Pride and Prejudice

Jane Austen


Kebenaran yang Diakui Secara Universal 

"Adalah kebenaran yang diakui secara universal, bahwa seorang pria lajang yang memiliki kekayaan pasti membutuhkan istri." 

Dengan satu kalimat pembuka yang brilian dan penuh ironi ini, Jane Austen memulai salah satu novel paling dicintai sepanjang masa. 

Tapi tunggu—apakah ini benar-benar kebenaran universal? Atau ini adalah ironi tajam tentang obsesi masyarakat terhadap pernikahan dan uang? 

Karena jika Anda membaca dengan teliti, Austen tidak mengatakan pria kaya ingin istri. Dia mengatakan dia pasti membutuhkan istri—menurut pandangan ibu-ibu dengan anak perempuan yang belum menikah. 

Dan dengan ironi pembuka ini, kita memasuki dunia Inggris awal abad ke-19, di mana: 

● Perempuan tidak bisa mewarisi properti 

● Pernikahan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan keamanan finansial

● Kesombongan dan prasangka memisahkan orang-orang yang seharusnya bersama

● Dan cinta sejati harus menaklukkan keduanya 

Ini adalah kisah Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy—dua orang yang saling membenci pada pandangan pertama, hanya untuk menemukan bahwa mereka salah tentang segalanya. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Netherfield dan Kedatangan Sang Jutawan

Kehebohan di Longbourn 

Keluarga Bennet tinggal di estate Longbourn dengan lima anak perempuan: Jane (22 tahun, cantik dan baik hati), Elizabeth (20 tahun, cerdas dan ceria), Mary (bookish dan moralis), Kitty, dan Lydia (yang termuda dan paling ceroboh). 

Masalahnya? Estate Longbourn hanya bisa diwariskan ke kerabat laki-laki terdekat—Mr. Collins, sepupu yang tidak mereka sukai. Ketika Mr. Bennet meninggal, istri dan anak-anaknya akan kehilangan rumah. 

Solusi Mrs. Bennet? Menikahkan anak-anaknya dengan pria kaya. 

Dan kemudian datang kabar yang membuat hatinya berbunga-bunga: Netherfield Park—estate besar di dekat mereka—telah disewa oleh Mr. Bingley, pria muda kaya raya dari London! 

Mrs. Bennet hampir pingsan karena senang. Mr. Bennet, dengan humor kering khasnya, menggoda dia tanpa henti. 

Pertemuan di Pesta Dansa 

Pesta dansa pertama. Mr. Bingley datang dengan rombongannya: 

Mr. Bingley: ramah, ceria, terbuka—langsung jatuh hati pada Jane 

Mr. Darcy: kaya raya (£10,000 setahun!), tampan, tapi dingin, sombong, dan tidak ramah 

● Saudara perempuan Bingley: Caroline dan Mrs. Hurst—angkuh dan meremehkan keluarga provinsi 

Semua orang senang dengan Bingley. Tapi Darcy? Dia menolak menari kecuali dengan kelompok sendiri. Ketika Bingley menyarankan dia menari dengan Elizabeth, dia menjawab dengan suara yang cukup keras untuk didengar Elizabeth: 

"Dia cukup cantik, tapi tidak cukup untuk menggodaku." 

Elizabeth mendengar ini. Dan dengan kecerdasan dan humor yang tajam, dia menceritakan kisah penolakan ini kepada teman-temannya—dengan tertawa. Dia memutuskan: Mr. Darcy adalah pria paling sombong yang pernah dia temui. 

Kesan pertama tercipta. Dan mereka salah besar.

 


Bagian 2: Jane dan Bingley—Cinta yang Sederhana 

Sementara Darcy dan Elizabeth memulai dengan saling tidak suka, Jane dan Bingley adalah kebalikannya

Bingley jatuh cinta pada Jane dengan mudah dan terbuka. Jane, dengan kelembutan dan kecantikannya, juga jatuh cinta—tapi dengan cara yang sangat tenang dan terhormat sehingga hampir tidak terlihat. 

Elizabeth khawatir. "Jane terlalu baik. Dia tersenyum pada semua orang dengan cara yang sama. Bagaimana Bingley bisa tahu dia istimewa?" 

Tapi cinta mereka tumbuh dengan manis. Bingley mengundang Jane ke Netherfield. Dia sakit dan harus tinggal di sana. Elizabeth datang menjenguk dan tinggal juga. 

Di sinilah dinamika berubah. 

Darcy Mulai Memperhatikan 

Di Netherfield, Darcy mulai melihat Elizabeth dengan cara berbeda. 

Matanya yang hidup. Kecerdasannya yang tajam. Cara dia tidak terkesan dengan status atau kekayaannya. Keberaniannya berjalan tiga mil di lumpur hanya untuk menjenguk kakaknya. 

Caroline Bingley, yang mengincar Darcy, menyadari perhatiannya bergeser. Dia mencoba meremehkan Elizabeth: "Mata Elizabeth biasa saja. Penampilannya tidak elegan." 

Darcy menjawab dengan tenang: "Mata itu diperindah oleh ekspresi luar biasa dari kecerdasannya." 

Tapi Darcy melawan perasaannya. Mengapa? Karena kesombongannya

Keluarga Elizabeth tidak punya kekayaan. Tidak punya koneksi. Ibu dan adik-adiknya tidak sopan. Ini akan merusak reputasinya. 

Darcy mencintai Elizabeth. Tapi dia menolak untuk mengakuinya.

 


Bagian 3: Masuknya Mr. Wickham—Penampilan Menipu

Seorang pria tampan dan menawan bernama Wickham tiba di kota sebagai perwira militer. 

Elizabeth bertemu dengannya dan langsung terkesan. Wickham ramah, mudah bicara, dan sangat menarik. Dan kemudian dia bercerita tentang masa lalunya dengan Darcy. 

Menurut Wickham: 

● Ayah Darcy berjanji memberikan posisi pendeta yang menguntungkan kepada Wickham

● Tapi setelah ayahnya meninggal, Darcy menolak memberikannya karena iri dan dendam 

● Darcy merebut kesempatan hidupnya 

Elizabeth, yang sudah tidak suka Darcy, langsung percaya cerita ini. Ini membenarkan prasangkanya. 

"Tidak heran dia begitu sombong dan kejam!" pikirnya. 

Tapi pembaca yang cermat akan melihat: Wickham terlalu lancar bercerita. Terlalu mudah menjadi korban. Ada yang tidak beres. 

Tapi Elizabeth belum melihatnya. Prasangkanya membutakan dia.

 


Bagian 4: Mr. Collins dan Lamaran yang Absurd

Jika Anda ingin melihat satire Austen pada puncaknya, kenalkan: Mr. Collins. 

Sepupu yang akan mewarisi Longbourn ini adalah karikatur yang sempurna dari kepalsuan, kesombongan yang salah tempat, dan ketidakmampuan sosial. 

Dia datang berkunjung dengan misi: menikahi salah satu sepupu Bennet untuk "memperbaiki" kejahatan mewarisi rumah mereka. 

Dia memilih Elizabeth. 

Lamarannya adalah salah satu momen paling lucu dalam literatur Inggris. Dia memberikan tiga alasan mengapa dia menikah: 

1. Pendeta harus menjadi teladan dengan menikah 

2. Ini akan membuat hidupnya lebih bahagia 

3. Patronnya, Lady Catherine de Bourgh, menyarankannya untuk menikah

Tidak ada kata "cinta." Tidak ada pengakuan tentang siapa Elizabeth sebagai individu.

Elizabeth menolak. Dengan tegas dan berulang kali. 

Mr. Collins tidak percaya. Dia berpikir ini permainan wanita—pura-pura menolak untuk meningkatkan nilai. 

Mrs. Bennet panik. Mr. Bennet mendukung Elizabeth dengan humor kering: "Seorang pria tidak bahagia menikah denganmu. Kamu akan menjadi lebih tidak bahagia menikah dengannya." 

Elizabeth memilih kemiskinan daripada pernikahan tanpa cinta. Keputusan yang berani di zamannya.

 


Bagian 5: Darcy Melamar—dan Ditolak 

Musim semi tiba. Elizabeth berkunjung ke rumah Charlotte (sahabatnya yang akhirnya menikah dengan Mr. Collins demi keamanan). Rumah itu dekat dengan Rosings Park, estate mewah Lady Catherine de Bourgh—bibi Darcy. 

Darcy berkunjung ke Rosings dan bertemu Elizabeth lagi. 

Mereka sering berdebat. Darcy datang berkunjung sendirian—tidak biasa dan tidak sopan menurut standar waktu itu. Elizabeth bingung dengan perhatiannya. 

Sampai suatu malam, Darcy datang dan melamarnya

Tapi cara dia melamar adalah bencana total. 

Dia memulai dengan: "Sia-sia saja—saya sudah berjuang tapi tidak berhasil. Perasaan saya tidak bisa ditekan. Saya harus memberitahu Anda betapa saya sangat mengagumi dan mencintai Anda." 

Kedengarannya romantis? Tunggu dulu. 

Dia melanjutkan dengan menjelaskan betapa tidak layaknya Elizabeth. Keluarganya yang rendah. Koneksinya yang buruk. Betapa lamaran ini merendahkan dirinya dan bertentangan dengan penilaian, keluarga, dan kebanggaannya. 

Dia mengakui cinta sambil menghina pada saat yang bersamaan. 

Elizabeth marah. Bukan hanya karena penghinaan, tapi karena: 

1. Dia yakin Darcy memisahkan Bingley dari Jane (yang benar) 

2. Dia yakin Darcy merusak masa depan Wickham (yang salah) 

Dia menolak dengan kata-kata tajam: "Sejak awal perkenalan, kelakuan Anda membuat saya yakin bahwa Anda adalah pria terakhir di dunia yang bisa saya nikahi." 

Darcy pergi, terluka dan marah.

 


Bagian 6: Surat yang Mengubah Segalanya

Keesokan paginya, Darcy memberikan surat panjang kepada Elizabeth.

Dalam surat itu, dia menjelaskan: 

Tentang Jane dan Bingley: Ya, dia memisahkan mereka. Tapi hanya karena dia percaya Jane tidak benar-benar mencintai Bingley—ekspresinya terlalu tenang, terlalu sopan. Dia pikir Jane hanya mengejar kekayaan Bingley. (Dia salah, tapi niatnya melindungi sahabatnya.) 

Tentang Wickham: Ini yang mengejutkan. Wickham bukan korban. Dia adalah manipulator. 

● Ayah Darcy memang berjanji posisi pendeta—tapi Wickham menolaknya untuk uang tunai £3,000 

● Wickham menghabiskan semua uang itu 

● Kemudian dia mencoba membujuk adik Darcy yang berusia 15 tahun, Georgiana, untuk kabur bersamanya—hanya untuk kekayaannya 

● Darcy menghentikannya tepat waktu 

Elizabeth membaca surat ini berkali-kali. 

Awalnya marah. Tapi perlahan, dia mulai melihat kebenaran. 

Wickham memang terlalu lancar bercerita. Dia memang terlalu cepat menceritakan rahasia kepada orang asing. Dan Jane memang terlalu tenang—bahkan Elizabeth sulit membaca perasaannya. 

Elizabeth menyadari: dia telah membiarkan prasangkanya membutakan dia. Dia salah tentang Darcy. Sangat salah. 

Ini adalah titik balik karakternya.

 


Bagian 7: Pemberley—Melihat Darcy yang Sebenarnya 

Musim panas, Elizabeth berwisata ke Derbyshire dengan paman dan bibinya, keluarga Gardiner. 

Mereka mengunjungi Pemberley—estate megah milik Darcy. Elizabeth pikir Darcy sedang tidak ada. 

Rumah itu menakjubkan. Elegan tapi tidak berlebihan. Penuh selera tapi tidak mencolok. Taman yang indah. 

Pelayan rumah tangga, Mrs. Reynolds, berbicara tentang Darcy dengan kasih sayang: "Dia majikan terbaik. Tidak pernah mendengar kata kasar darinya. Dia sangat baik kepada adiknya. Sangat murah hati kepada orang miskin." 

Elizabeth terkejut. Ini bukan Darcy yang sombong yang dia kenal. 

Dan kemudian—bencana—Darcy pulang lebih awal. 

Tapi Darcy yang muncul berbeda. Ramah. Sopan. Dia memperkenalkan Elizabeth kepada Georgiana dengan penuh kasih. Dia sopan kepada paman-bibi Elizabeth, meskipun mereka "hanya" pedagang dari London. 

Elizabeth melihatnya dengan mata baru: Ini adalah Darcy yang sebenarnya. Pria yang baik yang menyembunyikan dirinya di balik kesombongan. 

Dan dia menyadari dengan ngeri: Dia jatuh cinta padanya. 

Tapi terlambat. Dia sudah menolaknya.

 


Bagian 8: Skandal Lydia—Krisis yang Menguji

Kemudian datang berita yang menghancurkan: Lydia kabur dengan Wickham. 

Lydia, adik termuda yang ceroboh dan bodoh, melarikan diri dengan Wickham tanpa menikah—skandal yang akan merusak reputasi seluruh keluarga Bennet. Tidak ada pria terhormat yang akan menikahi Jane atau Elizabeth jika ini tersebar. 

Keluarga panik. Mr. Bennet pergi ke London mencari mereka. 

Elizabeth memberitahu Darcy yang kebetulan datang berkunjung. Dia melihat rasa sakit di wajahnya dan pergi dengan cepat. 

Elizabeth pikir: "Sekarang dia tidak akan pernah bisa mencintaiku. Keluargaku terlalu memalukan." 

Tapi yang dia tidak tahu: Darcy pergi untuk memperbaiki semuanya. 

Darcy menemukan Wickham dan Lydia. Dia membayar hutang Wickham (yang sangat besar), membeli posisi militer untuknya, dan memberikan uang kepada Lydia—dengan satu syarat: Wickham harus menikahi Lydia. 

Darcy melakukan semua ini secara diam-diam, tidak menginginkan pengakuan. 

Tapi rahasia bocor melalui bibi Elizabeth. Dan Elizabeth menyadari: Darcy melakukan ini untuk dia. Meskipun dia menolaknya. Meskipun tidak ada harapan. 

Ini bukan kesombongan. Ini adalah cinta yang sejati.

 


Bagian 9: Akhir yang Bahagia—Pertumbuhan dan Penyatuan 

Bingley kembali ke Netherfield—dan kali ini, Darcy tidak menghalanginya.

Bingley melamar Jane. Dia menerima dengan kebahagiaan tenang yang khas.

Kemudian datang kunjungan tak terduga: Lady Catherine de Bourgh. 

Dia mendengar rumor bahwa Darcy akan menikahi Elizabeth—dan dia datang dengan marah untuk menghentikannya. 

"Anda tidak punya keluarga! Tidak punya koneksi! Tidak punya uang! Beraninya Anda berpikir bisa menikah dengan keponakan saya!" 

Elizabeth, dengan keberanian yang luar biasa, menjawab: "Dia seorang gentleman. Saya putri seorang gentleman. Kami setara dalam hal itu." 

Lady Catherine pergi dengan marah—dan langsung memberitahu Darcy tentang pertahanan Elizabeth. 

Dan Darcy mengerti: Elizabeth masih peduli. 

Dia datang kembali. Kali ini dengan kerendahan hati yang berbeda. 

"Perasaan saya tidak berubah. Tapi satu kata dari Anda akan membuat saya diam selamanya. Jika perasaan Anda masih seperti sebelumnya, katakan segera." 

Elizabeth, dengan suara gemetar: "Perasaan saya sangat berbeda sekarang."

Dan mereka akhirnya bersatu.

 


Bagian 10: Pelajaran Universal dari Kesombongan dan Prasangka 

1. Kesan Pertama Sering Salah 

Darcy tampak sombong karena dia pendiam dan canggung secara sosial di tempat asing.

Elizabeth tampak tidak tertarik karena dia tenang dan sopan dalam menunjukkan perasaan.

Wickham tampak menawan karena dia manipulator berbakat. 

Pelajaran: Jangan menilai terlalu cepat. Lihat lebih dalam. 

2. Kesombongan dan Prasangka Sama Berbahayanya 

Darcy sombong karena kelas sosialnya—dia pikir dia lebih baik dari yang lain. 

Elizabeth berprasangka terhadap orang kaya—dia pikir semua orang kaya pasti sombong dan kejam. 

Keduanya harus tumbuh dan melepaskan ego mereka untuk menemukan cinta sejati.

Pelajaran: Kesombongan dan prasangka sama-sama membutakan kita.

3. Pertumbuhan Karakter Adalah Kunci 

Yang membuat novel ini abadi bukan hanya kisah cinta, tetapi pertumbuhan karakter. 

Darcy belajar kerendahan hati dan empati. Elizabeth belajar tidak menilai terlalu cepat dan mengakui kesalahan. 

Mereka menjadi versi yang lebih baik dari diri mereka—untuk satu sama lain dan untuk diri sendiri. 

4. Pernikahan Membutuhkan Lebih dari Cinta 

Austen menunjukkan berbagai jenis pernikahan: 

Charlotte & Mr. Collins: Pernikahan praktis tanpa cinta—keamanan tapi tidak bahagia.

Lydia & Wickham: Pernikahan nafsu tanpa fondasi—akan hancur. 

Jane & Bingley: Cinta yang tulus tapi kurang kedalaman. 

Elizabeth & Darcy: Cinta + rasa hormat + pertumbuhan bersama = pernikahan yang sempurna.

Pelajaran: Cinta sejati membutuhkan rasa hormat, kesamaan nilai, dan kemauan untuk tumbuh. 

5. Keberanian untuk Menolak Tekanan Sosial 

Elizabeth menolak dua lamaran yang akan menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan (Collins dan lamaran Darcy yang pertama). 

Dia memilih integritas dan kebahagiaan pribadi daripada keamanan finansial.

Ini luar biasa berani di tahun 1813—dan masih inspiratif sekarang.

 


Penutup: Mengapa Pride and Prejudice Masih Relevan 200 Tahun Kemudian? 

Jane Austen menulis tentang dunia yang sangat berbeda dari kita—dunia pesta dansa, surat tertulis tangan, dan aturan sosial yang ketat. 

Tapi emosi manusia tidak berubah. 

Kita masih: 

● Menilai orang terlalu cepat berdasarkan penampilan pertama 

● Berjuang dengan kesombongan dan prasangka kita sendiri 

● Mencari cinta yang sejati—yang melihat kita apa adanya 

● Menghadapi tekanan untuk "settle" daripada menunggu yang benar

● Belajar bahwa pertumbuhan pribadi adalah bagian dari cinta yang matang 

Elizabeth Bennet adalah heroine yang abadi karena dia cerdas, berani, dan tidak sempurna. Dia membuat kesalahan. Dia mengakuinya. Dia tumbuh. 

Darcy adalah hero yang abadi karena dia belajar kerendahan hati tanpa kehilangan kekuatannya. Dia berubah bukan untuk menjadi orang lain, tetapi untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. 

Dan kisah cinta mereka bertahan karena dibangun di atas fondasi rasa hormat, kejujuran, dan pertumbuhan bersama. 

Pertanyaan untuk Refleksi 

● Prasangka apa yang Anda pegang terhadap orang atau kelompok tertentu?

● Apakah kesombongan Anda (dalam bentuk apa pun) menghalangi hubungan Anda?

● Kapan terakhir kali Anda mengakui Anda salah tentang seseorang—dan tumbuh darinya? 

● Apa yang Anda cari dalam pasangan: keamanan, gairah, atau pertumbuhan bersama?

 


Tentang Novel Asli 

"Pride and Prejudice" pertama kali diterbitkan pada 28 Januari 1813 oleh Jane Austen (1775-1817). 

Austen menulis novel ini di usia muda (awalnya berjudul "First Impressions" pada 1796-1797) dan merevisinya bertahun-tahun kemudian sebelum dipublikasikan. 

Novel ini awalnya diterbitkan secara anonim—"By the Author of Sense and Sensibility"—karena perempuan penulis masih tidak dianggap serius di era itu. 

Tapi novel ini langsung sukses dan tetap menjadi salah satu karya literatur paling dicintai dan paling sering diadaptasi: 

● Puluhan film dan serial TV (termasuk adaptasi BBC 1995 yang ikonik dengan Colin Firth) 

● Adaptasi modern seperti "Bridget Jones's Diary" 

● Ratusan sekuel dan reimaginasi oleh penulis lain 

Untuk pengalaman penuh kecerdasan, humor, dan ironi Jane Austen, sangat disarankan membaca novel aslinya. Dialog yang tajam, observasi sosial yang brilian, dan karakter yang hidup tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan mana pun. 

Sekarang pergilah dan baca ulang percakapan Anda yang terakhir dengan seseorang. 

Apakah Anda melihat mereka dengan mata yang jernih—atau dengan kacamata kesombongan dan prasangka? 

Karena seperti yang Elizabeth dan Darcy pelajari: Cinta sejati dimulai ketika kita berani melihat diri sendiri—dan orang lain—dengan jujur.