Percobaan Sederhana yang Mengubah Segalanya
Bayangkan ini adalah 1 Januari 2016. Ross Gay, seorang penyair dan profesor di Indiana, duduk dengan secangkir kopi dan membuat komitmen yang tampaknya sederhana:
Setiap hari selama satu tahun, dia akan menulis tentang sesuatu yang memberikannya kegembiraan.
Bukan hal-hal besar. Bukan pencapaian luar biasa atau momen dramatis. Hanya hal-hal kecil yang membuat hatinya sedikit lebih ringan. Senyum orang asing. Buah plum yang sempurna. Tawa anak-anak di taman. Serangga kecil yang berjuang naik ke puncak daun.
"Delight," tulisnya di essai pertama, "adalah semacam kegembiraan yang lembut."
Bukan euphoria. Bukan happiness yang berteriak. Tapi kehangatan tenang yang membuat Anda berpikir: "Oh. Dunia ini masih indah, meskipun semuanya."
Satu tahun kemudian, Ross Gay punya 102 essai pendek. Beberapa hanya setengah halaman. Beberapa beberapa halaman. Semua ditulis dengan kehangatan, humor, dan perhatian yang luar biasa pada detail kecil kehidupan.
Dan yang terjadi adalah ini: praktik sederhana mencari kegembiraan setiap hari mengubah cara dia melihat dunia.
Tiba-tiba, kehidupan penuh dengan hal-hal yang sebelumnya tak terlihat. Kebaikan kecil orang asing. Keajaiban tubuh yang terus bekerja. Cara cahaya jatuh di sore hari. Kelembutan dalam percakapan singkat dengan kasir supermarket.
Seperti yang dia tulis: "Saya mulai menyadari bahwa delight ada di mana-mana—saya hanya perlu memperhatikan."
Buku ini bukan tentang toxic positivity atau mengabaikan penderitaan. Ross Gay menulis di tengah tahun 2016—tahun yang penuh dengan ketegangan rasial, kekerasan polisi, dan pemilu yang merobek Amerika. Dia tidak berpura-pura dunia sempurna.
Tapi dia memilih untuk melihat, mencatat, dan merayakan kegembiraan kecil—bukan meskipun dunia penuh masalah, tetapi justru karena dunia penuh masalah.
Karena dalam dunia yang sering terasa menghancurkan, memilih untuk menemukan kegembiraan adalah tindakan radikal.
Mari kita pelajari apa yang dia temukan.
Bagian 1: Delight Adalah Praktik, Bukan Kebetulan
Melatih Mata untuk Melihat
Salah satu essai paling powerful Ross Gay adalah tentang hal yang sangat sederhana: seseorang yang membungkuk untuk memetik sampah di jalanan.
Dia sedang berjalan di kampusnya ketika melihat seorang mahasiswa—orang asing yang tidak dia kenal—berhenti, membungkuk, dan memungut bungkus permen yang tergeletak di trotoar. Lalu memasukkannya ke tong sampah.
Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang merekam. Tidak ada poin media sosial. Hanya tindakan kecil yang dilakukan karena... ya, karena itu hal yang benar untuk dilakukan.
Ross Gay menulis bahwa momen itu memberikannya "delight yang besar." Mengapa?
"Karena itu mengingatkan saya bahwa kita dikelilingi oleh orang-orang yang peduli. Orang-orang yang membuat dunia sedikit lebih baik tanpa mengharapkan applause. Dan jika saya tidak memperhatikan, saya akan melewatkan momen-momen indah ini."
Pelajaran pertama: Delight tidak datang kepada kita. Kita yang harus mencarinya dengan mata yang terlatih.
Seperti otot yang perlu dilatih, kemampuan untuk melihat kegembiraan perlu dipraktikkan. Semakin sering Anda mencari, semakin banyak Anda temukan.
Menulis Sebagai Perhatian
Ross Gay memilih untuk menulis essai-essainya, bukan hanya mencatat dalam pikiran. Mengapa?
"Menulis memaksa saya untuk benar-benar memperhatikan. Ketika saya tahu saya harus mendeskripsikan sesuatu, saya melihat lebih dalam. Saya mencium lebih tajam. Saya merasakan lebih lengkap."
Ini bukan tentang menjadi penulis. Ini tentang perhatian.
Dalam dunia yang terus-menerus mencuri perhatian kita—notifikasi, email, social media, berita 24/7—memilih untuk memberikan perhatian penuh pada satu hal kecil adalah tindakan radikal.
Gay menulis tentang makan buah plum: "Saya duduk di taman, gigit plum itu, dan jusnya meledak di mulut saya. Saya tutup mata. Saya tidak mengecek ponsel. Saya hanya... makan plum. Dan untuk beberapa detik, dunia sempurna."
Pelajaran kedua: Delight membutuhkan kehadiran (presence). Ketika kita benar-benar hadir, hal-hal biasa menjadi luar biasa.
Bagian 2: Kegembiraan dalam Koneksi Manusia
"Strangers Are Just Friends I Haven't Met"
Ross Gay jatuh cinta pada kebaikan orang asing.
Dia menulis tentang seorang pria tua di bandara yang membantunya mengangkat koper ke overhead bin. Tentang kasir supermarket yang bertanya "Bagaimana harimu?" dan benar-benar menunggu jawaban. Tentang anak kecil di pesawat yang tersenyum padanya tanpa alasan.
Salah satu essai favoritnya adalah tentang berbagi makanan dengan orang asing.
Dia duduk di food court, makan sandwich besar. Seorang tunawisma duduk di seberangnya—tidak meminta apa-apa, hanya duduk. Ross Gay merasakan dorongan untuk berbagi. Dia menawarkan setengah sandwichnya.
Pria itu menerima dengan senyum lebar. Mereka makan bersama dalam diam. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada drama. Hanya dua manusia berbagi makanan.
Gay menulis: "Ada sesuatu yang sangat kuno dan indah tentang berbagi makanan. Ini mengatakan: 'Kita sama-sama manusia. Kita sama-sama butuh makan. Mari kita lakukan bersama.' Dan untuk beberapa menit, kita bukan orang asing lagi."
Pelajaran ketiga: Delight sering datang dari koneksi singkat dengan orang yang tidak kita kenal—reminder bahwa kita semua terhubung.
Komunitas Kebun
Ross Gay punya kebun komunitas. Dan dia menulis tentang kegembiraan dalam merawat tanaman bersama tetangga.
Bukan hanya tentang tomat atau wortel yang tumbuh. Tapi tentang:
● Berbagi benih dan tips
● Tetangga yang mampir untuk "lihat-lihat" dan akhirnya ngobrol satu jam
● Anak-anak yang excited melihat strawberry pertama mereka
● Orang tua yang cerita tentang kebun masa kecil mereka
Satu essai menceritakan seorang tetangga yang menumbuhkan begitu banyak zucchini, dia mulai meninggalkannya di pagar untuk siapa saja yang mau ambil. "Silakan ambil! Terlalu banyak!"
Gay menulis: "Ada generosity yang indah dalam itu. Bukan charity yang merendahkan. Tapi berbagi kelimpahan dengan kegembiraan. 'Saya punya banyak. Kamu mau?' Simpel. Indah."
Pelajaran keempat: Delight tumbuh ketika kita berbagi—makanan, waktu, perhatian, kelimpahan kita.
Bagian 3: Tubuh dan Kelembutan
Merayakan Tubuh yang Bekerja
Ross Gay menulis beberapa essai paling lembut tentang tubuh—tubuhnya sendiri, tubuh orang lain.
Dia menulis tentang kaki.
Ya, kaki.
"Saya melihat kaki saya hari ini—jari-jari yang aneh, kuku yang tidak sempurna, calluses dari lari—dan saya merasa grateful. Kaki ini membawa saya ke mana-mana. Mereka tidak pernah komplain (ok, kadang-kadang komplain). Tapi mereka bekerja. Setiap. Hari."
Dia menulis tentang tangan yang bisa merasakan tekstur, yang bisa memeluk, yang bisa memasak, yang bisa menulis.
Dia menulis tentang jantung yang berdetak tanpa henti, tanpa kita suruh, tanpa kita sadari—"miracle kecil yang terjadi 100.000 kali sehari."
Dalam budaya yang terus-menerus memberitahu kita bahwa tubuh kita tidak cukup—tidak cukup kurus, tidak cukup fit, tidak cukup muda—Ross Gay memilih untuk merayakan tubuh yang bekerja.
Pelajaran kelima: Delight bisa ditemukan dalam miracle sederhana dari tubuh yang hidup, bernapas, berfungsi.
Pelukan
Satu essai favorit saya adalah tentang pelukan.
Gay menulis tentang temannya yang "peluk champion." Setiap kali mereka bertemu, pelukan panjang, erat, tanpa terburu-buru. Bukan pelukan sopan tap-tap-selesai. Tapi pelukan yang benar-benar memeluk.
"Ada healing dalam pelukan seperti itu," tulisnya. "Tubuh mengatakan pada tubuh: 'Kamu tidak sendirian. Saya di sini. Saya melihat kamu.'"
Dia mengamati bahwa kita hidup dalam budaya yang takut sentuhan. Kita berjabat tangan formal. Kita jaga jarak. Kita terpisah oleh layar.
"Tapi tubuh kita tahu: kita makhluk yang butuh sentuhan. Dan pelukan yang baik—pelukan yang benar-benar hadir—adalah gift."
Pelajaran keenam: Delight hidup dalam kelembutan fisik—sentuhan, pelukan, proximity yang penuh kehangatan.
Bagian 4: Alam dan Keajaiban Kecil
Lebah dan Bunga
Ross Gay menghabiskan banyak waktu mengamati alam—bukan hiking dramatis di pegunungan, tapi alam di halaman belakang rumahnya.
Dia menulis tentang lebah dengan kelembutan yang luar biasa.
"Saya menonton lebah ini—kecil, berbulu, sangat focused—bergerak dari bunga ke bunga. Dia tidak terburu-buru. Dia tidak multitasking. Dia hanya... bekerja. Melakukan apa yang dia rancang untuk lakukan. Dan dalam prosesnya, dia membantu bunga berkembang biak. Tanpa lebah itu, tidak ada tomat di kebun saya. Tidak ada apel. Tidak ada begitu banyak hal."
Dia mengamati bahwa kita jarang berterima kasih pada lebah. Kita bahkan sering takut pada mereka. Tapi mereka adalah "pekerja keras kecil yang membuat dunia tetap berputar."
Pelajaran ketujuh: Delight datang ketika kita memperlambat diri cukup lama untuk benar-benar melihat keajaiban kecil yang terjadi sepanjang waktu.
Pohon yang Tumbuh dari Retak Trotoar
Salah satu observasi paling powerful adalah tentang pohon kecil yang tumbuh dari retak di trotoar beton.
"Pohon kecil ini," tulis Gay, "tumbuh di tempat yang seharusnya tidak mungkin. Tidak ada tanah yang cukup. Hampir tidak ada air. Diinjak orang setiap hari. Tapi dia terus tumbuh."
Dia melihat ini sebagai metafora untuk ketahanan (resilience).
"Kehidupan menemukan jalan. Bahkan di tempat yang tampaknya tidak ramah, sesuatu yang indah bisa tumbuh. Dan itu memberikan saya harapan."
Pelajaran kedelapan: Delight bisa ditemukan dalam ketahanan—dalam cara kehidupan terus mencoba, bahkan dalam kondisi yang sulit.
Bagian 5: Kegembiraan di Tengah Kesedihan
"Delight Bukan Pengabaian"
Ini penting untuk dipahami: Ross Gay tidak mengabaikan penderitaan.
Dia menulis di tahun yang penuh dengan kekerasan rasial. Dia hitam di Amerika. Dia tahu ketidakadilan. Dia tahu rasa sakit.
Beberapa essainya menyentuh topik berat:
● Kekerasan polisi terhadap pria kulit hitam
● Kematian teman-temannya
● Kesedihan dan kehilangan
● Ketidakadilan sistemik
Tapi dia menulis: "Justru karena dunia penuh dengan kesulitan, kita harus mencari delight. Bukan untuk lari dari kenyataan. Tapi untuk tetap hidup di tengahnya."
Dia mengutip Toni Morrison: "This is precisely the time when artists go to work. There is no time for despair, no place for self-pity, no need for silence, no room for fear."
Tawa di Pemakaman
Salah satu essai paling moving adalah tentang pemakaman temannya.
Gay menghadiri pemakaman. Suasana sedih, orang menangis. Tapi di tengah-tengahnya, seseorang menceritakan cerita lucu tentang almarhum—sesuatu yang bodoh yang pernah dia lakukan yang membuat semua orang tertawa.
Dan tiba-tiba, di ruangan penuh kesedihan, ada tawa. Tawa yang keras, tawa yang healing.
Gay menulis: "Tawa itu tidak menghapus kesedihan. Tapi dia mengingatkan kita bahwa temannya hidup dengan penuh. Bahwa dia membuat kita tertawa. Bahwa cinta dan kegembiraan tetap ada, bahkan ketika orang yang kita cintai tidak ada lagi."
Pelajaran kesembilan: Delight bukan pengganti kesedihan. Keduanya bisa hidup berdampingan. Dan faktanya, sering kali delight paling dalam datang di tengah kesulitan.
Bagian 6: Praktik Harian Mencari Kegembiraan
Bagaimana Mulai Praktik Anda Sendiri
Ross Gay tidak pernah bilang Anda harus menulis essai setiap hari. Tapi dia mengajak kita untuk memperhatikan.
Beberapa cara sederhana untuk memulai:
1. "Hari Ini Saya Menemukan Delight Dalam..."
Setiap malam sebelum tidur, sebutkan satu hal—hanya satu—yang memberikan Anda kegembiraan hari ini. Bisa sangat sederhana:
● Kopi pagi yang pas suhunya
● Kucing tetangga yang lewat
● Lagu di radio yang Anda suka
● Orang yang membukakan pintu untuk Anda
2. Perlambat
Delight membutuhkan waktu. Anda tidak bisa rush dan menemukan kegembiraan.
Gay menulis: "Kita terlalu cepat. Kita makan sambil jalan. Kita scroll phone sambil ngobrol. Kita tidak pernah benar-benar hadir. Dan delight butuh presence."
Praktik: Pilih satu aktivitas sehari—makan, jalan kaki, minum teh—dan lakukan dengan perhatian penuh. Tidak ada multitasking. Hanya itu.
3. Perhatikan Orang
Sebagian besar delight Ross Gay datang dari mengamati orang lain dengan kelembutan.
Praktik: Di tempat umum—cafe, bus, taman—amati orang. Bukan dengan judgment, tapi dengan curiosity dan kelembutan. Lihat kemanusiaan mereka. Bayangkan cerita mereka.
4. Berbagi Delight
Gay sering menulis tentang bagaimana delight berlipat ganda ketika dibagikan.
Praktik: Ketika Anda menemukan sesuatu yang indah—pemandangan, makanan enak, lagu bagus—bagikan dengan seseorang. "Hey, lihat ini!" Berbagi kegembiraan menciptakan koneksi.
5. Berterima Kasih pada Hal Kecil
Gay secara konsisten berterima kasih pada hal-hal yang kita anggap granted: kaki, jantung, matahari, air.
Praktik: Setiap hari, ucapkan terima kasih (bahkan dalam hati) pada sesuatu yang biasanya tidak Anda perhatikan. "Terima kasih, kaki, sudah membawa saya hari ini."
Bagian 7: Filosofi Delight
Delight Sebagai Resistensi
Salah satu ide paling powerful dalam buku ini adalah: dalam dunia yang ingin membuat kita putus asa, memilih kegembiraan adalah tindakan resistensi.
Ross Gay menulis: "Sistem yang menindas kita bergantung pada keputusasaan kita. Mereka ingin kita merasa powerless, sendirian, hancur. Ketika kita menemukan delight—terutama bersama orang lain—kita melawan."
Delight mengingatkan kita bahwa:
● Kita masih hidup
● Masih ada keindahan
● Masih ada koneksi
● Masih ada harapan
"Dan selama ada harapan, ada perlawanan."
Delight Adalah Praktik Komunitas
Gay berulang kali menekankan bahwa delight paling kuat adalah yang dibagikan.
"Kegembiraan yang saya rasakan sendirian adalah indah. Tapi kegembiraan yang saya rasakan dengan orang lain—ketika kita tertawa bersama, makan bersama, berkebun bersama—itu yang mengubah saya."
Dia menulis tentang bagaimana kapitalisme dan individualisme membuat kita terisolasi. "Tapi delight mengingatkan kita: kita makhluk komunal. Kita tumbuh bersama."
Delight dan Kematian
Di akhir buku, Gay refleksi tentang hubungan antara delight dan mortalitas.
"Semua delight saya—buah plum, pelukan, tawa, lebah—semuanya sementara. Tidak ada yang bertahan selamanya. Dan mungkin justru karena itu, delight begitu precious."
Dia mengutip Mary Oliver: "Doesn't everything die at last, and too soon?"
Tapi alih-alih membuat kita sedih, kesadaran akan kematian membuat delight lebih intens.
"Karena saya tahu buah plum ini tidak akan ada selamanya, saya makan dengan lebih sadar. Karena saya tahu teman saya tidak abadi, saya peluk lebih erat. Delight adalah cara hidup dengan awareness penuh bahwa semua ini gift—dan gift tidak bertahan selamanya."
Penutup: Undangan untuk Hidup dengan Delight
Di essai terakhirnya, Ross Gay menulis:
"Proyek kecil saya—menulis tentang delight setiap hari—mengubah cara saya hidup. Saya lebih perhatian. Lebih grateful. Lebih connected. Tidak karena dunia berubah. Tapi karena cara saya melihat dunia berubah."
Dia mengakui buku ini tidak sempurna. Beberapa essai lebih baik dari yang lain. Beberapa hari dia struggling untuk menemukan delight. "Tapi itu justru poinnya. Ini bukan tentang sempurna. Ini tentang mencoba."
Pertanyaan untuk Anda
Sekarang saya ingin mengajak Anda:
Hari ini, apa yang memberikan Anda delight?
Mungkin:
● Senyum seseorang yang tidak Anda kenal
● Cahaya yang indah di sore hari
● Makanan yang rasanya pas
● Suara hujan di atap
● Momen ketika Anda tidak terburu-buru
● Tawa anak kecil
● Bau kopi
● Pelukan yang lama
● Sesuatu yang sangat kecil yang biasanya tidak Anda perhatikan
Tidak ada yang terlalu kecil untuk dicatat. Tidak ada yang terlalu "trivial" untuk disyukuri.
Seperti yang Ross Gay tunjukkan selama satu tahun penuh: kehidupan penuh dengan kegembiraan kecil. Kita hanya perlu memilih untuk melihat.
Dan ketika kita mulai melihat, sesuatu yang ajaib terjadi: semakin banyak kita cari delight, semakin banyak kita temukan. Seperti otot yang menguat, seperti mata yang terbiasa dengan cahaya.
Dunia tidak berubah. Tapi kita berubah. Dan itu membuat semua perbedaan.
Tantangan Sederhana
Jika Anda ingin memulai praktik Anda sendiri:
Ambil buku catatan kecil (atau note di ponsel). Setiap hari selama seminggu, catat satu hal yang memberi Anda delight. Tidak perlu panjang. Satu kalimat cukup.
"Hari ini: tukang sayur di pasar yang senyum ramah ketika kasih saya mangga yang paling matang."
"Hari ini: kucing tetangga yang tidur di depan rumah saya, percaya dunia aman."
"Hari ini: hujan deras yang membuat saya harus berhenti dan hanya mendengarkan."
Lakukan selama seminggu. Lihat apa yang terjadi.
Saya berani jamin: Anda akan mulai melihat dunia berbeda.
Karena seperti yang Ross Gay buktikan dengan 102 essai penuh kelembutan ini:
Delight ada di mana-mana. Kita hanya perlu memperhatikan.
Dan memperhatikan—benar-benar hadir, benar-benar melihat, benar-benar merasakan—adalah salah satu gift terbesar yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri dan dunia.
Jadi, apa delight Anda hari ini?
Tentang Buku Asli
"The Book of Delights" diterbitkan tahun 2019 dan langsung menjadi bestseller serta favorit book clubs di seluruh dunia.
Ross Gay adalah penyair pemenang penghargaan, profesor di Indiana University, dan pendiri Bloomington Community Orchard—proyek kebun komunitas yang mewujudkan filosofi berbagi dan koneksi yang dia tulis dalam buku ini.
Gaya penulisan Gay sangat khas: hangat, rambling, penuh humor, dan sangat manusiawi. Dia tidak menulis seperti guru yang mengajar, tapi seperti teman yang berbagi observasi dengan Anda di atas kopi.
Buku ini berbeda dari self-help tradisional karena tidak memberikan langkah-langkah atau formula. Ini lebih seperti undangan: "Lihat bagaimana saya melihat dunia. Mungkin Anda juga ingin mencoba?"
Buku lainnya dari Ross Gay:
● "Catalog of Unabashed Gratitude" (puisi)
● "Be Holding" (puisi)
● "Inciting Joy" (essai, semacam sekuel spiritual dari Book of Delights)
Untuk pengalaman lengkap dengan 102 essai yang penuh kelembutan, humor, dan wisdom, sangat disarankan membaca buku aslinya. Setiap essai adalah gift kecil. Dan membacanya secara perlahan—satu essai per hari—adalah cara terbaik untuk menyerap filosofi delight.
Sekarang tutup ringkasan ini.
Angkat kepala. Lihat sekeliling.
Apa yang Anda lihat yang indah? Yang membuat Anda tersenyum, meskipun kecil?
Itu delight Anda.
Dan itu cukup.
Live delightfully.

