa menjadi kekuatan Anda besok—jika Anda bersedia bekerja keras untuk mengatasinya.
Bagian 5: Walt Disney—Ditolak Karena "Kurang Imajinasi"
Dipecat Karena Tidak Kreatif
Ini mungkin penolakan paling ironis dalam sejarah:
Walt Disney—pria yang akan menciptakan Mickey Mouse, Disneyland, dan kerajaan hiburan terbesar di dunia—pernah dipecat dari koran lokal karena "kurang imajinasi dan tidak punya ide bagus."
Ketika pertama kali mencoba mendanai film animasinya, ratusan bank menolak. "Animasi penuh durasi penuh? Orang tidak akan pernah menontonnya. Terlalu mahal. Terlalu berisiko."
Bahkan saudaranya sendiri meragukan visinya.
Bangkrut Sebelum Sukses
Disney memulai studio animasi pertamanya pada awal 1920-an di Kansas City. Dalam dua tahun, perusahaan bangkrut. Dia bahkan tidak punya uang untuk tiket kereta ke California—dia harus pinjam.
Di Hollywood, dia mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Mickey Mouse—yang sekarang menjadi ikon global—awalnya ditolak karena "tikus itu menjijikkan" dan "tidak ada yang mau menonton tikus di layar."
Snow White—"Disney's Folly"
Ketika Disney mengumumkan dia akan membuat film animasi penuh durasi pertama, "Snow White and the Seven Dwarfs", seluruh industri menertawakannya.
Mereka menyebutnya "Disney's Folly"—kebodohan Disney. "Tidak ada yang akan duduk menonton kartun selama 90 menit. Ini akan bangkrut."
Disney mempertaruhkan segalanya—rumahnya, perusahaannya, reputasinya—untuk film ini.
Dan ketika Snow White dirilis pada 1937? Itu menjadi film terlaris tahun itu dan mengubah industri film selamanya.
Pelajaran: Visi yang benar-benar inovatif hampir selalu dianggap gila oleh orang lain. Jangan biarkan skeptisisme mereka menghentikan Anda.
Bagian 6: J.K. Rowling—Dari Kesejahteraan Sosial ke Miliarder
Di Titik Terendah
Pada awal 1990-an, J.K. Rowling adalah ibu tunggal yang hidup dari tunjangan kesejahteraan sosial di Edinburgh, Scotland.
Pernikahannya gagal. Dia depresi klinis. Dia hampir tidak punya uang untuk makan. Apartemennya tidak punya pemanas—dia sering menulis di kafe hanya untuk mendapat kehangatan.
Dia merasa seperti "kegagalan terbesar yang pernah saya kenal."
Di tengah kegelapan ini, dia menulis cerita tentang anak laki-laki berkacamata yang menemukan dia adalah penyihir. Menulis adalah pelarian. Satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras.
12 Penolakan
Ketika naskah "Harry Potter and the Philosopher's Stone" selesai, Rowling mengirimkannya ke penerbit.
Penolakan pertama. "Terlalu panjang untuk buku anak-anak." Penolakan kedua. "Terlalu kompleks." Penolakan ketiga. "Pasar untuk buku fantasi anak sangat kecil."
Satu demi satu, 12 penerbit menolak Harry Potter.
Agen sastra bahkan menyarankannya untuk mencari pekerjaan tetap dan berhenti mencoba menjadi penulis.
Penerbit yang Mengubah Segalanya
Akhirnya, penerbit kecil Bloomsbury setuju menerbitkan—dengan cetak awal hanya 1.000 kopi dan advance £1.500.
Direktur penerbit bahkan menyarankan Rowling untuk mencari pekerjaan sampingan karena "Anda tidak akan menghasilkan uang dari buku anak-anak."
Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Harry Potter menjadi fenomena global. Lebih dari 500 juta buku terjual. 8 film blockbuster. Taman hiburan. Rowling menjadi miliarder pertama dari menulis.
Tapi yang lebih penting dari uangnya adalah pesan yang dia berikan pada jutaan pembaca: Bahkan di saat paling gelap, keajaiban bisa terjadi.
Pelajaran: Penolakan adalah opini, bukan fakta. 12 penerbit salah tentang Harry Potter. Berapa banyak orang yang salah tentang Anda?
Bagian 7: Pola yang Berulang—Apa yang Mereka Miliki Bersama?
Dale Carnegie tidak hanya mengumpulkan cerita. Dia menganalisis pola.
Apa yang membuat orang-orang ini berbeda? Mengapa mereka berhasil sementara ribuan orang lain dengan bakat serupa gagal?
1. Mereka Mendefinisikan Ulang Kegagalan
● Lincoln melihat kalah pemilu sebagai pelajaran, bukan akhir
● Edison melihat 10.000 eksperimen gagal sebagai 10.000 cara yang tidak berhasil
● Disney melihat penolakan sebagai konfirmasi bahwa idenya terlalu inovatif untuk dipahami orang lain
Kesimpulan: Kegagalan adalah interpretasi, bukan fakta objektif. Kita memilih apa artinya.
2. Mereka Tidak Berhenti di Kegagalan Pertama (atau Kesepuluh)
Rata-rata orang menyerah setelah satu atau dua penolakan. Orang-orang besar ini menghadapi puluhan, bahkan ratusan penolakan—dan tetap maju.
Kesimpulan: Ketekunan mengalahkan bakat. Setiap waktu.
3. Mereka Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan
● Churchill mengubah gagap menjadi motivasi untuk menjadi orator hebat
● Beethoven mengubah ketulian menjadi fokus pada "musik internal"
● Rowling mengubah depresi dan kesulitan menjadi kedalaman emosional dalam tulisannya
Kesimpulan: Hambatan terbesar Anda bisa menjadi keunggulan kompetitif Anda—jika Anda menggunakannya dengan benar.
4. Mereka Punya Visi yang Lebih Besar dari Ego
Mereka tidak menyerah bukan karena mereka keras kepala atau egois. Mereka tidak menyerah karena mereka percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
● Lincoln percaya pada Amerika Serikat yang bersatu
● Beethoven percaya pada musik yang belum diciptakan
● Disney percaya pada keajaiban cerita
● Rowling percaya pada kekuatan imajinasi
Kesimpulan: Purpose mengalahkan pain. Ketika "mengapa" Anda cukup kuat, "bagaimana" akan muncul.
5. Mereka Belajar dari Kritik Tapi Tidak Dikontrol olehnya
Mereka mendengarkan feedback. Mereka belajar dari kesalahan. Tapi mereka tidak membiarkan opini orang lain menentukan nilai diri mereka atau menghentikan misi mereka.
Kesimpulan: Ambil wisdom dari kritik, buang racunnya.
Bagian 8: Menerapkan Pelajaran dalam Hidup Anda
Pertanyaan yang Harus Anda Tanyakan
Dale Carnegie menutup buku dengan pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:
1. "Berapa kali Anda akan mencoba sebelum menyerah?"
Lincoln gagal 11 kali sebelum sukses. Edison mencoba 10.000 kali. Rowling ditolak 12 kali.
Berapa kali Anda sudah mencoba? Satu kali? Dua kali? Apakah itu cukup untuk menyimpulkan "Ini tidak akan berhasil"?
2. "Apa yang Anda sebut 'kegagalan' sebenarnya adalah data?"
Setiap usaha yang tidak berhasil memberitahu Anda sesuatu. Apa yang Anda pelajari dari kegagalan terakhir Anda?
3. "Apakah kelemahan Anda bisa menjadi kekuatan tersembunyi?"
Churchill gagap. Beethoven tuli. Disney dianggap tidak kreatif.
Kelemahan apa yang Anda miliki yang sebenarnya bisa menjadi keunggulan unik Anda jika Anda menghadapinya?
4. "Apakah Anda menyerah terlalu cepat?"
Kesuksesan besar sering datang tepat setelah titik di mana kebanyakan orang menyerah.
Disney hampir bangkrut sebelum Snow White. Rowling hampir menyerah menulis sebelum penerbit terakhir berkata ya.
Apakah Anda berada satu langkah sebelum breakthrough—tapi tidak tahu karena Anda berhenti terlalu cepat?
Aksi yang Bisa Anda Ambil Hari Ini
1. Buat "Katalog Kegagalan" Anda Seperti Lincoln, tulis semua kegagalan Anda. Lalu tambahkan: "Apa yang saya pelajari dari ini?"
Anda akan melihat kegagalan bukan sebagai musuh, tapi sebagai guru.
2. Redefinisikan Satu Kegagalan Pilih satu "kegagalan" besar dalam hidup Anda. Sekarang tulis ulang ceritanya: "Ini bukan kegagalan. Ini adalah..."
Mungkin itu adalah "pengalihan yang menyelamatkan saya dari jalan yang salah" atau "pelajaran yang saya butuhkan untuk sukses nanti."
3. Commit untuk "Satu Lagi" Jika ada sesuatu yang Anda nyaris menyerah, commit untuk mencoba sekali lagi.
Satu aplikasi lagi. Satu percakapan lagi. Satu usaha lagi.
Ingat: Rowling ditolak 12 kali. Yang ke-13 adalah Bloomsbury.
4. Bagikan Kegagalan Anda Kita semua pernah gagal. Tapi kita menyembunyikannya karena malu.
Mulai berbagi cerita kegagalan Anda—dan apa yang Anda pelajari. Anda akan menemukan dua hal:
● Orang akan menghormati kejujuran Anda
● Orang akan berbagi cerita mereka—dan Anda tidak akan merasa sendirian
Penutup: Fakta Kecil yang Mengubah Perspektif Besar
Dale Carnegie menulis buku ini dengan satu misi sederhana: Menghancurkan ilusi bahwa orang-orang sukses adalah "superhuman" yang tidak pernah gagal.
Kebenaran adalah kebalikannya.
Orang-orang paling sukses adalah mereka yang gagal paling banyak—karena mereka mencoba paling banyak, bertahan paling lama, dan bangkit paling sering.
Lincoln tidak berhasil meskipun dia gagal 11 kali. Dia berhasil karena dia gagal 11 kali—setiap kegagalan mengajarkan sesuatu yang dia butuhkan untuk akhirnya menang.
Edison tidak menemukan bola lampu meskipun 10.000 percobaan gagal. Dia menemukannya karena 10.000 percobaan itu—setiap kegagalan mengeliminasi satu kemungkinan dan membawanya lebih dekat pada solusi.
Pertanyaan Terakhir
Jadi sekarang pertanyaannya bukan: "Apakah saya akan gagal?"
Pertanyaannya adalah: "Ketika saya gagal—karena saya pasti akan—apakah saya akan berhenti atau belajar?"
Karena di sinilah perbedaannya.
Antara orang biasa dan orang luar biasa. Antara mereka yang dicatat dalam sejarah dan mereka yang dilupakan. Antara hidup yang penuh penyesaian "apa yang mungkin" dan hidup yang merayakan "apa yang saya capai."
Fakta kecil tentang orang-orang besar ini adalah: Mereka tidak lebih pintar dari Anda. Tidak lebih berbakat. Tidak lebih beruntung.
Mereka hanya tidak berhenti ketika kebanyakan orang berhenti.
Dan itu—lebih dari IQ, lebih dari koneksi, lebih dari keberuntungan—yang membuat perbedaan.
Jadi lain kali Anda menghadapi kegagalan, penolakan, atau hambatan yang terasa tidak bisa diatasi, ingatlah:
Lincoln kehilangan 11 pemilu. Edison gagal 10.000 kali. Beethoven tuli. Churchill gagap. Disney bangkrut. Rowling hidup dari tunjangan sosial.
Dan mereka semua menjadi legenda.
Bukan meskipun kegagalan mereka. Karena kegagalan mereka.
Sekarang giliran Anda.
Apa yang akan Anda lakukan dengan kegagalan Anda?
Tentang Buku Asli
"Little Known Facts About Well Known People" adalah koleksi Dale Carnegie yang mengumpulkan anekdot dan cerita tentang tokoh-tokoh terkenal sepanjang sejarah.
Dale Carnegie (1888-1955) adalah penulis, dosen, dan pengembang kursus pengembangan diri yang mengubah jutaan hidup. Buku terkenalnya, "How to Win Friends and Influence People" (1936), telah terjual lebih dari 30 juta kopi dan tetap menjadi salah satu buku self-help terlaris sepanjang masa.
Carnegie percaya pada kekuatan cerita untuk mengajarkan prinsip-prinsip hidup. "Little Known Facts About Well Known People" adalah manifestasi dari filosofi ini—menggunakan kisah nyata dari sejarah untuk menginspirasi dan mengajar.
Untuk pemahaman yang lebih mendalam dan lebih banyak cerita inspiratif, sangat disarankan membaca buku aslinya. Carnegie mengumpulkan puluhan cerita tentang tokoh-tokoh dari berbagai bidang—sains, seni, politik, bisnis—masing-masing dengan pelajaran unik.
Ringkasan ini hanya menangkap sebagian kecil dari wisdom yang ada di buku lengkap.
Sekarang pergilah dan tulis cerita Anda sendiri—cerita yang suatu hari nanti akan menginspirasi orang lain.
Karena siapa tahu? Mungkin kegagalan yang Anda alami hari ini adalah bab pertama dari kesuksesan luar biasa besok.
Dan suatu hari, seseorang akan menulis tentang "fakta kecil yang tidak diketahui" tentang Anda—tentang bagaimana Anda bangkit, bertahan, dan menang.
Mulailah hari ini. Satu usaha lagi. Satu kegagalan lagi. Satu langkah lagi.
Karena orang-orang besar tidak dilahirkan. Mereka dibangun—satu kegagalan pada satu waktu.

