Nama di Museum, Darah di Jalanan
Bayangkan Anda berjalan di Metropolitan Museum of Art di New York. Anda melewati Sackler Wing—galeri megah yang menampung Temple of Dendur, artifak Mesir kuno yang spektakuler.
Atau mungkin Anda mengunjungi Smithsonian di Washington D.C., Louvre di Paris, atau British Museum di London. Di mana-mana, Anda melihat nama yang sama terukir di dinding: SACKLER.
Nama yang identik dengan kedermawanan. Dengan seni. Dengan kebudayaan.
Tapi apa yang tidak tertulis di dinding-dinding museum itu?
Bahwa nama Sackler juga terukir di ratusan ribu batu nisan di seluruh Amerika. Bahwa kekayaan yang membangun sayap museum itu berasal dari pil-pil yang menciptakan gelombang kecanduan paling mematikan dalam sejarah modern Amerika.
Sejak tahun 1999, lebih dari 500,000 orang Amerika telah meninggal karena overdosis opioid. Lebih banyak dari jumlah tentara Amerika yang mati dalam Perang Dunia II.
Dan di jantung krisis ini—di pusat epidemi yang menghancurkan keluarga, kota, dan seluruh generasi—adalah satu keluarga: keluarga Sackler.
Mereka tidak menjual heroin di sudut jalan. Mereka tidak menyelundupkan fentanyl dari Meksiko.
Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: mereka membuat kecanduan menjadi legal, dapat diresepkan, dan sangat menguntungkan.
Patrick Radden Keefe menghabiskan bertahun-tahun meneliti bagaimana keluarga imigran Yahudi yang melarikan diri dari kemiskinan Brooklyn menjadi salah satu dinasti terkaya di Amerika—dan bagaimana mereka membangun kerajaan mereka di atas penderitaan jutaan orang.
Ini bukan hanya kisah tentang keserakahan. Ini adalah kisah tentang bagaimana American Dream bisa berubah menjadi American Nightmare.
Mari kita mulai dari awal.
Bagian 1: Tiga Bersaudara dari Brooklyn
Keluar dari Kemiskinan
Brooklyn, 1920-an. Tiga bersaudara Sackler—Arthur, Mortimer, dan Raymond—tumbuh di keluarga imigran Yahudi yang berjuang untuk bertahan hidup.
Ayah mereka, Isaac, adalah penjual keliling yang tidak pernah benar-benar sukses. Keluarga mereka pindah dari satu apartemen murah ke apartemen murah lainnya. Mereka merasakan antisemitisme. Mereka melihat Depresi Besar menghancurkan impian di sekitar mereka.
Tapi ketiga bersaudara ini punya satu hal: ambisi yang membara.
Arthur, yang tertua, adalah yang paling brilian dan paling gila kerja. Dia kuliah di siang hari, kerja di malam hari, dan hampir tidak tidur. Dia masuk sekolah kedokteran—tidak karena cinta pada penyembuhan, tetapi karena dia melihat kedokteran sebagai jalan keluar dari kemiskinan.
Mortimer dan Raymond mengikuti jejak Arthur. Ketiganya menjadi dokter. Tapi tidak ada dari mereka yang benar-benar tertarik pada pasien.
Mereka tertarik pada uang.
Arthur—Marketing Genius yang Mengubah Segalanya
Arthur Sackler adalah jenius—tapi jeniusnya bukan dalam menyembuhkan orang. Jeniusnya dalam menjual.
Pada tahun 1950-an, iklan obat-obatan sangat berbeda dari hari ini. Perusahaan farmasi biasanya hanya menerbitkan laporan medis yang membosankan di jurnal akademik. Marketing dianggap tidak pantas—tidak etis bahkan—untuk obat-obatan.
Arthur mengubah ini semua.
Dia menyadari sesuatu yang revolusioner: dokter adalah manusia. Dan manusia bisa dipengaruhi.
Arthur menciptakan teknik marketing farmasi modern:
1. Banjiri dokter dengan iklan - bukan di koran umum, tetapi di jurnal medis yang dokter baca. Buat iklan yang penuh warna, menarik, berulang-ulang sampai mereka menghafal nama obat.
2. Ciptakan "kebutuhan" medis - kamu tidak hanya menjual obat untuk penyakit yang sudah ada. Kamu menciptakan awareness tentang penyakit yang mungkin tidak pernah dipikirkan orang, lalu menawarkan obat sebagai solusi.
3. Rekrut tentara penjual - kirim sales representatives yang menarik, terlatih, dan persuasif untuk mengunjungi dokter secara personal. Bawa sampel gratis. Bawa hadiah. Bawa data yang terlihat ilmiah (meskipun dimanipulasi).
4. Sponsor "penelitian" yang mendukung produkmu - danai studi yang akan menghasilkan kesimpulan yang kamu inginkan. Bayar dokter-dokter terkemuka untuk menulis artikel yang memuji obatmu.
Strategi ini membuat Arthur sangat kaya. Dia bekerja dengan perusahaan farmasi seperti Roche untuk menjual Valium dan Librium—obat penenang yang menjadi blockbuster pada era 1960-70an.
Tapi Arthur melakukan sesuatu yang lebih penting: dia membuktikan bahwa obat-obatan bisa dipasarkan seperti mobil atau sabun.
Etika? Itu pertanyaan untuk orang lain.
Bagian 2: Purdue Pharma—Membangun Kerajaan
Membeli Perusahaan Kecil dengan Visi Besar
Pada tahun 1952, Mortimer dan Raymond Sackler membeli sebuah perusahaan farmasi kecil yang hampir bangkrut di Connecticut bernama Purdue Frederick.
Awalnya, perusahaan ini tidak penting. Mereka menjual obat-obatan generik yang membosankan: laksatif, antiseptik telinga, vitamin.
Tapi Mortimer dan Raymond punya saudara Arthur—master marketer. Dan mereka belajar dari yang terbaik.
Meskipun Arthur tidak pernah secara resmi menjadi bagian dari Purdue (untuk menghindari konflik kepentingan dengan bisnis advertisingnya), pengaruhnya ada di mana-mana. Strategi marketing, filosofi bisnis, bahkan slogan—semuanya membawa tanda tangan Arthur.
Purdue mulai tumbuh. Mereka mengembangkan obat-obatan baru. Mereka merekrut sales force yang agresif. Dan mereka belajar satu pelajaran kunci dari Arthur:
Jangan hanya menjual obat. Jual harapan.
Generasi Kedua Mengambil Alih
Ketika Arthur meninggal pada 1987, Mortimer dan Raymond sepenuhnya mengendalikan Purdue Pharma. Dan mereka memberikan kendali kepada anak-anak mereka—generasi kedua Sackler.
Richard Sackler, putra Raymond, menjadi figur kunci. Dia ambisius, tidak sabaran, dan terobsesi dengan menciptakan obat blockbuster yang akan membuat keluarga Sackler legendaris.
Pada awal 1990-an, Purdue punya obat yang menjanjikan: MS Contin, morfin time-release untuk pasien kanker dengan rasa sakit parah.
Tapi ada masalah: pasar untuk pasien kanker terbatas. Richard ingin lebih. Dia ingin obat yang bisa diresepkan untuk semua orang yang merasakan sakit—tidak hanya pasien terminal.
Dia ingin goldmine. Dan dia akan menemukannya dalam molekul yang disebut oxycodone.
Bagian 3: OxyContin—"Miracle Drug" yang Mematikan
Menciptakan Pil Ajaib
Oxycodone bukanlah obat baru. Ini adalah opioid kuat yang sudah ada sejak puluhan tahun, digunakan dengan sangat hati-hati karena potensi kecanduannya yang tinggi.
Tapi Purdue punya ide: bagaimana jika kita membuat versi time-release? Pil yang melepaskan opioid secara perlahan selama 12 jam, sehingga pasien tidak perlu minum berulang kali?
Secara teori, ini lebih aman. Tidak ada "high" mendadak. Hanya pereda nyeri yang stabil dan panjang.
Mereka menyebutnya OxyContin.
Dan kemudian mereka membuat klaim yang akan mengubah segalanya:
"OxyContin memiliki risiko kecanduan yang kurang dari 1%."
Klaim ini—yang akan diulang oleh ribuan sales representative kepada puluhan ribu dokter—didasarkan pada satu paragraf dalam surat editor di New England Journal of Medicine pada tahun 1980. Bukan studi lengkap. Bukan penelitian yang ketat. Hanya satu paragraf yang mengatakan bahwa dari 12,000 pasien rumah sakit yang diberi opioid, hanya 4 yang mengembangkan kecanduan.
Tapi ada detail penting yang diabaikan Purdue: pasien-pasien itu diawasi ketat di rumah sakit, diberi dosis rendah, dan untuk waktu singkat.
OxyContin akan diresepkan untuk jutaan orang, di rumah mereka sendiri, untuk jangka waktu yang panjang, dengan dosis yang meningkat.
Situasi yang sepenuhnya berbeda.
Tapi Purdue tidak peduli. Mereka punya obat. Mereka punya klaim. Dan mereka punya marketing machine terbaik di industri farmasi.
Marketing Kampanye Paling Agresif dalam Sejarah
OxyContin diluncurkan pada tahun 1996. Dan Purdue melancarkan marketing blitz yang belum pernah terjadi sebelumnya.
1. Rekrut tentara penjual Purdue merekrut lebih dari 1,000 sales representatives—dua kali lipat dari perusahaan farmasi rata-rata. Mereka dilatih intensif. Mereka dibayar dengan komisi yang sangat besar—semakin banyak resep yang mereka hasilkan, semakin kaya mereka.
2. Target dokter dengan agresif Sales reps mengunjungi dokter berkali-kali. Mereka membawa makan siang gratis. Hadiah. Sampel gratis. Data yang terlihat ilmiah (tapi sangat cherry-picked). Mereka mencatat dokter mana yang meresepkan OxyContin paling banyak dan memberi bonus kepada sales rep yang menargetkan dokter itu.
3. Minimalkan risiko kecanduan Dalam semua material marketing, pesan yang sama diulang: "OxyContin memiliki risiko kecanduan yang sangat rendah." Bahkan ketika bukti mulai menumpuk bahwa ini tidak benar, Purdue tetap menyebarkan klaim ini.
4. Ekspansi penggunaan nyeri Purdue tidak hanya menargetkan dokter kanker. Mereka menargetkan dokter umum, dokter gigi, bahkan klinik kecil di pedesaan. Mereka mempromosikan OxyContin untuk nyeri punggung, nyeri pasca-operasi kecil, bahkan sakit gigi.
5. Konferensi mewah dan "edukasi" dokter Purdue mensponsori konferensi di resort mewah. Mereka membayar dokter-dokter terkemuka untuk berbicara tentang manajemen nyeri—selalu dengan kesimpulan bahwa opioid diresepkan terlalu sedikit, bukan terlalu banyak.
Hasilnya? Dalam lima tahun, OxyContin menjadi obat paling laris Purdue. Revenue melonjak dari nol menjadi lebih dari $1 miliar per tahun.
Dan keluarga Sackler—yang memiliki Purdue sepenuhnya—menjadi kaya luar biasa.
Tapi ada harga yang harus dibayar. Dan yang membayarnya bukan mereka.
Bagian 4: Krisis—Korban Mulai Berjatuhan
Kota-Kota Kecil Hancur
Awal 2000-an. Di kota-kota kecil di seluruh Amerika—terutama di Appalachia, Ohio, West Virginia, Kentucky—dokter mulai melihat sesuatu yang menakutkan.
Pasien yang datang untuk nyeri punggung ringan kembali lagi dan lagi, meminta dosis lebih tinggi. Mereka mengatakan pil tidak bekerja lagi. Mereka terlihat gelisah, berkeringat, sakit ketika tidak mendapat pil.
Ini adalah gejala kecanduan.
Kemudian overdosis mulai terjadi. Orang-orang—terutama orang muda—ditemukan mati dengan botol OxyContin di samping mereka.
Beberapa orang menemukan cara menghancurkan pil OxyContin dan menghirup atau menyuntikkannya—menghilangkan mekanisme time-release dan mendapatkan dosis penuh sekaligus. Ini memberikan "high" yang intens, tapi juga sangat mematikan.
Pecandu yang tidak lagi bisa mendapatkan resep OxyContin beralih ke heroin—yang lebih murah dan lebih mudah didapat. Kemudian ke fentanyl—opioid sintetis yang 50 kali lebih kuat dari heroin.
Korban berjatuhan seperti domino:
● Remaja atlet yang cedera lutut, diberi OxyContin, menjadi kecanduan
● Ibu rumah tangga yang operasi punggung, tidak bisa berhenti minum pil
● Pekerja konstruksi yang cedera kerja, kehilangan pekerjaan karena kecanduan
● Veteran perang yang mengobati PTSD dengan opioid
Dan mereka semua punya satu kesamaan: mereka tidak berpikir mereka akan kecanduan.
Dokter memberi tahu mereka aman. Iklan mengatakan risiko kecanduan rendah. Ini obat legal yang diresepkan dokter—bagaimana bisa berbahaya?
Purdue Tahu—Dan Tidak Melakukan Apa-apa
Inilah yang paling mengerikan: Purdue tahu.
Sejak awal 2000-an, Purdue menerima laporan dari sales rep mereka sendiri tentang dokter yang meresepkan OxyContin dalam jumlah mencurigakan. Tentang pasien yang overdosis. Tentang klinik yang menjadi "pill mills"—tempat orang bisa mendapatkan resep hanya dengan membayar.
Tapi alih-alih menghentikan distribusi ke area itu atau memperingatkan pemerintah, Purdue terus mengirim pil. Karena itu menguntungkan.
Internal emails menunjukkan eksekutif Purdue—termasuk anggota keluarga Sackler—mendiskusikan "pelecehan" OxyContin dan bagaimana mereka perlu "mengelola" masalah PR ini.
Tapi mereka tidak menghentikan marketing agresif. Mereka tidak menarik produk. Mereka tidak mengakui bahwa klaim "risiko kecanduan rendah" adalah bohong.
Mereka hanya terus menjual.
Bagian 5: Mencuci Darah dengan Emas—Filantropi Sackler
Nama di Dinding Museum
Sementara ratusan ribu orang mati, keluarga Sackler melakukan sesuatu yang cerdik: mereka membeli reputasi.
Mereka menyumbangkan ratusan juta dollar ke museum, universitas, dan institusi seni:
● Sackler Wing di Metropolitan Museum of Art
● Sackler Gallery di Smithsonian
● Sackler Centre di Guggenheim
● Sackler Library di Oxford
● Dan puluhan lainnya di seluruh dunia
Di setiap acara gala, Sackler duduk bersama elit budaya—politisi, selebriti, akademisi. Mereka difoto di karpet merah. Nama mereka diucapkan dengan hormat.
Tidak ada yang membicarakan dari mana uang itu berasal. Atau setidaknya, tidak sampai terlambat.
Dua Dunia yang Terpisah
Ada ironi yang mengerikan di sini:
Di galeri Sackler, orang-orang kaya dan terhormat memandangi lukisan Monet sambil minum champagne.
Di Appalachia, ibu-ibu menangis di atas peti mati anak-anaknya yang mati overdosis.
Kedua dunia ini diciptakan oleh keluarga yang sama. Uang yang sama.
Tapi untuk waktu yang sangat lama, tidak ada yang menghubungkan keduanya.
Keluarga Sackler sangat berhati-hati memisahkan diri dari Purdue Pharma secara publik. Mereka jarang memberi interview. Mereka jarang muncul di media terkait OxyContin.
Mereka adalah dermawan yang rendah hati, bukan baron obat yang rakus.
Setidaknya, itulah yang mereka inginkan agar dunia percaya.
Bagian 6: Keadilan Tertunda—Pertanggungjawaban Mulai Datang
Tuntutan Hukum Mulai Berdatangan
Sekitar tahun 2007, tekanan mulai menumpuk. Jaksa di Virginia Barat membawa kasus kriminal terhadap Purdue Pharma.
Bukti menumpuk: internal memos yang menunjukkan Purdue tahu tentang pelecehan, data yang menunjukkan mereka terus memasarkan secara agresif meskipun tahu risikonya, testimoni dari mantan karyawan yang mengungkap praktik pemasaran yang menipu.
Purdue mengaku bersalah atas misbranding—secara salah mengklaim OxyContin memiliki risiko kecanduan yang rendah.
Mereka didenda $600 juta. Dalam konteks, ini terdengar besar. Tapi Purdue telah menghasilkan lebih dari $30 miliar dari OxyContin. $600 juta adalah biaya berbisnis.
Dan yang paling penting: tidak ada anggota keluarga Sackler yang dituntut.
Perusahaan bersalah. Tapi keluarga—yang memiliki perusahaan, yang mendapat miliaran dollar dari penjualan, yang duduk di board dan membuat keputusan strategis—mereka bebas.
Gelombang Kedua—Negara Bagian Menuntut
Tahun 2010-an, krisis opioid mencapai puncaknya. Lebih dari 70,000 orang per tahun mati dari overdosis.
Negara bagian, kota, dan kabupaten mulai menuntut Purdue dan keluarga Sackler. Mereka menuntut kompensasi untuk biaya kesehatan, untuk program rehabilitasi, untuk keluarga yang hancur.
Dan kali ini, mereka tidak hanya menuntut perusahaan. Mereka menuntut keluarga Sackler secara pribadi.
Investigasi mengungkap sesuatu yang mengejutkan: sejak tahun 2008, ketika Purdue mulai menghadapi tuntutan hukum serius, keluarga Sackler telah menarik lebih dari $10 miliar dari perusahaan dan memindahkannya ke rekening luar negeri.
Mereka sedang menyembunyikan uang—mempersiapkan untuk hari ketika Purdue akan bangkrut.
Museum Mulai Menghapus Nama Sackler
Sesuatu yang luar biasa mulai terjadi: museum-museum yang telah menerima puluhan juta dollar dari Sackler mulai menolak donasi mereka. Bahkan mulai menghapus nama Sackler dari dinding mereka.
Louvre di Paris menghapus nama Sackler. Tate Gallery di London menolak donasi masa depan. Metropolitan Museum of Art secara diam-diam menghapus signage Sackler.
Fotografer Nan Goldin—yang sendiri selamat dari kecanduan OxyContin—memimpin protes dramatis di museum-museum, melemparkan botol resep kosong dan berbaring di lantai sebagai simbol korban yang mati.
Nama yang dulu dihormati sekarang menjadi toxic.
Bagian 7: Kebangkrutan dan Kesepakatan yang Kontroversial
Purdue Pharma Bangkrut—Tapi Sackler Tetap Kaya
Pada tahun 2019, Purdue Pharma mengajukan kebangkrutan.
Tapi ini bukan kebangkrutan biasa. Ini adalah strategi yang dirancang dengan hati-hati oleh pengacara-pengacara terbaik yang uang bisa beli.
Kesepakatan yang diusulkan:
● Purdue akan dibubarkan
● Keluarga Sackler akan membayar $4.5 miliar selama 9 tahun
● Sebagai gantinya, keluarga Sackler mendapat kekebalan penuh dari tuntutan sipil di masa depan
Mari kita pause sebentar. $4.5 miliar terdengar banyak. Tapi:
● Keluarga Sackler menarik lebih dari $10 miliar dari Purdue
● Mereka masih memiliki kekayaan pribadi miliaran lagi
● $4.5 miliar dibayar selama 9 tahun—mereka tetap sangat kaya
● Dan mereka mendapat kekebalan—tidak ada tuntutan, tidak ada pengakuan bersalah pribadi
Banyak korban dan keluarga korban menolak kesepakatan ini. Mereka menginginkan keadilan, bukan hanya uang. Mereka ingin Sackler mengakui apa yang mereka lakukan.
Tapi pada akhirnya, kesepakatan disetujui. Keluarga Sackler keluar dari seluruh drama ini tetap miliader—dan secara hukum terlindungi dari pertanggungjawaban masa depan.
Penutup: Pelajaran dari Empire of Pain
1. Keserakahan Tidak Mengenal Batas
Keluarga Sackler sudah kaya dari obat-obatan lain. Mereka tidak membutuhkan OxyContin untuk hidup nyaman. Tapi mereka menginginkan lebih. Selalu lebih.
Pelajaran: Ketika akumulasi kekayaan menjadi tujuan itu sendiri—bukan alat untuk hidup yang baik—tidak ada jumlah yang cukup. Dan orang lain akan membayar harganya.
2. Marketing Bisa Membunuh
Arthur Sackler membuktikan bahwa kamu bisa menjual apa saja dengan marketing yang cukup agresif—bahkan kecanduan.
Pelajaran: Kita harus skeptis terhadap klaim marketing, terutama untuk produk yang mempengaruhi kesehatan kita. "Berbasis sains" tidak selalu berarti "jujur."
3. Regulasi yang Lemah Mengundang Pelecehan
FDA menyetujui OxyContin. DEA tidak cukup mengawasi distribusi. Regulator tertidur, atau dipengaruhi oleh lobby industri.
Pelajaran: Tanpa regulasi yang kuat dan independen, perusahaan akan mengutamakan profit di atas keselamatan—setiap saat.
4. Filantropi Tidak Menebus Kejahatan
Sackler menyumbang ratusan juta untuk seni. Tapi itu tidak menghidupkan kembali 500,000 orang yang mati.
Pelajaran: Uang yang diberikan dengan tangan yang penuh darah tidak mencuci darah itu. Filantropi tanpa keadilan adalah manipulasi publik.
5. Sistem Hukum Melindungi yang Kaya
Sackler membayar miliaran tapi tetap kaya. Tidak ada dari mereka yang masuk penjara. Tidak ada pengakuan bersalah pribadi.
Pelajaran: Di Amerika, jika kamu cukup kaya dan punya pengacara cukup baik, kamu bisa lolos dari hampir apa saja.
Akhir Kata: Apa yang Kita Bawa Pulang?
Patrick Radden Keefe menutup bukunya dengan pertanyaan yang menghantui:
"Berapa nilai nyawa manusia?"
Untuk keluarga Sackler, jawabannya jelas: nyawa manusia bernilai kurang dari profit mereka.
Tapi untuk kita—orang-orang yang hidup di dunia yang dibentuk oleh keputusan mereka—pertanyaannya berbeda:
Apakah kita akan membiarkan ini terjadi lagi?
Krisis opioid belum berakhir. Bahkan sekarang, orang-orang mati. Keluarga hancur. Komunitas runtuh.
Dan perusahaan farmasi lain sedang menonton, belajar pelajaran—bukan pelajaran tentang etika, tetapi tentang bagaimana tidak tertangkap.
Kita harus:
● Menuntut transparansi dari perusahaan farmasi
● Mendukung regulasi yang lebih kuat
● Tidak membiarkan kekayaan membeli kekebalan hukum
● Mengingat nama-nama korban, bukan hanya nama di dinding museum
Seperti yang Keefe tulis:
"Keluarga Sackler mungkin tidak pernah mengakui apa yang mereka lakukan. Tapi kita tidak perlu membiarkan mereka menulis sejarah."
Sejarah akan mengingat. Dan kita—yang masih hidup—punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa nama Sackler tidak diingat untuk kedermawanan mereka, tetapi untuk empire of pain yang mereka bangun.
Jangan pernah lupa.
Tentang Buku Asli
"Empire of Pain: The Secret History of the Sackler Dynasty" diterbitkan pada April 2021 oleh Doubleday.
Patrick Radden Keefe adalah staff writer di The New Yorker dan penulis investigasi pemenang banyak penghargaan. Dia menghabiskan lebih dari lima tahun meneliti buku ini, mewawancarai ratusan orang, membaca ribuan dokumen pengadilan dan internal perusahaan.
Buku ini memenangkan:
● Baillie Gifford Prize for Non-Fiction 2021
● Financial Times Book of the Year
● Dan masuk dalam daftar Best Books of 2021 di New York Times, Washington Post, dan banyak publikasi lainnya
Keluarga Sackler menolak bekerja sama dengan Keefe untuk buku ini. Mereka membantah banyak klaimnya (meskipun fakta-fakta sudah terdokumentasi dalam pengadilan).
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana satu keluarga bisa menyebabkan krisis kesehatan masyarakat terbesar dalam generasi, sangat disarankan membaca buku aslinya. Keefe menulis dengan detail yang mengerikan, empati terhadap korban, dan kemarahan yang terkontrol terhadap ketidakadilan.
Ini bukan hanya sejarah. Ini adalah peringatan.
Dan peringatan yang diabaikan akan diulang.

