Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Bayangkan ini: Malam musim panas tahun 1816, di sebuah vila tepi Danau Geneva, Swiss. Empat orang muda berkumpul di sekitar perapian saat badai menggelegar di luar.
Lord Byron—penyair terkenal—mengusulkan tantangan: "Mari kita masing-masing menulis cerita hantu."
Di antara mereka ada seorang gadis berusia 18 tahun bernama Mary Godwin (kemudian Mary Shelley). Malam itu, dia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi pertanyaan mengerikan:
"Bagaimana jika kita bisa menghidupkan yang mati? Bagaimana jika sains bisa menciptakan kehidupan? Dan yang lebih penting—haruskah kita?"
Dari mimpi buruk malam itu, lahirlah salah satu novel paling berpengaruh dalam sejarah: Frankenstein.
Bukan sekadar cerita horor tentang monster. Ini adalah peringatan tentang bahaya ambisi tanpa etika, tentang tanggung jawab pencipta terhadap ciptaannya, dan tentang pertanyaan yang semakin relevan di era teknologi ini:
Hanya karena kita bisa melakukan sesuatu, apakah berarti kita harus melakukannya?
Mari kita mulai dengan surat dari kutub utara yang membeku.
Bagian 1: Surat dari Ujung Dunia
Robert Walton—Penjelajah yang Ambisius
Surat-surat kepada saudara perempuannya, Margaret Saville:
"Dear Sister, aku sedang dalam ekspedisi ke Kutub Utara. Aku akan menjadi orang pertama yang mencapai tempat yang belum pernah dijamah manusia. Aku akan menemukan rahasia magnet bumi. Namaku akan dikenang selamanya!"
Robert Walton adalah kapten kapal yang terobsesi dengan kemuliaan. Dia rela mempertaruhkan nyawanya dan nyawa awaknya untuk ambisi ini.
Kedengarannya familiar? Tunggu sampai Anda bertemu Victor Frankenstein.
Pertemuan di Es
Di tengah lautan es yang membeku, awak kapal melihat sesuatu yang aneh: sosok raksasa dengan kereta luncur anjing, melintasi es dengan kecepatan luar biasa, menghilang dalam kabut.
Keesokan harinya, mereka menemukan pria lain—hampir mati kedinginan, terombang-ambing di atas potongan es yang mencair.
Namanya: Victor Frankenstein.
Dan dia sedang mengejar sosok raksasa itu.
Walton merawat Victor kembali sehat. Dan selama berhari-hari terjebak di es, Victor menceritakan kisahnya—kisah yang akan mengubah cara Walton melihat ambisinya sendiri.
Bagian 2: Masa Kecil Victor—Benih Obsesi
Keluarga Sempurna
Victor Frankenstein lahir di Jenewa, Swiss, dalam keluarga kaya dan penuh cinta. Ayahnya bijaksana. Ibunya lembut. Dia punya adik laki-laki yang dia sayangi.
Dan ada Elizabeth Lavenza—gadis yatim piatu yang diadopsi keluarganya, yang tumbuh menjadi teman, saudara, dan akhirnya tunangan Victor.
Kehidupan Victor sempurna. Terlalu sempurna.
Obsesi dengan Alkimia Kuno
Di usia 13 tahun, Victor menemukan buku-buku alkimia kuno—Cornelius Agrippa, Paracelsus, Albertus Magnus. Ilmuwan-ilmuwan yang mencari rahasia kehidupan, cara mengubah logam menjadi emas, dan elixir keabadian.
Ayahnya mengatakan buku-buku itu omong kosong. Tapi kata-kata itu justru membuat Victor lebih tertarik.
"Dalam ketidaktahuan saya," kata Victor kemudian, "ayah saya tidak tahu dia menghancurkan kebun yang sudah dia tanam sendiri."
Benih obsesi sudah ditanam.
Petir yang Mengubah Segalanya
Suatu malam, Victor menyaksikan petir menghancurkan pohon ek tua—memecahnya menjadi serpihan dalam sekejap.
Seorang filsuf alam menjelaskan kekuatan listrik dan elektrisitas. Victor terpesona: Apa jika listrik adalah sumber kehidupan itu sendiri?
Di usia 17 tahun, Victor berangkat ke Universitas Ingolstadt untuk belajar ilmu alam. Di sana, obsesinya akan berubah menjadi monster.
Bagian 3: Penciptaan—Malam yang Mengutuk
Profesor yang Menginspirasi
Di Ingolstadt, Victor bertemu Profesor Waldman yang mengubah hidupnya dengan satu kalimat:
"Ilmuwan modern dapat melakukan keajaiban. Mereka menguasai langit, meniru gempa bumi, bahkan mengejek dunia tak terlihat dengan bayangannya sendiri."
Victor terobsesi. Dia tidak lagi tertarik pada kimia biasa atau fisika. Dia ingin menjawab pertanyaan terbesar:
Apa rahasia kehidupan? Bagaimana materi mati menjadi hidup?
Dua Tahun di Ruang Gelap
Victor mengurung diri. Berbulan-bulan tidak pulang. Tidak menjawab surat dari keluarga. Dia menghabiskan malam di kuburan, rumah mayat, ruang pembedahan—mengumpulkan bagian-bagian tubuh dari mayat.
Dia merakit sosok manusia dari potongan-potongan orang mati. Lebih besar dari manusia normal—8 kaki tingginya—karena detail kecil terlalu sulit dikerjakan.
Dia bekerja sendirian. Tidak memberitahu siapa pun. Tidak meminta bimbingan etis atau moral.
Hanya karena dia BISA, dia merasa dia HARUS.
Malam Mengerikan itu
November. Malam hujan. Pukul satu dini hari.
Victor memberikan percikan terakhir kehidupan—melalui alat yang dia ciptakan (Shelley tidak pernah menjelaskan detailnya, tapi implisitnya adalah listrik).
Mata kuning pucat makhluk itu terbuka. Dia bernapas. Anggota tubuhnya bergerak.
Dia hidup.
Victor telah melakukan apa yang tidak pernah dilakukan manusia sebelumnya: menciptakan kehidupan.
Dan reaksinya?
Horror. Jijik. Penyesalan instan.
Makhluk yang di imajinasinya akan indah—ternyata mengerikan. Kulit kuning pucat едва menutupi otot dan pembuluh darah. Mata cekung. Bibir hitam.
Victor lari dari laboratoriumnya. Meninggalkan makhluk itu sendirian—bingung, baru lahir, tidak tahu apa-apa tentang dunia.
Seperti bayi yang ditinggalkan ibunya tepat setelah lahir.
Bagian 4: Konsekuensi—Ketika Ciptaan Mencari Pencipta
Victor Jatuh Sakit
Victor jatuh sakit parah selama berbulan-bulan—demam, delirium, rasa bersalah yang memakan jiwanya.
Temannya, Henry Clerval, merawatnya kembali sehat. Tapi Victor tidak pernah menceritakan tentang makhluk itu. Dia mencoba melupakannya, berharap masalah akan hilang dengan sendirinya.
Spoiler: Tidak.
Surat dari Rumah—Tragedi Pertama
Surat dari ayahnya: William, adik kecil Victor, telah dibunuh.
Victor pulang ke Jenewa dengan hati hancur. Dalam perjalanan, dia melihat kilatan sosok raksasa di pegunungan selama badai petir.
Dia tahu. Makhluknya yang membunuh William.
Tapi seorang pelayan keluarga, Justine, dituduh membunuh karena ditemukan dengan liontin William. Dia diadili dan dieksekusi.
Victor tahu dia tidak bersalah. Tapi dia tidak bisa bicara. Bagaimana menjelaskan makhluk yang dia ciptakan? Siapa yang akan percaya?
Jadi dia diam. Dan gadis tidak bersalah itu mati.
Dua kematian. Dan tangannya penuh darah.
Bagian 5: Pertemuan di Pegunungan—Makhluk Bercerita
Konfrontasi
Victor pergi ke pegunungan Alpen untuk mengasingkan diri. Di sana, makhluk itu menemukan dia.
Untuk pertama kalinya, mereka berbicara.
Dan inilah twist yang mengejutkan: Makhluk itu bisa bicara. Dia cerdas. Dia punya perasaan.
Dia meminta Victor mendengar kisahnya. Dan Victor—meskipun membenci makhluk itu—setuju.
Kisah Makhluk: Kelahiran Kesadaran
Makhluk itu menceritakan bulan-bulan pertamanya:
Awalnya, dia tidak tahu apa-apa. Seperti bayi—bingung dengan sensasi, cahaya, suara. Dia tidak tahu bahwa dia berbeda. Dia tidak tahu bahwa dia monster.
Dia belajar sendiri: api itu panas. Hujan itu dingin. Burung bernyanyi. Bulan memberi cahaya.
Dia menemukan desa. Orang-orang berteriak ketakutan, melempar batu, memukulnya. Dia tidak mengerti mengapa.
Dia bersembunyi di gubuk kecil yang menempel pada pondok keluarga petani. Melalui celah dinding, dia mengamati mereka selama berbulan-bulan.
Keluarga De Lacey: ayah tua yang buta, anak laki-laki Felix, putri Agatha, dan kemudian Safie—kekasih Felix.
Makhluk itu belajar bahasa dari mereka. Dia belajar tentang kebaikan, cinta, keluarga. Dia membantu mereka secara diam-diam—memotong kayu, membersihkan salju.
Dia membaca buku: "Paradise Lost" karya Milton, "Plutarch's Lives", "The Sorrows of Young Werther" karya Goethe.
Dia belajar tentang masyarakat. Tentang Tuhan. Tentang penciptaan Adam.
Dan dia menyadari sesuatu yang menghancurkan:
Dia sendirian. Tidak ada yang sepertinya. Bahkan Adam punya Tuhan. Tapi dia? Dia punya pencipta yang meninggalkannya.
Penolakan—Momen yang Mengubah Segalanya
Makhluk itu memutuskan memberanikan diri menemui keluarga De Lacey. Dia mendekati ayah yang buta (berpikir dia tidak akan menilai penampilan).
Percakapan berjalan baik—sampai anak-anaknya pulang.
Felix melihat "monster" berbicara dengan ayahnya. Dia memukul makhluk itu dengan tongkat, mengusirnya.
Makhluk itu hancur. Dia berteriak dalam keputusasaan:
"Aku mencoba berbuat baik, tapi semua yang aku dapat adalah kebencian. Baiklah—jika aku harus menjadi monster, aku akan menjadi monster yang sempurna!"
Dari titik ini, dia berubah. Bukan karena dia jahat sejak lahir. Tapi karena dunia membuatnya menjadi monster.
Dia membunuh William—bukan karena benci pada anak itu, tapi karena iri pada kebahagiaan yang tidak akan pernah dia rasakan.
Dia menjebak Justine—untuk menunjukkan kepada Victor bagaimana rasanya menderita karena ketidakadilan.
Permintaan Mengerikan
Setelah bercerita, makhluk itu meminta satu hal dari Victor:
"Ciptakan pasangan untukku. Wanita seperti aku. Agar aku tidak sendirian. Lakukan ini, dan aku akan pergi jauh dari manusia. Kau tidak akan pernah mendengar tentangku lagi."
Victor ragu. Tapi makhluk itu mengancam:
"Aku akan bersamamu di malam pernikahanmu."
Victor tidak mengerti maksudnya. Tapi dia takut. Jadi dia setuju.
Bagian 6: Pembuatan yang Kedua—dan Penghancuran
Pulau Terpencil
Victor pergi ke Skotlandia dengan Henry Clerval. Di pulau terpencil, dia mulai membuat makhluk perempuan.
Tapi di tengah pekerjaan, dia berpikir:
"Bagaimana jika dia lebih jahat dari yang pertama? Bagaimana jika mereka berkembang biak? Bagaimana jika aku menciptakan ras monster yang akan menghancurkan umat manusia?"
Dalam momen kebencian dan ketakutan, Victor menghancurkan makhluk perempuan itu—sebelum dia selesai.
Makhluk pertama melihat dari jendela. Dia menjerit dalam keputusasaan dan kemarahan:
"Kau telah menghancurkan harapanku. Baiklah—aku akan menghancurkan kebahagiaanmu. Aku akan bersamamu di malam pernikahanmu!"
Dan dia menghilang dalam kegelapan.
Pembunuhan Henry Clerval
Keesokan harinya, Victor menemukan bahwa Henry—sahabat terbaiknya—telah dibunuh. Dicekik dengan tangan raksasa.
Victor dituduh, kemudian dibebaskan karena ada alibi. Tapi dia tahu: Makhluk itu yang membunuh Henry.
Ini adalah balas dendam. Kau menghancurkan cintaku, aku akan menghancurkan cintamu.
Bagian 7: Malam Pernikahan—Horror Terakhir
Pernikahan dengan Elizabeth
Victor kembali ke Jenewa dan menikahi Elizabeth, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan.
Dia mengingat ancaman: "Aku akan bersamamu di malam pernikahanmu."
Victor berpikir makhluk itu akan membunuhnya. Jadi dia mempersiapkan diri—membawa pistol, waspada.
Tapi dia salah paham.
Makhluk itu tidak datang untuk membunuhnya.
Jeritan dari Kamar
Victor mendengar jeritan Elizabeth. Dia berlari ke kamar.
Dia terlambat.
Elizabeth mati—dicekik di tempat tidur pengantin mereka.
Makhluk itu berdiri di jendela, menunjuk ke mayat Elizabeth, dengan senyum mengerikan—lalu menghilang.
Victor mencoba mengejarnya. Tapi sia-sia.
Kematian Ayah
Ketika mendengar berita kematian Elizabeth, ayah Victor—sudah tua dan lemah—meninggal karena kesedihan.
William. Justine. Henry. Elizabeth. Ayahnya.
Semua orang yang dicintai Victor sudah mati. Karena dia. Karena ambisinya. Karena dia menciptakan sesuatu yang tidak dia pahami dan tidak dia tanggung jawabi.
Bagian 8: Pengejaran—Spiral Menuju Kehancuran
Satu Tujuan Tersisa
Victor tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Tidak ada cinta.
Yang tersisa hanya satu: Balas dendam.
Dia bersumpah akan memburu makhluk itu sampai ke ujung dunia dan menghancurkannya.
Makhluk itu membiarkan dirinya dikejar. Dia bahkan meninggalkan petunjuk—seolah dia ingin Victor mengikutinya.
Mengapa? Karena mereka terikat satu sama lain. Pencipta dan ciptaan. Mereka adalah cermin—keduanya sendirian, keduanya penuh kebencian, keduanya sudah kehilangan segalanya.
Ke Kutub Utara
Pengejaran membawa mereka ke utara. Semakin jauh. Semakin dingin. Melewati Rusia. Melewati Skandinavia. Sampai ke lautan es Arktik.
Di sinilah Walton menemukan Victor—hampir mati, masih mengejar.
Bagian 9: Akhir—Dua Kematian
Kata-Kata Terakhir Victor
Victor menceritakan seluruh kisahnya kepada Walton sebagai peringatan:
"Belajarlah dari aku—setidaknya melalui contohku—betapa berbahayanya pengetahuan, dan betapa lebih bahagianya orang yang menganggap kampung halamannya sebagai dunia daripada dia yang bercita-cita menjadi lebih besar dari yang ditakdirkan oleh alam."
Dia memperingatkan Walton untuk meninggalkan ambisi bodohnya mencapai Kutub Utara. Untuk pulang saat masih ada waktu.
Kemudian Victor meninggal—tubuh dan jiwanya hancur oleh obsesi dan penyesalan.
Makhluk Datang
Malam itu, Walton mendengar suara di kabin tempat jenazah Victor dibaringkan.
Dia masuk—dan melihat makhluk itu, menangis di atas tubuh penciptanya.
"Frankenstein yang malang! Orang mulia dan luar biasa! Apa gunanya sekarang aku meminta pengampunanmu?"
Makhluk itu menjelaskan kepada Walton: Dia tidak jahat sejak lahir. Dia dibuat untuk mencintai kebaikan. Tapi penolakan—dimulai dari Victor sendiri—mengubahnya menjadi monster.
"Kejahatan tidak membuat saya bahagia. Tapi saya dipaksa ke dalamnya oleh ketidakadilan yang mengerikan dari umat manusia."
Dia mengatakan dia akan pergi ke kutub paling utara, membangun api unggun, dan membakar dirinya sendiri.
"Abu saya akan tersapu ke laut oleh angin. Jiwa saya akan beristirahat dalam damai."
Dan dia menghilang dalam kegelapan dan badai salju.
Apakah dia benar-benar bunuh diri? Shelley tidak memberitahu kita. Cerita berakhir dengan ketidakpastian.
Penutup: Siapa Sebenarnya Monster Itu?
Pertanyaan yang Mengganggu
Sepanjang novel, kita menyebut ciptaan Victor sebagai "monster." Tapi Mary Shelley tidak pernah memberinya nama. Dia hanya "makhluk," "ciptaan," atau "iblis."
Mengapa?
Karena dia ingin kita bertanya: Siapa sebenarnya monster dalam cerita ini?
Apakah makhluk yang dilahirkan tanpa nama, ditinggalkan tanpa kasih sayang, ditolak oleh semua orang, lalu balas dendam?
Atau Victor—yang menciptakan kehidupan tanpa rencana, tanpa tanggung jawab, lalu melarikan diri dari konsekuensinya?
Pelajaran untuk Zaman Ini
Mary Shelley menulis "Frankenstein" di tahun 1818—lebih dari 200 tahun lalu. Tapi pertanyaannya semakin relevan hari ini:
1. Tanggung Jawab Pencipta
Kita hidup di era di mana kita bisa menciptakan hampir apa saja: AI, rekayasa genetik, kloning, senjata nuklir.
Tapi hanya karena kita bisa, apakah berarti kita harus?
Setiap pencipta punya tanggung jawab terhadap ciptaannya. Victor gagal total dalam hal ini.
2. Konsekuensi Isolasi
Makhluk itu menjadi jahat bukan karena sifat bawaannya—tapi karena penolakan dan kesepian.
Ini pengingat: Manusia adalah makhluk sosial. Isolasi, penolakan, dan kurangnya kasih sayang bisa mengubah siapa pun menjadi versi terburuk dari diri mereka.
3. Bahaya Ambisi Tanpa Etika
Victor begitu terobsesi dengan APA yang bisa dia lakukan, dia tidak pernah berhenti bertanya MENGAPA atau HARUSKAH.
Dalam sains, bisnis, teknologi—kita perlu lebih dari sekadar ambisi. Kita perlu kebijaksanaan, etika, dan kehati-hatian.
4. Kita Semua Menciptakan "Monster"
Tidak harus secara literal. Tapi kita semua menciptakan sesuatu:
● Orang tua "menciptakan" anak—dan punya tanggung jawab untuk membimbing mereka
● Pemimpin menciptakan budaya perusahaan—dan bertanggung jawab atas dampaknya
● Kita semua menciptakan hubungan—dan bertanggung jawab bagaimana kita memperlakukan orang lain
Apa yang terjadi ketika kita meninggalkan "ciptaan" kita tanpa perhatian, tanpa kasih sayang, tanpa tanggung jawab?
Frankenstein menjawab: Mereka bisa menjadi monster.
Pertanyaan untuk Anda
Mary Shelley memberikan kita cermin untuk melihat diri kita sendiri:
● Apa yang Anda ciptakan? Anak? Proyek? Perusahaan? Hubungan? Apakah Anda membesarkannya dengan tanggung jawab?
● Apakah Anda pernah mengejar sesuatu tanpa berpikir konsekuensinya? Seperti Victor yang terobsesi dengan "bisa" tetapi tidak "harus"?
● Pernahkah Anda membuat seseorang merasa seperti "monster"? Dengan menolak mereka, mengisolasi mereka, atau menilai mereka hanya dari penampilan?
● Siapa yang Anda salahkan atas masalah Anda? Victor menyalahkan makhluk. Makhluk menyalahkan Victor. Tapi keduanya punya tanggung jawab.
Novel ini tidak punya pahlawan. Tidak ada yang menang. Semua orang menderita.
Tapi ada pelajaran: Setiap tindakan punya konsekuensi. Setiap ciptaan butuh tanggung jawab. Setiap makhluk hidup butuh kasih sayang.
Tentang Buku Asli
"Frankenstein; or, The Modern Prometheus" diterbitkan secara anonim pada 1 Januari 1818. Mary Shelley baru berusia 20 tahun saat buku terbit (dia mulai menulisnya di usia 18).
Awalnya, banyak yang mengira buku ini ditulis oleh suaminya, Percy Shelley—karena "tidak mungkin wanita muda menulis sesuatu yang begitu gelap dan filosofis." Mary akhirnya mengakui kepengarangannya dalam edisi 1823.
Novel ini dianggap sebagai salah satu karya fiksi ilmiah pertama—mengeksplorasi konsekuensi moral dari kemajuan ilmiah.
Judul "The Modern Prometheus" merujuk pada mitos Yunani: Prometheus mencuri api dari para dewa untuk diberikan kepada manusia—dan dihukum selamanya. Victor seperti Prometheus modern: dia mencuri rahasia kehidupan dari alam—dan dihukum dengan penderitaan.
Buku ini telah diadaptasi ratusan kali dalam film, teater, dan budaya pop. Tapi sering disalahpahami:
● Frankenstein bukan nama monster—itu nama ilmuwan!
● Monster tidak bodoh atau tidak bisa bicara—dia cerdas dan fasih!
● Cerita aslinya jauh lebih tragis dan filosofis daripada film horor.
Untuk memahami kedalaman pertanyaan moral dan kompleksitas karakter, bacalah buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi, tapi prosa gothic Shelley dan dialog filosofis makhluk hanya bisa dirasakan dalam teks lengkap.
Sekarang pergilah. Ciptakan sesuatu—tetapi jangan seperti Victor.
Ciptakan dengan tanggung jawab. Ciptakan dengan kasih sayang. Dan jangan pernah meninggalkan apa yang Anda ciptakan.
Karena setiap pencipta bertanggung jawab atas ciptaannya.
Dan setiap penolakan bisa menciptakan monster.

