Being Mortal

Atul Gawande


Pertanyaan yang Tidak Berani Kita Tanyakan 

Bayangkan ini: Anda adalah dokter yang baru saja memberitahu pasien berusia 65 tahun bahwa kankernya kembali. Kali ini lebih agresif. Kemoterapi bisa memperpanjang hidupnya beberapa bulan—mungkin enam, mungkin sembilan. Tapi efek sampingnya brutal: mual, lemah, rambut rontok, sistem kekebalan rusak. 

Anda tahu angka-angka statistik. Anda tahu peluangnya kecil. Tapi yang Anda katakan adalah: "Ada pilihan pengobatan yang bisa kita coba." 

Anda tidak bertanya: "Apa yang paling penting bagi Anda saat ini?" 

Anda tidak bertanya: "Apa ketakutan terbesar Anda tentang masa depan?" Anda tidak bertanya: "Apa yang membuat hidup Anda masih layak dijalani?" 

Mengapa? Karena pertanyaan-pertanyaan itu terlalu sulit. Karena menerima batas adalah hal tersulit dalam kedokteran. Karena kita—dokter, pasien, keluarga—semua tidak tahu bagaimana menghadapi kenyataan bahwa kita semua fana. 

Atul Gawande, seorang dokter bedah terkemuka di Harvard dan penulis bestseller, menghabiskan karirnya menyelamatkan nyawa. Tapi ketika ayahnya sendiri menghadapi kanker tulang belakang yang tidak bisa dioperasi, dia menyadari sesuatu yang mengejutkan: 

Kedokteran modern luar biasa dalam membuat kita tetap hidup. Tapi sangat buruk dalam membantu kita hidup dengan baik sampai akhir. 

"Being Mortal" adalah hasil dari pencarian Gawande untuk menjawab pertanyaan paling mendasar dalam hidup manusia: Bagaimana kita menghadapi kematian dengan bermartabat? Dan apa yang benar-benar penting ketika waktu kita terbatas? 

Mari kita mulai dengan kebenaran yang tidak nyaman tentang penuaan.

 


Bagian 1: Kenyataan Penuaan—Yang Tidak Ada yang Beritahu Anda 

Tubuh Tidak Peduli Perasaan Anda 

Gawande memulai dengan menjelaskan realitas biologis penuaan dengan jujur yang hampir brutal. 

Gigi Anda akan tanggal. Bukan karena kebersihan buruk. Tapi karena dentin—lapisan dalam gigi—terus tumbuh sepanjang hidup sampai akar terjepit dan mati. 

Tulang Anda akan keropos. Setelah usia 40, Anda kehilangan sekitar 1% kepadatan tulang setiap tahun. Pada usia 80, tulang Anda bisa kehilangan 40% kekuatannya. 

Mata Anda akan kabur. Lensa mata mengeras. Retina menipis. Katarak adalah keniscayaan jika Anda hidup cukup lama. 

Otak Anda akan menyusut. Beratnya berkurang sekitar 10% antara usia 30 dan 70. Memori akan melambat. Nama-nama akan terlupakan. 

Ini bukan penyakit. Ini hanya penuaan. 

Tapi kedokteran modern menjual kita ilusi bahwa penuaan bisa "dikalahkan." Vitamin anti-aging. Operasi plastik. Terapi hormon. Semua menjanjikan kita bisa "tetap muda selamanya." 

Realitanya? Kita semua bergerak ke arah yang sama. Pertanyaannya bukan "apakah" tapi "bagaimana" kita akan melewatinya. 

Titik Tipping Point 

Gawande menceritakan kisah seorang wanita bernama Alice Hobson yang hidup mandiri sampai usia 77 tahun. Lalu suatu malam, dia terjatuh di kamar mandi. 

Tidak ada yang rusak. Hanya memar. Tapi setelah jatuh itu, sesuatu berubah. Dia mulai takut jatuh lagi. Berhenti keluar rumah. Berhenti memasak karena takut terbakar kompor. 

Anak-anaknya khawatir. "Ibu tidak aman tinggal sendirian lagi." 

Dalam beberapa bulan, Alice pindah ke panti jompo. 

Dan di sinilah tragedi sesungguhnya dimulai.

 


Bagian 2: Penjara Bernama "Panti Jompo" 

Hilangnya Kemandirian 

Gawande menggambarkan panti jompo modern dengan detail yang mengejutkan. 

Anda tidak bisa memilih kapan bangun. Bell berbunyi jam 6 pagi. Semua orang bangun, mau atau tidak. 

Anda tidak bisa memilih apa yang dimakan. Menu sudah ditetapkan. Jika Anda alergi atau tidak suka, too bad. 

Anda tidak boleh mengunci pintu kamar Anda sendiri. "Untuk keselamatan."

Anda tidak boleh punya tanaman atau hewan peliharaan. "Peraturan." 

Anda tidak bisa keluar tanpa izin. Bahkan untuk berjalan-jalan di taman. 

Semua aturan ini dibuat atas nama "keselamatan" dan "efisiensi." Tapi apa yang sebenarnya dikorbankan? Kehidupan itu sendiri. 

Gawande menulis: "Kita telah menciptakan sistem yang membantu orang bertahan hidup lebih lama, tapi kita tidak bertanya apakah mereka INGIN hidup seperti itu." 

Alice Hobson, yang dulunya adalah guru tari yang mandiri dan bersemangat, sekarang duduk di kursi roda di aula, menonton TV yang tidak dia pilih, menunggu waktu makan yang tidak dia inginkan. 

Dalam enam bulan, dia berhenti tersenyum. 

Dokternya senang: "Kesehatan fisiknya stabil!" 

Tapi anaknya menangis: "Ibu saya sudah mati. Dia hanya belum berhenti bernapas."

Apa yang Benar-Benar Dibutuhkan Manusia? 

Gawande mengutip psikolog Sheldon Tobin yang mempelajari lansia selama puluhan tahun. Tobin menemukan bahwa yang membuat hidup layak dijalani di usia tua bukan keamanan atau kesehatan fisik. 

Yang membuat hidup layak adalah: 

Otonomi - Kemampuan untuk membuat pilihan sendiri, sekecil apapun

Tujuan - Sesuatu yang memberikan makna pada hari-hari Anda 

Koneksi - Hubungan yang bermakna dengan orang lain atau makhluk hidup

Panti jompo tradisional mengambil semua ini. Atas nama keselamatan, mereka mencabut hal-hal yang membuat hidup layak untuk dijalani.

 


Bagian 3: Alternatif yang Lebih Manusiawi 

Revolusi Bill Thomas 

Gawande menceritakan kisah Dr. Bill Thomas, seorang dokter muda yang mulai bekerja di panti jompo di New Berlin, New York pada 1991. 

Apa yang dia lihat mengejutkannya. Lansia yang sehat secara medis tapi mati secara spiritual. Mereka makan obat untuk depresi, obat tidur, obat untuk melawan kebosanan. 

Thomas bertanya pada dirinya: "Apa yang sebenarnya mereka butuhkan?"

Jawabannya mengejutkan sistem: Mereka butuh alasan untuk bangun pagi.

Jadi dia melakukan sesuatu yang radikal. Dia membawa: 

● 100 burung berbagai jenis 

● 4 anjing 

● 2 kucing 

● Kebun sayur dan taman bunga 

Manajemen pikir dia gila. "Burung akan berisik! Anjing akan menggigit! Kebun akan berantakan!" 

Tapi Thomas tidak peduli. Dia memberi setiap penghuni tanggung jawab. Satu wanita bertanggung jawab memberi makan burung. Seorang pria merawat anjing. Yang lain merawat kebun. 

Apa yang terjadi? 

Dalam dua tahun: 

● Penggunaan obat psikotropik turun 50% 

● Tingkat kematian turun 15% 

● Yang paling mengejutkan: biaya obat turun, tapi orang-orang jauh lebih bahagia 

Seorang wanita yang tidak berbicara selama bertahun-tahun mulai bernyanyi untuk burung-burungnya. Seorang pria di kursi roda yang "tidak bisa apa-apa" ternyata jenius dalam merawat taman. 

Yang mereka butuhkan bukan lebih banyak pengawasan medis. Yang mereka butuhkan adalah alasan untuk hidup. 

Model Assisted Living 

Gawande juga menjelaskan model "assisted living" yang berbeda dari panti jompo tradisional.

Alih-alih kamar rumah sakit, mereka punya apartemen sendiri dengan kamar mandi dan dapur kecil. 

Alih-alih jadwal kaku, mereka memilih sendiri kapan bangun, apa yang dimakan, bagaimana menghabiskan hari. 

Bantuan tersedia jika diperlukan—mandi, berpakaian, obat—tapi bukan dengan cara yang mencabut kemandirian. 

Ayah Gawande sendiri, ketika sakit, memilih untuk tinggal di apartemen kecil dengan bantuan perawat paruh waktu daripada pindah ke panti jompo atau rumah anaknya. Mengapa? 

"Aku masih ingin menjalani hidupku sendiri," katanya. "Bukan hidup yang orang lain rancang untukku."

 


Bagian 4: Percakapan yang Tidak Kita Lakukan

Mengapa Dokter Menghindari Kenyataan 

Gawande jujur tentang mengapa dokter—termasuk dirinya—sangat buruk dalam berbicara tentang kematian. 

Kita dilatih untuk memperbaiki. Untuk mengobati. Untuk menyelamatkan. Kematian terasa seperti kegagalan. 

Jadi ketika pasien terminal bertanya, "Dok, berapa lama lagi saya punya waktu?" kita menjawab dengan statistik yang kabur. 

"Sulit untuk dikatakan. Setiap orang berbeda." 

Kita menawarkan kemoterapi tambahan, meskipun peluangnya hanya 1%. Mengapa? Karena lebih mudah menawarkan tindakan daripada mengakui bahwa kita sudah kehabisan pilihan. 

Tapi apa yang sebenarnya pasien butuhkan? 

Pertanyaan yang Benar 

Gawande belajar dari seorang dokter paliatif bernama Susan Block yang mengajarkan dia lima pertanyaan penting untuk pasien yang mendekati akhir hidup: 

1. "Apa pemahaman Anda tentang kondisi Anda saat ini?" (Pastikan pasien dan dokter punya pemahaman yang sama tentang realitas) 

2. "Apa ketakutan terbesar Anda tentang masa depan?" (Sering kali bukan kematian, tapi kehilangan martabat atau membebani keluarga) 

3. "Apa tujuan Anda jika kesehatan Anda memburuk?" (Apakah perpanjangan waktu dengan cara apapun? Atau kualitas hidup yang tersisa?) 

4. "Apa trade-off yang bersedia Anda terima—dan yang tidak?" (Apakah Anda mau menderita demi beberapa minggu tambahan? Atau prioritas adalah kenyamanan?) 

5. "Jika waktu Anda terbatas, apa yang paling penting untuk dicapai?" (Melihat cucu wisuda? Menyelesaikan buku? Berdamai dengan seseorang?) 

Pertanyaan-pertanyaan ini mengubah percakapan dari "Apa yang bisa kita lakukan pada penyakit ini?" menjadi "Apa yang penting bagi Anda?" 

Kisah Sara Monopoli

Gawande menceritakan kisah Sara, seorang wanita 34 tahun dengan kanker paru-paru stadium lanjut yang sedang hamil. 

Dokternya menawarkan kemoterapi demi kemoterapi, operasi eksperimental, uji klinis—meskipun peluang keberhasilannya kurang dari 5% dan efek sampingnya brutal. 

Sara menerima semuanya. Dia berpikir: "Aku harus mencoba segalanya untuk bayiku."

Tapi tidak ada yang bertanya: "Sara, apa yang paling penting bagimu?" 

Jika ditanya, mungkin jawabannya: "Aku ingin melihat bayiku lahir. Aku ingin beberapa minggu tenang bersama keluargaku." 

Sebaliknya, dia menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupnya dalam kesakitan, masuk-keluar rumah sakit, terlalu lemah untuk memeluk bayinya yang baru lahir. 

Dia meninggal di ICU, terpasang selang dan mesin, dikelilingi peralatan medis—bukan dikelilingi keluarga di rumah. 

Tragedi bukan bahwa Sara meninggal. Tragedi adalah bagaimana dia meninggal.

 


Bagian 5: Memilih Kualitas, Bukan Kuantitas

Pelajaran dari Ayah Gawande 

Bagian paling mengharukan dari buku ini adalah ketika Gawande menceritakan perjalanan ayahnya sendiri melawan kanker tulang belakang. 

Ayahnya adalah seorang ahli urologi—dokter yang memahami angka-angka medis dengan sempurna. Ketika kanker ditemukan di tulang belakangnya, dia tahu prognosisnya buruk. 

Operasi bisa meredakan tekanan pada saraf, mungkin mengembalikan sedikit fungsi. Tapi risikonya: kelumpuhan permanen atau lebih buruk. 

Radiasi bisa memperlambat pertumbuhan tumor. Tapi efek sampingnya: kelelahan ekstrem, luka bakar, mungkin kehilangan fungsi usus. 

Kemoterapi? Mungkin tambahan beberapa bulan. Dengan kualitas hidup yang sangat buruk. 

Yang luar biasa adalah percakapan antara Gawande dan ayahnya. Bukan tentang prosedur medis. Tapi tentang apa yang membuat hidup ayahnya masih berharga. 

"Apa yang paling penting bagimu sekarang, Ayah?" 

Ayahnya menjawab: "Aku ingin masih bisa makan makanan enak tanpa rasa sakit. Aku ingin masih bisa menonton pertandingan tenis. Aku ingin masih bisa nonton film dengan cucu-cucuku. Jika aku tidak bisa melakukan itu lagi, aku tidak yakin hidup masih layak." 

Dengan pemahaman ini, mereka membuat keputusan yang sangat berbeda dari kebanyakan pasien kanker. Mereka memilih perawatan yang menjaga kualitas hidup, bukan yang memperpanjang dengan cara apapun. 

Ayahnya menolak kemoterapi agresif. Memilih radiasi dosis rendah. Dan ketika saatnya tiba, memilih hospice care di rumah. 

Hasil? Ayahnya hidup lebih lama dari prediksi dokter. Dan yang lebih penting: dia hidup dengan baik sampai akhir. 

Dia masih bisa makan makanan favoritnya. Masih bisa tertawa dengan cucu-cucunya. Masih bisa menonton film yang dia suka. 

Ketika dia meninggal, bukan di ICU terpasang mesin. Dia di rumah, dikelilingi keluarga, tenang dan tanpa rasa sakit.

 


Bagian 6: Peran Hospice Care—Perawatan yang Melupakan Kematian 

Miskonsepsi tentang Hospice 

Banyak orang berpikir hospice adalah "tempat di mana orang pergi untuk mati." Seolah-olah memilih hospice berarti "menyerah." 

Gawande menunjukkan bahwa ini salah besar. 

Hospice adalah filosofi perawatan yang fokus pada kualitas hidup, bukan perpanjangan hidup dengan cara apapun. 

Studi demi studi menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: Pasien yang masuk hospice lebih awal tidak hanya hidup dengan lebih nyaman—mereka sering hidup lebih lama daripada yang memilih pengobatan agresif sampai akhir. 

Mengapa? Karena stres dari pengobatan yang brutal sering mempercepat kematian. Sedangkan perawatan yang fokus pada kenyamanan dan kesejahteraan memberikan tubuh kesempatan lebih baik. 

Apa yang Hospice Tawarkan 

Hospice memberikan: 

● Manajemen nyeri yang agresif - Tidak ada alasan untuk menderita

Dukungan emosional dan spiritual - Bukan hanya medis 

● Bantuan untuk keluarga - Merawat orang yang sekarat sangat berat

● Fleksibilitas - Perawatan bisa di rumah, bukan hanya di institusi 

● Fokus pada kualitas - Apa yang masih bisa dinikmati? Itu yang diprioritaskan 

Gawande menceritakan kisah seorang pasien hospice yang masih ingin pergi memancing. Tim hospice mengatur agar dia bisa—lengkap dengan obat nyeri yang cukup, kursi roda khusus, dan perawat yang menemani. 

Dia memancing untuk terakhir kalinya. Menangkap ikan. Tersenyum. Dua hari kemudian, dia meninggal dengan tenang di rumah. 

Apakah itu "menyerah"? Atau itu hidup penuh sampai akhir?

 


Bagian 7: Apa yang Benar-Benar Penting 

Beyond Survival 

Gawande menulis dengan powerful: 

"Kita telah menjadi sangat baik dalam menyelamatkan nyawa sampai kita lupa bahwa tujuan akhir bukanlah untuk hidup selama mungkin. Tujuan akhir adalah untuk hidup dengan baik selama kita bisa." 

Dia mengutip filsuf Alasdair MacIntyre: "Dying is not outside the narrative of life but a chapter in it." 

Kematian bukan kegagalan. Kematian adalah bagian dari hidup. Dan seperti setiap bagian hidup lainnya, ada cara yang baik dan cara yang buruk untuk melewatinya. 

Otonomi vs. Keamanan 

Gawande menantang asumsi fundamental dalam perawatan lansia: bahwa keamanan adalah prioritas tertinggi. 

Dia berargumen bahwa bagi banyak orang, otonomi lebih penting daripada keamanan. 

"Ayah saya memilih risiko jatuh di apartemennya sendiri daripada keamanan penuh pengawasan di panti jompo. Mengapa? Karena baginya, hidup tanpa kemandirian bukan hidup yang dia inginkan." 

Ini tentang memberikan orang pilihan tentang risiko apa yang ingin mereka ambil. 

Seorang wanita 85 tahun mungkin memilih untuk tetap memasak sendiri, meskipun ada risiko terbakar. Karena baginya, kemampuan memasak makanan sendiri adalah bagian dari identitasnya. 

Seorang pria 90 tahun mungkin memilih untuk tetap mengemudi, meskipun refleksnya melambat. Karena baginya, kemampuan untuk pergi ke mana dia ingin adalah kebebasan yang sangat dia hargai. 

Tugas kita bukan untuk menghilangkan semua risiko. Tugas kita adalah membantu mereka mengelola risiko dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.

 


Bagian 8: Pelajaran untuk Kita Semua 

Percakapan yang Harus Kita Lakukan Sekarang 

Gawande menutup dengan nasihat praktis untuk kita semua: 

1. Bicara dengan orang tua Anda—SEKARANG 

Jangan tunggu sampai krisis. Tanyakan: 

● "Apa yang paling penting bagimu jika kesehatanmu memburuk?" 

● "Apa ketakutanmu tentang masa tua?" 

● "Dalam keadaan seperti apa kamu merasa hidup tidak lagi layak dijalani?" 

Percakapan ini tidak nyaman. Tapi jauh lebih tidak nyaman membuat keputusan hidup-mati untuk seseorang tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. 

2. Pikirkan tentang prioritas Anda sendiri 

Bukan hanya untuk orang tua. Untuk ANDA. 

Jika suatu hari Anda didiagnosis dengan penyakit terminal, apa yang penting? 

● Hidup selama mungkin dengan cara apapun? 

● Atau hidup dengan kualitas sampai akhir? 

Tidak ada jawaban yang "benar." Tapi ANDA harus yang memutuskan—bukan dokter, bukan keluarga, bukan sistem medis. 

3. Buat advance directive 

Dokumen legal yang menjelaskan keinginan Anda jika Anda tidak bisa membuat keputusan sendiri. 

Apakah Anda mau CPR jika jantung Anda berhenti? Ventilator jika Anda tidak bisa bernapas? Feeding tube jika Anda tidak bisa makan? 

Tanpa ini, keluarga Anda akan menderita mencoba menebak apa yang Anda inginkan di momen paling sulit hidup mereka. 

4. Ingat: Lebih baik terlalu dini daripada terlalu terlambat 

Kebanyakan orang menunggu sampai sudah terlambat untuk memiliki percakapan ini. Ketika pasien sudah koma di ICU, pilihan sudah tidak ada lagi.

Bicara ketika masih ada waktu. Ketika masih bisa berpikir jernih. Ketika masih bisa membuat keputusan yang mencerminkan nilai-nilai Anda.

 


Penutup: Fana, Tapi Bermartabat 

Atul Gawande menutup "Being Mortal" dengan refleksi pribadi yang mengharukan tentang ayahnya: 

"Ketika saya melihat ke belakang pada bulan-bulan terakhir ayah saya, saya tidak melihat penderitaan. Saya melihat seorang pria yang hidup sesuai dengan nilai-nilainya sampai akhir. Yang mempertahankan kendali atas hidupnya ketika tubuhnya mengkhianatinya. Yang meninggal dengan cara yang dia pilih, dikelilingi orang-orang yang dia cintai." 

Itu adalah kematian yang baik. Dan kematian yang baik adalah bagian dari kehidupan yang baik. 

Pertanyaan untuk Anda 

Buku ini bukan hanya tentang lansia atau orang yang sekarat. Ini tentang bagaimana kita hidup—sekarang, hari ini. 

Karena pertanyaan yang Gawande ajukan untuk pasien terminal sama relevannya untuk kita semua: 

● Apa yang membuat hidup Anda layak dijalani? 

● Apa yang tidak bisa Anda toleransi kehilangannya? 

● Jika waktu Anda terbatas, apa yang paling penting? 

Kita semua punya waktu yang terbatas. Perbedaannya, beberapa dari kita tahu seberapa terbatas. Yang lain tidak. 

Tapi bukan berarti kita harus menunggu diagnosis terminal untuk mulai hidup sesuai dengan apa yang benar-benar penting. 

Seperti yang Gawande tulis: 

"Kita semua ingin hidup panjang. Tapi kita juga ingin hidup bermakna. Dan kadang, dua hal itu bertentangan. Memilih dengan bijaksana adalah seni tertinggi dalam kehidupan." 

Jadi mulailah sekarang. Bicara dengan orang yang Anda cintai. Pikirkan tentang apa yang benar-benar penting. Dan hidup dengan cara yang, ketika saatnya tiba, Anda bisa melihat ke belakang tanpa penyesalan. 

Karena pada akhirnya, bukan berapa lama kita hidup yang penting. Tapi bagaimana kita hidup selama kita punya waktu.

 


Tentang Buku dan Penulis 

"Being Mortal: Medicine and What Matters in the End" diterbitkan pada tahun 2014 dan segera menjadi New York Times bestseller. 

Atul Gawande adalah dokter bedah di Brigham and Women's Hospital di Boston, profesor di Harvard Medical School dan Harvard School of Public Health, dan staff writer untuk The New Yorker. Buku-buku sebelumnya—"Complications," "Better," dan "The Checklist Manifesto"—semuanya bestseller internasional. 

Gawande menulis dengan gaya yang langka: presisi ilmuwan, empati dokter, dan kejelasan storyteller berbakat. Dia tidak menghindari kompleksitas medis, tapi juga tidak kehilangan kemanusiaan di balik statistik. 

"Being Mortal" lahir dari pengalaman pribadinya merawat ayahnya yang sekarat dan dari frustrasinya terhadap bagaimana sistem medis menangani akhir kehidupan. Buku ini telah mengubah percakapan tentang kematian di seluruh dunia dan menginspirasi reformasi dalam perawatan lansia. 

Untuk pemahaman penuh tentang topik penting ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Gawande menyajikan puluhan cerita pasien, data penelitian, dan nuansa filosofis yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Ringkasan ini menangkap pesan inti, tetapi pengalaman lengkap membaca Gawande—dengan empati, kejujuran, dan kebijaksanaannya—hanya bisa didapat dari buku lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan lakukan percakapan yang sulit itu. Karena seperti yang Gawande buktikan: 

Percakapan yang paling sulit adalah yang paling penting. Dan percakapan tentang kematian adalah salah satunya.