Wintering

Katherine May


Ketika Hidup Tiba-Tiba Berhenti 

Bayangkan ini: Anda sedang menjalani hidup seperti biasa. Pekerjaan, keluarga, rutinitas. Semuanya bergerak seperti mesin yang sudah teratur. 

Lalu tiba-tiba—semuanya runtuh. 

Mungkin Anda kehilangan pekerjaan. Mungkin diagnosa medis yang mengejutkan. Mungkin kematian orang yang dicintai. Mungkin burnout yang membuat Anda tidak bisa bangun dari tempat tidur. Mungkin perceraian. Mungkin depresi yang datang tanpa alasan jelas. 

Dunia terus berputar. Orang-orang terus menjalani hidup mereka. Tapi Anda—Anda terjebak. 

Anda merasa seperti gagal. Seperti tertinggal. Seperti ada yang salah dengan Anda karena tidak bisa "bounce back" seperti yang diharapkan semua orang. 

Ini yang terjadi pada Katherine May pada musim gugur 2016. 

Dalam satu minggu, suaminya dilarikan ke rumah sakit dengan sakit misterius yang tidak bisa didiagnosa. Dia kehilangan pekerjaan. Dan tubuhnya sendiri mulai memberontak—kelelahan ekstrem, nyeri, kewalahan yang membuatnya tidak bisa berfungsi. 

Dia, seorang wanita yang selalu produktif, yang selalu bergerak, yang selalu "baik-baik saja"—tiba-tiba tidak bisa melakukan apa-apa selain bertahan. 

Dan di tengah kegelapan itu, dia menyadari sesuatu: 

Dia sedang memasuki musim dingin. 

Bukan musim dingin literal di kalender. Tapi musim dingin dalam hidup—periode ketika dunia mengecil, ketika energi menghilang, ketika satu-satunya pilihan adalah menarik diri, istirahat, dan menunggu musim semi datang lagi. 

"Wintering" adalah buku tentang periode gelap ini. Tentang bagaimana kita semua, cepat atau lambat, akan menghadapinya. Dan tentang bagaimana—alih-alih melawan atau menyangkal—kita bisa belajar untuk melewatinya dengan bijaksana.

Mari kita mulai perjalanan ini.  Perjalanan ke dalam kegelapan, dengan janji bahwa cahaya akan datang lagi.

 


Bagian 1: Apa Itu Wintering? 

Metafora yang Kita Lupakan 

Katherine May menulis: "Wintering adalah musim di hati yang beku, ketika dunia yang kita kenal mencair dan menghilang." 

Di dunia modern, kita seolah lupa bahwa hidup punya musim. Kita hidup seolah setiap hari harus produktif, setiap bulan harus pertumbuhan, setiap tahun harus "terbaik." 

Tapi alam tidak bekerja seperti itu. 

Pohon tidak tumbuh sepanjang tahun. Hewan tidak aktif sepanjang waktu. Bahkan tanah butuh waktu berbaring tanpa ditanami agar subur kembali. 

Musim dingin bukan kegagalan. Musim dingin adalah bagian necessary dari siklus kehidupan. 

Dan yang May sadari: manusia juga punya musim dingin. Periode ketika kita perlu menarik diri, melambat, dan membiarkan diri kita "tidak baik-baik saja." 

Wintering Bukan Pilihan 

Inilah yang penting dipahami: Anda tidak memilih untuk wintering. Wintering datang pada Anda. 

Bisa karena: 

● Kehilangan (pekerjaan, orang, identitas) 

● Penyakit (fisik atau mental) 

● Krisis (keuangan, relasi, eksistensial) 

● Burnout (dari terlalu lama "musim panas") 

● Atau kadang tanpa alasan jelas—dunia hanya terasa terlalu berat 

May menulis: "Kita tidak bisa mencegah musim dingin, tapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalaninya." 

Pilihan itu yang membuat perbedaan antara wintering yang merusak dan wintering yang transformatif.

 


Bagian 2: Melawan vs Menyerah—Pilihan Ketiga

Budaya yang Menolak Kegelapan 

Kita hidup di budaya yang terobsesi dengan positivitas, produktivitas, dan progress.

"Tetap positif!" "Kamu kuat, kamu bisa!" "Jangan menyerah!" "Bangkit lagi!" 

Pesan-pesan ini—meskipun dengan niat baik—menciptakan tekanan brutal pada orang yang sedang wintering. 

Karena ketika Anda sedang di musim dingin, Anda tidak bisa tetap positif sepanjang waktu. Anda tidak merasa kuat. Anda ingin menyerah. Dan upaya untuk "bangkit" malah membuat Anda lebih lelah. 

May mengamati: ketika orang-orang bertanya "Bagaimana kabarmu?" mereka hanya ingin satu jawaban: "Baik." 

Jika Anda jujur—"Sebenarnya saya sedang berjuang"—mereka tidak nyaman. Mereka ingin memperbaiki Anda. Memberikan solusi. Atau lebih buruk: mereka menjauh. 

Pilihan Ketiga: Menerima dan Menavigasi 

May menawarkan jalan ketiga antara melawan dan menyerah: 

Terima bahwa Anda sedang wintering. Lalu navigasi dengan bijaksana. 

Ini bukan tentang menyerah pada keputusasaan. Tapi juga bukan tentang toxic positivity yang mengabaikan rasa sakit nyata. 

Ini tentang mengatakan: 

● "Ya, saya sedang dalam periode sulit." 

● "Ya, ini menyakitkan dan menakutkan." 

● "Dan ya, ini akan berlalu—tapi tidak hari ini." 

● "Jadi apa yang saya butuhkan hari ini untuk bertahan?" 

Perbedaan halus tapi profound ini—dari "Saya harus keluar dari ini secepatnya" menjadi "Saya akan melewati ini dengan sebijak mungkin"—mengubah segalanya.

 


Bagian 3: Pelajaran dari Alam—Beruang yang Berhibernasi 

Kebijaksanaan Hibernasi 

May menghabiskan waktu mempelajari bagaimana hewan bertahan di musim dingin. Dan dia menemukan: mereka tidak melawan musim dingin. Mereka beradaptasi. 

Beruang tidak mencoba tetap terjaga sepanjang musim dingin. Mereka berhibernasi. Detak jantung melambat. Metabolisme turun. Mereka tidur selama berbulan-bulan, hidup dari cadangan lemak yang dikumpulkan di musim panas. 

Ketika musim semi tiba, mereka bangun—lebih ringan, lebih lapar, tapi hidup. 

Apa yang akan terjadi jika beruang menolak hibernasi? Jika mereka mencoba tetap aktif, mencari makan di tengah salju, berlari seperti biasa? 

Mereka akan mati. 

May menyadari: kita manusia sama. Ketika kita menolak untuk "berhibernasi" ketika tubuh dan jiwa meminta istirahat, kita membakar diri kita sendiri. 

Ritme, Bukan Garis Lurus 

Alam bekerja dalam ritme sirkular: musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, lalu musim semi lagi. 

Tapi budaya modern kita bekerja dalam garis lurus: naik, naik, naik. Pertumbuhan konstan. Produktivitas konstan. Kebahagiaan konstan. 

Ini tidak sustainable. Dan ketika kita gagal mempertahankan garis lurus itu, kita merasa seperti failure. 

May mengajak kita kembali ke ritme natural: 

● Ada waktu untuk tumbuh dan waktu untuk istirahat 

● Ada waktu untuk keluar dan waktu untuk menarik diri 

● Ada waktu untuk bersinar dan waktu untuk redup 

Semua musim punya nilai. Termasuk musim dingin.

 


Bagian 4: Apa yang Dilakukan di Musim Dingin?

1. Memperlambat—Seni Tidak Melakukan Apa-apa 

Di musim dingin, May belajar melakukan sesuatu yang asing baginya: tidak melakukan apa-apa. 

Tidak bekerja. Tidak mengejar tujuan. Tidak "produktif" dalam cara apa pun yang diakui masyarakat. 

Dia duduk. Dia melihat keluar jendela. Dia tidur siang panjang. Dia berjalan lambat tanpa tujuan. 

Dan dia menemukan: dalam ketidakgiatan ini, ada ruang untuk penyembuhan. 

Otak yang selama bertahun-tahun beroperasi pada kecepatan tinggi akhirnya punya waktu untuk memproses. Tubuh yang selama bertahun-tahun terabaikan akhirnya punya waktu untuk pulih. 

Praktik: "Doing nothing" yang disengaja 

Luangkan waktu setiap hari untuk benar-benar tidak melakukan apa-apa. Tidak scroll HP. Tidak mendengarkan podcast. Tidak "produktif" sama sekali. 

Hanya duduk. Menatap. Membiarkan pikiran mengembara. 

Ini terasa tidak nyaman di awal—karena kita sudah terlatih untuk selalu "sibuk." Tapi dalam ketidaknyamanan itu ada pembelajaran penting: Anda berharga bahkan ketika Anda tidak melakukan apa-apa. 

2. Mundur dari Dunia—Permission to Withdraw 

May memberikan dirinya izin untuk menarik diri dari dunia sosial. 

Tidak datang ke pesta. Tidak membalas semua pesan. Tidak menjaga hubungan yang menguras energi. 

Ini bukan depresi sosial yang tidak sehat. Ini adalah penarikan strategis untuk konservasi energi. 

Dia menulis: "Musim dingin adalah waktu untuk mengecilkan dunia Anda, fokus pada yang esensial, dan membiarkan sisanya menunggu." 

Praktik: Audit energi sosial 

Tanyakan tentang setiap komitmen sosial:

● Apakah ini memberi energi atau mengambil energi? 

● Apakah saya datang karena ingin atau karena merasa harus? 

● Apa yang terjadi jika saya tidak datang? 

Di musim dingin, berikan diri Anda izin untuk mengatakan tidak pada yang mengambil energi dan tidak esensial. 

3. Merangkul Kegelapan—Ada Kebijaksanaan di Sana 

Budaya kita takut pada kegelapan—literal dan metaforis. 

Kita nyalakan lampu sepanjang malam. Kita tidur dengan TV menyala. Kita takut sendirian dengan pikiran kita. 

May mengajak kita untuk duduk dengan kegelapan, bukan lari darinya. 

Dia pergi ke Norwegia di tengah musim dingin, di mana matahari hampir tidak terbit. Di sana, dia belajar dari orang-orang yang tidak hanya survive dalam kegelapan, tetapi menemukan keindahan di dalamnya. 

Ada cahaya lilin. Ada aurora borealis. Ada keintiman yang hanya datang dalam kegelapan. 

Dan secara metaforis: dalam kegelapan emosional, ada kebenaran yang tidak terlihat di cahaya. 

Ketika May berhenti lari dari kesedihannya, dia menemukan apa yang sebenarnya dia ratapi. Ketika dia berhenti mengalihkan dari ketakutannya, dia menemukan apa yang sebenarnya dia butuhkan. 

Praktik: Journaling malam 

Sebelum tidur, duduk dalam kegelapan (atau cahaya redup). Tulis: 

● Apa yang saya rasakan hari ini yang saya hindari? 

● Apa yang mencoba diajarkan oleh rasa sakit ini pada saya? 

● Apa yang sebenarnya saya butuhkan? 

Tidak perlu jawaban. Cukup mengajukan pertanyaan. 

4. Merawat Tubuh dengan Lembut—Warmth and Nourishment 

Di musim dingin, May belajar merawat tubuhnya dengan cara baru—tidak dengan disiplin keras, tetapi dengan kelembutan. 

Dia mandi air panas yang lama. Dia minum teh hangat. Dia pakai pakaian tebal dan nyaman. Dia makan sup yang menghangatkan.

Dia menulis: "Tubuh saya sudah bekerja keras cukup lama. Sekarang waktunya untuk memberikan kehangatan." 

Praktik: Ritual kehangatan 

Ciptakan ritual kecil yang memberikan kehangatan fisik dan emosional: 

● Mandi air hangat dengan garam Epsom 

● Membuat minuman hangat favorit dengan penuh perhatian 

● Membungkus diri dengan selimut tebal 

● Menyalakan lilin yang baunya menenangkan 

Ini bukan self-indulgence yang egois. Ini adalah self-care yang necessary.

 


Bagian 5: Cerita dari Orang yang Wintering

Virginia Woolf—Wintering yang Kreatif 

May mempelajari kehidupan Virginia Woolf, penulis yang mengalami episode depresi berat sepanjang hidupnya. 

Woolf tidak melawan musim dinginnya. Dia menulis dari dalamnya. 

Beberapa karyanya yang paling mendalam—"Mrs. Dalloway," "To the Lighthouse"—ditulis selama atau segera setelah periode gelap. 

Dia tidak menunggu sampai "baik-baik saja" untuk berkarya. Dia berkarya dengan rasa sakitnya, bukan terlepas darinya. 

Pelajaran: Wintering bisa menjadi sumber kreativitas dan depth yang tidak tersedia di musim panas. 

Frida Kahlo—Menemukan Diri dalam Penderitaan 

Frida Kahlo mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan. Hidupnya penuh dengan rasa sakit fisik yang kronis. 

Tapi dari tempat tidur itu, dia melukis. Dan dalam lukisannya, dia menemukan identitas dan suara yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. 

Dia tidak "mengatasi" rasa sakitnya. Dia mengintegrasikannya ke dalam seninya, kehidupannya, identitasnya. 

Pelajaran: Musim dingin bisa menjadi tempat kita menemukan siapa kita sebenarnya—bukan versi "produktif" kita, tetapi self yang lebih otentik dan utuh.

 


Bagian 6: Komunitas dan Kesendirian—Keduanya Dibutuhkan 

Solitude Bukan Kesepian 

May membedakan antara solitude (kesendirian yang dipilih) dan loneliness (kesepian yang menyakitkan). 

Di musim dingin, kita butuh solitude—waktu sendirian untuk memproses, menyembuhkan, dan mendengarkan diri sendiri. 

Tapi kita juga butuh tahu: kita tidak sendirian dalam wintering. 

Menemukan Fellow Winterers 

May menemukan bahwa ketika dia jujur tentang winteringnya, orang-orang lain mulai berbagi cerita mereka. 

"Saya juga pernah di sana." "Saya sedang mengalaminya sekarang." "Saya pikir saya satu-satunya." 

Ada kenyamanan profound dalam tahu: orang lain juga wintering. Saya tidak aneh. Saya tidak rusak. Saya manusia. 

Praktik: Berbagi dengan yang aman 

Temukan satu atau dua orang yang aman—yang tidak akan mencoba memperbaiki Anda, yang tidak akan memberi nasihat yang tidak diminta, yang hanya akan hadir. 

Katakan: "Saya sedang dalam periode sulit. Saya tidak butuh solusi. Saya hanya butuh didengar." 

Orang yang tepat akan mendengar. Dan dalam didengar, ada penyembuhan.

 


Bagian 7: Tanda-Tanda Musim Semi—Emerging

Anda Tidak Akan Tahu Kapan 

May menulis: "Musim semi tidak datang dengan pengumuman. Dia datang secara bertahap, dalam tanda-tanda kecil yang mudah terlewat." 

Suatu pagi, Anda bangun dan merasa sedikit lebih ringan. Tugas yang kemarin terasa mustahil hari ini terasa mungkin. Anda tertawa pada sesuatu—dan terkejut bahwa Anda bisa tertawa lagi. 

Ini adalah musim semi. 

Tapi jangan berharap transformasi dramatis. Musim semi adalah proses bertahap. Salju mencair perlahan. Tunas muncul pelan-pelan. Hangat datang dalam gelombang. 

Jangan Terburu-buru 

Godaan terbesar ketika merasa sedikit lebih baik adalah melompat kembali ke kehidupan penuh kecepatan tinggi. 

May memperingatkan: Jangan

Musim semi adalah transisi. Tanah masih rapuh. Tunas masih rentan. Jika Anda langsung kembali ke intensitas musim panas, Anda bisa kembali ke musim dingin. 

Bergerak perlahan. Test secara gentle. Dengarkan tubuh dan jiwa Anda.

Praktik: Re-entry yang lembut 

Ketika Anda mulai merasa lebih baik: 

● Tambahkan satu komitmen kecil, lalu lihat bagaimana rasanya 

● Beri jarak waktu untuk recovery 

● Tetap jaga ritual yang membantu Anda di musim dingin 

● Izinkan diri untuk mundur jika terlalu banyak 

Musim semi bukan akhir dari kebutuhan untuk merawat diri sendiri. Ini adalah awal dari cara baru untuk hidup.

 


Bagian 8: Hidup dengan Kesadaran Musim

Tidak Kembali ke "Normal" 

Setelah wintering, May menyadari: dia tidak ingin kembali ke kehidupan seperti sebelumnya. 

Kehidupan sebelumnya yang membawanya ke burnout. Yang membuat dia kehilangan dirinya. Yang mengabaikan kebutuhan tubuh dan jiwanya. 

Wintering mengajarkan dia cara hidup yang berbeda. 

Cara hidup yang menghormati ritme, yang memberi ruang untuk istirahat, yang tahu kapan mundur dan kapan maju. 

Mengintegrasikan Pelajaran 

Pelajaran dari musim dingin yang May bawa ke musim-musim lainnya: 

1. Dengarkan tubuh Ketika tubuh mengatakan istirahat, istirahat. Jangan tunggu sampai runtuh total. 

2. Audit rutin kehidupan Secara berkala, tanyakan: "Apa yang menguras energi tanpa memberikan nilai? Apa yang bisa saya lepaskan?" 

3. Jaga ritual yang menenangkan Jangan tunggu sampai krisis untuk merawat diri sendiri. Buat ritual kecil setiap hari. 

4. Terima siklus Hidup akan punya pasang surut. Itu normal. Itu manusiawi. Itu sehat. 

5. Berani mundur ketika perlu Tidak setiap undangan harus diterima. Tidak setiap kesempatan harus diambil. Tahu kapan mengatakan tidak adalah kebijaksanaan, bukan kelemahan.

 


Penutup: Musim Dingin Akan Datang Lagi—Dan Itu OK 

Katherine May menutup bukunya dengan kebenaran yang mungkin tidak nyaman tapi necessary: 

Musim dingin akan datang lagi. 

Mungkin tahun depan. Mungkin sepuluh tahun lagi. Mungkin berkali-kali dalam hidup Anda. 

Kehilangan akan datang. Penyakit akan datang. Heartbreak akan datang. Burnout akan datang. Kegelapan akan datang. 

Tapi sekarang Anda tahu: musim dingin bukan akhir. Musim dingin adalah musim.

Dan seperti semua musim, dia akan berlalu. 

Kebijaksanaan untuk Dibawa 

1. Anda Tidak Rusak Ketika Anda wintering, Anda tidak gagal. Anda tidak lemah. Anda tidak rusak. Anda manusia yang mengalami apa yang semua manusia alami. 

2. Istirahat Adalah Produktivitas Istirahat bukan waktu yang terbuang. Istirahat adalah investasi untuk semua musim yang akan datang. 

3. Kegelapan Mengajarkan Apa yang Cahaya Tidak Bisa Di musim panas, kita belajar tentang kekuatan. Di musim dingin, kita belajar tentang daya tahan, kedalaman, dan siapa kita sebenarnya. 

4. Komunitas Ditemukan dalam Kerentanan Ketika Anda jujur tentang wintering, Anda memberi izin pada orang lain untuk jujur juga. Dan dalam kejujuran itu, koneksi nyata terjadi. 

5. Musim Semi Akan Datang Tidak peduli seberapa gelap musim dingin, tidak peduli seberapa lama dia bertahan—dia akan berakhir. Musim semi selalu datang. Selalu. 

Pertanyaan untuk Refleksi 

● Apakah Anda sedang wintering sekarang? Atau menyangkalnya? 

● Apa yang tubuh dan jiwa Anda minta yang belum Anda berikan? 

● Jika Anda melihat periode sulit ini sebagai musim, bukan sebagai kegagalan, apa yang akan berubah? 

● Ritual apa yang bisa Anda ciptakan untuk merawat diri di musim dingin?

● Siapa yang bisa Anda percaya dengan kebenaran tentang wintering Anda?

 


Tentang Buku Asli 

"Wintering: The Power of Rest and Retreat in Difficult Times" diterbitkan pada tahun 2020—ironisnya, tepat ketika dunia memasuki wintering global melalui pandemi. 

Katherine May adalah penulis dan essayist Inggris yang tinggal di pesisir Kent. Selain "Wintering," dia juga menulis memoir lain dan novel. Dia dikenal karena prosa yang indah, reflektif, dan jujur. 

Buku ini menggabungkan: 

● Memoir pribadi tentang periode sulit May 

● Observasi tentang alam dan musim 

● Sejarah budaya dan bagaimana berbagai masyarakat menavigasi musim dingin

● Filosofi tentang hidup yang lebih selaras dengan ritme natural 

Yang membuat buku ini special adalah kejujuran tanpa dramatisasi. May tidak membuat wintering-nya tampak lebih heroik atau lebih tragis dari yang sebenarnya. Dia hanya bercerita—dengan keindahan, dengan kedalaman, dengan kemanusiaan. 

Untuk pemahaman lengkap dan prosa yang indah, sangat disarankan membaca buku aslinya. May menulis dengan cara yang membuat Anda merasakan dinginnya salju, kehangatan secangkir teh, dan quietness yang healing dari kesendirian. 

Sekarang, ketika musim dingin berikutnya datang—dan dia akan datang—Anda akan tahu: 

Ini bukan akhir cerita. Ini hanya chapter berikutnya. Dan musim semi sedang menunggu di balik salju. 

Berlindunglah. Istirahat. Biarkan diri Anda tidak produktif. Duduk dengan kegelapan. Minum teh hangat. Tidur panjang. 

Dan percayalah: Anda akan muncul lagi ketika waktunya tiba. 

Karena itu yang dilakukan musim semi—dia selalu datang.