How to Love Better

Yung Pueblo


Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Pernahkah Anda merasa kesepian meskipun berada dalam hubungan? 

Pernahkah Anda mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tapi entah mengapa tetap merasa ada yang kurang—seperti ada tembok tak terlihat yang memisahkan Anda berdua? 

Pernahkah Anda bertanya: "Mengapa pola yang sama terus berulang? Mengapa saya terus menarik orang yang sama dengan cara yang berbeda?" 

Yung Pueblo—nama pena dari Diego Perez—pernah berada di tempat yang sama. 

Di usia 20-an, dia berjuang dengan kecanduan, kemarahan, dan rasa sakit emosional yang tidak dia pahami. Hubungannya dengan orang lain kacau karena hubungannya dengan dirinya sendiri hancur. Dia mencari cinta dari orang lain untuk mengisi kekosongan dalam dirinya—dan tentu saja, itu tidak pernah berhasil. 

Sampai satu hari, dia mulai perjalanan yang mengubah segalanya: perjalanan ke dalam dirinya sendiri. 

Melalui meditasi, refleksi diri, dan kerja penyembuhan yang dalam, dia menemukan kebenaran yang mengubah cara dia mencintai: 

Anda tidak bisa mencintai orang lain dengan sehat jika Anda belum belajar mencintai diri sendiri dengan utuh. 

"How to Love Better" bukan buku tentang tips kencan atau cara menemukan pasangan sempurna. Ini adalah buku tentang transformasi diri—tentang bagaimana menjadi orang yang mampu mencintai dengan lebih dalam, lebih bebas, dan lebih autentik. 

Karena cinta sejati bukan tentang menemukan orang yang tepat. 

Cinta sejati adalah tentang menjadi orang yang tepat—untuk diri sendiri dan untuk orang yang Anda cintai.

 


Bagian 1: Cinta Dimulai dari Dalam 

Kebenaran yang Tidak Nyaman 

Yung Pueblo menulis: "Cinta terbesar yang akan Anda miliki dalam hidup ini adalah cinta untuk diri sendiri." 

Tapi ini bukan cinta yang narsis atau egois. Ini adalah cinta yang penuh belas kasih—kemampuan untuk melihat diri Anda apa adanya, dengan semua luka dan ketidaksempurnaan, dan tetap memilih untuk memperlakukan diri Anda dengan kebaikan. 

Kebanyakan kita tidak pernah diajarkan ini. 

Kita diajarkan untuk mencintai orang lain—orang tua, saudara, pasangan, anak-anak. Tapi tidak ada yang mengajarkan kita bagaimana mencintai diri sendiri tanpa menjadi egois. Tidak ada yang memberitahu kita bahwa self-love adalah fondasi untuk semua bentuk cinta lainnya. 

Akibatnya? 

Kita mencari validasi dari luar. Kita membutuhkan seseorang untuk mengatakan bahwa kita cukup, bahwa kita layak, bahwa kita berharga. Dan ketika mereka tidak memberikan itu—atau ketika mereka pergi—kita hancur. 

Karena kita membangun rumah di atas tanah orang lain, bukan di tanah kita sendiri.

Tanda-Tanda Anda Belum Mencintai Diri Sendiri 

Pueblo mengidentifikasi pola-pola yang menunjukkan kita masih berjuang dengan self-love: 

Anda terus-menerus mencari validasi eksternal Setiap keputusan Anda tergantung pada apa yang orang lain pikirkan. Anda butuh likes di media sosial untuk merasa berharga. Anda butuh pujian dari atasan untuk merasa kompeten. Anda butuh persetujuan dari pasangan untuk merasa dicintai. 

Anda tidak bisa sendiri Ide untuk menghabiskan akhir pekan sendirian membuat Anda cemas. Anda selalu perlu distraksi—Netflix, media sosial, pesta, apa saja—karena diam dengan diri sendiri terlalu tidak nyaman. 

Anda mentolerir perlakuan buruk Anda tetap dalam hubungan yang toxic karena takut sendirian. Anda membiarkan orang melewati batas Anda karena tidak merasa layak untuk lebih baik.

Anda sangat kritis terhadap diri sendiri Voice dalam kepala Anda lebih keras dan lebih kejam daripada musuh terburuk Anda. Setiap kesalahan kecil menjadi bukti bahwa Anda tidak cukup baik. 

Jika Anda mengenali diri Anda dalam pola-pola ini—Anda tidak sendirian. Dan yang lebih penting: Anda bisa berubah. 

Mulai dengan Belas Kasih pada Diri Sendiri 

Pueblo mengajarkan bahwa self-love dimulai dengan self-compassion—kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama yang Anda berikan kepada teman baik. 

Latihan sederhana: Ketika Anda membuat kesalahan atau merasa tidak cukup, alih-alih berbicara pada diri sendiri dengan keras, katakan: 

"Saya manusia. Saya tidak sempurna. Dan itu tidak apa-apa. Saya sedang belajar dan tumbuh." 

Dengarkan bagaimana rasanya. Aneh? Tidak nyaman? Itu normal—karena kebanyakan kita tidak pernah berbicara pada diri sendiri dengan cara ini. 

Tapi lakukan berulang kali. Hari demi hari. Dan perlahan, sesuatu akan bergeser. 

Anda akan mulai melihat diri Anda bukan sebagai masalah yang harus diperbaiki, tetapi sebagai manusia yang sedang dalam perjalanan—dan itu sudah cukup.

 


Bagian 2: Menyembuhkan Luka Masa Lalu 

Bagasi yang Kita Bawa 

Pueblo menulis dengan jujur tentang masa lalunya—trauma masa kecil, kecanduan, kemarahan yang tidak terselesaikan. Dan dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya: 

"Saya tidak bisa mencintai dengan bebas karena saya masih membawa luka yang belum sembuh." 

Kita semua punya bagasi. Mungkin: 

● Orang tua yang tidak hadir secara emosional 

● Hubungan masa lalu yang menyakitkan 

● Penolakan yang membuat Anda percaya Anda tidak layak dicintai 

● Trauma yang membuat Anda menutup diri 

Dan tanpa kita sadari, kita membawa bagasi ini ke setiap hubungan baru. 

Pasangan sekarang membuat kesalahan kecil, tapi karena itu memicu luka dari pasangan lama—Anda bereaksi 10x lebih keras. 

Seseorang mencoba dekat dengan Anda, tapi karena trauma masa lalu membuat Anda takut rentan—Anda menjauh. 

Ini bukan salah Anda. Tapi itu adalah tanggung jawab Anda untuk menyembuhkannya.

Proses Penyembuhan 

Pueblo tidak menawarkan solusi cepat. Penyembuhan adalah proses—kadang menyakitkan, selalu transformatif. 

Langkah 1: Kenali Luka Anda 

Anda tidak bisa menyembuhkan apa yang tidak Anda akui. 

Luangkan waktu untuk refleksi—melalui journaling, terapi, atau meditasi. Tanyakan: 

● Apa yang paling menyakiti saya di masa lalu? 

● Bagaimana luka itu masih mempengaruhi saya hari ini? 

● Pola apa yang terus berulang dalam hubungan saya? 

Langkah 2: Rasakan, Jangan Tekan 

Kita diajarkan untuk "move on" dari rasa sakit. Tapi Pueblo mengajarkan sebaliknya: "Anda harus merasakan untuk menyembuhkan."

Jangan tekan emosi. Jangan alihkan dengan pekerjaan, alkohol, atau hubungan baru. Duduk dengan rasa sakit itu. Tangis jika perlu. Marah jika harus. Biarkan emosi mengalir sampai selesai. 

Seperti yang Pueblo tulis: "Apa yang kita tekan, tetap di dalam kita. Apa yang kita rasakan, bisa kita lepaskan." 

Langkah 3: Maafkan—Tapi Tidak untuk Orang Lain, untuk Diri Anda 

Memaafkan tidak berarti apa yang mereka lakukan oke. Memaafkan berarti Anda memilih untuk tidak lagi membiarkan rasa sakit itu mengontrol hidup Anda. 

Pueblo berbagi: "Saya memaafkan orang-orang yang menyakiti saya bukan karena mereka layak dimaafkan, tapi karena saya layak untuk bebas." 

Pengampunan adalah hadiah yang Anda berikan pada diri sendiri. 

Langkah 4: Tulis Ulang Narasi 

Luka masa lalu tidak mendefinisikan Anda. Itu adalah bagian dari cerita Anda, tapi bukan akhir cerita. 

Pueblo mengajarkan untuk menulis ulang narasi: 

● Dari "Saya ditinggalkan, jadi saya tidak layak dicintai" 

● Menjadi "Saya ditinggalkan, dan itu menyakitkan. Tapi itu tidak menentukan nilai saya. Saya layak untuk dicintai." 

Ini bukan self-delusion. Ini adalah kebenaran yang lebih dalam daripada luka Anda.

 


Bagian 3: Melepaskan Attachment yang Tidak Sehat

Perbedaan Cinta dan Attachment 

Ini adalah insight paling powerful dari Pueblo: 

"Cinta membebaskan. Attachment mengontrol." 

Cinta mengatakan: "Saya ingin kamu bahagia, bahkan jika itu berarti tanpa saya."

Attachment mengatakan: "Saya butuh kamu untuk membuat saya merasa utuh."

Cinta mengatakan: "Aku mendukung pertumbuhanmu." 

Attachment mengatakan: "Jangan berubah karena aku takut kehilangan kamu." 

Kebanyakan dari kita mengira kita sedang jatuh cinta, padahal sebenarnya kita sedang jatuh ke dalam attachment—dan perbedaannya sangat penting. 

Tanda-Tanda Attachment yang Tidak Sehat 

Pueblo mengidentifikasi pola-pola ini: 

Anda kehilangan diri sendiri dalam hubungan Hobi Anda, teman Anda, minat Anda—semuanya hilang karena seluruh identitas Anda sekarang adalah "pasangan dari..." 

Anda tidak bisa membayangkan hidup tanpa mereka Bukan karena cinta, tapi karena takut. Ide sendirian terasa seperti akhir dunia. 

Anda menggunakan mereka untuk mengisi kekosongan Anda merasa kosong, jadi Anda menggunakan cinta mereka untuk mengisi—tapi kekosongan itu tidak pernah terisi karena hanya bisa diisi dari dalam. 

Anda sangat possessive atau jealous Setiap kali mereka berbicara dengan orang lain, Anda merasa terancam. Anda butuh tahu dimana mereka setiap saat. Anda check HP mereka. 

Ini bukan cinta. Ini adalah ketakutan yang menyamar sebagai cinta. 

Jalan Menuju Cinta yang Bebas 

Pueblo mengajarkan bahwa cinta sejati hanya bisa tumbuh ketika dua orang yang utuh memilih untuk bersama—bukan karena butuh, tapi karena mau. 

Cultivate wholeness dalam diri Anda Jangan mencari orang untuk melengkapi Anda. Lengkapi diri Anda sendiri terlebih dahulu—melalui hobi, teman, purpose, self-love.

Practice detachment with love Ini paradoks indah: Anda mencintai seseorang dengan sangat dalam, tapi Anda juga siap melepaskan mereka jika itu yang terbaik. 

Seperti Pueblo tulis: "Cintai dengan sepenuh hati, tapi pegang dengan tangan terbuka." 

Support their growth, even when it's uncomfortable Jika pasangan Anda ingin mengejar mimpi yang artinya waktu lebih sedikit bersama Anda, support mereka—karena cinta sejati mendukung pertumbuhan, bukan mengekang.

 


Bagian 4: Komunikasi dari Tempat yang Tenang

Reaktif vs. Responsif 

Pueblo mengajarkan perbedaan penting: 

Reaktif: Pasangan mengatakan sesuatu yang memicu Anda → emosi langsung meledak → Anda attack atau defend → pertengkaran besar. 

Responsif: Pasangan mengatakan sesuatu yang memicu Anda → Anda pause, tarik napas → Anda bertanya pada diri sendiri, "Mengapa saya merasa triggered?" → Anda merespons dari tempat yang lebih tenang. 

Perbedaan kecil dalam momen, perbedaan besar dalam hubungan. 

Mendengarkan untuk Memahami, Bukan untuk Menjawab 

Kebanyakan dari kita tidak benar-benar mendengarkan ketika pasangan berbicara. Kita sudah menyiapkan jawaban, defense, atau counter-argument dalam kepala. 

Pueblo mengajarkan mindful listening: 

Ketika pasangan berbicara: 

● Kontak mata penuh 

● Dengarkan tanpa interupsi 

● Jangan pikirkan jawaban Anda—fokus pada apa yang mereka rasakan

● Setelah selesai, ulangi: "Jadi yang kamu rasakan adalah... Apa aku mengerti dengan benar?" 

Ini sederhana tapi sangat powerful. Ketika orang merasa benar-benar didengar, defense mereka turun—dan koneksi sejati bisa terjadi. 

Berbicara dari "Saya", Bukan "Kamu" 

Alih-alih: "Kamu selalu mengabaikan saya!" 

Coba: "Saya merasa diabaikan ketika kamu tidak membalas pesan saya sepanjang hari."

Perbedaan? 

Yang pertama adalah serangan—dan orang akan defend. 

Yang kedua adalah sharing perasaan—dan orang akan lebih terbuka untuk mendengar.

Timing Matters

Jangan memulai percakapan penting ketika salah satu dari Anda lelah, lapar, atau stress. 

Pueblo mengajarkan: "Pilih momen dengan bijaksana. Percakapan penting membutuhkan energi dan kehadiran penuh." 

Katakan: "Ini penting buat aku. Bisakah kita bicarakan nanti malam setelah makan malam ketika kita berdua lebih relax?"

 


Bagian 5: Tumbuh Bersama, Tidak Terpisah

Cinta yang Mendukung Evolusi 

Pueblo menulis: "Hubungan terbaik adalah dimana dua orang mendorong satu sama lain untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka." 

Bukan mencoba mengubah pasangan menjadi apa yang Anda inginkan.

Bukan membatasi mereka agar tetap nyaman untuk Anda. 

Tapi merayakan pertumbuhan mereka—bahkan ketika pertumbuhan itu berarti mereka berubah dari orang yang Anda kenal. 

Growing Pains 

Pertumbuhan dalam hubungan tidak selalu nyaman. 

Ketika satu orang mulai therapy dan bekerja pada luka mereka, dinamika hubungan berubah. Pola lama tidak lagi bekerja. Dan itu bisa menakutkan. 

Pueblo jujur tentang ini: "Ketika saya mulai healing, hubungan saya nyaris hancur—karena pasangan saya terbiasa dengan versi lama saya. Versi baru saya membuat dia tidak nyaman." 

Tapi di sisi lain: jika keduanya berkomitmen untuk tumbuh—bersama atau secara individual—hubungan bisa mencapai kedalaman yang tidak pernah mungkin sebelumnya. 

Support System vs. Crutch 

Pasangan Anda harus menjadi support system—bukan crutch. 

Support system: "Saya di sini untukmu ketika kamu berjuang, tapi kamu yang harus berjalan."

Crutch: "Lean on me sepenuhnya, jangan pernah belajar berjalan sendiri."

Yang pertama memberdayakan. Yang kedua membuat dependent. 

Pueblo mengajarkan: "Cintai seseorang cukup untuk tidak menyelamatkan mereka dari perjuangan yang mereka butuhkan untuk tumbuh."

 


Bagian 6: Praktik Kebaikan Sehari-Hari 

Small Acts, Big Impact 

Pueblo menekankan bahwa cinta bukan hanya kata-kata besar atau gesture dramatis. Cinta adalah akumulasi dari kebaikan kecil setiap hari. 

● Membuat kopi untuk pasangan di pagi hari 

● Mendengarkan dengan penuh perhatian ketika mereka cerita tentang hari mereka

● Mengatakan "terima kasih" untuk hal-hal kecil 

● Memeluk tanpa alasan 

● Mengirim pesan di tengah hari: "Aku memikirkanmu" 

Ini terlihat kecil. Tapi ini adalah fondasi. 

Presence Adalah Hadiah Terbesar 

Di era distraksi digital, hal paling berharga yang bisa Anda berikan adalah kehadiran penuh. 

Ketika makan malam bersama, taruh HP. Ketika ngobrol, kontak mata. Ketika pasangan sedang struggle, jangan langsung kasih solusi—just be present. 

Pueblo menulis: "Orang tidak ingat apa yang kamu katakan atau apa yang kamu lakukan. Mereka ingat bagaimana rasanya berada di sekitarmu." 

Bagaimana rasanya berada di sekitar Anda? Tenang? Aman? Dihargai?

Atau terganggu? Diabaikan? Dinilai? 

Apresiasi yang Diungkapkan 

Jangan asumsikan pasangan tahu Anda grateful. Katakan

Bukan hanya "terima kasih," tapi terima kasih yang spesifik: 

"Terima kasih sudah memasak meskipun kamu juga lelah pulang kerja. Itu artinya banyak buat aku." 

"Aku appreciate kamu selalu mendengarkan ketika aku butuh curhat. Kamu membuat aku merasa aman." 

Pueblo berbagi: "Dalam budaya yang terus mengatakan apa yang salah, menjadi orang yang melihat apa yang benar adalah revolutionary."

 


Bagian 7: Menerima Ketidaksempurnaan—Milik Anda dan Mereka 

Lepaskan Ekspektasi Sempurna 

Pueblo menulis dengan jujur: "Saya pernah mencari pasangan sempurna. Lalu saya menyadari: orang sempurna tidak ada. Dan bahkan jika ada, mereka tidak akan mau dengan saya—karena saya juga tidak sempurna." 

Kita semua punya luka. Kita semua punya bagasi. Kita semua punya hari buruk dimana kita tidak menjadi versi terbaik dari diri kita. 

Dan itu oke

Cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang tidak punya masalah. Cinta sejati adalah tentang menemukan seseorang yang masalahnya compatible dengan masalah Anda—dan Anda berdua berkomitmen untuk tumbuh. 

Self-Acceptance Sebagai Gateway ke Accepting Others 

Anda tidak bisa menerima ketidaksempurnaan orang lain jika Anda belum menerima ketidaksempurnaan Anda sendiri. 

Ketika Anda sangat keras pada diri sendiri, Anda akan keras pada orang lain. 

Ketika Anda tidak memaafkan kesalahan Anda sendiri, Anda tidak akan memaafkan kesalahan mereka. 

Tapi ketika Anda belajar melihat diri sendiri dengan belas kasih—dengan semua keretakan dan ketidaksempurnaan—Anda akan bisa melihat pasangan Anda dengan cara yang sama. 

Pueblo menulis: "Kita tidak jatuh cinta dengan kesempurnaan. Kita jatuh cinta dengan kemanusiaan—dengan vulnerability, dengan kekacauan yang indah dari menjadi manusia." 

Kintsugi: Keindahan dalam Keretakan 

Pueblo sering merujuk pada konsep Jepang "Kintsugi"—seni memperbaiki keramik yang pecah dengan emas, membuat retakan menjadi bagian dari keindahan. 

Begitu juga dengan manusia. 

Luka Anda, kesalahan Anda, masa lalu yang menyakitkan—ini bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Ini adalah bagian dari keindahan Anda.

Dan ketika Anda menemukan seseorang yang bisa melihat keretakan Anda dan mencintai Anda bukan meskipun itu, tapi termasuk itu—itu adalah cinta sejati.

 


Penutup: Cinta Adalah Praktik, Bukan Perasaan

Kebenaran yang Membebaskan 

Yung Pueblo menutup bukunya dengan wisdom yang membebaskan: 

"Cinta sejati bukan tentang perasaan yang datang dan pergi. Cinta sejati adalah praktik—pilihan yang Anda buat setiap hari untuk hadir, untuk baik, untuk tumbuh." 

Akan ada hari ketika Anda tidak "merasa" cinta. Akan ada hari ketika pasangan Anda menjengkelkan. Akan ada hari ketika Anda ingin menyerah. 

Dan di hari-hari itu, cinta adalah pilihan untuk tetap hadir, untuk tetap baik, untuk tetap committed pada pertumbuhan bersama. 

Lima Komitmen untuk Mencintai dengan Lebih Baik 

Pueblo mengajak kita untuk membuat komitmen ini: 

1. Saya berkomitmen untuk terus menyembuhkan diri saya sendiri 

Pekerjaan healing tidak pernah benar-benar "selesai." Selalu ada layer baru untuk dieksplorasi, luka baru untuk disembuhkan. 

Komit untuk therapy, meditasi, journaling, atau praktik apa pun yang membantu Anda tumbuh.

2. Saya berkomitmen untuk berkomunikasi dengan jujur dan penuh belas kasih 

Jangan tekan perasaan sampai meledak. Jangan attack ketika terluka. Berbicara dengan kebenaran dan kebaikan. 

3. Saya berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan pasangan saya 

Bahkan ketika pertumbuhan itu tidak nyaman untuk saya. Bahkan ketika itu berarti mereka berubah. 

4. Saya berkomitmen untuk praktik kebaikan kecil setiap hari 

Cinta bukan event. Cinta adalah ribuan momen kecil. 

5. Saya berkomitmen untuk menerima ketidaksempurnaan—milik saya dan milik mereka

Kita semua sedang dalam proses. Kita semua sedang belajar. Dan itu cukup.

Pertanyaan untuk Refleksi Anda

Pueblo menutup dengan pertanyaan yang mendalam: 

"Siapa yang Anda perlu menjadi untuk mencintai dengan cara yang Anda ingin dicintai?"

Jangan tunggu pasangan sempurna. Jangan tunggu kondisi sempurna. 

Mulai hari ini—dengan diri Anda sendiri. Mulai dengan belas kasih untuk luka Anda. Mulai dengan kebaikan untuk keretakan Anda. Mulai dengan komitmen untuk tumbuh. 

Karena seperti Pueblo tulis: 

"Cinta terbesar yang bisa Anda berikan kepada orang lain dimulai dengan cinta yang Anda berikan kepada diri sendiri. Heal yourself, dan Anda akan heal the way you love." 

Perjalanan untuk mencintai dengan lebih baik dimulai dari dalam. 

Dan perjalanan itu dimulai sekarang.

 


Tentang Buku Asli 

"How to Love Better: The Path to Deeper Connection Through Growth, Kindness, and Compassion" diterbitkan tahun 2024 sebagai kelanjutan dari karya-karya sebelumnya Yung Pueblo. 

Yung Pueblo (Diego Perez) adalah penulis bestseller "Inward," "Clarity & Connection," dan "Lighter." Karyanya telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia melalui Instagram (@yung_pueblo) dan bukunya yang telah diterjemahkan ke banyak bahasa. 

Apa yang membuat karya Pueblo unik adalah kombinasi antara wisdom spiritual dan pengalaman personal yang sangat relatable. Dia tidak berbicara dari menara gading—dia berbicara dari pengalaman healing yang nyata dan transformatif. 

Bukunya ditulis dalam gaya yang puitis namun accessible—setiap halaman penuh dengan insights yang bisa Anda baca ulang berkali-kali dan setiap kali menemukan makna baru. 

Untuk pengalaman penuh dari wisdom dan puisi indah Pueblo, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap konsep inti, tetapi buku lengkapnya memberikan kedalaman, nuansa, dan banyak refleksi personal yang akan menyentuh hati dengan cara yang unik untuk setiap pembaca. 

Sekarang tutup ringkasan ini, ambil napas dalam, dan tanyakan pada diri sendiri: 

"Apa satu langkah kecil yang bisa saya ambil hari ini untuk mencintai diri saya—dan orang lain—dengan lebih baik?" 

Dan mulai dari sana. 

Karena perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. 

Dan perjalanan untuk mencintai dengan lebih baik dimulai dengan satu momen belas kasih—untuk diri Anda sendiri. 

Selamat menyembuhkan. Selamat tumbuh. Selamat mencintai dengan lebih baik.