Solito

Javier Zamora


Sembilan Tahun, Sendirian, 3.000 Mil

Bayangkan Anda berusia sembilan tahun. 

Usia di mana yang Anda pikirkan seharusnya adalah sepak bola, mainan, teman sekolah. Usia di mana pulang sekolah disambut pelukan ibu dan tanya "sudah makan?" 

Sekarang bayangkan ini: 

Anda berdiri di stasiun bus, memegang tas kecil dengan dua celana, tiga kaos, dan foto orang tua yang tidak Anda lihat selama lima tahun. Nenek memeluk Anda sambil menangis. "Jangan bicara dengan orang asing. Jangan makan makanan dari orang yang tidak kamu kenal. Dengarkan Chino." 

Chino—lelaki yang baru Anda kenal sejam lalu—akan membawa Anda melintasi empat negara, melewati hutan, sungai, gurun, dan perbatasan yang dijaga tentara bersenjata. 

Perjalanan yang konon akan memakan waktu dua minggu. 

Anda tidak tahu perjalanan ini akan berlangsung dua bulan. Anda tidak tahu akan hampir tenggelam, hampir mati kehausan, hampir tertangkap berkali-kali. Anda tidak tahu akan tidur di hutan dengan suara tembakan di kejauhan, berlari dari polisi dengan kaki berdarah, bersembunyi di truk pengangkut hewan selama berjam-jam dalam gelap total. 

Yang Anda tahu hanya satu hal: di ujung perjalanan ini, ada Mamá dan Papá yang menunggu. 

Ini adalah kisah nyata Javier Zamora. Dan ini adalah kisah ribuan anak lain yang melakukan perjalanan yang sama—perjalanan yang seharusnya tidak pernah harus mereka lakukan. 

Mari kita mulai dari awal.

 


Bagian 1: La Herradura—Desa yang Ditinggalkan

Kehidupan Tanpa Orang Tua 

Javier tumbuh di La Herradura, sebuah desa kecil di El Salvador. Rumah sederhana. Tidak ada air mengalir. Listrik sering mati. Tapi ada laut, ada teman, ada nenek dan kakek yang mencintainya. 

Yang tidak ada: Mamá dan Papá. 

Mereka pergi ketika Javier berusia empat tahun. Pertama Papá, lalu setahun kemudian Mamá. Mereka berjalan ke norte—ke utara, ke Amerika Serikat—mencari pekerjaan, mencari kehidupan yang lebih baik. 

Mereka berjanji akan segera menyusul Javier. Dua tahun, paling lama. 

Tapi dua tahun menjadi tiga. Tiga menjadi lima. 

Setiap Minggu, telepon rumah berdering. Suara Mamá: "Gimana sekolah, amor? Kamu baik-baik?" Lima menit bicara. Lalu dial tone. Javier menangis setiap kali telepon ditutup. 

Teman-temannya punya ibu yang menyiapkan sarapan. Punya ayah yang mengajarkan naik sepeda. Javier punya foto yang ia peluk setiap malam dan suara di telepon yang semakin terasa asing. 

Ini adalah trauma pertama: ditinggalkan oleh orang yang paling ia cintai, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena kemiskinan memaksa mereka memilih. 

Keputusan yang Mengubah Segalanya 

Pada tahun 1999, ketika Javier berusia sembilan tahun, Mamá menelepon dengan nada berbeda. 

"Papá dan saya sudah mengumpulkan cukup uang. Kami akan membawa kamu ke sini. Kamu akan sekolah yang bagus. Kita akan jadi keluarga lagi." 

Javier gembira. Tapi Abuelita—neneknya—menangis. 

"Perjalanan itu berbahaya, Javier. Kamu masih kecil." 

"Tapi aku harus ketemu Mamá!" 

Tidak ada pilihan mudah. Tinggal di El Salvador berarti tetap jauh dari orang tua, tetap miskin, tetap dalam siklus yang sama yang membuat orang tuanya pergi. Pergi berarti risiko yang tidak bisa dijelaskan kepada anak sembilan tahun.

Keluarga memutuskan: Javier akan pergi. Mereka mengumpulkan $4,000—hutang yang akan mereka bayar bertahun-tahun—untuk membayar coyote, pemandu manusia yang akan membawa Javier melintasi perbatasan. 

Hari keberangkatan tiba terlalu cepat.

 


Bagian 2: Chino—Orang Asing yang Memegang Hidupmu

Kepercayaan yang Dipaksakan 

Chino bukan orang jahat. Tapi dia juga bukan orang baik. 

Dia adalah coyote—manusia yang pekerjaannya menyelundupkan orang melintasi perbatasan. Untuk uang. Dia sudah melakukan ini puluhan kali. Baginya, ini bisnis. 

Bagi Javier, Chino adalah satu-satunya hal antara dia dan 3.000 mil yang tidak dikenal. 

Hari pertama, Chino tegas: "Dengarkan aku. Jangan bertanya banyak. Jangan bicara pada orang lain. Kalau ada polisi, lari. Kalau aku bilang diam, diam." 

Javier mengangguk. Tapi di dalam hati, dia takut. 

Mereka naik bus dari El Salvador ke Guatemala. Perjalanan yang seharusnya aman. Tapi di setiap pos pemeriksaan, Chino memberi uang kepada petugas. "Untuk anak ini," katanya. Petugas menutup mata. 

Javier belajar pelajaran pertama: Dalam perjalanan ini, hukum bisa dibeli. Keadilan tidak ada. 

Guatemala—Rumah Penampungan Pertama 

Di Guatemala, mereka berhenti di rumah aman—casa de migrantes. Sebuah rumah kumuh penuh dengan orang-orang yang juga dalam perjalanan ke norte. 

Javier bertemu anak-anak lain. Beberapa seusianya. Beberapa lebih muda—enam, tujuh tahun. Semua sendirian atau dengan saudara. 

Mereka berbagi cerita. Satu anak menangis karena ibunya tertangkap di Meksiko dan dideportasi. Dia sendirian sekarang, tidak tahu harus bagaimana. Anak lain bercerita tentang polisi yang memukuli pemandu mereka dan mengambil semua uang. 

Malam itu, Javier tidak bisa tidur. Dia mendengar suara tangisan dari kamar sebelah. Orang dewasa yang putus asa. Anak-anak yang memanggil "Mamá" dalam tidur mereka. 

Pelajaran kedua: Dia tidak sendirian dalam perjalanan ini. Tapi itu tidak membuat perjalanan lebih aman.

 


Bagian 3: Meksiko—Di Mana Segalanya Berubah

Ditinggalkan oleh Chino 

Seminggu dalam perjalanan, ketika mereka tiba di Meksiko, Chino menghilang. 

Pagi itu, Javier bangun dan Chino tidak ada. Tasnya tidak ada. Dia pergi begitu saja—meninggalkan Javier dan tiga migran lain (Patricia, Carla, dan Marcelo) tanpa penjelasan. 

Javier panik. "Ke mana Chino? Dia bilang dia akan bawa saya ke Mamá!" 

Patricia, wanita berusia tiga puluhan yang juga dalam perjalanan, memeluknya. "Kita akan tetap jalan. Kita akan sampai." 

Tapi bagaimana? Mereka tidak punya pemandu. Tidak punya peta. Hanya rumor tentang jalur mana yang lebih aman, kereta mana yang harus dinaiki, polisi mana yang bisa disuap. 

Dari titik ini, perjalanan berubah dari "dipandu" menjadi "bertahan hidup".

La Bestia—Kereta Kematian 

Mereka mendengar tentang "La Bestia"—The Beast—kereta kargo yang digunakan ribuan migran untuk melintasi Meksiko. Gratis. Tapi mematikan. 

Kereta tidak berhenti. Anda harus berlari dan melompat ke gerbong yang bergerak. Jika Anda terpeleset, Anda jatuh di bawah roda. Ratusan orang kehilangan kaki, tangan, atau nyawa mereka setiap tahun. 

Di malam yang dingin, Javier berdiri di samping rel. Kereta mendekat—bunyi logam yang mengerikan. Marcelo, remaja enam belas tahun yang menjadi kakak pengganti Javier, berkata: "Pegang tanganku. Kita lompat bareng." 

Mereka berlari. Melompat. Javier merasakan tangannya terseret oleh Marcelo ke atas gerbong. Kakinya hampir tergelincir. Tapi dia berhasil. 

Mereka duduk di atas gerbong terbuka, angin menerjang wajah, berpegangan erat agar tidak jatuh. Malam itu begitu dingin Javier tidak bisa merasakan jari-jarinya. 

Patricia memeluk Javier, berbagi kehangatan tubuhnya. "Kamu kuat, Javier. Kamu akan sampai." 

Dirampok oleh Geng 

Hari ketujuh belas, sesuatu yang ditakuti semua migran terjadi: geng naik ke kereta.

Mereka datang dengan pisau dan pistol. "Uang! Semua uang kalian!"

Migran memberikan apa yang mereka punya—$20, $50, perhiasan. Tidak ada yang melawan. Melawan berarti dilempar dari kereta. 

Salah satu lelaki geng melihat Javier. "Anak kecil? Sendirian?" 

Marcelo melangkah di depan Javier. "Dia adik saya." 

Lelaki itu tertawa. "Kamu berdua? Berapa umurmu?" 

"Enam belas." 

"Kasih uang atau aku lempar dia dari kereta." 

Marcelo memberikan $40 terakhirnya—uang yang ditabung ibunya selama bertahun-tahun. 

Setelah geng pergi, Marcelo menangis untuk pertama kali. Bukan karena uang. Tapi karena ketidakberdayaan. Karena dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri, apalagi Javier. 

Malam itu, para migran di gerbong berbagi makanan mereka yang sedikit. Seseorang memberi Javier sepotong tortilla. Yang lain berbagi air. Tidak ada yang punya banyak. Tapi mereka berbagi apa yang mereka punya. 

Pelajaran ketiga: Di antara orang-orang yang juga menderita, Javier menemukan kemanusiaan yang paling murni.

 


Bagian 4: Gurun Sonora—Melawan Maut 

Penyeberangan Terakhir 

Setelah lima minggu perjalanan, mereka tiba di perbatasan—Nogales, Meksiko. 

Seorang coyote baru (mereka sudah berganti tiga kali) menjelaskan: "Besok malam kita akan menyeberang gurun. Jalan kaki. Dua hari, mungkin tiga. Bawa air sebanyak yang bisa kalian bawa." 

Gurun Sonora adalah kuburan bagi ribuan migran. Temperatur siang mencapai 50°C. Malam turun ke 5°C. Tidak ada bayangan. Tidak ada air. Border Patrol menggunakan helikopter dan sensor gerak. 

Javier dibekali dua botol air dan satu tas kecil dengan roti. 

Mereka mulai berjalan jam 11 malam. Grup 15 orang—termasuk Javier yang termuda. 

Jam pertama masih mudah. Jam ketiga, kaki Javier mulai berdarah—sepatunya yang murah tidak dibuat untuk jalan sejauh ini. Jam keenam, salah satu botol airnya habis. 

Fajar menyingsing. Matahari terbit. Dan itu seperti masuk ke dalam oven.

"Saya Tidak Bisa Lagi" 

Siang hari kedua, seorang wanita jatuh. "Saya tidak bisa lagi," tangisnya. "Tinggalkan saya."

Coyote berkata dingin: "Oke." Dan terus jalan. 

Dua lelaki—termasuk Marcelo—mengangkatnya. "Tidak. Kita semua sampai atau tidak sama sekali." 

Mereka bergantian membawa wanita itu. Berbagi air yang tersisa. Javier memberikan setengah botolnya yang terakhir. 

Malam kedua, mereka dengar helikopter. Lampu sorot menyapu gurun. 

"Berlindung!" coyote berteriak. 

Mereka berbaring di balik semak kecil, tidak bergerak. Javier menahan napas. Jantungnya berdegup begitu keras dia takut Border Patrol akan mendengar. 

Helikopter melingkar. Sekali. Dua kali. Lalu pergi. 

Mereka melanjutkan perjalanan dalam gelap, menggunakan cahaya bintang untuk navigasi.

Hampir Mati 

Pagi hari ketiga, Javier tidak bisa berjalan lagi. Kakinya bengkak. Bibirnya pecah-pecah berdarah. Dia tidak pipis sejak kemarin—tanda dehidrasi parah. 

Carla menuangkan air terakhirnya ke mulut Javier. "Minum. Kita hampir sampai."

"Berapa lama lagi?" Javier berbisik. 

"Sebentar lagi, cariño. Sebentar lagi." 

Itu bohong. Mereka tidak tahu. Tapi kadang, harapan—bahkan harapan palsu—adalah satu-satunya yang membuat kaki tetap melangkah. 

Siang itu, mereka melihatnya: jalan aspal di kejauhan. Arizona. 

Mereka berhasil.

 


Bagian 5: Reunifikasi—Akhir yang Bukan Akhir

Pertemuan Setelah Lima Tahun 

Van menunggu di sisi jalan. Mereka dimasukkan ke dalamnya—15 orang dalam ruang untuk 8 orang. Dikunci dari luar. Perjalanan enam jam ke Phoenix. 

Di Phoenix, di rumah aman, Javier mandi untuk pertama kali dalam dua bulan. Air coklat mengalir—kotoran, darah, keringat dari 3.000 mil. 

Dia melihat dirinya di cermin. Mata cekung. Pipi kurus. Kaki penuh luka. Dia tidak mengenali dirinya sendiri. 

Tiga hari kemudian, telepon berbunyi. Suara Mamá: "Javi? Kamu sudah sampai?"

"Mamá!" Javier menangis. 

"Kami akan jemput besok. Besok kamu pulang." 

Tapi "pulang" ke mana? El Salvador bukan lagi rumahnya. Amerika belum terasa seperti rumah. 

Bertemu Orang Asing Bernama Orang Tua 

Ketika pintu terbuka dan Mamá masuk, Javier berdiri diam. 

Wanita ini terlihat seperti foto. Tapi dia orang asing. Lima tahun adalah seumur hidup untuk anak sembilan tahun. 

Mamá berlari memeluknya, menangis. "Anak saya. Anak saya." 

Javier merasakan kehangatan pelukan. Tapi dia tidak tahu bagaimana merespons. Tubuhnya kaku. 

Papá datang—lelaki besar dengan tangan kasar dari kerja konstruksi. Dia mengangkat Javier. "Kamu tumbuh besar." 

Tapi Javier tidak ingat suaranya. Tidak ingat baunya. Tidak ingat pelukannya. 

Inilah ironi kejam migrasi: Orang tua pergi untuk memberi masa depan lebih baik bagi anak. Tapi dalam prosesnya, mereka kehilangan tahun-tahun yang tidak bisa dikembalikan. Dan anak kehilangan childhood-nya.

 


Bagian 6: Hidup Setelah Perjalanan—Trauma yang Tersembunyi 

Mimpi Buruk yang Tidak Berhenti 

Malam pertama di rumah "baru" dengan orang tua, Javier tidak bisa tidur. 

Setiap kali menutup mata, dia melihat: Chino menghilang. Geng dengan pisau. Gurun yang tak berujung. Wanita yang jatuh dan tidak bisa berdiri. 

Dia bangun berteriak. Mamá datang: "Ada apa, amor?" 

Tapi bagaimana Javier menjelaskan? Bagaimana seorang anak sembilan tahun menaruh ke dalam kata-kata hal-hal yang bahkan orang dewasa kesulitan untuk memproses? 

Tidak Bisa Jadi Anak Lagi 

Di sekolah, anak-anak lain berbicara tentang film, mainan, ulang tahun. Mereka mengeluh tentang PR. Tentang orang tua yang "cerewet." 

Javier duduk diam. Apa yang bisa dia katakan? "Aku baru saja berjalan melintasi gurun dan hampir mati"? 

Mereka tidak akan mengerti. 

Guru bertanya: "Javier, kenapa kamu tidak ikut bermain dengan teman-teman?" 

Karena Javier sudah tidak tahu bagaimana menjadi anak-anak. Perjalanan itu mengambil innocence-nya. Dia sudah melihat hal-hal yang anak-anak tidak seharusnya melihat. Dia sudah membuat keputusan hidup-mati yang anak-anak tidak seharusnya membuat. 

Dia selamat dari perjalanan. Tapi apakah dia benar-benar "sampai"? Atau sebagian dari dirinya masih tertinggal di gurun itu?

 


Bagian 7: Pelajaran dari Perjalanan—Yang Tersisa di Hati

Tentang Privilege yang Tidak Terlihat 

Javier Zamora sekarang adalah penyair terkenal, dosen universitas, penulis bestseller. Dia "sukses" dalam definisi Amerika. 

Tapi dia menulis "Solito" dengan satu tujuan: Agar orang-orang memahami apa yang anak-anak migran alami. 

Ketika Anda mendengar "illegal immigrant" di berita, Javier ingin Anda mengingat: 

Itu adalah anak sembilan tahun yang memeluk foto orang tuanya sambil menangis di malam hari. Itu adalah remaja yang memberikan uang terakhirnya untuk melindungi anak yang bahkan tidak dia kenal. Itu adalah wanita yang berbagi air terakhirnya meskipun dia sendiri sekarat kehausan. 

Mereka bukan statistik. Mereka adalah manusia yang membuat pilihan yang tidak seharusnya harus mereka buat. 

Tentang Sistem yang Memaksa Pilihan Mustahil 

"Mengapa mereka tidak datang dengan cara legal?" tanya orang. 

Javier menjawab dalam bukunya: Karena tidak ada "cara legal" untuk orang seperti keluarganya. 

Antrian untuk visa dari El Salvador? 20 tahun lebih. Keluarga Javier tidak bisa menunggu 20 tahun. Mereka tidak bisa makan dengan "proses yang benar." 

Sistem imigrasi memaksa orang memilih antara kelaparan atau ilegalitas. Antara keluarga atau "hukum." Itu bukan pilihan—itu sadisme yang sistemik. 

Tentang Kemanusiaan dalam Kegelapan 

Tapi buku ini bukan hanya tentang penderitaan. Ini juga tentang harapan. 

Patricia yang berbagi makanannya. Marcelo yang melindungi meskipun dia sendiri takut. Para migran di kereta yang tidak saling kenal tapi saling menjaga. 

Di tempat paling gelap, di saat paling desperate, kemanusiaan bersinar paling terang. 

Javier menulis: "Saya belajar bahwa orang baik ada di mana-mana. Bahkan di tempat-tempat yang sistem coba buat kita percaya hanya ada monster."

 


Penutup: Solito—Sendiri, Tapi Tidak Sendirian

Di akhir buku, Javier dewasa merefleksikan: 

"Saya melakukan perjalanan itu sendirian. 'Solito.' Tapi saya tidak pernah benar-benar sendirian." 

Ada Abuelita yang melepasnya dengan doa. Ada Chino yang—meskipun menghilang—membawanya melewati bagian awal. Ada Patricia, Carla, Marcelo yang menjadi keluarga sementara. Ada orang-orang asing yang memberi air, makanan, harapan. 

Dan sekarang, dia menulis buku ini agar anak-anak yang masih di perjalanan tahu: Mereka tidak sendirian. 

Pertanyaan untuk Kita Semua 

Membaca "Solito" memaksa kita menghadapi pertanyaan tidak nyaman: 

1. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda adalah orang tua Javier? Tetap miskin tapi bersama? Atau pergi dengan harapan suatu hari bisa reunite—tapi mengambil risiko trauma permanen? 

2. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda adalah Javier? Melakukan perjalanan yang mungkin membunuh Anda untuk bertemu orang tua yang hampir tidak Anda ingat? Atau tetap di desa, aman tapi miskin? 

3. Apa yang kita—sebagai masyarakat—bisa lakukan? Terus membangun sistem yang memaksa anak-anak melakukan perjalanan ini? Atau mengubahnya? 

Tidak ada jawaban mudah. Tapi dengan memahami cerita seperti Javier, kita mulai melihat manusia di balik headline, hati di balik statistik. 

Warisan "Solito" 

Sejak publikasi, "Solito" telah: 

● Menjadi New York Times Bestseller 

● Memenangkan berbagai penghargaan sastra 

● Diajarkan di ratusan universitas 

● Mengubah persepsi ribuan orang tentang migrasi 

Tapi yang paling penting bagi Javier: Buku ini membuat orang memahami.

Setiap kali seseorang membaca "Solito" dan melihat migran bukan sebagai "alien illegal" tapi sebagai anak sembilan tahun yang hanya ingin memeluk ibunya—itu adalah kemenangan.

 


Tentang Buku dan Penulis 

"Solito: A Memoir" diterbitkan pada September 2022 oleh Hogarth Press dan langsung menjadi fenomena. 

Javier Zamora lahir di El Salvador pada 1990. Setelah perjalanan yang diceritakan dalam buku ini, dia tumbuh di California, belajar di UC Berkeley dan New York University. Dia sekarang adalah penyair pemenang penghargaan dan advokat untuk hak-hak imigran. 

Dia menulis "Solito" selama bertahun-tahun, menggali trauma yang dia coba kubur selama dua dekade. Setiap halaman ditulis dengan air mata dan keberanian—keberanian untuk membuka luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. 

Untuk pengalaman penuh dari narasi yang powerful, menghancurkan hati, dan pada akhirnya penuh harapan ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. 

Javier menulis dengan kepolosan anak sembilan tahun tapi dengan refleksi orang dewasa yang memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kombinasi ini membuat "Solito" menjadi salah satu memoir paling mengharukan tentang migrasi yang pernah ditulis. 

Sekarang, lain kali Anda mendengar tentang "krisis perbatasan" atau "migran illegal," ingatlah Javier. 

Ingatlah anak sembilan tahun yang berjalan 3.000 mil hanya untuk memeluk ibunya. 

Dan tanyakan pada diri sendiri: Dalam sistem yang membuat anak-anak harus memilih antara keluarga dan keselamatan—siapa yang sebenarnya illegal? 

Seperti yang Javier tulis: 

"Saya tidak memilih jadi migran. Saya hanya ingin jadi anak dengan orang tuanya. Sistem yang memaksa saya mempertaruhkan nyawa untuk itu—itulah yang salah." 

Amen.