Bloomberg by Bloomberg

Michael Bloomberg


Hari Terbaik dan Terburuk dalam Hidup

30 Juli 1981. Jam menunjukkan pukul 3 sore. 

Michael Bloomberg duduk di ruang kantor mewah Salomon Brothers—salah satu firma investasi paling prestisius di Wall Street. Dia baru saja dipanggil masuk oleh partner senior. 

Dia pikir ini akan menjadi promosi. Mungkin bonus besar. Dia sudah bekerja 15 tahun di sana, naik dari posisi entry-level hingga partner. Dia membangun sistem teknologi yang mengubah cara firma itu beroperasi. 

Tapi yang dia dengar adalah: "Kamu sudah tidak bekerja di sini lagi."

Dipecat. 

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada diskusi. Firma telah diakuisisi dan manajemen baru ingin "orang mereka sendiri." Bloomberg diberi cek $10 juta sebagai severance package—uang yang sangat besar pada 1981—dan dikirim pulang. 

Pada usia 39 tahun, untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, Michael Bloomberg tidak punya pekerjaan. 

Kebanyakan orang akan merasa hancur. Malu. Takut. Tapi Bloomberg melihat sesuatu yang berbeda. 

Dia melihat kebebasan

Keesokan harinya, dia memulai perusahaan dari apartemen satu kamar di Manhattan. Empat karyawan. Satu komputer. Dan ide yang menurutnya akan mengubah Wall Street. 

40 tahun kemudian, Bloomberg LP bernilai lebih dari $60 miliar. Terminal Bloomberg ada di hampir setiap bank, hedge fund, dan institusi keuangan di dunia. Dan Michael Bloomberg sendiri menjadi salah satu orang terkaya di planet ini dengan kekayaan pribadi lebih dari $90 miliar.

Ini adalah kisah bagaimana dia melakukannya. Bukan dengan keberuntungan. Bukan dengan koneksi (meskipun itu membantu). Tapi dengan prinsip-prinsip sederhana yang diterapkan dengan disiplin brutal. 

Dan yang paling menarik? Dia menulis buku ini bukan untuk memamerkan kesuksesan, tapi untuk membagikan blueprint yang siapa saja bisa ikuti. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Kehilangan Pekerjaan—Blessing in Disguise

Kenyamanan adalah Musuh Kemajuan 

Bloomberg jujur tentang satu hal: dia sangat nyaman di Salomon Brothers. 

Gaji besar. Bonus fantastis. Kantor bagus. Status tinggi. Dia sudah partner—tidak banyak orang yang mencapai posisi itu. 

Tapi kenyamanan itu juga membuatnya stuck

"Di Salomon," tulis Bloomberg, "saya bisa prediksi kehidupan saya untuk 30 tahun ke depan. Promosi bertahap. Gaji naik perlahan. Pensiun dengan aman. Tidak ada risiko. Tidak ada kejutan." 

Dan dia benci itu. 

Ketika dipecat, reaksi pertamanya bukan panik. Reaksi pertamanya adalah: "Akhirnya saya bebas untuk melakukan sesuatu yang benar-benar penting." 

$10 Juta dan Satu Ide 

Severance package $10 juta adalah modal. Tapi lebih penting dari uang adalah ide—sesuatu yang dia lihat jelas di Salomon Brothers tapi tidak ada yang mau membangunnya. 

Masalahnya sederhana: trader dan investor membutuhkan data finansial untuk membuat keputusan. Tapi data itu tersebar di mana-mana—berbagai vendor, format yang berbeda, akses yang lambat, harga yang tidak konsisten. 

Bloomberg punya visi: Satu terminal yang memberikan semua data finansial yang dibutuhkan, real-time, dalam format yang mudah digunakan. 

Kedengarannya simpel. Tapi pada 1981, ini revolusioner. 

Komputer masih lambat dan mahal. Internet belum ada. Kebanyakan trader masih menggunakan telepon dan kertas untuk mendapat informasi. 

Tapi Bloomberg tahu teknologi akan berubah. Dan dia ingin berada di depan gelombang itu.

 


Bagian 2: Membangun Terminal—Obsesi pada Detail

Prinsip #1: Make It Simple, Make It Useful 

Bloomberg tidak ingin membuat produk yang "cool" atau "teknologi canggih." Dia ingin membuat produk yang orang akan gunakan setiap hari karena membuat pekerjaan mereka lebih mudah. 

Terminal pertama Bloomberg—yang diluncurkan tahun 1982—tidak memiliki banyak fitur fancy. Tapi apa yang ada, bekerja dengan sempurna: 

● Harga obligasi real-time 

● Kalkulator yield dan analisis 

● News feed finansial 

● Interface yang intuitif (tidak perlu manual 300 halaman) 

Sederhana. Cepat. Berguna. 

Kompetitor fokus pada "bagaimana menambah lebih banyak fitur." Bloomberg fokus pada "bagaimana membuat setiap fitur bekerja lebih baik." 

Prinsip #2: Listen to Your Customers—Obsessively 

Bloomberg melakukan sesuatu yang tidak umum: dia duduk dengan customer berjam-jam untuk menonton mereka menggunakan terminal. 

Tidak hanya demo atau presentasi. Dia duduk di trading desk, mengamati bagaimana trader benar-benar bekerja, apa yang mereka butuhkan, dimana mereka frustrasi. 

"Saya bisa lihat di mata mereka ketika sesuatu membingungkan," tulis Bloomberg. "Saya bisa lihat frustrasi ketika sesuatu memakan waktu terlalu lama. Dan saya bisa lihat excitement ketika mereka menemukan fitur yang benar-benar membantu." 

Feedback ini langsung masuk ke product development. Tidak ada layers management. Tidak ada "kita pertimbangkan untuk roadmap Q3 tahun depan." 

Customer request di Senin → Engineer mulai kode di Selasa → Feature launch di Jumat. 

Kecepatan ini membuat Bloomberg unggul dari kompetitor yang butuh berbulan-bulan untuk perubahan kecil. 

Prinsip #3: Hire Smart People, Get Out of Their Way 

Bloomberg tidak pernah pretend dia paling pintar di ruangan—terutama soal teknologi.

Jadi dia hire orang yang lebih pintar dari dia: engineer terbaik, designer terbaik, analyst terbaik. Lalu dia kasih mereka resources dan kebebasan untuk bekerja. 

Tidak ada micromanaging. Tidak ada approval layers berlapis-lapis. Tidak ada politics.

"Saya kasih mereka masalah. Mereka kasih saya solusi. Sesederhana itu," tulis Bloomberg. 

Tapi ada satu aturan non-negotiable: Semua orang harus paham bisnis, bukan hanya job description mereka. 

Engineer harus mengerti bagaimana trader menggunakan produk. Sales harus mengerti teknologi di balik produk. Marketing harus mengerti kompetisi dan market. 

Tidak ada silo. Semua orang tahu big picture.

 


Bagian 3: Menjual ke Wall Street—The Hard Way

Customer Pertama: Merrill Lynch 

1982. Bloomberg punya produk. Tapi tidak punya customer. 

Dia pitch ke semua orang. Bank besar. Hedge fund. Asset manager. Dan kebanyakan menolak. 

"Produk ini tidak proven." "Terlalu mahal." "Kami sudah punya sistem sendiri." "Kenapa kami harus percaya startup kecil?" 

Sampai akhirnya, Merrill Lynch—salah satu investment bank terbesar di dunia—setuju untuk trial

Tapi bukan trial kecil-kecilan. Merrill Lynch order 22 terminal sekaligus untuk $30 juta. 

Ini adalah make-or-break moment. Jika Bloomberg deliver, dia punya customer prestisius yang akan membuka pintu ke seluruh Wall Street. Jika gagal, perusahaan selesai. 

Bloomberg dan timnya bekerja 18 jam sehari selama berbulan-bulan—coding, testing, debugging, installing, training. 

Dan mereka deliver. On time. On budget. Working perfectly. 

Merrill Lynch senang. Dan dalam beberapa bulan, Bloomberg mendapat order dari Goldman Sachs, Morgan Stanley, JP Morgan. 

Game changed. 

Strategi Penjualan Bloomberg: Data + Relationship 

Bloomberg tidak menjual teknologi. Dia menjual kemampuan untuk membuat keputusan lebih baik dan lebih cepat. 

"Trader tidak peduli tentang processor speed atau algoritma," tulis Bloomberg. "Mereka peduli: Apakah saya bisa cari harga lebih cepat dari kompetitor? Apakah saya bisa analisis risk lebih baik? Apakah saya bisa execute trade lebih efisien?" 

Jadi Bloomberg fokus sales pitch pada hasil, bukan fitur. 

Dan dia bangun relationship yang kuat. Bloomberg sales team tidak hanya menjual dan pergi. Mereka tetap involved—training, support, feedback loop. 

Customer tidak beli terminal. Customer beli partnership.

 


Bagian 4: Membangun Budaya Bloomberg—No Bullshit

Open Floor Plan—No Private Offices 

Dari hari pertama, Bloomberg memutuskan: Tidak ada private office. Tidak ada cubicle. Semua orang duduk di open floor. 

CEO duduk di desk yang sama dengan intern. Partner duduk di sebelah junior analyst.

Mengapa? Karena Bloomberg percaya: 

1. Hierarchy kills communication 

2. Private office membuat orang merasa lebih penting dari orang lain 

3. Open space memaksa transparency 

"Jika saya punya private office, orang akan takut masuk untuk bertanya atau berbagi ide," tulis Bloomberg. "Di open floor, semua orang bisa dengar percakapan. Semua orang bisa contribute. Tidak ada secret meeting." 

Apakah ini nyaman? Tidak. 

Apakah ini efektif? Absolutely. 

No Politics, No Bureaucracy 

Bloomberg menulis dengan sangat blunt: "Saya benci politics. Saya benci bureaucracy. Dan saya tidak akan biarkan itu masuk ke perusahaan saya." 

Aturan sederhana: 

● Tidak ada CC-ing email untuk "protect yourself" 

● Tidak ada memo panjang yang tidak ada yang baca 

● Tidak ada meeting yang bisa diselesaikan dengan 1 email 

● Tidak ada "itu bukan job saya" 

Semua orang expected untuk solve problem, bukan point fingers. 

Meritocracy—Results Matter, Not Titles 

Bloomberg tidak peduli Anda lulusan Harvard atau state university. Tidak peduli Anda anak orang kaya atau anak petani. Tidak peduli Anda punya MBA atau dropout. 

Yang dia peduli: Apakah Anda deliver results? 

Promosi berdasarkan performa, bukan tenure. Bonus berdasarkan contribution, bukan title. Respect berdasarkan competence, bukan seniority.

"Tempat terburuk untuk bekerja adalah tempat dimana orang bodoh yang sudah lama ada dibayar lebih dari orang pintar yang baru masuk," tulis Bloomberg. "Saya tidak akan pernah biarkan itu terjadi."

 


Bagian 5: Ekspansi—Beyond the Terminal 

Bloomberg News: Mengontrol Konten 

Di awal 1990s, Bloomberg menyadari satu masalah: Terminal Bloomberg sangat bergantung pada news feed dari vendor lain—Reuters, Dow Jones, dll. 

Ini risk. Jika vendor itu naik harga atau potong akses, Bloomberg dalam masalah.

Solusinya? Start Bloomberg News—operasi news global sendiri. 

Orang pikir dia gila. Membangun news organization dari nol membutuhkan ratusan juta dolar dan bertahun-tahun. Dan Bloomberg bukan media company. 

Tapi Bloomberg lihat ini sebagai competitive advantage. Jika dia punya journalists sendiri di seluruh dunia, dia bisa: 

● Control kualitas konten 

● Publish berita eksklusif di terminal 

● Tidak tergantung pada vendor lain 

Jadi dia hire Matthew Winkler (mantan Wall Street Journal editor) dan kasih mandate: "Build the best financial news organization in the world." 

Dan mereka lakukan. Bloomberg News sekarang punya lebih dari 2,700 journalists di 120 negara—saingan serius untuk Reuters dan AP. 

Bloomberg TV, Radio, Magazine 

Dari news, Bloomberg expand ke media lain: 

Bloomberg TV - channel kabel 24/7 fokus finansial dan bisnis 

● Bloomberg Radio - stasiun radio di major cities 

● Bloomberg Markets Magazine - publikasi bulanan 

Semuanya dengan satu tujuan: Jadikan Bloomberg brand yang synonymous dengan informasi finansial. 

Ketika orang berpikir tentang financial news, Bloomberg ingin mereka berpikir tentang Bloomberg—bukan Reuters, bukan CNBC, bukan Wall Street Journal.

 


Bagian 6: Prinsip-Prinsip Bloomberg untuk Sukses

Bloomberg menutup bukunya dengan prinsip-prinsip praktis yang dia ikuti sepanjang karir:

1. Do It Now—Speed Matters 

"Banyak orang punya ide bagus. Sedikit yang execute. Lebih sedikit lagi yang execute dengan cepat." 

Setiap hari delay adalah hari yang kompetitor bisa overtake Anda. Jangan tunggu sempurna. Launch, learn, iterate. 

2. Obsess Over Details 

Bloomberg secara personal review design dari setiap keyboard, warna setiap screen, bahkan font size. 

Orang pikir ini micromanaging. Bloomberg pikir ini caring about quality. 

"Devil is in the details," tulisnya. "Produk gagal bukan karena visi besar yang salah, tapi karena 100 detail kecil yang diabaikan." 

3. Stay Close to Customers 

Bahkan setelah perusahaan punya ribuan karyawan, Bloomberg still menghabiskan waktu dengan customers. 

"Tidak ada yang lebih valuable dari mendengar langsung dari orang yang bayar untuk produk Anda. Bukan survey. Bukan focus group. Bukan report dari sales team. Duduk dengan mereka dan dengarkan." 

4. Never Stop Innovating 

Bloomberg tidak pernah puas. Terminal selalu di-update. Fitur baru ditambah setiap minggu. Teknologi selalu di-improve. 

"Hari Anda berhenti innovate adalah hari kompetitor mulai overtake Anda."

5. Build a Team, Not a Hierarchy 

Bloomberg sangat anti-hierarchy. 

"Saya tidak percaya pada org chart berlapis-lapis dimana orang di atas tidak tahu apa yang terjadi di bawah. Saya percaya pada team dimana semua orang communicate, collaborate, dan contribute."

6. Take Calculated Risks 

Bloomberg risk $10 juta dari severance package-nya untuk start perusahaan. Itu semua uang yang dia punya. 

"Jika Anda tidak willing to risk, Anda tidak akan achieve anything significant. Tapi risk harus calculated—bukan gambling." 

Perbedaan antara entrepreneur dan gambler: Entrepreneur minimize downside dan maximize upside. Gambler just hope for luck. 

7. Work Hard—There's No Substitute 

Bloomberg tidak percaya pada work-life balance di tahun-tahun awal. 

"Anda ingin sukses? Work harder dari kompetitor. Work smarter dari kompetitor. Outwork everyone." 

18-hour days. 7 days a week. No vacation untuk tahun-tahun pertama. 

"Apakah ini sustainable selamanya? Tidak. Tapi di awal, ketika Anda membangun sesuatu dari nol, tidak ada shortcut." 

8. Embrace Failure—Learn Fast 

Bloomberg gagal banyak. Produk yang flop. Expansion yang tidak work. Hiring yang salah. 

"Saya gagal lebih banyak dari saya sukses. Perbedaannya: saya belajar dari setiap kegagalan dan tidak ulangi mistake yang sama dua kali." 

Kegagalan okay. Ulangi kegagalan yang sama adalah incompetence.

 


Bagian 7: Dari Bloomberg LP ke Walikota New York

2001: Transisi yang Tidak Terduga 

Tahun 2001, setelah 20 tahun membangun Bloomberg LP, Michael Bloomberg membuat keputusan yang mengejutkan: Run for Mayor of New York City. 

Orang pikir dia gila. Dia tidak pernah terlibat politik sebelumnya. Dia businessman, bukan politician. 

Tapi Bloomberg melihat New York sebagai problem yang perlu fixed—dan dia percaya prinsip yang bekerja di bisnis bisa bekerja di government. 

Dan dia menang. 

Sebagai walikota (2002-2013), Bloomberg menerapkan prinsip yang sama: 

Data-driven decision making - Setiap keputusan harus backed by data

Accountability - Set target terukur untuk setiap department 

Efficiency - Hapus bureaucracy dan streamline process 

Innovation - Embrace teknologi baru untuk melayani citizens 

Hasilnya? New York crime rate turun drastis. Ekonomi tumbuh. Sekolah improve. City deficit berubah jadi surplus. 

Tidak sempurna. Tidak tanpa kontroversi. Tapi measurably better. 

Lessons dari Politik yang Berlaku untuk Bisnis 

Bloomberg menulis bahwa running government mengajarkan dia pelajaran yang applicable ke bisnis: 

1. Public accountability matters - Ketika decision Anda public, Anda lebih hati-hati dan thoughtful 

2. Stakeholder management is complex - Di bisnis, Anda serve customers dan shareholders. Di government, Anda serve millions dengan interest yang berbeda-beda. Skill untuk balance competing interests sangat valuable. 

3. Long-term thinking - Politik memaksa Anda berpikir legacy. "Apa yang akan tersisa setelah saya pergi?"

 


Bagian 8: Nasihat Bloomberg untuk Entrepreneur "

Jangan Mulai Bisnis untuk Jadi Kaya" 

Bloomberg sangat blunt tentang ini: "Jika motivasi utama Anda uang, Anda akan berhenti ketika sulitnya melebihi expected reward." 

Mulai bisnis karena: 

● Anda passionate tentang masalah yang dipecahkan 

● Anda punya solusi yang Anda percaya will work 

● Anda tidak bisa imagine melakukan hal lain 

Uang adalah hasil, bukan tujuan. 

"Find a Problem You Understand Deeply" 

Bloomberg bisa build terminal yang sukses karena dia lived the problem di Salomon Brothers. Dia tahu exactly apa yang trader butuhkan karena dia dulu trader. 

"Jangan coba solve problem yang Anda tidak understand atau industry yang Anda tidak kenal. Chances kegagalan jauh lebih tinggi." 

"Don't Raise Money Unless Absolutely Necessary" 

Bloomberg bootstrap perusahaannya dengan severance package. Tidak ada VC. Tidak ada outside investors. 

"Ketika Anda raise money, Anda lost control. Investor akan punya say dalam decision. Mereka akan push untuk exit cepat, bukan build untuk jangka panjang." 

Bootstrap memaksa Anda untuk: 

● Focus pada profitability dari hari pertama 

● Make efficient decisions 

● Maintain full control 

"Hire Slow, Fire Fast" 

"Hiring adalah decision paling penting yang Anda buat. Satu bad hire bisa toxic untuk seluruh team." 

Take your time. Interview extensively. Check references. Test their work.

Tapi jika sudah jelas seseorang tidak fit—skill-wise atau culture-wise—let them go immediately. Setiap hari Anda wait, situation jadi worse. 

"Build Something People Need, Not Something Cool" 

"Technology for technology's sake adalah waste. Build something yang solve real problem untuk real people." 

Bloomberg terminal tidak "sexy." Tapi sangat berguna. Dan utility beats sexiness setiap waktu.

 


Penutup: Legacy dan Pelajaran Terakhir 

Michael Bloomberg menutup bukunya dengan refleksi tentang apa yang benar-benar penting: 

"Sukses bukan tentang berapa banyak uang yang Anda hasilkan. Sukses adalah tentang impact yang Anda ciptakan." 

Bloomberg LP mengubah cara dunia finansial beroperasi. Terminal Bloomberg memungkinkan triliunan dolar transaksi setiap hari. Bloomberg News memberikan informasi yang membantu jutaan orang membuat keputusan lebih baik. 

Sebagai walikota, Bloomberg mengubah New York menjadi kota yang lebih aman, lebih bersih, lebih inovatif. 

Sebagai philanthropist, dia donate lebih dari $12 miliar untuk berbagai cause—pendidikan, kesehatan, climate change, seni. 

Ini adalah legacy. 

Lima Pelajaran Terakhir 

1. Getting fired adalah blessing disguised - Kadang hal terburuk yang terjadi pada Anda adalah push yang Anda butuhkan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. 

2. Focus on making your customers successful - Jika customer Anda sukses karena produk Anda, Anda akan sukses. 

3. Build culture that attracts and retains the best - Product bisa ditiru. Culture tidak bisa. 

4. Speed of execution beats perfection - Done is better than perfect. Launch, learn, iterate. 

5. Never stop learning and adapting - World changes. Technology changes. Markets change. Anda harus change juga. 

Pertanyaan untuk Anda 

Bloomberg menutup dengan pertanyaan untuk pembaca: 

"Apa masalah yang Anda lihat setiap hari yang membuat Anda frustrasi—dan apakah Anda cukup peduli untuk solve it?" 

Karena every great company dimulai dengan seseorang yang cukup frustrasi dengan status quo untuk melakukan sesuatu tentang itu.

Bloomberg frustrasi dengan cara Wall Street mendapat data. Jadi dia build terminal.

Apa frustrasi Anda? Dan apa yang akan Anda build? 

Seperti Bloomberg katakan: "The best time to start was yesterday. The second best time is now." 

Jadi mulai.

 


Tentang Buku Asli 

"Bloomberg By Bloomberg" pertama kali diterbitkan tahun 1997 dan di-update tahun 2001 setelah Bloomberg menjadi walikota. 

Buku ini ditulis dengan gaya yang sangat direct—seperti Bloomberg berbicara langsung kepada Anda. Tidak ada flowery language. Tidak ada theory abstrak. Hanya praktis, actionable wisdom dari seseorang yang actually built something massive. 

Michael Bloomberg adalah founder Bloomberg LP, three-term Mayor of New York City (2002-2013), dan salah satu orang terkaya di dunia dengan estimated net worth lebih dari $90 miliar. Dia juga major philanthropist dengan total donations lebih dari $12 miliar. 

Untuk pemahaman penuh tentang bagaimana Bloomberg build his empire dan philosophy di balik decision-making-nya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tapi buku lengkapnya penuh dengan anekdot, detail operasional, dan candid reflections yang memberikan insight lebih dalam. 

Sekarang tutup ringkasan ini dan tanyakan pada diri sendiri: Apa yang bisa saya build hari ini? 

Karena seperti Bloomberg prove: Anda tidak perlu born rich. Anda tidak perlu perfect timing. Anda tidak perlu lucky breaks. 

Anda hanya perlu: 

● Problem yang Anda understand 

● Solution yang Anda believe in 

● Willingness untuk work harder dari anyone else 

● Courage untuk take calculated risk 

Dan mulai. 

Sekarang.