Rumah di Atas Bukit yang Menyimpan Rahasia Kelam
Bayangkan sebuah rumah tua di puncak bukit tandus Yorkshire, Inggris. Angin moors yang dingin melolong tanpa henti. Tidak ada pohon yang tumbuh tegak—semuanya bengkok, dipaksa oleh angin untuk tunduk. Rumah ini bernama Wuthering Heights—"wuthering" dalam dialek Yorkshire berarti "hembusan angin yang kencang."
Rumah ini bukan tempat yang hangat. Bukan tempat di mana cinta tumbuh indah. Ini adalah tempat di mana cinta berubah menjadi obsesi, obsesi menjadi kebencian, dan kebencian menjadi kutukan yang meracuni dua generasi.
Tahun 1801. Seorang penyewa baru bernama Mr. Lockwood tiba di Thrushcross Grange—rumah mewah di lembah, tidak jauh dari Wuthering Heights. Dia berkunjung ke tetangganya di Wuthering Heights untuk berkenalan.
Yang dia temukan: seorang tuan rumah yang kasar dan dingin bernama Heathcliff, keluarga yang penuh ketegangan, dan atmosfer yang begitu mencekam hingga dia tidak bisa tidur nyenyak malam itu.
Di kamarnya yang dingin, dia bermimpi—atau mungkin melihat hantu—seorang wanita yang mengetuk jendela, memohon untuk masuk, memanggil nama "Heathcliff" dengan putus asa. "Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk! Sudah dua puluh tahun aku mengembara di moors!"
Ketika Heathcliff mendengar nama itu, dia berubah. Matanya liar. Dia membuka jendela ke malam yang dingin dan berteriak ke kegelapan: "Cathy! Cathy! Kembalilah! Oh, Tuhan! Kembalilah padaku!"
Siapa Cathy? Apa yang terjadi di rumah ini?
Mr. Lockwood, terkurung di dalam rumah karena badai salju, meminta Nelly Dean—pembantu rumah tangga yang telah bekerja untuk kedua keluarga selama puluhan tahun—untuk menceritakan kisahnya.
Dan kisah yang dia dengar adalah salah satu kisah cinta paling kelam, paling obsesif, dan paling tragis yang pernah diceritakan.
Bagian 1: Heathcliff—Anak Tanpa Nama, Tanpa Asal
Kedatangan yang Mengubah Segalanya
Tiga puluh tahun sebelumnya, Mr. Earnshaw—pemilik Wuthering Heights—pulang dari perjalanan ke Liverpool dengan membawa seorang anak laki-laki kotor, berbahasa asing, yatim piatu dari jalanan.
"Ini hadiah dari Tuhan," katanya pada keluarganya.
Tapi bagi anak-anaknya—Hindley dan Catherine—ini bukan hadiah. Ini adalah ancaman.
Mr. Earnshaw memberi anak itu nama "Heathcliff"—nama anak laki-lakinya yang sudah meninggal. Tidak ada nama keluarga. Tidak ada identitas. Hanya satu nama yang menjadi tanda identitas dan kutukan sekaligus.
Hindley, anak laki-laki Mr. Earnshaw, langsung membenci Heathcliff. Dia melihat perhatian ayahnya beralih pada anak pungut ini. Dia merasa terancam.
Tapi Catherine—Cathy—berbeda.
Dia dan Heathcliff menjadi satu jiwa dalam dua tubuh. Mereka berlari liar di moors. Bermain di antara heather dan batu. Memberontak terhadap otoritas. Menciptakan dunia mereka sendiri di mana kelas sosial, nama keluarga, dan aturan tidak berarti apa-apa.
"Aku adalah Heathcliff," Cathy akan mengatakan bertahun-tahun kemudian. "Dia lebih aku daripada diriku sendiri."
Bagian 2: Cinta yang Tidak Bisa Hidup di Dunia Ini
Ketika Mr. Earnshaw Meninggal
Ketika Mr. Earnshaw meninggal, Hindley mewarisi Wuthering Heights. Dan dendam yang selama ini ditahan meledak.
Heathcliff—yang dulu diperlakukan seperti anak keluarga—sekarang diturunkan menjadi pelayan. Tidak ada pendidikan. Tidak ada masa depan. Hanya kerja keras dan penghinaan.
Tapi dia bertahan. Mengapa? Karena Cathy.
Selama Cathy ada, dia bisa menanggung segalanya.
Malam di Thrushcross Grange
Suatu malam, Heathcliff dan Cathy mengintip ke jendela Thrushcross Grange—rumah mewah keluarga Linton di lembah.
Di dalam, mereka melihat dua anak muda kaya—Edgar dan Isabella Linton—bertengkar tentang siapa yang boleh menggendong anjing kecil. Dunia yang begitu berbeda dari dunia keras Wuthering Heights.
Anjing penjaga menyerang mereka. Cathy terluka. Keluarga Linton membawa Cathy masuk—tapi menolak Heathcliff yang kotor dan liar.
Cathy tinggal di Thrushcross Grange selama lima minggu. Ketika dia kembali, dia sudah berubah.
Dia memakai gaun indah. Rambut disisir rapi. Dia belajar berbicara dengan sopan, tertawa dengan elegan, berperilaku seperti wanita muda terhormat.
Dia melihat Heathcliff—yang masih kotor, kasar, tidak berpendidikan—dan untuk pertama kalinya, dia malu.
Retakan pertama muncul di antara mereka.
Bagian 3: Pengkhianatan yang Menghancurkan Jiwa
"Itu Akan Merendahkanku untuk Menikahi Heathcliff"
Tiga tahun kemudian, Edgar Linton melamar Catherine.
Dia kaya. Tampan. Lembut. Terhormat. Segalanya yang Heathcliff bukan.
Cathy datang pada Nelly Dean, bingung, mencari nasihat.
"Aku mencintai Heathcliff," katanya. "Dia lebih aku daripada diriku sendiri. Apapun jiwa kita terbuat, miliknya dan milikku sama."
Nelly bertanya: "Lalu mengapa kau mau menikahi Edgar?"
Dan Cathy menjawab—dalam satu kalimat yang akan mengubah segalanya:
"Itu akan merendahkanku untuk menikahi Heathcliff sekarang. Dia telah diturunkan begitu rendah oleh Hindley. Jika aku menikahi Edgar, aku bisa membantu Heathcliff naik..."
Apa yang tidak dia tahu: Heathcliff mendengar percakapan itu.
Dia mendengar "Itu akan merendahkanku untuk menikahi Heathcliff."
Dia tidak mendengar bagian setelahnya—bahwa Cathy mencintainya lebih dari apapun di dunia, bahwa dia adalah dia.
Malam itu, Heathcliff menghilang. Tanpa kata. Tanpa jejak.
Dan Cathy, yang percaya dia telah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar memahami jiwanya, menikahi Edgar Linton.
Bagian 4: Kembalinya Heathcliff—dengan Dendam
Tiga Tahun Kemudian
Catherine sekarang Mrs. Linton, hidup di Thrushcross Grange yang elegan. Kehidupan yang nyaman. Suami yang baik.
Tapi ada kekosongan di dalam dirinya yang tidak bisa diisi Edgar.
Lalu Heathcliff kembali.
Tapi bukan Heathcliff yang liar dan kotor. Ini adalah Heathcliff yang kaya, berpakaian rapi, berbicara dengan percaya diri—seorang pria yang entah bagaimana mengumpulkan kekayaan di tahun-tahun ketidakhadirannya (kemungkinan besar melalui cara yang tidak terhormat).
Dia datang bukan untuk merebut kembali Cathy. Terlambat untuk itu.
Dia datang untuk dendam.
Dendam yang Sistematis
Heathcliff bermain catur dengan kehidupan semua orang yang pernah menyakitinya:
Langkah 1: Hindley Hindley—yang sekarang pecandu alkohol dan penjudi—menjadi mangsa mudah. Heathcliff meminjamkan uang padanya, menunggu dia tenggelam lebih dalam, dan akhirnya mengambil alih Wuthering Heights. Rumah keluarga Earnshaw sekarang milik Heathcliff.
Langkah 2: Isabella Linton Isabella, adik Edgar, jatuh cinta pada Heathcliff yang misterius. Heathcliff menikahi Isabella—bukan karena cinta, tetapi untuk menyakiti Edgar dan mendapatkan akses ke kekayaan Linton.
Pernikahan mereka adalah neraka. Heathcliff memperlakukan Isabella dengan kejam, menggunakan dia hanya sebagai alat dendam.
Catherine—Terpecah di Antara Dua Dunia
Catherine terjebak. Dia masih mencintai Heathcliff dengan intensitas yang sama. Tapi dia juga istri Edgar.
Ketika Edgar meminta dia memilih—Heathcliff atau dia—Catherine tidak bisa.
Stres dan konflik internal menghancurkannya. Dia sakit. Lemah. Hamilnya membuatnya lebih rentan.
Dalam satu adegan yang mengerikan dan mengharukan, Heathcliff dan Catherine bertemu terakhir kali. Dia sekarat. Mereka berpelukan, saling menyalahkan, saling mencintai, saling membenci.
"Kau telah membunuhku," kata Heathcliff. "Dan kau berkembang dengan itu! Seberapa kuat kau sekarang?"
"Kau telah membunuh dirimu sendiri," balas Catherine. "Dan kau telah membunuhku juga."
Malam itu, Catherine melahirkan seorang anak perempuan—Cathy muda—dan meninggal.
Heathcliff mendengar berita itu dan berteriak dengan keputusasaan yang mengerikan:
"Catherine Earnshaw, semoga kau tidak beristirahat selama aku hidup! Kau bilang aku telah membunuhmu—hantui aku, kalau begitu! Aku tahu hantu-hantu telah mengembara di bumi. Jadilah selalu denganku—ambil bentuk apapun—gila-gilakanku! Tapi jangan tinggalkan aku di jurang ini, di mana aku tidak bisa menemukanmu!"
Bagian 5: Dendam yang Meracuni Generasi Kedua
Delapan Belas Tahun Berlalu
Heathcliff tidak mati. Dia hidup—tapi hanya untuk melanjutkan dendam.
Sekarang targetnya adalah generasi berikutnya:
1. Hareton Earnshaw - Anak Hindley, yang sekarang menjadi pelayan di rumahnya sendiri, tidak berpendidikan, kasar—persis seperti Heathcliff dulu diperlakukan.
2. Cathy muda - Anak Catherine dan Edgar, yang tumbuh cantik, cerdas, tapi terisolasi.
3. Linton Heathcliff - Anak Heathcliff dan Isabella, yang sakit-sakitan, lemah, manipulatif.
Rencana Heathcliff sederhana dan kejam: Paksa Cathy muda menikah dengan Linton (anaknya), sehingga ketika Edgar meninggal, semua kekayaan Linton akan jatuh ke tangan Heathcliff.
Dan dia berhasil.
Melalui manipulasi, ancaman, dan kurungan fisik, Heathcliff memaksa Cathy muda—yang masih remaja—untuk menikahi Linton yang sekarat.
Edgar meninggal. Linton meninggal tidak lama kemudian.
Sekarang Heathcliff memiliki segalanya:
● Wuthering Heights (rumah Earnshaw)
● Thrushcross Grange (rumah Linton)
● Cathy muda (anak perempuan Catherine)—diperlakukan seperti pelayan
● Hareton (cucu Hindley)—diturunkan menjadi pelayan yang tidak terpelajar
Dendam sempurna. Semua orang yang pernah menyakitinya atau keturunan mereka sekarang menderita.
Tapi kemenangan ini terasa hampa.
Bagian 6: Ketika Hantu Tidak Cukup
Heathcliff yang Mulai Hancur
Tahun-tahun berlalu. Heathcliff menua. Tapi dia tidak pernah menemukan kedamaian.
Dia masih terobsesi dengan Catherine. Dia masih melihat wajahnya di mana-mana—di mata Cathy muda, di bayangan di moors, di mimpinya.
Dia membayar penggali kubur untuk membuka peti mati Catherine. Dia melihat wajahnya yang masih terpelihara. Dia meminta agar ketika dia mati, sisi peti matinya dibuka sehingga tubuh mereka bisa bercampur di tanah.
Obsesi yang melampaui kematian. Cinta yang tidak bisa dipadamkan bahkan oleh kubur.
Sesuatu yang Berubah
Tapi kemudian Heathcliff mulai melihat sesuatu yang mengganggu rencananya.
Cathy muda—yang dia perlakukan dengan kejam—mulai mengajari Hareton membaca. Perlahan, dengan sabar, dia menunjukkan kebaikan pada pria muda yang kasar itu.
Dan Hareton—yang seharusnya mewarisi kebencian dan kekejaman—merespons dengan kelembutan.
Mereka jatuh cinta.
Heathcliff melihat mereka dan tiba-tiba melihat dirinya dan Catherine muda di mereka. Cinta yang seharusnya menjadi milik mereka. Kebahagiaan yang dicuri oleh kelas sosial dan kebanggaan.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, dendam Heathcliff mulai kehilangan kekuatannya.
Dia tidak bisa lagi melukai mereka. Dia tidak lagi peduli.
Yang dia inginkan hanya satu: bersatu kembali dengan Catherine.
Bagian 7: Akhir Heathcliff—Kembali pada Cinta
Minggu-Minggu Terakhir
Heathcliff berhenti makan. Berhenti tidur. Menghabiskan malam-malam berjalan di moors, berbicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Dia ada di dekat saya," katanya pada Nelly. "Aku bisa merasakannya."
Wajahnya—yang selalu keras, penuh kebencian—sekarang penuh dengan kerinduan yang aneh. Hampir... bahagia.
Suatu pagi, Nelly menemukannya mati di kamarnya. Jendela terbuka lebar. Hujan masuk. Tapi wajahnya... tersenyum.
Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama bertahun-tahun.
Dia dimakamkan di samping Catherine, seperti yang dia minta. Tiga kubur berjajar: Edgar di satu sisi, Catherine di tengah, Heathcliff di sisi lain.
Bahkan dalam kematian, dia tidak membiarkan Edgar memiliki dia sepenuhnya.
Yang Tertinggal
Cathy muda dan Hareton menikah. Mereka meninggalkan Wuthering Heights yang kelam dan pindah ke Thrushcross Grange yang terang.
Siklus kekerasan berakhir. Cinta yang sehat menang atas obsesi yang merusak.
Tapi orang-orang lokal berbisik: mereka melihat dua sosok berjalan bersama di moors pada malam-malam gelap. Seorang pria dan seorang wanita, akhirnya bersatu, akhirnya bebas.
Mungkin hantu. Mungkin imajinasi.
Atau mungkin, dalam kematian, Heathcliff dan Catherine menemukan apa yang tidak bisa mereka miliki dalam hidup: kebebasan untuk mencintai tanpa batasan dunia yang kejam.
Bagian 8: Apa yang Diajarkan Wuthering Heights pada Kita
1. Cinta Bisa Menjadi Racun Jika Tidak Sehat
Cinta Heathcliff dan Catherine bukan cinta yang romantis meskipun terasa intens. Itu adalah obsesi.
Cinta yang sehat mendorong pertumbuhan. Cinta yang toxic menghancurkan.
Heathcliff tidak pernah bisa membiarkan Cathy pergi. Cathy tidak pernah bisa memilih—dia ingin keduanya, Edgar dan Heathcliff.
Akibatnya? Tiga nyawa hancur. Dan generasi berikutnya hampir mengikuti jejak yang sama.
Pelajaran: Cinta tanpa batasan, tanpa kesehatan, tanpa kemampuan melepaskan—bukanlah cinta. Itu adalah penjara bagi kedua belah pihak.
2. Dendam Hanya Meracuni Diri Sendiri
Heathcliff mendapat semua yang dia inginkan: kekayaan, kekuasaan, balas dendam sempurna.
Tapi apa yang dia rasakan? Kekosongan.
Dendam tidak pernah memberinya kebahagiaan. Tidak pernah mengisi lubang yang ditinggalkan Catherine. Semua yang dia lakukan hanya membuat penderitaannya lebih dalam.
"Aku sudah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mendapatkan dendam ini," katanya di akhir. "Dan sekarang, aku tidak peduli lagi."
Pelajaran: Dendam adalah api yang membakar rumah Anda sendiri untuk melihat musuh Anda terbakar. Pada akhirnya, Anda yang hangus.
3. Kelas Sosial Bisa Menghancurkan Cinta Sejati
Apa yang menghancurkan Heathcliff dan Catherine? Kelas sosial.
Jika Cathy tidak peduli bahwa menikahi Heathcliff "merendahkan" dia, mereka mungkin bahagia.
Tapi dia peduli. Dia memilih status sosial atas cinta sejati. Dan keputusan itu menghancurkan keduanya.
Pelajaran: Nilai-nilai masyarakat—status, uang, nama keluarga—kadang bisa membuat kita mengkhianati yang paling penting: cinta yang otentik dan koneksi yang nyata.
4. Siklus Kekerasan Bisa Diputus
Heathcliff direndahkan. Jadi dia merendahkan Hareton.
Tapi Cathy muda—meskipun dia diperlakukan dengan kejam—memilih untuk tidak melanjutkan siklus.
Dia memilih kebaikan. Dia memilih cinta. Dia memilih memberi Hareton kesempatan yang tidak pernah diberikan Heathcliff.
Dan dengan itu, kutukan berakhir.
Pelajaran: Kita semua mewarisi luka. Tapi kita tidak harus mewariskannya ke generasi berikutnya. Penyembuhan dimulai ketika seseorang berani memilih berbeda.
5. Cinta yang Sehat Membebaskan, Bukan Memiliki
Bandingkan cinta Heathcliff-Catherine dengan cinta Cathy muda-Hareton.
Heathcliff dan Catherine memiliki satu sama lain. "Aku adalah dia. Dia adalah aku." Tidak ada ruang untuk identitas terpisah.
Cathy muda dan Hareton mendukung satu sama lain. Dia mengajarinya. Dia tumbuh. Mereka tetap individu yang terpisah yang memilih untuk bersama.
Pelajaran: Cinta sejati memberi ruang untuk tumbuh. Obsesi menuntut fusi total—dan itu menghancurkan keduanya.
Penutup: Warisan dari Moors yang Gelap
Emily Brontë menulis "Wuthering Heights" pada usia 29 tahun. Dia meninggal setahun kemudian, tidak pernah tahu bahwa novelnya akan menjadi salah satu karya terbesar dalam sastra Inggris.
Ketika pertama kali diterbitkan tahun 1847, novel ini dikritik habis-habisan. Terlalu brutal. Terlalu gelap. Tidak ada karakter yang "baik."
Tapi itu justru kekuatannya.
Brontë tidak menulis dongeng. Dia menulis tentang kegelapan dalam jiwa manusia—tentang bagaimana cinta bisa menjadi obsesi, bagaimana luka masa kecil bisa menjadi dendam seumur hidup, bagaimana pilihan satu generasi bisa mengutuk generasi berikutnya.
Tapi dia juga menulis tentang kemungkinan penebusan. Bahwa siklus bisa diputus. Bahwa cinta yang sehat bisa menang atas obsesi yang merusak.
Pertanyaan untuk Anda
● Apakah ada "Heathcliff" dalam hidup Anda—seseorang atau sesuatu yang Anda tidak bisa lepaskan, yang menjadi obsesi?
● Apakah ada dendam yang Anda pegang yang sebenarnya hanya meracuni diri Anda sendiri?
● Siklus apa dalam hidup atau keluarga Anda yang perlu diputus?
Heathcliff menghabiskan seluruh hidupnya untuk dendam—dan menemukan kekosongan.
Catherine menghabiskan seluruh hidupnya terpecah antara dua dunia—dan menemukan kematian.
Tapi Cathy muda dan Hareton memilih jalan yang berbeda. Dan mereka menemukan kedamaian.
Pilihan selalu ada.
Tentang Novel Asli
"Wuthering Heights" pertama kali diterbitkan pada tahun 1847 dengan nama samaran "Ellis Bell" karena Emily Brontë, seperti saudara perempuannya Charlotte dan Anne, menulis di era ketika penulis perempuan tidak dianggap serius.
Novel ini adalah satu-satunya novel yang ditulis Emily Brontë. Dia meninggal tahun 1848 pada usia 30 tahun karena tuberkulosis, tidak pernah menulis karya lain.
Struktur naratifnya yang kompleks—cerita dalam cerita, timeline yang melompat—dianggap revolusioner untuk masanya. Karakter-karakter yang tidak ada yang benar-benar "heroik" juga tidak biasa untuk era Victorian yang cenderung moralistik.
Novel ini telah diadaptasi berkali-kali menjadi film, opera, dan musik. Lagu "Wuthering Heights" oleh Kate Bush (1978) membawa novel ini ke pop culture modern.
Untuk pengalaman penuh dari prose gothic yang indah dan karakter-karakter yang kompleks, sangat disarankan membaca novel aslinya. Brontë menulis dengan bahasa yang puitis, atmosferik, dan menakutkan—sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Sekarang tutup buku ini dan tanyakan pada diri sendiri:
Apakah cinta yang Anda bawa membebaskan atau memenjarakan?
Karena seperti yang diajarkan Wuthering Heights: perbedaan antara cinta dan obsesi adalah perbedaan antara kehidupan dan kehancuran.
Pilihlah dengan bijak.

