Ordinary Notes

Christina Sharpe


Keajaiban dalam yang Biasa 

Bayangkan Anda duduk di jendela pesawat, terbang melintasi Atlantik. Di bawah sana, laut biru gelap membentang tanpa akhir. Bagi kebanyakan orang, ini hanya pemandangan indah untuk difoto. 

Tapi bagi Christina Sharpe, pemandangan itu berbisik cerita berbeda. 

Di kedalaman laut itu, ratusan tahun lalu, leluhur-leluhurnya dilempar dari kapal budak. Jutaan tubuh Afrika tenggelam di sana, dirantai, tanpa nama, tanpa makam. Laut Atlantik adalah kuburan terbesar dalam sejarah manusia. 

Dan dia terbang di atasnya, dalam kenyamanan kursi kelas ekonomi, dengan headphone di telinga, minum jus tomat. 

Bagaimana seseorang hidup dengan pengetahuan seperti ini? 

Bagaimana Anda bangun setiap pagi, membuat kopi, mengirim anak ke sekolah, tertawa dengan teman—ketika Anda tahu bahwa dunia ini dibangun di atas tulang-belulang leluhur Anda? Ketika Anda tahu bahwa tubuh yang terlihat seperti tubuh Anda masih diburu, masih dibunuh, masih dianggap ancaman hanya karena keberadaannya? 

Inilah pertanyaan yang Christina Sharpe jalani setiap hari. Dan "Ordinary Notes"—Catatan Biasa—adalah jawabannya. 

Bukan jawaban yang rapi. Bukan manifesto politik. Bukan analisis akademis yang kering. 

Tapi catatan—ratusan catatan kecil tentang kehidupan sehari-hari. Tentang melihat bunga di taman. Tentang kehilangan ibu. Tentang berbelanja di supermarket. Tentang teror polisi. Tentang mencintai. Tentang memasak. Tentang kematian. Tentang keindahan. 

Catatan-catatan "biasa" yang ternyata mengungkap kebenaran luar biasa tentang apa artinya menjadi manusia dalam dunia yang tidak yakin Anda manusia.

 


Bagian 1: Menulis sebagai Saksi 

Mengapa Menulis? 

Christina Sharpe menulis karena dia harus. Bukan karena dia ingin menjadi penulis terkenal atau mendapat pengakuan akademis (meskipun dia adalah profesor terkemuka). 

Dia menulis karena jika dia tidak mencatat, siapa yang akan? 

Ibu-ibu Black yang mati karena komplikasi kehamilan yang bisa dicegah—tapi dokter tidak mendengarkan keluhan mereka. Anak-anak Black yang dihukum lebih keras di sekolah untuk pelanggaran yang sama dengan anak kulit putih. Laki-laki Black yang dibunuh polisi dan media langsung mencari-cari kesalahan mereka, bukan penembaknya. 

Jika kisah-kisah ini tidak ditulis, mereka akan hilang. Dianggap "insiden terisolasi." Dianggap tidak ada pola. Dianggap tidak penting. 

Sharpe menulis: "Saya menulis untuk membuat arsip dari apa yang hilang, apa yang diabaikan, apa yang dianggap tidak layak dicatat." 

Catatan sebagai Bentuk Perlawanan 

Tapi ini bukan hanya tentang dokumentasi. Menulis, bagi Sharpe, adalah bentuk perlawanan. 

Ketika dunia mengatakan hidup Black tidak penting, menulis tentang kehidupan sehari-hari Black adalah penegasan: Ini penting. Kami ada. Kami hidup. Kami mencintai. Kami menderita. Kami bermakna. 

Dia menulis tentang hal-hal kecil dengan perhatian yang sama seriusnya seperti orang menulis tentang perang atau politik: Bagaimana ibunya memasak ikan. Bagaimana cahaya pagi masuk ke dapur. Bagaimana rasanya memegang tangan seseorang yang Anda cintai. 

Mengapa? Karena dalam sistem yang dirancang untuk menghancurkan Anda, bertahan dengan kelembutan adalah revolusioner.

 


Bagian 2: Kehilangan yang Berulang 

Ibu 

Buku ini dihantui oleh kehilangan. Terutama kehilangan ibu Sharpe. 

Sharpe menulis tentang hari-hari terakhir ibunya dengan detail yang menyakitkan dan indah. Bagaimana tubuh yang dulu kuat menjadi rapuh. Bagaimana napas menjadi berat. Bagaimana dia duduk di samping tempat tidur, memegang tangan yang dingin, mendengarkan detakan jantung yang melambat. 

Tapi dia juga menulis tentang hal-hal kecil yang membuat ibunya hidup: Cara dia tertawa. Resep-resep yang dia ajarkan. Kata-kata bijak yang dia bisikkan. Lagu-lagu yang dia nyanyikan. 

"Bagaimana kita mengingat orang yang kita cintai?" tanya Sharpe. "Bukan dengan monumen besar. Tapi dengan catatan kecil. Dengan mengingat cara mereka memotong bawang. Cara mereka memanggil nama kita." 

Berkabung sebagai Kondisi Permanen 

Tapi bagi orang Black di Amerika, berkabung bukan hanya tentang kehilangan pribadi. Itu adalah kondisi permanen. 

Setiap berita tentang laki-laki Black yang ditembak polisi. Setiap video viral tentang perempuan Black yang diintimidasi. Setiap statistik tentang kesenjangan harapan hidup, kekayaan, kesehatan. 

Sharpe menyebutnya "kehilangan yang berulang"—grief that never ends. 

"Bagaimana Anda hidup ketika berkabung adalah kondisi normal Anda?" dia bertanya. "Anda belajar membawa kesedihan seperti membawa tas. Anda tidak melupakannya. Anda hanya belajar berjalan dengannya."

 


Bagian 3: Tubuh dan Ruang 

Navigasi Dunia yang Tidak Dirancang untuk Anda 

Sharpe menulis tentang pengalaman sehari-hari bernavigasi dunia sebagai perempuan Black. 

Masuk ke toko mewah dan langsung diikuti satpam. Naik taksi dan supir mengunci pintu. Berjalan di malam hari dan orang menyeberang jalan untuk menghindari Anda. 

Ini bukan paranoia. Ini adalah kenyataan yang dikonfirmasi berulang kali, hari demi hari, interaksi demi interaksi. 

"Tubuh saya dibaca sebagai ancaman," tulis Sharpe. "Bahkan ketika saya hanya membeli susu. Bahkan ketika saya hanya berjalan pulang. Bahkan ketika saya tidak melakukan apa-apa." 

Ruang Aman yang Tidak Ada 

Kemana Anda pergi ketika tidak ada tempat yang aman? 

Rumah bukan aman—polisi bisa mendobrak pintu tanpa alasan yang jelas, seperti yang terjadi pada Breonna Taylor. 

Taman bukan aman—orang bisa menelepon polisi karena Anda berpiknik, seperti yang terjadi berkali-kali. 

Mobil bukan aman—Anda bisa ditembak di depan anak Anda karena lampu rem mati, seperti Philando Castile. 

Bahkan tidur di rumah sendiri bukan aman. 

"Dimana kami bisa bernapas?" tanya Sharpe. "Dimana kami bisa ada tanpa harus membuktikan hak kami untuk ada?" 

Jawabannya: Di dalam komunitas. Di dalam cinta. Di dalam catatan-catatan yang membuktikan kami ada.

 


Bagian 4: Keindahan sebagai Resistensi 

Menemukan Cahaya 

Inilah yang luar biasa dari buku ini: Di tengah semua kesedihan, semua kematian, semua teror—Sharpe masih menemukan keindahan. 

Dia menulis tentang bunga sakura di Brooklyn. Tentang bagaimana cahaya pagi membuat segala sesuatu terlihat baru. Tentang senyum orang asing di subway. Tentang musik jazz di kafe kecil. Tentang bagaimana anak-anak tertawa tanpa beban yang orang dewasa bawa. 

Ini bukan pengabaian terhadap rasa sakit. Ini adalah penolakan untuk membiarkan rasa sakit menghancurkan kemampuan Anda untuk melihat keindahan. 

"Mereka ingin kita putus asa," tulis Sharpe. "Jadi menemukan kegembiraan, menemukan keindahan—itu adalah perlawanan." 

Seni Hidup 

Sharpe mengutip leluhur-leluhur yang bertahan dari perbudakan. Mereka tidak hanya bertahan—mereka menciptakan. Musik. Tarian. Cerita. Makanan. Komunitas. 

Dalam kondisi yang dirancang untuk menghancurkan kemanusiaan mereka, mereka menciptakan budaya yang kini menginspirasi dunia. 

"Hidup dengan penuh," tulis Sharpe, "adalah balasan terbaik terhadap sistem yang ingin Anda mati." 

Jadi dia memasak dengan hati-hati. Dia mendengarkan musik dengan sepenuh perhatian. Dia mencintai dengan berani. Dia menulis dengan detail. 

Setiap tindakan hidup yang disengaja adalah perlawanan.

 


Bagian 5: Melihat yang Tidak Terlihat 

Latihan Memperhatikan 

Sharpe melatih dirinya untuk melihat apa yang orang lain lewatkan. 

Dia melihat bagaimana tata kota dirancang untuk mengeksklusi—taman di area kaya, polusi di area miskin. Dia melihat bagaimana kurikulum sekolah mengajarkan sejarah yang menghapus kontribusi Black. Dia melihat bagaimana bahasa media membingkai korban Black sebagai pelaku. 

Tapi dia juga melihat ketahanan yang tersembunyi. 

Dia melihat nenek yang setiap pagi merawat taman komunitas—menciptakan keindahan di lingkungan yang diabaikan. Dia melihat guru yang menggunakan uangnya sendiri untuk membeli buku untuk siswa. Dia melihat tetangga yang saling menjaga anak-anak. 

"Jika Anda hanya melihat kehancuran, Anda melewatkan kisah yang lebih besar," tulis Sharpe. "Kisah orang-orang yang membangun di tengah reruntuhan." 

Catatan sebagai Peta 

Catatan-catatan Sharpe menjadi peta—bukan peta geografis, tapi peta untuk bertahan dan berkembang. 

Bagaimana menemukan kegembiraan di tempat yang tidak didesain untuk kegembiraan Anda. Bagaimana mencintai ketika cinta Anda dianggap tidak berharga. Bagaimana membesarkan anak dalam dunia yang menganggap anak Anda ancaman. 

Ini bukan instruksi. Ini adalah saksi—kesaksian bahwa ini mungkin, karena orang-orang telah melakukannya sebelum Anda, dan mereka meninggalkan jejak untuk Anda ikuti.

 


Bagian 6: Waktu yang Tidak Linear 

Masa Lalu yang Hadir 

Sharpe menulis bahwa bagi orang Black di Amerika, masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu. 

Perbudakan berakhir 150 tahun lalu—di atas kertas. Tapi strukturnya masih ada: segregasi perumahan, kesenjangan pendidikan, mass incarceration, kekerasan polisi. 

"Kami tidak bisa move on dari masa lalu," tulis Sharpe, "karena masa lalu tidak meninggalkan kami. Ia hidup dalam sistem yang masih menguntungkan dari tubuh kami." 

Tapi Sharpe juga menulis tentang bagaimana memori leluhur memberikan kekuatan. 

Ketika dia merasa putus asa, dia ingat nenek-nenek yang bertahan dari hal yang lebih buruk. Ketika dia merasa sendirian, dia ingat komunitas yang telah membangun jaringan dukungan selama generasi. 

Masa lalu adalah beban dan juga warisan. 

Menulis untuk Masa Depan 

Sharpe menulis catatan-catatannya untuk cucu-cucu yang belum lahir. Untuk generasi yang akan datang yang perlu tahu: Kami ada di sini. Kami mencintai. Kami bertahan. 

"Suatu hari," dia menulis, "seorang anak akan membaca ini dan tahu bahwa mereka berasal dari orang-orang yang menolak untuk menyerah. Yang menciptakan keindahan di tengah abu. Yang mencintai dengan berani meskipun dunia mengatakan cinta mereka tidak berharga."

 


Bagian 7: Komunitas dan Kelembutan 

Care sebagai Politik 

Dalam dunia yang dirancang untuk membuat Anda terlalu lelah, terlalu trauma, terlalu hancur untuk melawan—merawat satu sama lain adalah tindakan politik. 

Sharpe menulis tentang ritual-ritual sederhana dalam komunitas Black: 

Tetangga yang menyiapkan makanan ketika ada yang meninggal. Ibu-ibu yang bergantian menjaga anak-anak. Kakek yang mengajarkan sejarah yang tidak diajarkan di sekolah. Salon rambut yang menjadi tempat aman untuk berbagi cerita. 

"Ini bukan hanya kebaikan," tulis Sharpe. "Ini adalah sistem dukungan yang kami ciptakan karena negara tidak menyediakan untuk kami. Ini adalah cara kami bertahan." 

Cinta sebagai Perlawanan 

Sharpe menulis tentang cinta—cinta romantis, cinta keluarga, cinta komunitas—dengan kemuliaan yang biasanya dicadangkan untuk tema-tema "besar." 

Mengapa? Karena dalam sistem yang mengatakan hidup Anda tidak berharga, mencintai adalah penegasan yang paling radikal bahwa Anda berharga. 

"Kami mencintai," tulis Sharpe, "meskipun mereka mengatakan kami tidak mampu mencintai. Kami membangun keluarga, meskipun keluarga kami dipecah-belah selama berabad-abad. Kami merawat anak-anak kami dengan kelembutan, meskipun dunia kasar kepada mereka." 

Setiap pelukan. Setiap makan malam keluarga. Setiap "Aku mencintaimu" yang diucapkan—adalah penolakan terhadap sistem yang ingin menghancurkan Anda.

 


Bagian 8: Menulis yang Biasa, Mengungkap yang Luar Biasa 

Mengapa "Ordinary" Penting 

Judul buku ini—"Ordinary Notes" (Catatan Biasa)—adalah pilihan yang disengaja. 

Sharpe bisa menulis manifesto politik. Bisa menulis analisis akademis yang rumit. Tapi dia memilih untuk menulis tentang yang biasa: bunga di jendela, percakapan di toko, kenangan masa kecil. 

Mengapa? 

Karena dalam yang biasa, tersembunyi yang luar biasa. 

Cara seorang ibu memotong sayuran mengandung sejarah migrasi, resep yang diturunkan generasi, cinta yang diekspresikan melalui makanan. 

Cara seorang anak bermain di taman mengandung keberanian orang tua yang menciptakan ruang aman di lingkungan yang tidak aman. 

Cara seseorang tertawa di tengah kesedihan mengandung ketahanan yang diwariskan dari leluhur yang selamat dari yang tidak terbayangkan. 

"Yang biasa," tulis Sharpe, "adalah tempat kita hidup. Tempat kita mencintai. Tempat kita bertahan. Jika kita tidak memperhatikan yang biasa, kita melewatkan kehidupan itu sendiri."

 


Penutup: Catatan untuk Kita Semua 

Christina Sharpe menulis dari pengalaman spesifik sebagai perempuan Black di Amerika. Tapi pelajarannya universal. 

Pelajaran Pertama: Perhatikan 

Di era informasi yang menghujani kita setiap detik, kemampuan untuk benar-benar memperhatikan adalah kekuatan super. 

Perhatikan orang yang Anda cintai—tidak dengan setengah hati sambil scroll ponsel, tapi dengan sepenuh perhatian. 

Perhatikan keindahan di sekitar Anda—bunga yang tumbuh di celah beton, senyum orang asing, cahaya sore. 

Perhatikan ketidakadilan—tidak hanya yang spektakuler di berita, tapi yang terjadi setiap hari di sekitar Anda. 

Menulis catatan—apapun bentuknya—adalah cara memperhatikan dengan sengaja.

Pelajaran Kedua: Berkabung dan Mencintai Bersamaan 

Kita hidup di dunia yang penuh dengan rasa sakit. Perubahan iklim. Ketidakadilan. Kekerasan. Kehilangan. 

Mudah untuk menjadi sinis. Mudah untuk mati rasa. Mudah untuk berhenti peduli. 

Tapi Sharpe menunjukkan jalan lain: Rasakan rasa sakit sepenuhnya, dan tetap buka hati untuk kegembiraan. 

Berkabung untuk apa yang hilang. Dan rayakan apa yang masih ada. 

"Kita tidak harus memilih antara kesedihan dan kegembiraan," tulis Sharpe. "Kita bisa memegang keduanya. Kita adalah makhluk yang cukup besar untuk keduanya." 

Pelajaran Ketiga: Komunitas Adalah Segalanya 

Dalam budaya individualistis yang mengatakan "sukses adalah tentang Anda sendiri," Sharpe mengingatkan: Kita bertahan bersama. 

Orang yang Anda cintai. Komunitas yang mendukung Anda. Tetangga yang menjaga anak Anda. Teman yang mendengarkan ketika Anda hancur. 

Mereka adalah alasan Anda bertahan.

Jadi rawat hubungan Anda. Tunjukkan pada orang yang Anda cintai bahwa mereka penting. Masak untuk mereka. Dengarkan mereka. Hadir untuk mereka. 

Karena dalam dunia yang keras ini, kelembutan yang kita berikan satu sama lain adalah apa yang membuat kita tetap manusia. 

Pelajaran Keempat: Hidup dengan Penuh Adalah Perlawanan 

Apapun sistem yang mencoba menghancurkan Anda—rasisme, misogini, kapitalisme yang eksploitatif, standar kecantikan yang tidak realistis—cara terbaik untuk melawan adalah dengan hidup dengan penuh. 

Ciptakan keindahan. Cintai dengan berani. Rayakan kegembiraan kecil. Jaga tubuh Anda. Istirahat tanpa rasa bersalah. Kejar hasrat Anda. 

"Mereka ingin kita lelah, trauma, dan putus asa," tulis Sharpe. "Jadi berkembang—dengan segala kekacauan dan imperfezioni—adalah perlawanan tertinggi."

 


Tentang Buku Asli 

"Ordinary Notes" diterbitkan pada tahun 2023 dan langsung mendapat pengakuan luas sebagai salah satu karya paling penting dalam sastra kontemporer Amerika. 

Christina Sharpe adalah profesor Black Studies dan Chair of African American Studies di University of Pennsylvania. Buku sebelumnya, "In the Wake: On Blackness and Being" (2016), memenangkan banyak penghargaan dan dianggap sebagai teks fundamental dalam Black Studies. 

Gaya penulisan Sharpe unik—menggabungkan memoir, kritik budaya, teori, dan puisi dalam format catatan yang fragmentaris namun deeply coherent. Dia menulis dengan keindahan yang menghancurkan dan kejujuran yang berani. 

"Ordinary Notes" memenangkan: 

● National Book Critics Circle Award for Autobiography 

● PEN/Diamonstein-Spielvogel Award for the Art of the Essay 

● Kirkus Prize 

● Dan puluhan penghargaan lainnya 

Untuk pemahaman lengkap tentang keindahan dan kompleksitas karya ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Sharpe menulis dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dirangkum—setiap kalimat dipilih dengan hati-hati, setiap gambar membawa makna berlapis. 

Ringkasan ini hanya menangkap esensi. Buku lengkap memberikan pengalaman yang transformatif—cara melihat dunia yang tidak akan pernah sama setelahnya. 

Sekarang pergilah dan perhatikan hidup Anda dengan mata yang baru. 

Tulis catatan Anda. Catatan biasa yang ternyata luar biasa. 

Karena seperti yang Christina Sharpe tunjukkan: Kehidupan itu sendiri—dengan segala kesederhanaan dan kompleksitasnya—adalah keajaiban yang layak dicatat.