Internet Rusak—Dan Kita Baru Menyadarinya
Bayangkan Anda mengirim uang ke keluarga di luar negeri. Transfer bank internasional.
Anda pergi ke bank. Isi formulir. Bayar fee $25-50. Bank Anda mengirim ke bank perantara. Bank perantara mengirim ke bank tujuan. Setiap langkah potong biaya. Proses memakan 3-5 hari kerja. Keluarga Anda menerima 85% dari uang yang Anda kirim.
Untuk memindahkan angka dari satu database ke database lain—dalam era di mana Anda bisa kirim video HD ke seluruh dunia dalam hitungan detik—Anda kehilangan 15% uang dan menunggu hampir seminggu.
Atau bayangkan Anda seorang musisi. Anda membuat lagu yang diputar jutaan kali di Spotify. Tapi uang royalti harus melalui label rekaman, distributor, platform streaming, collecting societies. Setelah semua potongan, Anda menerima $0.006 per stream. Spotify membayar 70% revenue ke industri musik, tapi artis hanya dapat remah-remah.
Atau Anda driver Uber. Anda yang punya mobil, yang bayar bensin, yang ambil risiko. Tapi Uber—yang tidak punya mobil satupun—mengambil 25-30% setiap transaksi.
Apa kesamaan semua contoh di atas?
Perantara. Middleman. Institusi yang berdiri di tengah, mengambil potongan, mengontrol akses, dan mendikte aturan.
Ini adalah masalah mendasar internet modern.
Internet telah merevolusi cara kita berbagi informasi—email gratis dan instan, video call ke seluruh dunia, Wikipedia yang bisa diedit siapa saja.
Tapi ketika datang ke nilai—uang, aset, identitas, hak kepemilikan—kita masih bergantung pada institusi terpusat: bank, pemerintah, perusahaan teknologi besar.
Mengapa? Karena internet tidak pernah dirancang untuk mentransfer nilai. Internet dirancang untuk menyalin informasi. Dan Anda tidak bisa "menyalin" uang—kalau bisa, ekonomi akan runtuh.
Jadi kita membutuhkan pihak ketiga yang dipercaya untuk memastikan uang yang Anda kirim benar-benar hilang dari akun Anda sebelum muncul di akun orang lain. Masalah "double spending" ini hanya bisa diselesaikan oleh institusi terpusat.
Atau begitulah yang kita pikir.
Sampai 2008.
Sampai seseorang (atau sekelompok orang) dengan nama samaran Satoshi Nakamoto memecahkan masalah yang tidak terpecahkan selama 40 tahun: bagaimana mentransfer nilai secara peer-to-peer tanpa perantara.
Solusinya? Blockchain.
Dan seperti yang Don Tapscott dan Alex Tapscott tulis dalam "Blockchain Revolution":
"Ini bukan hanya revolusi teknologi. Ini revolusi kepercayaan. Dan mungkin revolusi terbesar dalam cara manusia berorganisasi sejak penemuan korporasi modern."
Mari kita pahami bagaimana.
Bagian 1: Apa Itu Blockchain—Ledger yang Tidak Bisa Dibohongi
Analogi Sederhana
Bayangkan Anda dan 9 teman bermain poker. Setiap orang punya uang chips. Tapi alih-alih mengandalkan satu orang untuk mencatat siapa punya berapa chips, semua orang punya buku catatan sendiri.
Setiap kali ada transaksi—Alex membayar $10 ke Budi—semua orang mencatat di buku mereka: "Alex → Budi: $10."
Setelah 10 transaksi (atau interval waktu tertentu), semua orang membandingkan catatan mereka. Jika mayoritas cocok, catatan itu "disegel" dan tidak bisa diubah. Ini menjadi "blok" permanen.
Blok berikutnya mereferensikan blok sebelumnya, membentuk "rantai blok"—blockchain.
Sekarang, kalau Alex mencoba cheat dengan mengatakan "sebenarnya saya tidak bayar Budi $10," dia tidak bisa—karena 9 orang lain punya bukti permanen.
Kalau seseorang mencoba mengubah catatan lama, itu akan terlihat jelas karena tidak cocok dengan mayoritas.
Inilah esensi blockchain: database terdistribusi yang transparan, permanen, dan dikelola secara kolektif tanpa otoritas pusat.
Tiga Teknologi yang Digabungkan
Blockchain bukanlah satu teknologi baru. Ini kombinasi jenius dari tiga teknologi yang sudah ada:
1. Internet Peer-to-Peer Tidak ada server pusat. Setiap komputer adalah server dan klien sekaligus—seperti BitTorrent.
2. Kriptografi Kunci Publik Anda punya dua kunci: publik (seperti nomor rekening yang bisa dibagi ke siapa saja) dan privat (seperti PIN yang hanya Anda tahu). Kunci privat membuktikan Anda pemilik aset tanpa reveal identitas Anda.
3. Konsensus Terdesentralisasi Tidak ada satu pihak yang memutuskan apa yang "benar." Mayoritas jaringan harus setuju—melalui mekanisme seperti "proof of work" (mining Bitcoin) atau "proof of stake."
Bagian 2: Tujuh Prinsip Ekonomi Blockchain
Tapscott mengidentifikasi tujuh prinsip desain yang membuat blockchain berbeda dari sistem yang ada:
1. Integritas Terjalin dalam Jaringan (Networked Integrity)
Di sistem lama: Trust bergantung pada institusi besar—bank, pemerintah, perusahaan.
Di blockchain: Trust terjalin dalam protokol itu sendiri. Matematis. Algoritmik. Tidak bisa dibohongi.
Anda tidak perlu "percaya" pada bank untuk tidak menggelapkan uang Anda. Kode memastikan itu tidak mungkin.
2. Kekuatan Terdistribusi (Distributed Power)
Di sistem lama: Kekuasaan terpusat—CEO memutuskan, board menyetujui, pemegang saham mayoritas menguasai.
Di blockchain: Kekuasaan tersebar di seluruh jaringan. Tidak ada single point of failure. Tidak ada CEO yang bisa ditangkap untuk mematikan sistem.
Bitcoin tidak punya kantor pusat. Tidak ada yang bisa "mematikan" Bitcoin.
3. Nilai sebagai Insentif (Value as Incentive)
Di sistem lama: Orang bekerja untuk gaji atau saham perusahaan.
Di blockchain: Peserta langsung mendapat token yang bisa bernilai nyata. Semakin Anda kontribusi, semakin Anda dapat.
Miner Bitcoin dibayar Bitcoin untuk mengamankan jaringan. Wikipedia contributor tidak dapat apa-apa. Bayangkan jika setiap edit Wikipedia memberi Anda token yang bernilai—partisipasi akan meledak.
4. Keamanan (Security)
Di sistem lama: Keamanan melalui kerahasiaan—server pusat yang dijaga ketat, password yang tidak boleh dibocorkan.
Di blockchain: Keamanan melalui transparansi dan enkripsi. Semua orang bisa lihat semua transaksi, tapi tidak ada yang bisa mengubahnya atau tahu siapa pemiliknya tanpa kunci privat.
Paradoks: lebih transparan = lebih aman.
5. Privasi (Privacy)
Di sistem lama: Anda memberikan data pribadi ke perusahaan (Facebook, Google, bank) dan berharap mereka tidak disalahgunakan.
Di blockchain: Anda mengontrol identitas Anda. Anda memutuskan data apa yang dibagikan, ke siapa, dan untuk berapa lama. "Self-sovereign identity."
6. Hak Terekam (Rights Preserved)
Di sistem lama: Hak kepemilikan dicatat oleh pihak ketiga—pemerintah mencatat tanah, bank mencatat uang, Spotify mencatat hak musik.
Di blockchain: Hak kepemilikan dicatat secara permanen dan transparan. Artis bisa membuktikan mereka pencipta lagu tanpa label rekaman. Petani di negara berkembang bisa membuktikan kepemilikan tanah tanpa sistem legal yang korup.
7. Inklusivitas (Inclusion)
Di sistem lama: 2 miliar orang tidak punya akses ke bank. Mereka tidak bisa simpan uang, dapat kredit, atau bertransaksi online.
Di blockchain: Siapa pun dengan smartphone dan koneksi internet bisa punya "bank account"—wallet crypto. Tidak perlu KTP, tidak perlu saldo minimum, tidak perlu approval.
Bagian 3: Merevolusi Industri Keuangan
Mengapa Bank Takut
Industri perbankan global bernilai triliunan dolar. Tapi fungsi dasarnya sederhana: menyimpan uang, mentransfer uang, meminjamkan uang.
Blockchain bisa melakukan ketiga hal itu tanpa bank.
Menyimpan: Wallet crypto. Transfer: Peer-to-peer, dalam hitungan menit, biaya minimal. Pinjam-meminjam: DeFi (Decentralized Finance)—algoritma yang meminjamkan uang berdasarkan collateral, tanpa officer bank yang approve.
Tapscott memberikan contoh: Remitansi (kiriman uang).
Pasar remitansi global: $600 miliar per tahun. Pekerja migran mengirim uang pulang ke keluarga mereka. Bank dan perusahaan seperti Western Union memotong 7-10%.
Itu $42-60 miliar setahun yang diambil sebagai fee—uang yang seharusnya sampai ke keluarga miskin.
Dengan blockchain: Fee bisa turun ke 1-2%, atau bahkan kurang. $40 miliar lebih banyak uang yang sampai ke orang yang membutuhkan.
Ini bukan teori. Ini sudah terjadi.
Smart Contracts—Hukum dalam Kode
Kontrak biasa: "Jika kondisi X terpenuhi, pihak A harus bayar pihak B."
Masalahnya: siapa yang memastikan pihak A benar-benar bayar? Pengacara? Pengadilan? Proses lama, mahal, bisa dicurangi.
Smart contract: "Jika kondisi X terpenuhi, uang otomatis transfer dari wallet A ke wallet B."
Tidak perlu kepercayaan. Tidak perlu pengacara. Tidak perlu pengadilan. Kode mengeksekusi sendiri.
Contoh real:
Asuransi penerbangan: Anda beli asuransi delay penerbangan. Jika penerbangan delay >2 jam (data dari oracle yang terhubung ke sistem bandara), smart contract otomatis transfer klaim ke Anda. Tidak perlu isi formulir, tidak perlu tunggu approval, tidak perlu debat dengan perusahaan asuransi.
Musik royalti: Lagu Anda diputar di Spotify. Smart contract otomatis split royalti—40% ke pencipta lagu, 30% ke produser, 20% ke label, 10% ke distributor. Langsung. Real-time. Transparan.
Supply chain: Produk sampai di toko. Smart contract otomatis bayar supplier. Jika produk rusak (terdeteksi oleh sensor IoT), pembayaran otomatis ditahan sampai masalah resolved.
Tapscott menulis: "Smart contracts mengubah 'rule of law' menjadi 'law is code.'"
Bagian 4: Ekonomi Kolaboratif yang Sebenarnya
Uber untuk Uber (Tanpa Uber)
Uber menyebut dirinya "sharing economy." Tapi ini bukan sharing—ini sewa.
Uber tidak share apa-apa dengan driver. Uber mengontrol platform, mengontrol harga, mengontrol data, dan mengambil 25-30% potongan.
Bayangkan alternatifnya:
Platform ride-sharing yang dibangun di blockchain. Tidak ada perusahaan yang memiliki. Driver dan penumpang langsung terhubung peer-to-peer.
Algoritma mencocokkan driver dan penumpang. Pembayaran otomatis melalui cryptocurrency. Reputasi tercatat on-chain—transparran dan tidak bisa dimanipulasi.
Fee platform? Hanya cukup untuk maintain server dan development—mungkin 3-5%, bukan 30%.
Siapa yang dapat sisanya? Driver. Orang yang benar-benar melakukan pekerjaan.
Ini bukan khayalan. Projek seperti Arcade City dan LaZooz sudah mencoba ini.
Airbnb Tanpa Airbnb
Atau akomodasi. Anda punya kamar kosong. Saya butuh tempat tinggal semalam.
Sekarang: Airbnb berdiri di tengah, mengambil 15-20% dari kedua sisi.
Dengan blockchain: Smart contract langsung antara Anda dan saya. Escrowed payment—uang saya ditahan dalam smart contract. Jika saya check-in (diverifikasi melalui IoT lock), uang otomatis release ke Anda.
Review tercatat on-chain, tidak bisa dihapus atau dimanipulasi oleh platform.
Ini adalah sharing economy yang sebenarnya—peer-to-peer tanpa korporasi raksasa di tengah.
Bagian 5: Governance dan Demokrasi Baru
Korupsi vs Transparansi
Di negara berkembang, korupsi adalah masalah terbesar. Dana bantuan internasional menguap. Anggaran pemerintah digelapkan. Tanah rakyat dicuri oleh pejabat korup.
Mengapa korupsi bisa terjadi? Karena lack of transparency.
Blockchain adalah obatnya.
Contoh: Land Registry di Ghana
Di banyak negara Afrika, sistem pencatatan tanah kacau atau korup. Pejabat bisa mengubah dokumen, memberi tanah yang sama ke dua orang berbeda, atau mencuri tanah rakyat dengan memalsukan sertifikat.
Solusi blockchain: Setiap tanah punya ID unik on-chain. Kepemilikan tercatat permanen. Transfer transparran. Tidak bisa diubah tanpa kunci privat pemilik.
Pejabat korup tidak bisa curang karena semua orang bisa verify.
Contoh: Voting
Pemilu tradisional: mahal, rentan fraud, butuh kepercayaan pada panitia.
Blockchain voting: Setiap suara adalah transaksi on-chain. Anonymous tapi verifiable. Tidak bisa diubah, tidak bisa double vote, hasil langsung dan transparan.
Estonia sudah menjalankan ini untuk sebagian proses pemerintahan mereka.
Organisasi Tanpa Hirarki—DAO
DAO = Decentralized Autonomous Organization.
Organisasi yang berjalan tanpa CEO, tanpa board, tanpa struktur hierarki tradisional.
Aturan organisasi ditulis dalam smart contracts. Keputusan dibuat melalui voting token holders. Eksekusi otomatis.
Contoh konsep:
Venture capital fund berbasis DAO. Investor beli token. Token = voting power. Proposal investasi diajukan. Token holders vote. Jika mayoritas setuju, smart contract otomatis invest.
Tidak ada VC partner yang mengambil 20% carried interest. Tidak ada nepotisme. Murni meritokrasi berdasarkan kualitas proposal.
Tapscott mengakui ini masih eksperimental. The DAO pertama (2016) di-hack dan kehilangan $50 juta. Tapi konsepnya revolutionary: organisasi yang benar-benar demokratis, transparan, dan tidak bisa dikorupsi.
Bagian 6: Tantangan dan Hambatan
Tapscott tidak naif. Dia tahu blockchain bukan solusi ajaib untuk semua masalah. Ada tantangan besar:
1. Skalabilitas
Bitcoin hanya bisa proses 7 transaksi per detik. Visa bisa 24,000.
Jika blockchain mau gantikan sistem keuangan global, ini masalah besar.
Solusi yang sedang dikembangkan: Layer-2 solutions (Lightning Network), sharding, proof-of-stake yang lebih efisien.
2. Konsumsi Energi
Mining Bitcoin konsumsi listrik setara dengan negara kecil. Ini tidak sustainable.
Solusi: Transisi dari proof-of-work ke proof-of-stake (Ethereum sudah melakukan ini), renewable energy untuk mining.
3. Regulasi
Pemerintah bingung: apakah crypto adalah mata uang? Aset? Sekuritas?
Ketidakpastian regulasi menghambat adopsi institusi.
Yang dibutuhkan: Framework regulasi yang mendukung inovasi tapi melindungi konsumen.
4. User Experience
Kebanyakan orang tidak bisa setup wallet, tidak mengerti seed phrases, tidak tahu cara secure private key.
Jika hilangkan private key = hilang semua uang, tanpa recourse.
Solusi: Interface yang lebih user-friendly, social recovery mechanisms, edukasi massal.
5. Governance On-Chain
Siapa yang memutuskan update protokol? Apa yang terjadi jika komunitas tidak setuju?
Bitcoin pernah "fork" menjadi Bitcoin Cash karena disagreement tentang block size.
Challenge: Bagaimana membuat governance yang demokratis tapi tidak terjebak gridlock atau politik toxic.
Bagian 7: Masa Depan—Delapan Prediksi Tapscott
Tapscott menutup dengan prediksi tentang bagaimana blockchain akan mengubah dunia:
1. Prospering on the Platform
Platform masa depan bukan dimiliki perusahaan, tapi pesertanya. Kreator konten, driver, host Airbnb akan mendapat bagian lebih besar dari value yang mereka ciptakan.
2. Restructuring the Firm
Perusahaan akan jadi lebih kecil, lebih modular, lebih terdesentralisasi. Batas antara "inside" dan "outside" perusahaan blur. Kolaborasi global tanpa employing anyone.
3. A New Financial Services Industry
Bank akan berevolusi atau mati. Mereka tidak akan lagi "penjaga uang" tapi "penyedia layanan di atas blockchain."
4. The Ledger of Things (IoT + Blockchain)
Perangkat IoT berkomunikasi dan bertransaksi langsung tanpa manusia. Kulkas Anda memesan susu sendiri, bayar sendiri, terima sendiri—tanpa Anda angkat jari.
5. Animating Things
Aset fisik punya identitas digital di blockchain. Setiap mobil, setiap paket, setiap produk punya "passport" digital yang track seluruh lifecycle-nya.
6. Enabling the Creative Industries
Artis, musisi, penulis bisa monetize langsung tanpa label, penerbit, atau platform yang mengambil mayoritas revenue.
7. The Government by the People
Governance lebih transparan, partisipatif, dan accountable. Warga punya kontrol lebih besar atas data mereka dan keputusan yang mempengaruhi mereka.
8. Inclusion: Banking the Unbanked
2 miliar orang tanpa akses perbankan akhirnya bisa berpartisipasi dalam ekonomi global.
Penutup: Revolusi atau Hype?
Tapscott mengakui bahwa banyak skeptis. Banyak yang bilang blockchain adalah hype, bubble, solusi mencari masalah.
Dan mereka tidak sepenuhnya salah. Ada banyak projek blockchain yang scam. Banyak ICO yang ambil uang investor dan lenyap. Banyak use case yang dipaksakan.
Tapi, Tapscott berargumen, ini adalah pola normal dari setiap teknologi transformatif.
Internet tahun 1990-an juga dibilang hype. Dotcom bubble 2000 menghancurkan ribuan perusahaan.
Tapi apakah itu berarti internet bukan revolusi? Tentu tidak.
Dari reruntuhan bubble muncul Google, Amazon, Facebook—perusahaan yang benar-benar mengubah dunia.
Hal yang sama akan terjadi dengan blockchain.
"Kita sekarang di tahun 1993 internet," tulis Tapscott. "Infrastruktur masih primitif. User experience masih buruk. Tapi fondasi sedang dibangun untuk revolusi yang akan datang."
Pertanyaan untuk Anda
Jadi, apa yang harus Anda lakukan dengan informasi ini?
1. Belajar. Anda tidak perlu jadi developer blockchain. Tapi pahami konsep dasar. Karena ini akan mempengaruhi industri Anda, entah Anda siap atau tidak.
2. Eksperimen. Beli sedikit cryptocurrency. Setup wallet. Coba DeFi. Rasakan sendiri bagaimana teknologi ini bekerja.
3. Pikirkan: Bagaimana blockchain bisa solve masalah di industri Anda? Di mana ada perantara yang tidak efisien? Di mana ada lack of trust? Di mana ada lack of transparency?
4. Bertindak. Jangan tunggu sampai terlambat. Kodak mengabaikan digital photography. Blockbuster mengabaikan streaming. Taxi mengabaikan Uber.
Jangan jadi institusi yang mengabaikan blockchain.
Karena seperti yang Tapscott tulis di kalimat terakhir buku:
"Revolusi ini tidak akan di-televisi. Tapi dia akan di-digitalisasi, di-monetisasi, dan dibuka untuk semua orang yang punya keberanian untuk berpartisipasi."
Pertanyaannya: Apakah Anda salah satunya?
Tentang Buku Asli
"Blockchain Revolution: How the Technology Behind Bitcoin Is Changing Money, Business, and the World" diterbitkan pada 2016 oleh Don Tapscott dan Alex Tapscott.
Don Tapscott adalah salah satu pemikir bisnis paling berpengaruh di dunia. Dia menulis 16 buku termasuk "Wikinomics" dan "The Digital Economy." Dia pendiri Blockchain Research Institute.
Alex Tapscott adalah anaknya, investor dan entrepreneur di bidang blockchain dan cryptocurrency. Dia adalah co-founder Northwest Passage Ventures, venture capital yang fokus pada teknologi blockchain.
Konteks Penulisan: Buku ini ditulis pada 2016, ketika Bitcoin baru mencapai $600-1000 (sekarang puluhan ribu dollar). Ethereum baru diluncurkan. DeFi belum ada. NFT belum mainstream.
Beberapa prediksi mereka sudah terbukti benar. Beberapa masih terlalu ambisius. Tapi framework mereka tentang mengapa blockchain penting tetap sangat relevan.
Buku Terkait:
● "The Bitcoin Standard" oleh Saifedean Ammous (fokus pada Bitcoin sebagai uang)
● "The Infinite Machine" oleh Camila Russo (sejarah Ethereum)
● "Cryptoassets" oleh Chris Burniske (perspektif investasi)
Untuk pemahaman lengkap dengan lebih banyak studi kasus, detail teknis, dan nuansa, sangat disarankan membaca buku aslinya. Terutama jika Anda di industri yang akan terdisrupsi (finance, supply chain, creative industries, governance).
Dunia sedang berubah. Blockchain adalah salah satu kekuatan perubahan terbesar.
Saatnya Anda memahami revolusi ini—sebelum revolusi meninggalkan Anda.

