The Vulnerable Humanitarian

Larissa Fast


Serangan di Muttur 

22 Agustus 2006. Muttur, Sri Lanka. 

Tujuh belas pekerja Action Against Hunger—sebuah organisasi kemanusiaan internasional—sedang bekerja di kantor mereka. Mereka datang untuk membantu penduduk setempat yang menderita akibat konflik berkepanjangan antara pemerintah Sri Lanka dan pemberontak Tamil Tigers. 

Mereka tidak bersenjata. Mereka tidak berpihak. Mereka hanya membawa bantuan makanan, air, dan harapan untuk masyarakat yang terluka oleh perang. 

Lalu sekelompok pria bersenjata masuk. 

Dalam hitungan menit, tujuh belas orang itu ditembak mati. Eksekusi brutal. Tidak ada peringatan. Tidak ada negosiasi. Hanya peluru. 

Berita ini mengguncang dunia kemanusiaan. Tapi yang lebih mengejutkan adalah ini: Mereka bukan yang pertama. Dan bukan yang terakhir. 

Larissa Fast, peneliti keamanan kemanusiaan yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari kekerasan terhadap pekerja bantuan, mengungkap kebenaran yang mengganggu: 

Pekerja kemanusiaan—dokter, perawat, distribusi makanan, ahli air bersih—yang dulunya dianggap "tidak tersentuh" di zona konflik, kini menjadi target. 

Dari Afghanistan ke Somalia, dari Sudan ke Suriah, ceritanya sama: orang-orang yang datang untuk membantu justru diserang, diculik, dibunuh. 

Mengapa ini terjadi? Dan yang lebih penting: Apa yang bisa dilakukan? 

"The Vulnerable Humanitarian" bukan sekadar buku tentang statistik kematian. Ini adalah pembongkaran terhadap asumsi-asumsi lama tentang netralitas, keamanan, dan kerja kemanusiaan di abad ke-21.

Mari kita masuk ke dalam dunia yang berbahaya ini—dan memahami bagaimana melindungi mereka yang mencoba melindungi orang lain.

 


Bagian 1: Angka-Angka yang Menceritakan Tragedi

Tren yang Mengkhawatirkan 

Larissa Fast memulai dengan data yang tidak bisa diabaikan: 

Antara tahun 1997 dan 2005, rata-rata 77 pekerja kemanusiaan diserang setiap tahunnya—dibunuh, terluka, atau diculik. 

Antara tahun 2006 dan 2010, angka itu melonjak menjadi rata-rata 270 per tahun.

Kenaikan lebih dari 250%. 

Bukan karena ada lebih banyak pekerja di lapangan. Bukan karena mereka lebih sembrono. Tapi karena aturan main telah berubah. 

Siapa yang Menjadi Korban? 

Ketika kita membayangkan pekerja kemanusiaan, kita sering memikirkan orang asing Barat dengan rompi berlabel PBB. Tapi realitasnya sangat berbeda: 

Lebih dari 80% korban adalah pekerja lokal—orang-orang dari negara tempat mereka bekerja. Penerjemah. Sopir. Perawat lokal. Staf administrasi. 

Mereka bukan selebriti internasional yang akan membuat headline jika diculik. Mereka adalah ayah, ibu, anak-anak yang bekerja untuk membantu komunitasnya sendiri—dan membayarnya dengan nyawa. 

Fast menulis: "Kematian mereka jarang mendapat perhatian media internasional. Tapi mereka adalah tulang punggung kerja kemanusiaan." 

Geografi Kekerasan 

Di mana serangan ini terjadi? 

Top 5 negara paling berbahaya untuk pekerja kemanusiaan: 

1. Afghanistan 

2. Somalia 

3. Sudan/Sudan Selatan 

4. Pakistan 

5. Republik Demokratik Kongo 

Tapi yang mengkhawatirkan: daftar ini terus bertambah. Suriah, Yaman, Republik Afrika Tengah—semua menjadi zona merah.

Tidak ada benua yang aman. Tidak ada konflik yang "terlalu kecil" untuk kekerasan terhadap pekerja bantuan.

 


Bagian 2: Runtuhnya Mitos Netralitas 

Keyakinan Lama yang Berbahaya 

Selama puluhan tahun, komunitas kemanusiaan beroperasi dengan asumsi fundamental:

"Jika kita netral, tidak berpihak, dan hanya fokus pada kemanusiaan—kita akan aman." 

Lambang Palang Merah. Bendera PBB. Emblem organisasi kemanusiaan. Semua ini dianggap sebagai "pelindung"—tanda bahwa "kami bukan musuh, kami di sini untuk membantu." 

Tapi Fast membuktikan: Mitos ini sudah runtuh. 

Tiga Alasan Netralitas Tidak Lagi Melindungi 

1. Perang telah berubah 

Konflik abad ke-20 sebagian besar adalah perang antar negara dengan tentara reguler. Ada aturan perang—Geneva Conventions yang melindungi non-kombatan. 

Konflik abad ke-21 adalah perang sipil, pemberontakan, terorisme, kelompok bersenjata yang tidak mengikuti aturan internasional. Bagi mereka, tidak ada yang netral. Anda bersama mereka atau melawan mereka. 

2. Bantuan sebagai sumber daya 

Di zona konflik, bantuan kemanusiaan adalah komoditas berharga. Makanan, obat-obatan, kendaraan—semua ini bernilai tinggi. 

Kelompok bersenjata melihat organisasi kemanusiaan bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai target untuk dirampok atau pajak. 

Fast menceritakan kasus di Somalia: kelompok militan memaksa organisasi kemanusiaan membayar "biaya keamanan" (pada dasarnya pemerasan) untuk beroperasi. Jika organisasi menolak, pekerja mereka diculik atau dibunuh. 

3. Politisasi bantuan 

Ketika pemerintah atau kelompok tertentu menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai alat politik—"kita hanya memberi bantuan ke area yang mendukung kita"—netralitas organisasi dipertanyakan. 

Di Afghanistan, ketika militer AS mendistribusikan bantuan sebagai bagian dari strategi "hearts and minds", organisasi kemanusiaan tiba-tiba dilihat sebagai perpanjangan tangan militer Barat—meskipun mereka independen.

Hasil: Serangan terhadap pekerja kemanusiaan meningkat drastis.

 


Bagian 3: Acceptance vs Protection—Dua Filosofi Keamanan 

Larissa Fast mengidentifikasi dua paradigma keamanan yang digunakan organisasi kemanusiaan: 

Acceptance (Penerimaan) 

Filosofi: Bekerja dengan komunitas lokal, membangun kepercayaan, menjadi bagian dari masyarakat. Jika masyarakat menerima Anda, mereka akan melindungi Anda. 

Strategi

● Merekrut staf lokal 

● Berkonsultasi dengan pemimpin komunitas 

● Transparan tentang program dan tujuan 

● Hidup di antara orang-oang yang Anda bantu 

● Tidak memakai penjaga bersenjata 

Kelebihan

● Akses lebih baik ke komunitas terpencil 

● Informasi lebih baik tentang kebutuhan lokal 

● Biaya lebih rendah 

● Hubungan lebih dalam dengan masyarakat 

Kelemahan

● Membutuhkan waktu lama untuk membangun kepercayaan 

● Tidak efektif jika konflik sangat volatile 

● Rentan jika dinamika politik berubah tiba-tiba 

Protection (Perlindungan) 

Filosofi: Gunakan langkah keamanan fisik untuk melindungi staf. Jika Anda cukup kuat, penyerang akan berpikir dua kali. 

Strategi: 

● Kendaraan berlapis baja 

● Penjaga bersenjata 

● Compound dengan tembok tinggi dan kawat berduri 

● Komunikasi radio terenkripsi 

● Pembatasan pergerakan staf

Kelebihan

● Perlindungan langsung terhadap ancaman fisik 

● Respons cepat terhadap situasi berbahaya 

● Memberikan rasa aman kepada staf internasional 

Kelemahan

● Biaya sangat tinggi 

● Menciptakan jarak dengan komunitas lokal 

● Membuat organisasi terlihat seperti target yang "berharga" 

● Bisa dilihat sebagai tidak percaya pada masyarakat lokal 

Paradoks yang Menyakitkan 

Inilah dilema: Langkah keamanan yang melindungi staf bisa merusak misi kemanusiaan itu sendiri. 

Fast menceritakan cerita seorang pekerja kemanusiaan di Afghanistan: 

"Kami datang untuk membantu. Tapi sekarang kami tinggal di compound seperti penjara—tembok tinggi, kawat berduri, penjaga bersenjata. Anak-anak lokal tidak bisa mendekati kami. Ibu-ibu takut datang ke klinik kami karena terlihat seperti instalasi militer. 

Kami selamat. Tapi apakah kami masih efektif? Jika orang yang kami coba bantu takut datang, apa gunanya kami di sini?" 

Tidak ada jawaban mudah. Setiap organisasi harus memilih—dan sering kali, pilihan itu berubah seiring situasi berubah.

 


Bagian 4: Konteks adalah Segalanya 

Tidak Ada Solusi Universal 

Salah satu insight paling penting dari Fast: 

Strategi keamanan yang berhasil di satu tempat bisa gagal—bahkan fatal—di tempat lain.

Contoh: 

Di Sudan Selatan, pendekatan acceptance bekerja dengan baik. Pemimpin komunitas lokal melindungi pekerja bantuan karena mereka melihat manfaat langsung dari kehadiran mereka. 

Di Somalia, pendekatan yang sama mematikan. Kelompok Al-Shabaab menganggap semua organisasi Barat sebagai musuh—tidak peduli seberapa netral atau membantu mereka. 

Lima Faktor Kontekstual Krusial 

Fast mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan strategi keamanan mana yang efektif:

1. Tipe Konflik 

● Perang sipil vs pemberontakan vs terorisme 

● Konflik etnis vs politik vs sumber daya 

2. Aktor yang Terlibat 

● Tentara reguler vs milisi vs kelompok kriminal 

● Apakah mereka punya struktur komando atau chaos total? 

3. Dinamika Kekuasaan Lokal 

● Siapa yang benar-benar mengontrol area? 

● Apakah kontrol itu stabil atau berubah-ubah? 

4. Persepsi terhadap Organisasi 

● Apakah dilihat sebagai Barat/kolonial? 

● Apakah ada sejarah dengan organisasi serupa? 

5. Ekonomi Konflik 

● Apakah bantuan menjadi sumber ekonomi untuk kelompok bersenjata?

● Apakah ada insentif ekonomi untuk menyerang pekerja bantuan (uang tebusan)? 

Kasus Afghanistan: Ketika Konteks Berubah

Fast menggunakan Afghanistan sebagai studi kasus powerful. 

2001-2003: Pekerja kemanusiaan relatif aman. Taliban digulingkan. Ada harapan. Komunitas lokal menyambut bantuan. 

2006-2010: Keamanan memburuk drastis. Taliban kembali. Mereka melihat organisasi kemanusiaan sebagai bagian dari "pendudukan Barat." 

Organisasi yang terus menggunakan strategi acceptance—beroperasi tanpa penjaga, hidup di antara masyarakat—mengalami serangan meningkat. 

Yang beralih ke protection—compound berlapis, pergerakan terbatas—selamat tapi kehilangan akses ke area yang paling membutuhkan bantuan. 

Pelajaran: Strategi keamanan harus dinamis, tidak statis. Apa yang bekerja tahun lalu mungkin tidak bekerja hari ini.

 


Bagian 5: Dilema Etis yang Menyakitkan 

Pertanyaan Tanpa Jawaban Mudah 

Larissa Fast menghadapkan pembaca pada dilema etis yang dihadapi setiap hari oleh organisasi kemanusiaan: 

Dilema 1: Akses vs Keamanan 

Desa terpencil di zona perang sangat membutuhkan bantuan medis. Tapi jalan ke sana melewati area yang dikontrol kelompok bersenjata. Risiko ambush tinggi. 

Pertanyaan: Apakah kita mengirim tim—dan berpotensi membahayakan nyawa mereka—untuk menyelamatkan orang lain? 

Jika kita tidak pergi, orang mati karena tidak ada bantuan. Jika kita pergi, pekerja kita mungkin mati atau diculik. 

Tidak ada jawaban benar universal. 

Dilema 2: Staf Internasional vs Staf Lokal 

Ketika situasi berbahaya, banyak organisasi menarik staf internasional tapi membiarkan staf lokal tetap beroperasi. 

Alasannya pragmatis: Staf lokal lebih familiar dengan konteks, kurang terlihat sebagai target, dan—sinis tapi nyata—kematian mereka tidak akan menarik perhatian media internasional yang bisa merusak fundraising. 

Pertanyaan: Apakah ini etis? Atau ini adalah diskriminasi yang menyamar sebagai strategi keamanan? 

Fast tidak memberikan jawaban, tapi memaksa kita menghadapi pertanyaan ini.

Dilema 3: Bekerja dengan Penjaga Bersenjata 

Di beberapa konteks, satu-satunya cara untuk beroperasi adalah dengan penjaga bersenjata.

Tapi ini menimbulkan masalah: 

● Melanggar prinsip netralitas 

● Membuat organisasi terlihat seperti pihak dalam konflik 

● Menciptakan dependensi pada keamanan bersenjata 

● Siapa yang menjaga para penjaga? Bagaimana kita memastikan mereka tidak melakukan pelanggaran HAM?

Dilema 4: Membayar untuk Akses 

Di Somalia dan Afghanistan, kelompok bersenjata sering meminta "biaya keamanan" untuk membiarkan organisasi beroperasi. 

Jika organisasi membayar: 

● Mereka mendanai kelompok bersenjata 

● Menciptakan preseden untuk pemerasan lebih lanjut 

● Melanggar hukum anti-terorisme di banyak negara 

Jika organisasi tidak membayar: 

● Mereka tidak bisa memberi bantuan 

● Staf mereka dalam bahaya 

● Populasi yang menderita tidak mendapat bantuan 

Tidak ada pilihan yang baik.

 


Bagian 6: Pembelajaran dari Lapangan 

Apa yang Berhasil? Apa yang Gagal? 

Setelah menganalisis ratusan kasus, Fast mengidentifikasi praktik terbaik:

1. Investasi dalam Pemahaman Konteks 

Organisasi yang paling sukses adalah yang berinvestasi berat dalam memahami dinamika lokal. 

Bukan hanya briefing keamanan standar. Tapi analisis mendalam: 

● Siapa semua aktor bersenjata? 

● Apa motivasi mereka? 

● Bagaimana ekonomi politik lokal? 

● Siapa yang punya pengaruh informal? 

Contoh positif: Médecins Sans Frontières (MSF) di beberapa konteks menghabiskan berbulan-bulan hanya berbicara dengan semua pihak sebelum memulai operasi. 

2. Komunikasi Berkelanjutan 

Bukan hanya menjelaskan misi sekali lalu menghilang. Tapi dialog berkelanjutan dengan semua stakeholder. 

Fast menceritakan organisasi di Sudan yang mengadakan pertemuan bulanan dengan pemimpin komunitas, tokoh agama, bahkan komandan milisi lokal—menjelaskan apa yang mereka lakukan, mendengar kekhawatiran, menjawab rumor. 

Hasilnya: Mereka beroperasi selama bertahun-tahun di area yang sangat berbahaya tanpa insiden serius. 

3. Fleksibilitas Strategis 

Organisasi kaku yang tidak mau mengubah pendekatan adalah yang paling rentan.

Yang bertahan adalah yang adaptif: 

● Memantau situasi secara konstan 

● Siap mengubah strategi ketika konteks berubah 

● Tidak terikat pada satu paradigma (acceptance atau protection) 

● Bisa scale up atau scale down operasi sesuai kebutuhan 

4. Pelatihan Staf yang Serius

Bukan hanya briefing satu hari. Tapi pelatihan komprehensif: 

● Kesadaran situasional 

● Negosiasi dalam situasi krisis 

● Pertolongan pertama taktis 

● Manajemen stres traumatis 

● Pemahaman budaya dan politik lokal 

Dan yang penting: pelatihan yang sama untuk staf lokal dan internasional.

5. Dukungan Psikososial 

Fast menemukan: Banyak pekerja kemanusiaan menderita PTSD, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya akibat bekerja di zona konflik. 

Organisasi yang menyediakan dukungan psikososial berkelanjutan—konseling, peer support, cuti yang cukup—memiliki staf yang lebih tangguh dan tingkat turnover yang lebih rendah.

 


Bagian 7: Masa Depan Kerja Kemanusiaan 

Tren yang Mengkhawatirkan 

Larissa Fast melihat beberapa tren yang membuat pekerjaan kemanusiaan semakin sulit:

1. Politisasi Bantuan 

Semakin banyak pemerintah dan donor menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai alat politik luar negeri. 

Ketika bantuan tidak lagi dilihat sebagai netral tapi sebagai bagian dari agenda politik, pekerja bantuan menjadi target. 

2. Fragmentasi Konflik 

Konflik modern semakin kompleks dengan banyak aktor—bukan hanya dua pihak, tapi puluhan kelompok dengan agenda berbeda. 

Semakin sulit untuk navigate landscape ini dengan aman. 

3. Komersialisasi Penculikan 

Di beberapa area, menculik pekerja kemanusiaan telah menjadi industri—kelompok kriminal tahu bahwa organisasi internasional akan membayar uang tebusan. 

Ini menciptakan insentif ekonomi untuk kekerasan. 

4. Teknologi Pengawasan 

Di satu sisi, teknologi bisa meningkatkan keamanan (GPS tracking, komunikasi terenkripsi). 

Di sisi lain, kelompok bersenjata juga menggunakan teknologi untuk memantau dan menargetkan pekerja bantuan. 

Apakah Masih Mungkin? 

Fast menutup dengan pertanyaan yang menghantui: 

"Apakah masih mungkin untuk melakukan kerja kemanusiaan yang efektif dan etis di konflik modern?" 

Jawabannya: Ya, tapi dengan pengakuan jujur tentang risiko dan batasan.

Tidak lagi cukup hanya dengan niat baik dan bendera PBB. Dibutuhkan:

● Analisis risiko yang sophisticated 

● Strategi keamanan yang disesuaikan dengan konteks

● Investasi serius dalam keamanan staf 

● Keberanian untuk mengatakan "tidak" ketika risiko terlalu tinggi

● Transparansi tentang trade-off antara akses dan keamanan

 


Penutup: Mereka yang Berani Tetap Pergi 

Mengapa Mereka Terus Kembali? 

Setelah membaca tentang serangan, penculikan, dan kematian, pertanyaan yang muncul: Mengapa ada orang yang mau melakukan pekerjaan ini? 

Fast mewawancarai puluhan pekerja kemanusiaan. Jawaban mereka bervariasi, tapi ada benang merah: 

"Karena jika kami tidak pergi, siapa yang akan membantu mereka?" 

Seorang perawat yang bekerja di zona perang Somalia berkata: 

"Ya, saya takut. Setiap hari. Tapi ketika saya melihat anak yang akan mati tanpa vaksin yang saya bawa, atau ibu yang akan mati saat melahirkan tanpa bantuan saya—ketakutan itu menjadi kecil dibandingkan dengan tujuan." 

Pelajaran untuk Kita Semua 

Bahkan jika kita tidak bekerja di zona konflik, "The Vulnerable Humanitarian" mengajarkan pelajaran universal: 

1. Tidak ada yang benar-benar aman 

Ilusi keamanan adalah berbahaya. Lebih baik mengakui risiko dan mengelolanya daripada berpura-pura risiko tidak ada. 

2. Konteks adalah segalanya 

Solusi yang berhasil di satu tempat/waktu mungkin gagal di tempat/waktu lain. Fleksibilitas dan adaptasi adalah kunci. 

3. Trade-off tidak bisa dihindari 

Setiap keputusan melibatkan trade-off. Kuncinya adalah membuat trade-off yang sadar dan etis, bukan yang tersembunyi atau tidak jujur. 

4. Keberanian bukan tidak adanya ketakutan 

Keberanian adalah tetap melakukan hal yang benar meskipun takut—dengan persiapan, dengan kehati-hatian, tapi tetap melakukannya. 

Penghormatan

Buku Fast diakhiri dengan daftar nama—ratusan pekerja kemanusiaan yang terbunuh dalam menjalankan tugas mereka. 

Nama-nama yang kebanyakan tidak pernah kita dengar. Dari negara yang mungkin tidak bisa kita tunjuk di peta. Tapi setiap nama adalah seseorang yang memilih untuk pergi ke tempat paling berbahaya di dunia untuk membantu orang asing. 

Mereka adalah yang terbaik dari kita. 

Dan kita berutang pada mereka—dan pada diri kita sendiri—untuk memahami tantangan yang mereka hadapi dan bekerja untuk membuat kerja kemanusiaan lebih aman tanpa kehilangan esensinya.

 


Tentang Buku dan Penulis 

"The Vulnerable Humanitarian: Aid Workers in Dangerous Places" diterbitkan pada tahun 2014 oleh Routledge. 

Larissa Fast adalah Associate Professor di Keough School of Global Affairs, University of Notre Dame. Dia adalah salah satu ahli terkemuka dunia dalam keamanan kemanusiaan. 

Bukunya didasarkan pada riset multi-tahun, termasuk wawancara dengan ratusan pekerja kemanusiaan, analisis database serangan, dan studi lapangan di berbagai zona konflik. 

Meskipun buku ini akademis dan berbasis riset, Fast menulis dengan empati dan kesadaran terhadap dimensi manusia dari setiap statistik. 

Untuk pemahaman mendalam tentang kompleksitas keamanan kemanusiaan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku ini penting bukan hanya untuk praktisi kemanusiaan, tapi untuk siapa pun yang peduli tentang bagaimana kita membantu orang yang paling membutuhkan di dunia yang semakin berbahaya. 

Ringkasan ini menangkap konsep utama, tetapi buku lengkap memberikan analisis mendalam, data komprehensif, dan nuansa yang tidak bisa diringkas sepenuhnya. 

Sekarang, ketika Anda mendengar berita tentang serangan terhadap pekerja bantuan, Anda akan memahami kompleksitas di baliknya. 

Dan mudah-mudahan, Anda akan bergabung dalam upaya untuk membuat dunia lebih aman bagi mereka yang berani membantu—the vulnerable humanitarians.