Raising A Happier Mother

Anna Mathur


Pertanyaan yang Jarang Ditanyakan 

Sudah berapa lama sejak seseorang bertanya kepada Anda—dengan sungguh-sungguh: "Bagaimana kabar Anda?" 

Bukan "Bagaimana kabar anak-anak?" Bukan "Apakah si kecil sudah makan?" Bukan "Sudah tidur belum malamnya?" 

Tapi Anda. Bagaimana kabar Anda

Dan lebih penting lagi: sudah berapa lama sejak Anda bertanya pada diri sendiri? 

Bayangkan pagi Anda hari ini. Anda bangun—mungkin karena alarm, mungkin karena tangisan bayi, mungkin karena anak yang sudah berdiri di samping tempat tidur meminta sarapan. 

Anda belum sempat menyentuh ponsel. Belum sempat ke kamar mandi. Belum sempat menarik napas panjang. 

Tapi Anda sudah bergerak. Menyiapkan sarapan. Mengganti popok. Mencari kaus kaki yang hilang. Menenangkan pertengkaran. Mengecek tas sekolah. Membersihkan tumpahan susu. 

Jam 9 pagi, Anda sudah melakukan pekerjaan yang setara dengan shift penuh. Tapi tidak ada yang menghitung. Tidak ada yang bertepuk tangan. Bahkan Anda sendiri tidak menganggapnya sebagai "pekerjaan." 

Lalu datang perasaan itu. 

Guilt. Karena Anda tadi berteriak pada anak. Karena sarapan bukan menu organik yang Anda lihat di Instagram. Karena Anda lelah—padahal "ibu yang baik" seharusnya tidak lelah. 

Inadequacy. Perasaan tidak cukup baik. Tidak sabar seperti ibu lain. Tidak kreatif. Tidak terorganisir. Tidak... cukup. 

Kelelahan. Bukan hanya fisik. Tapi kelelahan emosional yang dalam—perasaan bahwa Anda sudah memberi segalanya tapi masih tidak cukup.

Jika Anda merasakan ini, Anda tidak sendiri. 

Anna Mathur, psikoterapis dan ibu dari tiga anak, menulis "Raising A Happier Mother" setelah menyadari satu kebenaran yang menggelisahkan: Kita sangat fokus membesarkan anak-anak yang bahagia sampai kita lupa membesarkan ibu yang bahagia. 

Buku ini bukan tentang menjadi ibu yang lebih baik. Ini tentang menjadi Anda yang lebih bahagia—karena ternyata, keduanya tidak bisa dipisahkan. 

Mari kita mulai perjalanan ini. Bukan untuk menjadi sempurna. Tapi untuk menjadi lebih baik pada diri sendiri.

 


Bagian 1: Izin untuk Tidak Baik-Baik Saja 

Mitos Ibu yang Selalu Kuat 

Ada narasi yang kita semua dengar sejak kecil: "Ibu adalah segalanya. Ibu kuat. Ibu selalu bisa." 

Di film, di buku, di media sosial—ibu digambarkan sebagai makhluk super yang tidak pernah lelah, tidak pernah frustrasi, tidak pernah menyesal. 

Tapi inilah kenyataannya: Menjadi ibu itu sulit. Sangat sulit. 

Dan sangat normal untuk tidak baik-baik saja. 

Anna berbagi pengalamannya: Suatu pagi, dengan bayi di tangan, cucian menggunung, dan anak balita yang merengek, dia duduk di lantai dapur dan menangis. Bukan tangis manja. Tapi tangis kelelahan total. 

"Saya merasa gagal," tulisnya. "Karena saya pikir ibu yang baik tidak merasa seperti ini."

Tapi ternyata, merasa overwhelmed bukan tanda kegagalan. Itu tanda kemanusiaan.

Permission Slip—Izin untuk Berjuang 

Anna memperkenalkan konsep "permission slip"—memberikan izin pada diri sendiri untuk: 

● Merasa lelah meskipun "hanya" di rumah 

● Tidak menikmati setiap momen motherhood (dan itu okay!) 

● Merindukan hidup sebelum punya anak tanpa berarti Anda tidak mencintai mereka

Meminta bantuan tanpa merasa gagal 

Tidak sempurna dan tetap menjadi ibu yang cukup baik 

Izin pertama yang perlu Anda berikan pada diri sendiri: "Saya boleh berjuang. Dan itu tidak membuat saya ibu yang buruk."

 


Bagian 2: Good Enough Mother—Melepaskan Standar Sempurna 

Standar yang Tidak Mungkin Dicapai 

Coba bayangkan ibu "sempurna" versi media sosial: 

● Bangun pagi dengan makeup dan rambut rapi 

● Membuat sarapan bergizi dengan presentasi cantik 

● Bermain dengan anak tanpa melirik ponsel 

● Rumah selalu rapi dan bersih 

● Punya waktu untuk olahraga dan self-care 

● Selalu sabar, tidak pernah berteriak 

● Punya karir yang sukses 

● Hubungan romantis dengan pasangan tetap hot 

Sementara Anda? Anda bangga jika berhasil mandi hari ini. 

Inilah masalahnya: Standar sempurna itu bohong. Tidak ada yang benar-benar hidup seperti itu. 

Konsep "Good Enough Mother" 

Psikolog Donald Winnicott menciptakan istilah "good enough mother" pada tahun 1950-an. Bukan ibu yang sempurna. Tapi ibu yang cukup baik—yang memberikan cinta, keamanan, dan kehadiran, meskipun tidak sempurna. 

Anna menjelaskan: Anak-anak tidak membutuhkan ibu sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang nyata. 

Ketika Anda membuat kesalahan lalu meminta maaf, Anda mengajarkan tanggung jawab. Ketika Anda menunjukkan kelelahan dan mengambil istirahat, Anda mengajarkan self-care. Ketika Anda jujur tentang perasaan Anda, Anda mengajarkan kecerdasan emosional. 

Imperfeksi Anda bukan bug—itu fitur yang mengajarkan anak-anak bahwa manusia itu tidak sempurna. Dan itu okay. 

Melepaskan Comparison (Perbandingan) 

Media sosial memperburuk semuanya. Anda melihat snapshot hidup orang lain—momen terbaik mereka—dan membandingkannya dengan seluruh hidup Anda, termasuk momen terburuk. 

Anna menyarankan: Unfollow accounts yang membuat Anda merasa tidak cukup baik.

Jika melihat ibu dengan rumah selalu rapi membuat Anda merasa gagal, unfollow. Jika melihat ibu dengan tubuh langsung kembali ramping setelah melahirkan membuat Anda insecure, unfollow. 

Kurasi feed Anda untuk kesehatan mental Anda.

 


Bagian 3: Reparenting Yourself—Merawat Diri Seperti Merawat Anak 

Standar Ganda yang Kita Terapkan 

Perhatikan ini: 

Ketika anak Anda lelah, Anda bilang: "Kamu perlu istirahat, sayang." Ketika Anda lelah, Anda bilang: "Aku harus terus, ada banyak yang harus dilakukan." 

Ketika anak Anda lapar, Anda langsung memberinya makan. Ketika Anda lapar, Anda skip makan karena "tidak sempat." 

Ketika anak Anda sakit, Anda membatalkan semua rencana agar dia istirahat. Ketika Anda sakit, Anda tetap bekerja karena "tidak ada yang akan melakukannya." 

Ketika anak Anda membuat kesalahan, Anda bilang: "Tidak apa-apa, kamu sedang belajar." Ketika Anda membuat kesalahan, Anda menyalahkan diri sendiri tanpa ampun. 

Lihat pola ini? Anda memperlakukan diri sendiri jauh lebih buruk daripada cara Anda memperlakukan anak Anda. 

Self-Compassion—Belas Kasih pada Diri Sendiri 

Anna memperkenalkan konsep reparenting yourself—merawat diri sendiri dengan kelembutan yang sama seperti Anda merawat anak. 

Tiga elemen self-compassion: 

1. Self-kindness - Berbicara pada diri sendiri dengan lembut, bukan dengan kritik kejam

2. Common humanity - Mengakui bahwa semua orang berjuang, Anda tidak sendirian

3. Mindfulness - Mengakui perasaan Anda tanpa menghakimi atau mengabaikannya 

Praktiknya: Lain kali Anda membuat kesalahan (misalnya berteriak pada anak), alih-alih berkata "Aku ibu yang buruk," coba: 

"Aku manusia. Aku lelah. Aku melakukan yang terbaik. Besok aku bisa melakukan lebih baik." 

Perbedaannya terlihat kecil. Tapi dampaknya besar.

 


Bagian 4: Melepaskan Guilt—Rasa Bersalah yang Tidak Perlu 

Daftar Guilt yang Tidak Ada Habisnya 

Ibu merasa bersalah tentang segalanya

● Kembali bekerja (meninggalkan anak) 

● Tidak bekerja (tidak berkontribusi finansial) 

● Memberikan ASI eksklusif (terlalu lelah) 

● Memberikan susu formula (tidak "natural") 

● Terlalu protektif (anak jadi manja) 

● Tidak cukup protektif (anak terluka) 

● Screen time (merusak otak anak) 

● Tidak ada screen time (anak ketinggalan) 

Apa pun yang Anda lakukan, ada suara yang mengatakan Anda salah.

Membedakan Guilt yang Berguna dan yang Toxic 

Anna menjelaskan: Ada dua jenis rasa bersalah. 

Guilt yang berguna: Sinyal bahwa Anda melanggar nilai Anda sendiri dan perlu berubah. Contoh: Anda berteriak pada anak karena frustrasi—Anda merasa bersalah, lalu meminta maaf dan mencari cara lebih baik mengelola emosi. 

Guilt yang toxic: Perasaan bersalah karena standar eksternal yang tidak realistis atau tidak penting. Contoh: Anda merasa bersalah karena memberikan makanan frozen untuk makan malam, bukan masakan rumah—padahal anak kenyang dan bahagia. 

Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah rasa bersalah ini mendorong saya untuk bertumbuh, atau hanya menyiksa saya tanpa alasan?" 

Jika yang kedua, lepaskan

Permission to Let Go 

Anda tidak bisa menjadi segala-galanya untuk semua orang setiap saat.

Anda boleh: 

● Menutup pintu kamar mandi dan tidak diganggu selama 5 menit 

● Mengatakan "tidak" pada playdate karena Anda butuh istirahat 

● Memberikan tablet pada anak agar Anda bisa memasak atau sekadar duduk

● Tidak hadir di setiap acara sekolah

● Memilih diri sendiri kadang-kadang tanpa merasa egois 

Prioritas Anda adalah tetap waras dan sehat—karena anak membutuhkan ibu yang sehat, bukan ibu yang sempurna.

 


Bagian 5: Self-Care yang Realistis—Bukan Spa Days

Mitos Self-Care 

Ketika orang bilang "self-care," yang terbayang adalah: 

● Spa days 

● Weekend getaway 

● Yoga retreat 

● Bubble bath dengan lilin aromaterapi 

Sementara kenyataan Anda: Anda bahkan tidak punya waktu untuk pipis sendirian. 

Anna mendobrak mitos ini: Self-care sejati bukan tentang luxury. Ini tentang memenuhi kebutuhan dasar Anda. 

Hirarki Kebutuhan Ibu 

Seperti piramida Maslow, tapi untuk ibu: 

Level 1 - Kebutuhan Fisik Dasar: 

● Makan tiga kali sehari (bukan sisa makanan anak) 

● Tidur yang cukup (atau setidaknya istirahat) 

● Mandi dan kebersihan diri 

● Ke toilet ketika perlu (bukan menahan) 

● Minum air yang cukup 

Level 2 - Keamanan Emosional: 

● Waktu sebentar tanpa tuntutan (bahkan hanya 10 menit) 

● Ruang untuk merasakan emosi tanpa harus langsung "fix it" 

● Dukungan dari orang lain 

Level 3 - Koneksi: 

● Percakapan dewasa dengan teman atau pasangan 

● Merasa didengar dan dipahami 

● Tidak selalu menjadi "giver," kadang menjadi "receiver" 

Level 4 - Identitas: 

● Mengingat siapa Anda di luar menjadi ibu 

● Hobi atau minat yang tidak ada hubungannya dengan anak 

● Pekerjaan atau proyek yang memberi Anda purpose

Kebanyakan ibu terjebak di Level 1—bahkan tidak memenuhi kebutuhan fisik dasar—sambil merasa bersalah karena tidak "self-care" dengan yoga retreat. 

Mulai dari Level 1. Master itu dulu. Sisanya bisa menyusul. 

Micro Moments of Self-Care 

Anna menawarkan konsep yang realistis: micro moments—momen kecil sepanjang hari yang mengisi ulang baterai Anda. 

Contoh: 

5 menit duduk dengan kopi hangat sebelum semua orang bangun 

3 napas dalam ketika merasa overwhelmed 

Playlist lagu favorit saat mengemudi sendirian 

● Pesan singkat ke teman yang memahami 

Tidak langsung mengangkat ponsel ketika anak tidur siang—duduk dalam keheningan

Ini bukan "enough." Tapi ini adalah something. Dan something lebih baik dari nothing.

 


Bagian 6: Identitas di Luar Menjadi Ibu 

"Siapa Saya Sekarang?" 

Salah satu krisis terbesar motherhood adalah kehilangan identitas. 

Dulu Anda adalah [nama Anda]—dengan minat, karir, teman, rutinitas sendiri. Sekarang Anda adalah "Mama si [nama anak]." 

Di percakapan, orang bertanya tentang anak. Di pesta, Anda berbicara tentang anak. Di pikiran Anda sendiri, hampir semua tentang anak. 

Dan Anda mulai lupa siapa Anda di luar peran ini. 

Anna menulis dengan jujur: "Ada malam ketika saya duduk sendirian dan menyadari—saya tidak tahu apa yang saya suka lagi. Tidak ingat kapan terakhir kali saya melakukan sesuatu hanya untuk saya." 

Ini bukan ungrateful. Ini bukan berarti Anda tidak mencintai anak. Ini adalah grief—berduka untuk versi lama diri Anda. 

Menemukan Kembali Diri Sendiri 

Anda tidak perlu "menemukan diri sendiri" di India atau Bali. Anda bisa mulai dengan pertanyaan sederhana: 

● Apa yang dulu saya nikmati sebelum punya anak? 

● Kapan terakhir kali saya merasa seperti "diri sendiri"? 

● Jika saya punya satu jam sendirian tanpa rasa bersalah, apa yang ingin saya lakukan? 

Lalu, lakukan itu—bahkan dalam versi micro. 

Dulu suka membaca? Bacalah 5 halaman sebelum tidur. Dulu suka menggambar? Corat-coret 10 menit dengan pensil. Dulu suka musik? Dengarkan album favorit saat anak tidur siang. 

Anda tidak perlu mendedikasikan hidup untuk hobi. Tapi Anda perlu mengingat bahwa Anda lebih dari sekadar ibu.

 


Bagian 7: Hubungan dengan Pasangan—Co-Parenting yang Sehat 

Beban Mental yang Tidak Terlihat 

Ini skenario klasik: 

Pasangan Anda bilang: "Aku sudah bantu kok! Aku ganti popok, aku mandiin anak."

Dan Anda kesal. Karena dia "membantu"—seolah ini bukan tanggung jawabnya. 

Tapi lebih dari itu: dia tidak tahu bahwa stok popok hampir habis. Tidak ingat jadwal vaksin anak. Tidak memikirkan apakah baju yang dipakai anak sudah sesuai cuaca. Tidak khawatir apakah anak sudah makan cukup sayur hari ini. 

Ini disebut beban mental—pekerjaan tidak terlihat dari mengingat, merencanakan, mengkhawatirkan, mengorganisir. 

Dan hampir selalu, ini jatuh pada ibu. 

Komunikasi yang Jujur 

Anna menekankan: Pasangan Anda tidak bisa membaca pikiran. 

Jika Anda kesal karena dia tidak "tahu" bahwa Anda butuh bantuan, ingat: dia mungkin benar-benar tidak tahu. 

Komunikasi yang efektif: 

Buruk: "Kamu tidak pernah membantu! Aku harus melakukan semuanya sendiri!" 

Baik: "Aku merasa kewalahan. Aku butuh bantuan dengan [spesifik]. Bisakah kamu [spesifik]?" 

Buruk: Diam-diam marah dan berharap dia mengerti 

Baik: "Aku butuh 30 menit sendirian setelah anak-anak tidur. Bisakah kamu handle semuanya sampai jam 8?" 

Spesifik. Jelas. Tanpa asumsi. 

Anda Satu Tim—Bukan Kompetisi 

Kadang kita jatuh ke pola "siapa yang paling lelah," "siapa yang lebih banyak berkorban."

Tapi kelelahan bukan kompetisi. 

Anna menyarankan: Perlakukan parenting sebagai proyek bersama, bukan dua orang yang bekerja sendiri-sendiri. 

Artinya: komunikasi terbuka, distribusi tugas yang adil (tidak harus 50-50 setiap hari, tapi balanced dalam jangka panjang), dan saling mendukung tanpa menyalahkan.

 


Bagian 8: Mencari Bantuan—Anda Tidak Harus Sendirian

"Aku Harus Bisa Sendiri" 

Ada narasi berbahaya: ibu yang baik bisa menangani semuanya sendiri.

Ini bohong. 

Penelitian antropologi menunjukkan: secara historis, ibu tidak pernah membesarkan anak sendirian. Ada nenek, bibi, tetangga, komunitas. "It takes a village" bukan sekadar pepatah—itu kenyataan evolusioner. 

Tapi sekarang? Banyak ibu terisolasi. Jauh dari keluarga besar. Tidak kenal tetangga. Pasangan bekerja panjang. Mereka benar-benar sendirian

Dan mereka merasa gagal karena "tidak bisa cope." 

Tapi masalahnya bukan Anda. Masalahnya adalah sistem yang membuat ibu terisolasi lalu menyalahkan mereka karena kewalahan. 

Permission to Ask for Help 

Meminta bantuan bukan kelemahan. Itu kekuatan

Anda boleh: 

● Meminta pasangan mengambil shift malam 

● Menyewa babysitter meskipun Anda "hanya" di rumah (istirahat juga alasan valid!)

● Meminta keluarga membantu 

● Bergabung dengan support group ibu 

● Mencari terapis jika Anda berjuang dengan kesehatan mental 

Anda tidak akan mendapat medali karena melakukan semuanya sendiri sambil menderita. 

Anna menulis: "Anak-anak membutuhkan ibu yang sehat dan bahagia lebih dari mereka membutuhkan ibu yang menjadi martir."

 


Penutup: Membesarkan Ibu yang Lebih Bahagia

Di akhir buku, Anna kembali ke pertanyaan awal: Bagaimana kabar Anda?

Tidak, serius. Bagaimana kabar Anda? 

Bukan "baik" otomatis. Tapi benar-benar: bagaimana Anda? 

Apakah Anda: 

● Tidur yang cukup? 

● Makan dengan benar? 

● Punya waktu untuk diri sendiri? 

● Merasa didukung? 

● Bahagia—atau setidaknya okay? 

Jika jawabannya tidak, itu bukan tanda kegagalan. Itu tanda Anda perlu perubahan.

Pelajaran Inti 

1. Ibu yang Bahagia = Anak yang Bahagia 

Ini bukan egois. Ini adalah kebenaran. Ketika Anda okay, anak-anak okay. Ketika Anda tidak okay, tidak peduli seberapa sempurna Anda berpura-pura—anak-anak merasakannya. 

2. Good Enough is Good Enough 

Anda tidak perlu sempurna. Anak-anak tidak membutuhkan ibu sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang nyata, yang mencintai mereka, yang mencoba—bahkan ketika gagal. 

3. Self-Compassion adalah Keterampilan yang Bisa Dipelajari 

Anda mungkin tidak terbiasa berbelas kasih pada diri sendiri. Tapi seperti keterampilan lainnya, ini bisa dipelajari. Mulai dengan berbicara pada diri sendiri seperti Anda berbicara pada teman terbaik. 

4. Meminta Bantuan adalah Kekuatan 

Anda tidak harus melakukan semuanya sendiri. Anda tidak akan "lebih baik" sebagai ibu jika Anda menderita dalam kesendirian. 

5. Anda Masih Anda—Di Luar Menjadi Ibu 

Identitas Anda sebagai ibu penting. Tapi Anda juga masih manusia individual dengan kebutuhan, minat, dan mimpi sendiri. Jangan lupakan dia.

 


Tentang Buku Asli 

"Raising A Happier Mother" diterbitkan tahun 2023 oleh Anna Mathur, seorang psikoterapis dan ibu dari tiga anak yang berbasis di UK. 

Anna juga menulis "Mind Over Mother" (2020) dan menjadi suara terkemuka dalam kesehatan mental ibu. Melalui akun Instagramnya (@annamathur), dia berbagi konten jujur dan compassionate tentang realitas motherhood. 

Buku ini berbeda dari buku parenting lainnya karena fokusnya bukan pada anak—tapi pada ibu. Premisnya sederhana tapi revolusioner: ketika kita merawat ibu, kita secara otomatis merawat anak. 

Untuk pemahaman lengkap dengan latihan praktis, refleksi mendalam, dan suara empathetic Anna yang menenangkan, sangat disarankan membaca buku aslinya. 

Sekarang pergilah dan rawat diri Anda dengan kelembutan yang sama seperti Anda merawat semua orang di sekitar Anda. 

Karena Anda juga layak dirawat. 

Seperti yang Anna katakan: "You matter. Your wellbeing matters. And it's not selfish to prioritise yourself—it's essential."