Braiding Sweetgrass

Robin Wall Kimmerer


Dua Cara Melihat Dunia 

Bayangkan Anda berdiri di hutan. 

Seorang ilmuwan melihat sekeliling dan melihat: Acer saccharum (maple), Quercus rubra (oak merah), ekosistem yang diatur oleh kompetisi sumber daya, siklus nitrogen, fotosintesis. 

Seorang nenek dari Potawatomi Nation berdiri di tempat yang sama dan melihat: saudara-saudara tua yang memberikan naungan, kerabat yang berbagi makanan, guru-guru yang mengajarkan cara hidup, keluarga yang telah merawat manusia selama ribuan tahun. 

Pohon yang sama. Hutan yang sama. Tapi dunia yang berbeda. 

Robin Wall Kimmerer hidup di antara dua dunia ini. 

Sebagai profesor botani dan ekologi, dia dilatih dalam metode saintifik, terminologi Latin, objektifitas. Sebagai anggota Potawatomi Nation—suku pribumi Amerika—dia dibesarkan dengan cerita tentang tanaman sebagai guru, tanah sebagai ibu, dan gratitude (rasa syukur) sebagai cara hidup. 

Selama bertahun-tahun, kedua dunia ini terasa terpisah. Sains di kampus. Spiritual di upacara. Pengetahuan di jurnal akademis. Kebijaksanaan di cerita nenek. 

Tapi suatu hari, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya: 

Keduanya benar. Dan keduanya tidak lengkap tanpa yang lain. 

Sains tanpa kebijaksanaan memberi kita kekuatan tanpa arah. Kebijaksanaan tanpa sains memberi kita arah tanpa bukti. Tapi ketika dikepang bersama—seperti tiga untaian sweetgrass (rumput harum suci) yang dikepang menjadi satu—mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat.

Inilah esensi dari "Braiding Sweetgrass": sebuah kepangan antara indigenous knowledge (pengetahuan pribumi), scientific knowledge (pengetahuan saintifik), dan story (cerita). Tiga untaian yang saling menguatkan. 

Mari kita mulai mengepang.

 


Bagian 1: Skywoman Falling—Cerita Penciptaan yang Mengubah Perspektif 

Dua Cerita, Dua Worldview 

Kimmerer memulai dengan membandingkan dua cerita penciptaan: 

Cerita Barat: Adam dan Hawa Manusia diciptakan di taman yang sempurna. Mereka diberi satu aturan: jangan makan buah terlarang. Mereka melanggar. Mereka diusir. Dunia menjadi tempat kerja keras dan penderitaan sebagai hukuman. 

Pesan: Manusia pada dasarnya berdosa. Alam adalah tempat yang harus ditaklukkan melalui kerja keras. Kita diusir dari surga karena kesalahan kita. 

Cerita Potawatomi: Skywoman Seorang wanita jatuh dari dunia langit. Di bawahnya hanya air. Hewan-hewan (angsa, berang-berang, penyu) melihatnya jatuh dan berkata: "Kita harus menyelamatkan dia." Penyu menawarkan punggungnya sebagai daratan. Hewan-hewan menyelam untuk mengambil tanah dari dasar laut. Skywoman mendarat dengan lembut di punggung penyu, membawa benih-benih dari dunia langit. Dia menanam benih-benih itu. Dan bumi menjadi hijau. 

Pesan: Manusia diterima dengan kemurahan hati oleh makhluk lain. Bumi adalah hadiah yang diberikan dengan cinta. Kita datang dengan benih untuk ditanam, dengan hadiah untuk dibagikan. 

Kimmerer menulis: "Dalam cerita Skywoman, kita tidak datang sebagai penakluk. Kita datang sebagai keluarga." 

Cerita mana yang Anda percayai membentuk bagaimana Anda melihat dunia. 

Jika Anda percaya dunia adalah hukuman, Anda akan memperlakukannya dengan eksploitasi. Jika Anda percaya dunia adalah hadiah, Anda akan memperlakukannya dengan gratitude.

 


Bagian 2: Grammar of Animacy—Bahasa yang Menghidupkan Dunia 

Mengapa Bahasa Penting 

Dalam bahasa Inggris (dan kebanyakan bahasa Eropa), ada pembagian tegas: 

He/She untuk manusia 

It untuk semua yang lain—pohon, sungai, gunung, hewan 

Kata "it" menciptakan jarak. "It" adalah objek. "It" tidak punya kehidupan, tidak punya perasaan, tidak punya agency (kemampuan bertindak). 

Dalam bahasa Potawatomi dan banyak bahasa indigenous lainnya, pembagiannya berbeda: 

● Ada kata untuk "beings yang bernyawa" (termasuk pohon, sungai, batu)

● Ada kata untuk "beings yang tidak bernyawa" (sangat sedikit) 

Ketika Kimmerer mencoba belajar bahasa leluhurnya, dia terkejut: 70% kata benda adalah kata kerja. 

Bay (danau) bukan sekadar "a bay." Bay adalah "to be a bay"—sesuatu yang aktif menjadi dirinya, yang terus berproses, yang hidup. 

Maple tree bukan "it." Maple adalah being yang memberi sirup di musim semi, yang menaungi di musim panas, yang mewarnai dunia dengan merah di musim gugur, yang mengajarkan kesabaran di musim dingin. 

Apa yang terjadi ketika kita mengubah "it" menjadi "dia" atau "mereka"? 

Ketika pohon adalah "it," kita bisa menebangnya tanpa perasaan. Ketika pohon adalah "dia" yang telah hidup 200 tahun, yang memberi oksigen pada cucu-cucu kita, yang menjadi rumah bagi burung—keputusan untuk menebang menjadi lebih berat. 

Kimmerer mengusulkan: mari kita adopsi kata baru dalam bahasa Inggris untuk being selain manusia. Alih-alih "it," gunakan "ki" (untuk singular) dan "kin" (untuk plural). 

Bukan "Look at it"—tapi "Look at ki." Bukan "The forest and its creatures"—tapi "The forest and kin." 

Bahasa membentuk pikiran. Pikiran membentuk tindakan.

 


Bagian 3: The Honorable Harvest—Etika Mengambil dari Alam 

Pelajaran dari Sweetgrass 

Sweetgrass (Hierochloe odorata) adalah tanaman suci bagi banyak suku pribumi. Wanginya manis seperti vanilla dan rumput segar. Digunakan dalam upacara, dikepang sebagai persembahan, dibakar sebagai doa. 

Tapi ada misteri: Sweetgrass semakin langka di tempat-tempat yang dilindungi, tapi tumbuh subur di tempat yang dipanen oleh basket makers pribumi. 

Sebagai ilmuwan, Kimmerer ingin tahu mengapa. 

Dia melakukan penelitian: plot yang dipanen vs plot yang tidak dipanen. Hasilnya mengejutkan: Panen yang dilakukan dengan benar merangsang pertumbuhan sweetgrass. 

Mengapa? Karena basket makers pribumi tidak sekadar mengambil. Mereka mengikuti "The Honorable Harvest"—protokol yang telah diturunkan selama ribuan tahun: 

Prinsip-Prinsip The Honorable Harvest 

1. Ketahui cara hidup yang mendukung Anda Kenali tanaman. Pahami siklus hidupnya. Tahu kapan dia tumbuh, kapan dia berbunga, kapan dia beristirahat. 

2. Perkenalkan diri Anda. Minta izin Sebelum mengambil, berbicara dengan tanaman. Jelaskan mengapa Anda butuh. Tanyakan apakah Anda boleh mengambil. 

Ini terdengar mistis? Mungkin. Tapi efeknya sangat praktis: Anda melambat. Anda memperhatikan. Anda tidak mengambil dengan ceroboh. 

3. Jangan pernah ambil yang pertama Yang pertama adalah untuk tanaman itu sendiri untuk bereproduksi. Untuk hewan yang bergantung padanya. Yang pertama adalah hadiah untuk yang lain, bukan untuk Anda. 

4. Jangan pernah ambil lebih dari setengah Ambil hanya apa yang Anda butuhkan. Tinggalkan cukup untuk regenerasi. Setengah untuk Anda, setengah untuk masa depan. 

5. Ambil hanya apa yang Anda butuhkan Jangan serakah. Jangan mubazir. Jika Anda hanya perlu segenggam, ambil segenggam—bukan sekantong. 

6. Ambil hanya apa yang diberikan Jika tanaman layu atau sakit, jangan dipaksa. Jika cuaca buruk dan tanaman struggle, lewati tahun ini. 

7. Jangan pernah ambil yang terakhir Selalu tinggalkan benih untuk generasi berikutnya.

8. Panen dengan cara yang meminimalkan kerusakan Gunakan alat yang tepat. Potong dengan bersih. Jangan cabut akar jika tidak perlu. 

9. Gunakan dengan hormat. Jangan sia-siakan Apa yang Anda ambil adalah hadiah. Perlakukan dengan hormat. Gunakan sepenuhnya. Jangan buang. 

10. Berbagi Apa yang Anda panen bukan hanya untuk Anda. Berbagi dengan komunitas. Dengan keluarga. Dengan yang membutuhkan. 

11. Berterima kasih atas apa yang Anda terima Gratitude bukan hanya sopan santun. Gratitude adalah pengakuan hubungan reciprocal. 

12. Beri balik dalam bentuk yang sama Ketika Anda mengambil sweetgrass, tanyakan: Apa yang bisa saya berikan balik? Mungkin menyebarkan benih. Mungkin membersihkan area dari invasive species. Mungkin melindungi habitatnya. 

Kontras dengan Ekonomi Modern 

Bandingkan dengan bagaimana ekonomi modern bekerja: 

● Ambil sebanyak mungkin secepat mungkin 

● Maksimalkan profit 

● Eksternalitas (kerusakan lingkungan) bukan tanggung jawab kita 

● Pertumbuhan infinite di planet finite 

Kimmerer bertanya: "Bagaimana jika kita menerapkan prinsip Honorable Harvest pada semua yang kita konsumsi?" 

Sebelum membeli baju baru: Apakah saya tahu siapa yang membuatnya? Apakah mereka diperlakukan dengan hormat? Apakah saya benar-benar membutuhkan ini? 

Sebelum membeli gadget baru: Apa yang akan terjadi pada gadget lama saya? Apakah saya menggunakan yang sekarang dengan hormat, atau hanya membuangnya? 

Sistem kita tidak berkelanjutan bukan karena kekurangan teknologi. Sistem kita tidak berkelanjutan karena kekurangan reciprocity dan gratitude.

 


Bagian 4: Asters and Goldenrod—Pelajaran Tentang Complementarity 

Dua Bunga, Satu Pelajaran 

Di akhir musim panas, padang rumput Amerika Utara meledak dengan warna: ungu dari bunga aster dan kuning dari goldenrod. 

Sebagai ilmuwan, Kimmerer mengajar mahasiswa: Aster dan goldenrod berkompetisi untuk sumber daya yang sama—cahaya, air, nutrisi. Ini contoh klasik kompetisi ekologis. 

Sebagai orang Potawatomi, neneknya mengajarkan: Aster dan goldenrod adalah saudara. Ungu dan kuning adalah warna sacred bagi banyak suku—warna yang selalu datang bersama. 

Suatu hari, Kimmerer menyadari: Kedua cerita ini benar sekaligus. 

Ya, mereka berkompetisi. Tapi mereka juga melengkapi. Aster menarik lebah. Goldenrod menarik kupu-kupu. Bersama, mereka menciptakan ekosistem yang lebih kaya daripada jika hanya satu yang ada. 

Lebih dari itu: ketika digabungkan dalam satu vas, ungu dan kuning menciptakan keindahan yang tidak bisa dicapai oleh satu warna saja. 

Pelajaran: Dunia bukan hanya tentang kompetisi. Dunia juga tentang kerjasama, complementarity, beauty yang muncul dari kombinasi. 

Sains mengajarkan kita untuk memisahkan, menganalisis, memahami bagian-bagian. Indigenous wisdom mengajarkan kita untuk melihat keseluruhan, hubungan, harmoni. 

Kita perlu keduanya.

 


Bagian 5: Windigo—Kisah Peringatan tentang Keserakahan 

Monster yang Tidak Pernah Puas 

Dalam mitologi pribumi Amerika Utara, ada makhluk yang disebut Windigo. 

Windigo dulunya manusia. Tapi dia dikonsumsi oleh keserakahan. Dia makan dan makan tapi tidak pernah kenyang. Semakin banyak dia makan, semakin besar dia tumbuh. Dan semakin besar dia tumbuh, semakin lapar dia menjadi. 

Akhirnya, dia menjadi monster—raksasa es dengan hati beku, mulut penuh taring, dan nafsu yang tidak pernah terpuaskan. Dia memakan seluruh desa. Memakan seluruh hutan. Tapi tetap lapar. 

Windigo adalah peringatan tentang konsumsi yang tidak berkelanjutan.

Kimmerer menulis: "Kita hidup di era Windigo." 

Ekonomi modern dibangun di atas premis Windigo: pertumbuhan tanpa batas, konsumsi tanpa akhir, profit di atas segalanya. 

Korporasi tumbuh dengan memakan sumber daya. Mereka tidak pernah "cukup." Selalu harus lebih—lebih besar, lebih banyak, lebih cepat. 

Individu juga terinfeksi mindset Windigo: 

● Rumah yang lebih besar meskipun keluarga lebih kecil 

● Gadget baru setiap tahun meskipun yang lama masih berfungsi 

● Pakaian yang dibuang setelah beberapa kali pakai 

● Makanan yang berlebihan sementara miliaran kelaparan 

Pertanyaan Kimmerer: "Bagaimana kita membunuh Windigo tanpa membunuh diri kita sendiri?" 

Karena kita semua hidup dalam sistem Windigo. Kita semua tergantung pada ekonomi ini. Kita tidak bisa sepenuhnya opt out. 

Tapi kita bisa mulai dengan mengenali Windigo dalam diri kita sendiri. Mengenali momen ketika "cukup" menjadi "lebih." Mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. 

Dalam cerita tradisional, Windigo dikalahkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan dikembalikan ke komunitas, diingatkan tentang hubungan, dihangatkan hatinya yang beku dengan api cinta dan gratitude.

Mungkin itulah obatnya: komunitas, hubungan, gratitude.

 


Bagian 6: The Gift Economy vs Market Economy

Dua Sistem, Dua Logika 

Market Economy (Ekonomi Pasar): 

● Anda memberi uang, Anda dapat barang 

● Transaksi selesai—tidak ada hutang, tidak ada hubungan 

● Nilai ditentukan oleh kelangkaan 

● Tujuan: akumulasi modal 

Gift Economy (Ekonomi Hadiah): 

● Anda memberi hadiah, menciptakan hubungan 

● Penerima merasa hutang budi (tapi bukan hutang transaksional) 

● Hadiah terus beredar—Anda memberi ke orang lain 

● Nilai ditentukan oleh abundance yang dibagikan 

● Tujuan: memperkuat komunitas 

Kimmerer memberikan contoh: Ketika Anda membeli strawberry di supermarket, Anda bayar $5, ambil strawberry, pulang. Selesai. 

Ketika nenek Potawatomi memberikan strawberry dari kebunnya kepada Anda, Anda menerima lebih dari buah. Anda menerima: 

● Waktu dan tenaga dia merawat tanaman 

● Pengetahuan tentang cara menanam 

● Kepercayaan bahwa Anda akan menghargainya 

● Koneksi yang mengharuskan Anda memberi balik suatu hari 

Dan suatu hari, ketika Anda punya hadiah—mungkin roti yang Anda panggang, mungkin bantuan memperbaiki pagar—Anda memberi balik. Bukan karena hutang transaksional. Tapi karena gratitude dan reciprocity. 

Alam beroperasi dalam gift economy. 

Pohon memberi oksigen—gratis. Matahari memberi energi—gratis. Hujan memberi air—gratis. Lebah menyerbuki bunga—gratis. 

Tidak ada yang menagih. Tapi semua yang menerima hadiah punya tanggung jawab memberi balik. 

Pohon menerima CO2 dari kita. Matahari menerima photosynthesis yang mengubah cahayanya menjadi kehidupan. Hujan menerima air yang di-evaporate kembali. 

Ini bukan transaksi. Ini hubungan reciprocal.

Apa yang terjadi ketika kita mencoba memaksakan market economy pada alam? 

Kita mulai "menilai" alam hanya ketika dia punya nilai ekonomi. Hutan bernilai hanya jika kayunya bisa dijual. Sungai bernilai hanya jika ikannya bisa ditangkap. Gunung bernilai hanya jika mineralnya bisa ditambang. 

Tapi apa nilai keindahan? Apa nilai ketenangan? Apa nilai inspirasi yang diberikan gunung kepada penyair? 

Beberapa hal terlalu berharga untuk ditaruh harga.

 


Bagian 7: Mishkos Kenomagwen—The Teachings of Grass 

Rumput Mengajarkan Resilience 

Sweetgrass pernah hampir punah. Invasi kolonial, perubahan penggunaan lahan, hilangnya praktik tradisional—semua mengancam keberadaannya. 

Tapi sweetgrass bertahan. Dan Kimmerer menemukan bahwa sweetgrass justru tumbuh lebih baik ketika dipanen dengan benar. 

Mengapa? Karena panen tradisional tidak eksploitatif. Dia adalah bentuk tending (merawat)—seperti berkebun, tapi lebih halus. 

Indigenous people bukan hanya "hidup di alam tanpa mengubahnya." Mereka aktif mengelola dan meningkatkan ekosistem untuk ribuan tahun. 

Contoh: 

● Controlled burning untuk mencegah kebakaran besar dan meregenerasi padang rumput

● Selective harvesting yang merangsang pertumbuhan 

● Menanam species yang saling mendukung 

● Menciptakan "garden forests" yang terlihat alami tapi sebenarnya dikurasi 

Ketika kolonial Eropa tiba di Amerika Utara dan melihat hutan yang "liar" dan "perawan," mereka tidak menyadari: hutan itu adalah hasil ribuan tahun pengelolaan indigenous. 

Apa yang kita sebut "wilderness" sebenarnya adalah "home" yang dirawat dengan baik.

Pelajaran untuk restoration ecology: 

Restorasi bukan hanya menanam pohon. Restorasi adalah mengembalikan hubungan

Hubungan antara tanaman dan polinator. Hubungan antara predator dan prey. Hubungan antara tanah dan mikroba. Hubungan antara manusia dan alam. 

Dan hubungan yang paling penting untuk dikembalikan: hubungan reciprocal.

 


Bagian 8: Maple Nation—Pelajaran dari Sirup Maple

Resep Sirup Maple: 40 jam + 1 pohon + patience + gratitude 

Setiap musim semi, Kimmerer dan keluarganya melakukan ritual: mengetuk pohon maple untuk mengambil getahnya. 

Prosesnya panjang: 

1. Tunggu musim semi—tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat 

2. Bor lubang kecil di pohon (tidak merusak) 

3. Pasang tap 

4. Tunggu getah menetes—pelan, tetes demi tetes 

5. Kumpulkan getah—40 liter getah untuk 1 liter sirup 

6. Rebus perlahan selama berjam-jam 

7. Akhirnya: sirup maple—kental, manis, berwarna emas 

40 jam untuk 1 liter. 

Di supermarket, Anda bisa beli sirup maple dalam 5 menit dengan $20. 

Tapi ketika Anda membuat sendiri, Anda menerima lebih dari sirup. Anda menerima: 

● Waktu bersama keluarga di hutan 

● Koneksi dengan musim dan siklus alam 

● Pengetahuan tentang bagaimana maple memberikan hadiahnya 

● Gratitude yang mendalam untuk keajaiban transformasi air menjadi sirup

● Awareness tentang berapa banyak energi dan waktu alam berikan untuk kita 

Ketika Anda menuang sirup itu ke pancake, rasanya berbeda. Bukan hanya manis. Ada cerita di setiap tetes. 

Inilah yang hilang dalam ekonomi modern: cerita, hubungan, context. 

Kita membeli barang tanpa tahu siapa yang membuatnya, dari mana asalnya, apa biayanya pada bumi. 

Kimmerer tidak mengatakan kita semua harus bikin sirup sendiri. Tapi dia bertanya: 

"Apa yang terjadi jika kita mendekati semua yang kita konsumsi dengan awareness yang sama? Dengan gratitude yang sama?"

 


Bagian 9: Tiga Kepangan—Integrasi Pengetahuan

Kimmerer kembali ke metafora sweetgrass yang dikepang: 

Kepangan Pertama: Indigenous Knowledge 

● Cerita, nilai, worldview 

● Hubungan dengan alam sebagai keluarga 

● Gratitude dan reciprocity sebagai way of life 

● Pengetahuan yang diturunkan ribuan tahun 

Kepangan Kedua: Scientific Knowledge 

● Data, eksperimen, bukti 

● Pemahaman mekanisme ekologis 

● Teknologi dan inovasi 

● Kemampuan prediksi dan intervens 

Kepangan Ketiga: Story 

● Narasi yang membuat pengetahuan bermakna 

● Emotional connection yang mendorong action 

● Wisdom yang menghubungkan head dan heart 

● Cara meneruskan pengetahuan lintas generasi 

Sendiri-sendiri, masing-masing lemah. Dikepang bersama, mereka kuat. 

Indigenous knowledge tanpa sains bisa jadi dogmatis. Sains tanpa indigenous knowledge bisa jadi tidak punya arah moral. Keduanya tanpa story jadi kering dan tidak menginspirasi action. 

Tapi ketika dikepang: 

● Indigenous knowledge memberi nilai dan tujuan 

● Sains memberi metode dan bukti 

● Story memberi makna dan koneksi emosional 

Inilah yang dunia butuhkan untuk menghadapi krisis ekologis: bukan hanya lebih banyak data (kita sudah punya), bukan hanya lebih banyak teknologi (kita sudah punya). 

Kita butuh perubahan fundamental dalam bagaimana kita melihat hubungan kita dengan alam. 

Dari eksploitasi ke reciprocity. Dari dominasi ke partnership. Dari "resources" ke "relatives."

 


Penutup: Menanam Benih untuk Tujuh Generasi 

Kimmerer menutup dengan prinsip Haudenosaunee (Iroquois): "Dalam setiap pertimbangan, kita harus memikirkan dampaknya pada tujuh generasi ke depan." 

Tujuh generasi—sekitar 150 tahun. 

Pertanyaan yang menghantui: Apa yang akan kita tinggalkan untuk tujuh generasi ke depan?

Jika kita terus dengan laju sekarang: 

● Hutan yang gundul 

● Lautan yang penuh plastik 

● Iklim yang tidak stabil 

● Species yang punah 

● Tanah yang mati 

Atau kita bisa memilih jalan yang berbeda. 

Tindakan Konkret yang Bisa Kita Ambil: 

1. Praktikkan Gratitude Setiap Hari Sebelum makan, ucapkan terima kasih—bukan hanya formalitas, tapi benar-benar sadari dari mana makanan ini datang. Siapa yang menanamnya. Tanah yang menumbuhkannya. Matahari yang memberinya energi. 

2. Kenali Tetangga Anda—Tumbuhan, Hewan, Ekosistem Pelajari nama pohon di jalan Anda. Burung apa yang bernyanyi di pagi hari. Sungai mana yang mengalir di kota Anda. Anda tidak bisa mencintai apa yang tidak Anda kenal. 

3. Terapkan Prinsip Honorable Harvest Sebelum membeli sesuatu, tanyakan: Apakah saya benar-benar butuh ini? Dari mana ini datang? Apakah dibuat dengan menghormati bumi dan manusia? Apa yang akan terjadi ketika saya tidak membutuhkannya lagi? 

4. Beri Balik Lebih dari yang Anda Ambil Volunteer untuk menanam pohon. Bersihkan sungai. Dukung organisasi konservasi. Atau sekadar tinggalkan tempat lebih baik dari yang Anda temukan. 

5. Ubah Bahasa Anda Coba, sehari saja, jangan sebut alam sebagai "it." Sebut dia sebagai "ki" atau dengan namanya. Perhatikan bagaimana itu mengubah perasaan Anda. 

6. Ceritakan Kisah yang Baik Anak-anak akan mewarisi bumi ini. Cerita apa yang kita ceritakan pada mereka? Cerita tentang kerusakan dan keputusasaan? Atau cerita tentang keindahan yang perlu dilindungi dan regenerasi yang mungkin?

7. Pikirkan Tujuh Generasi ke Depan Sebelum membuat keputusan besar, tanyakan: Apa dampaknya untuk cucu dari cucu saya?

 


Refleksi Terakhir: Anda Adalah Sweetgrass

Kimmerer menulis di akhir buku: 

"Kita semua adalah sweetgrass. Kita semua adalah hadiah yang dibawa Skywoman ketika dia jatuh. Pertanyaannya bukan apakah kita penting—kita pasti penting. Pertanyaannya adalah: Apa hadiah unik yang Anda bawa untuk menyembuhkan bumi?" 

Mungkin hadiah Anda adalah: 

● Mengajar anak-anak untuk mencintai alam 

● Menulis cerita yang menginspirasi 

● Mendesain teknologi yang berkelanjutan 

● Memulihkan ekosistem yang rusak 

● Membuat kebijakan yang adil 

● Atau sekadar hidup dengan lebih sedikit, mengonsumsi dengan lebih sadar, mencintai dengan lebih dalam 

Tidak ada yang terlalu kecil. Tidak ada yang tidak penting. 

Seperti sweetgrass yang dikepang—setiap untaian tampak rapuh sendiri. Tapi dikepang bersama, mereka kuat. 

Kita masing-masing adalah satu untaian. Tapi ketika kita dikepang bersama—indigenous knowledge, scientific knowledge, story; gratitude, reciprocity, action—kita menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat. 

Jadi mulailah hari ini. 

Ucapkan terima kasih pada matahari pagi. Kenali pohon di jalan Anda. Ambil hanya apa yang Anda butuhkan. Beri balik lebih dari yang Anda ambil. Ceritakan kisah yang baik. Pikirkan tujuh generasi ke depan. 

Dan percayalah: Kecil yang kita lakukan, dikepang bersama, bisa mengubah dunia.

Terima kasih telah membaca. Sekarang, apa hadiah Anda untuk bumi?

 


Tentang Buku Asli 

"Braiding Sweetgrass: Indigenous Wisdom, Scientific Knowledge, and the Teachings of Plants" pertama kali diterbitkan pada 2013 dan menjadi fenomena—menduduki New York Times Bestseller selama lebih dari 100 minggu. 

Robin Wall Kimmerer adalah profesor Distinguished Teaching di SUNY College of Environmental Science and Forestry, direktur Center for Native Peoples and the Environment, dan anggota terdaftar Citizen Potawatomi Nation. 

Buku ini telah memenangkan berbagai penghargaan dan diterjemahkan ke banyak bahasa. Dia sering digunakan di kursus environmental studies, indigenous studies, dan bahkan spiritual studies. 

Yang membuat buku ini istimewa adalah bagaimana Kimmerer menulis—dengan puisi, dengan kelembutan, dengan kedalaman saintifik sekaligus spiritual. Setiap chapter bisa dibaca sebagai essay independen, tapi bersama mereka membentuk tapestry yang indah. 

Untuk pengalaman penuh—cara Kimmerer merangkai kata, detail botaninya, kedalaman filosofisnya—sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi. Buku lengkapnya adalah pengalaman yang mengubah cara Anda melihat dunia. 

Setelah membaca "Braiding Sweetgrass," Anda tidak akan melihat pohon dengan cara yang sama. Atau rumput. Atau bahkan diri Anda sendiri. 

Dan mungkin, itulah hadiah terbesar buku ini: kesadaran bahwa kita bukan terpisah dari alam—kita adalah bagian dari keluarga yang lebih besar. Dan keluarga saling merawat. 

Selamat mengepang pengetahuan Anda sendiri. Selamat menemukan hadiah Anda. Selamat pulang ke dalam keluarga besar alam. 

All our relations. Semua kerabat kita.