Sense and Sensibility

Jane Austen


Dua Saudara, Dua Cara Mencintai

Bayangkan Anda kehilangan hampir segalanya dalam semalam. 

Rumah besar tempat Anda tumbuh? Bukan milik Anda lagi. Kekayaan yang Anda kira akan menanggung hidup Anda selamanya? Diambil oleh saudara tiri yang serakah. Posisi Anda dalam masyarakat? Merosot dari kelas atas ke hampir miskin. 

Dan di tengah kehancuran ini, Anda jatuh cinta. 

Tapi bagaimana Anda mencintai ketika dunia Anda runtuh? Apakah Anda menyembunyikan perasaan dengan senyum tenang dan martabat—atau Anda membiarkan hati Anda terbuka, merasakan setiap kegembiraan dan setiap luka dengan intensitas penuh? 

Inilah pertanyaan yang menjadi jantung "Sense and Sensibility"—novel pertama Jane Austen yang diterbitkan, dan mungkin yang paling jujur tentang bagaimana kita menghadapi cinta dan kehilangan. 

Di satu sisi ada Elinor Dashwood—berusia 19 tahun, cantik, cerdas, dan sangat rasional. Dia adalah Sense: akal sehat yang mengendalikan emosi, yang berpikir sebelum bertindak, yang menanggung rasa sakit dalam diam. 

Di sisi lain ada Marianne Dashwood—berusia 17 tahun, cantik luar biasa, berbakat, dan sangat romantis. Dia adalah Sensibility: perasaan yang mengalir bebas, yang mencintai dengan seluruh jiwa, yang menangis tanpa malu ketika terluka. 

Dua saudara. Dua filosofi hidup. Dan dua kisah cinta yang akan menguji kepercayaan mereka tentang bagaimana seharusnya seseorang hidup. 

Siapa yang benar? Siapa yang lebih bahagia? 

Mari kita cari tahu.

 


Bagian 1: Kehilangan Segalanya 

Kematian yang Mengubah Segalanya 

Mr. Henry Dashwood, kepala keluarga, meninggal tiba-tiba. Ini adalah tragedi—tapi tragedi yang lebih besar adalah warisan yang dia tinggalkan. 

Atau lebih tepatnya, warisan yang tidak dia tinggalkan. 

Menurut hukum Inggris abad ke-19, properti harus diwariskan kepada keturunan laki-laki. Jadi seluruh kekayaan keluarga—Norland Estate, rumah besar, pendapatan—pergi ke John Dashwood, anak dari pernikahan pertama Mr. Dashwood. 

Untuk istri kedua Mr. Dashwood dan tiga putrinya (Elinor, Marianne, dan Margaret yang masih kecil), tersisa hampir tidak ada apa-apa. Hanya £500 per tahun untuk empat wanita—jumlah yang memaksa mereka hidup sederhana, sangat berbeda dari kehidupan mewah yang mereka kenal. 

Janji yang Dilupakan 

Di ranjang kematiannya, Mr. Dashwood membuat John berjanji untuk merawat ibu tiri dan saudara perempuannya. 

John berniat baik—awalnya. Dia berpikir untuk memberi mereka £3,000 (jumlah yang layak).

Tapi kemudian istrinya, Fanny, turun tangan. 

Fanny Dashwood adalah wanita yang dingin, serakah, dan egois. Dengan argumen yang sangat "rasional," dia meyakinkan John untuk mengurangi bantuan: 

"£3,000 terlalu banyak. Mungkin £500 saja?" 

"Tapi £500 masih banyak. Bagaimana kalau kita bantu mereka pindah saja?" "Sebenarnya, mengirim hadiah kecil kadang-kadang sudah cukup, bukan?" 

Akhirnya, "bantuan" John kepada ibu tiri dan saudara perempuannya berkurang menjadi... tidak ada sama sekali. 

Inilah pelajaran pertama yang brutal: kata-kata baik dan niat baik tidak membayar sewa.

 


Bagian 2: Elinor dan Edward—Cinta yang Diam-Diam

Pertemuan yang Lembut 

Sebelum keluarga Dashwood pindah dari Norland, Elinor bertemu Edward Ferrars—adik Fanny. 

Edward sangat berbeda dari kakaknya. Dia lembut, sederhana, sedikit pemalu. Tidak ambisius, tidak tertarik pada status sosial atau kemewahan. Dia hanya ingin hidup tenang di desa kecil sebagai pendeta. 

Elinor dan Edward menghabiskan banyak waktu bersama. Tidak ada deklarasi cinta yang dramatis. Tidak ada puisi atau surat api. Hanya percakapan tenang, pemahaman yang tumbuh, dan kenyamanan dalam kehadiran satu sama lain. 

Keluarga mulai mengharapkan pertunangan. 

Tapi Edward tidak melamar. Ada sesuatu yang menahannya—sesuatu yang dia tidak bisa katakan. 

Kepergian Tanpa Penjelasan 

Ketika keluarga Dashwood pindah ke Barton Cottage—rumah kecil sederhana yang ditawarkan sepupu jauh, Sir John Middleton—Edward tidak mengunjungi. Tidak ada surat. Tidak ada penjelasan. 

Elinor patah hati. 

Tapi inilah perbedaan Elinor: dia tidak menangis di depan umum. Tidak bercerita pada semua orang tentang rasa sakitnya. Dia menyimpan luka itu dalam, tersenyum, dan melanjutkan hidup. 

Marianne tidak mengerti. "Bagaimana kau bisa begitu tenang? Kalau aku yang dicintai lalu ditinggalkan, aku akan mati!" 

Elinor menjawab dengan lembut: "Kamu pikir aku tidak merasakan apa-apa? Aku merasakan semuanya. Tapi menunjukkan rasa sakit tidak akan menguranginya. Yang bisa aku lakukan adalah menanggungnya dengan martabat." 

Sense: Akal yang mengendalikan perasaan, bukan karena perasaan tidak ada, tapi karena menunjukkannya tidak selalu membantu.

 


Bagian 3: Marianne dan Willoughby—Cinta yang Berapi-api 

Pertemuan yang Dramatis 

Suatu hari hujan, Marianne berlari menuruni bukit, terpeleset, dan memutar pergelangan kakinya. 

Seorang pria tampan datang menyelamatkan—mengangkatnya di lengannya seperti pahlawan dalam novel romantis, membawanya pulang. 

Namanya John Willoughby. Dia tampan, karismatik, kaya (atau setidaknya tampak kaya), dan mencintai hal-hal yang sama dengan Marianne: puisi, musik, tarian. 

Mereka jatuh cinta seketika. 

Setiap hari, Willoughby mengunjungi. Mereka berbicara berjam-jam. Mereka membaca puisi bersama. Mereka mengkritik orang lain yang "membosankan" dan "tanpa selera." 

Semua orang mengharapkan pertunangan. Marianne jelas mencintainya dengan seluruh hatinya—dan Willoughby tampaknya membalasnya. 

Elinor khawatir. "Apakah dia sudah melamar?" tanya Elinor. 

"Tidak secara formal," kata Marianne. "Tapi kita saling memahami. Kita tidak perlu kata-kata resmi." 

Elinor tidak yakin. Tapi dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan saudaranya.

Kepergian yang Misterius 

Kemudian, tiba-tiba, Willoughby pergi ke London. 

Tanpa penjelasan yang jelas. Tanpa janji untuk kembali. Tanpa kata "pertunangan."

Marianne hancur

Berbeda dengan Elinor, Marianne tidak menyembunyikan rasa sakitnya. Dia menangis sepanjang hari. Menolak makan. Tidak bisa tidur. Seluruh rumah tahu dia menderita. 

"Kenapa dia pergi?" tangis Marianne. "Dia mencintaiku. Aku tahu dia mencintaiku!" 

Elinor mencoba menghibur. Tapi Marianne tidak mau dihibur. Dia ingin merasakan rasa sakitnya dengan penuh.

Sensibility: Perasaan yang mengalir bebas, yang tidak malu menunjukkan luka, yang percaya cinta seharusnya total dan tanpa reserve.

 


Bagian 4: London—Tempat Kebenaran Terungkap

Undangan ke London 

Sepupu jauh mereka, Mrs. Jennings—wanita tua yang cerewet tapi baik hati—mengundang Elinor dan Marianne ke London untuk musim sosial. 

Marianne sangat ingin pergi. Willoughby ada di London. Pasti dia akan menjelaskan semuanya. Pasti dia akan melamar. 

Elinor skeptis, tapi dia ikut untuk menjaga saudaranya. 

Willoughby yang Berubah 

Di London, Marianne menulis surat pada Willoughby. Tidak ada balasan.

Dia menulis lagi. Dan lagi. Masih tidak ada balasan. 

Akhirnya, mereka bertemu di sebuah pesta. 

Marianne berlari menghampirinya dengan kegembiraan. "Willoughby! Aku sudah menulis padamu berkali-kali! Kenapa kau tidak membalas?" 

Willoughby dingin. Formal. Memperlakukan Marianne seperti kenalan biasa, bukan wanita yang dia cintai. 

"Maaf, Miss Marianne. Saya sibuk. Anda baik-baik saja? Bagus. Permisi." 

Dia berbalik dan pergi—meninggalkan Marianne berdiri sendirian di tengah ruangan penuh orang, wajahnya pucat seperti orang mati. 

Surat yang Menghancurkan 

Keesokan harinya, Marianne menerima surat dari Willoughby: 

Dia mengembalikan semua surat Marianne. Dia mengatakan dia tidak pernah mencintainya. Dia akan menikah dengan wanita lain—Miss Grey, yang punya £50,000. 

Marianne runtuh total. 

Dia tidak makan. Tidak bicara. Hanya menangis dan berbaring di tempat tidur, mengulang: "Dia tidak pernah mencintaiku. Semuanya bohong." 

Elinor merawat saudaranya, hatinya pecah—untuk Marianne, dan untuk dirinya sendiri yang juga patah hati tapi harus tetap kuat.

 


Bagian 5: Rahasia Edward Terungkap 

Pertemuan dengan Lucy Steele 

Sebelum pergi ke London, Elinor bertemu Lucy Steele—wanita muda cantik tapi licik. 

Lucy dengan "percaya diri" bercerita pada Elinor: Dia dan Edward Ferrars sudah bertunangan secara rahasia selama empat tahun. 

Elinor terkejut. Hancur. Tapi dia tidak menunjukkannya. 

"Selamat," kata Elinor dengan suara tenang—meskipun hatinya hancur berkeping-keping. 

Lucy senang menceritakan detailnya: Mereka bertunangan ketika Edward masih sangat muda. Mereka merahasiakan karena keluarga Edward tidak akan menyetujui (Lucy miskin, tidak punya koneksi). 

Elinor menyadari: Inilah sebabnya Edward tidak melamar. Dia sudah terikat dengan wanita lain. 

Tapi berbeda dengan Marianne yang runtuh ketika ditinggalkan Willoughby, Elinor terus hidup. Dia tersenyum. Dia melakukan kewajibannya. Dia bahkan bersikap baik pada Lucy—meskipun setiap percakapan seperti pisau di hati. 

Tidak ada yang tahu dia menderita—kecuali dirinya sendiri. 

Skandal dan Kehilangan Warisan 

Ketika keluarga Ferrars mengetahui pertunangan rahasia Edward dengan Lucy, ibu Edward murka. 

Dia menuntut Edward memutuskan pertunangan. Edward menolak—dia berkomitmen pada janjinya, meskipun dia tidak lagi mencintai Lucy. 

Sebagai hukuman, ibunya mengambil warisan Edward dan memberikannya pada adiknya, Robert. 

Edward kehilangan segalanya. Tapi dia tetap pada janjinya. 

Elinor mendengar ini dengan hati yang campur aduk: Edward adalah pria terhormat—tapi dia akan menikahi wanita lain.

 


Bagian 6: Kebenaran Tentang Willoughby 

Pertemuan di Malam Hujan 

Marianne jatuh sakit parah—demam tinggi, hampir mati. Elinor merawatnya tanpa tidur.

Di tengah malam badai, Willoughby datang. 

Dia mengaku semuanya pada Elinor: 

"Saya mencintai Marianne. Benar-benar mencintainya. Tapi saya punya hutang besar—gaya hidup saya terlalu mewah. Saya membutuhkan uang. Jadi saya menikahi Miss Grey untuk kekayaannya." 

"Saya berharap Marianne akan melupakan saya. Tapi ketika saya dengar dia sekarat, saya tidak bisa menjauh." 

Elinor merasakan campuran kasihan dan kemarahan. Willoughby mencintai Marianne—tapi dia memilih uang. 

Ketika Marianne pulih dan mendengar cerita ini, dia menangis—tapi kali ini bukan hanya untuk kesedihan. Juga untuk kelegaan

"Saya akan sangat tidak bahagia menikah dengan pria seperti itu," kata Marianne. "Pria yang rela mengkhianati cinta demi uang. Saya selamat dari kehidupan yang sengsara."

 


Bagian 7: Plot Twist yang Bahagia 

Lucy Menikah—Tapi Bukan dengan Edward 

Berita mengejutkan tiba: Lucy Steele sudah menikah dengan Mr. Ferrars!

Elinor hancur. Jadi Edward benar-benar menikah dengan Lucy. 

Tapi kemudian... Edward datang mengunjungi. 

"Selamat untuk pernikahanmu," kata Elinor dengan suara gemetar. 

Edward bingung. "Pernikahan? Saya tidak menikah." 

Ternyata Lucy menikahi Robert Ferrars—adik Edward yang kaya! Begitu Robert mendapat warisan, Lucy meninggalkan Edward dan menikahi adiknya yang lebih kaya. 

Edward bebas

Dan hal pertama yang dia lakukan? 

Dia melamar Elinor. 

"Saya selalu mencintaimu," kata Edward. "Tapi saya terikat oleh kehormatan. Sekarang saya bebas—dan saya masih miskin, tapi jika kamu mau menerimaku..." 

Elinor, yang selama ini menyimpan perasaannya dengan sempurna, akhirnya menangis—tangisan kebahagiaan. 

Marianne dan Colonel Brandon 

Colonel Brandon—pria berusia 35 tahun, tenang, serius, yang mencintai Marianne sejak awal—akhirnya mendapat kesempatannya. 

Marianne awalnya menganggap Brandon "terlalu tua" dan "membosankan." Tapi setelah pengkhianatan Willoughby, dia mulai melihat nilai kebaikan, kesetiaan, dan stabilitas. 

Brandon tidak dramatis seperti Willoughby. Tapi dia dapat diandalkan. Dia mencintai Marianne dengan tulus—tidak untuk kecantikan atau kepribadiannya yang vivacious, tapi untuk dirinya. 

Perlahan, Marianne jatuh cinta padanya—cinta yang lebih tenang, lebih dalam, lebih dewasa. Mereka menikah.

 


Bagian 8: Dua Pernikahan, Dua Kebahagiaan

Elinor dan Edward 

Elinor menikah dengan Edward. Mereka hidup sederhana—Edward menjadi pendeta di desa kecil dengan pendapatan kecil. 

Tapi mereka bahagia. Bukan karena kekayaan atau status. Tapi karena mereka saling mengerti, saling menghormati, dan saling mencintai dengan tenang dan dalam. 

Marianne dan Colonel Brandon 

Marianne menikah dengan Colonel Brandon. Dia hidup di estate yang indah, dengan kenyamanan yang tidak pernah dia harapkan. 

Tapi yang lebih penting: Dia belajar mencintai dengan cara yang berbeda. Tidak lagi cinta yang berapi-api dan dramatis, tapi cinta yang stabil dan tumbuh dari penghargaan dan persahabatan.

 


Penutup: Pelajaran dari Dua Saudara 

Sense (Akal) vs Sensibility (Perasaan)—Siapa yang Menang?

Pada awalnya, novel ini tampak seperti pertarungan antara dua filosofi: 

Elinor (Sense): Rasional, mengendalikan emosi, berpikir sebelum bertindak

Marianne (Sensibility): Emosional, mengikuti hati, merasakan dengan intensitas penuh 

Tapi Jane Austen terlalu pintar untuk mengatakan satu lebih baik dari yang lain.

Yang dia tunjukkan adalah: Keduanya punya nilai, dan keduanya punya bahaya.

Sense tanpa Sensibility bisa membuat Anda dingin, tidak bisa menikmati hidup sepenuhnya. 

Sensibility tanpa Sense bisa membuat Anda reckless, terluka tanpa perlu, dan membuat keputusan buruk. 

Yang terbaik? Keseimbangan. 

Di akhir novel: 

Elinor belajar untuk mengekspresikan emosinya—dia menangis, dia membiarkan dirinya merasakan kebahagiaan penuh 

● Marianne belajar untuk mengendalikan emosinya—dia tidak lagi impulsif, dia menghargai kestabilan 

Keduanya tumbuh. Keduanya menjadi lebih lengkap.

 


Pelajaran yang Abadi 

1. Merasakan Rasa Sakit Tidak Membuat Rasa Sakit Hilang 

Marianne percaya bahwa mengekspresikan kesedihan sepenuhnya adalah satu-satunya cara yang jujur untuk hidup. Tapi dia hampir mati karena kesedihannya. 

Elinor menunjukkan bahwa kadang menanggung rasa sakit dengan tenang adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan. 

Pelajaran: Anda boleh merasakan emosi Anda sepenuhnya. Tapi Anda tidak harus membiarkan emosi mengendalikan hidup Anda. 

2. Cinta Sejati Tidak Selalu Dramatis 

Willoughby romantis, dramatis, exciting—tapi dia pengkhianat. 

Brandon tenang, stabil, membosankan—tapi dia setia dan mencintai dengan tulus. 

Pelajaran: Cinta yang sehat sering tidak sedramatis cinta dalam novel. Kadang yang terbaik adalah orang yang dapat diandalkan, bukan yang paling exciting. 

3. Uang Penting (Dan Berpura-pura Tidak Penting Adalah Naif) 

Seluruh plot dimulai karena uang—atau kekurangannya. Keluarga Dashwood kehilangan rumah karena warisan. Willoughby mengkhianati Marianne untuk uang. Lucy menikahi Robert untuk warisan. 

Jane Austen tidak romantis tentang kemiskinan. Dia tahu bahwa uang memberikan pilihan dan kebebasan. 

Pelajaran: Anda tidak harus mengejar kekayaan di atas segalanya. Tapi abaikan uang sepenuhnya adalah kemewahan yang hanya orang kaya bisa lakukan. 

4. Janji dan Kehormatan Penting 

Edward bisa saja meninggalkan Lucy dan menikahi Elinor (yang dia cintai). Tapi dia tidak—karena dia membuat janji. 

Pelajaran: Integritas berarti melakukan yang benar meskipun sulit. Karakter diukur bukan dari apa yang Anda lakukan ketika mudah, tapi apa yang Anda lakukan ketika sulit. 

5. Pertumbuhan Adalah Tujuan 

Kedua saudara berubah. Elinor menjadi lebih terbuka. Marianne menjadi lebih bijaksana.

Pelajaran: Kehidupan bukan tentang menjadi "benar" sejak awal. Kehidupan tentang belajar, tumbuh, dan menjadi versi yang lebih baik dari diri Anda.

 


Pertanyaan untuk Anda 

Jane Austen menulis novel ini lebih dari 200 tahun lalu, tapi pertanyaannya masih relevan hari ini: 

Apakah Anda lebih seperti Elinor atau Marianne? 

● Apakah Anda menyembunyikan perasaan terlalu banyak—sampai orang tidak tahu apa yang Anda rasakan? 

● Atau apakah Anda terlalu ekspresif—sampai emosi mengendalikan hidup Anda?

Bagaimana Anda mendefinisikan cinta yang sehat? 

● Apakah Anda mencari drama dan intensitas seperti Marianne? 

● Atau apakah Anda menghargai stabilitas dan kebaikan seperti yang akhirnya Marianne pelajari? 

Bagaimana Anda menyeimbangkan hati dan kepala? 

Karena pada akhirnya, hidup terbaik adalah hidup di mana Sense dan Sensibility bekerja bersama—di mana Anda merasakan emosi Anda sepenuhnya, tapi tidak membiarkan emosi membuat keputusan untuk Anda. 

Seperti yang Elinor dan Marianne pelajari: Kebahagiaan sejati datang dari keseimbangan.

 


Tentang Buku Asli 

"Sense and Sensibility" pertama kali diterbitkan pada 30 Oktober 1811 oleh Thomas Egerton. Ini adalah novel pertama Jane Austen yang diterbitkan (meskipun bukan yang pertama ditulis). 

Awalnya diterbitkan secara anonim sebagai "By A Lady"—karena wanita menulis novel dianggap tidak pantas pada masa itu. Austen tidak menerima pengakuan publik untuk karya-karyanya selama hidupnya. 

Novel ini adalah satire sosial yang tajam tentang kelas atas Inggris, tentang bagaimana pernikahan adalah transaksi ekonomi bagi wanita, dan tentang standar ganda moral untuk pria dan wanita. 

Tapi di balik kritik sosial, ini juga cerita yang sangat manusiawi tentang dua saudara yang saling mencintai, yang belajar dari satu sama lain, dan yang akhirnya menemukan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. 

Novel ini telah diadaptasi berkali-kali—film, serial TV, bahkan versi modern. Yang paling terkenal adalah film 1995 dengan Emma Thompson dan Kate Winslet. 

Ringkasan ini memberikan esensi cerita dan tema, tapi untuk benar-benar menikmati kecerdasan, humor, dan observasi sosial Jane Austen, Anda harus membaca buku aslinya. 

Sekarang pergilah dan temukan keseimbangan Anda sendiri antara Sense dan Sensibility. 

Karena seperti yang Austen ajarkan: Hidup terbaik bukan tentang memilih satu atau yang lain—tapi tentang menemukan harmoni di antara keduanya.