Pesan di Ponsel yang Mengubah Segalanya
Bayangkan ini: Anda sedang menyiapkan kopi pagi. Ponsel pasangan Anda berbunyi di atas meja. Notifikasi muncul di layar.
Dari nama yang tidak Anda kenal.
Pesan yang membuat jantung Anda berhenti:
"Aku kangen tadi malam. Kapan kita bisa ketemu lagi?"
Tangan Anda gemetar. Dunia berputar. Dalam satu detik, segala yang Anda pikir Anda tahu tentang pernikahan Anda—tentang pasangan Anda, tentang diri Anda—runtuh.
Atau bayangkan ini: Anda adalah orang yang mengirim pesan itu.
Anda pulang ke rumah, mencium pasangan Anda, bermain dengan anak-anak, makan malam bersama—sambil menyimpan rahasia yang jika terungkap akan menghancurkan segalanya. Anda benci diri sendiri. Tapi Anda juga merasa lebih hidup daripada bertahun-tahun.
Kedua skenario ini terjadi ribuan kali setiap hari di seluruh dunia.
Esther Perel, terapis hubungan yang telah menghabiskan lebih dari 30 tahun mendengar cerita paling intim dari ribuan pasangan, mengajukan pertanyaan yang jarang ditanyakan:
"Mengapa orang yang mencintai pasangannya tetap berselingkuh? Dan apa yang bisa kita pelajari dari krisis ini?"
"The State of Affairs" bukan buku yang memberikan Anda daftar "10 cara mencegah perselingkuhan" atau "tanda-tanda pasangan selingkuh."
Ini adalah eksplorasi mendalam, kadang tidak nyaman, selalu jujur tentang mengapa perselingkuhan terjadi bahkan dalam hubungan yang baik, apa artinya bagi kita sebagai manusia, dan bagaimana—jika kita memilih—krisis ini bisa menjadi katalisator transformasi.
Peringatan: Buku ini tidak akan memberikan jawaban yang Anda harapkan. Tapi mungkin memberikan jawaban yang Anda butuhkan.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Perselingkuhan di Era Modern—Paradoks Kesetiaan
Kita Mengharapkan Lebih, Mentolerir Lebih Sedikit
Di masa lalu, pernikahan adalah institusi ekonomi. Tentang kelangsungan hidup, aliansi keluarga, melanjutkan keturunan.
Cinta? Opsional.
Kesetiaan? Diharapkan dari istri, tapi sering diabaikan untuk suami.
Sekarang, pernikahan harus menjadi segalanya: cinta, persahabatan, kemitraan ekonomi, passion seksual, dukungan emosional, orang tua yang baik, pasangan petualangan, dan juga kekasih yang menggairahkan.
Kita berharap satu orang memenuhi kebutuhan yang dulu dipenuhi oleh seluruh desa.
Dan ketika mereka gagal? Ketika gairah memudar? Ketika rutinitas mengambil alih?
Beberapa orang mencari di luar.
Teknologi Mengubah Segalanya
Perel menunjukkan fakta mengejutkan: Perselingkuhan tidak meningkat secara dramatis. Tapi kemudahan untuk berselingkuh meningkat eksponensial.
Dulu, berselingkuh membutuhkan usaha. Hotel. Waktu. Risiko fisik tertangkap.
Sekarang? Aplikasi di ponsel. Pesan yang menghilang otomatis. Akun rahasia. Anda bisa membangun hubungan emosional dan fisik tanpa pernah meninggalkan rumah.
Dan yang lebih penting: Kita lebih mudah tertangkap.
Ponsel menyimpan segalanya. Lokasi terekam. Foto tersinkron ke cloud. Satu notifikasi di waktu yang salah bisa membongkar segalanya.
Jadi paradoksnya: Lebih mudah berselingkuh, tapi juga lebih mudah tertangkap.
Bagian 2: Mengapa Orang Berselingkuh—Bukan Hanya Tentang Seks
Mitos: "Orang Berselingkuh Karena Tidak Mencintai Pasangannya"
Perel menghabiskan ratusan jam dengan pasangan yang selingkuh. Dan dia menemukan kebenaran yang tidak nyaman:
Banyak orang yang berselingkuh sangat mencintai pasangannya.
Mereka tidak ingin meninggalkan pernikahan mereka. Mereka tidak sedang mencari pengganti. Mereka mencari sesuatu yang hilang dalam diri mereka sendiri.
"Perselingkuhan," tulis Perel, "adalah pengkhianatan. Tapi juga ekspresi kerinduan dan kehilangan."
Tujuh Alasan Orang Berselingkuh
Perel mengidentifikasi beberapa tema yang berulang:
1. Untuk Menemukan Diri yang Hilang
"Saya merasa seperti bayangan dari diri saya dulu. Saya ibu. Saya istri. Saya karyawan. Tapi siapa saya? Dengan dia, saya merasa seperti diri saya lagi—bukan hanya peran yang saya mainkan."
2. Untuk Melarikan Diri dari Kesengsaraan Domestik
"Rumah adalah tempat tuntutan tak berujung. Cucian. Tagihan. Anak yang sakit. Atasan yang menyebalkan. Dengan dia, tidak ada tanggung jawab. Hanya kesenangan."
3. Untuk Mengatasi Kehilangan dan Kematian
"Setelah ayah saya meninggal, saya menyadari hidup pendek. Saya tidak ingin menyesal tidak merasakan passion lagi sebelum terlambat."
4. Untuk Merasakan Dihargai dan Diinginkan
"Di rumah, saya tidak terlihat. Dia tidak pernah menatap saya seperti dulu. Dengan orang lain, saya merasa cantik, diinginkan, hidup."
5. Sebagai Balas Dendam
"Dia berselingkuh duluan. Sekarang giliran saya. Saya ingin dia merasakan sakit yang sama."
6. Karena Kesempatan
"Saya tidak pernah berniat. Tapi kami kerja lembur. Minum anggur. Satu hal mengarah ke hal lain."
7. Karena Orientasi Seksual yang Ditekan
"Saya menikah karena itulah yang diharapkan. Tapi saya selalu tahu saya gay. Saya tidak bisa menekan ini selamanya."
Yang mengejutkan: Seks sering bukan alasan utama.
Banyak orang berselingkuh untuk koneksi emosional, perhatian, dan perasaan hidup kembali—hal yang mereka rasa hilang dalam pernikahan, bahkan pernikahan yang "baik."
Bagian 3: Anatomi Perselingkuhan—Tiga Cerita Berbeda
Perel mengingatkan: Tidak semua perselingkuhan sama.
Tipe 1: Perselingkuhan Satu Malam
Seks tanpa emosi. Mabuk di konferensi bisnis. Kesalahan yang disesali segera.
Untuk yang selingkuh: "Itu tidak berarti apa-apa."
Untuk yang dikhianati: "Jika tidak berarti apa-apa, mengapa kamu lakukan?"
Paradoks: Yang selingkuh menganggap remeh karena "hanya seks." Yang dikhianati terluka lebih dalam karena: "Kamu mengorbankan pernikahan kita untuk sesuatu yang tidak berarti apa-apa?"
Tipe 2: Hubungan Jangka Panjang
Ini bukan impuls. Ini pilihan berulang. Perencanaan. Pembangunan kehidupan paralel.
Ada perasaan. Ada koneksi. Kadang bahkan ada cinta.
Untuk yang selingkuh: "Saya mencintai keduanya dengan cara berbeda."
Untuk yang dikhianati: "Saya bahkan bukan prioritas utama Anda."
Ini adalah pengkhianatan yang lebih kompleks—tidak bisa dikurangi menjadi "kesalahan" atau "godaan sesaat."
Tipe 3: Pernikahan Ganda
Kehidupan ganda lengkap. Kadang anak-anak dari kedua hubungan. Kompartmentalisasi sempurna.
Ini jarang, tapi ada.
Dan ketika terungkap, itu bukan hanya pengkhianatan—itu penghancuran total realitas yang dipercaya seseorang.
Bagian 4: Trauma Pengkhianatan—Gempa yang Menghancurkan Fondasi
"Saya Tidak Mengenali Diri Saya Sendiri"
Ketika perselingkuhan terungkap, yang terjadi bukan hanya patah hati. Ini adalah trauma.
Perel membandingkannya dengan PTSD:
● Pikiran obsesif yang tidak bisa dikendalikan
● Flashback dan bayangan mental yang menyiksa
● Insomnia
● Kehilangan nafsu makan
● Kecemasan ekstrem
● Ketidakmampuan berkonsentrasi
"Saya terus membayangkan mereka bersama. Di mana mereka melakukannya? Apa yang mereka katakan? Apakah dia menyentuhnya seperti dia menyentuh saya?"
Pikiran ini menginvasi setiap momen. Tidak bisa dimatikan.
Tiga Kehilangan Sekaligus
Yang dikhianati kehilangan tiga hal:
1. Kehilangan Pasangan Orang yang Anda cintai dan percayai mengkhianati Anda.
2. Kehilangan Masa Lalu "Semua kenangan kita sekarang terkontaminasi. Apakah dia sudah berselingkuh saat kita rayakan ulang tahun pernikahan? Saat saya melahirkan anak kita?"
3. Kehilangan Diri "Saya pikir saya tahu siapa saya. Saya orang yang dicintai, yang berharga. Sekarang saya merasa bodoh, tidak cukup, dibuang."
Pertanyaan yang Tidak Pernah Berhenti
● Mengapa saya tidak cukup?
● Apa yang dia punya yang tidak saya punya?
● Bagaimana dia bisa melakukan ini pada saya?
● Apakah dia pernah benar-benar mencintai saya?
● Bisakah saya percaya lagi?
Tidak ada jawaban yang memuaskan. Tapi pikiran terus bertanya.
Bagian 5: Haruskah Bertahan atau Pergi?
Tidak Ada Jawaban Universal
Perel menolak memberikan resep sederhana. Tapi dia menawarkan pertanyaan untuk refleksi:
Pertanyaan untuk yang Dikhianati:
● Apakah saya ingin pergi, atau apakah saya merasa harus pergi karena apa yang orang lain pikirkan?
● Apakah masih ada cinta di sini, di bawah rasa sakit?
● Apakah pasangan saya benar-benar menyesal dan bersedia melakukan pekerjaan berat?
● Bisakah saya membayangkan memaafkan suatu hari nanti—bahkan jika tidak sekarang?
Pertanyaan untuk yang Berselingkuh:
● Apakah saya benar-benar ingin pernikahan ini, atau saya tinggal karena rasa bersalah/anak/uang?
● Apakah saya bersedia memutus hubungan dengan orang ketiga sepenuhnya—tanpa kontak?
● Apakah saya siap untuk transparansi total, bahkan jika tidak nyaman?
● Apakah saya siap menghadapi kemarahan, ketidakpercayaan, dan pertanyaan berulang selama berbulan-bulan?
Kapan Harus Pergi
Perel jelas: Terkadang berakhir adalah pilihan terbaik.
Terutama jika:
● Tidak ada penyesalan dari yang berselingkuh
● Kekerasan (fisik atau emosional) ada dalam hubungan
● Ini adalah pola berulang tanpa upaya perubahan
● Cinta sudah mati jauh sebelum perselingkuhan
Tinggal dalam pernikahan yang beracun demi "menyelamatkannya" lebih merusak daripada meninggalkannya.
Kapan Bertahan Mungkin
Jika:
● Keduanya menginginkan hubungan ini
● Yang berselingkuh benar-benar menyesal dan memutus kontak dengan orang ketiga
● Keduanya bersedia melakukan pekerjaan berat terapi dan pemulihan
● Masih ada cinta, meskipun terpendam di bawah rasa sakit
Perel menulis: "Beberapa pasangan menemukan bahwa perselingkuhan, meskipun menyakitkan, adalah katalisator untuk percakapan yang seharusnya terjadi bertahun-tahun lalu."
Bagian 6: Rekonstruksi—Membangun dari Puing
Transparansi Radikal—Untuk Sementara
Jika memilih bertahan, tahap awal memerlukan transparansi total.
Passcode ponsel dibagi. Lokasi terbuka. Akun media sosial diakses. Tidak ada privasi.
Ini bukan selamanya. Tapi untuk saat ini, kepercayaan harus dibangun kembali dari nol.
Yang berselingkuh sering protes: "Kamu memperlakukan saya seperti anak kecil!"
Perel menjawab: "Kamu yang menghancurkan kepercayaan. Sekarang kamu harus membangunnya kembali. Jika kamu tidak bersedia, keluar sekarang."
Menceritakan Kisah—Berulang Kali
Yang dikhianati perlu mendengar cerita. Berulang kali.
"Kapan dimulai?" "Berapa kali?" "Apa yang kamu katakan padanya tentang saya?" "Apakah kamu berpikir tentang dia ketika bersama saya?"
Ini menyakitkan untuk keduanya. Tapi Perel menekankan: Yang dikhianati perlu merekonstruksi realitas mereka. Mereka perlu mengisi celah antara apa yang mereka pikir terjadi dan apa yang benar-benar terjadi.
Tapi ada batas. Di satu titik, pertanyaan obsesif harus berhenti—atau itu menjadi penyiksaan diri.
Dari "Mengapa Kamu Melakukan Ini?" ke "Apa yang Bisa Kita Pelajari?"
Pergeseran krusial terjadi ketika percakapan berubah:
Fase 1 - Investigasi: "Apa yang terjadi? Dengan siapa? Berapa lama?"
Fase 2 - Pemahaman: "Mengapa ini terjadi? Apa yang kurang? Apa yang kamu cari?"
Fase 3 - Rekonstruksi: "Siapa kita ingin menjadi sekarang? Pernikahan seperti apa yang kita inginkan?"
Tidak semua pasangan mencapai Fase 3. Tapi yang mencapainya sering menemukan sesuatu yang mengejutkan:
Hubungan yang lebih jujur, lebih dalam, lebih hidup daripada sebelumnya.
Bagian 7: Paradoks Monogami—Keinginan dan Komitmen
Dilema yang Tidak Terpecahkan
Perel mengeksplorasi paradoks fundamental:
Kita menginginkan keamanan. Kita juga menginginkan petualangan. Kita menginginkan kedekatan. Kita juga menginginkan kebaruan. Kita menginginkan komitmen. Kita juga menginginkan kebebasan.
Dalam satu orang.
Ini kontradiksi yang hampir mustahil.
Kedekatan menciptakan kenyamanan—tapi juga familiaritas. Dan familiaritas, seperti yang dikatakan pepatah, bisa menumpulkan hasrat.
"Hasrat membutuhkan jarak," tulis Perel. "Tapi cinta membutuhkan kedekatan. Bagaimana kita memiliki keduanya?"
Erotisme Membutuhkan Misteri
Di tahun-tahun awal, pasangan Anda adalah misteri yang menarik. Anda menemukan mereka sedikit demi sedikit.
Tapi setelah 10 tahun pernikahan? Anda tahu kebiasaan mereka. Suara saat mereka buang air besar. Cara mereka mendengkur. Bau napas pagi.
Tidak ada misteri lagi.
Perel bertanya: "Bisakah Anda menemukan kembali misteri dalam yang familiar?"
Jawabannya: Mungkin, jika Anda memeliharanya dengan sengaja.
● Waktu terpisah yang membuat Anda merindukan
● Hobi individual yang membuat Anda tetap menarik
● Cerita baru untuk dibagikan
● Melihat pasangan di luar konteks rumah (melihat mereka bekerja, berbicara di depan umum, berinteraksi dengan orang lain)
Tapi ini memerlukan usaha sadar. Tidak akan terjadi sendirinya.
Bagian 8: Apa yang Perselingkuhan Ajarkan Kita
Tentang Diri Kita Sendiri
Bagi yang berselingkuh:
"Saya belajar bahwa saya mampu melakukan hal yang tidak pernah saya bayangkan. Saya bukan orang yang saya pikir saya."
"Saya belajar bahwa saya menginginkan lebih dari hidup—dan saya perlu menemukan cara sehat untuk mendapatkannya."
Bagi yang dikhianati:
"Saya belajar bahwa saya lebih kuat dari yang saya kira. Saya selamat dari ini."
"Saya belajar bahwa saya layak mendapat kejujuran dan rasa hormat—dan saya tidak akan menerima kurang dari itu lagi."
Tentang Hubungan
"Hubungan tidak pernah statis. Mereka hidup, berubah, memerlukan perhatian."
"Percakapan sulit yang kita hindari tidak hilang—mereka hanya menunggu meledak dengan cara yang lebih merusak."
"Cinta saja tidak cukup. Kita perlu transparansi, komitmen, dan keberanian untuk terus memilih satu sama lain."
Tentang Pengampunan
Perel sangat jelas: Pengampunan bukan melupakan. Pengampunan bukan reconciliation otomatis.
Pengampunan adalah melepaskan kemarahan yang meracuni Anda.
Anda bisa memaafkan dan tetap meninggalkan. Anda bisa memaafkan dan tetap menetapkan batasan baru. Anda bisa memaafkan—bukan untuk mereka, tapi untuk diri Anda sendiri.
Penutup: Tidak Ada Jawaban Mudah, Hanya Pertanyaan yang Lebih Baik
Esther Perel menutup bukunya bukan dengan solusi rapi, tapi dengan undangan:
"Perselingkuhan memaksa kita menghadapi pertanyaan tentang siapa kita, apa yang kita inginkan, dan siapa kita ingin menjadi."
Dia tidak membenarkan perselingkuhan. Dia tidak meminimalkan rasa sakitnya. Tapi dia juga menolak untuk menyederhanakan kompleksitas manusia menjadi narasi "baik vs jahat."
Pelajaran Inti
1. Monogami Adalah Pilihan Berkelanjutan, Bukan Status Default
Tidak cukup mengatakan "Saya do" satu kali. Kita harus memilih pasangan kita berulang kali—setiap hari, dengan tindakan kita.
2. Pernikahan yang Baik Membutuhkan Lebih dari Cinta
Butuh komunikasi. Kerentanan. Keberanian untuk mengatakan kebenaran yang tidak nyaman. Dan komitmen untuk terus tumbuh bersama.
3. Kita Semua Lebih Rapuh Daripada yang Kita Kira
Godaan tidak hanya terjadi pada "orang jahat." Itu terjadi pada orang biasa dalam keadaan biasa yang membuat keputusan dalam momen lemah.
4. Krisis Bisa Menjadi Katalisator
Beberapa pasangan menemukan bahwa perselingkuhan, meskipun menyakitkan, adalah alarm yang membangunkan mereka dari tidur pernikahan yang perlahan mati. Dan dari puing itu, mereka membangun sesuatu yang lebih jujur dan lebih kuat.
Pertanyaan untuk Refleksi
Jika Anda Dalam Hubungan:
● Kapan terakhir kali Anda dan pasangan berbicara tentang apa yang benar-benar penting—bukan hanya logistik anak, pekerjaan, atau tagihan?
● Apakah ada kebutuhan yang tidak terpenuhi yang Anda takut untuk katakan?
● Bagaimana Anda memelihara misteri dan kebaruan dalam yang familiar?
Jika Anda Menghadapi Perselingkuhan:
● Apa yang saya benar-benar inginkan—untuk diri saya, untuk masa depan saya?
● Apakah saya bisa membayangkan menemukan makna dari krisis ini?
● Siapa saya ingin menjadi di sisi lain dari ini—terlepas dari apakah saya bertahan atau pergi?
Tentang Buku Asli
"The State of Affairs: Rethinking Infidelity" diterbitkan pada tahun 2017 dan segera menjadi bestseller internasional.
Esther Perel adalah psikoterapis, pembicara TED dengan 40 juta views, dan host podcast "Where Should We Begin?" yang sangat terkenal. Lahir di Belgia dari orangtua yang selamat dari Holocaust, dia membawa perspektif lintas budaya yang unik tentang hubungan dan seksualitas.
Buku ini revolusioner karena Perel menolak untuk menyederhanakan perselingkuhan menjadi cerita hitam-putih. Dia menggali nuansa, kompleksitas, dan kontradiksi manusia dengan empati mendalam—untuk yang berselingkuh DAN yang dikhianati.
Beberapa orang membenci buku ini karena mereka merasa Perel "membela" perselingkuhan. Tapi dia tidak. Dia hanya menolak untuk menghakimi sebelum memahami.
Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas hubungan modern, sangat disarankan membaca buku aslinya. Perel menulis dengan kedalaman, kecerdasan, dan compassion yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. Plus, buku penuh dengan cerita klien nyata (disamarkan) yang memberikan insight mendalam.
Sekarang, satu pertanyaan terakhir dari Esther Perel:
"Hari ini, apakah Anda memilih pasangan Anda? Atau Anda hanya tinggal karena inersia?"
Karena pada akhirnya, pernikahan yang tahan lama bukan tentang tidak pernah tergoda.
Ini tentang memilih untuk tetap setia, setiap hari, bahkan ketika tidak mudah.
Dan jika Anda atau pasangan pernah gagal dalam pilihan itu—pertanyaannya bukan apakah Anda monster atau korban.
Pertanyaannya adalah: Siapa Anda ingin menjadi mulai sekarang?

