The Comfort of Crows

Margaret Renkl


Seekor Gagak di Pagi Hari 

Bayangkan ini: Pagi masih gelap. Kopi di tangan masih mengepulkan uap. Anda berdiri di dekat jendela dapur, memandang ke halaman belakang yang mulai menyingsing cahaya fajar. 

Lalu Anda melihatnya—seekor gagak hitam besar hinggap di cabang pohon ek tua. Dia tidak melakukan apa-apa yang spektakuler. Hanya duduk di sana, kepala bergerak ke kiri dan kanan, memperhatikan dunia yang bangun. 

Kebanyakan orang akan kembali ke kopi mereka. Kembali ke ponsel. Kembali ke daftar tugas yang menunggu. 

Tapi Margaret Renkl berhenti. Dia memperhatikan. 

Dan dalam perhatian itu—dalam kesediaan untuk benar-benar melihat seekor gagak di pagi hari—dia menemukan sesuatu yang kita semua butuhkan tapi jarang kita temukan: penghiburan

"The Comfort of Crows" bukanlah buku tentang burung, meskipun burung ada di setiap halamannya. Ini bukan buku tentang berkebun, meskipun kebun adalah tempatnya. Ini juga bukan sekadar memoir, meskipun penuh dengan kenangan tentang orang-orang yang dicintai. 

Buku ini adalah tentang sesuatu yang lebih fundamental: Bagaimana kita bertahan di dunia yang terus berubah dan penuh kehilangan. 

Dan jawabannya, Renkl menemukan, ada di hal-hal kecil yang sering kita lewatkan—burung gagak di pagi hari, kupu-kupu di taman, suara anak-anak tertawa di jarak jauh, kenangan ibumu memasak di dapur. 

Di tengah kematian orang tua, perubahan iklim yang mengkhawatirkan, dan dunia yang terasa semakin terpecah—Renkl menemukan bahwa penghiburan sejati datang dari memperhatikan

Mari kita pelajari bagaimana.

 


Bagian 1: Halaman Belakang Sebagai Dunia

Belajar Melihat 

Margaret Renkl tinggal di Nashville, Tennessee, di rumah biasa dengan halaman belakang biasa. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada pemandangan pegunungan. Tidak ada pantai eksotis. Hanya halaman dengan beberapa pohon, semak, dan rumput. 

Tapi Renkl melihat halaman ini sebagai alam semesta kecil—ekosistem lengkap dengan drama, keindahan, dan pelajaran kehidupan. 

Setiap pagi, dia keluar dengan secangkir kopi. Dia memperhatikan: 

● Burung gagak yang datang dengan jadwal yang sama 

● Kardinal merah yang bersarang di semak holly 

● Tupai yang menyimpan kacang untuk musim dingin 

● Lebah yang mengunjungi bunga liar 

● Sikada yang bernyanyi di musim panas 

● Daun yang berubah warna di musim gugur 

Dia tidak hanya melihat—dia memperhatikan. Ada perbedaan besar. 

Melihat adalah: "Oh, ada burung." 

Memperhatikan adalah: "Itu adalah sepasang kardinal. Yang jantan memberi makan yang betina. Mereka membangun sarang di tempat yang sama seperti tahun lalu. Telur mereka akan menetas dalam dua minggu." 

Renkl menulis: "Dunia penuh dengan keajaiban kecil yang tidak akan pernah kita lihat jika kita tidak berhenti untuk memperhatikan." 

Ritme Musim 

Salah satu tema kuat dalam buku ini adalah ritme musim—bagaimana alam bergerak dalam siklus yang dapat diprediksi, yang memberikan rasa keteraturan di dunia yang sering terasa kacau. 

Musim semi: Burung kembali dari migrasi. Bunga bermekaran. Kehidupan baru dimulai. Tapi juga—lebah mulai berkurang jumlahnya setiap tahun. Suara burung tidak sekeras dulu. Musim semi datang lebih cepat karena perubahan iklim. 

Musim panas: Panas yang meningkat. Kekeringan yang lebih panjang. Tapi juga—kunang-kunang di malam hari. Tomat matang di kebun. Cucu-cucu bermain di halaman.

Musim gugur: Daun berubah warna. Burung bermigrasi ke selatan. Persiapan untuk musim dingin. Waktu refleksi dan melepaskan. 

Musim dingin: Segalanya tertidur. Tapi tidak mati—hanya beristirahat. Menunggu untuk kembali hidup. 

Renkl menemukan penghiburan dalam siklus ini. Bahkan ketika sesuatu berakhir, itu akan kembali. Mungkin tidak persis sama. Tapi kehidupan menemukan jalan.

 


Bagian 2: Kehilangan yang Mengajarkan 

Kepergian Orang Tua 

Bagian paling menyentuh dari buku ini adalah refleksi Renkl tentang kehilangan kedua orang tuanya—ayahnya beberapa tahun sebelumnya, dan ibunya lebih baru. 

Ibunya adalah figur sentral dalam buku. Seorang wanita dari Alabama, generasi yang berbeda, dengan nilai-nilai dan cara hidup yang berbeda. Tapi cintanya kepada anak-anaknya—dan terutama kepada alam—membentuk siapa Renkl sekarang. 

Renkl menulis tentang hari-hari terakhir ibunya. Tentang bagaimana dia duduk di samping tempat tidur rumah sakit, memegang tangan yang mulai dingin. Tentang bagaimana dia berbicara tentang burung-burung di luar jendela, meskipun ibunya tidak lagi bisa merespons. 

"Ibu, lihat—ada kardinal di pohon. Kamu ingat kardinal yang bersarang di halaman rumah dulu?" 

Tidak ada jawaban. Hanya napas yang semakin pelan. 

Kematian, Renkl menyadari, adalah bagian alami dari siklus—seperti musim gugur yang memberi jalan pada musim dingin. Tapi memahami itu secara intelektual berbeda dengan merasakannya di hati. 

Duka yang Tidak Linear 

Salah satu insight terpenting Renkl tentang kehilangan: Duka tidak berjalan dalam garis lurus. 

Orang sering berpikir duka punya tahapan yang rapi—penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, penerimaan. Tapi kenyataannya? 

Anda bisa merasa baik-baik saja selama berminggu-minggu, lalu tiba-tiba menangis karena mendengar lagu yang ibu Anda suka. Anda bisa tertawa dengan teman-teman, lalu pulang dan merasa kehilangan yang menghancurkan. 

Renkl menulis: "Duka datang dalam gelombang. Kadang ombaknya kecil—hanya riak yang membuat Anda berhenti sebentar. Kadang ombaknya besar—menghantam dan membuat Anda tidak bisa bernapas." 

Tapi ada penghiburan dalam memahami ini. Anda tidak harus "melewatinya" dengan cara tertentu. Anda hanya perlu bertahan. Dan mencari momen-momen kecil penghiburan di antaranya. 

Memori Sebagai Hadiah

Ketika orang yang kita cintai pergi, apa yang tersisa? 

Memori. 

Renkl mengisi buku dengan memori tentang orang tuanya: 

● Ayahnya mengajarinya nama-nama burung 

● Ibunya memasak di dapur, selalu ada makanan untuk tamu yang datang

● Berkebun bersama di halaman 

● Cerita-cerita tentang masa kecil di Alabama 

● Nilai-nilai yang mereka tanamkan tanpa kata-kata 

Dia menyadari: "Orang yang kita cintai tidak benar-benar pergi selama kita masih ingat mereka. Mereka hidup dalam kebiasaan kita, dalam nilai-nilai kita, dalam cara kita melihat dunia." 

Setiap kali Renkl memberi makan burung di halaman, dia melakukan ritual yang dia pelajari dari ayahnya. Setiap kali dia memasak, dia menggunakan resep yang dia pelajari dari ibunya. 

Memori adalah jembatan antara masa lalu dan sekarang. Dan dalam arti tertentu, cara kita membiarkan orang yang kita cintai tetap hidup.

 


Bagian 3: Gagak—Guru yang Tidak Terduga

Mengapa Gagak? 

Judulnya adalah "The Comfort of Crows"—Penghiburan dari Gagak. Tapi mengapa gagak? 

Gagak sering dipandang sebagai burung yang menakutkan. Hitam. Dikaitkan dengan kematian. Suara mereka keras dan tidak merdu seperti burung penyanyi lainnya. 

Tapi Renkl melihat sesuatu yang lain dalam gagak: kecerdasan, loyalitas, dan kemampuan bertahan. 

Gagak adalah salah satu burung paling cerdas di dunia. Mereka menggunakan alat. Mereka mengingat wajah manusia. Mereka mengajar anak-anak mereka. Mereka bermain—bukan untuk tujuan, hanya untuk kesenangan. 

Dan yang paling penting: Gagak mengingat kematian. 

Ketika seekor gagak mati, gagak lain berkumpul di sekitar tubuhnya—apa yang para ilmuwan sebut "funeral gagak." Mereka tampak berduka. Mereka memanggil dengan suara yang berbeda. Mereka menandai tempat itu dan menghindarinya untuk sementara waktu. 

Renkl menemukan sesuatu yang menghibur dalam ini: "Bahkan hewan memahami kehilangan. Bahkan mereka berduka. Kita tidak sendirian dalam kesedihan kita." 

Pelajaran dari Gagak 

Apa yang gagak ajarkan pada Renkl—dan pada kita? 

1. Komunitas adalah kunci bertahan 

Gagak tidak hidup sendiri. Mereka hidup dalam kelompok keluarga besar. Mereka saling membantu. Ketika ada bahaya, mereka memperingatkan yang lain. Ketika ada makanan, mereka berbagi (kadang-kadang). 

Di dunia yang semakin individualistis, gagak mengingatkan kita: kita membutuhkan satu sama lain. 

2. Kecerdasan adalah tentang adaptasi 

Gagak bertahan di mana-mana—kota, desa, hutan, gurun—karena mereka bisa beradaptasi. Ketika satu sumber makanan hilang, mereka menemukan yang lain. Ketika habitat berubah, mereka menyesuaikan diri. 

Dalam kehidupan yang terus berubah, kita juga harus belajar fleksibel.

3. Kehadiran adalah hadiah 

Gagak tidak khawatir tentang masa lalu atau masa depan. Mereka hadir—mencari makan, bermain, berinteraksi dengan dunia apa adanya. 

Renkl menulis: "Mungkin ini pelajaran terbesar dari gagak: Jadilah di sini sekarang. Tidak di masa lalu yang tidak bisa diubah. Tidak di masa depan yang tidak bisa diprediksi. Tapi di sini—dalam momen ini—yang adalah satu-satunya momen yang benar-benar kita miliki."

 


Bagian 4: Alam di Tengah Krisis 

Keprihatinan tentang Masa Depan 

Renkl tidak menghindari kenyataan pahit: Alam sedang dalam krisis. 

Setiap tahun, dia melihat lebih sedikit burung. Lebah menghilang. Musim bergeser dengan cara yang tidak dapat diprediksi. Panas ekstrem. Kekeringan. Banjir. Kebakaran hutan. 

Sebagai seorang ibu dan nenek, dia khawatir: Dunia seperti apa yang akan diwariskan pada anak-anak dan cucu-cucunya? 

Dia menulis tentang cucu-cucunya bermain di halaman dan bertanya-tanya: "Apakah mereka akan memiliki kunang-kunang seperti yang saya miliki? Apakah mereka akan mendengar koor burung di pagi hari? Atau apakah semua itu akan menjadi memori masa lalu?" 

Keprihatinan ini nyata dan menyakitkan. Dan kadang-kadang, overwhelming.

Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Dalam menghadapi krisis yang begitu besar, mudah merasa tidak berdaya. "Apa bedanya jika saya melakukan sesuatu? Saya hanya satu orang." 

Tapi Renkl menawarkan perspektif yang berbeda: Lakukan apa yang Anda bisa, di mana Anda berada, dengan apa yang Anda punya. 

Dia tidak bisa menghentikan perubahan iklim sendirian. Tapi dia bisa: 

● Menanam tanaman asli yang mendukung satwa liar lokal 

● Tidak menggunakan pestisida di kebunnya 

● Menyediakan air untuk burung dan lebah 

● Membiarkan sebagian halaman tumbuh liar untuk serangga 

● Mengajar cucu-cucunya untuk mencintai dan menghormati alam 

Apakah ini cukup untuk menyelamatkan planet? Tidak. 

Tapi apakah ini berarti? Ya. Sangat berarti. 

Renkl menulis: "Kita tidak bisa melakukan segalanya. Tapi kita bisa melakukan sesuatu. Dan kadang-kadang, melakukan sesuatu—betapapun kecilnya—adalah apa yang membuat kita tetap memiliki harapan."

 


Bagian 5: Komunitas dan Koneksi 

Lebih dari Sekadar Aku 

Salah satu tema yang berulang dalam buku ini: Kita tidak hidup dalam isolasi.

Setiap tindakan kita—sekecil apapun—memiliki efek riak: 

● Anda menanam pohon: 50 tahun dari sekarang, burung akan bersarang di sana

● Anda bersikap baik pada tetangga: mereka akan meneruskan kebaikan itu

● Anda memperhatikan alam: Anda mengajari anak-anak untuk melakukan hal yang sama 

Renkl menulis tentang komunitasnya—tetangga yang mengenal satu sama lain, yang saling membantu, yang berbagi hasil kebun, yang peduli. 

Di era media sosial yang penuh perselisihan dan divisi, hal-hal sederhana ini—koneksi nyata dengan orang-orang di sekitar kita—menjadi sangat penting. 

Warisan yang Kita Tinggalkan 

Apa yang akan kita tinggalkan setelah kita pergi? 

Renkl merenungkan ini ketika berpikir tentang orang tuanya. Mereka tidak meninggalkan kekayaan besar. Tidak ada monumen. Tapi mereka meninggalkan sesuatu yang lebih berharga: 

● Anak-anak yang mencintai alam 

● Cucu-cucu yang tahu cara berkebun 

● Memori tentang kebaikan dan cinta 

● Nilai-nilai yang diturunkan dari generasi ke generasi 

Renkl menulis: "Mungkin ini adalah cara kita menjadi abadi—bukan dalam nama kita di batu nisan, tapi dalam cara kita hidup terus dalam orang-orang yang kita cintai dan ajarkan."

 


Bagian 6: Menemukan Keindahan di Tengah Kesedihan

Dua Kebenaran Sekaligus 

Salah satu wisdom terbesar dari buku ini: Dua hal yang tampaknya bertentangan bisa benar pada waktu yang sama. 

Anda bisa sedih kehilangan seseorang DAN bersyukur untuk waktu yang Anda miliki bersama. 

Anda bisa khawatir tentang masa depan planet DAN menemukan kegembiraan dalam matahari pagi. 

Anda bisa mengakui bahwa dunia penuh dengan penderitaan DAN tetap percaya bahwa ada kebaikan dan keindahan. 

Renkl tidak menawarkan optimisme palsu. Dia tidak berkata, "Semuanya akan baik-baik saja!" Karena kita tidak tahu itu. 

Tapi dia berkata: "Bahkan di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ada momen-momen keindahan. Dan momen-momen itu penting. Mereka cukup untuk membuat kita tetap melangkah." 

Praktik Perhatian 

Bagaimana kita menemukan momen-momen keindahan ini? 

Dengan memperhatikan

Ini adalah praktik spiritual yang tidak memerlukan agama, meditasi formal, atau retreat mahal. Hanya ini: 

● Berhenti sebentar 

● Lihat di sekitar Anda 

● Perhatikan satu hal—burung, bunga, awan, wajah anak Anda 

● Benar-benar hadir untuk hal itu 

Renkl melakukan ini setiap pagi dengan kopinya. 10-15 menit memperhatikan halaman belakangnya. Tidak ada agenda. Tidak ada tujuan. Hanya hadir. 

Dan dalam momen-momen itu, dia menemukan kedamaian.

 


Bagian 7: Kebijaksanaan Hal-Hal Kecil 

Lupakan Pencarian Hal Besar 

Kita hidup dalam budaya yang terobsesi dengan HAL BESAR: 

● Kesuksesan besar 

● Pencapaian besar 

● Pengalaman spektakuler 

● Momen mengubah hidup 

Tapi Renkl menawarkan jalan yang berbeda: Kehidupan yang bermakna dibangun dari hal-hal kecil. 

Bukan liburan mahal ke tempat eksotis—tapi pagi yang dihabiskan di halaman belakang.

Bukan promosi besar—tapi pekerjaan harian yang dilakukan dengan perhatian.

Bukan grand gesture—tapi kebaikan kecil yang konsisten. 

Renkl menulis: "Kita mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Kita pikir itu ada di sesuatu yang besar, yang luar biasa, yang jauh. Tapi kebahagiaan sejati—penghiburan sejati—ada di hal-hal biasa yang kita lewatkan setiap hari." 

Kekayaan yang Tersembunyi 

Di halaman belakangnya, Renkl menemukan: 

● Drama burung yang mempertahankan sarang dari predator 

● Keindahan embun pagi di jaring laba-laba 

● Pelajaran tentang komunitas dari koloni semut 

● Kedamaian dari suara angin di dedaunan 

Semua gratis. Semua tersedia. Jika kita mau memperhatikan. 

Dia menulis: "Saya hidup dalam kekayaan yang tidak saya sadari selama bertahun-tahun. Bukan kekayaan uang. Tapi kekayaan keindahan, koneksi, dan kehidupan yang terjadi tepat di luar pintu saya."

 


Penutup: Apa yang Gagak Ajarkan pada Kita

Margaret Renkl menutup buku dengan refleksi sederhana tapi profound: 

Setiap pagi, gagak kembali. Tidak peduli cuaca buruk. Tidak peduli musim dingin atau musim panas. Mereka kembali karena itu yang mereka lakukan—mereka bertahan, mereka hidup, mereka hadir. 

Dan mungkin itu pelajaran terbesarnya: Dalam menghadapi kehilangan, perubahan, dan ketidakpastian—kita terus muncul. Kita terus hadir. Kita terus memperhatikan. 

Ringkasan Pelajaran Utama 

1. Perhatikan hal-hal kecil - Keajaiban ada di sekitar kita jika kita mau melihat 

2. Duka adalah bagian dari cinta - Kita berduka karena kita pernah mencintai, dan itu adalah hadiah 

3. Komunitas adalah kunci bertahan - Kita membutuhkan satu sama lain—manusia dan alam 

4. Lakukan apa yang bisa Anda lakukan - Tindakan kecil penting, bahkan jika tidak mengubah segalanya 

5. Hadiah hadir - Momen ini adalah satu-satunya yang benar-benar kita miliki 

6. Keindahan dan kesedihan bisa hidup berdampingan - Kehidupan tidak harus sempurna untuk bermakna 

7. Warisan adalah bagaimana kita hidup - Kita hidup terus dalam apa yang kita ajarkan dan berikan 

Undangan untuk Anda 

Besok pagi, sebelum Anda memeriksa ponsel atau memikirkan daftar tugas, lakukan ini:

Berdiri di dekat jendela. Atau keluar sebentar. Dengan kopi atau teh di tangan.

Lalu perhatikan

Lihat satu hal—pohon, burung, awan, cahaya matahari di tanah. 

Berikan waktu Anda untuk hal itu. Lima menit. Hanya lihat.

Tidak ada yang harus terjadi. Tidak ada insight mendalam yang harus datang. Hanya hadir untuk momen itu. 

Mungkin Anda akan menemukan apa yang Margaret Renkl temukan: Dalam perhatian sederhana pada dunia di sekitar kita, ada penghiburan yang tidak bisa kita temukan di tempat lain. 

Seperti yang dia tulis: "Burung gagak datang setiap pagi, dan dalam kesetiaan sederhana itu—dalam ketekunan mereka untuk hidup—saya menemukan alasan untuk terus melangkah." 

Alam tidak menjanjikan kita kebahagiaan tanpa akhir. Tapi ia menawarkan sesuatu yang lebih dapat diandalkan: Kehadiran. Ritme. Siklus kehidupan yang terus berlanjut. 

Dan kadang-kadang, itu cukup.

 


Tentang Buku dan Penulis 

"The Comfort of Crows: A Backyard Year" diterbitkan pada tahun 2023 dan dengan cepat menjadi bestseller. Dilengkapi dengan ilustrasi indah dari Billy Renkl, saudara lelaki penulis. 

Margaret Renkl adalah kolumnis kontributor untuk The New York Times dan penulis "Late Migrations" (2019). Tulisannya sering mengeksplorasi intersection antara alam, keluarga, dan kehidupan di American South. Dia tinggal di Nashville dengan suaminya dan merupakan ibu dari dua anak dewasa serta nenek dari beberapa cucu. 

Gaya penulisannya yang liris, intim, dan penuh empati telah menyentuh hati pembaca di seluruh dunia. Dia menulis dengan kejujuran tentang kehilangan, dengan keheranan tentang alam, dan dengan harapan tentang kemungkinan menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari. 

Untuk pengalaman lengkap dengan ilustrasi indah dan detail observasi yang kaya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi dari karya yang layak dibaca perlahan, direnungkan, dan dihargai sebagai undangan untuk memperlambat dan memperhatikan dunia di sekitar kita. 

Sekarang pergilah ke jendela Anda. Lihat ke luar. Dan perhatikan. 

Mungkin ada gagak di sana, menunggu untuk mengajari Anda sesuatu tentang bertahan, tentang komunitas, tentang keindahan hidup yang terus berlanjut. 

Karena seperti yang Renkl tunjukkan pada kita: Penghiburan tidak datang dari menghindari kesedihan. Ia datang dari hadir penuh—untuk kegembiraan DAN kesedihan—dan menemukan keindahan yang tersembunyi di keduanya.