How the World Really Works

Vaclav Smil


Sarapan Anda Adalah Fosil Fuel 

Bayangkan pagi ini. Anda bangun, buka kulkas, ambil telur dan roti untuk sarapan. Simple, kan?

Sekarang izinkan saya menghancurkan ilusi kesederhanaan itu. 

Telur di piring Anda? Ayam yang menghasilkannya makan jagung dan kedelai yang ditanam dengan traktor berbahan bakar diesel, dipupuk dengan pupuk nitrogen yang dibuat dari gas alam, dan diangkut dengan truk yang membakar solar. Telur itu disimpan di kulkas yang menggunakan listrik—kemungkinan besar dari pembangkit batubara atau gas. 

Roti Anda? Gandum yang ditanam dengan cara yang sama. Digiling dengan mesin bertenaga listrik. Dipanggang di oven industri. Dibungkus plastik (dari minyak). Dikirim dengan truk diesel. Disimpan di toko dengan pendingin elektrik. 

Bahkan kopi Anda—ditanam di negara lain, diproses dengan mesin, diangkut dengan kapal kontainer raksasa yang membakar bunker fuel (minyak terkotor), dan diseduh dengan mesin kopi elektrik. 

Sarapan sederhana Anda adalah produk dari jutaan barrel minyak, miliaran meter kubik gas alam, dan ratusan juta ton batubara yang dibakar setiap hari di seluruh dunia. 

Tapi kita tidak melihat ini. Kita tidak merasakan ini. Kita hanya melihat telur, roti, dan kopi. 

Inilah masalahnya: Dunia modern berjalan di atas energi fosil dalam skala yang hampir tidak bisa kita pahami. Dan kita bahkan tidak menyadarinya. 

Vaclav Smil—ilmuwan yang paling dikagumi Bill Gates, profesor emeritus yang telah menulis 40+ buku tentang energi, material, dan peradaban—menghabiskan "How The World Really Works" untuk menghancurkan ilusi kita tentang bagaimana dunia benar-benar berfungsi. 

Bukan dengan opini. Bukan dengan narasi politik. Tapi dengan data keras, fakta material, dan realitas fisika yang tidak peduli dengan keyakinan kita.

Pesannya sederhana tapi mengejutkan: 

Hampir semua orang—termasuk para pemimpin, aktivis, dan pakar—salah paham tentang bagaimana dunia benar-benar bekerja. Dan kesalahpahaman ini berbahaya. 

Mari kita pelajari realitas yang sebenarnya.

 


Bagian 1: Empat Pilar Peradaban Modern 

Smil mengidentifikasi empat material fundamental yang membuat peradaban modern mungkin: 

1. Amonia (Pupuk Nitrogen) 

Setengah dari semua protein dalam tubuh Anda berasal dari pupuk nitrogen sintetis. Baca itu lagi. Setengah. 

Sebelum tahun 1909, ketika Fritz Haber menemukan cara membuat amonia dari nitrogen udara, populasi dunia dibatasi oleh berapa banyak pupuk organik (kotoran hewan) yang tersedia. Tanah tidak bisa menghasilkan makanan cukup untuk 8 miliar orang tanpa nitrogen sintetis. 

Proses Haber-Bosch—yang mengubah nitrogen dan hidrogen menjadi amonia—adalah "paten paling penting dalam sejarah," kata Smil. Tanpa ini, dunia hanya bisa mendukung maksimal 3-4 miliar orang. 

Tapi ada tangkapannya: Proses ini sangat energy-intensive. Membuat satu ton amonia membutuhkan energi setara 2 ton batubara. Dan dunia memproduksi 150 juta ton amonia per tahun. 

Produksi pupuk = 2% dari konsumsi energi global. 

Tanpa amonia, setengah umat manusia tidak akan ada. Literally. 

2. Baja (Steel) 

Dunia memproduksi 2 miliar ton baja per tahun—sekitar 250 kg per orang. 

Baja ada di mana-mana: gedung pencakar langit, jembatan, rel kereta, mobil, kapal, pipa, mesin, alat-alat. Peradaban modern adalah peradaban baja. 

Membuat baja membutuhkan suhu sangat tinggi (lebih dari 1.500°C). Hingga saat ini, cara paling efisien mencapai suhu itu adalah dengan membakar batubara coking—jenis batubara khusus yang tidak bisa diganti dengan listrik atau renewable energy (setidaknya belum, dengan teknologi saat ini). 

Produksi baja = 7% dari emisi CO2 global. 

3. Beton (Concrete) 

Dunia memproduksi 4 miliar ton beton per tahun—lebih dari 500 kg per orang.

Beton adalah material buatan manusia paling banyak di planet ini. Lebih banyak dari semua tanaman yang kita tanam. Lebih banyak dari semua plastik yang kita buat. 

Fondasi rumah Anda, jalan yang Anda lalui, gedung tempat Anda bekerja—semua beton. 

Beton dibuat dari semen. Membuat semen membutuhkan memanaskan batu kapur hingga 1.450°C di kiln raksasa—dan ini hanya bisa dilakukan efisien dengan membakar batubara atau gas. 

Produksi semen = 8% dari emisi CO2 global. 

4. Plastik 

Dunia memproduksi 400 juta ton plastik per tahun—sekitar 50 kg per orang. 

Hampir semua plastik dibuat dari minyak bumi dan gas alam. Smartphone Anda, kemasan makanan, botol air, tas belanja, isolasi kabel, pipa air, komponen mobil—99% adalah plastik dari fosil fuel. 

Plastik ringan, tahan lama, murah, dan serbaguna. Tidak ada pengganti yang sebanding. 

Inilah kenyataannya: 

Empat material ini—amonia, baja, beton, plastik—membentuk fondasi fisik dari kehidupan 8 miliar manusia. Dan semuanya sangat bergantung pada energi fosil. 

Anda tidak bisa membuat peradaban modern tanpa mereka. Dan Anda tidak bisa membuat mereka (dengan skala saat ini) tanpa membakar minyak, gas, dan batubara dalam jumlah masif.

 


Bagian 2: Kita Hidup di Dunia Fosil Fuel—Lebih Dari yang Anda Kira 

Narasi populer: "Kita harus beralih ke energi terbarukan secepatnya!" 

Realitas: 85% energi global masih berasal dari fosil fuel—minyak, gas, batubara. 

Setelah puluhan tahun investasi triliunan dolar di solar dan wind, persentase energi terbarukan dalam mix global hanya naik dari 13% (tahun 2000) menjadi 15% (tahun 2020). 

Mengapa sangat lambat? 

Skala yang Tidak Terbayangkan 

Dunia mengonsumsi energi setara 100 juta barrel minyak per hari. Setiap hari. 365 hari setahun. 

Untuk menggantikan ini dengan solar panels: 

● Anda perlu panel solar seluas 50% dari luas Spanyol 

● Ditambah baterai dengan kapasitas yang belum pernah dibuat dalam sejarah

● Dan supply chain yang mampu memproduksi panel dan baterai 100x lebih cepat dari sekarang 

Ini bukan mustahil. Tapi ini tidak akan terjadi dalam 10-20 tahun seperti yang banyak orang klaim. 

Fosil Fuel Bukan Hanya Listrik 

Kesalahpahaman terbesar: "Kalau kita ganti ke solar/wind untuk listrik, masalah selesai."

Faktanya, listrik hanya 20% dari konsumsi energi global. 

80% sisanya adalah: 

Transportasi - Pesawat, kapal, truk tidak bisa pakai baterai (terlalu berat). Mereka butuh liquid fuel dengan energy density tinggi = minyak. 

Pemanasan industri - Membuat baja, semen, kaca butuh suhu ribuan derajat. Listrik dari solar/wind tidak bisa (atau sangat tidak efisien) untuk ini. 

Material - Plastik, aspal, pelumas, dan ribuan produk kimia dibuat dari minyak dan gas sebagai feedstock, bukan hanya energi.

Anda tidak bisa mengubah pesawat Boeing jadi elektrik. Anda tidak bisa membuat blast furnace untuk baja dengan solar panels. Anda tidak bisa membuat plastik dari angin. 

Setidaknya, tidak dengan teknologi yang ada saat ini.

 


Bagian 3: Makanan Modern = Fosil Fuel 

Smil membuka mata kita pada realitas shocking: Sistem pangan modern adalah mesin yang mengubah fosil fuel menjadi makanan. 

Dari Ladang ke Piring: Jejak Energi 

1. Produksi Pupuk 

● Nitrogen sintetis: dibuat dari gas alam 

● Energi untuk 1 ton amonia = 2 ton batubara 

2. Mesin Pertanian 

● Traktor, mesin panen, irigasi = diesel dan listrik 

● Lahan 100 hektar dikelola 1-2 orang karena mesin 

3. Pestisida dan Herbisida 

● Bahan kimia dibuat dari minyak bumi 

● Tanpa ini, hasil panen turun 30-50% 

4. Transportasi 

● Dari ladang ke pabrik: truk diesel 

● Dari pabrik ke distribusi: truk dan kereta 

● Ekspor: kapal kontainer raksasa dengan bunker fuel 

5. Pemrosesan dan Pengemasan 

● Pabrik makanan: listrik dan gas 

● Plastik packaging: dari minyak 

● Cold chain: refrigerasi dengan listrik 

6. Retail dan Rumah 

● Supermarket: pendingin 24/7 

● Kulkas rumah: listrik 

● Memasak: gas atau listrik 

Total: Untuk menghasilkan 1 kalori makanan di piring Anda, sistem modern menggunakan 10 kalori energi fosil. 

Ya, Anda baca dengan benar. Rasio input-output energi kita adalah 10:1.

Pertanian tradisional menghasilkan 5-10 kalori makanan untuk setiap 1 kalori usaha manusia. Kita membalikkan rasio itu. 

Mengapa kita melakukan ini? Karena fosil fuel sangat murah dan melimpah sehingga efisiensi energi tidak masalah—yang penting adalah efisiensi tenaga kerja. 

Di Amerika, 2% populasi bekerja di pertanian tapi memberi makan 100% populasi (plus ekspor). Di tahun 1900, 40% populasi bekerja di pertanian. 

Pertanian modern tidak "natural" atau "sustainable" dalam pengertian tradisional. Pertanian modern adalah industri energi yang kebetulan menghasilkan makanan.

 


Bagian 4: Globalisasi yang Rapuh 

Smil menjelaskan bahwa globalisasi modern—yang kita anggap remeh—adalah sistem paling kompleks yang pernah dibuat manusia. Dan sangat rapuh. 

Kapal Kontainer: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa 

Ada sekitar 5.500 kapal kontainer di lautan setiap saat, membawa 200 juta kontainer per tahun. 

Satu kapal raksasa modern bisa membawa 20.000 kontainer—setara dengan 20.000 truk. Dioperasikan oleh kru 20-30 orang. 

Biaya mengirim TV 55 inch dari Shenzhen ke Los Angeles? Sekitar $50. Lebih murah dari ongkos taksi Anda ke bandara. 

Ini memungkinkan: 

● iPhone Anda dibuat di China dengan komponen dari 8 negara 

● Pakaian Anda dijahit di Bangladesh dari kain Vietnam 

● Makanan di supermarket dari 30+ negara 

Tapi ada tangkapannya: Kapal-kapal ini membakar bunker fuel—minyak paling kotor dan terpolusi. 

100 kapal kontainer terbesar menghasilkan polusi sulfur lebih banyak dari semua 760 juta mobil di dunia. 

Dan tidak ada pengganti yang feasible. Kapal elektrik? Baterai akan lebih berat dari kargo. Kapal hidrogen? Teknologi masih puluhan tahun lagi. Kapal layar? Tidak realistis untuk skala modern. 

Supply Chain yang Tidak Kelihatan 

Smil memberikan contoh brilliant: Ayam goreng Kentucky Fried Chicken. 

Ayam itu makan jagung dari Iowa. Jagung itu ditanam dengan traktor John Deere yang dibuat di Illinois dengan baja dari Indiana, komponen elektronik dari Jepang, dan ban dari Thailand. 

Pupuk untuk jagung dibuat di Louisiana dari gas alam Texas. Pestisida dari Jerman. Mesin panen dari Combines yang komponennya dari 12 negara. 

Ayam diproses di pabrik North Carolina dengan mesin dari Denmark, pisau dari Jerman, packaging dari China.

Kemudian dibekukan (refrigeran dari Korea), diangkut dengan truk (diesel dari Timur Tengah), dimasak dengan minyak (dari Malaysia), dan disajikan dalam kemasan (plastik dari Saudi Arabia). 

Satu ayam goreng sederhana adalah produk dari rantai pasokan yang melibatkan 50+ negara dan ribuan perusahaan. 

Dan kita menganggap ini normal. Kita marah jika KFC kehabisan ayam. Tapi kita tidak pernah berpikir tentang keajaiban logistik yang membuat ayam itu sampai ke piring kita. 

Pandemi COVID-19 menunjukkan betapa rapuhnya sistem ini. Satu pabrik chip di Taiwan tutup—industri mobil global terhenti. Kapal Ever Given tersangkut di Terusan Suez selama 6 hari—perdagangan global terganggu miliaran dolar. 

Globalisasi adalah efisien tapi tidak resilient. Satu gangguan kecil bisa punya efek domino global.

 


Bagian 5: Transisi Energi—Realitas vs Fantasi

Ini adalah bagian paling kontroversial dari buku Smil. Dia tidak anti-renewable. Dia pro-realism.

Transisi Energi Memakan Waktu 50-100 Tahun 

Narasi populer: "Kita bisa 100% renewable dalam 10-20 tahun jika kita mau!"

Smil: "Tidak. Itu fantasi." 

Bukti sejarah: 

● Transisi kayu → batubara: 100+ tahun (1800-1900s) 

● Transisi batubara → minyak: 70+ tahun (1900-1970s) 

Introduksi gas alam: 60+ tahun dan masih ongoing 

Setiap transisi energi utama memakan waktu setengah abad atau lebih. Bukan karena kurang political will—tapi karena skala infrastruktur yang harus diganti. 

Anda tidak bisa mengganti: 

● Miliaran kendaraan bensin/diesel 

● Ratusan ribu pabrik dan mesin industri 

● Jutaan kilometer pipa gas dan minyak 

● Ribuan pembangkit listrik 

● Infrastruktur distribusi global 

...dalam satu dekade. Atau dua dekade. 

Problem Intermittency (Ketidakstabilan) 

Solar dan wind punya masalah fundamental: mereka tidak bisa dikontrol.

Matahari tidak selalu bersinar. Angin tidak selalu bertiup. Tapi kita butuh listrik 24/7/365.

Jerman telah investasi €500 miliar+ dalam Energiewende (transisi energi). Hasilnya? 

● Renewable = 40% dari listrik 

● Tapi emisi CO2 tidak turun signifikan 

● Harga listrik tertinggi di Eropa 

Mengapa? Karena ketika matahari tidak bersinar dan angin tidak bertiup, mereka harus nyalakan pembangkit gas dan batubara sebagai backup. 

Solusi yang sering disebut: Baterai!

Tapi mari kita lihat matematikanya: 

Jerman butuh backup energi untuk 2-3 hari tanpa matahari/angin. 

Konsumsi listrik Jerman: 1,5 TWh per hari. Untuk backup 2 hari: 3 TWh atau 3.000 GWh.

Baterai Tesla Powerwall: 13,5 kWh. Jerman butuh: 222 juta Tesla Powerwall. 

Biaya (asumsi $10.000 per unit): $2,2 triliun. Hanya untuk baterai. Belum termasuk instalasi, replacement setiap 10 tahun, dan grid upgrade. 

Baterai dalam skala yang dibutuhkan untuk backup nasional belum feasible secara ekonomi atau teknologi. 

Material Constraint (Keterbatasan Material) 

Transisi ke renewable = transisi ke material-intensive economy. 

Satu turbin wind offshore membutuhkan: 

● 1.500 ton baja 

● 400 ton beton untuk fondasi 

● 3 ton tembaga 

● 0,5 ton rare earth elements 

Mobil listrik membutuhkan 6x lebih banyak mineral daripada mobil bensin: 

● Lithium untuk baterai 

● Cobalt, nickel, graphite 

● Tembaga untuk motor dan kabel 

● Rare earth untuk magnet 

Untuk mengganti 1,4 miliar mobil bensin dengan mobil listrik, dunia butuh meningkatkan produksi lithium 40x lipat. 

Dari mana lithium ini datang? Tambang. Di mana tambang ini? Sebagian besar di China, Congo, Chile. 

Menambang, memproses, dan memproduksi baterai = sangat energy-intensive dan poluting. 

Ironi: Untuk membuat ekonomi "green," kita harus melakukan mining dan industri berat dalam skala yang belum pernah terjadi—dan ini akan menghasilkan banyak polusi dan emisi di tahap transisi.

 


Bagian 6: Realisme Tentang Climate Change

Smil tidak menyangkal climate change. Dia menyangkal fantasi tentang solusi instan.

Apa yang Realistis 

Dekarbonisasi 80% dalam 30 tahun? Tidak realistis. 

Dekarbonisasi 50% dalam 50 tahun? Mungkin, dengan effort luar biasa dan teknologi breakthrough. 

Dekarbonisasi 80% dalam 70-100 tahun? Lebih realistis secara historis.

Mengapa lama? Karena: 

1. Infrastruktur punya umur 30-50 tahun Pembangkit listrik, pabrik, gedung, pesawat—didesain untuk beroperasi puluhan tahun. Anda tidak bisa buang investasi triliunan dolar dan ganti semuanya dalam 10 tahun. 

2. Teknologi breakthrough butuh waktu Dari lab → prototype → commercialization → mass production → global adoption = 20-40 tahun minimum. 

3. Negara berkembang punya prioritas berbeda 3 miliar orang masih hidup dalam kemiskinan energi. Mereka butuh energi murah dan reliable untuk keluar dari kemiskinan—dan saat ini, itu berarti fosil fuel. 

Apa yang Bisa Dilakukan 

Smil tidak pesimis. Dia realis. Dan dia menawarkan strategi praktis: 

1. Efisiensi Energi Kita bisa mengurangi konsumsi energi 30-40% dengan teknologi yang sudah ada: 

● Isolasi gedung yang lebih baik 

● LED lights (90% lebih efisien dari lampu pijar) 

● Mesin dan motor yang lebih efisien 

● Transportasi publik yang lebih baik 

Ini ROI tercepat dan cheapest way untuk mengurangi emisi. 

2. Nuclear Energy Smil pro-nuclear. Mengapa? Karena: 

● Zero emisi operasional 

● Reliable 24/7 (tidak intermittent seperti solar/wind)

● Footprint land sangat kecil 

● Teknologi proven selama 60+ tahun 

Takut Chernobyl? Modern nuclear reactors tidak mungkin mengalami meltdown seperti itu. 

Masalah waste? Seluruh nuclear waste Amerika selama 60 tahun bisa disimpan dalam area seluas lapangan football dengan tinggi 10 meter. 

3. Investasi Massive dalam R&D Kita butuh breakthrough teknologi: 

● Baterai dengan 10x energy density sekarang 

● Cara membuat baja dan semen tanpa emisi tinggi 

● Synthetic fuels untuk pesawat dan kapal 

● Carbon capture yang ekonomis 

Ini butuh investasi puluhan miliar per tahun dalam research—bukan hanya deployment teknologi existing. 

4. Adaptasi, Bukan Hanya Mitigasi Climate change sudah terjadi. Beberapa efeknya tidak bisa dihindari. 

Kita harus invest dalam: 

● Infrastruktur tahan banjir 

● Sistem irigasi dan pertanian yang lebih resilient 

● Relokasi komunitas dari zona risiko tinggi 

Realism bukan pessimism. Realism adalah mengakui kenyataan dan membuat rencana berdasarkan fakta, bukan harapan.

 


Bagian 7: Pelajaran untuk Kita Semua 

Smil mengakhiri buku dengan reminder yang powerful: 

1. Dunia Fisik Tidak Peduli dengan Narasi Anda 

Anda bisa punya political will terkuat di dunia. Tapi Anda tidak bisa mengubah hukum fisika, batasan material, atau skala infrastruktur dengan political will. 

Realitas material > Ideologi politik. 

2. Trade-offs Itu Nyata 

Tidak ada solusi sempurna. Setiap pilihan ada trade-off: 

● Solar/wind = intermittent, butuh backup 

● Nuclear = waste (walau kecil), risiko perceived 

● Fosil fuel = emisi dan polusi 

● Biofuel = kompetisi dengan produksi makanan 

Mengakui trade-offs = dewasa. Pura-pura trade-offs tidak ada = berbahaya.

3. Skala Itu Penting 

Apa yang berhasil di Denmark (6 juta orang) belum tentu bisa discale ke India (1,4 miliar orang).

Apa yang feasible untuk small island belum tentu feasible untuk continent.

Context matters. Skala matters. 

4. Waktu Itu Penting 

Perubahan besar memakan waktu. Selalu. Tidak ada shortcut. 

Orang yang mengatakan "kita bisa ubah segalanya dalam 10 tahun" adalah salah satu dari dua hal: 

● Mereka tidak paham skala masalahnya 

● Atau mereka berbohong 

Kejujuran tentang timeline lebih berguna daripada false hope. 

5. Apresiasi Kompleksitas

Dunia modern adalah keajaiban engineering dan logistik. Anda bisa mendapat strawberry segar di Desember. Anda bisa terbang ke negara lain dalam hitungan jam. Anda bisa video call keluarga di ujung dunia. 

Semua ini dimungkinkan oleh sistem energi dan material yang sangat kompleks. 

Sebelum kita membongkar sistem, kita harus paham bagaimana sistem itu bekerja. Dan hargai apa yang sudah dicapai.

 


Penutup: Kembali ke Sarapan Anda 

Kita kembali ke mana kita mulai: sarapan Anda. 

Sekarang Anda tahu. Telur, roti, kopi itu bukan sederhana. Mereka adalah produk dari sistem global yang melibatkan: 

● Miliaran ton fosil fuel 

● Ratusan juta ton amonia, baja, beton, plastik 

● Puluhan ribu kapal, jutaan truk, miliaran mesin 

● Supply chain yang membentang ke seluruh planet 

Dan sistem ini—rapuh, kompleks, dan sangat bergantung pada fosil fuel—adalah yang membuat 8 miliar manusia bisa hidup hari ini. 

Kita tidak bisa mengganti sistem ini dalam satu dekade. 

Tapi kita bisa mulai. Dengan cara yang realistis: 

● Invest dalam efisiensi energi (ROI tercepat) 

● Support R&D untuk teknologi breakthrough 

● Terima nuclear sebagai bagian dari solusi 

● Gradual transition, bukan big bang 

● Fokus pada yang feasible, bukan yang populer secara politik 

Vaclav Smil tidak menulis buku ini untuk membuat Anda pesimis. Dia menulis untuk membuat Anda realistis

Karena masalah terbesar yang kita hadapi bukan kurangnya teknologi. Masalah terbesar adalah kesalahpahaman tentang skala, waktu, dan kompleksitas. 

Ketika Anda paham bagaimana dunia benar-benar bekerja, Anda bisa membuat keputusan yang lebih baik. Bukan berdasarkan wishful thinking—tapi berdasarkan fakta, data, dan pemahaman mendalam tentang sistem yang menopang peradaban kita. 

Seperti yang Smil tulis: 

"Kita tidak bisa menyelesaikan masalah yang kita tidak pahami. Dan kita tidak bisa memahami masalah jika kita menolak melihat realitas." 

Jadi lain kali Anda sarapan, ingatlah: 

Anda sedang makan fosil fuel. Dan untuk saat ini, tidak ada cara lain untuk memberi makan 8 miliar manusia. 

Tapi suatu hari—dengan realism, science, engineering, dan waktu—mungkin kita bisa.

 


Tentang Buku Asli 

"How The World Really Works" diterbitkan pada tahun 2022 dan langsung menjadi bestseller. 

Vaclav Smil adalah Distinguished Professor Emeritus di University of Manitoba, Kanada. Dia telah menulis 40+ buku tentang energi, lingkungan, populasi, ekonomi, sejarah, dan kebijakan publik. 

Bill Gates menyebut Smil sebagai "penulis favorit saya" dan mengatakan: "Saya menunggu buku baru Smil seperti orang menunggu album baru dari band favorit mereka." 

Mengapa Smil unik? 

● Dia tidak punya agenda politik 

● Dia tidak dibayar oleh industri fosil atau renewable 

● Dia hanya peduli pada DATA dan FAKTA 

● Tulisannya padat, kadang dry, tapi selalu eye-opening 

Buku-buku Smil lainnya yang recommended: 

● "Energy and Civilization" - sejarah energi dan peradaban 

● "Making the Modern World" - tentang material yang membentuk dunia

● "Growth" - tentang pertumbuhan dalam segala aspek 

● "Numbers Don't Lie" - koleksi esai pendek tentang berbagai topik 

Untuk pemahaman lengkap dengan semua data, grafik, dan referensi ilmiah, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi argumen Smil—tapi buku lengkap memberikan ribuan data point dan analisis mendalam yang tidak bisa dirangkum dalam beberapa ribu kata. 

Sekarang Anda tahu bagaimana dunia benar-benar bekerja. 

Pertanyaannya: Apa yang akan Anda lakukan dengan pengetahuan ini?

Wishful thinking yang nyaman? Atau realism yang berguna? 

Pilihan ada di tangan Anda.