Dunia yang Terlalu Dekat dengan Kenyataan
Bayangkan Anda bangun besok pagi dan menemukan:
Rekening bank Anda dibekukan. Kartu kredit tidak berfungsi. Pekerjaan Anda hilang—bukan karena Anda dipecat, tetapi karena perempuan dilarang bekerja.
Anda mencoba kabur bersama keluarga ke Kanada. Di perbatasan, tentara merebut anak Anda dari tangan Anda. Suami Anda ditembak di depan mata Anda. Anda diseret kembali.
Tiga minggu kemudian, Anda berdiri di sebuah aula, mengenakan gaun merah panjang dan kerudung putih yang menutup wajah. Bersama ratusan perempuan lain yang sama, Anda dipaksa mendengarkan "Bibi" yang memberi tahu Anda tentang kehormatan baru Anda.
Anda bukan lagi manusia dengan nama. Anda adalah rahim berjalan.
Nama Anda yang dulu—identitas Anda—diambil. Sekarang Anda disebut "Offred"—milik Fred, seperti properti.
Tugas Anda? Berbaring sebulan sekali sementara seorang Commander tua memperkosa Anda secara ritual, sementara istrinya memegang tangan Anda dan berpura-pura ini adalah "upacara suci."
Jika Anda hamil, bayi akan diambil dan diberikan kepada istri Commander. Jika Anda tidak hamil setelah tiga penugasan, Anda akan dikirim ke "koloni"—tempat perempuan "tidak berguna" bekerja membersihkan limbah radioaktif sampai mati.
Ini bukan sejarah kuno. Ini bukan fantasi alien di planet jauh.
Ini adalah Amerika Serikat—beberapa tahun dari sekarang, dalam visi Margaret Atwood yang mengerikan dan profetik dalam "The Handmaid's Tale."
Dan yang paling menakutkan? Tidak ada satu pun hal dalam buku ini yang tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia yang sebenarnya.
Mari kita masuki dunia Gilead—dan mari kita pahami mengapa buku yang ditulis tahun 1985 ini masih berbicara langsung kepada kita hari ini.
Bagian 1: Selamat Datang di Gilead—Distopia yang Dibangun atas Tubuh Perempuan
Bagaimana Ini Terjadi?
Republik Gilead tidak muncul dalam semalam.
Sebelumnya adalah Amerika Serikat—dengan semua kebebasan, demokrasi, dan hak-haknya. Tapi kemudian datang krisis: tingkat kesuburan menurun drastis. Polusi, radiasi, penyakit—bayi yang lahir sehat menjadi langka.
Ketakutan adalah bahan bakar yang sempurna untuk totalitarianisme.
Sekelompok fundamentalis Kristen merebut kekuasaan melalui kudeta. Mereka membunuh Presiden dan sebagian besar Kongres. Mereka menyalahkan "teroris Islam" dan menyatakan darurat militer. Konstitusi ditangguhkan "sementara."
Dan kemudian, langkah demi langkah, kebebasan dihapus:
Langkah 1: Perempuan tidak boleh memiliki properti atau uang. Semua aset dipindahkan ke suami atau wali laki-laki terdekat.
Langkah 2: Perempuan dipecat dari semua pekerjaan. "Demi melindungi mereka dan keluarga mereka."
Langkah 3: Perempuan tidak boleh membaca atau menulis. "Pengetahuan membuat perempuan tidak bahagia."
Langkah 4: Perempuan dikategorikan berdasarkan kesuburan dan status, kemudian didistribusikan kepada laki-laki elite sebagai properti.
Dalam waktu kurang dari setahun, Amerika menjadi Gilead—teokrasi totaliter di mana perempuan tidak punya hak sama sekali.
Sistem Kasta Perempuan
Di Gilead, identitas perempuan ditentukan sepenuhnya oleh fungsi biologis dan loyalitas mereka:
Wives (Istri) - Perempuan yang menikah dengan Commander (elite penguasa). Mereka mengenakan biru—warna Perawan Maria. Mereka punya status tertinggi di antara perempuan, tetapi tetap tidak punya kekuasaan riil. Mereka tidak boleh bekerja, membaca, atau membuat keputusan. Fungsi mereka: mengawasi rumah tangga dan berpura-pura bayi yang dilahirkan Handmaid adalah mereka.
Handmaids (Pelayan) - Perempuan yang terbukti subur. Mereka mengenakan merah—warna darah, warna melahirkan, warna dosa. Mereka adalah properti negara, ditugaskan kepada Commander untuk tujuan tunggal: reproduksi. Nama mereka diambil dan diganti dengan "Of-[nama Commander]"—Offred, Ofglen, Ofwarren. Mereka adalah rahim berjalan.
Marthas - Pembantu rumah tangga yang steril. Mereka mengenakan hijau. Mereka memasak, membersihkan, mengurus rumah. Lebih beruntung dari Handmaid karena tidak diperkosa, tetapi tetap perempuan tanpa kebebasan.
Aunts (Bibi) - Perempuan tua yang melatih dan mengawasi Handmaids. Mereka diberikan sedikit kekuasaan—termasuk hak untuk membaca—sebagai imbalan untuk menindas sesama perempuan. Mereka adalah alat indoktrinasi rezim.
Econowives - Istri pria kelas bawah. Mereka harus melakukan semua fungsi sendiri: istri, pembantu, dan melahirkan. Mereka mengenakan gaun bergaris—campuran dari semua warna.
Unwomen (Bukan Perempuan) - Perempuan steril, janda tua, lesbian, feminis, biarawati yang menolak menikah, atau siapa pun yang menolak sistem. Mereka dikirim ke "koloni" untuk membersihkan limbah beracun. Harapan hidup: tiga tahun.
Setiap perempuan dikategorikan. Setiap perempuan diperbudak dengan cara yang berbeda.
Bagian 2: Offred—Perempuan Tanpa Nama
Kehilangan Identitas
Narator kita tidak memberitahu kita nama aslinya.
Dia hanya "Offred"—Of-Fred, milik Fred, Commander yang dia layani.
Tapi dalam narasi internalnya, dia mengingat. Dia punya nama dulu. Dia punya pekerjaan dulu—di perpustakaan, tempat dia bisa membaca buku sepuasnya. Dia punya suami yang mencintainya—Luke. Dia punya anak perempuan kecil.
Dan kemudian semuanya direbut.
Ketika dia dan Luke mencoba kabur ke Kanada dengan anak mereka, mereka ditangkap. Luke ditembak (atau mungkin tidak—dia tidak pernah tahu pasti). Anak perempuannya direbut dan diberikan kepada keluarga elite sebagai "anak angkat."
Offred dibawa ke Red Center—pusat pelatihan Handmaid—di mana Aunts "mendidik ulang" perempuan tentang "peran suci" mereka.
Di sini, dia belajar:
● Tubuhnya bukan miliknya, tetapi milik negara
● Kesuburannya adalah anugerah dan kutukan
● Dia harus berterima kasih karena diberi "kesempatan" melayani
● Resistensi berarti kematian
Nama aslinya dilarang. Identitas lamanya dihapus. Dia diajarkan untuk lupa siapa dia dulu dan menerima siapa dia sekarang: wadah untuk bayi orang lain.
Kehidupan Sehari-hari sebagai Handmaid
Rutinitas Offred sangat dibatasi:
Pagi: Bangun di kamar kecil yang hampir kosong. Tidak ada cermin (agar tidak sombong). Tidak ada buku (perempuan dilarang baca). Tidak ada benda tajam (risiko bunuh diri).
Siang: Berbelanja ke pasar dengan Handmaid lain. Ini satu-satunya waktu mereka boleh keluar. Mereka berjalan berpasangan, mengawasi satu sama lain. Percakapan dibatasi pada frasa ritual yang aman: "Blessed be the fruit" (Diberkatilah buahnya), "May the Lord open" (Semoga Tuhan membuka).
Sore: Duduk di kamar, menunggu. Tidak ada yang bisa dilakukan. Tidak ada buku untuk dibaca, tidak ada TV untuk ditonton, tidak ada yang untuk dikerjakan. Hanya duduk dan ingat.
Malam—Upacara: Jika jadwal Commander, maka terjadi "Upacara"—pemerkosaan ritual yang dibungkus dalam doa dan ayat Alkitab.
The Ceremony—Pemerkosaan Sebagai Ritual
Inilah malam yang paling mengerikan.
Offred harus berbaring di antara kaki istri Commander, Serena Joy. Gaun merahnya diangkat. Commander masuk, melakukan tugasnya—tanpa kata, tanpa emosi, seperti formalitas administratif.
Serena Joy memegang tangan Offred selama proses, berpura-pura bahwa tubuh Offred adalah tubuhnya, bahwa apa yang terjadi pada Offred sedang terjadi padanya.
Ini bukan seks. Ini bahkan bukan seperti pornografi atau fantasi yang terdeviasi. Ini adalah tugas negara—mekanis, tanpa gairah, dibungkus dalam ayat-ayat Alkitab yang dipuntir untuk membenarkan pemerkosaan sistematis.
Setelah selesai, Commander pergi. Serena Joy melepaskan tangannya dengan jijik. Offred kembali ke kamarnya.
Dan dia berdoa—bukan kepada Tuhan Gilead, tetapi kepada siapa pun yang mungkin mendengar—bahwa dia tidak akan hamil. Karena jika tidak hamil setelah tiga penugasan, dia akan dianggap gagal dan dikirim ke koloni untuk mati.
Tapi juga, sebagian kecil dirinya berdoa bahwa dia akan hamil—karena itu berarti beberapa bulan lagi kehidupan, beberapa bulan lagi tidak di koloni.
Ini adalah pilihan mustahil: hamil untuk orang yang Anda benci, atau mati.
Bagian 3: Memori—Satu-satunya Bentuk Resistensi
Dunia Sebelumnya
Offred hidup di dua dunia secara bersamaan.
Di dunia luar, dia adalah Handmaid yang patuh—berjalan dengan kepala tertunduk, mengucapkan frasa yang benar, mengikuti aturan.
Di dunia dalam—dalam memorinya—dia masih orang yang dia dulu.
Dia mengingat:
Ibunya - seorang feminis garis keras di tahun 1970-an, yang membakar majalah porno, yang memprotes objektifikasi perempuan. Ironi yang kejam: ibunya diperjuangkan kebebasan perempuan, dan sekarang putrinya hidup dalam distopia misoginis terburuk yang bisa dibayangkan.
Moira - sahabatnya, seorang lesbian, berani, rebellious. Moira yang melarikan diri dari Red Center dengan menyerang seorang Aunt. Moira yang memberi Offred harapan bahwa resistensi mungkin.
Luke - suaminya. Apakah dia mati? Ditangkap? Melarikan diri ke Kanada? Offred tidak tahu. Ketidaktahuan ini adalah penyiksaan tersendiri.
Anak perempuannya - Tidak pernah disebutkan namanya dalam buku. Offred terobsesi dengan pertanyaan: Apakah dia masih hidup? Apakah dia ingat ibunya? Apakah dia bahagia dengan keluarga barunya?
Memori ini adalah harta karun Offred. Gilead bisa mengambil tubuhnya, namanya, kebebasannya—tetapi tidak bisa mengambil apa yang dia ingat.
"Nolite te bastardes carborundorum" - Don't let the bastards grind you down.
Kalimat Latin palsu ini, yang ditemukan Offred terukir tersembunyi di lemari oleh Handmaid sebelumnya, menjadi mantra rahasianya.
Resistensi bukan selalu dramatis. Kadang resistensi adalah mengingat ketika mereka ingin kamu lupa.
Bagian 4: Commander dan Permainan Berbahaya
Hubungan Terlarang
Commander—Fred—melakukan sesuatu yang sangat dilarang: dia meminta Offred datang ke kantornya secara pribadi di malam hari, tanpa istri tahu.
Ini bisa berarti kematian bagi keduanya jika ketahuan.
Apa yang dia inginkan? Seks liar? Perversi?
Tidak. Dia ingin bermain Scrabble. Permainan kata.
Ini absurd dan tragis. Offred dilarang membaca atau menulis. Tapi Commander, yang membantu menciptakan sistem yang melarang perempuan literasi, merindukan percakapan intelektual dengan perempuan.
Dia juga memberikan Offred hadiah terlarang: majalah lama, hand lotion, bahkan sebuah buku.
Mengapa dia melakukan ini? Karena dia kesepian. Karena istrinya membencinya. Karena sistem yang dia ciptakan membuat hubungan manusia yang sesungguhnya menjadi mustahil.
Offred bermain permainan berbahaya: dia memanfaatkan keinginan Commander untuk keintiman intelektual untuk mendapat privilege kecil—waktu di luar kamar, benda-benda terlarang, sedikit kekuasaan.
Tapi ada bahaya: semakin dia dekat dengan Commander, semakin dia berisiko. Serena Joy sudah curiga. Dan hukuman untuk hubungan tidak sah adalah eksekusi publik.
Jezebel's—Kemunafikan Rezim
Commander membawa Offred ke tempat yang seharusnya tidak ada di Gilead yang "suci": Jezebel's—klub malam rahasia untuk elite, lengkap dengan perempuan berpakaian seksi, alkohol, dan "hiburan."
Ternyata rezim yang mengklaim moral tinggi dan kesalehan adalah munafik total. Aturan hanya berlaku untuk massa. Elite bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan.
Di Jezebel's, Offred bertemu Moira lagi—sahabatnya yang melarikan diri. Tapi Moira tidak bebas. Dia ditangkap kembali dan diberi pilihan: bekerja sebagai pelacur di Jezebel's, atau dikirim ke koloni.
Dia memilih Jezebel's. Setidaknya di sini ada alkohol, ada hiburan, ada ilusi kebebasan.
Pertemuan ini menghancurkan Offred. Moira, yang dulunya adalah simbol harapan dan pemberontakan, kini sudah menyerah. Jika Moira bisa patah, siapa pun bisa.
Bagian 5: Nick dan Harapan Tipis
Hubungan yang Terlarang
Nick adalah supir Commander—pria muda yang tinggal di atas garasi. Dia dan Offred bertukar pandangan, gestur kecil, bahasa tanpa kata.
Lalu Serena Joy membuat proposal mengejutkan.
Dia tahu suaminya mungkin steril (ironi besar: dalam Gilead, hanya perempuan yang dianggap bisa "tidak subur"—laki-laki tidak pernah disalahkan). Jika Offred tidak hamil, dia akan dikirim ke koloni, dan Serena akan kehilangan kesempatan untuk "memiliki" bayi.
Jadi Serena menawarkan deal: tidur dengan Nick secara diam-diam untuk hamil.
Offred setuju. Tapi bukan hanya karena kehamilan. Dia setuju karena dia merindukan sentuhan manusia yang sebenarnya, bukan pemerkosaan ritual.
Dengan Nick, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasakan sesuatu yang menyerupai cinta—atau setidaknya koneksi manusia.
Tapi ini juga berbahaya. Apakah Nick tulus? Atau apakah dia mata-mata untuk rezim? Offred tidak pernah benar-benar tahu.
Di Gilead, bahkan cinta adalah permainan berbahaya.
Bagian 6: Mayday dan Harapan Perlawanan
Gerakan Bawah Tanah
Ofglen—Handmaid yang menjadi partner belanja Offred—mengungkapkan rahasia: dia adalah bagian dari Mayday, gerakan perlawanan bawah tanah.
Ada perlawanan. Ada orang yang masih berjuang.
Ofglen meminta Offred untuk memata-matai Commander—untuk mendapat informasi yang bisa membantu perlawanan.
Untuk pertama kalinya, Offred punya tujuan lebih dari sekadar bertahan. Dia punya pilihan untuk melawan.
Tapi kemudian Ofglen ditangkap. Dia digantikan oleh Handmaid lain dengan nama yang sama. Yang baru berbisik: "Aku bukan pengkhianat."
Ofglen yang lama sudah hilang—mungkin dieksekusi, mungkin dikirim ke koloni.
Dan Offred menyadari: tidak ada yang aman. Setiap orang bisa menjadi pengkhianat, setiap percakapan bisa menjadi jebakan.
Salvaging—Eksekusi Publik sebagai Hiburan
Gilead mengadakan "Salvaging"—eksekusi publik yang dibingkai sebagai acara keagamaan.
Semua Handmaid dikumpulkan untuk menyaksikan tiga perempuan digantung: dua Handmaid yang mencoba melarikan diri, dan satu Martha yang diberi tuduhan (mungkin palsu).
Tapi yang paling mengerikan: Particicution—partisipasi eksekusi.
Seorang pria dituduh memperkosa Handmaid (tuduhan yang mungkin dibuat-buat). Handmaid diberi izin untuk mengeksekusi dia dengan tangan kosong—memukulinya sampai mati dalam frenzy kekerasan kolektif.
Ini adalah cara Gilead membuat perempuan ikut bertanggung jawab atas kekerasan sistem. Buat mereka menjadi pelaku, bukan hanya korban.
Offred turut serta. Dia memukul. Dia menendang. Dalam kemarahan dan ketakutan dan frustrasi, dia melampiaskan semuanya pada tubuh anonim ini.
Dan kemudian dia muntah. Karena dia menyadari: sistem telah mengubahnya menjadi monster juga.
Bagian 7: Akhir yang Ambigu—dan Itulah Intinya
"Apakah Itu Nick atau Mata-mata?"
Suatu malam, van hitam datang untuk menjemput Offred.
Serena Joy telah menemukan bukti bahwa Offred mengkhianatinya—memiliki hubungan dengan suaminya di luar Upacara. Hukumannya: eksekusi.
Tapi Nick berkata van itu dikirim oleh Mayday untuk menyelamatkannya. "Percayalah padaku," katanya.
Offred harus membuat pilihan: percaya Nick dan masuk van, atau menolak dan menghadapi nasib pasti.
Dia memilih percaya. Dia masuk van.
Dan buku berakhir.
Kita tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Apakah Nick mengatakan kebenaran? Apakah ini penyelamatan atau penangkapan? Apakah Offred melarikan diri ke kebebasan atau dibawa ke eksekusi?
Margaret Atwood membiarkan akhir terbuka—dan itu adalah pilihan yang brilian.
Epilog: "Historical Notes"
Setelah narasi Offred berakhir, ada epilog—sebuah transkrip konferensi akademis di tahun 2195, lebih dari 200 tahun setelah jatuhnya Gilead.
Para profesor mendiskusikan "The Handmaid's Tale" sebagai artefak sejarah—rekaman suara yang ditemukan dan ditranskrip.
Apa yang kita pelajari:
1. Gilead akhirnya jatuh. Rezim totaliter tidak bertahan selamanya.
2. Identitas Offred tidak pernah dikonfirmasi. Kita tidak tahu nama aslinya atau apa yang terjadi padanya.
3. Para profesor lebih tertarik pada Commander daripada Offred. Mereka menganalisis siapa pria berkuasa itu, bukan perempuan yang menderita. Bahkan di masa depan, sejarah masih lebih peduli pada narasi laki-laki.
Ini adalah komentar tajam Atwood tentang bagaimana sejarah ditulis: korban menjadi footnote, pelaku menjadi subjek studi.
Bagian 8: Mengapa The Handmaid's Tale Masih Relevan Hari Ini
Bukan Fiksi Ilmiah—Ini Spekulatif Fiksi
Margaret Atwood tidak menganggap "The Handmaid's Tale" sebagai fiksi ilmiah. Dia menyebutnya spekulatif fiksi—dan perbedaannya penting.
Fiksi ilmiah berisi teknologi dan ide yang belum ada. Spekulatif fiksi berisi hal-hal yang sudah pernah terjadi dalam sejarah manusia yang sebenarnya.
Setiap aspek Gilead berbasis pada realitas historis:
● Perbudakan reproduksi: Terjadi dalam perbudakan Amerika, di mana perempuan yang diperbudak dipaksa melahirkan untuk menambah "properti" pemilik.
● Larangan baca untuk perempuan: Terjadi di berbagai masyarakat sepanjang sejarah.
● Pemerkosaan ritual yang dilegalkan: Terjadi dalam berbagai konflik dan rezim.
● Pengambilan anak paksa: Terjadi pada Penduduk Asli Amerika, "Stolen Generation" di Australia, dan banyak lagi.
● Teokrasi totaliter: Iran pasca-revolusi, Taliban di Afghanistan, dan lainnya.
Atwood tidak menciptakan apa pun yang baru. Dia hanya mengumpulkan kengerian sejarah dan berkata: "Ini bisa terjadi lagi. Ini bisa terjadi pada Anda."
Pelajaran untuk Hari Ini
1. Kebebasan Bisa Hilang Perlahan—Lalu Tiba-tiba
Gilead tidak terjadi dalam satu hari. Hak-hak dihapus bertahap—setiap langkah terasa kecil dan dapat dibenarkan pada saat itu.
Pelajaran: Waspadalah terhadap erosi kebebasan bertahap. "Hanya sementara" bisa menjadi permanen.
2. Kontrol Tubuh Perempuan Adalah Alat Kekuasaan
Dari pembatasan akses aborsi hingga legislasi tentang apa yang perempuan boleh kenakan—kontrol reproduksi dan tubuh perempuan adalah cara untuk mengontrol perempuan secara keseluruhan.
Pelajaran: Hak reproduksi adalah hak asasi manusia fundamental.
3. Bahasa Adalah Medan Perang
Gilead menggunakan bahasa untuk mengontrol pemikiran: "Unwomen," "The Ceremony," "Salvaging." Euphemisme membuat kengerian terdengar normal.
Pelajaran: Perhatikan bagaimana bahasa digunakan untuk membingkai isu. Bahasa membentuk realitas.
4. Perempuan Juga Bisa Menjadi Penindas
Aunts adalah perempuan yang menindas perempuan lain. Serena Joy adalah perempuan yang mendukung sistem yang memperbudaknya.
Pelajaran: Penindasan tidak selalu datang dari "musuh luar." Kadang datang dari mereka yang diberi sedikit kekuasaan dalam sistem.
5. Tidak Ada yang Kebal dari Autoritarianisme
Amerika Serikat—dengan konstitusi dan tradisi demokrasinya—bisa jatuh ke dalam totalitarianisme. Tidak ada negara yang "terlalu maju" atau "terlalu demokratis" untuk kebal.
Pelajaran: Demokrasi memerlukan vigilance konstan. Kebebasan bukan default—ia harus dijaga.
Penutup: Pertanyaan yang Menghantui Kita
Margaret Atwood menulis "The Handmaid's Tale" di tahun 1985. Hampir 40 tahun telah berlalu.
Apakah kita lebih jauh dari Gilead? Atau lebih dekat?
Pertimbangkan:
● Debat global tentang hak aborsi dan kontrol reproduksi
● Kebangkitan fundamentalisme agama di berbagai belahan dunia
● Erosi hak-hak perempuan di beberapa negara
● Penggunaan teknologi untuk surveillance dan kontrol
● Normalisasi bahasa kebencian terhadap kelompok tertentu
"The Handmaid's Tale" bukan prediksi. Ini adalah peringatan.
Atwood berkata: "Ketika kami menulis Konstitusi, kami bisa saja menulis sebaliknya."
Tidak ada yang menjamin kita tidak akan berjalan ke arah Gilead. Satu-satunya yang mencegahnya adalah kita—pilihan yang kita buat, nilai yang kita perjuangkan, kebebasan yang kita jaga.
Pertanyaan untuk Anda
● Apa yang Anda anggap remeh hari ini yang bisa direbut besok?
● Pada titik mana kita berhenti mengatakan "ini tidak akan pernah terjadi di sini"?
● Ketika melihat erosi kebebasan—bahkan yang kecil—apakah kita berbicara atau diam?
Offred berkata: "Nolite te bastardes carborundorum."
Jangan biarkan bajingan itu menghancurkanmu.
Di dunia di mana hak-hak kita tidak dijamin, di mana kebebasan harus terus diperjuangkan—ini bukan hanya mantra Offred.
Ini adalah mantra kita semua.
Tentang Buku Asli
"The Handmaid's Tale" diterbitkan pertama kali pada tahun 1985 dan segera menjadi klasik modern. Margaret Atwood, penulis Kanada, menciptakan karya yang telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa.
Buku ini memenangkan berbagai penghargaan termasuk Arthur C. Clarke Award dan nominasi Booker Prize. Diadaptasi menjadi film (1990), opera (2000), dan yang paling terkenal—serial TV yang sangat diakui di Hulu (2017-sekarang).
Pada 2019, Atwood menerbitkan sekuel: "The Testaments", yang terjadi 15 tahun setelah akhir buku pertama dan menceritakan kisah dari tiga perspektif perempuan berbeda di Gilead.
Untuk pemahaman lengkap, sangat disarankan membaca buku aslinya. Prosa Atwood tajam, puitis, dan menghantui. Cara dia menenun narasi Offred—dengan flashback, inner voice, dan ambiguitas—menciptakan pengalaman membaca yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya dalam ringkasan.
Ini bukan buku yang mudah. Ini mengganggu, menakutkan, dan kadang menyakitkan untuk dibaca.
Tapi itulah mengapa ia penting.
Karena seperti yang Atwood sendiri katakan: "Tidak ada yang baru. Ini semua sudah pernah terjadi sebelumnya."
Dan jika kita tidak ingat—jika kita tidak waspada—bisa terjadi lagi.
Sekarang pergilah dan baca. Dan ingatlah.
Nolite te bastardes carborundorum.

