The Divide

Jason Hickel


Cerita yang Kita Percaya Tentang Kemiskinan

Bayangkan Anda menonton iklan charity di televisi. 

Anak-anak Afrika dengan perut buncit dan lalat di wajah mereka. Suara narator yang lembut: "Dengan hanya Rp 50.000 per bulan, Anda bisa mengubah kehidupan anak ini." 

Lalu muncul grafik yang menunjukkan kemajuan: "Kemiskinan ekstrem telah turun 50% dalam 30 tahun terakhir! Dunia menjadi lebih baik!" 

Narasi yang familiar, bukan? 

Inilah cerita yang kita semua dengar: Negara-negara miskin "tertinggal" dalam pembangunan. Mereka butuh bantuan kita—uang kita, teknologi kita, wisdom kita. Jika kita cukup dermawan dan mereka cukup bekerja keras, mereka akan "mengejar ketertinggalan" dan menjadi seperti kita. 

Cerita yang indah. Cerita yang membuat kita merasa baik. 

Tapi menurut Jason Hickel, antropolog ekonomi dari London School of Economics, cerita ini adalah kebohongan berbahaya. 

Bukan karena tidak ada kemiskinan—kemiskinan sangat nyata dan brutal. Tapi karena cerita ini menutupi kebenaran yang jauh lebih gelap: 

Negara-negara "berkembang" tidak tertinggal. Mereka dirampok. 

Kesenjangan antara Global North (Eropa, Amerika Utara) dan Global South (Afrika, Asia, Amerika Latin) bukan hasil dari "kegagalan pembangunan." Ini adalah hasil yang direncanakan dari sistem ekonomi global yang dirancang untuk mengekstrak kekayaan dari yang miskin dan memberikannya kepada yang kaya. 

"The Divide" adalah buku yang membongkar mitos-mitos ini satu per satu. Ini bukan buku yang nyaman. Ini bukan buku yang akan membuat Anda merasa baik tentang donasi charity Anda. 

Tapi ini adalah buku yang perlu Anda baca jika Anda ingin memahami mengapa dunia begitu tidak adil—dan siapa yang diuntungkan dari ketidakadilan itu.

 


Bagian 1: Mitos Kemiskinan—Cerita yang Terbalik

Mitos 1: "Negara Miskin Tertinggal dalam Pembangunan"

Kita sering mendengar: "Afrika tertinggal 200 tahun dari Eropa. Mereka perlu mengejar."

Tapi pertanyaan yang jarang ditanyakan: Mengapa mereka "tertinggal" di tempat pertama? 

Hickel menunjukkan bahwa sebelum kolonialisme, banyak wilayah di Global South sebenarnya lebih kaya dari Eropa. 

India pada abad ke-17 memproduksi 25% dari output ekonomi global—lebih dari seluruh Eropa Barat digabungkan. Tekstil India terkenal di seluruh dunia. Teknologi pertanian mereka lebih maju. 

China adalah ekonomi terbesar dunia selama ribuan tahun. Mereka punya kertas, bubuk mesiu, kompas—jauh sebelum Eropa. 

Afrika punya kerajaan kaya seperti Mali, yang rajanya Mansa Musa adalah orang terkaya dalam sejarah manusia. 

Lalu apa yang terjadi? 

Kolonialisme. 

Mitos 2: "Kolonialisme Membawa Modernisasi" 

Narasi umum: "Ya, kolonialisme itu buruk. Tapi setidaknya mereka membangun rel kereta, sekolah, rumah sakit." 

Hickel membongkar mitos ini dengan data yang brutal: 

Ketika Inggris tiba di India, pendapatan per kapita India sama dengan Inggris. Ketika mereka pergi 200 tahun kemudian, India telah kehilangan 45 TRILIUN DOLLAR (dalam nilai hari ini) melalui ekstraksi langsung. 

Rel kereta api? Dibangun untuk mengangkut sumber daya ke pelabuhan—bukan untuk rakyat India. 

Sekolah? Untuk melatih administrator lokal yang akan melayani kerajaan—bukan untuk pendidikan rakyat. 

Rumah sakit? Untuk pejabat kolonial dan tentara—bukan untuk penduduk asli.

Sementara itu:

● 30 juta orang India mati kelaparan selama pemerintahan Inggris 

● Textile industry India yang dulu mendominasi dunia dihancurkan secara sistematis

● Pajak diperas sampai rakyat tidak punya apa-apa 

Ini bukan "pembangunan." Ini adalah perampasan terorganisir. 

Mitos 3: "Kemiskinan Ekstrem Telah Turun Drastis" 

Anda mungkin pernah melihat grafik yang menunjukkan kemiskinan ekstrem turun dari 40% (1980) menjadi 10% (2015). 

"Lihat! Kapitalisme global berhasil!" 

Tapi Hickel menunjukkan masalah besar dengan angka ini: 

1. Definisi "kemiskinan ekstrem" sangat rendah 

Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan ekstrem sebagai hidup dengan kurang dari $1.90 per hari. 

Tunggu—$1.90? Itu Rp 30.000 per hari. Rp 900.000 per bulan. 

Bisakah Anda hidup dengan itu? Bayar sewa, makan, transport, kesehatan? 

Tentu saja tidak. Bahkan di negara termiskin di Afrika, penelitian menunjukkan Anda butuh minimal $7-$8 per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar. 

Jadi garis kemiskinan itu sengaja dibuat sangat rendah agar angka kemiskinan terlihat turun.

2. Penurunan kemiskinan hampir seluruhnya dari China 

Jika Anda keluarkan China dari data, kemiskinan global hampir tidak berubah dalam 30 tahun terakhir. 

Dan China mengurangi kemiskinan bukan dengan mengikuti resep neoliberal IMF/World Bank—tetapi dengan mengabaikannya. China menggunakan kontrol negara yang kuat, proteksi industri, dan subsidi—semua hal yang IMF larang negara lain lakukan. 

3. Ketimpangan semakin parah 

Bahkan jika kemiskinan "turun," kesenjangan antara kaya dan miskin melebar drastis. 

Pada 1960, negara-negara kaya 35x lebih kaya dari negara miskin. Pada 2000, mereka 80x lebih kaya. 

Jadi ya, mungkin beberapa orang keluar dari kemiskinan ekstrem ($1.90/hari) menjadi kemiskinan biasa ($3/hari).

Tapi sementara itu, orang kaya menjadi jauh lebih kaya.

 


Bagian 2: Sejarah Perampasan—Dari Kolonialisme ke Neokolonialisme 

Era Kolonialisme: Perampukan Langsung (1500-1960an) 

Kolonialisme bukan hanya tentang bendera dan peta. Ini tentang transfer kekayaan sistematis dari koloni ke metropol. 

Contoh konkret: 

Kongo (koloni Belgia): 

● Karet dan gading diekstrak dengan kerja paksa brutal 

● 10 juta orang mati—setengah dari populasi 

● Jika pekerja tidak memenuhi quota, tangan mereka dipotong 

● Kekayaan Kongo membiayai pembangunan Belgia yang megah

India (koloni Inggris): 

● Inggris memaksa petani India menanam opium—bukan makanan

● Opium dijual paksa ke China untuk membayar teh Inggris 

● Ketika petani kelaparan, Inggris tetap ekspor beras dari India 

● 30 juta mati dalam kelaparan yang bisa dicegah 

Afrika Selatan (koloni Inggris): 

● Hukum Land Act mengambil 90% tanah dari mayoritas kulit hitam

● Mereka dipaksa bekerja di tambang emas dengan upah rendah

● Emas itu membiayai London menjadi pusat keuangan dunia 

Pola yang sama di mana-mana: Ambil tanah. Paksa kerja. Ekstrak kekayaan.

Era Dekolonisasi: Kemerdekaan Palsu (1960-1980an) 

Setelah Perang Dunia II, koloni mulai merdeka. India 1947. Indonesia 1945. Afrika tahun 1960an. 

Tapi kemerdekaan politik tidak berarti kemerdekaan ekonomi. 

Ketika negara-negara ini merdeka, mereka mewarisi: 

● Ekonomi yang dirancang untuk ekstraksi, bukan pembangunan 

● Tidak ada industri lokal (sengaja dihancurkan oleh kolonial) 

● Elite lokal yang dilatih untuk melayani kepentingan asing 

● Hutang yang harus dibayar untuk "infrastruktur" yang dibangun kolonial

Dan ketika negara-negara baru ini mencoba kebijakan ekonomi mandiri—nasionalisasi sumber daya, industrialisasi lokal, land reform—apa yang terjadi? 

Kudeta yang didukung CIA/MI6. 

Contoh: 

● Iran (1953): PM Mossadegh nasionalisasi minyak → dikudeta, dikembalikan ke perusahaan Barat 

● Guatemala (1954): President Arbenz land reform → dikudeta, diganti diktator pro-AS

● Kongo (1961): PM Lumumba nasionalisasi tambang → dibunuh, diganti Mobutu yang korup 

● Chile (1973): President Allende kebijakan sosialis → dikudeta, diganti Pinochet yang brutal 

Pesan yang jelas: Anda bisa merdeka secara politik. Tapi ekonomi Anda tetap milik kami.

 


Bagian 3: Senjata Modern—Hutang dan Structural Adjustment 

Krisis Hutang: Perangkap yang Dirancang 

Tahun 1970an, bank-bank Barat punya banyak uang (dari petrodollar) dan butuh tempat untuk meminjamkannya. 

Mereka menawarkan pinjaman dengan bunga rendah ke negara-negara berkembang: "Bangun infrastruktur! Modernisasi! Kami akan membantu!" 

Negara-negara itu pinjam. Banyak. 

Lalu tahun 1980, suku bunga naik drastis (kebijakan Federal Reserve AS).

Tiba-tiba, hutang yang tadinya terjangkau menjadi mencekik. Negara-negara tidak bisa bayar.

Dan saat itulah IMF dan World Bank masuk dengan "solusi." 

Structural Adjustment Programs (SAPs): Kolonialisme dengan Nama Baru

IMF berkata: "Kami akan bantu. Tapi dengan syarat." 

Syaratnya (yang disebut "Structural Adjustment Programs"): 

1. Privatisasi Jual aset negara—air, listrik, telekomunikasi, minyak—ke perusahaan swasta (sering asing). 

Hasil: Harga naik. Akses turun. Profit pergi ke luar negeri. 

2. Liberalisasi perdagangan Hapus tarif. Buka pasar untuk produk asing. 

Hasil: Petani lokal bangkrut karena bersaing dengan produk subsidi dari Eropa/AS. Industri lokal mati. 

3. Pemotongan pengeluaran pemerintah Kurangi subsidi. Kurangi anggaran kesehatan dan pendidikan. 

Hasil: Orang miskin kehilangan akses ke layanan dasar. 

4. Devaluasi mata uang Membuat ekspor lebih murah (untuk pembeli asing) dan impor lebih mahal (untuk rakyat lokal). 

Hasil: Standar hidup turun drastis. 

Contoh Ghana:

Sebelum SAP (1970an): 

● Ekonomi tumbuh 

● Pendidikan gratis 

● Kesehatan publik yang kuat 

Setelah SAP (1990an): 

● Pertumbuhan stagnant 

● Pendidikan jadi berbayar → partisipasi sekolah turun 67% 

● Sistem kesehatan runtuh → malaria dan penyakit yang bisa dicegah meningkat

● Kekayaan diekstrak melalui privatisasi 

Hickel menyebutnya "rekolonisasi melalui hutang."

 


Bagian 4: Perdagangan Tidak Adil—Siapa yang Benar-Benar Untung? 

Mitos Free Trade 

Kita diberitahu: "Free trade menguntungkan semua orang! Perdagangan bebas menciptakan win-win!" 

Tapi kenyataannya? 

1. Subsidi Tersembunyi 

Negara-negara kaya seperti AS dan Uni Eropa memberikan subsidi TRILIUNAN DOLLAR kepada petani mereka. 

Contoh: Petani kapas AS dapat subsidi $4 miliar per tahun. Hasilnya, kapas AS dijual lebih murah dari biaya produksi. 

Petani kapas di Afrika Barat tidak bisa bersaing—bukan karena mereka tidak efisien, tapi karena bersaing dengan pemerintah AS. 

Lalu IMF bilang ke Afrika: "Jangan subsidikan petani kalian! Itu distorsi pasar!"

Standar ganda. 

2. Harga Komoditas yang Ditekan 

Negara-negara Global South kebanyakan ekspor bahan mentah: kopi, kakao, tembaga, minyak.

Tapi harga komoditas ini dikontrol oleh pembeli—korporasi besar dari Global North.

Contoh: 

● Petani kakao di Pantai Gading dapat 6% dari harga cokelat yang Anda beli

● 94% pergi ke perusahaan pengolah, distributor, dan retailer—semua di Global North 

Jadi petani bekerja keras, tapi hampir semua nilai ditangkap oleh orang lain.

3. Brain Drain 

Negara-negara miskin melatih dokter, engineer, scientist dengan biaya publik.

Lalu mereka migrasi ke negara kaya yang membayar lebih tinggi. 

Hickel menghitung: Afrika kehilangan $203 miliar per tahun dari brain drain—lebih banyak dari semua bantuan luar negeri yang mereka terima!

Aliran Kekayaan: Dari Miskin ke Kaya 

Hickel menghitung aliran kekayaan bersih antara Global North dan South:

Setiap tahun: 

● Global South ke North: $5 TRILIUN (melalui perdagangan tidak adil, profit repatriasi, tax havens, hutang) 

● Global North ke South: $3 TRILIUN (melalui investasi, pinjaman, bantuan)

Aliran bersih: $2 TRILIUN per tahun dari negara miskin ke negara kaya. 

Jadi ketika mereka bilang "kami membantu negara berkembang," mereka tidak menyebutkan bahwa mereka mengambil JAUH LEBIH BANYAK daripada yang mereka beri. 

Ini bukan charity. Ini ekstraksi.

 


Bagian 5: Bantuan Luar Negeri—Bukan Solusi, Tapi Distraksi 

Mitos "White Savior" 

Kita melihat celebrity di Afrika dengan anak-anak miskin. Kampanye "Save Africa." Charity concerts. 

Pesan: "Kami yang kaya harus membantu mereka yang miskin." 

Hickel bertanya: Jika kita benar-benar ingin membantu, mengapa tidak berhenti merampok mereka? 

Bantuan luar negeri Global North ke South: $130 miliar per tahun. 

Terdengar banyak? 

Bandingkan dengan: 

● Aliran ilegal melalui tax havens: $1 triliun per tahun 

● Profit yang direpatriasi korporasi multinasional: $500 miliar per tahun

● Bunga hutang: $200 miliar per tahun 

Jadi untuk setiap $1 yang "diberikan," lebih dari $10 diambil kembali. 

Dan bantuan itu sendiri sering datang dengan string attached: 

● Harus dibelanjakan untuk produk/jasa dari negara donor 

● Harus mengikuti kebijakan ekonomi tertentu 

● Sering untuk proyek yang menguntungkan korporasi donor 

Contoh: "Food Aid" AS 

AS memberikan bantuan makanan ke Afrika. Mulia, bukan? 

Tapi detail: 

1. Makanan harus dibeli dari petani AS (subsidi tersembunyi untuk agribisnis AS)

2. Makanan dikirim dengan kapal AS (profit untuk shipping companies AS)

3. Makanan dibagikan di Afrika → membanjiri pasar lokal → petani lokal bangkrut

4. Setelah petani lokal mati, Afrika jadi bergantung pada impor AS selamanya 

Jadi "bantuan" sebenarnya menghancurkan kemandirian pangan Afrika sambil memberikan profit ke korporasi AS.

Win-win? Hanya untuk satu pihak.

 


Bagian 6: Jalan Keluar—Alternatif yang Mungkin

1. Hapuskan Hutang 

Sebagian besar hutang Global South adalah "odious debt"—hutang yang dipaksakan pada rezim diktator yang tidak demokratis atau dengan bunga yang tidak adil. 

Hickel berpendapat: Hutang ini harus dihapuskan. 

Bukan sebagai charity, tapi sebagai reparasi untuk abad perampasan. 

2. Hentikan Aliran Keuangan Ilegal 

Tutup tax havens. Paksa korporasi multinasional membayar pajak di negara di mana mereka beroperasi. 

Ini bukan tentang "membantu" negara miskin. Ini tentang berhenti mencuri dari mereka.

3. Fair Trade, Bukan Free Trade 

Izinkan negara-negara berkembang untuk: 

● Melindungi industri infant mereka dengan tarif (seperti yang dilakukan AS dan Eropa saat mereka berkembang) 

● Memberikan subsidi kepada petani mereka (seperti yang dilakukan negara kaya sekarang) 

● Kontrol modal untuk mencegah spekulasi mata uang 

4. Reformasi Sistem Moneter Global 

Sistem moneter global dirancang untuk menguntungkan negara-negara yang menerbitkan mata uang reserve (terutama AS). 

Alternatif: Sistem yang lebih demokratis di mana semua negara punya suara yang sama—bukan sistem di mana yang kaya mengontrol IMF dan World Bank. 

5. Degrowth di Global North 

Ini yang paling radikal: Negara-negara kaya perlu mengurangi konsumsi mereka. 

Mengapa? Karena planet kita tidak bisa mendukung seluruh dunia hidup seperti Amerika atau Eropa. 

Jika setiap orang di dunia mengkonsumsi seperti rata-rata orang AS, kita butuh 5 planet Bumi.

Jadi pilihan: 

● Global North mengurangi konsumsi agar Global South bisa hidup layak

● Atau kita semua mati bersama karena krisis iklim 

Hickel memilih opsi pertama.

 


Bagian 7: Pelajaran untuk Kita Semua 

1. Kemiskinan Bukan Masalah Charity, Tapi Masalah Keadilan

Jangan bertanya: "Bagaimana kita bisa membantu orang miskin?" 

Tanyakan: "Mengapa mereka miskin di tempat pertama? Dan siapa yang diuntungkan dari kemiskinan mereka?" 

Solusi bukan lebih banyak bantuan. Solusi adalah menghentikan ekstraksi.

2. Sistem Tidak Rusak—Ini Bekerja Persis Seperti Dirancang 

Ketimpangan global bukan kecelakaan. Ini bukan hasil dari "kegagalan pasar" atau "korupsi di negara berkembang." 

Ini adalah hasil yang dimaksudkan dari sistem ekonomi yang dirancang untuk mengalirkan kekayaan dari selatan ke utara. 

Pemenang sistem ini tidak ingin mengubahnya. Mengapa mereka harus?

3. Sejarah Penting 

Kita tidak bisa memahami kemiskinan hari ini tanpa memahami kolonialisme kemarin. 

Kekayaan Eropa dan Amerika Utara dibangun di atas perampasan dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin. 

Ini bukan sejarah kuno. Ini menjelaskan present. 

4. Perubahan Dimulai dengan Kesadaran 

Langkah pertama adalah berhenti percaya pada narasi yang kita diberitahu. 

"Kemiskinan menurun!" → Tanyakan: Dengan standar siapa? "Free trade menguntungkan semua orang!" → Tanyakan: Siapa yang benar-benar untung? "Kami membantu negara berkembang!" → Tanyakan: Berapa banyak yang kalian ambil? 

Ketika kita mulai bertanya pertanyaan yang tepat, kita mulai melihat sistem seperti apa adanya.

 


Penutup: Kesenjangan yang Bisa Ditutup—Jika Kita Mau

Jason Hickel menutup buku dengan pesan yang tidak nyaman tapi penting: 

"The divide antara kaya dan miskin bukan fenomena alam. Ini diciptakan. Dan apa yang diciptakan bisa diubah." 

Tapi perubahan tidak akan datang dari donasi charity. Tidak akan datang dari kampanye "awareness." Tidak akan datang dari "bantuan pembangunan." 

Perubahan hanya akan datang jika kita menghadapi kebenaran yang tidak nyaman: 

1. Negara-negara kaya kaya karena mereka mengambil—tidak karena mereka bekerja lebih keras 

2. Negara-negara miskin miskin karena mereka dirampok—tidak karena mereka malas atau bodoh 

3. Sistem ekonomi global dirancang untuk ekstraksi, bukan untuk keadilan

4. Jika kita ingin dunia yang adil, kita harus mengubah sistem—tidak cukup hanya "membantu" di pinggiran 

Ini bukan pesan yang populer. Ini membuat orang tidak nyaman. Ini menantang identitas kita sebagai "penolong" atau "donor." 

Tapi ketidaknyamanan itu adalah awal dari perubahan sejati. 

Pertanyaan untuk Anda: 

● Berapa banyak dari kenyamanan hidup Anda yang dibangun di atas ketidakadilan global? 

● Apakah Anda siap mengubah cara Anda melihat "kemiskinan" dan "pembangunan"?

● Jika sistem ini tidak adil—dan Anda diuntungkan darinya—apa tanggung jawab Anda? 

Hickel tidak memberikan jawaban yang mudah. Tapi dia memberikan sesuatu yang lebih berharga: kebenaran yang tidak dipernis. 

Dan kebenaran adalah tempat di mana perubahan sejati dimulai. 

Seperti yang dia tulis: 

"Kita tidak bisa membangun dunia yang adil di atas fondasi perampasan. Kita harus menghadapi sejarah kita, mengakui ketidakadilan present kita, dan memiliki keberanian untuk membayangkan sistem yang berbeda." 

Kesenjangan bisa ditutup. Tapi hanya jika kita mau mengakui bagaimana itu tercipta—dan siapa yang bertanggung jawab untuk mengubahnya.

Sekarang Anda tahu. Pertanyaannya: Apa yang akan Anda lakukan dengan pengetahuan ini?

 


Tentang Buku Asli 

"The Divide: Global Inequality from Conquest to Free Markets" diterbitkan pada 2017 dan dengan cepat menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam kritik terhadap pembangunan global dan neoliberalisme. 

Jason Hickel adalah antropolog ekonomi di University of London dan fellow di Royal Society of Arts. Tulisan-tulisannya telah muncul di Guardian, Al Jazeera, dan berbagai publikasi akademik. Dia juga penulis buku "Less Is More: How Degrowth Will Save the World" (2020). 

Hickel dikenal karena pendekatan yang berbasis data namun ditulis dengan gaya yang accessible. Dia tidak hanya mengkritik sistem yang ada, tetapi juga menawarkan alternatif konkret. 

Buku ini telah diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dan menjadi bacaan wajib di banyak program studi pembangunan, ekonomi politik, dan hubungan internasional. 

Untuk pemahaman lengkap tentang data, argumen, dan nuansa yang lebih dalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Hickel menyajikan ratusan contoh historis, studi kasus, dan analisis statistik yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan ini. 

Sekarang pergilah dan lihat dunia dengan mata yang lebih tajam—mata yang bisa melihat tidak hanya kemiskinan, tetapi sistem yang menciptakan kemiskinan itu. 

Karena hanya dengan melihat sistem, kita bisa mengubahnya.