Great Expectations

Charles Dickens


Anak Yatim di Kuburan 

Bayangkan ini: Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berdiri sendirian di pemakaman yang suram, dikelilingi kabut tebal dari rawa-rawa. Dia menatap batu nisan orang tuanya yang tidak pernah dia kenal—ayah, ibu, dan lima saudara laki-lakinya yang semuanya meninggal di masa kecil. 

Namanya Philip Pirrip. Terlalu sulit untuk diucapkan, jadi dia menyebut dirinya Pip. 

Tiba-tiba, dari balik batu nisan, muncul sesosok pria yang mengerikan—pakaian compang-camping, rantai besi di kaki, wajah penuh luka. Seorang narapidana yang melarikan diri. 

Pria itu menyergap Pip, memutar tubuhnya terbalik sampai koin-koin jatuh dari sakunya. Lalu dengan suara mengancam, dia berteriak: "Bawa aku makanan dan kikir untuk rantai ini, atau aku akan memotong lehermu!" 

Pip berlari pulang, gemetar ketakutan. 

Tapi inilah yang luar biasa: momen di kuburan itu—pertemuan dengan narapidana yang menakutkan—akan mengubah seluruh hidup Pip dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan. 

Karena kadang-kadang, kebaikan kecil kepada orang asing di saat yang tepat bisa mengubah nasib selamanya. 

Selamat datang di kisah tentang seorang anak yatim miskin yang bermimpi menjadi gentleman. Tentang cinta yang tidak pernah terbalas. Tentang bagaimana uang dan status bisa merusak jiwa. Dan tentang bagaimana kadang-kadang, harapan terbesar kita justru mengajarkan pelajaran yang paling menyakitkan. 

Mari kita mulai dari rawa-rawa Kent, tempat segalanya dimulai.

 


Bagian 1: Kehidupan di Rawa—Akar yang Rendah Hati

Rumah dengan Joe, Si Pandai Besi 

Pip tinggal bersama kakak perempuannya, Mrs. Joe, dan suami kakaknya, Joe Gargery—seorang pandai besi yang baik hati dan sederhana. 

Mrs. Joe adalah wanita yang keras dan sering marah. Dia membesarkan Pip "dengan tangan"—yang secara harfiah berarti dia sering memukulnya. Dia terus-menerus mengeluh betapa beratnya merawat Pip, seolah itu adalah beban terbesar hidupnya. 

Tapi Joe berbeda. Joe lembut, penyayang, dan melihat Pip seperti teman terbaik, bukan beban. Di tengah kehidupan yang keras, Joe adalah satu-satunya orang yang benar-benar mencintai Pip tanpa syarat. 

Kebaikan kepada Narapidana 

Malam setelah pertemuan di kuburan, Pip mencuri makanan dari dapur dan kikir dari bengkel Joe. Dia merasa bersalah luar biasa—tapi lebih takut kepada narapidana. 

Keesokan paginya, Pip pergi ke rawa dan memberikan makanan dan kikir kepada narapidana itu. Pria itu melahap makanan dengan kelaparan yang memilukan, lalu memotong rantainya. 

Beberapa hari kemudian, tentara menangkap narapidana itu (bersama narapidana lain yang juga melarikan diri). Sebelum dibawa, narapidana itu mengaku mencuri makanan dari rumah Joe—melindungi Pip dari hukuman. 

Pip tidak pernah melihatnya lagi. Dia pikir itu akhir cerita. 

Tapi itu baru awal.

 


Bagian 2: Satis House—Tempat Waktu Berhenti

Undangan Misterius 

Suatu hari, Pip mendapat undangan untuk pergi ke rumah Miss Havisham—wanita terkaya (dan paling aneh) di kota. Dia membutuhkan anak laki-laki untuk "bermain." 

Pip dibawa ke Satis House—rumah megah yang gelap dan mengerikan. Semua tirai tertutup. Semua jam berhenti pada pukul 8:40. Debu tebal menutupi segalanya. 

Di ruang utama, Pip bertemu Miss Havisham—wanita tua yang mengenakan gaun pengantin kuning pucat dan satu sepatu (sepatu satunya tidak pernah dipakai). Di mejanya ada kue pengantin yang berjamur, dimakan tikus. 

Apa yang terjadi? Bertahun-tahun lalu, pada hari pernikahannya, tepat pukul 8:40, Miss Havisham ditinggalkan oleh tunangannya yang mencuri semua uangnya. Sejak saat itu, dia berhenti hidup. Dia membiarkan waktu berhenti pada momen kehancuran itu. 

Dan sekarang, penuh kebencian terhadap semua pria, dia punya rencana: membesarkan gadis cantik untuk menghancurkan hati pria—sebagai balas dendam. 

Gadis itu bernama Estella

Jatuh Cinta pada Gadis yang Kejam 

Estella cantik, elegan, dan sangat kejam kepada Pip. 

"Dia hanya anak laki-laki biasa," kata Estella kepada Miss Havisham. "Tangannya kasar. Sepatu botnya tebal. Dia menyebut kartu dengan nama yang salah. Betapa kasarnya!" 

Pip merasa malu luar biasa. Untuk pertama kalinya, dia sadar betapa miskin, kasar, dan rendahnya dirinya. 

Dan di sinilah tragedi dimulai: Pip jatuh cinta pada Estella—meskipun Estella memperlakukannya seperti sampah. 

Setiap minggu Pip datang ke Satis House. Setiap minggu Estella merendahkannya. Setiap minggu Miss Havisham menonton dengan kepuasan—melihat rencananya bekerja, melihat hati Pip hancur. 

Pip mulai membenci kehidupannya. Membenci tangan kasarnya dari bekerja. Membenci rumah sederhana Joe. Membenci dirinya sendiri karena bukan "gentleman." 

Dia mulai memiliki "great expectations"—harapan besar untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih kaya, lebih layak untuk Estella.

 


Bagian 3: Harapan Besar yang Misterius 

Pengumuman yang Mengubah Hidup 

Bertahun-tahun berlalu. Pip sudah menjadi magang pandai besi di bengkel Joe—nasib yang dia benci karena dia ingin menjadi gentleman untuk Estella. 

Lalu pada suatu hari, seorang pengacara bernama Mr. Jaggers datang dengan berita yang mengejutkan: 

"Kamu telah mendapat warisan besar dari benefactor anonim. Kamu akan pergi ke London untuk dididik menjadi gentleman. Kamu memiliki 'great expectations'." 

Ada dua syarat: 

1. Kamu tidak boleh mencoba mencari tahu siapa benefactor-mu 

2. Kamu harus tetap menggunakan nama "Pip" 

Pip gembira luar biasa! Dia yakin benefactor-nya adalah Miss Havisham—dan bahwa dia sedang dipersiapkan untuk menikahi Estella. 

Tapi ada yang dia lupakan dalam kebahagiaannya: Joe. 

Joe yang telah merawatnya dengan cinta tanpa syarat. Joe yang tidak pernah memintanya menjadi apa-apa selain dirinya sendiri. 

Ketika Pip meninggalkan desa untuk London, dia merasa malu dengan Joe—pria yang paling mencintainya di dunia.

 


Bagian 4: London—Menjadi Gentleman (dan Snob)

Kehidupan Baru, Karakter Baru 

Di London, Pip mulai belajar menjadi gentleman. Pakaian bagus. Tutor privat. Etika tinggi. Dia tinggal bersama Herbert Pocket—pemuda baik hati yang menjadi sahabatnya. 

Tapi dengan uang dan status baru, Pip berubah menjadi snob. 

Ketika Joe datang mengunjunginya di London, Pip merasa malu. Joe dengan pakaian kerjanya, cara bicaranya yang sederhana, ketidaktahuannya tentang etika tinggi—Pip malu dilihat bersama Joe oleh teman-teman barunya. 

Joe merasakan ini. Dengan hati yang hancur, dia berkata: 

"Pip, kamu dan aku sekarang bukan lagi sama. Kita tidak akan pernah sama lagi. Aku salah tempat di sini. Selamat tinggal, Pip lama." 

Dan Joe pergi—meninggalkan Pip dengan rasa bersalah yang akan menghantuinya.

Estella Kembali—Tapi Bukan untuk Pip 

Estella sekarang dewasa, cantik luar biasa, dan masih dingin seperti es. Miss Havisham membawanya kembali ke London untuk diperkenalkan ke masyarakat tinggi. 

Pip semakin yakin bahwa semua ini—uang, pendidikan, gentleman—adalah persiapan untuk menikahi Estella. 

Tapi Estella memperingatkannya: "Aku tidak punya hati. Aku telah diajari untuk menghancurkan hati pria, bukan mencintai mereka." 

Pip tidak peduli. Dia tetap mencintainya—dengan cinta yang obsesif, menyakitkan, tanpa harapan.

 


Bagian 5: Kebenaran yang Menghancurkan

Malam Hujan Badai 

Pip sekarang berusia 23 tahun. Dia hidup sebagai gentleman di London, menghabiskan uang dengan boros, menunggu warisan penuhnya, dan percaya suatu hari dia akan menikahi Estella. 

Lalu pada suatu malam hujan badai, ada ketukan di pintunya. 

Seorang pria tua, compang-camping, basah kuyup berdiri di sana. Rambut putih. Wajah keras. Tapi ada sesuatu yang familiar... 

Pria itu masuk dan berkata: 

"Kamu tidak mengenaliku, Pip? Aku narapidana yang kamu bantu di kuburan bertahun-tahun lalu. Namaku Abel Magwitch. Dan aku—aku adalah benefactor-mu." 

Dunia Pip runtuh. 

Bukan Miss Havisham. Bukan persiapan untuk Estella. Tapi narapidana—kriminal yang dideportasi ke Australia, yang menghasilkan uang di sana dan mengirimkannya kepada Pip sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan kecil itu. 

Pip merasa jijik. Muak. Semua uang yang dia habiskan, semua status yang dia banggakan, semua kehidupan gentleman-nya—semuanya berasal dari seorang kriminal. 

Lebih buruk lagi: Magwitch kembali ke Inggris secara ilegal. Jika tertangkap, dia akan dihukum mati. Dan Pip terlibat sekarang. 

Runtuhnya Ilusi 

Pip mengunjungi Miss Havisham untuk konfirmasi. Dia bertanya: "Apakah kamu yang memberiku harapan untuk Estella?" 

Miss Havisham tertawa pahit. 

"Aku tidak pernah memberikanmu harapan. Aku hanya membiarkanmu percaya apa yang ingin kamu percaya. Estella tidak pernah ditakdirkan untukmu, Pip." 

Lebih buruk lagi: Estella akan menikah—dengan Drummle, seorang pria kaya, kasar, dan kejam. 

Pip kehilangan segalanya dalam satu malam: identitasnya, harapannya, cintanya.

 


Bagian 6: Penebusan—Menemukan Kembali Kemanusiaan 

Menerima Magwitch 

Di tengah kehancuran, Pip membuat keputusan yang mengubahnya: dia akan melindungi Magwitch. 

Bukan karena uang—Pip tidak akan mengambil sepeser pun lagi. Tapi karena akhirnya dia mengerti: Magwitch mencintainya. Pria tua ini menghabiskan bertahun-tahun bekerja keras di Australia, menyimpan setiap sen, hidup dalam kondisi mengerikan—semua untuk membuat anak yang baik kepadanya menjadi gentleman. 

Ini adalah cinta tanpa syarat—sama seperti cinta Joe. 

Pip, Herbert, dan teman mereka merencanakan pelarian untuk Magwitch—menyelundupkannya keluar dari Inggris sebelum tertangkap. 

Pengejaran di Sungai 

Malam pelarian tiba. Mereka mendayung perahu menyusuri Thames, Magwitch tersembunyi di bawah. 

Tapi mereka dikhianati. Polisi mengejar mereka. Perahu polisi menabrak perahu mereka. 

Dalam kekacauan, Compeyson—penjahat yang dulu berkhianat pada Magwitch (dan juga penjahat yang meninggalkan Miss Havisham)—muncul. Dia dan Magwitch berkelahi di air. 

Compeyson tenggelam. Magwitch terluka parah dan ditangkap. 

Kematian Magwitch 

Magwitch diadili dan divonis mati. Tapi dia terlalu sakit untuk dieksekusi—dia sekarat karena luka-lukanya. 

Pip mengunjunginya setiap hari di penjara. Dia memegang tangan pria tua itu. Merawatnya. Dan akhirnya, dengan air mata, berkata: 

"Kamu punya seorang anak. Seorang putri. Dan dia hidup. Dia cantik. Dan aku mencintainya." 

(Estella ternyata adalah anak Magwitch—tapi Magwitch tidak pernah tahu. Pip memberikannya kebahagiaan terakhir sebelum dia mati.) 

Magwitch tersenyum—dan meninggal dengan damai, percaya bahwa anaknya hidup bahagia.

Pip menangis untuk pria yang pernah dia benci, tapi yang sekarang dia cintai sebagai ayah.

 


Bagian 7: Kembali ke Akar 

Sakit dan Terpuruk 

Setelah kematian Magwitch, Pip jatuh sakit parah—demam, delusi, hampir mati.

Siapa yang merawatnya? Joe. 

Joe datang ke London, merawat Pip siang malam, melunasi hutang-hutangnya, dan tidak pernah mengeluh—meskipun Pip pernah memperlakukannya dengan begitu buruk. 

Ketika Pip akhirnya sadar, dia menemukan Joe sedang membaca di sampingnya—seperti dulu ketika mereka masih teman terbaik. 

"Joe," bisik Pip. "Maafkan aku. Aku adalah bajingan yang tidak tahu berterima kasih."

Joe tersenyum lembut. 

"Kamu dan aku selalu berteman, Pip. Selalu." 

Tapi ketika Pip sembuh, Joe pergi—meninggalkan catatan sederhana: "Kamu sudah sembuh. Aku harus pulang." 

Joe tahu Pip harus menemukan jalannya sendiri sekarang. 

Pulang—Terlambat untuk Permintaan Maaf 

Pip memutuskan untuk pulang ke desa dan meminta maaf kepada Joe dengan benar. Dia juga berencana melamar Biddy—gadis desa yang selalu baik kepadanya. 

Tapi ketika dia tiba, dia menemukan Joe dan Biddy baru saja menikah. 

Pip bahagia untuk mereka—meskipun hatinya patah. Dia menyadari dia telah kehilangan semua orang yang benar-benar mencintainya karena ambisinya sendiri. 

Dia pergi ke luar negeri untuk bekerja bersama Herbert—memulai dari awal, tanpa uang warisan, tanpa status gentleman palsu. Hanya kerja keras dan kejujuran.

 


Bagian 8: Pertemuan Terakhir—Sebelas Tahun Kemudian

Kembali ke Satis House 

Sebelas tahun berlalu. Pip sekarang berusia pertengahan 30-an. Dia telah bekerja keras, menjadi manajer yang sukses, dan belajar nilai sebenarnya dari pekerjaan jujur. 

Suatu malam, dia kembali ke desa dan mengunjungi reruntuhan Satis House (sudah dihancurkan). 

Di sana, di tengah reruntuhan, dia melihat sesosok wanita. 

Estella. 

Dia juga berubah. Suami kasarnya telah meninggal. Kehidupan telah mengajarkannya penderitaan—sama seperti yang dialami Pip. 

Untuk pertama kalinya, Estella mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia katakan: 

"Aku telah berubah, Pip. Penderitaan telah menjadi guru yang lebih baik daripada Miss Havisham. Aku sekarang mengerti apa artinya patah hati." 

Mereka berjalan bersama keluar dari reruntuhan, tangan dalam tangan. 

Pip menulis: "Aku tidak melihat bayangan pemisahan lagi di antara kami." 

Apakah mereka berakhir bersama? Dickens membiarkannya ambigu. Tapi yang jelas: keduanya telah menjadi manusia yang lebih baik melalui penderitaan.

 


Penutup: Harapan vs Kearifan 

Pelajaran dari Perjalanan Pip 

Inti dari "Great Expectations" bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Ini tentang belajar menginginkan hal yang benar. 

Pip menghabiskan sebagian besar hidupnya mengejar hal yang salah: 

● Status sosial yang palsu 

● Cinta dari wanita yang tidak bisa mencintai 

● Kehormatan yang dibangun di atas malu terhadap asal-usulnya 

Dan apa yang dia abaikan? 

● Cinta Joe yang tulus dan tanpa syarat 

● Nilai kerja jujur 

● Kebahagiaan sederhana dalam persahabatan sejati 

Hanya setelah kehilangan segalanya, Pip menemukan apa yang benar-benar penting.

1. Uang dan Status Tidak Membuat Anda Lebih Baik 

Pip menjadi gentleman dengan uang Magwitch. Tapi dia menjadi snob, boros, dan kehilangan dirinya sendiri. 

Joe tetap menjadi pandai besi sederhana. Tapi dia adalah manusia yang paling mulia dalam seluruh cerita—penuh cinta, pengampunan, dan integritas. 

Pelajaran: Karakter bukan tentang apa yang kamu kenakan atau berapa banyak uang yang kamu punya. Karakter adalah bagaimana kamu memperlakukan orang yang tidak bisa memberimu apa-apa. 

2. Cinta Sejati Tidak Bisa Dipaksakan 

Pip menghabiskan tahun-tahun obsesif mencintai Estella—yang telah diprogram untuk tidak bisa mencintai. 

Sementara itu, Joe dan Biddy mencintainya dengan tulus—tapi dia terlalu buta untuk melihatnya. 

Pelajaran: Kadang orang yang paling mencintai kita adalah yang kita anggap remeh. Dan orang yang kita kejar dengan putus asa sering kali tidak akan pernah mencintai kita kembali. 

3. Asal-Usul Tidak Menentukan Nilai Anda

Pip malu dengan latar belakangnya—anak pandai besi dari desa rawa. Dia pikir untuk menjadi berharga, dia harus menjadi gentleman. 

Tapi pada akhirnya, dia lebih terhormat ketika dia menerima siapa dirinya dan bekerja dengan jujur daripada ketika dia berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya. 

Pelajaran: Anda tidak perlu malu dengan dari mana Anda berasal. Yang penting adalah bagaimana Anda tumbuh dari sana. 

4. Pengampunan Membebaskan 

Pip belajar memaafkan: 

● Memaafkan Magwitch yang awalnya dia benci 

● Memaafkan Miss Havisham yang memanipulasinya 

● Memaafkan Estella yang menghancurkan hatinya 

● Dan yang terpenting: memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan-kesalahannya 

Pelajaran: Pengampunan bukan tentang melupakan. Pengampunan adalah memilih untuk tidak lagi dipenjara oleh kebencian atau penyesalan. 

5. Penderitaan Mengajarkan Lebih Baik Daripada Kemewahan

Pip belajar lebih banyak dari kehilangan segalanya daripada dari mendapatkan warisan.

Estella belajar tentang empati hanya setelah mengalami penderitaan sendiri. 

Pelajaran: Kadang hal terbaik yang bisa terjadi pada kita adalah kehilangan apa yang kita pikir kita inginkan—karena itu memaksa kita menemukan apa yang benar-benar kita butuhkan.

Pertanyaan untuk Anda 

Charles Dickens menulis "Great Expectations" sebagai cermin bagi kita semua. Jadi sekarang pertanyaannya: 

Apa "great expectations" Anda? 

● Apakah Anda mengejar status, kekayaan, atau pengakuan—dengan mengabaikan orang yang benar-benar mencintai Anda? 

● Apakah Anda malu dengan asal-usul Anda atau mencoba menjadi orang yang bukan diri Anda? 

● Apakah Anda mengejar cinta dari orang yang tidak bisa atau tidak akan mencintai Anda kembali? 

● Apakah Anda mengabaikan "Joe" dalam hidup Anda—orang sederhana yang mencintai Anda tanpa syarat? 

Pip harus kehilangan segalanya untuk belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang menjadi gentleman, tetapi tentang menjadi manusia yang baik. 

Jangan seperti Pip muda yang menghabiskan tahun-tahun mengejar ilusi.

Belajar dari Pip tua yang akhirnya menemukan kearifan.

 


Tentang Buku Asli 

"Great Expectations" pertama kali diterbitkan sebagai serial mingguan dari Desember 1860 hingga Agustus 1861 di majalah "All the Year Round" milik Dickens sendiri. 

Charles Dickens awalnya menulis akhir yang lebih tragis (Pip dan Estella bertemu tapi tidak bersama). Tapi atas saran teman novelis Edward Bulwer-Lytton, dia mengubahnya menjadi akhir yang lebih ambigu dan penuh harapan. 

Novel ini sebagian terinspirasi oleh kehidupan Dickens sendiri—dia juga pernah malu dengan latar belakang keluarganya yang miskin dan pernah bekerja sebagai buruh pabrik di masa kecil. 

"Great Expectations" dianggap sebagai salah satu karya terbesar Dickens—lebih matang dan kompleks secara psikologis dibandingkan novel-novelnya yang lebih awal. 

Novel ini panjang (hampir 600 halaman dalam edisi lengkap) dan penuh dengan karakter-karakter berkesan, plot twist yang brilian, dan prosa yang indah khas Dickens. 

Ringkasan ini hanya menangkap esensi cerita. Untuk benar-benar merasakan kedalaman karakter, humor gelap Dickens, dan detail-detail yang memperkaya cerita, Anda harus membaca buku lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan bacalah—bukan hanya untuk mengerti Pip, tetapi untuk mengerti diri Anda sendiri. 

Karena kita semua punya "great expectations." Pertanyaannya adalah: apakah harapan kita akan membuat kita menjadi lebih baik, atau apakah kita perlu hancur dulu sebelum menemukan apa yang benar-benar penting? 

Seperti yang Dickens ajarkan melalui Pip: 

Kebahagiaan sejati bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan. 

Kebahagiaan sejati adalah belajar menghargai apa yang sudah kamu miliki—dan orang-orang yang mencintaimu apa adanya.