Filsuf yang Menghancurkan Kepastian
Bayangkan Anda bangun pagi ini dengan keyakinan penuh:
● Matahari akan terbit besok
● Api akan membakar jika disentuh
● 2 + 2 = 4
● Anda adalah orang yang sama dengan kemarin
Sekarang bayangkan ada seseorang yang bertanya: "Bagaimana kamu tahu itu semua benar?"
Anda mungkin menjawab: "Ya jelas! Matahari selalu terbit. Api selalu panas. Matematika adalah kebenaran. Dan aku ya tetap aku."
Lalu orang itu bertanya lagi: "Tapi bagaimana kamu TAHU? Bukan percaya. Bukan kebiasaan. Tapi benar-benar TAHU?"
Dan tiba-tiba... Anda ragu.
Inilah yang dilakukan David Hume pada tahun 1739, di usia 28 tahun, ketika ia menerbitkan "A Treatise of Human Nature"—sebuah buku yang mengguncang fondasi semua yang kita pikir kita tahu tentang pengetahuan, moralitas, dan bahkan tentang diri kita sendiri.
Hume bukan hanya bertanya, "Apa yang kita tahu?" Dia bertanya, "Bagaimana kita bisa tahu apa pun?"
Dan jawabannya mengejutkan: Mungkin kita tidak bisa.
Tapi jangan berhenti membaca. Karena dari kehancuran kepastian ini, Hume membangun pemahaman baru yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan—ironisnya—lebih berguna tentang bagaimana manusia benar-benar bekerja.
Mari kita mulai dengan pertanyaan paling fundamental.
Bagian 1: Impressions dan Ideas—Dari Mana Pikiran Kita Berasal?
Eksperimen Sederhana
Tutup mata Anda sejenak. Sekarang bayangkan seekor unicorn warna merah muda dengan sayap emas yang terbang di atas gunung es.
Anda bisa membayangkannya, kan?
Sekarang pertanyaan Hume: Dari mana bayangan itu berasal?
Anda tidak pernah melihat unicorn. Tidak ada unicorn. Tapi Anda bisa membayangkannya dengan sangat jelas.
Hume punya penjelasan brilian: Semua pikiran kita adalah kombinasi dari hal-hal yang pernah kita alami.
Anda pernah melihat:
● Kuda (tubuh unicorn)
● Tanduk (cula di kepala)
● Warna merah muda
● Sayap burung
● Gunung es
Pikiran Anda mengambil semua "bahan mentah" dari pengalaman dan mengombinasikannya menjadi sesuatu yang baru. Tapi bahan dasarnya selalu berasal dari pengalaman.
Dua Jenis Konten Mental
Hume membagi semua konten mental menjadi dua:
1. Impressions (Kesan) Ini adalah pengalaman langsung, vivid, kuat. Ketika Anda menyentuh api dan merasa panas—itu impression. Ketika Anda makan cokelat dan merasakan manisnya—itu impression.
Impressions adalah "data mentah" dari pengalaman.
2. Ideas (Gagasan) Ini adalah salinan lemah dari impressions. Ketika Anda mengingat panasnya api—itu idea. Ketika Anda membayangkan rasa cokelat—itu idea.
Ideas tidak pernah sekuat impressions. Coba bandingkan: mengingat rasa cokelat vs benar-benar makan cokelat. Bayangan vs kenyataan.
Prinsip Revolusioner
Dari observasi sederhana ini, Hume menyimpulkan sesuatu yang radikal:
"Tidak ada idea dalam pikiran yang tidak pertama kali datang dari impression."
Artinya: Kita tidak bisa benar-benar membayangkan sesuatu yang sama sekali di luar pengalaman kita.
Coba bayangkan warna yang tidak pernah Anda lihat. Bukan variasi dari warna yang ada—tetapi warna yang benar-benar baru. Tidak bisa, kan?
Coba bayangkan rasa yang tidak pernah Anda alami. Tidak bisa.
Semua yang bisa kita pikirkan adalah kombinasi, variasi, atau abstraksi dari hal-hal yang pernah kita alami.
Implikasinya besar: Jika kita tidak pernah mengalami sesuatu, kita tidak bisa benar-benar memahaminya.
Orang buta sejak lahir tidak bisa benar-benar memahami warna—karena mereka tidak punya impression warna. Orang tuli sejak lahir tidak bisa benar-benar memahami musik.
Dan ini membawa kita ke pertanyaan yang lebih dalam: Bagaimana dengan konsep seperti Tuhan, jiwa, atau substansi? Jika kita tidak pernah mengalaminya, apa artinya?
Bagian 2: Kausalitas—Ilusi yang Paling Berguna
Bola Biliar dan Pertanyaan Nakal
Bayangkan Anda menonton permainan biliar. Bola putih menggelinding dan menabrak bola merah. Bola merah bergerak.
Apa yang Anda lihat?
Kebanyakan orang akan bilang: "Bola putih MENYEBABKAN bola merah bergerak."
Tapi Hume bertanya: "Apakah Anda benar-benar MELIHAT 'penyebab' itu?"
Mari kita pecah apa yang Anda sebenarnya lihat:
1. Bola putih bergerak
2. Bola putih menyentuh bola merah
3. Bola merah bergerak
Di mana Anda melihat "penyebab"? Di mana "kekuatan" yang membuat bola merah bergerak?
Yang Anda lihat hanya urutan kejadian: A, lalu B. Bukan "A menyebabkan B"—hanya "A, kemudian B."
Kebiasaan Bukan Logika
Hume berargumen: Konsep "kausalitas" bukan sesuatu yang kita lihat di dunia—itu adalah kebiasaan mental kita.
Mengapa kita percaya bola putih "menyebabkan" bola merah bergerak?
Karena kita sudah melihat pola ini berulang-ulang. Setiap kali bola bertabrakan, yang ditabrak bergerak. Setelah ribuan pengalaman serupa, otak kita membentuk kebiasaan untuk mengharapkan B setelah A.
Tapi ini bukan logika. Ini bukan deduksi. Ini hanya custom (kebiasaan).
Problem of Induction—Induk Ayam dan Kita
Hume menggunakan analogi yang mengerikan: Bayangkan seekor ayam.
Setiap hari, peternak datang dan memberinya makan. Hari pertama, makan. Hari kedua, makan. Hari ke-100, makan. Hari ke-365, makan.
Ayam itu membentuk "pengetahuan" berdasarkan pengalaman: "Manusia = makanan."
Lalu pada hari ke-366, peternak datang—dan memenggal kepala ayam untuk dimasak.
Ternyata pola yang "selalu benar" selama setahun... tidak memprediksi masa depan.
Ini adalah "Problem of Induction" yang terkenal. Pertanyaannya:
Hanya karena sesuatu selalu terjadi di masa lalu, apakah kita bisa yakin itu akan terjadi di masa depan?
Matahari terbit setiap hari selama miliaran tahun. Tapi apakah ini MENJAMIN matahari akan terbit besok?
Secara logis... tidak.
Yang kita punya hanya kebiasaan yang sangat kuat. Bukan kepastian.
Hidup dengan Ketidakpastian
Apakah ini berarti kita harus ragu pada segalanya? Apakah kita harus berhenti mempercayai kausalitas?
Hume bilang: Tidak mungkin dan tidak praktis.
Kita tidak bisa hidup tanpa asumsi kausalitas. Kita harus percaya api akan membakar, makanan akan mengenyangkan, gravitasi akan menarik.
Tapi—dan ini penting—kita harus jujur bahwa ini adalah kebiasaan dan kepercayaan, bukan pengetahuan yang pasti.
Sains bekerja bukan karena kita "tahu" hukum alam benar. Tapi karena kita mengamati pola yang sangat konsisten dan bertaruh mereka akan terus berlaku.
Selama ini berhasil. Tapi secara filosofis, itu tetap taruhan—bukan kepastian.
Bagian 3: Diri—Siapa "Aku" Sebenarnya?
Eksperimen Introspeksi
Hume mengajak kita melakukan eksperimen: Coba temukan "diri" Anda.
Tutup mata. Cari "aku" yang permanen dan tidak berubah di dalam diri Anda.
Apa yang Anda temukan?
Mungkin Anda menemukan:
● Pikiran yang datang dan pergi
● Perasaan yang berubah-ubah
● Sensasi tubuh
● Kenangan yang muncul dan menghilang
Tapi di mana "aku" yang mengalami semua ini? Di mana subjek yang permanen?
Hume bilang: Tidak ada.
Bundle Theory of Self
Menurut Hume, yang kita sebut "diri" sebenarnya hanya "bundle of perceptions"—sekumpulan persepsi yang terus berubah.
Bayangkan sungai. Anda menunjuk ke sungai dan bilang "Ini Sungai Ciliwung." Tapi air yang mengalir terus berubah. Setiap detik, air yang baru menggantikan air yang lama.
Jadi "Sungai Ciliwung" sebenarnya bukan satu entitas permanen—itu hanya nama yang kita beri pada aliran air yang terus berubah.
Begitu juga dengan "diri" kita.
Anda di usia 5 tahun:
● Tubuh berbeda (sel-sel berganti sepenuhnya setiap 7-10 tahun)
● Pikiran berbeda
● Kepercayaan berbeda
● Kenangan berbeda
Hampir tidak ada yang sama antara Anda sekarang dengan Anda usia 5 tahun. Jadi dalam arti apa Anda adalah "orang yang sama"?
Identitas Adalah Fiksi yang Berguna
Hume tidak bilang "diri" tidak ada dalam arti praktis. Tentu saja berguna untuk berkata "Aku" dan merasa kontinuitas dengan masa lalu.
Tapi secara filosofis, "diri yang permanen dan tidak berubah" adalah fiksi yang kita ciptakan untuk memberi makna pada aliran pengalaman yang terus berubah.
Seperti menyebut kumpulan air yang mengalir sebagai "sungai"—berguna, tapi tidak menangkap kenyataan yang terus berubah.
Implikasinya radikal untuk pertanyaan seperti:
● Apakah jiwa abadi? (Jiwa apa? Tidak ada entitas permanen yang bisa abadi)
● Apakah orang yang sama harus dihukum untuk kejahatan 20 tahun lalu? (Apakah mereka benar-benar "orang yang sama"?)
● Apa yang terjadi setelah kematian? (Siapa yang mati jika tidak ada "diri" permanen?)
Bagian 4: Reason vs Passion—Siapa yang Mengemudi?
Filsafat Tradisional Salah
Sejak Plato, filsafat Barat mengajarkan hierarki:
● Reason (Rasio) = Raja yang harus memerintah
● Passion (Emosi) = Budak yang harus dikendalikan
Seseorang yang rasional dan mengendalikan emosi dianggap bijaksana. Seseorang yang emosional dianggap lemah.
Hume membalik ini dengan pernyataan yang terkenal dan kontroversial:
"Reason is, and ought only to be the slave of the passions."
(Rasio adalah, dan seharusnya hanya menjadi budak dari emosi.)
Rasio Tidak Bisa Memotivasi
Argumen Hume sederhana tapi powerful:
Rasio bisa memberitahu Anda bagaimana mencapai sesuatu. Tapi rasio tidak bisa memberitahu Anda mengapa Anda harus menginginkannya.
Contoh:
● Rasio bisa mengatakan, "Jika kamu ingin sehat, kamu harus olahraga."
● Tapi rasio tidak bisa mengatakan, "Kamu HARUS menginginkan kesehatan."
Keinginan untuk sehat adalah passion (emosi, preferensi). Rasio hanya alat untuk mencapainya.
Atau contoh lain:
● Rasio bisa mengatakan, "Merusak dunia akan menghancurkan umat manusia."
● Tapi jika seseorang tidak peduli tentang umat manusia, rasio tidak bisa memaksa mereka peduli.
Kepedulian adalah emosi. Rasio hanya bisa menunjukkan cara mencapai apa yang sudah kita pedulikan.
Moralitas dari Perasaan, Bukan Logika
Implikasi terbesar: Moralitas tidak berasal dari rasio, tapi dari emosi.
Ketika Anda melihat anak kecil dipukuli, Anda merasa marah dan kasihan. Itu respons emosional, bukan logika.
Tidak ada silogisme yang membuat Anda peduli. Anda tidak berpikir:
1. Penderitaan itu buruk (premis)
2. Anak ini menderita (premis)
3. Oleh karena itu, ini buruk (kesimpulan)
Tidak. Anda langsung merasakan bahwa ini salah.
Hume bilang: Itulah sumber moralitas—perasaan moral bawaan kita, bukan deduksi rasional.
Is-Ought Problem
Dari observasi ini, Hume merumuskan salah satu masalah filosofis paling terkenal: Is-Ought Problem.
Dia perhatikan bahwa filsuf sering melompat dari:
● "Ini adalah fakta" (is)
● Ke "Ini seharusnya begini" (ought)
Contoh:
● Fakta: Membunuh menyebabkan kematian.
● Kesimpulan: Kita SEHARUSNYA tidak membunuh.
Tapi tunggu—bagaimana kita melompat dari deskripsi ke preskripsi? Dari fakta ke nilai?
Hume bilang: Tidak bisa. Kecuali Anda masukkan emosi.
Kenapa kita seharusnya tidak membunuh? Bukan karena logika. Tapi karena kita merasa kasihan pada korban, kita merasa bahwa membunuh itu salah.
Tanpa perasaan moral, tidak ada "seharusnya."
Bagian 5: Sympathy—Fondasi Kehidupan Sosial
Mengapa Kita Peduli?
Jika moralitas berasal dari emosi, emosi apa yang membuat kita peduli pada orang lain?
Hume menjawab: Sympathy (simpati, atau yang sekarang kita sebut empati).
Sympathy adalah kemampuan bawaan manusia untuk merasakan apa yang orang lain rasakan.
Ketika Anda melihat seseorang tersenyum, Anda merasa senang. Ketika Anda melihat seseorang menangis, Anda merasa sedih.
Ini bukan pilihan rasional. Ini otomatis. Otak kita di-wire untuk beresonansi dengan emosi orang lain.
Moralitas sebagai Perasaan Bersama
Berdasarkan sympathy ini, Hume membangun teori moralitas:
Kita menyebut sesuatu "baik" ketika itu menciptakan perasaan persetujuan (approval) dalam diri kita dan orang lain.
Kita menyebut sesuatu "buruk" ketika itu menciptakan perasaan penolakan (disapproval).
Tidak ada standar objektif di luar ini. Moralitas adalah tentang perasaan bersama dalam masyarakat.
Contoh: Mengapa pembunuhan dianggap salah?
Bukan karena Tuhan bilang begitu (argumen religius). Bukan karena melanggar hukum alam (argumen rasional). Tapi karena semua orang dengan sympathy alami merasakan kengerian terhadap pembunuhan.
Perasaan bersama ini—di-amplifikasi oleh pendidikan, budaya, dan hukum—menciptakan moralitas.
Relativisme atau Universal?
Pertanyaan muncul: Jika moralitas berdasarkan perasaan, apakah moralitas relatif? Apakah yang "benar" di satu budaya bisa "salah" di budaya lain?
Hume mengakui ada variasi dalam moralitas antarbudaya. Tapi dia juga percaya ada sentimen moral universal yang berakar pada nature manusia.
Semua manusia punya sympathy. Semua manusia merasakan kasih sayang pada keluarga, keinginan untuk keadilan, penghargaan terhadap keberanian.
Detail aplikasinya bervariasi. Tapi fondasi emosionalnya universal.
Bagian 6: Kebajikan—Apa yang Membuat Karakter Baik?
Bukan Aturan, Tapi Karakter
Hume berpendapat bahwa moralitas bukan tentang mengikuti aturan abstrak. Moralitas tentang mengembangkan karakter yang baik.
Apa yang membuat karakter baik?
Hume mengidentifikasi dua jenis kebajikan:
1. Natural Virtues (Kebajikan Alami) Ini adalah kualitas yang secara langsung menciptakan perasaan persetujuan dalam diri kita:
● Kebaikan hati (benevolence)
● Kejujuran
● Keberanian
● Kecerdasan
● Kehangatan
Ketika Anda bertemu seseorang yang baik hati, Anda secara otomatis menyukainya. Tidak perlu berpikir. Perasaan persetujuan muncul secara alami.
2. Artificial Virtues (Kebajikan Buatan) Ini adalah kualitas yang berguna untuk masyarakat tetapi tidak selalu natural:
● Keadilan
● Menjaga janji
● Menghormati properti
Contoh: Bayangkan Anda menemukan dompet berisi uang di jalan. Natural inclination mungkin: "Rezeki nomplok!"
Tapi kebajikan "keadilan" mengatakan: "Kembalikan ke pemiliknya."
Keadilan adalah "artificial" karena tidak selalu sesuai dengan dorongan alami kita. Tapi society membutuhkannya untuk berfungsi.
Utility—Manfaat untuk Masyarakat
Mengapa kita menghargai kebajikan tertentu?
Hume bilang: Karena berguna (utility).
Kita menghargai kejujuran karena masyarakat yang jujur lebih stabil. Kita menghargai keadilan karena tanpa keadilan, tidak ada kepercayaan. Kita menghargai kebaikan hati karena membuat hidup lebih pleasant untuk semua.
Ini adalah versi awal dari utilitarianisme—ide bahwa moralitas tentang memaksimalkan kebahagiaan dan meminimalkan penderitaan.
Bagian 7: Skeptisisme Hume—Hidup dengan Ketidakpastian
Kita Tidak Tahu Apa-Apa (Dan Itu Oke)
Mari kita rekap apa yang Hume hancurkan:
1. Kausalitas? Hanya kebiasaan, bukan pengetahuan pasti.
2. Diri yang permanen? Ilusi. Hanya bundle of perceptions.
3. Moralitas objektif? Tidak ada. Hanya perasaan bersama.
4. Pengetahuan pasti tentang dunia? Tidak mungkin. Semua berdasarkan kebiasaan dan probabilitas.
Ini adalah skeptisisme radikal.
Tapi—dan ini yang membuat Hume unik—dia tidak berakhir di nihilisme.
Skeptisisme Moderat
Hume membedakan antara:
Skeptisisme Ekstrem: "Kita tidak tahu apa-apa, jadi kita harus meragukan segalanya dan tidak percaya apa-apa."
Ini tidak praktis dan tidak mungkin. Tidak ada yang bisa hidup seperti ini.
Skeptisisme Moderat (Hume's position): "Kita tidak punya kepastian absolut, tapi kita punya probabilitas tinggi berdasarkan pengalaman. Itu cukup untuk hidup."
Hume bilang: "Nature is stronger than reason."
Maksudnya: Meskipun secara filosofis kita tidak bisa membuktikan matahari akan terbit besok, nature manusia memaksa kita untuk percaya itu. Dan itu praktis.
Kerendahan Hati Intelektual
Apa yang Hume tawarkan adalah kerendahan hati intelektual.
Kita harus mengakui batas pengetahuan kita. Kita harus jujur bahwa banyak yang kita "tahu" sebenarnya adalah asumsi berdasarkan pengalaman masa lalu.
Tapi ini bukan kelemahan. Ini adalah kejujuran.
Dan dari kejujuran ini, kita bisa lebih toleran terhadap ketidakpastian, lebih terbuka terhadap bukti baru, dan lebih rendah hati dalam klaim kita.
Penutup: Warisan Hume untuk Kita
David Hume meninggal pada tahun 1776. Tapi "A Treatise of Human Nature"—buku yang menurutnya "lahir mati" karena kurang mendapat perhatian saat publikasi—menjadi salah satu karya filsafat paling berpengaruh sepanjang masa.
Mengapa? Karena Hume jujur tentang keterbatasan kita dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.
Pelajaran untuk Hidup Kita
1. Terima Ketidakpastian
Kita hidup di dunia yang menuntut kepastian. "Apa yang harus saya lakukan?" "Mana yang benar?" "Bagaimana saya bisa tahu?"
Hume mengajarkan: Kita tidak bisa tahu dengan pasti. Dan itu oke.
Yang kita punya adalah probabilitas berdasarkan pengalaman. Itu cukup untuk membuat keputusan dan hidup dengan baik.
Pertanyaan untuk Anda: Di mana Anda menuntut kepastian yang tidak mungkin ada? Bagaimana hidup Anda akan berbeda jika Anda menerima ketidakpastian dengan lebih graceful?
2. Emosi Bukan Musuh Rasio
Budaya kita sering memuliakan "rasionalitas murni" dan merendahkan emosi.
Hume mengajarkan: Emosi adalah sumber motivasi, nilai, dan moralitas. Rasio hanya alat.
Orang yang "terlalu rasional" dan mengabaikan emosi sebenarnya melewatkan komponen paling penting dari pengambilan keputusan.
Pertanyaan untuk Anda: Apakah Anda menghargai emosi Anda sebagai sumber kebijaksaan? Atau melihatnya sebagai sesuatu yang harus "dikalahkan" oleh logika?
3. Identitas Adalah Cerita yang Kita Ceritakan
"Siapa saya?" adalah pertanyaan yang kita semua pergulati.
Hume mengajarkan: Tidak ada "diri" tetap yang bisa ditemukan. Hanya aliran pengalaman.
Tapi kita bisa memilih cerita apa yang kita ceritakan tentang aliran itu. Kita bisa membentuk identitas kita melalui nilai yang kita pilih dan tindakan yang kita ambil.
Pertanyaan untuk Anda: Cerita apa yang Anda ceritakan tentang diri Anda? Apakah cerita itu melayani Anda, atau membatasi Anda?
4. Moralitas adalah Perasaan Bersama
Kita sering mencari aturan moral objektif "di luar sana."
Hume mengajarkan: Moralitas ada dalam perasaan bersama kita sebagai manusia.
Ini bukan relativisme nihilistik. Ini adalah pengakuan bahwa moralitas berakar pada empati dan concern untuk well-being—nilai yang universal di seluruh budaya.
Pertanyaan untuk Anda: Bagaimana Anda bisa mengembangkan empati Anda? Bagaimana perasaan moral Anda bisa membimbing tindakan Anda?
5. Kerendahan Hati adalah Kebijaksanaan
Orang yang paling berbahaya adalah yang paling yakin mereka benar.
Hume mengajarkan: Kita tahu lebih sedikit dari yang kita kira. Dan mengakui ini adalah tanda kebijaksanaan, bukan kelemahan.
Pertanyaan untuk Anda: Di mana Anda terlalu yakin? Di mana Anda bisa lebih humble dalam klaim Anda?
Kata Penutup: Hidup dalam Ketidakpastian dengan Anggun
"A Treatise of Human Nature" adalah buku yang menghancurkan kepastian—tapi menawarkan sesuatu yang lebih berharga: kejujuran.
Hume tidak memberi kita jawaban yang pasti. Dia tidak memberi kita sistem yang sempurna. Dia tidak memberi kita ketenangan palsu.
Apa yang dia beri adalah keberanian untuk hidup dengan ketidakpastian, kebijaksanaan untuk menghargai emosi, dan kerendahan hati untuk mengakui batas pengetahuan kita.
Di dunia yang penuh dengan orang yang mengklaim kepastian absolut—tentang politik, agama, moralitas—Hume mengingatkan kita:
"Semua yang kita 'tahu' adalah taruhan berdasarkan pengalaman masa lalu. Bertaruh dengan bijak, tapi jangan pura-pura itu bukan taruhan."
Jadi pertanyaan terakhir untuk Anda:
Apakah Anda siap untuk hidup dengan jujur tentang ketidakpastian? Apakah Anda siap untuk menghargai emosi Anda sebagai sumber kebijaksanaan? Apakah Anda siap untuk melepaskan ilusi "diri permanen" dan merangkul perubahan?
Jika ya, Anda sudah mulai berjalan di jalan yang Hume tunjukkan lebih dari 280 tahun lalu.
Jalan yang tidak menawarkan kepastian—tapi menawarkan sesuatu yang lebih baik: kejujuran, kerendahan hati, dan kebebasan dari dogma.
Selamat datang di dunia ketidakpastian yang indah.
Tentang Buku Asli
"A Treatise of Human Nature" diterbitkan dalam tiga volume antara 1739-1740 oleh David Hume ketika dia baru berusia 28 tahun.
David Hume (1711-1776) adalah filsuf, sejarawan, dan ekonom Skotlandia yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling penting dalam Pencerahan Skotlandia dan filsafat Barat secara umum.
Buku ini adalah proyek ambisius Hume untuk menciptakan "sains tentang manusia" menggunakan metode eksperimental—mengamati bagaimana manusia sebenarnya berpikir dan bertindak, bukan bagaimana seharusnya secara ideal.
Ironinya, Hume sendiri menganggap buku ini gagal karena kurang mendapat perhatian saat pertama kali diterbitkan. Dia bahkan menyebutnya "lahir mati dari percetakan." Tapi seiring waktu, "Treatise" menjadi salah satu karya filsafat paling dipelajari dan berpengaruh.
Ide-ide Hume mempengaruhi:
● Immanuel Kant (yang dia "bangunkan dari tidur dogmatis")
● Adam Smith (sahabat Hume, bapak ekonomi modern)
● Charles Darwin (tentang nature vs design)
● Filsafat modern tentang kausalitas, identitas, dan moralitas
Untuk pemahaman lengkap, sangat disarankan membaca buku aslinya (atau setidaknya ringkasan yang lebih panjang). Hume menulis dengan jelas untuk zamannya, meskipun bahasa abad ke-18 butuh penyesuaian.
Treatise adalah buku besar (hampir 700 halaman) dan padat. Tapi setiap bagian mengandung ide yang masih relevan dan mengejutkan hari ini.
Sekarang pergilah dan hidup dengan ketidakpastian yang anggun—seperti Hume ajarkan.
"Be a philosopher; but, amidst all your philosophy, be still a man." —David Hume

