Blockchain: Bubble or Revolution?

Neel Mehta, Aditya Agashe, & Parth Detroja


Pizza Seharga 10 Juta Dollar 

22 Mei 2010. Seorang programmer bernama Laszlo Hanyecz melakukan transaksi yang akan menjadi legenda. 

Dia membeli dua pizza Papa John's. Harga normal: sekitar $25. 

Dia membayar dengan 10,000 Bitcoin. 

Pada saat itu, Bitcoin hampir tidak bernilai—mungkin setara beberapa dolar. Transaksi ini adalah pembelian komersial pertama menggunakan Bitcoin, dan Laszlo senang karena akhirnya "uang internet" ini bisa dipakai untuk sesuatu yang nyata. 

Fast forward ke November 2021. Bitcoin mencapai harga $69,000 per koin.

Artinya, dua pizza itu sebenarnya berharga $690 juta. 

Pizza termahal dalam sejarah manusia. 

Setiap tahun, komunitas crypto merayakan 22 Mei sebagai "Bitcoin Pizza Day"—mengenang momen bersejarah ini dan tertawa miris memikirkan betapa mahalnya pizza itu sekarang. 

Tapi inilah pertanyaan yang lebih penting: 

Apakah Bitcoin—dan teknologi blockchain di baliknya—benar-benar revolusi yang akan mengubah dunia? Atau hanya gelembung spekulatif terbesar dalam sejarah modern? 

Neel Mehta (Product Manager di Google), Aditya Agashe (insinyur Facebook), dan Parth Detroja (insinyur Microsoft) menulis buku ini bukan untuk menjual Anda cryptocurrency. Mereka bukan investor crypto yang ingin pump harga. Mereka adalah teknolog yang ingin menjawab satu pertanyaan dengan objektif:

Di tengah semua hype, janji, dan kebohongan—apa yang sebenarnya bisa dan tidak bisa dilakukan blockchain? 

Mari kita cari tahu.

 


Bagian 1: Apa Itu Blockchain Sebenarnya? 

Masalah yang Blockchain Coba Selesaikan 

Bayangkan Anda ingin mengirim uang ke teman di negara lain. 

Cara tradisional: Anda transfer lewat bank. Bank Anda berbicara dengan bank mereka. Mungkin ada intermediary bank di tengah. Setiap bank mengambil fee. Prosesnya memakan 3-5 hari kerja. Total biaya bisa 5-10% dari jumlah yang Anda kirim. 

Mengapa begitu lambat dan mahal? Karena setiap institusi harus memverifikasi bahwa Anda benar-benar punya uang itu, update database mereka, dan rekonsiliasi dengan institusi lain. 

Semua ini terjadi karena satu alasan fundamental: Kita tidak saling percaya. 

Anda tidak percaya teman Anda untuk bilang "Oke, saya terima uangnya" tanpa benar-benar menerimanya. Bank tidak percaya satu sama lain tanpa verifikasi. Jadi kita butuh intermediary—pihak ketiga yang dipercaya—untuk memfasilitasi transaksi. 

Dan intermediary itu mengambil fee untuk jasa mereka. 

Blockchain bertanya: Bagaimana jika kita bisa bertransaksi tanpa butuh intermediary yang dipercaya? 

Buku Besar yang Tidak Bisa Diubah 

Blockchain, pada dasarnya, adalah buku besar digital (ledger) yang: 

1. Terdesentralisasi - Tidak ada satu pihak yang mengontrol. Ribuan komputer menyimpan salinan yang sama. 

2. Transparan - Semua orang bisa melihat semua transaksi (meskipun identitas bisa anonim). 

3. Tidak bisa diubah - Sekali tercatat, transaksi tidak bisa dihapus atau dimodifikasi. 

Analogi sederhana: Bayangkan Google Docs yang dilihat ribuan orang sekaligus. Setiap kali ada yang menambah teks, semua orang melihat perubahan itu. Tidak ada yang bisa diam-diam mengubah atau menghapus teks yang sudah ditulis tanpa semua orang tahu. 

Tapi bagaimana ribuan komputer yang tidak saling kenal bisa sepakat tentang apa yang benar?

Mekanisme Konsensus: Bukti Kerja

Bitcoin menggunakan mekanisme yang disebut "Proof of Work" (Bukti Kerja).

Inilah cara kerjanya dalam bahasa sederhana: 

Setiap 10 menit, semua transaksi Bitcoin yang pending dikumpulkan menjadi satu "block". Ribuan komputer—yang disebut "miner"—berlomba memecahkan puzzle matematika yang sangat sulit. 

Komputer pertama yang memecahkan puzzle mendapat hak untuk menambahkan block baru ke chain dan menerima reward (Bitcoin baru + transaction fees). 

Semua komputer lain memverifikasi bahwa solusinya benar. Jika 51% sepakat, block diterima. Chain berlanjut. 

Mengapa ini aman? Karena untuk mengubah transaksi di masa lalu, Anda harus: 

1. Mengontrol lebih dari 50% total computing power jaringan (hampir mustahil untuk Bitcoin) 

2. Re-compute semua puzzle sejak block yang ingin Anda ubah 

3. Lakukan ini lebih cepat dari seluruh jaringan yang terus menambah block baru

Secara ekonomi dan teknis, ini sangat sulit—bahkan untuk pemerintah atau perusahaan besar.

 


Bagian 2: Bitcoin - Emas Digital atau Skema Ponzi?

Kelahiran dari Ketidakpercayaan 

31 Oktober 2008. Seseorang (atau sekelompok orang) dengan nama samaran Satoshi Nakamoto mempublikasikan paper berjudul "Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System." 

Timing-nya bukan kebetulan. Ini hanya beberapa minggu setelah Lehman Brothers collapse dan krisis finansial global 2008 dimulai. 

Nakamoto frustrasi dengan sistem finansial yang rapuh, dimana bank "too big to fail" harus di-bailout dengan uang pajak, dimana inflasi mengikis nilai tabungan, dimana pemerintah bisa mencetak uang sesuka hati. 

Bitcoin adalah alternatif: uang yang tidak dikontrol oleh pemerintah atau institusi mana pun. 

Supply dibatasi 21 juta Bitcoin—tidak akan pernah lebih. Tidak ada yang bisa "mencetak" lebih banyak Bitcoin. Tidak ada bank sentral yang bisa memanipulasi nilai. 

Mengapa Bitcoin Punya Nilai? 

Ini pertanyaan yang paling sering diajukan: "Bitcoin hanya data digital. Tidak ada yang backing. Mengapa berharga?" 

Para penulis memberikan jawaban yang nuanced: 

Argumen Skeptis: 

● Bitcoin tidak menghasilkan apa-apa (tidak seperti saham yang dapat dividen atau obligasi yang dapat bunga) 

● Volatilitas ekstrem membuatnya buruk sebagai "uang" 

● Sebagian besar orang membelinya bukan untuk dipakai, tetapi berharap harganya naik (greater fool theory) 

Argumen Optimis: 

● Emas juga tidak "menghasilkan" apa-apa, tapi punya nilai karena langka dan orang sepakat dia berharga 

● Kelangkaan terprogram (21 juta max) + utilitas sebagai transfer value = nilai

● Di negara dengan inflasi tinggi atau kontrol modal ketat, Bitcoin adalah cara menyimpan wealth 

● Network effect: Semakin banyak orang pakai, semakin berguna

Kesimpulan penulis: Bitcoin punya nilai, tapi apakah nilai itu $100, $10,000, atau $100,000 per coin? Tidak ada yang tahu. Spekulasi mendominasi, tapi ada use case real. 

Use Case Nyata 

1. Remitansi Internasional Pekerja migran mengirim $700 miliar per tahun ke negara asal mereka. Western Union dan Money Gram mengambil fee 5-10%. Dengan cryptocurrency, fee bisa kurang dari 1%. 

2. Negara dengan Inflasi Ekstrem Di Venezuela (inflasi 1,000,000% per tahun) atau Zimbabwe, Bitcoin adalah cara menyimpan nilai yang lebih baik dari currency lokal. 

3. Akses ke Sistem Finansial 1.7 miliar orang tidak punya akses ke bank. Tapi banyak yang punya smartphone. Cryptocurrency memberikan akses ke sistem finansial tanpa butuh bank account. 

Tapi... Para penulis juga jujur tentang keterbatasan: 

● Volatilitas membuat sulit sebagai "uang" untuk transaksi sehari-hari

● Skalabilitas: Bitcoin hanya proses ~7 transaksi per detik (Visa: 65,000/detik)

● User experience masih buruk untuk orang biasa 

● Irreversibility: Jika Anda salah kirim, tidak ada yang bisa membatalkan 

Verdict: Bubble atau Revolution? Bubble untuk orang yang beli karena FOMO, berharap cepat kaya. Revolution untuk use case spesifik: remitansi, negara dengan sistem finansial lemah, store of value alternatif.

 


Bagian 3: Smart Contracts - Program yang Berjalan Sendiri 

Lebih dari Sekadar Uang 

Jika Bitcoin adalah "uang internet," Ethereum adalah "komputer internet." 

Vitalik Buterin, programmer muda dari Kanada, melihat bahwa blockchain bisa digunakan untuk lebih dari transfer value. Dia menciptakan Ethereum pada 2015 dengan satu inovasi kunci: smart contracts. 

Smart contract adalah program komputer yang berjalan di blockchain. Sekali di-deploy, tidak ada yang bisa mengubah atau menghentikannya—bahkan pembuatnya. 

Contoh Sederhana: Asuransi Penerbangan 

Masalah tradisional: Penerbangan Anda delay 3 jam. Menurut aturan, Anda berhak kompensasi $200. Tapi untuk klaimnya, Anda harus: 

1. Isi formulir panjang 

2. Tunggu approval (bisa 2-3 bulan) 

3. Mungkin ditolak dengan alasan yang tidak jelas 

Dengan smart contract: 

IF delay > 2 jam 

THEN transfer $200 ke wallet penumpang 

AUTOMATICALLY 

Kontraknya cek data penerbangan dari API (oracle). Jika delay memenuhi syarat, kompensasi otomatis dikirim. Tidak ada approval manual. Tidak ada birokrasi. Tidak bisa dimanipulasi. 

Decentralized Finance (DeFi) - Bank Tanpa Bankir 

Inilah aplikasi smart contract yang paling eksplosif: DeFi. 

Lending/Borrowing: Alih-alih pinjam dari bank (yang perlu verifikasi kredit, approval, paperwork), Anda bisa: 

● Deposit crypto sebagai collateral 

● Pinjam crypto lain secara instant 

● Jika Anda tidak bayar, collateral otomatis diliquidate oleh smart contract

Tidak ada loan officer. Tidak ada diskriminasi. Tidak ada waktu tunggu. Semua otomatis.

Trading Terdesentralisasi: Alih-alih trade di exchange terpusat seperti Binance atau Coinbase (yang bisa di-hack, dibekukan pemerintah, atau scam), Anda trade langsung dengan orang lain melalui smart contract. 

Yield Farming: Deposit crypto Anda, dan dapatkan return—kadang 5-10% per tahun, kadang sampai 100%+ (tapi dengan risiko tinggi). 

Tapi Ada Masalah Besar 

1. Code is Law - Tapi Code Bisa Punya Bug 

2016: The DAO—organisasi otomatis yang dikontrol smart contract—raised $150 juta. Seseorang menemukan bug di code dan mencuri $60 juta. 

Tidak ada yang bisa "membatalkan" transaksi. Code berjalan seperti yang ditulis—bahkan jika ada bug. 

2. Gas Fees yang Gila 

Untuk menjalankan smart contract di Ethereum, Anda bayar "gas fee." Saat network ramai, fee bisa $50-$100 untuk satu transaksi sederhana. 

Membuat DeFi tidak accessible untuk orang biasa. 

3. Regulasi yang Tidak Jelas 

Apakah DeFi protocol adalah securities? Apakah harus comply dengan banking regulations? Tidak ada yang tahu—dan ini membuat institusi besar enggan masuk. 

Verdict: Bubble atau Revolution? Bubble untuk 95% DeFi projects yang copy-paste code, tidak punya value real, dan hanya pump-dump. Revolution untuk konsep dasar: programmable money, financial inclusion, menghilangkan intermediary yang tidak perlu.

 


Bagian 4: Blockchain di Luar Crypto - Use Cases Industri 

Para penulis menganalisis setiap use case dengan framework yang sama: Apakah blockchain benar-benar solusi terbaik, atau database biasa sudah cukup? 

Supply Chain - Melacak dari Pabrik ke Konsumen 

Kasus: Walmart + IBM Food Trust 

Walmart menggunakan blockchain untuk track makanan dari farm ke toko. Jika ada outbreak E.coli di bayam, mereka bisa trace source dalam 2 detik (vs. 7 hari sebelumnya). 

Mengapa blockchain membantu: 

● Banyak pihak (farmer, distributor, transporter, retailer) yang tidak saling percaya

● Butuh satu source of truth yang tidak bisa dimanipulasi 

● Transparansi untuk konsumen 

Skeptisisme: Masalahnya bukan technology—masalahnya adalah garbage in, garbage out. Jika farmer berbohong dan bilang "ini organik" padahal tidak, blockchain tidak bisa detect. Blockchain hanya memastikan data tidak diubah setelah dimasukkan, bukan memastikan data awalnya benar. 

Verdict: Revolution dengan catatan—blockchain membantu koordinasi, tapi butuh mekanisme lain untuk verify data awal. 

Healthcare - Medical Records 

Visi: Anda punya medical records yang bisa Anda kontrol. Anda beri akses ke dokter mana pun yang Anda mau. Data terenkripsi, aman, tidak bisa hilang. 

Realita

● Privacy concerns: Medical data sangat sensitif. Apakah Anda mau itu di blockchain publik—bahkan jika terenkripsi? 

● HIPAA compliance di US sangat strict—blockchain public sulit comply

● Rumah sakit enggan share data (kompetisi komersial) 

Verdict: Bubble untuk sekarang. Database tradisional dengan access control yang baik lebih masuk akal. 

Voting - Pemilu yang Tidak Bisa Dimanipulasi 

Visi: Vote Anda tercatat di blockchain. Tidak bisa diubah. Tidak bisa dihapus. Hasil perhitungan automatis dan transparan.

Masalah

● Voter anonymity vs. transparency—bagaimana memastikan vote Anda tercatat benar tanpa kompromi privasi? 

● Apa yang terjadi jika private key Anda hilang atau dicuri? 

● Mayoritas pemilih tidak tech-savvy—UX harus sempurna 

Verdict: Bubble untuk masa dekat. Terlalu banyak risiko untuk sesuatu yang sangat krusial. Paper ballot dengan audit trail mungkin lebih aman. 

Real Estate - Transfer Properti 

Visi: Jual-beli rumah bisa dilakukan dalam hitungan jam, bukan bulan. Smart contract otomatis transfer ownership ketika pembayaran konfirmasi. 

Realita

● Legal framework belum siap. Apa yang terjadi jika ada dispute? 

● Bagaimana blockchain interact dengan sistem legal tradisional? 

● Banyak jurisdiksi masih require notaris, lawyer, government approval

Verdict: Revolution dalam jangka panjang—tapi butuh reformasi legal dulu.

 


Bagian 5: Framework - Kapan Blockchain Masuk Akal?

Para penulis memberikan decision tree sederhana: 

Pertanyaan 1: Apakah Anda Butuh Database? 

Jika tidak, Anda tidak butuh blockchain. 

Pertanyaan 2: Apakah Ada Multiple Parties yang Perlu Write Access?

Jika hanya satu pihak, database biasa lebih efisien. 

Pertanyaan 3: Apakah Parties Ini Tidak Saling Percaya? 

Jika semua pihak percaya satu sama lain atau percaya satu intermediary, blockchain tidak perlu. 

Pertanyaan 4: Apakah Transparansi dan Immutability Penting? 

Jika tidak—misalnya data perlu dihapus untuk GDPR compliance—blockchain bukan solusi yang tepat. 

Pertanyaan 5: Apakah Kecepatan dan Efisiensi Bisa Dikorbankan?

Blockchain lebih lambat dan lebih mahal dari database tradisional. 

Jika jawaban semua pertanyaan ini YES, blockchain mungkin solusi yang tepat.

Jika ada satu NO, database tradisional mungkin lebih baik.

 


Bagian 6: Masa Depan - Kemana Blockchain Akan Pergi?

Skenario Pesimis 

Cryptocurrency jatuh ke near-zero. Regulasi membunuh DeFi. Perusahaan besar yang eksperimen dengan blockchain akhirnya kembali ke database tradisional. 

Blockchain diingat sebagai mania spekulatif seperti dot-com bubble 2000—banyak hype, sedikit substance. 

Skenario Realistis 

Cryptocurrency survive sebagai asset class alternatif (seperti emas), tapi tidak menggantikan dollar atau euro untuk transaksi sehari-hari. 

Blockchain digunakan untuk use cases spesifik dimana benar-benar masuk akal—supply chain tertentu, cross-border payments, beberapa aplikasi DeFi. 

Sebagian besar aplikasi tetap menggunakan database tradisional, tapi dengan beberapa elemen blockchain untuk transparency atau immutability. 

Skenario Optimis 

Cryptocurrency menjadi mainstream. Central Bank Digital Currencies (CBDC) diluncurkan di puluhan negara. Smart contract mengotomasi banyak proses legal dan finansial. 

Blockchain menjadi infrastruktur mendasar untuk internet value—seperti HTTP untuk internet information. 

Prediksi Penulis 

Para penulis cenderung ke skenario realistis dengan elemen optimis: 

Yang Akan Terjadi: 

● Bitcoin tetap ada sebagai "digital gold" dan store of value alternatif 

● Stablecoins (crypto yang pegged ke dollar) tumbuh untuk payments 

● DeFi berkembang tapi dengan regulasi yang lebih jelas 

● Enterprise blockchain untuk supply chain, trade finance, dan B2B transactions

● Lebih banyak CBDC (digital currency pemerintah) 

Yang Tidak Akan Terjadi (dalam waktu dekat): 

● Cryptocurrency menggantikan dollar/euro untuk transaksi harian 

● Blockchain menggantikan semua database

●Decentralizationtotal—regulasi dankontrol tetapada

 


Bagian 7: Pelajaran untuk Kita 

1. Hype ≠ Value 

Hanya karena semua orang bicara tentang sesuatu tidak berarti itu revolutionary. Dot-com bubble mengajarkan kita ini. 

Tapi juga, hype tidak berarti teknologi itu fraud. Internet survive dot-com crash dan mengubah dunia. 

Pelajaran: Evaluasi setiap klaim dengan skeptis. Tanyakan: "Apa masalah spesifik yang diselesaikan? Apakah blockchain solusi terbaik?" 

2. Teknologi Adalah Netral - Manusia yang Menentukan 

Blockchain bisa digunakan untuk: 

● Financial inclusion bagi yang tidak punya bank account 

● Atau untuk money laundering dan ransomware payments 

Smart contracts bisa: 

● Memberikan insurance otomatis untuk petani miskin 

● Atau create Ponzi schemes yang lebih efisien 

Pelajaran: Fokus pada aplikasi dan regulasi yang tepat, bukan pada teknologi itu sendiri.

3. Adoption Butuh Lebih dari Teknologi 

Banyak blockchain projects yang secara teknis brilliant—tapi gagal karena: 

● User experience buruk 

● Tidak ada adoption dari institusi 

● Regulasi yang tidak jelas 

● Kurangnya trust dari publik 

Pelajaran: Teknologi hanya 20% dari puzzle. Adoption adalah 80%. 

4. "Decentralized" Tidak Selalu Lebih Baik 

Decentralization punya trade-offs: 

● Lebih lambat dari centralized systems 

● Lebih mahal (setiap node harus store semua data) 

● Lebih sulit untuk upgrade

● Tidak ada yang bisa "fix" jika ada masalah 

Kadang, sedikit sentralisasi adalah compromise yang masuk akal.

Pelajaran: Jangan assume decentralization selalu superior. Evaluate trade-offs.

 


Penutup: Jadi, Bubble atau Revolution? 

Para penulis sampai pada kesimpulan yang nuanced: 

Blockchain adalah revolution—tapi bukan untuk semua yang diklaim promoter-nya.

Seperti internet di tahun 1999: 

● Ada banyak hype yang berlebihan 

● Banyak perusahaan yang akan gagal 

● Banyak investor akan kehilangan uang 

● Tapi teknologi dasarnya real dan akan bertahan 

Yang perlu Anda lakukan: 

Sebagai Teknolog: Pelajari bagaimana blockchain bekerja. Experiment. Tapi jangan assume itu solusi untuk setiap masalah. 

Sebagai Investor: Jika Anda invest, invest karena Anda percaya teknologi jangka panjang—bukan karena berharap cepat kaya. Dan hanya invest uang yang Anda sanggup hilangkan. 

Sebagai Business Leader: Evaluate use cases dengan framework yang jelas. Blockchain mungkin masuk akal untuk supply chain Anda. Mungkin tidak untuk HR database Anda. Think critically. 

Sebagai Warga: Stay informed. Demand regulasi yang smart—yang protect consumers tanpa kill innovation. 

Pertanyaan terakhir untuk Anda: 

10 tahun dari sekarang, apakah kita akan melihat ke belakang dan tertawa pada "blockchain mania" tahun 2020-an seperti kita tertawa pada dot-com bubble? 

Atau apakah kita akan berterima kasih bahwa entrepreneur dan developer berani experiment dengan teknologi yang mengubah sistem finansial dan internet? 

Jawabannya—seperti selalu dalam teknologi—adalah: tergantung apa yang kita bangun dengan tools ini. 

Gelembung atau revolusi? 

Keduanya. Dan keputusannya ada di tangan kita.

 


Tentang Buku Asli 

"Blockchain Bubble or Revolution" diterbitkan tahun 2019 (dengan update 2021) oleh tiga insinyur yang bekerja di perusahaan teknologi terbesar di dunia: 

Neel Mehta - Product Manager di Google 

Aditya Agashe - Software Engineer di Facebook (sekarang Meta) 

Parth Detroja - Product Manager di Microsoft 

Apa yang membuat buku ini istimewa adalah objektifitas. Mereka tidak menjual cryptocurrency. Mereka tidak punya agenda. Mereka adalah teknolog yang ingin memberikan analisis jujur tentang apa yang real dan apa yang hype. 

Buku ini sangat teknis—mereka explain cryptography, consensus mechanisms, smart contract programming—tapi ditulis dengan bahasa yang bisa dipahami non-programmer. 

Untuk pemahaman mendalam tentang teknologi blockchain, sangat disarankan membaca buku aslinya. Mereka masuk ke detail teknis yang tidak bisa dirangkum tanpa kehilangan nuance. Plus, mereka provide framework dan checklist konkret untuk evaluasi blockchain projects. 

Sekarang pergilah dan berpikir kritis tentang setiap klaim blockchain yang Anda dengar.

Karena di dunia yang penuh hype, critical thinking adalah superpower.