Wanita yang Tidak Ingin Menikah Lagi
"Saya tidak akan pernah menikah lagi."
Elizabeth Gilbert mengatakan ini dengan penuh keyakinan setelah perceraiannya yang menyakitkan. Dia mengatakannya kepada teman-temannya. Kepada keluarganya. Kepada dirinya sendiri setiap malam sebelum tidur.
Dan yang paling penting, dia mengatakannya kepada Felipe—pria Brazil yang dia temui di Bali, yang menjadi bagian dari akhir bahagia buku "Eat Pray Love."
Felipe setuju. Dia juga sudah bercerai. Dia juga tidak ingin menikah lagi.
Kesepakatan sempurna: dua orang yang saling mencintai, berkomitmen satu sama lain, tapi tidak perlu akad nikah untuk membuktikannya.
Mereka hidup bahagia selama hampir dua tahun. Berpindah-pindah antara Amerika dan Asia. Tidak terikat. Tidak ada tekanan. Hanya cinta.
Lalu datang surat dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat.
Felipe ditolak masuk kembali ke AS karena terlalu sering keluar masuk dengan visa turis. Satu-satunya cara dia bisa tinggal bersama Elizabeth di Amerika: menikah.
Ironi yang kejam.
Wanita yang bersumpah tidak akan pernah menikah lagi sekarang dipaksa menikah oleh pemerintah.
Dan di sinilah buku "Committed" dimulai—bukan dengan romantisme, tapi dengan ketakutan, resistensi, dan pertanyaan besar: Apa sebenarnya makna pernikahan di zaman modern?
Selama menunggu Felipe mendapat visa (yang memakan waktu hampir setahun), Elizabeth melakukan apa yang dia lakukan terbaik: meneliti. Dia membaca sejarah pernikahan, antropologi, psikologi, sosiologi. Dia mewawancarai pasangan yang sudah menikah puluhan tahun. Dia berbicara dengan orang-orang dari berbagai budaya.
Dan yang dia temukan mengubah segalanya.
Mari kita ikuti perjalanannya.
Bagian 1: Sejarah Pernikahan—Bukan Tentang Cinta
Pernikahan Adalah Transaksi Bisnis
Jika Anda berpikir pernikahan selalu tentang cinta, Elizabeth Gilbert punya berita mengejutkan: Untuk sebagian besar sejarah manusia, cinta tidak ada hubungannya dengan pernikahan.
Pernikahan adalah transaksi ekonomi dan politik.
Di Roma kuno, Anda menikah untuk aliansi keluarga. Di Eropa abad pertengahan, untuk menggabungkan tanah. Di China kuno, untuk mengamankan keturunan dan warisan. Di mana-mana, pernikahan adalah tentang property, power, dan survival—bukan romance.
Bahkan kata "husband" dalam bahasa Inggris kuno berarti "master rumah tangga" atau "pemilik." Sementara "wife" berasal dari kata yang berarti "wanita"—bukan "partner," tapi hanya "wanita yang menjadi milik pria."
Cinta romantis? Itu dianggap berbahaya untuk pernikahan.
Di Prancis abad ke-12, ada tradisi "courtly love"—cinta romantis penuh gairah. Tapi cinta ini selalu di luar pernikahan, biasanya antara ksatria dan istri bangsawan lain. Mengapa? Karena gairah dianggap membuat orang irasional dan tidak cocok untuk institusi stabil seperti pernikahan.
Pernikahan untuk stabilitas. Cinta untuk... hal lain.
Kapan Cinta Masuk ke Pernikahan?
Baru pada abad ke-18 dan 19, ide "menikah karena cinta" mulai populer—dan ini revolusioner. Bahkan radikal.
Orangtua khawatir: "Kalau anak-anak menikah karena cinta, bagaimana kita mengontrol aliansi keluarga? Bagaimana kita menjaga property?"
Gereja khawatir: "Jika pasangan menikah karena gairah, apa yang terjadi ketika gairah memudar?"
Dan kekhawatiran mereka tidak salah tempat. Ketika masyarakat mulai mengharapkan pernikahan memberikan cinta, persahabatan, gairah seksual, keamanan finansial, keturunan, DAN kebahagiaan seumur hidup, tingkat perceraian mulai naik.
Gilbert bertanya: "Apakah kita meminta terlalu banyak dari satu institusi?"
Bagian 2: Jatuh Cinta vs Tetap Jatuh Cinta
Kimia Gila yang Disebut Jatuh Cinta
Gilbert meneliti neurosains dari jatuh cinta. Dan apa yang dia temukan menjelaskan mengapa jatuh cinta terasa seperti kegilaan—karena secara kimiawi, itu memang kegilaan.
Ketika Anda jatuh cinta:
● Otak melepaskan dopamin (neurotransmiter yang sama seperti saat pakai kokain)
● Kortisol (hormon stres) meningkat
● Serotonin (neurotransmiter yang menstabilkan mood) menurun
Hasilnya? Anda obsesif. Tidak bisa berpikir tentang hal lain. Tidak bisa makan. Tidak bisa tidur. Merasa euforia tinggi dan takut kehilangan yang dalam.
Ini secara literal adalah keadaan mental yang tidak stabil.
Dan inilah kicker: Keadaan ini hanya bertahan 12-18 bulan.
Setelah itu, kimia otak kembali normal. Dopamin turun. Obsesi memudar. Dan Anda melihat pasangan Anda dengan mata yang lebih... realistis.
Banyak orang mengira ini berarti "cintanya sudah hilang." Dan mereka pergi mencari orang baru untuk mendapatkan "high" dopamin lagi—yang antropolog menyebutnya "serial monogamy."
Tapi Cinta Sejati Adalah Pilihan
Gilbert menemukan penelitian menarik: Pasangan yang bertahan melewati fase dopamin dan masih bahagia membuat keputusan sadar untuk mencintai.
Bukan perasaan yang datang dan pergi. Bukan kimia otak. Tapi pilihan.
Pilihan untuk:
● Memilih melihat yang baik dalam pasangan, bukan hanya kesalahan
● Memilih bersyukur atas apa yang ada, bukan fokus pada apa yang kurang
● Memilih tetap berkomitmen bahkan ketika tidak "merasa" jatuh cinta
● Memilih tumbuh bersama alih-alih tumbuh terpisah
Seperti yang dikatakan seorang wanita Hmong yang diwawancarai Gilbert:
"Kamu orang Amerika selalu mengatakan 'jatuh cinta' seperti jatuh ke lubang. Di budaya kami, kami tidak jatuh cinta. Kami melangkah ke dalam cinta. Kami membuat pilihan, dan kami berjalan ke arah itu."
Bagian 3: Pernikahan dan Perempuan—Kesepakatan yang Buruk?
Sejarah Kelam
Gilbert tidak menahan diri ketika membahas bagaimana pernikahan tradisional memperlakukan perempuan.
Untuk sebagian besar sejarah:
● Perempuan menjadi properti suami
● Tidak bisa memiliki tanah, uang, atau bahkan anak-anak mereka sendiri secara legal
● Diharapkan taat tanpa pertanyaan
● Identitas mereka hilang—nama keluarga berubah, Mrs. [Nama Suami]
Di Inggris Victoria, doktrin "coverture" secara legal menyatakan bahwa ketika perempuan menikah, identitas legalnya berhenti ada. Dia menjadi satu dengan suami—dan "satu" itu adalah suami.
Bahkan di Amerika Serikat modern, sampai tahun 1970-an:
● Perempuan tidak bisa membuka rekening bank sendiri tanpa izin suami
● Perempuan tidak bisa mengajukan kartu kredit sendiri
● Pemerkosaan dalam pernikahan tidak dianggap kejahatan di banyak negara bagian
Gilbert jujur: "Dengan sejarah seperti ini, mengapa perempuan modern mau menikah?"
Tapi Statistik Mengatakan Hal Mengejutkan
Meskipun sejarah kelam ini, penelitian menunjukkan:
● Pria yang menikah hidup lebih lama, lebih sehat, lebih bahagia daripada pria lajang
● Perempuan yang menikah... hasilnya campuran
Perempuan yang menikah dengan pasangan yang mendukung lebih bahagia dan lebih sehat.
Perempuan yang menikah dengan pasangan yang menuntut, mengkritik, atau mengendalikan lebih tidak bahagia daripada jika mereka lajang.
Kesimpulan Gilbert: "Untuk perempuan, kualitas pernikahan menentukan segalanya. Untuk pria, hanya fakta menikah sudah memberi manfaat."
Jadi pertanyaan untuk perempuan modern bukan "haruskah saya menikah?" tapi "haruskah saya menikah dengan orang ini?"
Bagian 4: Otonomi dalam Pernikahan—Jangan Hilangkan Diri Sendiri
"Kami" yang Menelan "Aku"
Gilbert mengamati fenomena yang dia sebut "the disappearing woman"—perempuan yang kehilangan identitasnya dalam pernikahan.
Dia bertemu banyak wanita yang bercerita:
● "Dulu saya suka melukis, tapi sekarang tidak ada waktu."
● "Saya dulu punya teman banyak, tapi suami saya tidak suka jadi saya jarang keluar."
● "Saya dulu ingin kuliah lagi, tapi dia pikir itu tidak perlu."
Perlahan, "aku" berubah menjadi "kami." Tapi "kami" ini sebenarnya hanya dia.
Gilbert tegas: "Pernikahan yang baik bukan tentang dua orang menjadi satu. Pernikahan yang baik adalah dua orang utuh yang memilih berdiri bersama."
Pelajaran dari Kakek Nenek
Gilbert mewawancarai kakek neneknya yang sudah menikah 60+ tahun. Dia bertanya rahasia mereka.
Neneknya menjawab dengan jujur yang mengejutkan:
"Kami berdua punya kehidupan terpisah yang kami nikmati. Kakek punya workshop-nya. Saya punya kebun dan klub buku. Kami tidak hidup di kantong yang sama. Kami punya ruang untuk bernapas."
Ini kontradiktif dengan ide romantis bahwa pasangan harus melakukan segalanya bersama. Tapi penelitian mendukung nenek Gilbert:
Pasangan yang paling bahagia adalah pasangan yang:
● Punya hobi individu
● Punya teman di luar pernikahan
● Memberikan ruang untuk pertumbuhan individual
● Tidak merasa terancam oleh kemandirian pasangan
Bukan "kami melawan dunia," tapi "kami masing-masing menjalani hidup penuh dan memilih berbagi hidup itu bersama."
Bagian 5: Pernikahan Subversif—Buat Aturan Sendiri
Tidak Ada Template yang Cocok untuk Semua
Gilbert menyadari: semua pernikahan bahagia adalah subversif dengan caranya sendiri.
Mereka tidak mengikuti template tradisional. Mereka membuat aturan sendiri yang cocok untuk mereka.
Contoh yang dia temukan:
● Pasangan yang tidur di kamar terpisah (dan tidur lebih baik, lebih bahagia)
● Pasangan yang tidak punya anak (dan tidak merasa kurang lengkap)
● Pasangan dengan pengaturan keuangan terpisah (dan tidak ada pertengkaran soal uang)
● Pasangan yang menghabiskan waktu terpisah untuk mengejar karir atau passion (dan lebih menghargai waktu bersama)
Yang membuat pernikahan berhasil bukan mengikuti aturan masyarakat, tapi membuat kesepakatan yang jujur antara dua orang.
Pertanyaan yang Harus Dijawab Bersama
Gilbert membuat daftar pertanyaan yang dia dan Felipe diskusikan sebelum menikah. Bukan pertanyaan romantis, tapi pertanyaan praktis dan jujur:
1. Uang: Apakah kita gabungkan semuanya atau pisah? Siapa yang mengontrol apa?
2. Anak: Apakah kita mau anak? Berapa? Bagaimana kita akan membesarkan mereka?
3. Karir: Apakah satu dari kita akan mengorbankan karir untuk yang lain? Atau kita berdua mengejar?
4. Lokasi: Apakah kita akan pindah untuk pekerjaan? Untuk keluarga? Atau kita akan tetap di satu tempat?
5. Keluarga besar: Seberapa sering kita melihat keluarga masing-masing? Bagaimana kita menangani keluarga yang toxic?
6. Seks: Apa ekspektasi kita? Bagaimana kita menangani jika libido berbeda?
7. Konflik: Bagaimana kita bertengkar? Apa aturan dasar kita?
8. Deal breakers: Apa yang benar-benar tidak bisa kita toleransi?
Gilbert berkata: "Ini tidak romantis. Tapi ini jauh lebih penting daripada warna bunga di pernikahan."
Bagian 6: Perceraian—Bukan Kegagalan, Tapi Evolusi
Stigma yang Menyakitkan
Gilbert berbicara terbuka tentang perceraiannya yang pertama dan bagaimana itu membentuk rasa takutnya terhadap pernikahan kedua.
Dia merasa malu. Seperti dia gagal. Seperti dia tidak cukup kuat, tidak cukup berkomitmen, tidak cukup... cukup.
Tapi penelitiannya mengubah perspektifnya.
Perceraian Tidak Selalu Tragedi
Gilbert menemukan: Dalam beberapa kasus, perceraian adalah hal terbaik yang bisa terjadi.
Untuk wanita dalam pernikahan yang kasar—emosional atau fisik—perceraian adalah kebebasan.
Untuk pasangan yang sudah tumbuh ke arah berbeda—perceraian adalah kejujuran.
Untuk anak-anak dalam rumah tangga yang penuh konflik—perceraian kadang lebih sehat daripada mempertahankan pernikahan yang toxic.
Data menunjukkan: Anak-anak dari pernikahan yang penuh konflik tumbuh dengan masalah psikologis lebih banyak daripada anak-anak dari perceraian yang damai.
Masalahnya bukan perceraian. Masalahnya adalah konflik dan ketidakstabilan.
Tapi Harus Diperjuangkan Dulu
Gilbert tidak mempromosikan perceraian gampangan. Dia percaya pernikahan harus diperjuangkan dengan serius—terapi, komunikasi, kompromi.
Tapi dia juga percaya: "Jika kamu sudah berjuang dengan setiap ons energi yang kamu punya dan pernikahan masih membunuh jiwamu, kamu diizinkan untuk pergi."
Pernikahan adalah komitmen. Tapi bukan penjara.
Bagian 7: Keputusan—Menikah dengan Mata Terbuka
"Ya" yang Berbeda
Setelah setahun penelitian, introspeksi, dan percakapan mendalam dengan Felipe, Elizabeth Gilbert sampai pada keputusan.
Ya, dia akan menikah lagi.
Tapi "ya" ini sangat berbeda dari "ya" pertamanya.
Pernikahan pertama: "Ya" penuh harapan naif bahwa pernikahan akan membuat dia lengkap, bahagia selamanya, menyelesaikan semua masalahnya.
Pernikahan kedua: "Ya" dengan mata terbuka—mengetahui pernikahan tidak akan sempurna, mengetahui akan ada tantangan, mengetahui dia harus bekerja setiap hari untuk membuat ini berhasil.
"Ya" yang pertama adalah fantasi. "Ya" yang kedua adalah pilihan sadar.
Pernikahan Mereka—Versi Mereka Sendiri
Gilbert dan Felipe membuat pernikahan yang bekerja untuk mereka:
1. Tidak ada gabungan keuangan total - Mereka punya rekening bersama untuk pengeluaran rumah tangga, tapi juga punya uang pribadi masing-masing. Tidak ada yang harus "minta izin" untuk membeli sesuatu untuk diri sendiri.
2. Waktu terpisah - Elizabeth kadang traveling untuk kerja selama minggu atau bulan. Felipe kadang pergi ke Brazil untuk keluarga. Mereka tidak merasa harus bersama 24/7.
3. Tidak ada anak - Keputusan sadar yang mereka berdua setujui. Tidak karena tidak menyukai anak, tapi karena itu bukan yang mereka inginkan untuk hidup mereka.
4. Komunikasi brutal - Mereka berjanji untuk selalu jujur, bahkan ketika kebenaran itu tidak nyaman.
5. Kesepakatan untuk tumbuh - Mereka mengakui mereka akan berubah seiring waktu. Dan mereka berkomitmen untuk tumbuh bersama, bukan terpisah.
Upacara yang Tidak Biasa
Pernikahan mereka tidak besar. Tidak mewah. Bahkan tidak romantis dalam pengertian tradisional.
Mereka menikah di rumah, dengan beberapa teman terdekat. Tidak ada gaun putih. Tidak ada bunga melimpah. Tidak ada janji "sampai maut memisahkan."
Sebaliknya, mereka menulis janji mereka sendiri—janji untuk menghormati kemandirian masing-masing, untuk berkomunikasi dengan jujur, untuk mendukung pertumbuhan satu sama lain, dan untuk melepaskan jika suatu hari itu adalah pilihan paling sehat.
Unconventional? Ya. Jujur? Sangat.
Bagian 8: Pelajaran untuk Kita Semua
1. Pernikahan Bukan Solusi untuk Kesepian
Gilbert tegas: "Jika kamu tidak bisa bahagia sendirian, pernikahan tidak akan membuat kamu bahagia."
Pernikahan memperkuat apa yang sudah ada. Jika kamu sudah punya hidup yang kamu cintai, pernikahan bisa menambah kebahagiaan. Jika kamu berharap pernikahan akan mengisi kekosongan—kamu akan kecewa.
2. Cinta Bukan Cukup
Cinta itu penting. Tapi cinta saja tidak cukup untuk pernikahan yang bertahan.
Kamu juga butuh:
● Kompatibilitas praktis - Nilai yang sama tentang uang, anak, gaya hidup
● Keterampilan komunikasi - Kemampuan untuk bertengkar dengan sehat
● Komitmen untuk tumbuh - Kesediaan untuk berubah dan beradaptasi
● Rasa humor - Kemampuan untuk tidak terlalu serius
● Ketahanan - Kekuatan untuk melewati masa sulit
3. Jangan Kehilangan Diri Sendiri
Pernikahan terbaik adalah antara dua orang utuh, bukan dua setengah yang mencari pelengkap.
Pertahankan:
● Hobi dan passion kamu
● Teman-teman di luar pernikahan
● Tujuan dan ambisi pribadi
● Identitas yang terpisah dari "istri/suami"
4. Buat Pernikahan Versi Kalian
Jangan merasa harus mengikuti template tradisional jika itu tidak cocok untuk kalian.
Pernikahan kalian, aturan kalian. Selama dua orang di dalamnya setuju dan bahagia, opini orang lain tidak relevan.
5. Bersiaplah untuk Kerja Keras
Pernikahan bahagia bukan kebetulan. Bukan juga "happily ever after" otomatis setelah "I do."
Pernikahan bahagia adalah pilihan yang dibuat berulang kali—setiap hari, kadang setiap jam—untuk memilih pasangan Anda, untuk memilih kebaikan, untuk memilih komunikasi, untuk memilih cinta.
Penutup: Komitmen dengan Mata Terbuka
Di akhir buku, Gilbert menulis dengan refleksi yang indah:
"Saya menikah bukan karena saya percaya pada institusi pernikahan. Saya menikah karena saya percaya pada Felipe dan saya percaya pada diri saya sendiri untuk membuat ini bekerja—dengan cara kami sendiri."
Ini adalah essense dari pernikahan modern yang sehat: Bukan tentang mengikuti aturan, tapi tentang dua orang dewasa yang membuat pilihan sadar untuk membangun kehidupan bersama.
Pertanyaan untuk Anda
Jika Anda sedang mempertimbangkan pernikahan:
● Apakah Anda menikah karena Anda ingin, atau karena Anda merasa harus?
● Apakah Anda menikah untuk alasan yang tepat (cinta, kompatibilitas, pilihan sadar) atau untuk alasan yang salah (takut sendirian, tekanan keluarga, "sudah waktunya")?
● Apakah Anda siap untuk bekerja keras setiap hari untuk membuat pernikahan berhasil?
Jika Anda sudah menikah:
● Apakah Anda masih mengenal diri sendiri di luar pernikahan?
● Apakah pernikahan Anda membuat Anda tumbuh atau menyusut?
● Apakah Anda dan pasangan masih memilih satu sama lain setiap hari?
Jika Anda tidak ingin menikah:
● Apakah itu pilihan sadar atau reaksi dari luka?
● Apakah Anda bahagia dengan pilihan itu?
● Dan apakah Anda siap untuk membela pilihan itu terhadap tekanan masyarakat?
Tidak ada jawaban benar atau salah. Hanya jawaban yang jujur.
Tentang Buku Asli
"Committed: A Skeptic Makes Peace with Marriage" diterbitkan pada tahun 2010 sebagai follow-up dari mega bestseller "Eat Pray Love."
Elizabeth Gilbert adalah penulis yang dikenal karena kejujurannya yang brutal, humor, dan kemampuan untuk mengeksplorasi topik kompleks dengan cara yang accessible. Buku ini berbeda dari "Eat Pray Love" yang lebih memoir—"Committed" adalah campuran memoir, jurnalisme, dan penelitian sosial.
Yang membuat buku ini powerful adalah kerentanannya. Gilbert tidak berpura-pura punya jawaban. Dia membagikan ketakutannya, keraguannya, dan proses pembelajarannya.
Tragisnya, Gilbert dan Felipe bercerai pada tahun 2016 setelah 12 tahun bersama. Gilbert kemudian keluar sebagai lesbian dan memulai hubungan dengan penulis Rayya Elias (yang meninggal tahun 2018).
Apakah ini berarti buku "Committed" tidak relevan? Tidak sama sekali.
Sebaliknya, ini membuktikan poin Gilbert: Pernikahan adalah pilihan yang harus dibuat berulang kali. Dan kadang, pilihan yang paling sehat adalah untuk melepaskan.
Untuk pemahaman lengkap tentang eksplorasi pernikahan yang nuanced ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Gilbert menulis dengan kedalaman, humor, dan kejujuran yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Sekarang—apakah Anda menikah, lajang, bercerai, atau sedang mempertimbangkan—satu hal yang pasti:
Komitmen terbesar yang harus Anda buat adalah pada diri Anda sendiri. Untuk tetap utuh. Untuk tetap jujur. Untuk tetap tumbuh.
Pernikahan atau tidak, itu adalah fondasi untuk hidup yang berarti.

