Pertanyaan yang Memalukan
Amerika adalah negara terkaya dalam sejarah dunia.
GDP-nya $25 triliun. Perusahaan-perusahaan teknologinya mendominasi dunia. Militernya paling kuat. Universitasnya paling bergengsi. Inovasinya mengubah peradaban.
Tapi ada satu statistik yang memalukan:
1 dari 9 orang Amerika hidup dalam kemiskinan.
Lebih dari 38 juta orang—termasuk 12 juta anak-anak—tidak punya cukup uang untuk kebutuhan dasar.
Ini bukan negara berkembang. Ini bukan negara yang baru merdeka. Ini bukan negara yang baru keluar dari perang.
Ini Amerika—negara dengan kantor-kantor megah, rumah-rumah mewah, mobil-mobil Tesla, restoran-restoran Michelin star, yacht pribadi, jet pribadi.
Dan di tengah semua kemewahan itu, ada ibu tunggal yang harus memilih antara membeli makanan atau membayar listrik. Ada pekerja penuh waktu yang tidur di mobil karena tidak mampu sewa apartemen. Ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan perut kosong.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Untuk waktu yang lama, jawaban standarnya adalah: "Mereka malas. Mereka membuat keputusan buruk. Mereka tidak bekerja cukup keras."
Tapi Matthew Desmond, sosiolog Princeton yang memenangkan Pulitzer Prize, punya jawaban yang berbeda—dan jauh lebih tidak nyaman:
"Kemiskinan ada bukan karena kita tidak bisa mengakhirinya. Kemiskinan ada karena kita—orang-orang yang tidak miskin—mendapat keuntungan dari kemiskinan itu."
Ini bukan buku tentang "mereka"—orang miskin.
Ini buku tentang kita—orang yang tidak miskin, yang setiap hari membuat pilihan-pilihan kecil yang melanggengkan kemiskinan.
Dan jika kita yang menciptakan masalah ini, kita juga yang bisa mengakhirinya.
Mari kita mulai dengan menghadapi kebenaran yang tidak nyaman.
Bagian 1: Paradoks yang Memalukan
Negara Terkaya, Kemiskinan Tertinggi
Bandingkan Amerika dengan negara-negara maju lainnya:
Tingkat kemiskinan anak:
● Finlandia: 4%
● Jerman: 10%
● Inggris: 12%
● Amerika: 21%
Kemiskinan secara keseluruhan:
● Denmark: 5.5%
● Prancis: 8%
● Kanada: 9%
● Amerika: 12.8%
Amerika bukan hanya sedikit lebih buruk. Amerika jauh lebih buruk.
Mengapa?
Desmond menghabiskan bertahun-tahun meneliti pertanyaan ini. Dan jawabannya mengejutkan: Bukan karena Amerika lebih miskin. Tapi karena Amerika memilih untuk tidak mengurangi kemiskinan.
Mitos "Bootstrap"
Amerika punya mitos yang sangat kuat: "Pull yourself up by your bootstraps"—angkat dirimu sendiri.
Mitosnya: Jika kamu bekerja keras, kamu akan sukses. Jika kamu miskin, itu salahmu.
Kenyataannya?
Mobilitas sosial di Amerika lebih rendah daripada hampir semua negara Eropa.
Jika kamu lahir miskin di Denmark, kamu punya 15% kemungkinan tetap miskin saat dewasa. Jika kamu lahir miskin di Amerika, kamu punya 42% kemungkinan tetap miskin.
Amerika bukan lagi "land of opportunity." Eropa adalah land of opportunity.
Amerika adalah land of inequality yang dipertahankan.
Kemiskinan Bukan Kecelakaan
Inilah thesis inti buku Desmond:
Kemiskinan di Amerika bukan kecelakaan sejarah. Bukan bencana alam. Bukan hasil dari ketidaktahuan. Kemiskinan adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat—sebagai individu, sebagai perusahaan, sebagai pemerintah.
Kita—orang yang tidak miskin—secara aktif mempertahankan kemiskinan karena kita mendapat keuntungan dari kemiskinan itu.
Keuntungan seperti apa?
Mari kita lihat.
Bagian 2: Bagaimana Kita Semua Mengeksploitasi Orang Miskin
Eksploitasi #1: Bayar Rendah untuk Barang Murah
Anda suka belanja di toko diskon? Target? Walmart? Amazon?
Mengapa harganya murah? Karena mereka membayar pekerja mereka sangat sedikit.
Kasir Walmart rata-rata mendapat $12 per jam. Pekerja gudang Amazon $15 per jam. Dengan jam kerja tidak penuh, tanpa benefit kesehatan yang layak, tanpa cuti sakit.
Banyak dari mereka perlu food stamps (bantuan makanan pemerintah) untuk bertahan hidup—meskipun mereka bekerja penuh waktu.
Ironisnya: Pajak kita subsidize gaji rendah perusahaan-perusahaan ini.
Walmart membayar gaji di bawah standar hidup → karyawan mereka butuh bantuan pemerintah → pemerintah memberikan food stamps → Walmart tetap untung besar → kita dapat barang murah.
Kita—konsumen—mendapat diskon. Walmart mendapat profit. Yang bayar? Taxpayer (termasuk kita juga) dan dignity pekerja yang dieksploitasi.
Desmond menulis: "Kemiskinan tidak ada di luar dompet kita. Kemiskinan di dalam dompet kita—dalam bentuk harga murah."
Eksploitasi #2: Sewa Mahal untuk Rumah Buruk
Orang miskin membayar lebih mahal untuk housing daripada orang kaya—secara proporsional.
Contoh:
● Keluarga kelas menengah di suburb bagus: 25% income untuk sewa/cicilan rumah
● Keluarga miskin di inner city: 50-70% income untuk sewa apartemen kecil yang buruk
Mengapa bisa begitu?
Karena orang miskin tidak punya pilihan. Mereka tidak bisa dapat mortgage (kredit rumah). Credit score mereka rendah. Mereka terjebak menyewa.
Dan landlord tahu ini. Jadi mereka charge harga maksimal untuk properti minimal.
Desmond dalam buku sebelumnya "Evicted" mendokumentasikan: landlord di area miskin sering dapat profit margin lebih tinggi daripada landlord di area kaya.
Mengapa? Karena tidak ada kompetisi. Tidak ada regulasi. Dan penyewa tidak punya leverage untuk komplain.
Eksploitasi #3: Banking yang Predatory
Orang miskin membayar lebih mahal untuk layanan finansial dasar daripada orang kaya.
Contoh:
● Orang kaya: Free checking account di bank besar
● Orang miskin: $10-15 per bulan untuk basic checking, plus $35 overdraft fee setiap kali saldo negatif
Payday loans—pinjaman jangka pendek dengan bunga yang gila-gilaan. APR bisa 400%. Seseorang meminjam $500, harus bayar kembali $650 dalam dua minggu.
Check-cashing services yang charge 3-5% hanya untuk mencairkan cek gaji.
Total biaya finansial untuk orang miskin: $11 miliar per tahun hanya untuk fees dan bunga predatory.
Siapa yang dapat untung? Bank dan lembaga payday loans—banyak dimiliki oleh investor kelas atas.
Eksploitasi #4: Pajak yang Regresif
Sistem pajak Amerika terlihat progresif—orang kaya bayar rate lebih tinggi, kan?
Tidak selalu.
Desmond menunjukkan: Ketika Anda hitung semua jenis pajak (income tax, sales tax, property tax, payroll tax), orang miskin sering bayar persentase yang lebih tinggi dari income mereka daripada orang kaya.
Mengapa?
1. Sales tax: Semua orang bayar persentase yang sama untuk barang, tapi ini lebih besar dampaknya untuk orang miskin yang spend hampir semua income mereka.
2. Payroll tax: Hanya dikenakan pada income sampai $160,000. Jadi seseorang yang dapat $50,000 bayar payroll tax di semua income. Seseorang yang dapat $500,000 hanya bayar di sebagian kecil income mereka.
3. Tax breaks: Mortgage interest deduction, retirement contribution deductions—ini semua menguntungkan orang yang punya rumah dan punya uang untuk invest. Orang miskin tidak dapat.
Desmond menghitung: Pemerintah federal menghabiskan lebih banyak uang untuk tax breaks orang kaya daripada untuk program bantuan orang miskin.
Bagian 3: Segregasi yang Kita Pertahankan
Memilih Tetangga = Memilih Siapa yang Tidak Jadi Tetangga
Salah satu cara paling kuat kita melanggengkan kemiskinan adalah melalui residential segregation—pemisahan tempat tinggal.
Orang kaya tinggal di area kaya. Orang miskin tinggal di area miskin. Dan ada tembok invisible tapi sangat kuat yang memisahkan keduanya.
Tembok itu bernama: zoning laws.
Banyak suburb kaya punya zoning regulations yang melarang:
● Apartemen multifamily
● Affordable housing
● Rumah kecil
Hasilnya? Hanya orang yang mampu beli rumah single-family yang mahal bisa tinggal di sana.
Desmond bertanya: "Mengapa kita begitu protektif terhadap neighborhood kita?"
Jawaban jujur: Karena kita tidak mau nilai properti turun. Kita tidak mau sekolah kita "terdilusi." Kita tidak mau crime rate naik.
Tapi efek sampingnya: Kita menciptakan area-area yang concentrated poverty—di mana orang miskin terisolasi bersama orang miskin lainnya, jauh dari opportunity, jauh dari sekolah bagus, jauh dari network yang bisa membuka pintu.
Opportunity Hoarding
Desmond memperkenalkan konsep: opportunity hoarding—kita menimbun kesempatan untuk orang-orang seperti kita.
Contoh:
● Kita advokasi untuk sekolah yang lebih baik—di neighborhood kita, bukan di neighborhood miskin
● Kita support pembangunan taman dan fasilitas publik—di area kita, bukan di area mereka
● Kita lobby untuk layanan transportasi—yang connect suburb kita ke downtown, bukan yang connect area miskin
Kita tidak secara aktif menyakiti orang miskin. Tapi kita secara pasif memastikan mereka tidak mendapat akses yang sama dengan kita.
Bagian 4: Power Kemiskinan untuk yang Kaya
Mengapa Kemiskinan Dipertahankan?
Jika kemiskinan begitu buruk, mengapa kita tidak mengakhirinya?
Jawaban Desmond yang brutal: Karena kemiskinan menguntungkan terlalu banyak orang.
Bagi Perusahaan: Kemiskinan = supply tenaga kerja murah yang desperate. Jika semua orang punya safety net yang kuat, mereka bisa menolak gaji rendah. Tapi ketika orang takut kelaparan, mereka terima pekerjaan apa pun.
Bagi Landlord: Kemiskinan = penyewa yang tidak punya pilihan. Mereka harus terima kondisi buruk dengan harga tinggi atau jadi homeless.
Bagi Lembaga Finansial: Kemiskinan = customer yang desperate, yang mau bayar bunga tinggi karena tidak punya opsi lain.
Bagi Politisi: Kemiskinan = issue yang bisa dieksploitasi. "War on drugs" dan "tough on crime" adalah cara untuk kontrol populasi miskin sambil terlihat "melindungi" yang kaya.
Tidak Ada yang Mau Disalahkan
Desmond menulis salah satu observasi paling powerful dalam buku:
"Kita semua tahu kemiskinan itu salah. Tapi tidak ada yang mau mengakui bahwa kita bagian dari masalahnya."
Konsumen bilang: "Saya bukan yang bayar gaji rendah—itu keputusan perusahaan."
Perusahaan bilang: "Kami harus kompetitif—konsumen mau harga murah."
Landlord bilang: "Saya cuma charge market rate—itu supply and demand."
Banker bilang: "Orang miskin itu high risk—kami harus charge rate lebih tinggi."
Semua orang nunjuk ke orang lain. Tidak ada yang mengakui: Kita semua bagian dari sistem ini. Dan sistem ini bekerja untuk kita—dengan cost dari orang miskin.
Bagian 5: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Desmond Tidak Hanya Mengkritik—Dia Memberikan Solusi
Setelah menunjukkan bagaimana kita semua terlibat dalam melanggengkan kemiskinan, Desmond memberikan roadmap untuk abolisi kemiskinan.
Solusi #1: Upah Minimum yang Layak
Tidak ada yang bekerja penuh waktu seharusnya hidup dalam kemiskinan. Period.
Federal minimum wage Amerika: $7.25/jam—tidak berubah sejak 2009.
Dengan inflasi, seseorang yang bekerja 40 jam seminggu dengan minimum wage dapat $15,080 per tahun—di bawah poverty line untuk keluarga.
Solusi: Naikkan minimum wage menjadi living wage. Beberapa negara bagian sudah melakukan ini ($15-18/jam) dan ekonomi mereka tidak collapse.
Argumen "Ini akan bunuh bisnis kecil" sudah dibantah berkali-kali oleh data. Yang terjadi: Pekerja punya lebih banyak uang → mereka belanja lebih banyak → ekonomi tumbuh.
Solusi #2: Perumahan sebagai Hak
Housing adalah kebutuhan dasar, bukan komoditas spekulasi.
Solusi konkret:
● Expand affordable housing: Pemerintah perlu build atau subsidize jutaan unit affordable housing
● Voucher housing universal: Seperti food stamps tapi untuk sewa—setiap keluarga yang spend lebih dari 30% income untuk housing dapat voucher
● Reform zoning: Hapus regulasi yang mencegah affordable housing di suburb kaya
Desmond menghitung: Ini akan cost sekitar $70 miliar per tahun.
Kedengarannya besar? Amerika menghabiskan $700+ miliar untuk militer. Kita mampu.
Solusi #3: Reform Sistem Pajak
Sistem pajak harus truly progresif.
Solusi:
● Hapus tax loopholes: Capital gains seharusnya dikenakan pajak seperti income biasa
● Tax wealth, bukan hanya income: Orang super-kaya dapat kekayaan dari asset appreciation yang tidak dikenakan pajak sampai mereka jual
● Redirect subsidy: $200 miliar yang sekarang dihabiskan untuk mortgage interest deductions (yang mayoritas menguntungkan orang kaya) bisa dialihkan untuk membantu orang miskin
Solusi #4: Banking Publik
Akses ke layanan finansial dasar adalah hak, bukan privilege.
Solusi:
● Public banking option: Postal banking atau public option yang tawarkan checking/savings account gratis tanpa fees
● Ban payday loans: Atau setidaknya cap interest rate di 36% APR (seperti yang diberlakukan untuk personel militer)
● Credit building programs: Bantu orang miskin build credit history tanpa jatuh ke debt trap
Solusi #5: Unionisasi dan Collective Bargaining
Salah satu alasan gaji stagnant: Unions lemah.
Di tahun 1950-an, 30% pekerja Amerika adalah union members. Sekarang? 10%.
Tanpa collective bargaining power, pekerja individual tidak punya leverage melawan corporation besar.
Solusi: Buat lebih mudah untuk organize unions. Lindungi pekerja dari retaliation. Strengthen collective bargaining rights.
Solusi #6: Yang Paling Penting—Kesadaran dan Action
Desmond menulis: "Poverty abolition tidak dimulai dengan pemerintah. Dimulai dengan kita."
Action konkret yang bisa Anda lakukan hari ini:
1. Bayar lebih untuk produk ethical: Support perusahaan yang bayar living wage dan treat pekerja dengan baik—bahkan jika lebih mahal
2. Terima affordable housing di neighborhood Anda: Ketika ada proposal untuk affordable housing di area Anda, support—jangan NIMBY (Not In My Backyard)
3. Bank di credit unions atau community banks: Hindari bank besar yang eksploitatif
4. Advokasi untuk policy change: Contact legislator Anda. Vote untuk kandidat yang support antipoverty policies
5. Volunteer dan donate: Tapi lebih penting, fight untuk systemic change, bukan hanya charity bandaid
6. Examine privilege Anda: Tanyakan: "Bagaimana saya mendapat keuntungan dari sistem yang tidak adil ini? Apa yang bisa saya korbankan untuk membuat sistem lebih adil?"
Bagian 6: Menghadapi Ketidaknyamanan
Mengapa Buku Ini Uncomfortable
Desmond tahu buku ini akan membuat banyak orang defensif.
Tidak ada yang suka disebut "bagian dari masalah." Kita semua suka berpikir kita adalah orang baik.
Tapi Desmond bukan menyerang karakter kita. Dia menyerang sistem yang kita participate dalam—sering tanpa sadar.
Dia menulis: "Saya tidak bilang Anda orang jahat karena Anda belanja di Walmart atau sewa apartemen dengan harga pasar. Saya bilang kita hidup dalam sistem yang membuat pilihan baik menjadi sulit dan pilihan eksploitatif menjadi mudah."
Dari Charity ke Justice
Selama ini, respons Amerika terhadap kemiskinan adalah charity—food banks, soup kitchens, shelter untuk homeless.
Ini semua baik. Tapi ini bukan solusi.
Desmond membuat perbedaan penting:
● Charity: Saya beri Anda ikan
● Justice: Saya pastikan Anda punya akses ke danau untuk menangkap ikan sendiri
Charity membuat kita feel good. Justice membuat kita uncomfortable karena memerlukan kita memberikan power.
Tapi hanya justice yang bisa mengakhiri kemiskinan.
Biaya Moral dari Status Quo
Desmond mengakhiri dengan pertanyaan moral:
"Berapa banyak kemiskinan yang bisa kita toleransi? Berapa banyak anak yang boleh tidur lapar di negara terkaya di dunia sebelum kita bilang: Cukup?"
Kemiskinan bukan hanya economic issue. Ini adalah moral issue.
Setiap anak yang tidak dapat makan cukup, setiap keluarga yang tidak dapat afford healthcare, setiap pekerja yang bekerja tiga pekerjaan tapi masih tidak bisa bayar sewa—ini adalah kegagalan moral kita sebagai masyarakat.
Penutup: Abolisi Kemiskinan adalah Mungkin
Desmond menutup buku dengan optimisme yang realistis:
"Kita tahu bagaimana mengakhiri kemiskinan. Kita punya data. Kita punya contoh dari negara-negara lain. Kita punya resources."
Yang kita tidak punya adalah political will—karena mengakhiri kemiskinan berarti orang yang tidak miskin harus melepaskan beberapa privilege.
Tapi inilah yang Desmond argue: Kita semua akan lebih baik dalam masyarakat tanpa kemiskinan.
Crime rate turun. Kesehatan publik membaik. Anak-anak perform lebih baik di sekolah. Ekonomi tumbuh karena lebih banyak orang punya purchasing power.
Dan yang paling penting: Kita bisa tidur dengan nyenyak knowing bahwa kita tidak membangun kenyamanan kita di atas penderitaan orang lain.
Pertanyaan untuk Anda
Desmond memberikan mirror—dan refleksi dalam mirror itu tidak selalu nyaman.
Tapi pertanyaannya sekarang:
Apa yang akan Anda lakukan dengan ketidaknyamanan itu?
Apakah Anda akan menutup buku ini dan kembali ke hidup seperti biasa, berharap "seseorang" akan mengatasi masalah ini?
Atau apakah Anda akan mengakui bahwa Anda—ya, Anda—bagian dari masalah ini, dan juga bisa menjadi bagian dari solusinya?
Pilihan paling berbahaya adalah berpikir: "Saya hanya satu orang. Saya tidak bisa buat perbedaan."
Tapi kemiskinan ada karena jutaan orang membuat pilihan-pilihan kecil setiap hari yang melanggengkan sistem ini.
Dan abolisi kemiskinan akan terjadi ketika jutaan orang mulai membuat pilihan-pilihan kecil yang berbeda.
Mulai hari ini. Mulai dengan Anda.
Karena seperti yang Desmond tulis:
"Kemiskinan adalah pilihan kita. Dan mengakhiri kemiskinan juga pilihan kita."
Apa pilihan Anda?
Tentang Buku Asli
"Poverty, By America" diterbitkan pada Maret 2023 dan langsung menjadi New York Times bestseller. Buku ini adalah follow-up dari "Evicted: Poverty and Profit in the American City" (2016) yang memenangkan Pulitzer Prize.
Matthew Desmond adalah profesor sosiologi di Princeton University dan direktur Eviction Lab—research center yang track eviction di seluruh Amerika.
Metode risetnya unik: Dia tidak hanya lihat data. Dia hidup di komunitas miskin, bekerja dengan orang miskin, mengalami sistem dari dalam. "Evicted" ditulis setelah dia tinggal di trailer parks dan inner-city neighborhoods di Milwaukee selama berbulan-bulan.
"Poverty, By America" berbeda dari buku anti-kemiskinan lainnya karena fokusnya bukan pada orang miskin—tapi pada orang yang tidak miskin. Ini bukan buku tentang "mereka." Ini buku tentang "kita."
Critical Reception:
● The New York Times: "Brilliant and devastating"
● The Atlantic: "Essential reading for anyone who wants to understand inequality in America"
● The Washington Post: "A book that should make all of us uncomfortable—and inspire us to action"
Untuk pemahaman lengkap dengan semua data, case studies, dan argumentasi mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Desmond adalah storyteller yang brilian—dia membuat sosiologi accessible tanpa kehilangan rigor akademik.
Buku ini tidak easy reading—karena designnya untuk membuat Anda uncomfortable. Tapi discomfort adalah langkah pertama menuju change.
Sekarang Anda tahu kebenaran yang tidak nyaman: Kemiskinan di Amerika ada karena kita memilihnya.
Pertanyaannya: Apakah kita akan membuat pilihan yang berbeda?
Poverty abolition starts with you.

