Meja Negosiasi Sepanjang Hidup
Pagi ini, Anda bernegosiasi dengan anak Anda tentang sarapan apa yang akan dia makan.
Dalam perjalanan ke kantor, Anda bernegosiasi dengan diri sendiri: apakah lewat jalan tol yang cepat tapi mahal, atau jalan biasa yang gratis tapi macet?
Di kantor, Anda bernegosiasi dengan bos tentang deadline proyek. Dengan kolega tentang siapa yang presentasi duluan. Dengan vendor tentang harga dan termin pembayaran.
Siang hari, Anda bernegosiasi dengan pasangan lewat WhatsApp tentang makan malam malam ini.
Sore hari, bernegosiasi dengan tim tentang strategi bulan depan.
Malam hari, bernegosiasi dengan anak tentang jam tidur.
Anda pikir Anda jarang bernegosiasi? Anda salah.
Hidup adalah satu negosiasi panjang yang berkelanjutan. Dari yang kita makan hingga di mana kita tinggal, dari berapa gaji kita hingga bagaimana kita menghabiskan waktu—semuanya hasil dari negosiasi.
Brian Tracy, yang telah bernegosiasi dengan ribuan orang di puluhan negara selama lebih dari 30 tahun, membuka bukunya dengan pernyataan sederhana namun powerful:
"Kemampuan Anda untuk bernegosiasi secara efektif akan menentukan kualitas hidup Anda lebih dari hampir keterampilan lain yang Anda miliki."
Pikirkan tentang itu:
● Gaji Anda adalah hasil negosiasi
● Rumah Anda dibeli melalui negosiasi
● Harga yang Anda bayar untuk apapun adalah hasil negosiasi (atau ketiadaan negosiasi)
● Bahkan waktu liburan Anda, pembagian tugas rumah tangga, hingga siapa yang pegang remote TV—semua negosiasi
Dan yang menarik: sebagian besar dari kita tidak pernah belajar cara bernegosiasi.
Kita belajar matematika, sejarah, fisika di sekolah. Tapi tidak ada kelas "Negosiasi 101." Jadi kita masuk ke dunia nyata tanpa bekal, berharap naluri kita cukup.
Spoiler alert: naluri saja tidak cukup.
Kabar baiknya? Negosiasi adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Dan buku ini—serta ringkasan yang Anda baca sekarang—adalah shortcut Anda untuk menjadi negosiator yang lebih baik.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Mindset Negosiator Sejati
Negosiasi Bukan Perang
Kesalahan terbesar yang orang buat: mereka pikir negosiasi adalah pertempuran.
Ada pemenang dan pecundang. Ada musuh yang harus dikalahkan. Ada yang menang, ada yang kalah.
Ini adalah mindset yang membunuh kesepakatan.
Tracy mengajarkan sesuatu yang radikal: Negosiasi terbaik adalah ketika semua pihak merasa menang.
Ini bukan naif. Ini adalah strategi paling cerdas.
Mengapa? Karena:
1. Hubungan jangka panjang lebih berharga daripada kemenangan jangka pendek. Jika Anda "mengalahkan" supplier hari ini dengan menekan harga sampai mereka rugi, mereka tidak akan mau berbisnis dengan Anda lagi besok.
2. Orang yang merasa kalah akan mencari cara untuk membalas dendam. Bahkan jika kesepakatan ditandatangani, eksekusi akan setengah hati atau bahkan disabotase.
3. Reputasi Anda lebih penting daripada transaksi tunggal. Dunia bisnis kecil. Orang bicara. Reputasi sebagai "predator" akan menutup pintu di masa depan.
The Abundance Mentality
Negosiator buruk beroperasi dari scarcity mentality: "Ini satu-satunya kesempatan saya. Saya harus mendapatkannya dengan harga berapa pun."
Negosiator hebat beroperasi dari abundance mentality: "Selalu ada opsi lain. Jika kesepakatan ini tidak adil untuk kedua belah pihak, saya bisa berjalan pergi."
Paradoks: Ketika Anda tidak putus asa membutuhkan kesepakatan, Anda punya lebih banyak kekuatan dalam negosiasi.
Orang bisa mencium keputusasaan. Dan mereka akan mengeksploitasinya.
Tapi ketika Anda tenang, percaya diri, dan jelas bahwa Anda punya alternatif—tiba-tiba orang lain lebih tertarik untuk membuat kesepakatan yang adil dengan Anda.
Bagian 2: Persiapan—80% dari Kesuksesan
Tracy menulis sesuatu yang mengejutkan banyak orang:
"Negosiasi aktual—duduk di meja, bertukar tawaran—hanya 20% dari prosesnya. 80% lainnya adalah persiapan."
Kebanyakan orang melakukan kebalikannya. Mereka menghabiskan 5 menit mempersiapkan dan 2 jam bernegosiasi.
Lalu mereka bertanya-tanya mengapa hasilnya buruk.
Tiga Pertanyaan Emas Sebelum Negosiasi
1. Apa yang benar-benar saya inginkan?
Ini terdengar sederhana, tapi kebanyakan orang tidak jelas.
"Saya ingin harga yang bagus" → Terlalu samar. Bagus menurut siapa? Berapa tepatnya?
"Saya ingin harga maksimal 50 juta, dengan pembayaran 30% di muka dan sisanya dalam 6 bulan, termasuk garansi 2 tahun" → Jelas dan spesifik.
Anda tidak bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan jika Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan.
2. Apa yang pihak lain inginkan?
Ini adalah rahasia negosiator hebat: mereka menghabiskan lebih banyak waktu memikirkan kebutuhan pihak lain daripada kebutuhan mereka sendiri.
Mengapa? Karena jika Anda bisa memberikan apa yang mereka inginkan sambil mendapat apa yang Anda inginkan, kesepakatan terjadi dengan mudah.
Lakukan riset:
● Apa motivasi mereka?
● Apa deadline mereka?
● Apa tekanan yang mereka hadapi?
● Apa yang akan membuat mereka terlihat bagus di mata atasan mereka?
Semakin Anda tahu tentang mereka, semakin powerful posisi Anda.
3. Apa alternatif saya jika negosiasi gagal?
Ini yang disebut BATNA dalam literatur negosiasi—Best Alternative To a Negotiated Agreement.
Jika negosiasi ini gagal, apa yang akan Anda lakukan?
Punya BATNA yang kuat memberi Anda kekuatan untuk berjalan pergi—dan itu adalah kekuatan terbesar dalam negosiasi.
Contoh:
● Anda negosiasi gaji dengan perusahaan A. BATNA Anda: tawaran dari perusahaan B.
● Anda negosiasi harga rumah. BATNA Anda: 3 rumah lain yang Anda survei.
● Anda negosiasi kontrak supplier. BATNA Anda: 2 supplier alternatif yang sudah quote.
Tidak punya BATNA = Anda dalam posisi lemah. Pihak lain tahu Anda harus deal.
The Magic Notebook
Tracy merekomendasikan sesuatu yang sederhana tapi powerful: Tulis semua informasi di notebook.
Sebelum negosiasi:
● Apa yang Anda inginkan (ideal dan minimum acceptable)
● Apa yang Anda tahu tentang mereka
● Pertanyaan yang akan Anda ajukan
● Potensi keberatan dan respons Anda
Selama negosiasi:
● Catat semua yang mereka katakan
● Catat angka-angka spesifik
● Catat komitmen mereka
Mengapa ini powerful?
1. Anda terlihat profesional dan persiapan
2. Anda tidak lupa detail penting
3. Menulis memaksa Anda berpikir jernih
4. Anda punya catatan untuk referensi nanti
Bonus psikologis: Ketika Anda mencatat sesuatu yang mereka katakan, mereka merasa didengar—dan lebih committed pada kata-kata mereka sendiri.
Bagian 3: Kekuatan Bertanya—Yang Bertanya, Yang Mengontrol
Negosiator amatir berbicara. Negosiator profesional bertanya.
Tracy mengajarkan prinsip fundamental:
"Dalam negosiasi, siapa yang bertanya lebih banyak pertanyaan, dialah yang mengontrol percakapan."
Mengapa Pertanyaan Begitu Powerful?
1. Pertanyaan mengungkap informasi
"Berapa budget Anda untuk proyek ini?" "Kapan Anda perlu ini selesai?" "Apa yang paling penting bagi Anda—harga, kualitas, atau kecepatan?"
Setiap jawaban memberi Anda informasi. Dan dalam negosiasi, informasi adalah kekuatan.
2. Pertanyaan membuat orang menjual diri mereka sendiri
Alih-alih Anda menjelaskan mengapa produk Anda bagus (yang terasa seperti sales pitch), tanyakan:
"Apa yang Anda cari dalam solusi ini?"
Mereka akan menceritakan kriterianya. Lalu Anda bisa menunjukkan bagaimana produk Anda memenuhi kriteria mereka sendiri—yang jauh lebih persuasif.
3. Pertanyaan menghindari konflik langsung
Jangan katakan: "Harga Anda terlalu tinggi."
Tanyakan: "Bagaimana Anda sampai pada angka ini? Bisakah Anda breakdown komponennya?"
Pertanyaan kedua mendapat informasi yang sama, tapi tanpa konfrontasi.
Jenis-Jenis Pertanyaan Strategis
Open-ended questions (Pertanyaan terbuka)
● "Ceritakan tentang kebutuhan Anda..."
● "Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat ini?"
● "Bagaimana proses pengambilan keputusan Anda?"
Ini membuat mereka berbicara—dan semakin banyak mereka bicara, semakin banyak Anda belajar.
Clarifying questions (Pertanyaan klarifikasi)
● "Maksud Anda adalah...?"
● "Jadi jika saya mengerti dengan benar..."
● "Bisakah Anda jelaskan lebih detail tentang...?"
Ini memastikan Anda benar-benar mengerti—dan membuat mereka merasa didengar.
Trial closing questions (Pertanyaan percobaan penutupan)
● "Jika kami bisa memenuhi kriteria X, apakah Anda siap untuk melanjutkan?"
● "Selain harga, apakah ada hal lain yang menghentikan kita untuk deal hari ini?"
● "Apa yang perlu terjadi untuk Anda merasa nyaman dengan kesepakatan ini?"
Ini mengetes kesiapan mereka tanpa pressure langsung.
Bagian 4: Taktik Negosiasi yang Harus Anda Ketahui
Tracy mengidentifikasi taktik-taktik yang digunakan negosiator di seluruh dunia. Anda perlu tahu ini—bukan untuk memanipulasi, tapi untuk tidak dimanipulasi.
1. The Flinch (Reaksi Kaget)
Mereka menyebutkan harga. Anda bereaksi dengan kaget: "LIMA PULUH JUTA?!"
Bahkan jika harga itu reasonable, flinch Anda membuat mereka defensif dan ragu. Banyak orang akan langsung menurunkan harga hanya karena reaksi Anda.
Cara melawan: Jangan bereaksi terhadap flinch mereka. Tetap tenang. Jelaskan nilai Anda dengan percaya diri.
2. The Nibble (Gigitan Kecil)
Kesepakatan sudah hampir selesai. Semua setuju. Lalu tiba-tiba:
"Oh, satu hal lagi—gratis ongkir kan?"
Ini adalah "nibble"—permintaan kecil di saat terakhir, ketika Anda sudah invested secara emosional dalam kesepakatan.
Kebanyakan orang menyetujui karena tidak mau kesepakatan gagal hanya karena "hal kecil."
Cara melawan: Siapkan nibble balik Anda sendiri. "Gratis ongkir? Tentu, jika Anda bayar 50% di muka alih-alih 30%."
3. Good Cop / Bad Cop
Klasik. Dua orang bernegosiasi dengan Anda:
Bad cop: "Ini terlalu mahal. Kami tidak bisa terima ini." Good cop: "Tenanglah. Biarkan saya bicara dengan mereka. [Ke Anda] Dengar, rekan saya keras, tapi dia punya poin. Bisakah Anda turun sedikit? Saya akan coba yakinkan dia."
Anda merasa good cop adalah sekutu Anda, padahal mereka satu tim.
Cara melawan: Akui taktiknya dengan humor. "Ha! Good cop bad cop ya? Klasik. Oke, mari kita bicara bisnis yang sebenarnya."
4. The Walkout (Berjalan Pergi)
Mereka berdiri, ambil tas, bersiap pergi. "Kayaknya kita tidak bisa deal. Terima kasih untuk waktunya."
Ini menciptakan panic. Anda mungkin langsung concede untuk menghentikan mereka.
Cara melawan: Biarkan mereka pergi. Jika walkout mereka bluff, mereka akan kembali. Jika tidak, Anda punya BATNA Anda.
5. Higher Authority (Atasan yang Lebih Tinggi)
Setelah negosiasi panjang, mereka berkata: "Oke, ini terdengar bagus. Tapi saya perlu approval dari bos saya dulu."
Tiba-tiba mereka punya leverage ekstra—"bos" yang tidak pernah Anda temui bisa menolak atau minta konsesi lebih.
Cara melawan: Di awal, tanyakan: "Apakah Anda punya otoritas penuh untuk memutuskan ini?" Jika tidak, "Bisakah kita libatkan decision maker sejak awal?"
Bagian 5: Mencapai Win-Win
Tracy sangat menekankan konsep win-win. Bukan karena idealis, tapi karena praktis dan menguntungkan.
Prinsip Win-Win
"Dalam setiap negosiasi, carilah cara untuk meningkatkan value untuk kedua belah pihak, bukan hanya membagi pie yang ada."
Kebanyakan orang melihat negosiasi sebagai:
● Ada 100 juta di meja
● Jika saya dapat 60, Anda dapat 40
● Zero-sum game
Negosiator win-win bertanya: "Bagaimana kita bisa membuat pie lebih besar?"
Contoh Win-Win
Kasus 1: Negosiasi Gaji
Pendekatan biasa:
● Anda: "Saya mau gaji 20 juta"
● Perusahaan: "Kami hanya bisa 15 juta"
● Deadlock atau kompromi di 17,5 juta (kedua pihak tidak sepenuhnya senang)
Pendekatan win-win:
● Anda: "Saya mengerti budget Anda terbatas. Bagaimana jika kita mulai di 15 juta, tapi dengan performance review di bulan ke-6? Jika saya mencapai target X, Y, Z, gaji naik ke 18 juta. Dan jika saya exceed, naik ke 20 juta di tahun pertama?"
Hasilnya:
● Perusahaan senang: Risk mereka rendah. Mereka hanya bayar lebih jika Anda deliver.
● Anda senang: Anda punya kesempatan jelas untuk mencapai gaji yang Anda inginkan.
Kasus 2: Negosiasi dengan Supplier
Pendekatan biasa:
● Anda: "Harga Anda terlalu tinggi, saya cari supplier lain"
● Supplier: "Ini sudah harga terbaik kami"
● Deadlock
Pendekatan win-win:
● Anda: "Saya mengerti margin Anda tipis. Bagaimana jika saya commit untuk volume lebih besar—2x lipat order regular—dengan kontrak 1 tahun? Apakah itu memberi Anda ruang untuk diskon 15%?"
Hasilnya:
● Supplier senang: Volume lebih besar, cash flow lebih predictable, customer jangka panjang
● Anda senang: Harga lebih rendah, supply terjamin
Kunci untuk Menemukan Win-Win
1. Pahami kepentingan sejati, bukan hanya posisi
Posisi: "Saya mau harga lebih rendah" Kepentingan: "Saya punya budget terbatas tahun ini, tapi saya juga butuh kualitas bagus"
Jika supplier tahu kepentingan sejati Anda, mereka mungkin tawarkan: "Bagaimana jika pembayaran dicicil 6 bulan tanpa bunga? Anda dapat produk sekarang, spread cost sepanjang tahun."
2. Kreatif dalam mencari solusi
Jangan terpaku pada satu variabel (biasanya harga). Ada banyak variabel lain:
● Termin pembayaran
● Volume
● Kualitas / spesifikasi
● Timing / deadline
● Support / service
● Garansi
● Eksklusivitas
Semakin banyak variabel yang Anda mainkan, semakin besar peluang menemukan kombinasi win-win.
3. Berpikir jangka panjang
"Apakah kesepakatan ini akan membuat hubungan lebih kuat atau merusaknya?"
Jika jawabnya merusak, kesepakatan itu bukan win-win—meskipun Anda dapat harga yang Anda inginkan.
Bagian 6: Mengatasi Kebuntuan dan Keberatan
Tidak semua negosiasi mulus. Tracy mengajarkan cara menangani situasi sulit.
Ketika Mereka Bilang "Tidak"
Jangan panik. "Tidak" jarang berarti "tidak selamanya." Biasanya berarti "tidak dalam bentuk ini."
Teknik: The Conditional Close
Mereka: "Kami tidak bisa terima harga ini." Anda: "Saya mengerti. Jika saya bisa menurunkan harga 10%, dengan catatan volume naik 20%, apakah kita bisa deal?"
Ini mengubah "tidak" menjadi diskusi tentang kondisi.
Ketika Deadlock Terjadi
Dua pihak stuck. Tidak ada yang mau bergerak.
Strategi Tracy:
1. Ambil break "Bagaimana kalau kita istirahat 15 menit? Minum kopi dulu, pikiran lebih fresh."
Seringkali, jeda membantu emosi turun dan logika naik.
2. Kembali ke tujuan bersama "Mari kita ingat mengapa kita di sini. Kita berdua ingin [X]. Kita hanya perlu menemukan cara untuk sampai di sana. Apa yang bisa kita lakukan?"
Ini mengingatkan kedua pihak bahwa Anda di tim yang sama.
3. Masukkan variabel baru "Oke, harga stuck. Bagaimana dengan timing? Jika kami bisa lebih fleksibel di sana, apakah itu membantu?"
Jangan terus memukul tembok yang sama. Cari jalan lain.
Kesalahan Fatal: Ego
Tracy memperingatkan: "Ego adalah musuh terbesar dalam negosiasi."
Ketika ego masuk—"Saya tidak mau kalah," "Saya tidak mau terlihat lemah," "Saya harus menang"—rasionalitas keluar.
Orang membuat keputusan bodoh hanya untuk "tidak kalah muka."
Ingat: Tujuan Anda bukan menang dalam argument. Tujuan Anda adalah mendapat hasil yang Anda inginkan.
Kadang itu berarti membiarkan orang lain merasa mereka "menang"—sambil Anda diam-diam mendapat semua yang Anda butuhkan.
Bagian 7: Menutup Kesepakatan
Anda sudah negosiasi berjam-jam. Semuanya terlihat bagus. Tapi kesepakatan belum terjadi sampai ditandatangani.
Tanda-Tanda Mereka Siap
Buying signals (tanda mereka hampir siap):
● Mereka bertanya detail spesifik: "Jadi kapan bisa mulai?"
● Mereka bertanya tentang logistik: "Bagaimana proses pembayarannya?"
● Body language rileks: mereka condong ke belakang, tersenyum
● Mereka mengangguk lebih sering
Ketika Anda lihat signals ini, jangan terus bicara! Banyak sales yang gagal karena terus "menjual" bahkan setelah customer sudah siap membeli.
Trial Close
Sebelum official close, test dulu:
"Jika kita bisa menyelesaikan issue X ini, apakah kita siap untuk move forward?"
Jika mereka bilang ya, Anda tahu hanya perlu selesaikan issue X.
Jika mereka ragu, Anda tahu ada issue lain yang belum diungkapkan.
The Assumptive Close
Bertindak seolah kesepakatan sudah terjadi:
"Baik, jadi kita mulai bulan depan. Saya akan kirim kontrak akhir minggu ini untuk Anda review. Ada alamat email khusus untuk legal team?"
Ini gentle pressure yang membuat mereka bergerak dari "berpikir" ke "bertindak."
Dokumentasikan Segera
Kesalahan klasik: Anda berjabat tangan, semua setuju, Anda senang—lalu pulang dan tidak tulis apa-apa.
Seminggu kemudian, ketika Anda kirim kontrak, mereka bilang: "Eh, saya ingat kita sepakat pada angka yang berbeda."
Tracy's rule: Dokumentasikan kesepakatan sebelum Anda meninggalkan ruangan.
Bahkan jika hanya email sederhana: "Terima kasih untuk pertemuan hari ini. Untuk konfirmasi, kita sepakat pada:
● Harga: X
● Volume: Y
● Termin: Z
● Mulai: [tanggal]
Mohon konfirmasinya."
Ini melindungi kedua belah pihak dan menghindari "memory gap" di kemudian hari.
Bagian 8: Kesalahan yang Harus Dihindari
Tracy mengidentifikasi kesalahan paling umum yang membunuh kesepakatan:
1. Berbicara Terlalu Banyak
"Dua telinga, satu mulut. Gunakan dalam proporsi itu."
Dengarkan 70% waktu. Bicara 30%. Kebanyakan orang melakukan sebaliknya.
2. Tidak Punya Walk-Away Point
Jika Anda tidak tahu kapan harus berhenti, Anda akan menerima kesepakatan buruk hanya karena sudah invested banyak waktu.
Tentukan sebelumnya: "Jika mereka tidak bisa memenuhi X, Y, Z, saya berjalan pergi."
3. Membuat Konsesi Terlalu Cepat
Mereka: "Harga Anda terlalu tinggi." Anda: "Oke, saya turunkan 15%!"
Terlalu cepat. Anda baru saja:
● Memberi sinyal Anda desperate
● Membuat mereka bertanya-tanya: "Jika dia turun 15% dengan mudah, berapa lagi dia bisa turun?"
Konsesi harus lambat, kecil, dan selalu dengan trade-off.
"Saya bisa turun 5%, jika Anda bisa commit untuk 2 tahun kontrak alih-alih 1 tahun."
4. Fokus pada Menang, Bukan pada Hasil
Anda bernegosiasi dengan supplier. Anda "menang"—dapat harga sangat rendah. Supplier rugi.
Enam bulan kemudian, supplier bangkrut. Anda tidak punya supply. Proyek terhenti.
Anda "menang" negosiasi tapi kalah dalam bisnis.
5. Mengabaikan Emosi
Negosiasi bukan hanya angka dan logika. Emosi sama pentingnya.
Jika orang merasa dihormati, didengar, dan dihargai—mereka akan lebih fleksibel.
Jika mereka merasa dimanipulasi, diremehkan, atau dipaksa—mereka akan resisten, bahkan jika tawaran Anda objektif bagus.
Penutup: Menjadi Negosiator Seumur Hidup
Tracy menutup buku dengan reminder yang powerful:
"Negosiasi bukan hanya tentang mendapatkan kesepakatan terbaik. Negosiasi adalah tentang membangun hubungan yang saling menguntungkan sepanjang hidup Anda."
Pikirkan jangka panjang:
● Supplier yang Anda perlakukan adil hari ini akan memberi Anda priority service besok
● Karyawan yang Anda negosiasi dengan respect akan loyal dan produktif
● Customer yang merasa menang akan kembali lagi dan lagi
The Negotiation Mindset
Mulai hari ini, latih diri Anda untuk melihat setiap interaksi sebagai negosiasi—bukan dalam cara manipulatif, tapi dalam cara kolaboratif.
Pertanyaan yang selalu diajukan:
● "Apa yang saya inginkan?"
● "Apa yang mereka inginkan?"
● "Bagaimana kita bisa sama-sama dapat yang kita inginkan?"
Practice Makes Perfect
Seperti semua skill, negosiasi membaik dengan latihan.
Mulai kecil:
● Negosiasi harga di pasar tradisional
● Minta upgrade di hotel
● Diskusikan termin dengan vendor kecil
Setiap interaksi adalah lab practice Anda.
The Ultimate Win
Tracy mengakhiri dengan wisdom ini:
"Negosiasi terbaik adalah ketika, setelah selesai, kedua belah pihak merasa mereka mendapat kesepakatan yang adil—dan ingin bekerja sama lagi di masa depan."
Itu adalah definisi win-win sejati.
Bukan tentang siapa yang dapat potongan pie lebih besar.
Tapi tentang bagaimana membuat pie lebih besar bersama-sama—sehingga semua orang pulang dengan lebih banyak dari yang mereka bayangkan.
Pertanyaan untuk Anda
Sebelum negosiasi berikutnya—apakah itu tentang gaji, harga, deadline, atau bahkan siapa yang cuci piring malam ini—tanyakan pada diri sendiri:
1. Apakah saya sudah persiapan dengan benar? (80% rule!)
2. Apakah saya tahu apa yang saya inginkan DAN apa yang mereka inginkan?
3. Apakah saya punya BATNA yang kuat?
4. Apakah saya lebih fokus pada bertanya daripada berbicara?
5. Apakah saya mencari win-win atau hanya win untuk saya?
Jika jawaban untuk semua adalah ya, Anda sudah di jalan yang benar.
Sekarang keluar dan bernegosiasi—dengan kepercayaan, integritas, dan komitmen untuk menciptakan nilai bagi semua pihak.
Karena seperti Tracy katakan:
"Hidup Anda adalah produk dari negosiasi-negosiasi yang Anda lakukan. Jadi belajarlah untuk bernegosiasi dengan baik, dan hiduplah dengan baik."
Selamat bernegosiasi!
Tentang Buku Asli
"Negotiation" adalah salah satu dari 70+ buku yang ditulis Brian Tracy, penulis pengembangan diri dan bisnis paling produktif di dunia.
Brian Tracy memulai karirnya dari bawah—bekerja sebagai buruh konstruksi dan buruh cuci piring—sebelum masuk ke dunia sales. Dia menjadi salah satu salesperson terbaik di perusahaannya, lalu membangun bisnis training dan consulting yang melayani lebih dari 5 juta orang di 58 negara.
Buku "Negotiation" adalah hasil dari lebih dari 30 tahun pengalaman Tracy bernegosiasi dengan orang-orang dari berbagai budaya, industri, dan level—dari street vendor di pasar hingga eksekutif Fortune 500.
Ini bukan teori akademis. Ini adalah wisdom praktis yang telah diuji dalam real world—dan terbukti bekerja.
Untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang taktik-taktik spesifik, studi kasus detail, dan latihan praktis, sangat disarankan membaca buku aslinya. Tracy memberikan puluhan contoh konkret dan skenario yang akan memperdalam pemahaman Anda.
Buku ini adalah investasi kecil yang bisa menghasilkan return besar—dalam bentuk gaji yang lebih tinggi, harga yang lebih baik, kesepakatan yang lebih adil, dan hubungan yang lebih kuat.
Sekarang ambil notebook Anda. Persiapkan untuk negosiasi berikutnya. Dan ingat:
You don't get what you deserve. You get what you negotiate.
Jadi negotiate well!

