Eksperimen yang Terlalu Berhasil
Bayangkan ini: Anda memasang iklan di koran kampus Stanford. Mencari relawan untuk "studi psikologi tentang kehidupan penjara." Bayaran $15 per hari—uang yang lumayan untuk mahasiswa tahun 1971.
24 pemuda mendaftar. Semua diperiksa secara menyeluruh: tes psikologi, wawancara, pemeriksaan kesehatan. Hasilnya? Mereka semua normal. Sehat mental. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada kecenderungan kekerasan. Rata-rata mahasiswa kelas menengah yang baik.
Anda membagi mereka secara acak: 12 menjadi "tahanan," 12 menjadi "sipir." Tidak ada yang spesial tentang pembagian ini. Hanya lemparan koin. Siapa pun bisa menjadi apa pun.
Anda membangun penjara tiruan di basement gedung psikologi Stanford. Sel-sel dengan jeruji. Ruang isolasi. Seragam untuk tahanan. Seragam dan tongkat untuk sipir.
Eksperimen dijadwalkan untuk dua minggu.
Tapi setelah enam hari, Anda harus menghentikannya.
Mengapa?
Karena sipir—mahasiswa normal yang seminggu lalu adalah anak baik—mulai menyiksa tahanan. Memaksa mereka melakukan push-up sampai kelelahan. Membangunkan mereka di tengah malam. Memasukkan mereka ke "lubang" (lemari kecil gelap) untuk hukuman. Merendahkan mereka dengan cara yang semakin sadis.
Dan tahanan? Beberapa mengalami breakdown emosional. Menangis tidak terkendali. Mengalami gangguan psikosomatis. Kehilangan kemampuan berpikir jernih.
Ini bukan lagi eksperimen. Ini menjadi kenyataan yang mengerikan.
Philip Zimbardo—profesor Stanford yang merancang eksperimen—berdiri di luar sel dan menonton transformasi ini dengan horror. Dia sendiri hampir terperangkap dalam peran sebagai "superintendent penjara" dan melupakan tanggung jawabnya sebagai peneliti.
Stanford Prison Experiment menjadi salah satu studi psikologi paling terkenal—dan paling kontroversial—dalam sejarah. Pertanyaan yang ditinggalkannya menghantui kita sampai hari ini:
Apakah kita semua mampu melakukan kejahatan jika ditempatkan dalam situasi yang "tepat"?
Apakah perbedaan antara orang baik dan orang jahat hanya seberapa beruntung kita dalam situasi yang kita hadapi?
Dan yang paling menakutkan: Apakah Anda yakin Anda akan menjadi tahanan yang melawan—bukan sipir yang menyiksa?
Mari kita telusuri jawaban yang mengganggu ini.
Bagian 1: Hari Pertama—Transformasi Dimulai
Penangkapan yang Terlalu Nyata
Pagi hari Minggu yang tenang di Palo Alto. Mahasiswa yang ditunjuk sebagai "tahanan" sedang di rumah mereka, santai, tidak curiga.
Tiba-tiba, mobil polisi berhenti di depan rumah. Polisi keluar. Mengetuk pintu. "Anda ditahan atas tuduhan perampokan bersenjata."
Borgol dipasang. Dibacakan hak Miranda. Dimasukkan ke mobil polisi—dengan tetangga menonton dari jendela.
Ini bukan polisi sungguhan. Ini polisi Palo Alto yang bekerja sama dengan Zimbardo untuk membuat penangkapan terasa nyata. Tapi tahanan tidak tahu itu. Dan bahkan ketika mereka akhirnya tahu ini bagian dari eksperimen, trauma emosional sudah dimulai.
Di "penjara" Stanford, mereka:
● Ditelanjangi dan disemprot dengan desinfektan
● Diberi nomor, bukan nama (Tahanan 8612, Tahanan 819, dst.)
● Diberi seragam smock seperti gaun—tanpa pakaian dalam
● Diberi kaos kaki nilon di kepala (untuk simulasi kepala gundul)
● Diberi rantai di kaki yang tidak bisa dilepas—pengingat konstan bahwa mereka tahanan
Prosedur ini dirancang untuk menghilangkan identitas pribadi—proses yang disebut "deindividuasi."
Dan sipir? Mereka diberi:
● Seragam khaki
● Tongkat kayu (hanya simbolik, tidak untuk memukul)
● Kacamata hitam reflektif (sehingga tahanan tidak bisa melihat mata mereka)
Kacamata hitam itu ternyata sangat penting. Ketika Anda tidak bisa melihat mata seseorang—ketika Anda tidak bisa melihat kemanusiaan mereka—lebih mudah untuk memperlakukan mereka dengan kejam.
Aturan Sederhana, Konsekuensi Kompleks
Zimbardo memberikan instruksi minimal kepada sipir: "Jaga ketertiban. Jangan gunakan kekerasan fisik. Tapi lakukan apa yang perlu untuk menjaga kontrol."
Tidak ada skrip. Tidak ada training tentang "bagaimana menjadi sipir jahat." Mereka dibiarkan mengisi peran itu sendiri.
Dan mereka mengisinya dengan cepat.
Hari pertama relatif tenang. Sipir canggung dengan peran mereka. Tahanan menganggap ini sebagai permainan—bahkan ada yang tertawa.
Tapi di Hari Kedua, semuanya berubah.
Bagian 2: Pemberontakan dan Pembalasan
Tahanan Memberontak
Pagi Hari Kedua, tahanan memutuskan untuk memberontak. Mereka merobek nomor dari seragam mereka. Membarikade diri di sel dengan kasur. Meneriaki sipir dengan kata-kata kasar.
Ini adalah momen kritis. Bagaimana sipir akan merespons?
Zimbardo, sebagai "superintendent," tidak memberikan instruksi. Dia ingin melihat apa yang akan terjadi secara alami.
Apa yang terjadi mengejutkan semua orang.
Sipir Mengambil Alih
Sipir, tanpa konsultasi dengan Zimbardo, mengembangkan strategi mereka sendiri:
1. Gunakan pemadam kebakaran untuk memaksa tahanan keluar dari sel. Mereka menyemprotkan CO2 dingin ke dalam sel sampai tahanan menyerah.
2. Pisahkan pemberontak. Tahanan yang paling "bermasalah" diisolasi.
3. Ciptakan "sel privilege." Beberapa tahanan yang tidak memberontak diberi perlakuan istimewa—makanan lebih baik, boleh sikat gigi, dll. Tujuannya? Menciptakan ketidakpercayaan di antara tahanan. Membuat mereka curiga bahwa beberapa tahanan adalah "informan."
Ini adalah taktik psikologis yang canggih—dan tidak ada yang mengajari mereka ini.
Yang lebih mengejutkan: ini berhasil. Tahanan mulai saling curiga. Solidaritas mereka hancur. Dalam hitungan jam, pemberontakan berakhir.
Dan sesuatu yang gelap mulai muncul dalam diri sipir: perasaan kekuasaan.
Bagian 3: Transformasi—Dari Mahasiswa Menjadi Sadis
"Good Guard, Bad Guard, Tough but Fair Guard"
Zimbardo mengamati bahwa sipir jatuh ke dalam tiga kategori:
1. Sipir "Baik" (sepertiga) Mereka melakukan minimum yang diperlukan. Tidak pernah kejam. Beberapa bahkan diam-diam membantu tahanan dengan memberi mereka rokok atau informasi.
2. Sipir "Tough but Fair" (sepertiga) Mereka ketat pada aturan tapi tidak sadis. Impersonal. Profesional.
3. Sipir "Jahat" (sepertiga) Mereka kreatif dalam menemukan cara baru untuk merendahkan dan menyiksa tahanan—meskipun tidak ada yang menyuruh mereka melakukannya.
Yang paling mengganggu? Sipir "baik" tidak pernah mengintervensi sipir "jahat."
Mereka melihat penyalahgunaan terjadi. Mereka tidak nyaman dengannya. Tapi mereka tidak menghentikannya. Mengapa?
Karena diffusion of responsibility—"Itu bukan tugas saya. Saya tidak melakukannya. Saya hanya mengikuti perintah."
Kedengarannya familiar? Ini adalah pertahanan yang sama digunakan oleh Nazi di Nuremberg Trials.
Tahanan 8612—Breakdown Pertama
36 jam ke dalam eksperimen, Tahanan 8612 (Doug Korpi, mahasiswa 22 tahun) mulai menunjukkan tanda-tanda distress parah.
Dia menangis tidak terkendali. Berteriak. Memukul-mukul dinding. "Saya tidak tahan lagi! Saya harus keluar dari sini!"
Zimbardo dan tim awalnya skeptis. Apakah ini akting? Apakah dia mencoba keluar dari eksperimen?
Tapi ketika mereka menontonnya di kamera—tubuhnya gemetar, air mata mengalir—mereka menyadari: ini nyata.
Doug dibebaskan.
Tapi inilah yang mengejutkan: beberapa tahanan lain tidak percaya dia benar-benar pergi. Mereka pikir ini trik—bahwa Doug akan kembali nanti. Paranoia sudah mengakar.
Dan bagi beberapa sipir? Breakdown Doug adalah bukti kelemahan. Bukan bukti bahwa mereka terlalu jauh.
Bagian 4: Dehumanisasi—Ketika Orang Berhenti Menjadi Orang
Dari Nama ke Nomor
Salah satu teknik paling efektif untuk dehumanisasi adalah menghilangkan nama.
Tahanan tidak lagi Doug atau John atau Steve. Mereka adalah 8612, 819, 416.
Sipir tidak lagi Tom atau Mike. Mereka adalah "Mr. Correctional Officer."
Ketika Anda menghilangkan nama, Anda menghilangkan individualitas. Orang menjadi objek. Angka. Hal, bukan manusia.
Dan ketika seseorang bukan lagi manusia di mata Anda, sangat mudah untuk memperlakukan mereka dengan kejam.
Ritual Degradasi
Sipir mengembangkan ritual yang dirancang untuk merendahkan:
1. Hitung Nomor di Tengah Malam Tahanan dibangunkan jam 2 pagi untuk hitung nomor. Kadang berlangsung berjam-jam. Tahanan harus berdiri sempurna, menyebutkan nomor mereka, melakukan push-up atas perintah.
Tujuannya? Bukan untuk menghitung. Tujuannya adalah untuk memecah resistensi mental mereka melalui kelelahan dan penghinaan.
2. Toilet sebagai Privilege Pergi ke toilet menjadi hak istimewa yang harus diminta—dengan sopan, dengan merendahkan diri. Kadang permintaan ditolak. Tahanan dipaksa menggunakan ember di sel mereka.
3. Pembersihan Toilet dengan Tangan Kosong Beberapa sipir memaksa tahanan membersihkan toilet dengan tangan kosong—bahkan setelah tahanan lain sengaja mengotorinya.
Mengapa melakukan ini?
Bukan karena Zimbardo menyuruh. Zimbardo tidak pernah memberikan instruksi spesifik untuk penyalahgunaan ini.
Sipir melakukannya karena peran mereka memberikan kekuasaan—dan kekuasaan tanpa akuntabilitas mengundang penyalahgunaan.
Bagian 5: Tahanan 819—"Saya Bukan Nomor Buruk"
Breakdown yang Menghancurkan
Lima hari ke dalam eksperimen, Tahanan 819 (Stewart) mengalami breakdown emosional total.
Dia menangis di ruang isolasi, tubuhnya bergetar. Zimbardo masuk untuk berbicara dengannya.
"Stewart, kamu tidak harus melanjutkan. Kamu bisa keluar sekarang."
Tapi Stewart terus menangis. "Saya tidak bisa pergi. Mereka akan berpikir saya lemah. Mereka akan mengolok-olok saya."
Zimbardo bingung. "Siapa 'mereka'? Ini hanya eksperimen. Kamu bisa pergi kapan saja."
Tapi Stewart sudah tidak bisa membedakan eksperimen dari kenyataan.
Zimbardo mencoba pendekatan lain. Dia membawa Stewart ke ruangan lain—jauh dari penjara.
"Dengar, kamu bukan 819. Kamu Stewart. Dan kamu tidak harus kembali ke sana."
Stewart tiba-tiba berhenti menangis. Dia menatap Zimbardo dengan mata lebar.
"Saya... saya bukan 819?"
"Tidak. Kamu Stewart. Dan kamu bebas pergi."
Stewart akhirnya mengangguk. Dia dibebaskan.
Tapi momen ini mengungkap sesuatu yang menakutkan: dalam lima hari, seorang mahasiswa normal Stanford telah kehilangan identitasnya.
Dia tidak lagi melihat dirinya sebagai Stewart, mahasiswa, orang bebas. Dia melihat dirinya sebagai Tahanan 819—nomor buruk yang lemah.
Bagian 6: Zimbardo Terperangkap—Ketika Peneliti Lupa Dirinya
Christina Maslach—Suara Kewarasan
Pada Hari Kelima, Zimbardo mengundang Christina Maslach, seorang mahasiswa doktoral psikologi (yang kemudian menjadi istrinya), untuk mengamati eksperimen.
Zimbardo bangga dengan penelitiannya. Dia sudah menunjukkan eksperimen ini kepada lebih dari 50 pengamat—teman sejawat, mantan tahanan, mahasiswa. Tidak ada yang keberatan secara moral.
Christina turun ke basement. Melihat tahanan dengan mata tertutup, berjalan berantai, diperlakukan seperti ternak oleh sipir.
Dia naik kembali, wajahnya pucat.
"Apa yang kamu lakukan pada anak-anak ini?" teriaknya pada Zimbardo. "Ini mengerikan! Kamu harus menghentikan ini!"
Zimbardo defensif. "Ini eksperimen penting! Kita sedang belajar tentang—"
"Kamu bukan lagi peneliti!" potong Christina. "Kamu sudah menjadi superintendent penjara! Kamu tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan matamu!"
Kata-katanya menohok.
Zimbardo menyadari Christina benar. Dia sendiri terperangkap dalam peran. Dia berpikir sebagai superintendent yang perlu menjaga penjara tetap berjalan—bukan sebagai ilmuwan yang bertanggung jawab atas kesejahteraan subjeknya.
Bahkan direktur eksperimen tidak kebal terhadap kekuatan situasi.
Eksperimen Dihentikan
Keesokan harinya—Hari Keenam—Zimbardo menghentikan eksperimen. Delapan hari lebih cepat dari jadwal.
Tahanan dibebaskan. Sipir melepas seragam. Semua orang dibawa kembali untuk debriefing.
Beberapa sipir kecewa. "Mengapa berhenti sekarang? Saya baru mulai menikmatinya."
Beberapa tahanan lega sampai menangis. "Saya pikir saya tidak akan pernah keluar."
Dan semua orang—peneliti, sipir, tahanan—menghadapi pertanyaan yang sulit:
Bagaimana ini bisa terjadi begitu cepat?
Bagian 7: Pelajaran—Situasi vs Karakter
The Fundamental Attribution Error
Kita cenderung menjelaskan perilaku buruk orang lain dengan karakter mereka ("Dia orang jahat") dan perilaku buruk kita sendiri dengan situasi ("Saya dipaksa oleh keadaan").
Ini disebut Fundamental Attribution Error.
Tapi Stanford Prison Experiment membuktikan:
● Sipir tidak dipilih karena mereka sadis—mereka dipilih secara acak
● Tahanan tidak lemah secara karakter—mereka dipilih karena stabil mental
● Situasi menciptakan perilaku, bukan sebaliknya
Artinya? Kita semua lebih rentan daripada yang kita kira.
Jika Anda ditempatkan dalam situasi dengan:
● Kekuasaan tanpa akuntabilitas
● Dehumanisasi kelompok lain
● Tekanan kelompok untuk menyesuaikan diri
● Otoritas yang melegitimasi tindakan Anda
Anda mungkin juga menjadi sipir jahat.
Ini bukan untuk mengampuni kejahatan. Ini untuk memahami bagaimana kejahatan terjadi—sehingga kita bisa mencegahnya.
Abu Ghraib—Stanford di Dunia Nyata
Tahun 2004, foto-foto dari penjara Abu Ghraib di Irak muncul. Tentara Amerika menyiksa tahanan Irak: memaksa mereka telanjang, menumpuk mereka dalam piramida telanjang, mengancam dengan anjing, melakukan kekerasan seksual.
Ketika skandal pecah, respons pemerintah cepat: "Ini adalah beberapa apel busuk. Bukan masalah sistemik."
Tapi Zimbardo, yang dipanggil sebagai ahli untuk membela salah satu tentara, melihat pola yang familiar:
● Sipir muda tanpa training yang memadai ✓
● Kekuasaan tanpa pengawasan ✓
● Dehumanisasi "musuh" ✓
● Tekanan untuk "mempersiapkan" tahanan untuk interogasi ✓
● Otoritas yang implisit menyetujui penyalahgunaan ✓
Ini bukan apel busuk. Ini adalah barrel busuk—sistem yang mengubah apel baik menjadi busuk.
Tentara di Abu Ghraib bukan monster sejak lahir. Mereka adalah anak-anak normal yang ditempatkan dalam situasi yang mustahil—dan sistem gagal melindungi mereka (dan korban mereka) dari konsekuensinya.
Bagian 8: Melawan Lucifer Effect—Menjadi Pahlawan
10 Langkah untuk Melawan Pengaruh Situasional
Zimbardo tidak ingin bukunya menjadi cerita pesimis tentang "kita semua jahat." Dia ingin memberikan harapan—dan strategi.
Berikut 10 langkahnya untuk melawan pengaruh situasional buruk:
1. Akui Kesalahan "Saya salah" adalah kalimat paling kuat untuk mempertahankan integritas. Jangan cari pembenaran.
2. Perhatikan Saat Ini Jangan hidup di autopilot. Sadari apa yang terjadi di sekitar Anda—dan peran Anda di dalamnya.
3. Bertanggung Jawab Pribadi Jangan sembunyikan di balik "saya hanya mengikuti perintah" atau "semua orang melakukannya."
4. Tegaskan Identitas Pribadi Ketika tekanan untuk menyesuaikan diri datang, ingatkan diri Anda tentang nilai-nilai pribadi Anda yang unik.
5. Hormati Otoritas yang Adil, Lawan yang Tidak Adil Tidak semua otoritas layak dihormati. Belajar membedakan.
6. Ingin Diterima Kelompok—Tapi Tidak dengan Harga Berapa Pun Kebutuhan untuk diterima adalah manusiawi. Tapi ada garis yang tidak boleh dilintasi.
7. Waspada terhadap Framing Bagaimana sesuatu dipresentasikan mempengaruhi bagaimana Anda melihatnya. "Jaminan ditingkatkan" vs "Kebebasan dikurangi"—sama, tapi terdengar berbeda.
8. Seimbangkan Perspektif Waktu Jangan hanya fokus pada sekarang. Pikirkan konsekuensi jangka panjang.
9. Jangan Korbankan Kebebasan Pribadi untuk Ilusi Keamanan Ini adalah jebakan klasik pemerintah otoriter.
10. Lawan Ketidakadilan Sistem Individu yang baik dalam sistem buruk akan gagal. Ubah sistemnya.
Heroic Imagination Project
Zimbardo mendirikan Heroic Imagination Project—program untuk melatih orang, terutama anak muda, untuk menjadi "hero in waiting."
Ide dasarnya: Kepahlawanan bukan tentang karakter super. Kepahlawanan adalah pilihan yang bisa dilatih.
Hero adalah orang yang:
● Melihat ketidakadilan dan bertindak
● Menolong orang asing yang membutuhkan
● Melawan tekanan kelompok untuk melakukan yang benar
● Melaporkan korupsi meskipun berisiko
Ini bukan tentang tindakan dramatis seperti menyelamatkan orang dari gedung terbakar. Kebanyakan kepahlawanan adalah keberanian kecil sehari-hari.
Membela teman yang di-bully. Melaporkan penyalahgunaan. Mengatakan "tidak" ketika semua orang mengatakan "ya."
Dan itu bisa dilatih.
Penutup: Pilihan di Persimpangan
Di akhir buku, Zimbardo mengajak kita membayangkan kita di persimpangan:
Satu jalan menuju kegelapan—di mana kita menyerah pada tekanan situasional, kehilangan integritas, menjadi bagian dari kejahatan.
Satu jalan menuju cahaya—di mana kita melawan, mempertahankan nilai-nilai, menjadi hero, meskipun sulit.
Jalan mana yang akan Anda ambil?
Yang menakutkan: Anda tidak akan tahu sampai Anda berada di persimpangan itu.
Stanford Prison Experiment menunjukkan bahwa:
● Orang baik bisa melakukan hal buruk
● Situasi lebih kuat daripada karakter
● Transformasi dari baik ke jahat bisa terjadi dalam hitungan hari—bahkan jam
Tapi itu juga menunjukkan:
● Kita tidak harus pasrah pada pengaruh situasional
● Kita bisa mempersiapkan diri untuk melawan
● Kita bisa membangun "antibodi" moral melalui latihan dan kesadaran
Pertanyaan untuk Anda
Philip Zimbardo menulis:
"Saya telah menyaksikan transformasi dari pemuda baik menjadi pelaku kejahatan. Saya telah melihat bagaimana situasi kuat dapat menimpa disposisi individu yang baik. Dan saya telah belajar bahwa kita semua rentan—tidak ada yang kebal."
Sekarang pertanyaan untuk Anda:
1. Situasi apa dalam hidup Anda yang mungkin mendorong Anda untuk berkompromi dengan nilai-nilai? Tekanan di tempat kerja? Tekanan kelompok? Keinginan untuk sukses?
2. Apakah Anda pernah menjadi "sipir baik" yang melihat ketidakadilan tapi tidak bertindak? Kapan terakhir kali Anda melihat sesuatu yang salah tapi memilih diam?
3. Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk menjadi hero di momen kritis? Apakah Anda punya prinsip yang jelas? Apakah Anda berlatih melawan tekanan kelompok?
4. Dalam sistem apa Anda berpartisipasi yang mungkin menyebabkan harm pada orang lain? Pekerjaan Anda? Konsumsi Anda? Pilihan politik Anda?
Pelajaran Terbesar
1. Situasi Lebih Kuat dari yang Anda Kira Jangan terlalu percaya diri pada karakter Anda. Dalam situasi yang salah, Anda bisa menjadi orang yang tidak Anda kenali.
2. Kejahatan Dimulai dari Hal Kecil Tidak ada yang bangun suatu hari dan memutuskan menjadi monster. Itu dimulai dengan kompromi kecil, pembenaran kecil, langkah kecil.
3. Dehumanisasi adalah Jalan Menuju Atrocity Begitu Anda berhenti melihat seseorang sebagai manusia—sebagai "mereka," bukan "kita"—semua kejahatan menjadi mungkin.
4. Diam adalah Pilihan Sipir "baik" yang tidak menghentikan sipir "jahat" sama bersalahnya. Dalam menghadapi ketidakadilan, netralitas adalah memilih pihak penindas.
5. Sistem Harus Diubah Melatih individu untuk menjadi baik tidak cukup jika sistem mendorong mereka untuk berbuat jahat. Ubah sistemnya.
6. Anda Bisa Memilih Menjadi Hero Ini bukan tentang keberanian super. Ini tentang keputusan kecil setiap hari untuk melakukan yang benar—meskipun sulit.
Tentang Buku Asli
"The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil" diterbitkan tahun 2007 oleh Philip Zimbardo.
Philip Zimbardo adalah professor emeritus psikologi di Stanford University dan salah satu psikolog paling berpengaruh di abad ke-20. Selain Stanford Prison Experiment, dia telah menulis lebih dari 50 buku dan ratusan artikel ilmiah.
Buku ini adalah analisis mendalam—lebih dari 500 halaman—tentang eksperimen yang berlangsung hanya 6 hari tapi menggema selama 50+ tahun.
Zimbardo tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi mengapa itu terjadi—dengan merujuk pada studi psikologi sosial, sejarah (Holocaust, Rwanda, My Lai), dan kasus kontemporer (Abu Ghraib).
Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas perilaku manusia dan kekuatan situasi, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—buku lengkap memberikan detail mengejutkan, data ilmiah, dan wawasan yang lebih dalam.
Buku ini akan mengubah cara Anda melihat kejahatan—dan diri Anda sendiri.
Akhir kata:
Lucifer adalah malaikat yang jatuh. Dia tidak diciptakan jahat—dia menjadi jahat.
Dan itulah pelajaran mengerikan sekaligus penuh harapan dari buku ini:
Kita semua bisa jatuh. Tapi kita juga semua bisa memilih untuk berdiri.
Pilihan ada di tangan Anda.
Setiap hari. Setiap momen. Setiap situasi.
Siapa yang akan Anda pilih untuk menjadi hari ini?

