Big Bang

Simon Singh


Pertanyaan Tertua Manusia 

Angkat kepala Anda malam ini. Lihat ke langit. 

Ribuan titik cahaya memenuhi kegelapan. Bulan bersinar. Bintang berkelip. Galaksi Bima Sakti membentang seperti sungai cahaya. 

Dan pertanyaan itu muncul—pertanyaan yang sama yang ditanyakan manusia selama ribuan tahun: 

Dari mana semua ini datang? 

Apakah alam semesta selalu ada? Apakah ia punya awal? Jika ya, apa yang memicunya? Apa yang ada sebelum "awal"? 

Untuk sebagian besar sejarah manusia, jawaban datang dari mitologi dan agama. Dewa-dewa menciptakan dunia. Kekuatan supernatural membentuk langit dan bumi. Cerita penciptaan diturunkan dari generasi ke generasi. 

Tapi sekitar 2.500 tahun yang lalu, sekelompok orang di Yunani kuno mulai bertanya: Bagaimana jika kita bisa menjawab pertanyaan ini tanpa dewa? Bagaimana jika kita bisa menggunakan pengamatan dan akal untuk memahami alam semesta? 

Mereka memulai perjalanan—perjalanan yang akan memakan waktu ribuan tahun, melibatkan ribuan ilmuwan, dan menghadapi penolakan brutal dari gereja dan otoritas. 

Perjalanan yang akhirnya mengungkap kebenaran paling mengejutkan: Alam semesta lahir 13,8 miliar tahun yang lalu dalam ledakan yang kita sebut Big Bang. 

Simon Singh, penulis sains paling engaging di dunia, menceritakan kisah luar biasa ini—bukan sebagai kumpulan fakta kering, tetapi sebagai petualangan manusia penuh drama, keberanian, kejeniusan, dan kadang tragedi. 

Ini bukan hanya cerita tentang alam semesta. Ini cerita tentang bagaimana kita—manusia kecil di planet kecil—berhasil mengungkap rahasia terbesar eksistensi.

Mari kita mulai dari awal. Bukan awal alam semesta—tapi awal pencarian kita untuk memahaminya.

 


Bagian 1: Melawan Kebijaksanaan Konvensional

Aristoteles dan Kesalahan yang Bertahan 2.000 Tahun 

Tahun 350 SM, Aristoteles—filsuf paling berpengaruh di dunia kuno—menyatakan dengan percaya diri: 

Bumi adalah pusat alam semesta. Matahari, bulan, planet, dan bintang berputar mengelilingi kita. 

Ini masuk akal bagi mata telanjang. Ketika Anda melihat langit, Anda melihat matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Bulan melakukan hal yang sama. Bintang-bintang berputar di sekitar kita seperti lampu di langit-langit kosmik. 

Plus, ini cocok dengan ego manusia. Tentu saja kita di pusat. Kita istimewa. Tuhan menciptakan semesta untuk kita. 

Ptolemy, astronom Yunani di abad ke-2 Masehi, menyempurnakan model ini dengan matematika kompleks. Dia menjelaskan gerakan planet yang aneh—kadang mereka bergerak mundur—dengan sistem "epicycles": lingkaran di atas lingkaran. 

Modelnya rumit. Tapi modelnya bekerja—setidaknya untuk memprediksi posisi planet dengan akurasi yang cukup untuk navigasi. 

Dan karena modelnya didukung oleh Gereja Katolik (yang menyukai gagasan Bumi sebagai pusat ciptaan Tuhan), model geosentris Ptolemy bertahan selama 1.400 tahun. 

Mempertanyakannya berarti mempertanyakan Gereja. Dan itu berbahaya.

Copernicus: Pria yang Menendang Kita dari Pusat 

1543. Nicolaus Copernicus, seorang astronom Polandia, menerbitkan buku yang akan mengubah segalanya: "De revolutionibus orbium coelestium" (On the Revolutions of the Celestial Spheres). 

Ide radikalnya: Bumi bukan pusat. Matahari adalah pusat. Kita hanya salah satu planet yang berputar mengelilingi matahari. 

Ini menjelaskan gerakan planet jauh lebih sederhana daripada sistem Ptolemy. Tidak perlu epicycles rumit. Cukup terima bahwa Bumi bergerak—dan segalanya masuk akal. 

Tapi ide ini mengerikan bagi otoritas. Gereja langsung menolak. Bagaimana mungkin manusia—ciptaan puncak Tuhan—hidup di planet yang hanya berputar-putar di luar angkasa seperti planet lain?

Copernicus bijak. Dia menunggu sampai akhir hidupnya untuk menerbitkan. Legendanya mengatakan salinan cetak pertama diberikan kepadanya di tempat tidur kematiannya. Dia tidak pernah melihat kontroversi yang akan mengikuti. 

Galileo: Melihat adalah Percaya 

1609. Galileo Galilei mendengar tentang penemuan baru dari Belanda: sebuah alat yang membuat objek jauh terlihat dekat. Teleskop. 

Dia membangun versi yang lebih baik dan mengarahkannya ke langit. 

Apa yang dia lihat mengubah segalanya: 

● Bulan punya kawah dan gunung—bukan bola sempurna seperti yang diajarkan Aristoteles 

● Jupiter punya empat bulan yang berputar mengelilinginya—bukti bahwa tidak semua objek berputar mengelilingi Bumi 

● Venus punya fase seperti bulan—hanya mungkin jika ia berputar mengelilingi matahari, bukan Bumi 

Bukti. Bukti yang bisa siapa saja lihat jika mereka punya teleskop. 

Galileo mempublikasikan temuannya. Dia menjadi terkenal. Dan dia menarik kemarahan Gereja. 

1633. Galileo dipanggil ke hadapan Inkuisisi. Pilihan: Cabut pernyataan Anda bahwa Bumi bergerak, atau hadapi konsekuensi. 

Giordano Bruno, ilmuwan lain yang mendukung Copernicus, telah dibakar hidup-hidup 33 tahun sebelumnya karena menolak mencabut pendapatnya. 

Galileo, usia 69 tahun dan kesehatannya menurun, mencabut. Dia menyatakan bahwa dia salah, bahwa Bumi tidak bergerak. 

Tapi legenda mengatakan, saat meninggalkan ruang sidang, dia bergumam: "Eppur si muove"—Dan tetap saja ia bergerak. 

Kebenaran tidak bisa dibungkam selamanya.

 


Bagian 2: Alam Semesta Lebih Besar dari yang Kita Bayangkan 

Mengukur Jarak ke Bintang—Misi yang Hampir Mustahil 

Selama ribuan tahun, manusia berpikir bintang-bintang berada di "bola langit"—semacam kubah di atas Bumi, dengan semua bintang pada jarak yang sama. 

Tapi jika Bumi bergerak mengelilingi matahari (seperti Copernicus katakan), seharusnya kita bisa mengukur "parallax"—pergeseran posisi bintang yang terlihat saat kita mengamati dari sisi orbit yang berbeda. 

Bayangkan Anda mengacungkan jempol dengan tangan terentang. Tutup mata kiri, lihat jempol dengan mata kanan. Sekarang tutup mata kanan, lihat dengan mata kiri. Jempol Anda terlihat "bergeser" relatif terhadap latar belakang. 

Hal yang sama seharusnya terjadi dengan bintang jika Bumi bergerak. Tapi tidak ada yang bisa melihat pergeseran ini. 

Kritikus Copernicus bersorak: "Lihat! Tidak ada parallax! Bumi tidak bergerak!" 

Tapi ada penjelasan lain: Bintang sangat jauh sehingga pergeserannya terlalu kecil untuk dilihat. 

Butuh waktu hingga 1838 untuk Friedrich Bessel akhirnya mengukur parallax bintang dengan teleskop yang cukup presisi. Jawabannya mengejutkan: 

Bintang terdekat (61 Cygni) berjarak 11 tahun cahaya. 

Artinya cahaya—yang bergerak 300.000 kilometer per detik—membutuhkan 11 tahun untuk mencapai kita dari bintang itu. 

Alam semesta jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan siapa pun.

Galaksi—Pulau-Pulau di Lautan Kosmos 

Awal abad ke-20. Astronom melihat "nebula"—awan kabut di langit. Apakah mereka awan gas dalam galaksi kita, atau sesuatu yang lain? 

Edwin Hubble, menggunakan teleskop terbesar di dunia saat itu (di Mount Wilson, California), menemukan jawabannya. 

1924. Hubble mengumumkan: Nebula Andromeda sebenarnya adalah galaksi lain—kumpulan miliaran bintang, jauh di luar galaksi kita.

Dan dia menemukan lebih banyak lagi. Ratusan. Ribuan. Jutaan galaksi.

Setiap galaksi berisi miliaran bintang. Dan alam semesta berisi miliaran galaksi. 

Skala alam semesta tidak terpahami. Kita bukan hanya bukan pusat—kita bahkan tidak signifikan dalam skala kosmik. 

Tapi penemuan Hubble berikutnya jauh lebih mengejutkan.

 


Bagian 3: Alam Semesta yang Mengembang

Cahaya yang Bergeser—Kode Rahasia Alam Semesta 

Hubble mempelajari cahaya dari galaksi-galaksi jauh. Dia memperhatikan sesuatu yang aneh: 

Cahaya dari hampir semua galaksi "bergeser ke merah"—diregangkan ke panjang gelombang yang lebih panjang. 

Ini adalah efek Doppler—fenomena yang sama yang membuat sirene ambulans terdengar berubah pitch saat mendekati lalu menjauh dari Anda. 

Ketika sumber cahaya bergerak menjauh, gelombangnya diregangkan (red shift). Ketika mendekati, gelombangnya dimampatkan (blue shift). 

Red shift dari galaksi berarti: Mereka semua bergerak menjauh dari kita.

Tapi lebih mengejutkan lagi: Semakin jauh galaksi, semakin cepat ia bergerak menjauh.

1929. Hubble mempublikasikan temuan ini—sekarang dikenal sebagai "Hukum Hubble."

Implikasinya mengejutkan: Alam semesta mengembang. 

Bukan kita yang istimewa—semua galaksi bergerak menjauh satu sama lain, seperti titik-titik di permukaan balon yang dikembangkan. 

Dan jika alam semesta mengembang hari ini, itu berarti kemarin ia lebih kecil. Dan tahun lalu lebih kecil lagi. Dan jika Anda putar waktu mundur cukup jauh... 

Pada suatu titik, seluruh alam semesta pasti dimampatkan dalam satu titik kecil.

Ledakan yang memulai ekspansi ini? Kita menyebutnya Big Bang.

 


Bagian 4: Lahirnya Teori Big Bang 

Georges Lemaître—Imam yang Meledakkan Alam Semesta 

Sebelum Hubble mempublikasikan temuannya, seorang imam dan fisikawan Belgia bernama Georges Lemaître sudah mengusulkan ide radikal berdasarkan teori relativitas umum Einstein: 

Alam semesta dimulai dari "atom primordial"—sebuah titik sangat padat dan panas yang meledak dan terus mengembang. 

Ketika Lemaître mempresentasikan ide ini pada 1927, mayoritas ilmuwan menolaknya. Termasuk Einstein sendiri, yang berkata: "Your calculations are correct, but your physics is abominable." 

Mengapa penolakan? Karena ide "alam semesta punya awal" terdengar seperti agama, bukan sains. Banyak ilmuwan lebih suka percaya alam semesta kekal—tidak punya awal, tidak punya akhir. 

Tapi data dari Hubble membuktikan Lemaître benar. Alam semesta mengembang. Dan jika ia mengembang, ia pasti punya titik awal. 

George Gamow—Menghitung Detik Pertama 

1940-an. Fisikawan Rusia-Amerika George Gamow melangkah lebih jauh. Dia tidak hanya bertanya "Apakah Big Bang terjadi?" tetapi "Apa yang terjadi dalam detik-detik pertama setelah Big Bang?" 

Menggunakan fisika nuklir, Gamow menghitung: 

● Pada detik pertama, alam semesta adalah sup panas dari partikel subatomik

● Saat mengembang dan mendingin, proton dan neutron bergabung membentuk atom hidrogen dan helium 

● Perbandingan hidrogen dan helium seharusnya sekitar 75% : 25% 

Dan ketika astronom mengukur komposisi bintang-bintang? Tepat 75% hidrogen, 25% helium.

Prediksi yang terbukti benar. 

Tapi Gamow membuat prediksi yang lebih berani: Jika Big Bang benar-benar terjadi, seharusnya ada "sisa panas" dari ledakan itu—radiasi yang mengisi seluruh alam semesta. 

Radiasi ini akan sangat dingin sekarang (hanya beberapa derajat di atas nol mutlak), tapi seharusnya bisa dideteksi.

Sayangnya, teknologi tahun1940-an belum cukup maju.  Dan Gamow meninggal sebelum melihat prediksinya terbukti.

 


Bagian 5: Bukti yang Tidak Disengaja 

Penzias dan Wilson—Menemukan Big Bang Karena Kebetulan

1964. Dua ilmuwan Bell Labs, Arno Penzias dan Robert Wilson, frustrasi. 

Mereka mencoba menggunakan antena radio sensitif untuk penelitian astronomi, tapi ada gangguan konstan—semacam "noise" yang datang dari segala arah, siang dan malam, musim apa pun. 

Mereka pikir antenanya rusak. Mereka membersihkan "kotoran burung" (sebenarnya kotoran merpati yang bersarang di antena). Mereka kalibrasi ulang instrumen. Mereka periksa semua kabel. 

Noise tetap ada. 

Tanpa mereka sadari, mereka telah menemukan Cosmic Microwave Background (CMB)—radiasi yang diprediksi Gamow, sisa panas dari Big Bang. 

Sementara itu, di universitas Princeton yang tidak jauh, tim fisikawan sedang membangun detektor khusus untuk mencari radiasi ini. Ketika mereka mendengar tentang "noise" misterius Penzias dan Wilson, mereka menyadari: Ini dia. Bukti Big Bang. 

1978. Penzias dan Wilson menerima Hadiah Nobel untuk penemuan yang tidak mereka cari. 

CMB adalah bukti paling kuat untuk Big Bang. Ini adalah "foto bayi" alam semesta—snapshot dari kondisi alam semesta ketika baru berusia 380.000 tahun (sangat muda dalam skala kosmik). 

Gelombang radio yang mereka deteksi datang dari setiap arah karena Big Bang terjadi di mana-mana sekaligus. Tidak ada "pusat ledakan"—seluruh ruang itu sendiri yang mengembang.

 


Bagian 6: Melawan Skeptisisme—Steady State vs Big Bang 

Fred Hoyle—Musuh Terbesar Big Bang (yang Memberinya Nama) 

Tidak semua ilmuwan langsung menerima Big Bang. Yang paling vokal menentang adalah Fred Hoyle, astronom Inggris brilian. 

Hoyle mendukung "Steady State Theory"—gagasan bahwa alam semesta selalu terlihat sama. Ya, ia mengembang, tapi materi baru terus diciptakan untuk mengisi ruang, jadi kepadatan rata-rata tetap konstan. 

Tidak ada awal. Tidak ada akhir. Kekal. 

Ironisnya, Hoyle-lah yang memberi nama "Big Bang"—dalam siaran radio BBC 1949, dia mengejek teori rival dengan menyebutnya "ide bahwa alam semesta dimulai dengan semacam big bang." 

Nama itu melekat. Tapi tidak seperti yang Hoyle harapkan, nama itu membuatnya mudah diingat dan populer. 

Selama puluhan tahun, perdebatan berlangsung sengit. Steady State vs Big Bang. Kedua sisi punya argumen kuat. 

Tapi satu per satu, bukti mendukung Big Bang: 

● Pengembangan alam semesta ✓ 

● Rasio hidrogen-helium ✓ 

● Cosmic Microwave Background ✓ 

● Galaksi jauh terlihat berbeda dari galaksi dekat (berarti alam semesta berubah seiring waktu) ✓ 

Pada 1990-an, Big Bang menjadi teori yang diterima hampir universal. 

Fred Hoyle tidak pernah mengakuinya. Sampai kematiannya di 2001, dia tetap skeptis. Tapi ironisnya, penelitiannya sendiri—tentang bagaimana bintang membuat elemen berat—menjadi bagian penting dari pemahaman kita tentang evolusi alam semesta pasca-Big Bang.

 


Bagian 7: Dari Detik Pertama hingga Hari Ini

Timeline Alam Semesta—13,8 Miliar Tahun dalam Sekilas

Mari kita putar ulang film alam semesta dari awal: 

10⁻⁴³ detik (Waktu Planck) Detik paling awal yang bisa kita bicarakan dengan fisika yang kita pahami. Alam semesta seukuran partikel subatomik, lebih panas dari apa pun yang bisa kita bayangkan. 

10⁻³² detik (Inflasi) Alam semesta mengembang eksponensial dalam sepersekian detik—dari ukuran atom menjadi ukuran bola basket. Ini menjelaskan mengapa alam semesta terlihat seragam ke segala arah. 

3 menit Alam semesta cukup dingin untuk proton dan neutron bergabung membentuk inti atom pertama—hidrogen dan helium. 

380.000 tahun Alam semesta cukup dingin untuk elektron bergabung dengan inti, membentuk atom netral. Cahaya akhirnya bisa bergerak bebas—ini adalah cahaya yang kita deteksi sebagai CMB. 

200 juta tahun Bintang pertama menyala. Mereka besar, panas, dan berumur pendek—meledak sebagai supernova dalam beberapa juta tahun. 

1 miliar tahun Galaksi pertama terbentuk dari kumpulan bintang dan gas yang ditarik bersama oleh gravitasi. 

9 miliar tahun Tata surya kita terbentuk dari sisa-sisa bintang yang meledak sebelumnya. Bumi lahir. 

13,8 miliar tahun Hari ini. Kita ada—hasil dari miliaran tahun evolusi kosmik.

Kita Adalah Debu Bintang 

Carl Sagan terkenal mengatakan: "We are made of star stuff." 

Ini bukan metafora puitis. Ini fakta literal. 

Elemen di tubuh Anda—karbon di DNA Anda, kalsium di tulang Anda, besi di darah Anda—dibuat di dalam bintang yang meledak miliaran tahun yang lalu. 

Big Bang hanya menghasilkan hidrogen dan helium. Semua elemen lebih berat dibuat melalui fusi nuklir di inti bintang. Ketika bintang besar mati dalam supernova, mereka menyebarkan elemen ini ke luar angkasa. 

Gas dan debu itu mengumpul, membentuk bintang baru dan planet—termasuk Bumi dan Anda.

Setiap atom di tubuh Anda punya sejarah kosmik miliaran tahun.

 


Bagian 8: Pertanyaan yang Tersisa 

Apa yang Ada Sebelum Big Bang? 

Pertanyaan ini terdengar masuk akal. Tapi mungkin pertanyaan yang salah. 

Menurut relativitas umum, waktu itu sendiri dimulai dengan Big Bang. Tidak ada "sebelum" karena waktu tidak eksis sebelum itu. 

Seperti bertanya, "Apa yang ada di utara Kutub Utara?" Tidak ada—itu sudah titik paling utara.

Beberapa teori modern mengusulkan: 

Multiverse: Alam semesta kita hanya satu dari miliaran alam semesta lain

Cyclical Universe: Big Bang dan Big Crunch berulang selamanya 

Quantum Fluctuation: Alam semesta muncul secara spontan dari "ketiadaan" kuantum

Tapi jujur? Kita tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu dengan pasti.

Bagaimana Alam Semesta Akan Berakhir? 

Tergantung berapa banyak materi dan energi di alam semesta. 

Skenario 1: Big Freeze Jika tidak ada cukup materi, alam semesta akan terus mengembang selamanya. Bintang akan mati. Galaksi akan menjauh. Alam semesta menjadi gelap dan dingin—kematian panas. 

Skenario 2: Big Crunch Jika ada cukup materi, gravitasi akan memperlambat ekspansi, lalu membalikkannya. Alam semesta akan runtuh kembali ke titik tunggal. 

Skenario 3: Big Rip Jika "dark energy" (energi gelap yang mempercepat ekspansi) terlalu kuat, ekspansi akan mempercepat sampai merobek galaksi, bintang, planet, bahkan atom. 

Pengamatan terbaru menunjuk ke Big Freeze—tapi dengan twist. Ekspansi tampaknya mempercepat karena dark energy. Alam semesta tidak hanya mengembang—ia mengembang lebih cepat setiap saat. 

Kabar baiknya? Ini tidak akan terjadi untuk trilyunan tahun. Kita punya waktu.

 


Penutup: Warisan Pencarian Kita 

Simon Singh menutup dengan refleksi powerful tentang apa artinya semua ini:

Kerendahan Hati Kosmik 

Big Bang mengajarkan kita kerendahan hati. 

Kita bukan pusat alam semesta. Kita bahkan bukan di galaksi yang istimewa. Planet kita adalah titik biru pucat yang melayang di kekosongan luas. 

Tapi ini tidak membuat kita tidak penting. Justru sebaliknya. 

Keajaiban Kesadaran 

Pikirkan ini: Alam semesta telah berevolusi ke titik dimana ia bisa menyadari dirinya sendiri. 

Kita adalah alam semesta yang sadar—atom yang diatur sedemikian rupa sehingga bisa berpikir, bertanya, dan memahami asal-usulnya. 

Dari sup partikel panas 13,8 miliar tahun yang lalu, muncul bintang, galaksi, planet—dan akhirnya, makhluk yang bisa merenungkan semua ini. 

Itu luar biasa. 

Kekuatan Metode Ilmiah 

Perjalanan dari Aristoteles ke Big Bang menunjukkan kekuatan metode ilmiah: 

● Amati 

● Buat hipotesis 

● Prediksi 

● Uji 

● Revisi 

Berulang kali, teori yang diterima ditantang oleh bukti baru. Dan berulang kali, ilmuwan cukup berani untuk mengakui ketika mereka salah dan mengadopsi teori yang lebih baik. 

Copernicus menantang Aristoteles. Hubble mengubah pemahaman kita tentang skala alam semesta. Penzias dan Wilson menemukan bukti yang tidak mereka cari. 

Setiap generasi berdiri di pundak yang sebelumnya—menambah sedikit lebih banyak pemahaman.

Pertanyaan untuk Anda 

Singh meninggalkan kita dengan pertanyaan: 

Jika alam semesta punya awal 13,8 miliar tahun yang lalu, dan jika kita adalah hasil dari miliaran tahun evolusi kosmik—apa tanggung jawab kita? 

Kita adalah cara alam semesta memahami dirinya. Kita punya kesempatan singkat—beberapa dekade—untuk mengalami keajaiban ini. 

Apakah kita akan menggunakan waktu itu dengan bijak? 

Apakah kita akan terus bertanya, terus mencari, terus menemukan? 

Atau apakah kita akan puas dengan ketidaktahuan? 

Kisah Big Bang belum selesai. Masih banyak misteri: 

● Apa itu dark matter dan dark energy yang membentuk 95% alam semesta?

● Bagaimana kehidupan dimulai? 

● Apakah ada kehidupan di tempat lain? 

● Apa takdir akhir alam semesta? 

Generasi berikutnya akan menjawab pertanyaan ini. Dan mereka akan mengajukan pertanyaan baru yang bahkan tidak bisa kita bayangkan hari ini. 

Perjalanan pemahaman tidak pernah berakhir. 

Dan itu adalah hal yang paling indah dari semuanya.

 


Tentang Buku Asli 

"Big Bang: The Origin of the Universe" diterbitkan pada 2004 dan langsung menjadi bestseller internasional. 

Simon Singh adalah penulis sains yang luar biasa berbakat dalam membuat topik kompleks menjadi accessible dan engaging. Bukunya sebelumnya—"Fermat's Last Theorem"—juga bestseller tentang matematika (yes, buku matematika yang jadi bestseller!). 

Yang membuat buku Big Bang istimewa adalah pendekatan storytelling Singh. Dia tidak hanya menjelaskan sains—dia menceritakan drama manusia di balik penemuan. Kepribadian para ilmuwan. Konflik mereka. Keberanian mereka melawan dogma. Kegembiraan penemuan dan kepahitan penolakan. 

Buku lengkapnya juga mencakup: 

● Detail teknis lebih dalam tentang fisika 

● Lebih banyak kisah ilmuwan individual 

● Diagram dan ilustrasi 

● Penjelasan tentang bagaimana pengamatan spesifik dilakukan 

Untuk pemahaman lengkap tentang salah satu penemuan terbesar manusia, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap garis besar dan momen-momen kunci, tetapi buku Singh memberikan kekayaan detail dan nuansa yang membuat perjalanan ini benar-benar hidup. 

Sekarang, lain kali Anda melihat ke langit malam, ingatlah: 

Cahaya dari bintang yang Anda lihat telah berjalan jutaan tahun untuk sampai ke mata Anda. Atom di tubuh Anda dibuat di dalam bintang yang meledak. Dan setiap pertanyaan yang Anda ajukan tentang alam semesta adalah bagian dari pencarian 2.500 tahun manusia untuk memahami dari mana kita datang. 

Anda adalah bagian dari kisah itu. 

Dan kisah itu—kisah Big Bang, evolusi kosmik, dan pencarian kita untuk pemahaman—adalah kisah paling menakjubkan yang pernah diceritakan.