The Dawn of Everything

David Graeber & David Wengrow


Kisah yang Selama Ini Kita Percaya—Ternyata Salah 

Bayangkan Anda ditanya: "Bagaimana peradaban dimulai?" 

Kemungkinan besar, jawaban Anda akan berbunyi seperti ini: 

"Dulu, manusia hidup sebagai pemburu-pengumpul dalam kelompok kecil yang egaliter. Semua orang setara. Tidak ada raja atau bos. Hidup sederhana, damai, mungkin sedikit brutal—tapi bebas. 

Lalu sekitar 10,000 tahun lalu, kami menemukan pertanian. Kami mulai menanam gandum dan beras. Kami menetap. Kami membangun desa, lalu kota. 

Dan dengan pertanian dan kota, datanglah hierarki. Raja. Pendeta. Tentara. Budak. Ketidaksetaraan. Kebebasan hilang, tapi kami dapat peradaban—seni, tulisan, teknologi. 

Itulah harga kemajuan. Kami mengorbankan kebebasan untuk keamanan dan kemakmuran." 

Ini cerita yang diajarkan di sekolah. Ini cerita yang ditulis Yuval Noah Harari dalam "Sapiens." Ini cerita yang—secara implisit—mendukung status quo hari ini: "Ketidaksetaraan itu alami. Hierarki itu tak terelakkan. Inilah cara manusia selalu hidup sejak peradaban dimulai." 

Hanya ada satu masalah dengan cerita ini: hampir semuanya salah. 

David Graeber (antropolog) dan David Wengrow (arkeolog) menghabiskan sepuluh tahun menggali 30,000 tahun bukti arkeologi dan antropologi. Dan apa yang mereka temukan menghancurkan narasi standar tentang sejarah manusia. 

Ternyata:

● Manusia purba tidak hidup dalam kelompok kecil yang seragam—mereka membangun kota besar tanpa raja 

● Pertanian tidak menyebabkan ketidaksetaraan—banyak masyarakat petani tetap egaliter selama ribuan tahun 

● "Kebebasan primitif" bukan mitos nostalgia—nenek moyang kita memiliki kebebasan politik yang kita tidak miliki hari ini 

● Sejarah bukan garis lurus dari "sederhana" ke "kompleks"—manusia bereksperimen dengan berbagai bentuk organisasi sosial selama ribuan tahun 

"The Dawn of Everything" bukan hanya buku sejarah. Ini adalah pembebasan. 

Pembebasan dari cerita yang memberitahu kita bahwa dunia harus seperti ini—bahwa ketidaksetaraan, dominasi, dan hierarki adalah "alami" dan "tak terelakkan." 

Karena jika nenek moyang kita bisa hidup dengan cara yang berbeda—jika mereka bisa membangun kota tanpa raja, jika mereka bisa berganti sistem politik berdasarkan musim, jika mereka bisa menciptakan dan membubarkan hierarki sesuka hati— 

Maka kita juga bisa. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Narasi Palsu yang Mengatur Pikiran Kita

Rousseau vs Hobbes—Perdebatan yang Salah 

Selama berabad-abad, debat tentang "sifat alami manusia" terjebak antara dua narasi: 

Jean-Jacques Rousseau (1700-an): "Manusia pada dasarnya baik. Dalam keadaan alami, kita hidup bebas dan setara. Peradaban merusak kita. 'Manusia dilahirkan bebas, tapi di mana-mana dia dalam belenggu.'" 

Thomas Hobbes (1600-an): "Manusia pada dasarnya egois dan brutal. Dalam keadaan alami, hidup adalah 'solitary, poor, nasty, brutish, and short.' Kita butuh pemerintah yang kuat untuk menghentikan kita saling membunuh." 

Kedua narasi ini—meskipun bertentangan—setuju pada satu hal: ada satu "keadaan alami" manusia, dan peradaban mengubahnya (baik menjadi lebih baik atau lebih buruk). 

Dan kedua narasi ini salah. 

Mengapa? Karena mereka mengasumsikan manusia purba itu sederhana, seragam, dan statis. Tapi bukti arkeologi menunjukkan sebaliknya: manusia selalu kompleks, beragam, dan terus bereksperimen. 

Kritik Pribumi—yang Diabaikan Eropa 

Graeber dan Wengrow membuka buku dengan cerita yang jarang diceritakan: 

Pada 1700-an, ketika orang Eropa bertemu dengan suku pribumi Amerika Utara, mereka tidak menemukan "orang liar yang tidak beradab." Mereka menemukan masyarakat yang sangat maju dengan kritik tajam terhadap masyarakat Eropa. 

Seorang pemimpin Wendat bernama Kandiaronk—yang fasih berbahasa Prancis—berdebat dengan baron Prancis tentang keunggulan sistem sosial mereka: 

"Kalian orang Eropa," kata Kandiaronk, "terobsesi dengan uang. Kalian menyembah orang kaya dan merendahkan orang miskin. Kalian menyebut diri kalian 'beradab,' tapi kalian membiarkan orang kelaparan di jalan sementara orang kaya makan berlebihan. 

Kami tidak punya raja. Tidak ada polisi. Tidak ada penjara. Tapi tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang tanpa rumah. Keputusan dibuat bersama. Siapa yang benar-benar beradab?" 

Kritik ini—yang ditulis dan dipublikasikan di Eropa—sangat mempengaruhi Rousseau dan Pencerahan. Tapi Eropa tidak mau mengakui bahwa ide-ide "Pencerahan" mereka datang dari "orang barbar."

Jadi mereka menulis ulang sejarah: mereka menggambarkan pribumi sebagai "anak-anak alam" yang tidak bisa berpikir kompleks. Dan mereka melupakan bahwa banyak ide modern tentang kebebasan dan kesetaraan datang dari masyarakat non-Eropa.

 


Bagian 2: Tiga Kebebasan yang Kita Hilangkan 

Graeber dan Wengrow berargumen bahwa nenek moyang kita menikmati tiga kebebasan dasar yang kebanyakan dari kita tidak miliki hari ini: 

1. Kebebasan untuk Pergi 

Dalam masyarakat pemburu-pengumpul dan banyak masyarakat hortikultura, jika Anda tidak suka pemimpin atau situasi Anda, Anda bisa pergi. Tidak ada yang bisa menghentikan Anda. 

Tidak ada paspor. Tidak ada perbatasan. Tidak ada polisi yang akan menangkap Anda karena "melarikan diri." 

Hari ini? Coba tinggalkan negara Anda tanpa izin. Coba hidup di hutan tanpa "izin tinggal." Anda akan ditangkap. 

Kebebasan untuk pergi—yang tampak mendasar—telah hilang. 

2. Kebebasan untuk Tidak Mematuhi Perintah 

Dalam banyak masyarakat pribumi, tidak ada yang bisa memberi Anda perintah. 

Bahkan "kepala suku" tidak bisa memaksa siapa pun melakukan apa pun. Kepemimpinan didasarkan pada persuasi, bukan paksaan. 

Seorang antropolog yang tinggal dengan suku Nambikwara di Brasil menulis: "Kepala suku harus sangat murah hati. Dia harus memberi semua yang diminta. Dan jika orang tidak suka keputusannya, mereka bisa mengabaikannya atau meninggalkannya." 

Hari ini? Bos Anda memberi perintah. Polisi memberi perintah. Pemerintah memberi perintah. Dan jika Anda tidak mematuhi, ada konsekuensi. 

3. Kebebasan untuk Membentuk Kembali Realitas Sosial Anda

Ini yang paling radikal: Nenek moyang kita secara rutin mengubah struktur sosial mereka.

Mereka tidak terjebak dalam satu sistem politik. Mereka bereksperimen.

Contoh yang menakjubkan: musim politik.

 


Bagian 3: Musim Politik—Mengganti Sistem Seperti Ganti Baju 

Kwakwaka'wakw—Raja di Musim Dingin, Egaliter di Musim Panas

Graeber dan Wengrow mendeskripsikan suku Kwakwaka'wakw di pantai Pasifik Kanada.

Di musim dingin, mereka hidup dalam masyarakat yang sangat hierarkis: 

● Ada raja (kepala klan) yang berkuasa absolut 

● Ada bangsawan, rakyat biasa, dan budak 

● Properti pribadi ketat—bahkan pantai dan sungai dimiliki secara individual

● Ritual yang sangat formal dengan aturan kaku 

● Pelanggaran protokol bisa dihukum mati 

Tapi di musim panas, semuanya berubah: 

● Hierarki menghilang 

● Raja tidak punya kekuasaan khusus 

● Properti menjadi komunal 

● Keputusan dibuat secara demokratis 

● Orang bebas bercanda tentang bangsawan tanpa takut dihukum 

Apa yang terjadi? Mereka secara sadar memutuskan untuk mengubah sistem politik mereka berdasarkan musim. 

Di musim dingin, ketika mereka berkumpul dalam desa besar untuk ritual dan pesta, mereka mengadopsi hierarki. Di musim panas, ketika menyebar untuk mencari makanan, mereka kembali ke egalitarianisme. 

Ini bukan "evolusi tak sadar." Ini adalah pilihan politik yang deliberate.

Dan ini bukan anomali. Bukti serupa ditemukan di Amazon, di Great Plains Amerika, di Siberia. 

Pelajaran: Manusia purba tidak terjebak dalam satu sistem. Mereka tahu bahwa struktur sosial adalah pilihan, bukan takdir.

 


Bagian 4: Kota Tanpa Raja—Bukti yang Menghancurkan Narasi 

Narasi standar berkata: "Kota besar memerlukan hierarki. Tidak mungkin mengorganisir ribuan orang tanpa raja atau birokrasi terpusat." 

Tapi arkeologi membuktikan ini salah. 

Teotihuacan—Kota 100,000 Orang Tanpa Istana 

Teotihuacan di Meksiko (100-600 M) adalah salah satu kota terbesar di dunia kuno. Pada puncaknya, populasi mencapai 100,000-200,000 orang—lebih besar dari Roma pada waktu yang sama. 

Yang mengejutkan? Tidak ada istana. Tidak ada monumen untuk raja. Tidak ada makam penguasa. 

Sebagai gantinya, arkeolog menemukan: 

● Ribuan apartemen multi-keluarga dengan ukuran yang hampir sama

● Tidak ada bukti hierarki sosial yang ekstrem 

● Area publik yang luas untuk pertemuan 

● Produksi kerajinan yang desentralisasi 

Sepertinya Teotihuacan dijalankan melalui pemerintahan kolektif—mungkin dewan dari berbagai distrik kota. 

Dan kota ini bertahan selama 500+ tahun—jauh lebih lama dari banyak kerajaan.

Mohenjo-daro—Kota Harappa yang Egaliter 

Peradaban Lembah Indus (3300-1300 SM) membangun kota-kota dengan sistem drainase canggih, arsitektur bata yang seragam, dan perencanaan kota yang luar biasa. 

Tapi tidak seperti Mesir atau Mesopotamia, tidak ada bukti raja atau pendeta yang berkuasa. 

Tidak ada istana megah. Tidak ada makam penuh harta. Tidak ada ukiran yang memuliakan penguasa. 

Rumah-rumah—meskipun berbeda ukuran—relatif egaliter dibandingkan dengan peradaban lain pada masa yang sama. 

Kesimpulan: Kota besar tidak memerlukan raja atau hierarki yang kaku. Itu adalah pilihan, bukan keharusan.

 


Bagian 5: Pertanian Tidak Menyebabkan Ketidaksetaraan 

Narasi standar: "Pertanian menciptakan surplus. Surplus menciptakan kelas atas. Dan voila—ketidaksetaraan." 

Tapi ini oversimplifikasi yang berbahaya. 

Ribuan Tahun Pertanian Egaliter 

Bukti arkeologi menunjukkan banyak masyarakat petani yang tetap egaliter selama ribuan tahun. 

Contoh: 

Çatalhöyük (Turki, 7500-5700 SM): Pemukiman pertanian dengan 8,000 orang, tidak ada bukti hierarki sosial yang signifikan selama hampir 2,000 tahun 

Pueblo di Amerika Barat Daya: Masyarakat petani yang egaliter selama berabad-abad

Igbo di Nigeria: Petani tanpa raja sampai penjajahan Eropa 

Pertanian tidak otomatis menciptakan ketidaksetaraan. 

Yang menciptakan ketidaksetaraan adalah pilihan politik untuk memungkinkan akumulasi dan dominasi. 

Tiga Bentuk Dominasi 

Graeber dan Wengrow mengidentifikasi tiga bentuk dominasi yang bisa muncul secara independen: 

1. Kontrol atas Kekerasan (penguasa militer) 

2. Kontrol atas Pengetahuan (pendeta, ahli ritual) 

3. Kontrol atas Karisma (pemimpin yang menginspirasi kesetiaan) 

Dalam masyarakat egaliter, ketiga ini dibatasi secara sosial. Ada norma yang mencegah seseorang mengumpulkan terlalu banyak kekuasaan. 

Tapi di beberapa tempat, pada waktu tertentu, batasan ini hilang. Dan dominasi menjadi permanen.

 


Bagian 6: Mengapa Kita "Terjebak"—dan Apakah Itu Permanen? 

Ini pertanyaan besar: Jika nenek moyang kita bisa bereksperimen dengan sistem politik, mengapa kita tidak bisa? 

Mengapa kita merasa terjebak dalam hierarki, negara-bangsa, dan kapitalisme?

Proses "Terkunci" 

Graeber dan Wengrow mengidentifikasi beberapa mekanisme yang membuat dominasi menjadi permanen: 

1. Birokrasi yang Mengakar Ketika sistem administrasi menjadi sangat kompleks—dengan catatan tertulis, hukum, dan institusi—sangat sulit untuk membongkarnya. 

2. Monopoli atas Kekerasan Ketika satu kelompok mengontrol tentara dan polisi, mereka bisa memaksa orang lain mematuhi. 

3. Ideologi yang Dinormalisasi Ketika generasi tumbuh percaya bahwa hierarki itu "alami" atau "diperintahkan Tuhan," mereka berhenti mempertanyakannya. 

4. Ketergantungan Ekonomi Ketika Anda tidak bisa hidup tanpa gaji, tanpa tanah untuk ditanami, tanpa akses ke sumber daya—Anda tidak punya pilihan selain mematuhi sistem. 

Tapi—dan ini penting—tidak ada yang inheren permanen. 

Sejarah penuh dengan contoh orang yang membongkar hierarki, mendirikan kembali egalitarianisme, atau menciptakan bentuk organisasi yang benar-benar baru. 

Revolusi yang Terlupakan 

Buku ini mengingatkan kita pada momen-momen di mana orang secara sadar memilih kebebasan atas hierarki: 

● Penduduk asli Amerika yang menolak bentuk pemerintahan Eropa meskipun tahu itu "lebih kuat secara militer" 

● Kota-kota abad pertengahan yang mendirikan komune dan menolak aturan feodal

● Komunitas petani yang selama ribuan tahun mempertahankan sistem egaliter meskipun dikelilingi oleh kerajaan 

Pelajaran: Kita tidak terjebak karena sejarah adalah garis lurus. Kita terjebak karena kita percaya kita terjebak.

 


Bagian 7: Pelajaran untuk Hari Ini 

1. Ketidaksetaraan Bukan "Alami" 

Selama puluhan tahun, kita diberitahu: "Manusia secara alami kompetitif. Hierarki itu evolusioner. Kapitalisme itu alamiah." 

Tapi sejarah menunjukkan: Manusia hidup secara egaliter selama puluhan ribu tahun. Ketidaksetaraan adalah pilihan politik, bukan hukum alam. 

Implikasi: Jika kita tidak suka dunia seperti sekarang, kita bisa mengubahnya. Tidak ada yang "alami" tentang status quo. 

2. Kompleksitas Tidak Memerlukan Hierarki 

Kita diberitahu: "Masyarakat modern terlalu kompleks untuk demokrasi langsung. Kita butuh CEO, politisi, ahli untuk membuat keputusan." 

Tapi Teotihuacan, Mohenjo-daro, dan ratusan masyarakat lain membuktikan: Anda bisa punya kota besar, teknologi canggih, dan kehidupan kompleks tanpa raja atau hierarki yang kaku. 

Implikasi: Argumen bahwa "kita terlalu besar untuk demokrasi" adalah alasan, bukan fakta.

3. Kita Bisa Bereksperimen 

Nenek moyang kita mengubah sistem politik mereka berdasarkan musim. Mereka mencoba bentuk organisasi yang berbeda. Mereka tidak takut untuk gagal dan mencoba lagi. 

Hari ini, kita menganggap sistem politik kita sebagai permanen dan tidak bisa diubah. Tapi ini ilusi. 

Implikasi: Kita bisa menciptakan bentuk-bentuk baru demokrasi, ekonomi, dan organisasi sosial. Kita tidak terbatas pada pilihan yang sudah ada. 

4. Kebebasan Adalah Lebih dari "Memilih Pemimpin" 

Demokrasi liberal modern memberi kita satu kebebasan: memilih siapa yang akan memberi kita perintah. 

Tapi kita kehilangan: 

● Kebebasan untuk pergi 

● Kebebasan untuk tidak mematuhi 

● Kebebasan untuk membentuk kembali realitas sosial kita

Pertanyaan: Apakah ini benar-benar kebebasan? Atau hanya ilusi pilihan?

5. Imajinasi Politik Itu Penting 

Graeber dan Wengrow menulis: 

"Masalah terbesar kita bukan kurangnya sumber daya atau teknologi. Masalah terbesar kita adalah kegagalan imajinasi politik. 

Kita tidak bisa membayangkan dunia yang berbeda. Jadi kita tidak mencobanya." 

Implikasi: Langkah pertama untuk perubahan adalah membayangkan bahwa perubahan itu mungkin.

 


Penutup: Fajar yang Sebenarnya 

David Graeber meninggal pada September 2020, sebelum buku ini diterbitkan. "The Dawn of Everything" adalah karya terakhirnya—warisan intelektual untuk generasi mendatang. 

Pesannya sederhana tapi radikal: 

"Sejarah bukan takdir. Masa depan tidak terkunci. Kita punya pilihan—jika kita berani menggunakannya." 

Selama ini kita diberitahu bahwa peradaban adalah deal Faustian: kita mengorbankan kebebasan untuk keamanan, kesetaraan untuk kemajuan. 

Tapi ini bohong yang dirancang untuk membuat kita menerima status quo.

Kebenaran yang sebenarnya: 

● Nenek moyang kita lebih bebas daripada kita 

● Mereka membangun kota tanpa raja 

● Mereka hidup dalam kelimpahan tanpa kapitalisme 

● Mereka bereksperimen dengan sistem politik seperti kita bereksperimen dengan resep masakan 

Dan jika mereka bisa, kita juga bisa. 

Pertanyaan untuk Anda 

Graeber dan Wengrow menutup buku dengan pertanyaan: 

"Bagaimana kita terjebak?" 

Tidak terjebak secara geografis. Tidak terjebak secara ekonomi—banyak dari kita punya lebih banyak sumber daya daripada nenek moyang kita. 

Kita terjebak dalam imajinasi kita. 

Kita tidak bisa membayangkan: 

● Tempat kerja tanpa bos 

● Kota tanpa polisi 

● Ekonomi tanpa akumulasi tak terbatas 

● Politik tanpa politisi profesional 

Tapi ketidakmampuan kita untuk membayangkan bukan bukti bahwa itu tidak mungkin.

Itu hanya bukti bahwa kita telah kehilangan literasi politik—kemampuan untuk melihat struktur sosial sebagai ciptaan manusia yang bisa diubah, bukan hukum alam yang harus diterima. 

Langkah Pertama 

Anda tidak perlu memulai revolusi besok. Tapi Anda bisa memulai dengan: 

1. Berhenti menerima narasi "ini selalu seperti ini" Setiap kali seseorang berkata "manusia secara alami kompetitif" atau "hierarki itu evolusioner," ingat: 30,000 tahun sejarah membuktikan sebaliknya. 

2. Bereksperimen dalam skala kecil Tempat kerja Anda. Komunitas Anda. Keluarga Anda. Coba bentuk-bentuk pengambilan keputusan yang lebih demokratis. Lihat apa yang terjadi. 

3. Perluas imajinasi politik Anda Baca sejarah alternatif. Pelajari komunitas yang beroperasi secara berbeda. Bayangkan dunia yang tidak sesuai dengan template yang diberikan kepada Anda. 

4. Ingat: Perubahan dimulai dengan percaya bahwa perubahan itu mungkin 

David Graeber menulis di buku sebelumnya: 

"Kekuatan untuk mempertanyakan asumsi dasar tentang cara dunia bekerja adalah kekuatan yang paling berbahaya dari semua." 

Jadi bertanyalah. 

Pertanyakan mengapa dunia seperti sekarang. 

Pertanyakan siapa yang mendapat keuntungan dari kita percaya bahwa tidak ada alternatif. 

Pertanyakan mengapa kita menghabiskan sebagian besar waktu kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai untuk orang-orang yang tidak kita hormati. 

Dan kemudian—dengan keberanian yang sama yang dimiliki nenek moyang kita ketika mereka membangun kota pertama, menciptakan pertanian, atau menulis sistem tulisan— 

Ciptakan sesuatu yang baru. 

Karena fajar segalanya bukan 10,000 tahun yang lalu. 

Fajar segalanya adalah sekarang—jika kita memilihnya.

 


Tentang Buku Asli 

"The Dawn of Everything: A New History of Humanity" diterbitkan pada Oktober 2021, setahun setelah kematian David Graeber. 

David Graeber (1961-2020) adalah antropolog, aktivis, dan salah satu pemikir paling berpengaruh abad ke-21. Profesor di London School of Economics, dia terkenal dengan karyanya tentang hutang, birokrasi, dan pekerja yang tidak bermakna ("Bullshit Jobs"). Dia juga salah satu arsitek intelektual gerakan Occupy Wall Street. 

David Wengrow adalah profesor arkeologi di University College London dan salah satu ahli terkemuka tentang asal-usul peradaban. Penelitiannya mencakup Mesopotamia, Mesir, dan peradaban awal di seluruh dunia. 

Buku ini adalah hasil 10 tahun kolaborasi—700+ halaman dengan 63 halaman catatan kaki dan referensi akademik yang ketat. Tapi ditulis dengan gaya yang accessible dan sering humoris. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bukti arkeologi, debat antropologi, dan argumen yang lebih nuanced, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap ide-ide inti—buku lengkap menawarkan ratusan contoh spesifik, data, dan analisis mendalam. 

Sekarang pergilah dan bayangkan dunia yang berbeda. 

Karena seperti yang Graeber dan Wengrow buktikan: jika kita bisa membayangkannya, kita bisa membuatnya. 

Dan jika nenek moyang kita—tanpa teknologi modern, tanpa internet, tanpa semua keuntungan kita—bisa membangun kota egaliter, menciptakan sistem politik yang fleksibel, dan hidup dengan kebebasan yang kita bahkan tidak bisa bayangkan— 

Maka kita tidak punya alasan untuk tidak mencoba.