The World For Sale

Javier Blas & Jack Farchy


Siapa yang Benar-Benar Mengendalikan Dunia? 

Bayangkan Anda bangun pagi ini. 

Anda menyalakan kompor gas untuk membuat kopi. Gas itu mungkin datang dari Rusia, dijual oleh pedagang di Swiss. Kopi Anda dari Brasil, diperdagangkan oleh perusahaan di Singapura. Gula dari Thailand. Gandum untuk roti dari Ukraina. 

Smartphone Anda mengandung kobalt dari Kongo, tembaga dari Zambia, lithium dari Chile—semuanya diperjualbelikan oleh perusahaan yang namanya tidak pernah Anda dengar. 

Ketika Anda mengisi bensin mobil, minyak itu mungkin berasal dari Venezuela, Iran, atau Arab Saudi—dibeli oleh pedagang yang beroperasi dari kantor mewah di Geneva atau London. 

Setiap hari, triliunan dolar komoditas—minyak, logam, gandum, gula—berpindah tangan. Tapi siapa yang mengendalikan perdagangan ini? 

Bukan pemerintah. Bukan PBB. Bukan perusahaan yang Anda kenal seperti Apple atau Toyota. 

Mereka adalah pedagang komoditas—raksasa bayangan yang mengendalikan aliran sumber daya di seluruh planet. 

Anda tidak tahu nama mereka: Glencore, Trafigura, Vitol, Gunvor, Cargill. Mereka tidak beriklan. Mereka tidak punya logo di stadion. CEO mereka menghindari media. 

Tapi mereka lebih kuat dari yang Anda bayangkan. 

Mereka membiayai pemerintah yang bangkrut. Mereka menentukan siapa yang makan dan siapa yang kelaparan. Mereka berteman dengan diktator dan oligarki. Ketika ada sanksi internasional, mereka menemukan celah. Ketika ada perang, mereka mencari keuntungan.

"The World For Sale" adalah kisah tentang mereka—pedagang yang menjual dunia. 

Dan setelah Anda membaca ini, Anda tidak akan pernah melihat bensin, kopi, atau smartphone Anda dengan cara yang sama lagi.

 


Bagian 1: Marc Rich—Bapak Perdagangan Modern

Pelarian dari Holocaust yang Menjadi Raja Minyak 

Kisah perdagangan komoditas modern dimulai dengan satu orang: Marc Rich. 

Lahir di Belgia tahun 1934 sebagai Marcell David Reich, keluarganya melarikan diri dari Nazi ke Amerika. Di New York, Marc tumbuh miskin tapi ambisius—berbicara lima bahasa, cerdas seperti ular, dan berani mengambil risiko yang tidak akan diambil orang lain. 

Pada usia 20-an, dia bekerja untuk Philipp Brothers—perusahaan perdagangan logam terbesar waktu itu. Tapi Marc melihat sesuatu yang orang lain lewatkan: minyak

Pada 1970-an, minyak masih dikontrol oleh "Seven Sisters"—tujuh perusahaan minyak raksasa Barat seperti Exxon dan Shell. Mereka punya monopoli. Mereka menentukan harga. Negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Iran, dan Venezuela hanya mendapat sebagian kecil dari keuntungan. 

Tapi kemudian datang nasionalisasi. Negara-negara produsen mengambil alih ladang minyak mereka dari perusahaan Barat. Tiba-tiba, mereka punya minyak—tapi tidak tahu bagaimana menjualnya ke pasar global. 

Di sinilah Marc Rich masuk. 

Revolusi: Perdagangan Spot Market 

Sebelum Marc Rich, minyak dijual melalui kontrak jangka panjang yang kaku. Tapi Marc menciptakan sesuatu yang baru: spot market—pasar di mana minyak bisa dibeli dan dijual setiap hari berdasarkan harga pasar. 

Ini seperti menciptakan bursa saham untuk minyak. 

Marc terbang ke Iran, Irak, Libya—negara-negara yang dibenci Barat. Dia tidak peduli politik. Dia tidak peduli ideologi. Dia hanya peduli satu hal: Apakah ada margin untuk menghasilkan uang? 

Dia membeli minyak dari rezim yang di-embargo, menjualnya ke negara yang membutuhkan, dan mengambil spread—selisih harga—di tengah. 

Dan dia melakukannya dengan sangat brilian. 

Buronan Amerika—Namun Raja di Swiss 

Tapi kesuksesan Marc berakhir dengan skandal.

Pada 1980-an, pemerintah AS menuduhnya: 

● Berdagang dengan Iran selama krisis sandera 

● Penggelapan pajak ratusan juta dolar 

● Racketeering (kejahatan terorganisir) 

Marc melarikan diri ke Swiss—dan tidak pernah kembali ke Amerika selama 20 tahun. 

Tapi dari Zug, kota kecil di Swiss, dia membangun kerajaan global: Marc Rich + Co—yang kelak menjadi Glencore, perusahaan perdagangan komoditas terbesar di dunia. 

Marc mengajarkan satu pelajaran kepada generasi pedagang berikutnya: 

"Dalam bisnis komoditas, tidak ada teman atau musuh. Yang ada hanya pembeli dan penjual. Dan siapa yang punya informasi lebih baik, dia menang."

 


Bagian 2: Kekuatan Tersembunyi—Siapa Pedagang Ini? 

Perusahaan yang Tidak Pernah Anda Dengar—Tapi Mengendalikan Hidup Anda 

Setelah Marc Rich, industri perdagangan komoditas meledak. Muncul raksasa-raksasa baru: 

Glencore - Lahir dari perusahaan Marc Rich, sekarang memperdagangkan sepertiga kobalt dunia, seperempat zinc dunia. 

Trafigura - Didirikan oleh mantan karyawan Marc Rich, mengendalikan 6% perdagangan minyak dunia. 

Vitol - Pedagang minyak terbesar di dunia, menangani lebih dari 8 juta barel per hari—lebih dari produksi Arab Saudi. 

Cargill - Perusahaan keluarga Amerika yang mengendalikan gandum, jagung, kedelai global. Lebih tua dari McDonald's dan Coca-Cola. 

Gunvor - Co-didirikan oleh Gennady Timchenko (sahabat Putin), mengendalikan ekspor minyak Rusia. 

Perusahaan-perusahaan ini: 

● Tidak diperdagangkan di bursa saham (kecuali Glencore) 

● Tidak harus melaporkan profit detail 

● Beroperasi dari "tax havens" seperti Swiss, Singapura, Dubai 

● Bos mereka adalah miliarder yang menghindari media 

Model Bisnis: Informasi + Risiko = Profit 

Bagaimana mereka menghasilkan uang? 

1. Arbitrase Geografis Beli minyak murah di Texas, jual mahal di Asia. Margin mungkin hanya $2 per barel—tapi kalikan dengan jutaan barel. 

2. Arbitrase Waktu Beli gandum saat panen (murah), simpan, jual saat musim paceklik (mahal). 

3. Informasi Asimetris Pedagang punya informasi yang tidak dimiliki orang lain: 

● Kapal mana yang sedang berlayar ke mana 

● Pabrik mana yang kekurangan bahan baku 

● Negara mana yang akan mengalami kelangkaan

Dalam satu contoh: Ketika Libya sedang chaos tahun 2011, pedagang tahu bahwa kilang minyak Italia kehilangan pasokan. Mereka segera membeli minyak dari Arab Saudi dan menjualnya ke Italia dengan margin besar—sebelum pasar umum tahu ada masalah. 

4. Risk-Taking Bank dan perusahaan normal takut pada risiko. Pedagang? Mereka hidup dari risiko. 

Mereka membeli minyak dari Venezuela yang sedang kolaps. Mereka berdagang dengan Zimbabwe di bawah Mugabe. Mereka membiayai tambang di Kongo yang penuh konflik. 

Risiko tinggi = return tinggi.

 


Bagian 3: Bermain dengan Diktator—Etika yang Kabur

Kongo: Darah untuk Kobalt 

Kobalt—logam penting untuk baterai smartphone dan mobil listrik—70% datang dari Republik Demokratik Kongo. 

Dan siapa yang mengendalikan perdagangan kobalt Kongo? Glencore

Tapi tambang kobalt Kongo adalah neraka di bumi: 

● Buruh anak bekerja di lubang tanpa pengaman 

● Tentara lokal melakukan pemerasan 

● Polusi meracuni sungai 

● Kematian dari runtuhnya tambang terjadi rutin 

Apakah Glencore tahu? Tentu. Tapi bisnis adalah bisnis. 

Kritikus berkata: "Anda mendapat kobalt dengan harga murah karena Anda tutup mata pada penderitaan." 

Glencore berkata: "Kami tidak menjalankan tambang itu. Kami hanya membeli logamnya. Dan jika kami tidak membeli, orang lain akan." 

Pertanyaan moral: Di mana tanggung jawab berakhir? 

Kazakhstan: Minyak, Korupsi, dan Kekuasaan 

Ketika Uni Soviet runtuh tahun 1991, Kazakhstan tiba-tiba merdeka—dengan cadangan minyak dan gas yang sangat besar. 

Tapi negara ini tidak punya infrastruktur untuk mengekspor minyaknya. Mereka butuh pedagang. 

Pedagang datang—dan mereka datang dengan tas penuh uang. 

Mereka membiayai pembangunan pipeline. Mereka membeli minyak dengan harga yang menguntungkan rezim. Dan mereka mendapat akses eksklusif ke sumber daya Kazakhstan. 

Apakah ada korupsi? Tentu. Apakah ada suap? Kemungkinan besar. Tapi di dunia perdagangan komoditas, ini disebut "cost of doing business." 

Seperti yang seorang trader bilang: "Kami tidak hidup di dunia yang sempurna. Kami hidup di dunia yang ada. Dan di dunia itu, Anda harus bekerja sama dengan pemerintah yang ada—atau Anda tidak mendapat akses."

Venezuela: Menyelamatkan atau Mengeksploitasi? 

Venezuela punya cadangan minyak terbesar di dunia. Tapi di bawah pemerintahan Hugo Chávez dan Nicolas Maduro, ekonomi runtuh. Produksi minyak turun drastis. Negara bangkrut. 

Pemerintah Barat memberlakukan sanksi. Bank internasional memutuskan hubungan.

Tapi pedagang komoditas? Mereka masuk. 

Glencore, Trafigura, dan lainnya meminjamkan miliaran dolar kepada pemerintah Venezuela—dengan minyak sebagai jaminan. 

Apakah mereka menyelamatkan Venezuela dari kehancuran total? Mungkin.

Atau apakah mereka mengeksploitasi negara yang putus asa? Juga mungkin.

Kebenaran ada di tengah—dan sangat tidak nyaman.

 


Bagian 4: Krisis Adalah Peluang—Chaos Adalah Bisnis

Perang, Embargo, dan Margin 

Dalam bisnis normal, krisis adalah mimpi buruk. Tapi bagi pedagang komoditas, krisis adalah peluang emas. 

Perang Iran-Irak (1980-1988) Kedua negara saling membom kilang minyak. Pasokan global terganggu. Harga minyak melonjak. 

Pedagang membeli minyak dari Iran (yang di-embargo AS), mencuci asalnya melalui beberapa transaksi, dan menjualnya ke Eropa dan Asia dengan margin besar. 

Marc Rich sendiri dilaporkan menghasilkan ratusan juta dari perang ini. 

Arab Spring (2011) Libya—produsen minyak penting untuk Eropa—jatuh ke dalam perang saudara. Produksi minyak turun dari 1,6 juta barel/hari menjadi hampir nol dalam beberapa minggu. 

Kilang Italia, Spanyol, dan Yunani tiba-tiba kekurangan pasokan. 

Pedagang segera beraksi: membeli minyak dari Arab Saudi dan Nigeria, kirim ke Eropa, jual dengan harga premium. 

Dalam chaos, ada profit. 

Sanksi Rusia (2014 & 2022) Ketika Rusia menganeksasi Krimea, Barat memberlakukan sanksi. Banyak perusahaan Barat keluar dari Rusia. 

Tapi pedagang komoditas? Mereka tetap. 

Mengapa? Karena seseorang harus membeli minyak dan gas Rusia—dan menjualnya ke negara-negara yang tidak terlalu peduli pada sanksi (China, India, Turki). 

Glencore, Trafigura, dan Vitol terus berdagang—meskipun mendapat kritik keras dari politisi Barat. 

Prinsip: "We Trade, We Don't Take Sides" 

Pedagang komoditas punya prinsip sederhana: Kami berdagang. Kami tidak ambil sisi. 

Mereka berdagang dengan Amerika dan Iran. Dengan Rusia dan Ukraina. Dengan Israel dan Arab. 

Politik adalah masalah pemerintah. Bisnis adalah bisnis.

Ini pragmatis—atau amoral? Tergantung dari mana Anda melihat.

 


Bagian 5: Informasi Adalah Emas—The Edge

Spy vs Spy—Perang Informasi 

Dalam perdagangan komoditas, yang tahu lebih dulu, menang. 

Pedagang menghabiskan jutaan dolar untuk mendapatkan informasi: 

● Satelit untuk memantau kapal tanker dan kilang minyak 

● Drone untuk melihat panen gandum di Ukraina dan Brasil 

● Informan di pelabuhan untuk melaporkan kapal yang datang dan pergi

● Analis yang memonitor cuaca, politik, dan ekonomi 24/7 

Contoh konkrit: 

Kekeringan Texas (2011) Pedagang gandum menggunakan citra satelit untuk melihat bahwa Texas mengalami kekeringan terburuk dalam 50 tahun—sebelum USDA (Departemen Pertanian AS) mengeluarkan laporan resmi. 

Mereka membeli gandum sebelum harga naik—dan menghasilkan puluhan juta dolar. 

Krisis Nuklir Fukushima (2011) Ketika reaktor nuklir Jepang meledak, pedagang segera tahu: Jepang akan mematikan semua reaktor nuklir dan beralih ke gas alam untuk listrik. 

Mereka membeli gas alam cair (LNG) sebelum harga melonjak—dan menjualnya ke Jepang dengan margin besar. 

Human Intelligence—Old School Spying 

Teknologi canggih itu bagus. Tapi kadang, cara lama lebih efektif: bicara dengan orang.

Pedagang punya jaringan kontak global: 

● Pekerja pelabuhan yang tahu kapal mana yang delay 

● Insinyur kilang yang tahu mesin mana yang rusak 

● Pejabat pemerintah yang bocorkan kebijakan sebelum diumumkan 

Ini bukan ilegal—tapi berjalan di garis tipis antara networking dan insider trading.

 


Bagian 6: Masa Depan—Tantangan dan Transformasi

ESG dan Tekanan Publik 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pedagang komoditas menghadapi tekanan yang belum pernah ada sebelumnya: Environmental, Social, Governance (ESG). 

Investor, bank, dan publik bertanya: 

● Dari mana kobalt Anda datang? Apakah ada buruh anak? 

● Apakah Anda berdagang dengan rezim yang melanggar HAM? 

● Berapa carbon footprint dari bisnis Anda? 

Glencore sekarang menerbitkan laporan keberlanjutan. Trafigura berkomitmen untuk net-zero emissions. Cargill berjanji menghilangkan deforestasi dari rantai pasokan kedelainya. 

Tapi apakah ini perubahan sungguhan atau hanya greenwashing? 

Skeptis berkata: "Mereka hanya bicara. Tindakan nyata masih minim." 

Optimis berkata: "Tekanan publik akhirnya berhasil. Perubahan lambat, tapi terjadi."

Transisi Energi—Dari Minyak ke Listrik 

Dunia sedang beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Mobil listrik menggantikan mobil bensin. Panel surya dan turbin angin berkembang pesat. 

Bagi pedagang minyak, ini adalah ancaman eksistensial. 

Tapi mereka juga melihat peluang: Transisi energi membutuhkan logam—banyak sekali. 

Baterai mobil listrik butuh lithium, kobalt, nikel. Panel surya butuh perak dan tembaga. Turbin angin butuh rare earth metals. 

Jadi pedagang yang dulunya fokus pada minyak sekarang berinvestasi besar-besaran di logam untuk energi bersih. 

Glencore adalah produsen kobalt terbesar di dunia—logam kunci untuk baterai. 

Ironisnya: Perusahaan yang selama puluhan tahun menghasilkan uang dari minyak kotor sekarang akan menghasilkan uang dari "energi bersih." 

Apakah ini transformasi sungguhan atau hanya pivot bisnis? Waktu yang akan menjawab.

Digitalisasi dan Blockchain

Perdagangan komoditas selama ini penuh dengan paperwork, perantara, dan proses manual.

Sekarang teknologi mulai mengubah industri: 

Blockchain untuk melacak asal komoditas (dari tambang hingga konsumen)

AI untuk memprediksi harga dan demand 

Platform digital yang menghubungkan produsen dan pembeli langsung 

Ini bisa membuat industri lebih transparan—atau memberi pedagang besar edge yang lebih besar lagi.

 


Bagian 7: Pelajaran dari Pedagang Bayangan

1. Informasi Adalah Kekuatan Tertinggi 

Pedagang komoditas tidak menang karena mereka punya uang terbanyak. Mereka menang karena mereka tahu lebih banyak. 

Pelajaran: Dalam bisnis apa pun, investasi terbesar Anda harus pada informasi—riset pasar, pemahaman pelanggan, tren industri. 

2. Risiko dan Return Berbanding Lurus 

Pedagang bersedia masuk ke negara yang dihindari orang lain. Bersedia berdagang dengan pemerintah yang tidak stabil. Bersedia mengambil risiko yang membuat banker gemetar. 

Pelajaran: Jika Anda ingin return di atas rata-rata, Anda harus bersedia mengambil risiko di atas rata-rata—dengan perhitungan yang matang. 

3. Fleksibilitas Mengalahkan Ideologi 

Pedagang tidak terikat pada satu komoditas, satu negara, atau satu cara berbisnis. Ketika minyak turun, mereka beralih ke logam. Ketika satu pasar tutup, mereka buka pasar lain. 

Pelajaran: Dalam dunia yang berubah cepat, adaptabilitas lebih berharga daripada loyalitas pada model bisnis lama. 

4. Etika Adalah Pilihan—dan Konsekuensinya Nyata 

Pedagang menghadapi dilema moral setiap hari: Berdagang dengan diktator atau kehilangan profit? Mengabaikan pelanggaran HAM atau keluar dari pasar? 

Pelajaran: Bisnis tidak terpisah dari etika. Setiap keputusan bisnis adalah keputusan moral—dan Anda harus hidup dengan konsekuensinya. 

5. Yang Tersembunyi Bisa Sangat Berkuasa 

Anda tidak tahu nama Ivan Glasenberg, Jeremy Weir, atau Russell Hardy—tapi mereka mengendalikan aliran sumber daya yang Anda konsumsi setiap hari. 

Pelajaran: Kekuatan sejati sering beroperasi di belakang layar. Jangan hanya lihat apa yang terlihat—lihat siapa yang mengendalikan infrastruktur, supply chain, dan sistem.

 


Penutup: Dunia Dijual—Dan Kita Semua Pembelinya 

"The World For Sale" mengungkap dunia yang kebanyakan orang tidak tahu ada—dunia di mana segelintir perusahaan mengendalikan aliran komoditas yang membuat peradaban modern berjalan. 

Tanpa pedagang ini: 

● Mobil Anda tidak punya bensin 

● Smartphone Anda tidak punya baterai 

● Roti Anda tidak ada di supermarket 

● Listrik Anda padam 

Mereka adalah infrastruktur tidak terlihat dari globalisasi. 

Tapi kekuatan mereka datang dengan harga: 

● Mereka berdagang dengan rezim yang brutal 

● Mereka mengeksploitasi celah dalam sanksi internasional 

● Mereka sering tutup mata pada penderitaan di rantai pasokan 

Apakah mereka jahat? Tidak sesederhana itu. 

Apakah mereka perlu? Ya—setidaknya dengan sistem ekonomi global yang kita punya sekarang. 

Apakah mereka harus lebih bertanggung jawab? Absolut. 

Javier Blas dan Jack Farchy tidak menulis buku ini untuk mengagumi atau mengutuk pedagang. Mereka menulis untuk mengungkap—agar kita semua tahu siapa yang benar-benar mengendalikan sumber daya dunia. 

Pertanyaan untuk Anda: 

● Seberapa banyak Anda tahu tentang dari mana produk Anda berasal?

● Apakah Anda peduli jika kobalt di smartphone Anda ditambang oleh anak-anak?

● Berapa banyak kenyamanan yang bersedia Anda korbankan untuk etika? 

Ini bukan pertanyaan retoris. Ini pertanyaan yang menentukan masa depan ekonomi global.

Dunia dijual setiap hari. 

Pertanyaannya bukan apakah kita akan membeli—tapi dengan harga apa yang bersedia kita bayar.

 


Tentang Buku Asli 

"The World For Sale: Money, Power, and the Traders Who Barter the Earth's Resources" diterbitkan tahun 2021 oleh Javier Blas dan Jack Farchy, keduanya jurnalis senior di Bloomberg News yang meliput pasar komoditas selama lebih dari satu dekade. 

Buku ini adalah hasil dari ratusan wawancara dengan trader, eksekutif, diplomat, dan whistleblower—banyak yang berbicara secara anonim karena takut retribusi. 

Blas dan Farchy mendapat akses luar biasa ke dunia yang sangat tertutup ini, mengungkap cerita yang tidak pernah diceritakan sebelumnya tentang bagaimana minyak, logam, dan gandum benar-benar berpindah di seluruh dunia. 

Untuk pemahaman lengkap tentang kekuatan tersembunyi yang membentuk ekonomi global, sangat disarankan membaca buku aslinya. Penuh dengan detail investigatif, anekdot yang mencengangkan, dan analisis mendalam tentang masa depan perdagangan komoditas. 

Sekarang, setiap kali Anda mengisi bensin atau membeli smartphone, Anda tahu: ada pedagang bayangan yang menghasilkan uang dari transaksi itu. 

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Anda bertanya-tanya: Dengan harga apa?