Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Bayangkan sebuah pulau tropis. Pantai berpasir putih. Pohon kelapa. Laut biru jernih.
Sekarang bayangkan sekelompok anak laki-laki terdampar di pulau itu. Tidak ada orang dewasa. Tidak ada aturan. Tidak ada peradaban.
Apa yang akan terjadi?
Jika Anda pernah membaca novel "Lord of the Flies" karya William Golding, Anda tahu jawabannya: kekacauan. Anak-anak berubah menjadi buas. Mereka membentuk suku-suku yang berperang. Mereka saling membunuh. Peradaban runtuh dalam hitungan hari.
Novel itu diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia sebagai metafora tentang sifat manusia: Di balik lapisan tipis peradaban, kita semua adalah binatang yang menunggu untuk dilepaskan.
Tapi inilah yang Rutger Bregman temukan: Itu semua bohong.
Bukan novelnya—tentu saja itu fiksi. Tapi premis dasarnya yang diterima sebagai kebenaran tentang sifat manusia.
Pada tahun 1965, enam anak laki-laki Tonga benar-benar terdampar di pulau terpencil selama 15 bulan. Dan apa yang terjadi?
Tidak ada pembunuhan. Tidak ada kekacauan. Tidak ada "Lord of the Flies."
Sebaliknya, mereka:
● Membagi tugas dengan adil
● Merawat satu anak yang patah kaki sampai sembuh
● Membuat kebun untuk makanan
● Membangun sistem komunikasi untuk menyelesaikan konflik
● Menjaga api tetap menyala secara bergiliran
Ketika mereka akhirnya diselamatkan, kapten kapal berkata: "Kalian adalah anak-anak yang paling baik yang pernah saya temui."
Rutger Bregman menghabiskan bertahun-tahun meneliti satu pertanyaan yang mengubah segalanya:
Apakah manusia pada dasarnya jahat—atau pada dasarnya baik?
Dan jawabannya akan mengejutkan Anda. Lebih dari itu—jawabannya akan mengubah cara Anda melihat dunia, melihat orang lain, dan melihat diri Anda sendiri.
Mari kita mulai dengan membongkar mitos terbesar tentang manusia.
Bagian 1: Veneer Theory—Mitos yang Membentuk Dunia
Lapisan Tipis Peradaban?
Selama berabad-abad, kita diajarkan satu cerita tentang sifat manusia:
Manusia pada dasarnya egois, brutal, dan hanya dipaksa untuk berperilaku baik oleh hukum dan norma sosial.
Ini disebut "Veneer Theory"—teori yang mengatakan peradaban hanyalah lapisan tipis (veneer) yang menutupi sifat buas kita. Hilangkan hukum, hapus polisi, dan manusia akan menunjukkan sifat aslinya: binatang.
Filosofi ini berakar pada:
● Thomas Hobbes - "Manusia adalah serigala bagi manusia lain"
● Sigmund Freud - Manusia dipenuhi dorongan gelap yang harus ditekan
● Richard Dawkins - "Gen egois" yang mementingkan diri sendiri
Dan tampaknya masuk akal, bukan? Lihatlah sejarah—perang, genosida, pembunuhan massal. Lihatlah berita—kekerasan, korupsi, kejahatan.
Tapi Bregman menemukan sesuatu yang mengejutkan: Hampir semua "bukti" untuk teori ini ternyata salah atau dimanipulasi.
Membongkar Eksperimen Paling Terkenal
Stanford Prison Experiment (1971)
Anda mungkin tahu eksperimen ini. Mahasiswa dibagi menjadi "penjaga" dan "tahanan" dalam penjara simulasi. Dalam beberapa hari, penjaga menjadi sadis dan tahanan menderita trauma psikologis. Eksperimen dihentikan lebih awal.
Kesimpulan yang diajarkan: Situasi bisa membuat orang baik melakukan hal jahat.
Tapi ketika Bregman menggali arsip asli, ia menemukan kebenaran yang mengejutkan:
● Penjaga diberi skrip - Mereka diberitahu untuk bertindak kejam oleh peneliti
● Banyak penjaga menolak - Mayoritas tidak ingin bertindak sadis
● Tahanan berakting - Beberapa mengaku berpura-pura trauma untuk keluar lebih cepat
● Zimbardo memanipulasi - Peneliti aktif mendorong perilaku buruk
Eksperimen itu bukan studi ilmiah—itu adalah drama teater yang dijual sebagai sains.
Milgram Experiment (1961)
Eksperimen terkenal di mana peserta diberitahu untuk memberikan kejutan listrik pada orang lain (sebenarnya aktor). 65% peserta memberikan kejutan "mematikan" karena otoritas yang memerintah.
Kesimpulan: Manusia akan melakukan hal mengerikan jika diperintah.
Tapi Bregman menemukan:
● Kebanyakan peserta sangat ragu - Rekaman audio menunjukkan banyak yang protes dan menolak
● Data dimanipulasi - Milgram hanya melaporkan varian eksperimen yang mendukung tesisnya
● Peserta tidak percaya - Banyak yang curiga kejutannya palsu
Yang paling penting: Dalam varian eksperimen di mana otoritas tidak hadir atau korban tampak benar-benar kesakitan, hampir semua orang menolak untuk melanjutkan.
Pelajaran: Eksperimen-eksperimen "terkenal" yang membuktikan manusia jahat ternyata penuh manipulasi dan kesalahan metodologis. Tapi mereka diajarkan sebagai fakta karena mereka cocok dengan narasi yang sudah kita percayai.
Bagian 2: Homo Puppy—Survival of the Friendliest
Kita Bukan Simpanse
Bregman mengajukan pertanyaan radikal: Apa yang membuat manusia berbeda dari spesies lain?
Bukan kecerdasan—lumba-lumba dan gagak sangat cerdas. Bukan penggunaan alat—simpanse juga menggunakan alat. Bukan bahasa—banyak hewan berkomunikasi.
Yang membuat manusia unik adalah: Kita adalah spesies yang paling ramah.
Bregman menyebut kita "Homo Puppy"—seperti anjing yang dijinakkan dari serigala, manusia adalah versi "jinak" dari nenek moyang kita.
Buktinya?
1. Anatomi Menunjukkan Domestikasi
Ketika hewan didomestikasi—seperti serigala menjadi anjing—mereka mengalami perubahan fisik:
● Wajah lebih bulat dan ramah
● Telinga lebih lunak
● Periode kekanakan lebih lama
● Lebih sedikit agresi
Manusia menunjukkan semua tanda-tanda ini dibanding nenek moyang kita. Kita seperti "simpanse anak-anak yang tidak pernah tumbuh dewasa"—dengan semua keingintahuan, keramahan, dan keinginan untuk bermain.
2. Kita Berevolusi Melalui Keramahan
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dalam evolusi manusia, yang paling ramah adalah yang bertahan hidup.
Mengapa? Karena:
● Berburu besar memerlukan kerja sama tim
● Membesarkan anak memerlukan dukungan komunitas
● Berbagi pengetahuan memerlukan kepercayaan
● Manusia agresif dikucilkan atau dibunuh oleh kelompok
Ini bukan "survival of the fittest" dalam arti kompetisi brutal. Ini "survival of the friendliest"—yang paling kooperatif dan sosial yang berkembang.
3. Bayi Manusia Membuktikannya
Bayi manusia lahir dengan kecenderungan untuk:
● Membuat kontak mata
● Tersenyum pada orang asing
● Menunjuk untuk berbagi perhatian
● Membantu orang lain—bahkan tanpa reward
Eksperimen menunjukkan bahwa bayi berusia 14 bulan akan secara spontan membantu orang dewasa yang kesulitan—membuka pintu, mengambil barang yang jatuh—tanpa diminta atau diberi imbalan.
Jika manusia pada dasarnya egois, mengapa bayi yang bahkan belum diajarkan aturan sosial sudah ingin membantu?
Bagian 3: Bias Negatif—Mengapa Kita Pikir Dunia Lebih Buruk
Paradoks Persepsi
Inilah paradoks: Dunia semakin baik, tapi kita pikir semakin buruk.
Data menunjukkan:
● Kemiskinan global turun drastis
● Tingkat pembunuhan terendah dalam sejarah
● Harapan hidup naik
● Akses pendidikan dan kesehatan membaik
Tapi survei menunjukkan sebagian besar orang percaya dunia semakin buruk.
Mengapa?
Media dan Otak Kita
Bregman menjelaskan bahwa otak kita memiliki bias negatif—kita lebih memperhatikan ancaman daripada hal baik. Ini masuk akal dari perspektif evolusi: nenek moyang yang waspada terhadap bahaya lebih mungkin bertahan.
Tapi di dunia modern, bias ini dieksploitasi oleh media.
Formula berita: "If it bleeds, it leads"—kalau ada darah, jadi headline.
Mengapa? Karena berita buruk menarik perhatian. Dan perhatian = iklan = uang.
Hasilnya: Kita dibombardir dengan 24/7 berita tentang pembunuhan, bencana, korupsi, perang. Kita jarang mendengar tentang jutaan tindakan kebaikan sehari-hari—karena itu tidak "menjual."
Efek Jangka Panjang:
Ketika kita terus-menerus terpapar berita negatif tentang manusia, kita mulai percaya itulah sifat manusia. Ini menciptakan siklus:
1. Media menunjukkan sisi terburuk manusia
2. Kita percaya manusia pada dasarnya buruk
3. Kita membangun sistem berdasarkan ketidakpercayaan
4. Sistem ini memunculkan perilaku buruk
5. Media melaporkan perilaku buruk ini
6. Kembali ke langkah 1
Nocebo Effect—Harapan Membentuk Realitas
Anda tahu efek plasebo: jika Anda percaya obat akan menyembuhkan, kadang itu benar-benar menyembuhkan.
Bregman memperkenalkan efek nocebo: jika Anda percaya sesuatu akan membahayakan, itu bisa benar-benar membahayakan.
Dan ini berlaku untuk persepsi tentang manusia:
Jika kita percaya manusia pada dasarnya jahat:
● Kita membangun sistem kontrol dan hukuman
● Kita tidak mempercayai orang lain
● Kita bertindak defensif dan egois
● Orang lain merespons dengan cara yang sama
● Keyakinan kita "terbukti" benar
Jika kita percaya manusia pada dasarnya baik:
● Kita membangun sistem kepercayaan dan otonomi
● Kita memberi benefit of the doubt
● Kita bertindak murah hati dan kooperatif
● Orang lain merespons dengan kebaikan
● Keyakinan kita terbukti benar
Keyakinan kita tentang sifat manusia menjadi ramalan yang memenuhi dirinya sendiri.
Bagian 4: Kisah Nyata yang Mengubah Narasi
Bencana Alam—Kebaikan, Bukan Kekacauan
Kita sering mendengar: "Ketika bencana terjadi, orang menjarah dan mengamuk."
Tapi penelitian menunjukkan sebaliknya.
Setelah Badai Katrina, gempa Haiti, tsunami Jepang—media melaporkan kekacauan dan penjarahan massal. Tapi ketika peneliti turun ke lapangan, mereka menemukan:
Mayoritas orang membantu satu sama lain.
Mereka berbagi makanan. Mereka mencari korban di reruntuhan. Mereka membuka rumah untuk orang asing. Mereka membentuk komunitas darurat spontan.
Kasus penjarahan? Minimal. Dan sering untuk kebutuhan dasar (air, makanan)—bukan TV.
Yang paling mengejutkan: Banyak korban melaporkan bencana sebagai pengalaman yang "mengubah hidup" secara positif.
Mengapa? Karena dalam bencana:
● Hierarki sosial runtuh—semua orang sama
● Materialisme hilang—yang penting adalah survival
● Komunitas kembali—orang bergantung pada orang lain
● Makna ditemukan—membantu orang lain memberikan tujuan
Seorang korban tsunami berkata: "Itu adalah saat paling mengerikan sekaligus paling bermakna dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya, saya merasa benar-benar terhubung dengan orang lain."
Perang Dunia II—Tentara yang Tidak Menembak
Inilah fakta yang mengejutkan: Dalam Perang Dunia II, mayoritas tentara tidak menembak musuh—bahkan ketika nyawa mereka terancam.
Peneliti militer S.L.A. Marshall menemukan bahwa hanya 15-20% tentara AS yang benar-benar menembakkan senjata mereka ke arah musuh dalam pertempuran.
Mengapa? Karena membunuh sesama manusia bertentangan dengan sifat dasar kita.
Bahkan di medan perang, bahkan ketika musuh mencoba membunuhmu, hambatan psikologis untuk mengambil nyawa manusia lain sangat kuat.
Militer menyadari ini dan mengubah pelatihan mereka—menggunakan target berbentuk manusia, kondisioning pavlovian, dehumanisasi musuh—untuk "mengatasi" kecenderungan alami manusia untuk tidak membunuh.
Dan ini berhasil. Pada Perang Vietnam, persentase tentara yang menembak naik menjadi 90%.
Tapi dengan biaya tinggi: Veteran mengalami PTSD yang lebih tinggi justru karena mereka bertindak melawan sifat dasar mereka.
Bagian 5: Pulau Paskah—Cerita yang Kita Percayai Membentuk Kita
Mitos Keruntuhan
Anda mungkin tahu cerita Pulau Paskah:
Peradaban maju membangun patung moai raksasa. Tapi mereka terlalu serakah—menebang semua pohon untuk mengangkut patung. Ekosistem runtuh. Peradaban runtuh dalam perang dan kanibalisme.
Moral: Manusia akan menghancurkan lingkungan mereka sendiri karena keserakahan.
Cerita ini diajarkan sebagai peringatan tentang sifat manusia dan perubahan iklim.
Tapi Bregman menemukan: Hampir semua ini salah.
Penelitian terbaru menunjukkan:
● Pohon tidak hilang karena patung, tapi karena tikus yang dibawa penjajah Eropa
● Tidak ada bukti perang massal atau kanibalisme
● Populasi stabil sampai penjajah datang membawa penyakit
● "Keruntuhan" terjadi setelah perbudakan oleh Eropa, bukan sebelumnya
Cerita Pulau Paskah adalah mitos yang diciptakan oleh penjajah Eropa untuk membenarkan tindakan mereka.
"Lihat," kata mereka, "Peradaban ini sudah runtuh sebelum kita datang. Mereka menghancurkan diri sendiri."
Tapi kebenarannya? Mereka adalah korban penjajahan, bukan keserakahan sendiri.
Mengapa Ini Penting?
Karena cerita yang kita percayai tentang masa lalu membentuk bagaimana kita bertindak di masa depan.
Jika kita percaya manusia selalu menghancurkan lingkungan karena keserakahan → kita pesimis tentang mengatasi perubahan iklim.
Jika kita tahu manusia sebagian besar kooperatif dan berkelanjutan sampai sistem tertentu memaksa mereka tidak → kita bisa mengubah sistem itu.
Narasi yang kita pilih menentukan masa depan yang kita ciptakan.
Bagian 6: Membangun Sistem Berdasarkan Kepercayaan
Penjara di Norwegia vs Amerika
Bregman membandingkan dua pendekatan sangat berbeda:
Sistem AS:
● Dibangun atas ketidakpercayaan—narapidana adalah ancaman
● Sel kecil, terisolasi, dijaga ketat
● Fokus pada hukuman, bukan rehabilitasi
● Tingkat residivisme (kembali ke penjara): 76% dalam 5 tahun
Sistem Norwegia:
● Dibangun atas kepercayaan—narapidana adalah manusia yang bisa berubah
● Sel seperti apartemen kecil dengan TV dan dapur
● Narapidana belajar keterampilan, dapat otonomi
● Penjaga dipanggil "officer" dan makan bersama narapidana
● Tingkat residivisme: 20% dalam 5 tahun
Norwegia membuktikan: Ketika Anda memperlakukan orang seperti manusia yang bisa dipercaya, mereka bertindak seperti itu.
Sekolah di Belanda—Pendidikan Berbasis Kepercayaan
Bregman mengunjungi sekolah Agora di Belanda:
● Tidak ada kelas tradisional
● Tidak ada ujian standar
● Tidak ada guru yang mengajar dari depan
● Siswa memilih apa yang ingin dipelajari
● Guru adalah "coach" yang mendukung, bukan mengontrol
Hasilnya? Siswa lebih termotivasi, lebih kreatif, dan akademik mereka tidak tertinggal.
Mengapa ini berhasil? Karena sistem ini percaya pada keingintahuan alami anak-anak, bukan memaksa mereka dengan hukuman dan reward eksternal.
Tempat Kerja—Buurtzorg
Perusahaan kesehatan rumah Buurtzorg di Belanda menghapus:
● Manajer menengah
● Target dan KPI
● Prosedur ketat
Sebagai gantinya:
● Tim kecil perawat mengelola diri sendiri
● Mereka memutuskan sendiri cara terbaik merawat pasien
● Mereka dipercaya untuk melakukan pekerjaan mereka
Hasilnya:
● Kepuasan kerja tertinggi di industri
● Kepuasan pasien tertinggi
● Biaya operasional 40% lebih rendah
Kepercayaan tidak hanya membuat orang lebih bahagia—itu lebih efisien.
Bagian 7: Mengubah Lensa—Dari Sinis Menjadi Realis
Bukan Naif, Tapi Realis
Bregman mengantisipasi kritik: "Ini kedengarannya naif. Dunia nyata tidak seperti ini."
Tapi dia berargumen: Percaya manusia pada dasarnya jahat adalah yang naif.
Karena keyakinan itu mengabaikan:
● Bukti ilmiah tentang evolusi kita
● Data tentang perilaku manusia dalam krisis
● Kesuksesan sistem berbasis kepercayaan
● Ribuan tindakan kebaikan sehari-hari yang tidak dilaporkan
Yang naif adalah percaya pada cerita-cerita yang telah dibongkar oleh sains modern.
Percaya pada kebaikan manusia adalah realisme yang berani.
Prinsip Kontak
Salah satu temuan paling kuat Bregman: Kontak mengurangi prasangka.
Ketika kelompok yang bermusuhan benar-benar berinteraksi—tidak hanya melihat dari jauh—prasangka berkurang drastis.
Eksperimen "Robbers Cave" menunjukkan ini. Dua kelompok anak laki-laki dibuat saling bermusuhan. Lalu peneliti menciptakan situasi di mana mereka harus bekerja sama (memperbaiki suplai air).
Hasilnya? Dalam beberapa hari, permusuhan hilang. Mereka menjadi teman.
Ini berlaku untuk:
● Prasangka rasial
● Konflik politik
● Ketegangan antar kelompok agama
Solusinya bukan segregasi untuk "keamanan," tapi integrasi dan kontak.
Bagian 8: Sepuluh Aturan untuk Hidup Berdasarkan Pandangan Baru
Bregman menutup dengan panduan praktis:
1. Saat ragu, asumsikan yang terbaik
Ketika seseorang bertindak buruk, tanyakan: "Apa situasi yang membuat mereka bertindak begitu?" bukan "Orang ini memang jahat."
2. Berpikir dalam hal abu-abu, bukan hitam-putih
Manusia kompleks. Tidak ada orang yang sepenuhnya baik atau buruk.
3. Bertanya, jangan berasumsi
Sebelum menghakimi, cari tahu cerita lengkapnya.
4. Percayai lebih banyak orang
Ya, kadang Anda akan dikhianati. Tapi lebih sering, kepercayaan akan dibalas dengan kepercayaan.
5. Hindari berita negatif
Batasi konsumsi berita yang sensasional. Ini meracuni persepsi Anda tentang dunia.
6. Jangan menghakimi cepat
Butuh waktu untuk memahami situasi sepenuhnya.
7. Fokus pada sistem, bukan individu
Sering masalahnya bukan "orang jahat," tapi sistem yang buruk.
8. Rayakan yang baik
Berbagi cerita kebaikan. Apa yang kita fokuskan akan tumbuh.
9. Bersikap terbuka pada kontak
Keluar dari bubble Anda. Bicara dengan orang yang berbeda.
10. Maafkan diri sendiri
Ketika Anda gagal hidup sesuai standar ini, ingat: Anda juga manusia yang sedang belajar.
Penutup: Memilih Cerita yang Kita Percayai
Rutger Bregman menutup dengan pemikiran powerful:
"Pilihan untuk percaya pada kebaikan manusia adalah pilihan paling pragmatis yang bisa kita buat."
Bukan karena itu selalu benar dalam setiap kasus individual. Tapi karena:
1. Ini didukung bukti - Sains menunjukkan manusia berevolusi untuk kooperasi
2. Ini menciptakan realitas lebih baik - Sistem berbasis kepercayaan berhasil lebih baik
3. Ini ramalan yang memenuhi diri - Ketika kita percaya orang baik, mereka cenderung bertindak baik
Kita telah hidup terlalu lama dengan cerita bahwa manusia pada dasarnya egois dan brutal. Cerita ini telah membentuk institusi kita, kebijakan kita, bahkan cara kita membesarkan anak.
Tapi cerita itu salah. Dan sudah waktunya untuk cerita baru—cerita yang lebih akurat dan lebih penuh harapan.
Pertanyaan untuk Anda
Hari ini, ketika Anda bertemu seseorang—di jalan, di toko, di kantor—tanyakan pada diri sendiri:
"Apakah saya melihat mereka dengan lensa sinis yang mengatakan mereka mungkin ancaman? Atau dengan lensa realis yang mengatakan kemungkinan besar mereka, seperti saya, hanya mencoba menjalani hidup dengan baik?"
Pilihan lensa ini menentukan dunia yang Anda alami.
Dan jika cukup banyak dari kita memilih lensa yang kedua, kita tidak hanya mengubah persepsi kita—kita mengubah realitas.
Seperti yang Bregman tulis:
"Mayoritas orang, dalam mayoritas situasi, mayoritas waktu, memilih untuk melakukan hal yang benar. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah realitas tentang sifat manusia."
Jadi lain kali seseorang mengatakan "Manusia pada dasarnya egois," Anda bisa tersenyum dan berkata:
"Sebenarnya, sains menunjukkan sebaliknya. Dan saya memilih untuk hidup seolah-olah kebaikan manusia adalah norma—karena itu memang normanya."
Dunia tidak akan berubah dalam semalam. Tapi perubahan dimulai dengan satu orang yang memilih untuk percaya pada hal yang lebih baik.
Mungkin orang itu adalah Anda.
Tentang Buku Asli
"Humankind: A Hopeful History" diterbitkan pada 2020 oleh Rutger Bregman, sejarawan dan jurnalis Belanda.
Bregman sebelumnya menulis "Utopia for Realists" yang mengusulkan Universal Basic Income dan minggu kerja 15 jam. Dia terkenal karena pidato viral di Davos di mana dia mengkritik elit dunia karena tidak membahas pajak.
"Humankind" adalah hasil penelitian bertahun-tahun, menggali arsip eksperimen psikologi, mewawancarai ilmuwan, dan mengunjungi komunitas dan institusi yang menerapkan prinsip berbasis kepercayaan.
Buku ini telah diterjemahkan ke 40+ bahasa dan menjadi bestseller internasional. Dianggap sebagai salah satu buku paling penting dekade ini untuk mengubah cara kita berpikir tentang sifat manusia.
Untuk pemahaman lengkap dengan semua bukti ilmiah, cerita, dan argumentasi detail, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi, tetapi perjalanan penuh melalui argumen Bregman—dengan ratusan referensi penelitian dan kisah mengharukan—hanya bisa dialami dalam buku lengkap.
Sekarang pergilah dan lihatlah dunia dengan mata baru.
Mata yang melihat kebaikan yang selalu ada—tapi yang kita ajarkan untuk tidak melihat.
Karena seperti yang Bregman buktikan: Sebagian besar waktu, dalam sebagian besar situasi, sebagian besar orang berusaha melakukan hal yang benar.
Dan mengetahui itu mengubah segalanya.

