Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan
Bayangkan Anda tinggal di sebuah negara di mana jutaan orang tahu tentang pembunuhan massal—tapi tidak ada yang boleh membicarakannya.
Bayangkan anak-anak yang diajari di sekolah bahwa ayah atau kakek mereka adalah "pengkhianat," padahal mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bayangkan sungai-sungai yang pernah merah oleh darah, tapi sekarang di peta wisata hanya disebut "pemandangan indah."
Inilah Indonesia pasca-1965. Dan untuk waktu yang sangat lama, hampir tidak ada yang bertanya: Apa sebenarnya yang terjadi?
Vincent Bevins, seorang jurnalis Amerika yang tinggal di Brasil dan Indonesia, mulai mengajukan pertanyaan itu ketika dia menyadari sesuatu yang aneh: orang-orang di seluruh dunia—dari Brasil hingga Chile, dari Indonesia hingga Guatemala—menceritakan kisah yang sangat mirip.
Kisah tentang malam-malam di mana militer datang. Tentang tetangga yang menghilang. Tentang mayat-mayat yang mengambang di sungai. Tentang bagaimana dalam beberapa bulan atau tahun, ratusan ribu bahkan jutaan orang terbunuh—dan dunia berpaling.
Dan yang paling mengganggu: Amerika Serikat tidak hanya tahu tentang pembunuhan-pembunuhan ini. Mereka mendukungnya. Memfasilitasi. Bahkan mereplikasi.
"The Jakarta Method" adalah investigasi tentang salah satu program pembunuhan massal paling berhasil dan paling tersembunyi dalam sejarah modern. Ini adalah cerita tentang bagaimana kekuatan global menggunakan kekerasan untuk membentuk dunia—dan bagaimana kita masih hidup dengan konsekuensinya hari ini.
Pertanyaannya bukan lagi "apakah ini terjadi?"
Pertanyaannya adalah: Mengapa kita tidak pernah diajarkan tentang ini?
Mari kita mulai dari Jakarta, 1965.
Bagian 1: Indonesia Sebelum Kehancuran
Sukarno dan Mimpi Dunia Ketiga
Tahun 1950-an dan awal 1960-an, Indonesia adalah negara yang penuh harapan.
Baru merdeka dari penjajahan Belanda, dipimpin oleh Sukarno—seorang orator karismatik yang bermimpi membuat Indonesia menjadi pemimpin "Dunia Ketiga"—negara-negara yang menolak untuk memilih antara blok Barat (AS) dan blok Timur (USSR).
Sukarno menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955—pertemuan bersejarah dari negara-negara bekas jajahan yang ingin menentukan jalan mereka sendiri. Dia berbicara tentang anti-imperialisme, tentang solidaritas global, tentang membangun dunia yang lebih adil.
Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Kaya akan sumber daya. Secara strategis penting. Jika Indonesia bisa berhasil sebagai negara non-blok yang independen, itu akan menjadi model bagi puluhan negara lain.
Tapi ada masalah: Amerika Serikat tidak menginginkan negara non-blok.
Dalam logika Perang Dingin, Anda bersama kami atau melawan kami. Tidak ada jalan tengah. Dan Sukarno—dengan retorika anti-imperialisme dan kedekatan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI)—dilihat sebagai ancaman.
PKI—Partai Komunis Terbesar di Luar Blok Soviet
PKI adalah partai komunis terbesar ketiga di dunia (setelah China dan USSR), dengan sekitar 3 juta anggota dan jutaan simpatisan.
Tapi ini bukan partai revolusioner yang ingin menggulingkan pemerintah dengan kekerasan. PKI bekerja dalam sistem demokrasi Indonesia. Mereka mengorganisir petani untuk mendapat hak tanah. Mereka mengorganisir buruh untuk upah yang lebih baik. Mereka mendirikan klinik kesehatan dan sekolah.
Banyak anggota PKI bahkan tidak terlalu ideologis—mereka bergabung karena PKI adalah satu-satunya organisasi yang peduli dengan rakyat miskin.
Tapi bagi Washington, PKI adalah momok. Jika Indonesia "jatuh" ke komunisme, seluruh Asia Tenggara bisa mengikuti—apa yang kemudian disebut "teori domino."
Jadi CIA mulai bekerja. Melatih militer Indonesia. Memberikan daftar nama pemimpin PKI. Membangun narasi bahwa PKI adalah bahaya eksistensial bagi Indonesia.
Dan mereka menunggu momen yang tepat.
Bagian 2: 30 September 1965—Malam yang Mengubah Segalanya
Kudeta yang Gagal (atau Mungkin Tidak Pernah Ada?)
Pada malam 30 September 1965, sekelompok tentara muda menculik dan membunuh enam jenderal senior tentara Indonesia.
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu masih diperdebatkan hingga hari ini. Versi resmi pemerintah Indonesia mengatakan ini adalah kudeta komunis yang direncanakan PKI untuk menggulingkan pemerintah.
Tapi bukti-bukti menunjukkan cerita yang lebih kompleks—mungkin ini adalah konflik internal dalam militer, atau bahkan operasi yang diprovokasi untuk memberikan alasan bagi militer untuk menghancurkan PKI.
Yang jelas adalah ini: dalam 24 jam, Jenderal Suharto—yang "secara kebetulan" tidak menjadi target—mengambil alih kendali militer.
Dan dalam hitungan hari, propaganda dimulai: PKI adalah pengkhianat. PKI ingin membunuh semua Muslim. PKI harus dihancurkan.
Propaganda dan Kebencian
Surat kabar, radio, dan poster dibanjiri dengan cerita-cerita mengerikan (kebanyakan palsu) tentang kekejaman PKI:
● PKI melatih wanita muda untuk menyiksa dan membunuh jenderal dengan cara yang sadis
● PKI merencanakan pembunuhan massal terhadap umat Islam
● PKI adalah boneka China yang ingin menghancurkan Indonesia
Tidak ada bukti untuk klaim-klaim ini. Tapi dalam iklim ketakutan dan ketidakpastian, orang-orang mempercayainya.
Dan ketakutan berubah menjadi kebencian. Kebencian menjadi kekerasan.
Bagian 3: Pembantaian—Bagaimana Membunuh Satu Juta Orang
Membuat Rakyat Membunuh Rakyat
Yang paling mengerikan dari pembantaian Indonesia 1965-66 adalah: sebagian besar pembunuhan tidak dilakukan oleh militer.
Militer menciptakan kondisi dan memberikan izin. Tapi pembunuhan sebenarnya dilakukan oleh warga sipil—tetangga membunuh tetangga.
Pemuda organisasi Islam radikal dimobilisasi. Mereka diberi daftar nama "anggota PKI" (banyak yang tidak akurat). Mereka diberi machetes, bambu runcing, dan jaminan bahwa membunuh komunis adalah perbuatan suci.
Di Bali, di Jawa Tengah, di Sumatera—pola yang sama berulang:
1. Militer mengidentifikasi "target" (siapa pun yang dicurigai PKI atau simpatisan)
2. Pemuda lokal dimobilisasi untuk "membersihkan" desa mereka
3. Pembunuhan dilakukan di malam hari—orang-orang ditarik dari rumah mereka, dibunuh, dan mayat dibuang ke sungai atau kuburan massal
4. Tidak ada pengadilan. Tidak ada bukti. Hanya tuduhan sudah cukup.
Testimony dari Survivor
Bevins mewawancarai puluhan survivor. Cerita mereka menghancurkan:
Wayan Badra (Bali): "Mereka datang tengah malam. Ayah saya seorang guru. Dia bukan anggota PKI, tapi dia mengajar di sekolah yang disponsori PKI. Itu sudah cukup. Mereka menyeretnya keluar. Ibu saya menangis. Saya berusia 12 tahun. Saya tidak pernah melihat ayah saya lagi. Keesokan hari, kami menemukan mayat-mayat di sungai. Terlalu banyak untuk dihitung."
Sumiyati (Jawa Tengah): "Suami saya ditangkap karena tetangga kami mengatakan dia komunis. Itu bohong. Tetangga kami menginginkan tanah kami. Tapi tidak ada yang peduli dengan kebenaran. Saya diperkosa oleh tentara. Anak-anak saya diambil. Saya tidak tahu apakah mereka masih hidup."
Cerita-cerita seperti ini diulang ratusan ribu kali.
Perkiraan konservatif: 500.000 orang terbunuh. Perkiraan lain mencapai 1 juta atau lebih.
Dalam enam bulan, Indonesia mengalami salah satu pembunuhan massal terbesar abad ke-20—setara dengan genosida Rwanda, tapi hampir tidak ada yang membicarakannya.
Bagian 4: Peran Amerika—Yang Tahu dan Mendukung
"Peristiwa Terbaik dalam Kebijakan Luar Negeri AS"
Ketika pembantaian berlangsung, apa yang dilakukan Amerika Serikat?
Mereka merayakan.
Dokumen-dokumen yang dideklasifikasi menunjukkan bahwa:
1. CIA memberikan daftar nama kepada militer Indonesia—ribuan nama pemimpin PKI untuk "dibersihkan"
2. AS menyediakan peralatan komunikasi untuk membantu koordinasi militer
3. Diplomat AS secara aktif mendorong militer Indonesia untuk "lebih tegas" dalam menghancurkan PKI
4. Media AS memberitakan pembantaian dengan nada positif—New York Times menulis bahwa ini adalah "cahaya harapan" di Asia
Seorang diplomat AS di Jakarta pada waktu itu menulis dalam memo: "Kami memiliki daftar. Mereka memiliki pistol. Ini adalah peluang yang tidak akan datang lagi."
Robert Martens, seorang pejabat CIA di Jakarta, kemudian mengakui: "Saya memberikan mereka banyak nama. Mungkin 5.000 nama. Saya tidak tahu berapa banyak yang dibunuh. Tapi saya tidak menyesal."
Presiden AS di masa itu, Lyndon B. Johnson, dan penasihat kebijakan luar negeri mereka melihat pembantaian Indonesia sebagai model sukses—cara untuk menghancurkan gerakan kiri tanpa harus mengirim tentara AS (seperti yang mereka lakukan di Vietnam, yang menjadi bencana PR).
James Reston dari New York Times bahkan menulis: "Jenderal Suharto dan militer Indonesia telah menyelamatkan Barat di Asia Tenggara."
Bagian 5: Ekspor Metode Jakarta—Pembantaian Global
Brasil, 1964
Sebelum Indonesia, Brasil mengalami kudeta militer tahun 1964—dengan dukungan AS—yang menggulingkan presiden terpilih demokratis João Goulart.
Goulart tidak komunis. Tapi dia melakukan reformasi tanah, menaikkan upah minimum, dan nasionalisasi beberapa industri. Bagi Washington, ini terlalu "kiri."
Kudeta Brasil menjadi blueprint awal. Tapi Indonesia adalah refinement—cara yang lebih brutal, lebih efektif, dan lebih permanen.
Chile, 1973
Ketika Salvador Allende—seorang sosialis terpilih secara demokratis—menjadi presiden Chile, AS panik.
CIA mengorganisir destabilisasi ekonomi. Mendukung pemogokan. Memberikan dana kepada oposisi. Dan ketika Jenderal Augusto Pinochet melakukan kudeta pada 11 September 1973, AS langsung mengakui pemerintahan baru.
Yang terjadi setelahnya adalah "Operation Condor"—program pembunuhan, penyiksaan, dan penghilangan paksa terhadap puluhan ribu orang kiri di Chile, Argentina, Uruguay, Paraguay, Bolivia, dan Brasil.
Bevins menemukan bukti bahwa militer Amerika Latin secara eksplisit belajar dari "metode Jakarta"—bagaimana memobilisasi massa, bagaimana menggunakan propaganda, bagaimana membuat warga sipil berpartisipasi dalam kekerasan sehingga mereka terlalu terlibat untuk menentang.
Guatemala, El Salvador, Nicaragua
Di Amerika Tengah, pola yang sama berulang sepanjang 1970-80an:
● Gerakan kiri atau reformis muncul
● AS mengklaim mereka "ancaman komunis"
● Militer lokal (dilatih oleh AS) melakukan kudeta
● Pembunuhan massal dimulai
● Dunia tidak mendengar, atau tidak peduli
Di Guatemala, 200.000 orang terbunuh—kebanyakan penduduk asli Maya. Di El Salvador, 75.000 orang. Di Nicaragua, puluhan ribu.
Metode Jakarta telah menjadi playbook global untuk anti komunisme melalui kekerasan massal.
Bagian 6: Kehidupan Setelah Pembantaian—Warisan Trauma
Indonesia: Rezim Orde Baru
Setelah pembantaian, Suharto berkuasa selama 32 tahun (1966-1998) dalam apa yang disebut "Orde Baru."
Para survivor dan keluarga korban mengalami:
● Stigma permanen: Siapa pun yang dicap "terlibat PKI" (bahkan jika tidak benar) tidak bisa mendapat pekerjaan pemerintah, anak-anak mereka didiskriminasi di sekolah
● Tidak boleh berkabung: Tidak ada pemakaman yang layak. Tidak ada pengakuan resmi. Bahkan membicarakan apa yang terjadi bisa membuat Anda ditangkap.
● Propaganda yang terus-menerus: Setiap tahun pada 30 September, film propaganda tentang "kekejaman PKI" ditayangkan di TV nasional—memperkuat narasi bahwa pembantaian itu justified
Sumiyati, survivor yang Bevins wawancarai, berkata: "Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan suami saya. Tapi hidup 50 tahun di mana anak-anak saya harus malu dengan siapa kami. Di mana saya tidak boleh menangis. Di mana saya harus berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi."
Amerika Latin: Generasi yang Hilang
Di Chile, Argentina, Brasil—dampaknya serupa:
Generasi pemikir, seniman, aktivis, guru, dokter—dihilangkan. Generasi yang bisa membawa perubahan positif—dibunuh atau diusir.
Yang tersisa adalah ketakutan. Masyarakat yang trauma. Demokrasi yang rapuh.
Penelitian menunjukkan: Negara-negara yang mengalami kekerasan massal anti-kiri ini kemudian mengalami ketimpangan ekonomi yang lebih besar, korupsi yang lebih tinggi, dan demokrasi yang lebih lemah—karena suara-suara yang bisa menantang kekuasaan telah dibungkam.
Bagian 7: Mengapa Ini Penting Hari Ini?
Dunia yang Dibentuk oleh Kekerasan
Bevins berargumen bahwa dunia yang kita tinggali hari ini—dengan ketimpangan ekstrem, kekuatan korporasi yang tidak terbatas, dan demokrasi yang lemah—sebagian adalah hasil dari metode Jakarta.
Bagaimana? Karena di tahun 1960-70an, ada gerakan global untuk alternatif terhadap kapitalisme ekstrem. Gerakan untuk reformasi tanah, nasionalisasi sumber daya, upah yang lebih baik, pendidikan gratis.
Gerakan-gerakan ini tidak sempurna. Banyak yang naif. Beberapa yang otoriter.
Tapi melalui metode Jakarta, AS dan sekutunya mengeliminasi seluruh spektrum politik kiri secara fisik.
Yang tersisa adalah pilihan antara kapitalisme neoliberal atau... kapitalisme neoliberal.
Pelajaran yang Tidak Dipelajari
Mengapa sebagian besar orang tidak tahu tentang ini?
Karena pemenang menulis sejarah. Dan dalam kasus ini, pemenang tidak ingin cerita ini diceritakan.
Di Indonesia, baru setelah Suharto jatuh tahun 1998 orang mulai (dengan hati-hati) membicarakan 1965. Tapi tidak ada komisi kebenaran. Tidak ada pengadilan. Tidak ada pengakuan resmi.
Di AS, sebagian besar orang Amerika tidak tahu bahwa pemerintah mereka terlibat dalam pembunuhan massal di Indonesia, Chile, Guatemala. Ini tidak diajarkan di sekolah. Tidak ada dalam film Hollywood.
Konsekuensinya: Kita tidak belajar dari kesalahan ini. Dan pola berulang—di Iraq, di Libya, di tempat lain di mana intervensi Barat "untuk demokrasi" justru menciptakan kekacauan dan kematian.
Bagian 8: Suara-suara yang Ingin Didengar
Testimony yang Harus Kita Dengar
Bevins mengakhiri buku dengan memberikan platform kepada para survivor—orang-orang yang selama puluhan tahun tidak boleh berbicara:
Ing Giok Tan (Indonesia): "Saya ditahan 14 tahun tanpa pengadilan. Ketika saya keluar, saya tidak mengenali dunia. Semua teman saya mati atau hilang. Tapi saya ingin Anda tahu: kami bukan monster. Kami hanya orang biasa yang ingin kehidupan yang lebih adil. Apakah itu layak dihukum mati?"
Francisca (Brasil): "Ayah saya adalah pemimpin serikat buruh. Dia ingin gaji yang lebih baik untuk pekerja. Mereka menyiksanya sampai mati. Saya ingin dunia tahu: dia bukan teroris. Dia hanya ingin anak-anaknya bisa makan tiga kali sehari."
Ini bukan hanya statistik. Bukan hanya angka.
Ini adalah manusia. Dengan impian, keluarga, kehidupan yang dicuri dari mereka.
Penutup: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mengakui Kebenaran
Langkah pertama adalah mengakui bahwa ini terjadi.
Tidak ada pemulihan tanpa kebenaran. Tidak ada rekonsiliasi tanpa pengakuan.
Indonesia belum pernah secara resmi mengakui pembantaian 1965. AS belum pernah meminta maaf atas perannya. Sebagian besar negara yang mengalami metode Jakarta masih hidup dengan impunity—para pelaku tidak pernah diadili.
Tapi generasi baru mulai bertanya. Film dokumenter dibuat. Buku seperti ini ditulis. Survivor mulai berbicara.
Belajar dari Sejarah
Pelajaran utama:
1. Propaganda bisa membuat tetangga membunuh tetangga. Ketika kita melihat retorika yang mendehumanisasi kelompok tertentu—waspada.
2. Kekerasan massal tidak "hanya terjadi." Selalu ada yang merencanakan, memfasilitasi, dan mendapat keuntungan dari kekerasan.
3. Diam adalah complicitas. Ketika dunia berpaling dari pembantaian karena "bukan urusan kita" atau karena "kepentingan strategis"—kita menjadi bagian dari masalah.
4. Demokrasi rapuh. Apa yang terjadi di Indonesia, Chile, Brasil—bisa terjadi di mana saja. Institusi demokratis harus dijaga dengan ketat.
Pertanyaan untuk Anda
Vincent Bevins menulis: "Saya menulis buku ini karena saya yakin kita tidak bisa memahami dunia kita tanpa memahami kekerasan yang menciptakannya."
Jadi sekarang pertanyaannya untuk Anda:
● Berapa banyak sejarah yang Anda pikir Anda ketahui—tapi sebenarnya tidak pernah diceritakan kepada Anda?
● Ketika Anda melihat ketimpangan di dunia hari ini, apakah Anda bertanya bagaimana ini bisa terjadi?
● Apakah Anda bersedia mendengar cerita yang tidak nyaman—cerita yang mungkin mengubah cara Anda melihat negara, sistem, dan dunia Anda?
Para survivor dari metode Jakarta telah hidup dengan trauma selama puluhan tahun. Yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan cerita mereka. Mengakui kebenaran. Dan berkomitmen bahwa ini tidak boleh terjadi lagi.
Seperti yang dikatakan Wayan Badra, survivor dari Bali:
"Saya tidak mencari balas dendam. Saya sudah terlalu tua untuk kebencian. Yang saya inginkan adalah kebenaran. Saya ingin anak cucu saya tahu apa yang benar-benar terjadi. Saya ingin dunia tahu bahwa ayah saya bukan monster. Dia hanya guru yang ingin mengajar anak-anak miskin membaca."
Itulah yang dia minta. Dan itu adalah hal yang paling tidak bisa kita berikan.
Kebenaran. Pengakuan. Ingatan.
Tentang Buku Asli
"The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World" ditulis oleh Vincent Bevins dan diterbitkan pada 2020.
Vincent Bevins adalah jurnalis yang bekerja untuk Los Angeles Times dan Washington Post, tinggal di Brasil dan Indonesia selama bertahun-tahun. Dia mewawancarai lebih dari 100 survivor pembantaian dan melakukan riset arsip ekstensif di AS, Indonesia, Brasil, dan negara-negara lain.
Buku ini didasarkan pada:
● Dokumen-dokumen pemerintah AS yang dideklasifikasi
● Testimony dari survivor dan pelaku
● Riset historis dari puluhan sejarawan
● Pengalaman personal Bevins hidup di negara-negara yang terkena dampak
"The Jakarta Method" telah memenangkan Porchlight Book Award dan masuk shortlist Financial Times Best Books.
Buku ini penting karena menghubungkan titik-titik yang jarang dihubungkan: bagaimana kekerasan di satu negara (Indonesia) menjadi model untuk kekerasan di negara lain (Amerika Latin, Asia, Afrika). Dan bagaimana kekerasan ini—yang disponsori oleh AS selama Perang Dingin—membentuk ketidaksetaraan dan autoritarianisme yang kita lihat hari ini.
Untuk pemahaman lengkap tentang sejarah yang kompleks dan testimony yang mengharukan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Bevins menulis dengan empati untuk para korban sambil memberikan analisis yang tajam tentang geopolitik.
Sekarang pergilah dan mulai bertanya: Sejarah apa lagi yang belum diceritakan kepada kita? Dan mengapa?
Karena seperti yang dibuktikan "The Jakarta Method": Apa yang tidak kita ketahui tentang masa lalu menentukan dunia yang kita tinggali hari ini.

