Love in the Time of Cholera

Gabriel García Márquez


51 Tahun, 9 Bulan, 4 Hari 

Berapa lama Anda bisa menunggu seseorang yang Anda cintai? 

Satu tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? 

Florentino Ariza menunggu 51 tahun, 9 bulan, dan 4 hari. 

Sejak hari ketika wanita yang dicintainya—Fermina Daza—menolaknya dengan dingin dan mengatakan, "Lupakan saja," Florentino tidak pernah sedetik pun berhenti mencintainya. 

Dia menunggu. Dengan kesabaran yang hampir gila. Dengan kesetiaan yang membingungkan. Dengan keyakinan yang melawan segala logika. 

Dia menunggu sementara Fermina menikah dengan pria lain. Membangun keluarga dengan pria lain. Menua bersama pria lain. 

Dan ketika akhirnya suami Fermina meninggal—pada usia 76 tahun—Florentino datang ke pemakaman. Tidak untuk berduka. Tetapi untuk mengulangi pernyataan cintanya. 

"Fermina," katanya dengan suara bergetar tapi pasti, "aku telah menunggu kesempatan ini selama lebih dari setengah abad, untuk mengulangi kepadamu sekali lagi sumpah kesetiaanku yang abadi dan cintaku yang tak berujung." 

Gila? Romantis? Obsesif? Mulia? 

Gabriel García Márquez tidak memberi jawaban mudah. Sebaliknya, dia mengajak kita dalam perjalanan epik tentang cinta—dalam segala bentuknya yang indah, menyedihkan, absurd, dan abadi. 

"Love in the Time of Cholera" bukan sekadar kisah cinta. Ini adalah meditasi tentang apa artinya mencintai ketika waktu terus berjalan, tubuh menua, dan kematian semakin dekat.

 


Bagian 1: Cinta Pertama—Badai di Usia Muda

Telegraf Cinta 

Florentino Ariza pertama kali melihat Fermina Daza ketika dia berusia 18 tahun dan Fermina 13 tahun. 

Dia bekerja sebagai operator telegraf untuk pamannya. Fermina adalah putri pedagang kaya yang baru pindah ke kota. Cantik. Bangga. Tak terjangkau. 

Cinta pada pandangan pertama? Lebih dari itu. 

García Márquez menggambarkannya seperti penyakit: Florentino tidak bisa makan, tidak bisa tidur, muntah-muntah, diare, demam, jantung berdebar—semua gejala yang identik dengan cholera, penyakit yang saat itu mewabah di kota mereka. 

Ibunya panik, memanggil dokter. Tapi Florentino tahu: ini bukan cholera. Ini cinta. Dan mungkin lebih berbahaya. 

Selama bertahun-tahun, mereka bertukar surat. Ratusan surat. Florentino menulis puisi cinta yang panjang, berbunga-bunga, dramatis. Fermina membaca dengan jantung berdebar, menyembunyikan surat-surat itu dari ayahnya yang protektif. 

Mereka hanya bertemu sesekali, di gereja, dengan tatapan curi-curi. Tapi dalam surat-surat mereka, mereka hidup dalam dunia fantasi yang penuh gairah. 

Mereka berjanji untuk menikah. Untuk bersama selamanya. Untuk mencintai sampai mati.

Penolakan yang Menghancurkan 

Tapi ayah Fermina menemukan surat-surat itu. Marah luar biasa. Dia membawa Fermina pergi dalam perjalanan panjang selama dua tahun—jauh dari Florentino, jauh dari romansa konyol itu. 

Florentino menunggu. Mengirim surat ke mana pun Fermina pergi. Menjaga api cinta tetap menyala. 

Ketika Fermina akhirnya kembali—sudah dewasa, sudah matang—mereka bertemu lagi.

Dan di momen itu, sesuatu yang mengerikan terjadi. 

Fermina melihat Florentino—yang telah dia cintai melalui surat selama bertahun-tahun—dan berpikir: "Astaga, bagaimana aku bisa mencintai orang ini?" 

Dia melihat pria kurus, gugup, dengan pakaian yang ketinggalan zaman, yang berbicara dengan puitis tapi terlihat konyol.

Semua ilusi romantis runtuh dalam sekejap. 

"Tidak," kata Fermina dengan dingin. "Lupakan saja. Ini adalah kesalahan."

Dan dia berbalik, meninggalkan Florentino berdiri di jalan, dunia hancur di sekitarnya.

 


Bagian 2: Dua Jalan yang Berbeda 

Fermina: Jalan Pragmatis 

Fermina Daza membuat pilihan yang rasional. 

Dia menikahi Dr. Juvenal Urbino—dokter tampan, cerdas, kaya, terhormat. Seorang pria yang mewakili segalanya yang diharapkan masyarakat dari suami yang baik. 

Dr. Urbino adalah kebalikan dari Florentino. Dia praktis, tidak romantis, tapi stabil. Dia membawa Fermina ke kehidupan yang nyaman, terhormat, aman. 

Pernikahan mereka bukan dongeng. Ini adalah realitas—dengan semua konflik, kompromi, dan kebiasaan yang datang dengan hidup bersama selama 50 tahun. 

Mereka bertengkar tentang hal-hal kecil: sabun yang salah tempat, cara memasak, kebiasaan yang mengganggu. Fermina kadang merasa sesak dalam pernikahan yang terlalu teratur, terlalu dapat diprediksi. 

Tapi ada juga cinta—jenis cinta yang berbeda. Cinta yang tumbuh dari berbagi hidup, membesarkan anak, menghadapi krisis bersama, dan menjadi tua berdampingan. 

Dr. Urbino setia, peduli, dan menghormati Fermina. Dan Fermina belajar untuk mencintainya—dengan cara yang matang, yang tenang, yang tidak dramatis seperti cinta remajanya dulu. 

Florentino: Jalan Obsesi 

Sementara itu, Florentino Ariza membuat pilihan yang berbeda. 

Dia menolak untuk melanjutkan hidupnya. 

Penolakan Fermina tidak membunuh cintanya. Malah, penolakan itu mengabadikannya. Dia membuat keputusan: dia akan menunggu. Berapa lama pun. Sampai Fermina bebas. 

Tapi bagaimana seseorang bisa hidup sambil menunggu? Bagaimana bertahan tanpa kehilangan akal? 

Florentino menemukan caranya: 622 hubungan dengan wanita lain. 

Ya, Anda baca dengan benar. 622. 

Dia mencatat setiap hubungan dalam buku kecil. Janda. Wanita tua. Wanita muda. Pelacur. Wanita kelas atas. Semuanya.

Tapi tidak ada yang dia cintai. Semuanya adalah pengganti. Cara untuk meredakan hasrat fisik sambil menjaga hatinya tetap terkunci untuk Fermina. 

Dia naik tangga karir, menjadi kaya dan berpengaruh di perusahaan perkapalan. Dia hidup dengan nyaman. Tapi hatinya? Masih milik wanita yang menolaknya 50 tahun lalu.

 


Bagian 3: Kematian dan Kesempatan Kedua

Jatuh dari Tangga—Akhir Hidup yang Absurd 

Dr. Juvenal Urbino meninggal pada usia 81 tahun dengan cara yang hampir komedi. 

Seekor burung beo—burung kesayangan yang dia pelihara—terbang ke pohon mangga dan menolak turun. Dr. Urbino, dengan keras kepala khasnya, memanjat tangga untuk menangkap burung itu. 

Dia jatuh. Dan meninggal. 

Setelah 53 tahun pernikahan, Fermina menjadi janda. 

Di pemakaman, ratusan orang datang memberi penghormatan. Dr. Urbino adalah tokoh terhormat, dicintai banyak orang. 

Dan di antara kerumunan itu, Fermina melihat wajah yang membuat jantungnya berhenti: Florentino Ariza. 

Dia hampir tidak berubah—rambut putih, tubuh lebih tua, tapi mata yang sama. Mata yang masih menatapnya dengan intensitas yang menakutkan. 

Setelah semua orang pergi, Florentino mendekatinya. Dan dengan tenang, seolah tidak ada 50 tahun yang berlalu, dia berkata: 

"Fermina, aku masih menunggumu. Aku masih mencintaimu." 

Fermina menamparnya

Marah. Terhina. Bagaimana dia berani? Di hari pemakaman suaminya? Dia mengusirnya dari rumah. 

Tapi malam itu, sendirian di rumah besar yang sekarang terasa sangat kosong, Fermina tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata itu.

 


Bagian 4: Cinta di Usia Senja—Percintaan yang Berbeda

Surat Lagi—Setelah 50 Tahun 

Florentino tidak menyerah. Tentu saja tidak. Dia sudah menunggu 51 tahun; apa artinya beberapa bulan lagi? 

Dia mulai menulis surat lagi. Setiap hari. 

Awalnya, Fermina membakar surat-surat itu tanpa membaca. Tapi lama-lama, rasa ingin tahunya mengalahkan kemarahannya. Dia mulai membaca. 

Surat-surat Florentino tidak lagi berbunga-bunga seperti dulu. Sekarang dia menulis tentang hal-hal sederhana: kenangan, refleksi tentang usia, cerita tentang kota, puisi-puisi tua. 

Dan perlahan, Fermina menemukan dirinya menunggu surat-surat itu. 

Dia menulis balik. Singkat di awal. Lalu lebih panjang. Mereka mulai berkorespondensi seperti teman lama—berbagi pikiran tentang hidup, kematian, penyesalan, harapan. 

Kencan di Usia 70-an 

Ketika mereka akhirnya mulai bertemu lagi—di pesta, di restoran, di rumah Fermina—sesuatu yang aneh terjadi. 

Mereka jatuh cinta. Lagi. Tapi kali ini berbeda

Ini bukan cinta yang bergejolak, obsesif, dramatis seperti di masa muda. Ini adalah cinta yang lembut, sabar, penuh pemahaman. 

Mereka tahu tubuh mereka sudah tua. Fermina khawatir tentang kulitnya yang keriput, payudaranya yang kendur. Florentino khawatir tentang impotensinya yang sesekali. 

Tapi García Márquez dengan indah menunjukkan: cinta di usia tua punya keindahannya sendiri. 

Tidak ada tergesa-gesa. Tidak ada tekanan. Mereka punya semua waktu yang tersisa—yang mungkin tidak banyak—dan mereka ingin menghabiskannya dengan kehadiran satu sama lain.

 


Bagian 5: Perjalanan Sungai Magdalena—Metafora Abadi

Pelayaran Tanpa Akhir 

Di akhir novel, Florentino mengajak Fermina untuk pelayaran di kapal sungai Magdalena—perjalanan yang dulunya adalah rute perdagangan penting, tapi kini hampir ditinggalkan karena kemajuan zaman. 

Kapal itu adalah milik perusahaan Florentino. Dia dan Fermina naik kapal, berlayar menyusuri sungai. 

Di kapal, mereka akhirnya bersatu—secara fisik, emosional, spiritual. Setelah lebih dari 50 tahun. 

Ketika kapten kapal bertanya apakah mereka ingin kembali ke pelabuhan, Florentino melihat Fermina. Dan mereka berdua tahu: mereka tidak ingin kembali. 

Dunia di luar—dengan ekspektasi, gosip, penilaian—tidak lagi penting. Yang penting adalah mereka berdua, di kapal ini, di sungai ini. 

Jadi Florentino memberi instruksi brilian kepada kapten: "Naikkan bendera kuning." 

Bendera kuning adalah tanda kapal membawa penumpang dengan cholera—penyakit yang sangat ditakuti. Dengan bendera itu, tidak ada pelabuhan yang akan membiarkan mereka berlabuh. Mereka akan berlayar selamanya. 

Dan di momen terakhir novel yang indah, kapten bertanya, "Berapa lama kita akan terus berlayar bolak-balik?" 

Florentino menjawab dengan kata-kata yang mengakhiri novel: 

"Selamanya."

 


Bagian 6: Makna di Balik Cerita—Pelajaran Abadi

1. Cinta Tidak Punya Batas Waktu 

García Márquez menantang ide bahwa cinta hanya milik kaum muda. 

Fermina dan Florentino menemukan cinta terdalam mereka di usia 70-an. Tubuh mungkin menua, tapi kemampuan untuk mencintai tidak pernah mati. 

Masyarakat sering mentertawakan cinta di usia tua—menganggapnya konyol, tidak pantas, atau menyedihkan. Tapi novel ini berkata: Tidak ada yang lebih mulia daripada orang tua yang berani mencintai. 

2. Ada Banyak Jenis Cinta—Tidak Ada yang "Salah" 

Novel ini menunjukkan tiga jenis cinta: 

Cinta Romantis Florentino - Obsesif, setia, dramatis. Bertahan melampaui alasan. 

Cinta Pragmatis Fermina dengan Dr. Urbino - Stabil, praktis, tumbuh dari komitmen harian. Tidak dramatis tapi nyata. 

Cinta Fisik Florentino dengan 622 Wanita - Sensual, sementara, tapi juga cara untuk bertahan hidup. 

García Márquez tidak menghakimi. Dia tidak berkata satu jenis cinta lebih baik dari yang lain. Dia hanya menunjukkan: manusia mencintai dengan banyak cara, dan semua valid. 

3. Kesabaran yang Ekstrem—Gila atau Mulia? 

Apakah Florentino bodoh karena menunggu 51 tahun? 

Beberapa pembaca melihatnya sebagai romantis, setia, mulia. Yang lain melihatnya sebagai obsesif, tidak sehat, membuang-buang hidup. 

Kebenaran mungkin ada di tengah. 

Florentino mengorbankan kehidupan "normal" untuk cinta yang mungkin tidak pernah terwujud. Dia tidak punya keluarga. Tidak punya ikatan mendalam selain dengan Fermina. 

Tapi pada akhirnya, dia mendapatkan apa yang dia tunggu. Apakah itu membuatnya worthwhile? 

García Márquez membiarkan kita memutuskan. 

4. Cholera sebagai Metafora Cinta

Judul novel ini brilian karena satu alasan: cinta dan cholera punya gejala yang sama.

Demam. Jantung berdebar. Mual. Tidak bisa tidur. Kehilangan nafsu makan. Delirium. 

Dalam novel, orang-orang mati karena cholera. Tapi mereka juga "mati" karena cinta—kehilangan diri mereka, kewarasan mereka, kehidupan normal mereka. 

Dan bendera kuning cholera di akhir? Itu adalah simbol isolasi yang dipilih untuk melindungi cinta. 

Dunia luar melihat cholera sebagai penyakit. Florentino dan Fermina melihatnya sebagai kebebasan

5. Waktu Adalah Karakter dalam Novel Ini 

García Márquez menulis dengan detail obsesif tentang waktu: 51 tahun, 9 bulan, 4 hari. Bukan "sekitar 50 tahun." Bukan "setengah abad." 

Spesifisitas ini penting. Ini menunjukkan bahwa Florentino menghitung setiap hari. Waktu bukan hanya berlalu—dia merasakannya, menjalaninya, menunggu melewatinya. 

Tapi ironi novel ini: meskipun waktu begitu penting, di akhir, waktu menjadi tidak relevan. 

Di kapal, berlayar selamanya, waktu berhenti. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan. Hanya sekarang—saat ini, bersama orang yang dicintai.

 


Bagian 7: Pertanyaan untuk Kita Semua 

García Márquez tidak menulis novel ini untuk memberi jawaban. Dia menulis untuk mengajukan pertanyaan. 

Tentang Cinta: 

● Apakah cinta sejati hanya sekali seumur hidup, atau kita bisa mencintai berkali-kali dengan cara berbeda? 

● Apakah lebih baik mengejar cinta romantis yang tidak pasti, atau membangun cinta yang stabil meskipun tidak bergairah? 

● Berapa lama Anda bersedia menunggu seseorang yang mungkin tidak pernah menjadi milik Anda? 

Tentang Waktu: 

● Apakah menunggu 50 tahun adalah pengorbanan mulia atau pemborosan hidup?

● Apakah lebih baik menyesal karena tidak mencoba, atau menyesal karena menunggu terlalu lama? 

● Kapan waktu yang "tepat" untuk cinta? Atau apakah tidak ada waktu yang salah?

Tentang Pilihan: 

● Apakah Fermina membuat pilihan yang benar menikahi Dr. Urbino? 

● Apakah Florentino bodoh karena tidak pernah benar-benar membuka hatinya untuk orang lain? 

● Apakah ada "pilihan yang benar" dalam cinta, atau semua pilihan adalah trade-off?

Tentang Usia: 

● Mengapa masyarakat merendahkan cinta di usia tua? 

● Apakah gairah, sensualitas, dan romansa hanya milik kaum muda? 

● Apa yang hilang dan apa yang didapat ketika kita mencintai di usia senja?

 


Penutup: Keabadian dalam Keterbatasan 

"Love in the Time of Cholera" adalah novel tentang waktu—dan tentang bagaimana cinta menantang waktu. 

Fermina dan Florentino tidak punya waktu yang tidak terbatas. Mereka sudah tua. Kematian dekat. Mungkin mereka punya beberapa tahun, mungkin beberapa bulan. 

Tapi dengan naik kapal itu, dengan bendera kuning cholera berkibar, mereka menciptakan keabadian mereka sendiri. 

Tidak ada yang tahu berapa lama mereka berlayar. Mungkin sampai salah satu meninggal. Mungkin sampai keduanya. Tapi dalam pelayaran itu, waktu berhenti penting. 

García Márquez menulis dengan prosa yang seperti musik—panjang, mengalir, penuh detail yang melambat waktu. Anda tidak membaca novel ini untuk mencapai akhir. Anda membacanya untuk tenggelam dalam perjalanannya. 

Dan di akhir, ketika Florentino mengatakan "Selamanya," kita tahu: dia tidak berbicara tentang waktu kronologis. Dia berbicara tentang kualitas momen—tentang cinta yang begitu penuh, begitu hadir, sehingga satu momen terasa seperti keabadian. 

Pesan untuk Pembaca 

Mungkin Anda tidak akan menunggu seseorang selama 51 tahun. Mungkin Anda tidak akan naik kapal dengan bendera cholera untuk melarikan diri dari dunia. 

Tapi mungkin novel ini mengajarkan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih profound:

Tidak pernah terlambat untuk mencintai. 

Tidak terlambat untuk membuka hati lagi. Tidak terlambat untuk mengakui perasaan yang telah lama Anda pendam. Tidak terlambat untuk memilih keberanian daripada keamanan. 

Dan mungkin yang terpenting: Cinta tidak harus sempurna untuk menjadi indah. 

Florentino tidak sempurna—dia obsesif, terkadang menyedihkan. Fermina tidak sempurna—dia keras, pragmatis, kadang dingin. Tapi cinta mereka? Nyata

Di dunia yang terobsesi dengan cinta yang sempurna, García Márquez merayakan cinta yang manusiawi—dengan semua keanehan, ketidaksempurnaan, dan absurditasnya. 

Jadi berapa lama Anda bersedia mencintai? 

Mungkin jawabannya, seperti Florentino: Selamanya.

 


Tentang Buku Asli 

"Love in the Time of Cholera" (El amor en los tiempos del cólera) pertama kali diterbitkan dalam bahasa Spanyol pada tahun 1985, tujuh tahun setelah García Márquez menerbitkan masterpiece-nya "One Hundred Years of Solitude." 

Gabriel García Márquez (1927-2014) adalah novelis Kolombia yang memenangkan Nobel Prize in Literature tahun 1982. Dia adalah salah satu penulis terbesar abad ke-20, pelopor gerakan sastra yang dikenal sebagai "realisme magis." 

Novel ini terinspirasi oleh kisah cinta orangtua García Márquez sendiri—bagaimana mereka jatuh cinta melalui surat, ditentang oleh keluarga, dan akhirnya bersatu. 

Tapi García Márquez mengambil bibit cerita nyata itu dan mengubahnya menjadi meditasi epik tentang sifat cinta, waktu, dan kematian. 

Novel ini telah diterjemahkan ke 40+ bahasa dan diadaptasi menjadi film pada 2007. 

Untuk pengalaman lengkap keindahan prosa García Márquez, sangat disarankan membaca novel aslinya. Cara dia menulis tentang cinta—dengan detail sensual, humor, dan kelembutan—tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. Setiap kalimat adalah puisi. 

Sekarang tutup mata Anda sebentar. Pikirkan tentang seseorang yang pernah atau masih Anda cintai. 

Berapa lama Anda bersedia menunggu mereka? Berapa lama Anda bersedia mencintai mereka? 

Dan jika Anda diberi kesempatan untuk berlayar selamanya dengan mereka—jauh dari dunia, dari waktu, dari segala yang lain—apakah Anda akan naik kapal itu? 

Florentino Ariza mengatakan ya. 

Dan dalam jawaban itu, dia menemukan keabadian.