Pertanyaan yang Tidak Nyaman
"Saya tidak punya cukup uang untuk membeli buku."
Berapa kali Anda mendengar kalimat ini? Atau lebih jujur—berapa kali Anda mengucapkannya?
Tapi di tangan yang sama yang mengatakan "buku terlalu mahal," ada sebungkus rokok seharga 30 ribu. Di meja ada segelas kopi kafe 45 ribu. Di saku ada struk belanja impulsif 200 ribu untuk barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.
George Orwell—penulis yang sama yang menulis "1984" dan "Animal Farm"—punya masalah dengan kemunafikan ini.
Tahun 1946, dia menulis esai pendek yang menusuk: "Books v. Cigarettes" (Buku vs Rokok).
Bukan esai filosofis yang panjang lebar. Bukan khotbah moral tentang betapa mulianya membaca. Ini adalah perhitungan matematika sederhana yang membongkar mitos paling persisten tentang membaca:
Bahwa buku itu mahal.
Orwell melakukan sesuatu yang brilian: dia menghitung berapa banyak dia menghabiskan uang untuk buku dalam setahun, lalu membandingkannya dengan berapa banyak rata-rata orang menghabiskan uang untuk rokok.
Hasilnya? Mengejutkan. Memalukan. Dan sangat relevan sampai hari ini.
Mari kita masuk ke dalam pikiran Orwell—dan mari kita jujur tentang di mana uang kita benar-benar pergi.
Bagian 1: Mitos "Buku Itu Mahal"
Asumsi yang Tidak Pernah Dipertanyakan
Orwell memulai dengan mengamati fenomena aneh di masyarakat Inggris pascaperang:
Orang-orang mengeluh bahwa buku terlalu mahal untuk dibeli. Bahkan orang kelas menengah yang punya rumah, mobil, dan gaji layak mengatakan mereka "tidak mampu" membeli buku.
Tapi tunggu. Mari kita lihat lebih dekat.
Orang yang sama ini:
● Menghabiskan 10-15 shilling per minggu untuk rokok
● Pergi ke pub hampir setiap malam
● Membeli koran harian tanpa berpikir dua kali
● Menonton film setiap akhir pekan
Tapi ketika melihat buku seharga 10 shilling, mereka menggelengkan kepala: "Terlalu mahal."
Mengapa?
Orwell punya teori sederhana: Kita tidak menghargai buku karena kita tidak pernah benar-benar menghitung berapa harganya.
Kita mengasumsikan buku itu mahal karena buku terlihat seperti investasi besar—objek yang kokoh, permanen, serius. Sementara rokok? Rokok dibakar dalam 5 menit dan hilang. Jadi rasanya tidak seperti pengeluaran "nyata."
Tapi mari kita hitung.
Bagian 2: Orwell Menghitung Bukunya
Eksperimen Sederhana
Orwell melakukan eksperimen: dia menghitung semua buku yang dia beli dalam periode 15 tahun (sejak dia mulai serius mengoleksi buku).
Total buku yang dia miliki: Sekitar 900 buku.
Harga rata-rata per buku di tahun 1930an-1940an: Sekitar 7-8 shilling (campuran buku baru dan bekas).
Total yang dia habiskan: Sekitar £300-£350 dalam 15 tahun.
Itu berarti:
● £20-£25 per tahun
● Atau sekitar 10 shilling per minggu
Sekarang, untuk perbandingan—berapa rata-rata perokok menghabiskan uang?
Perokok sedang menghabiskan sekitar 10-15 shilling per minggu untuk rokok.
Baca ulang itu.
Orwell menghabiskan jumlah yang SAMA untuk membangun perpustakaan pribadi 900 buku—yang akan bertahan seumur hidup—seperti yang perokok habiskan untuk sesuatu yang dibakar dan hilang dalam seminggu.
Nilai vs Harga
Inilah poinnya: Kita membingungkan "harga" dengan "nilai."
Buku terasa mahal karena kita membayar di muka—£10 atau £15 sekaligus.
Tapi rokok? Kita membayar sedikit demi sedikit—£2 hari ini, £2 besok—jadi tidak terasa seperti pengeluaran besar.
Tapi akumulasi itu jauh lebih besar.
Orwell menulis dengan sarkasme khasnya:
"Pria yang mengatakan dia tidak mampu membeli buku adalah pria yang sama yang menghabiskan £50 per tahun untuk rokok dan £100 per tahun untuk alkohol."
Bagian 3: Psikologi Pengeluaran Kita
Mengapa Kita Lebih Mudah Membeli Rokok daripada Buku?
Orwell tidak hanya memberikan angka—dia juga membedah psikologi di balik keputusan pengeluaran kita.
Ada beberapa alasan mengapa kita merasa "tidak mampu" membeli buku:
1. Buku Terasa Seperti Komitmen
Ketika Anda membeli buku, ada tekanan implisit: "Saya harus membaca ini."
Jika Anda tidak membacanya, buku itu duduk di rak—menghakimi Anda. Mengingatkan Anda bahwa Anda membuang-buang uang. Mengingatkan Anda tentang niat baik yang gagal.
Rokok? Tidak ada komitmen. Anda menyalakan, Anda hisap, selesai. Tidak ada rasa bersalah tertunda.
2. Buku Terlihat Seperti "Kemewahan"
Dalam masyarakat kapitalis, kita dibuat percaya bahwa hiburan instan adalah kebutuhan, tapi pendidikan adalah kemewahan.
Rokok, alkohol, kopi kafe—ini semua dianggap "kebutuhan" untuk mengatasi stress modern.
Buku? Itu untuk orang kaya yang punya waktu luang. Itu untuk intelektual. Itu bukan untuk "orang biasa."
3. Kita Tidak Menghitung Pengeluaran Kecil
£2 untuk kopi tidak terasa seperti apa-apa. £3 untuk rokok? Sepele. £5 untuk makan siang? Biasa saja.
Tapi £20 untuk buku? "Wah, mahal!"
Ini adalah bias kognitif: kita tidak menghitung pengeluaran kecil berulang, tapi kita sangat sadar akan pengeluaran besar satu kali.
Padahal jika dihitung—£2/hari untuk kopi = £60/bulan = £720/tahun.
Dengan uang itu, Anda bisa membeli 50-70 buku per tahun. Dalam 15 tahun, Anda punya perpustakaan 1.000 buku.
Tapi kebanyakan orang tidak punya satu buku pun di rumah—dan mereka punya segelas kopi di tangan.
Bagian 4: Argumen untuk Perpustakaan Umum
"Mengapa Membeli? Pinjam Saja!"
Orwell mengantisipasi argumen ini: "Tapi ada perpustakaan umum! Mengapa harus membeli buku?"
Dia mengakui: Perpustakaan umum adalah salah satu pencapaian terbesar peradaban modern.
Akses gratis ke buku untuk semua orang—tanpa memandang kelas ekonomi—adalah ide yang revolusioner. Dan Orwell sangat mendukungnya.
Tapi...
Ada sesuatu yang hilang ketika Anda hanya meminjam buku.
Nilai Kepemilikan
Orwell berpendapat ada perbedaan fundamental antara membaca buku dan memiliki buku. Ketika Anda memiliki buku:
1. Anda Bisa Membacanya Berkali-kali
Buku terbaik tidak dibaca sekali. Mereka dibaca dua, tiga, sepuluh kali—dan setiap kali Anda menemukan sesuatu yang baru.
Ketika Anda meminjam buku dari perpustakaan, ada tekanan waktu. Anda harus mengembalikannya dalam dua minggu. Anda terburu-buru. Anda tidak bisa menikmatinya sepenuhnya.
2. Anda Bisa Mencoret-coret, Menandai, Membuat Catatan
Membaca aktif—di mana Anda underline, menulis di margin, melipat halaman—adalah cara terbaik untuk benar-benar memahami dan mengingat apa yang Anda baca.
Tapi Anda tidak bisa melakukan ini dengan buku perpustakaan (atau setidaknya tidak seharusnya).
3. Buku Anda Adalah Cermin Pikiran Anda
Perpustakaan pribadi Anda—buku-buku yang Anda pilih untuk beli dan simpan—adalah peta intelektual kehidupan Anda.
Ketika Anda melihat rak buku Anda, Anda melihat siapa Anda. Apa yang Anda pedulikan. Bagaimana Anda berkembang.
Orwell menulis:
"Seseorang yang hanya membaca buku dari perpustakaan seperti seseorang yang mengunjungi restoran tetapi tidak pernah memasak di rumah. Tidak ada yang salah dengan itu—tapi ada kepuasan tertentu dalam memiliki dapur sendiri."
Bagian 5: Kelas dan Kepemilikan Buku
Observasi Tajam tentang Kelas Pekerja
Inilah bagian paling kontroversial dari esai Orwell—dan paling relevan.
Dia mengamati bahwa kelas pekerja sering menghabiskan proporsi pendapatan mereka yang lebih besar untuk hiburan pasif daripada kelas menengah.
Bukan karena mereka bodoh. Bukan karena mereka tidak menghargai pengetahuan.
Tapi karena sistem mendorong mereka ke sana.
Ketika Anda bekerja 10-12 jam sehari di pekerjaan yang melelahkan fisik dan mental, hal terakhir yang Anda inginkan di akhir hari adalah usaha kognitif lebih.
Anda ingin relaksasi instan: TV, rokok, alkohol, scrolling media sosial.
Membaca membutuhkan energi. Membutuhkan fokus. Membutuhkan ruang mental.
Dan jika Anda tidak memiliki ruang mental—karena dihabiskan untuk bertahan hidup—buku terasa seperti beban, bukan berkat.
Lingkaran Setan
Inilah lingkaran setan:
1. Orang miskin bekerja lebih keras untuk uang lebih sedikit
2. Mereka lelah, jadi mereka mencari hiburan instan (rokok, TV, dll)
3. Mereka menghabiskan uang untuk hiburan ini alih-alih investasi jangka panjang (buku, pendidikan)
4. Tanpa pendidikan dan perspektif baru, mereka tetap dalam kondisi yang sama
5. Kembali ke langkah 1
Orwell tidak menyalahkan kelas pekerja. Dia menyalahkan sistem yang membuat mereka terlalu lelah untuk berpikir.
Tapi—dan ini penting—dia juga mengatakan:
"Tidak ada yang benar-benar terlalu miskin untuk membeli buku. Masalahnya adalah prioritas."
Jika seseorang punya uang untuk rokok, mereka punya uang untuk buku. Pertanyaannya adalah: Apa yang mereka nilai?
Bagian 6: Buku dalam Era Digital
Apa yang Akan Orwell Katakan tentang Zaman Kita?
Orwell menulis ini tahun 1946—jauh sebelum internet, ebook, atau smartphone.
Tapi argumennya menjadi lebih relevan, bukan kurang.
Mari kita update perhitungannya untuk 2024:
Pengeluaran Rata-Rata per Bulan:
● Rokok (1 bungkus/hari): Rp 900.000
● Kopi kafe (3x/minggu): Rp 540.000
● Netflix, Spotify, Disney+: Rp 200.000
● Makan di luar (2x/minggu): Rp 800.000
● Grab/ojol (10x/bulan): Rp 500.000
Total: Rp 2.940.000/bulan = Rp 35 juta/tahun
Sekarang, berapa harga buku?
● Buku fisik baru: Rp 80.000-150.000
● Buku bekas: Rp 30.000-70.000
● Ebook: Rp 40.000-80.000
● Audiobook subscription: Rp 100.000/bulan (unlimited)
Dengan Rp 35 juta/tahun yang dihabiskan untuk konsumsi yang hilang dalam waktu—Anda bisa membeli 300-400 buku baru atau 500-700 buku bekas.
Tapi berapa banyak dari kita yang punya 300 buku di rumah?
Berapa banyak dari kita yang mengeluh "tidak ada waktu untuk membaca" sambil scroll Instagram 2 jam/hari?
Orwell akan tertawa—tertawa yang pahit.
Bagian 7: Argumen Melawan "Membaca Itu Penting"
Orwell Jujur: Tidak Semua Orang Harus Membaca
Inilah yang membuat Orwell brilian—dia tidak munafit.
Dia tidak mengatakan "semua orang harus membaca banyak buku atau mereka bodoh."
Dia mengakui: Beberapa orang secara genuine tidak tertarik pada buku. Dan itu OK.
Jika seseorang lebih suka menghabiskan waktu berkebun, memancing, atau bermain musik—itu valid. Itu adalah cara mereka tumbuh dan menemukan makna.
Masalahnya adalah orang yang mengatakan mereka ingin membaca tapi "tidak punya uang" atau "tidak punya waktu."
Karena itu bohong.
Yang sebenarnya mereka katakan adalah: "Membaca bukan prioritas bagi saya."
Dan itu OK—selama mereka jujur tentang itu.
Tapi jangan mengeluh tentang kurangnya pengetahuan, kurangnya perspektif, atau merasa "bodoh" jika Anda secara aktif memilih untuk tidak berinvestasi dalam pembelajaran.
Pertanyaan Jujur
Orwell mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman:
"Apakah Anda benar-benar tidak mampu membeli buku? Atau Anda hanya tidak menghargai buku sebanyak yang Anda hargai rokok?"
Tidak ada jawaban yang "benar." Tapi ada jawaban yang jujur.
Bagian 8: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Saran Praktis dari Orwell (dan Update Modern)
Orwell tidak hanya mengkritik—dia memberikan solusi.
1. Lacak Pengeluaran Anda
Selama sebulan, catat setiap rupiah yang Anda keluarkan. Setiap kopi. Setiap cemilan. Setiap ojol.
Di akhir bulan, kategorikan:
● Berapa untuk kebutuhan dasar? (sewa, makanan pokok, transportasi kerja)
● Berapa untuk hiburan sekali pakai? (kopi, rokok, nonton)
● Berapa untuk investasi jangka panjang? (buku, kursus, alat berkualitas)
Kebanyakan orang akan kaget melihat berapa banyak yang mereka habiskan untuk kategori #2.
2. Mulai Kecil
Orwell tidak mengatakan Anda harus membeli 50 buku besok.
Mulai dengan 1 buku/bulan.
Alih-alih kopi kafe 3x minggu, buat kopi di rumah dan gunakan uang yang dihemat untuk beli buku.
Dalam setahun: 12 buku. Dalam 5 tahun: 60 buku. Dalam 10 tahun: 120 buku.
Itu adalah perpustakaan pribadi yang layak.
3. Beli Buku Bekas
Orwell sendiri membeli banyak buku bekas—dan dia tidak malu tentang itu.
Buku bekas 50-70% lebih murah, dan isi di dalamnya sama persis. Ide-ide di dalam buku Shakespeare 400 tahun lalu sama kuatnya hari ini.
4. Prioritaskan Kualitas, Bukan Kuantitas
Lebih baik punya 10 buku yang Anda baca 5 kali daripada 100 buku yang Anda tidak pernah baca.
Orwell: "Buku terbaik yang Anda miliki adalah buku yang Anda baca sampai rusak."
5. Trade Your Vices
Jika Anda perokok: berhenti selama 1 bulan dan gunakan uang itu untuk beli buku.
Jika Anda pecandu kopi kafe: brew di rumah selama 2 minggu dan beli buku dengan penghematan.
Anda tidak harus berhenti selamanya. Hanya eksperimen untuk melihat: Apa yang lebih bernilai?
Bagian 9: Nilai Sejati dari Kepemilikan Buku
Lebih dari Sekadar Halaman
Orwell menutup esainya dengan refleksi tentang apa yang sebenarnya Anda beli ketika Anda membeli buku.
Anda tidak hanya membeli kertas dan tinta.
Anda membeli:
1. Akses ke Pikiran Terbaik Umat Manusia
Untuk £10 atau Rp 100.000, Anda bisa duduk dalam percakapan dengan Einstein, Marcus Aurelius, Maya Angelou, atau Yuval Noah Harari.
Coba bayar seorang pemenang Nobel untuk berbicara dengan Anda selama 8 jam. Mustahil.
Tapi bukunya? Tersedia dengan harga makan siang.
2. Alat untuk Mengubah Diri Anda
Buku yang tepat di waktu yang tepat bisa mengubah hidup Anda.
Satu ide dari satu buku bisa mengubah karir Anda, memperbaiki hubungan Anda, menyelamatkan bisnis Anda.
Berapa nilai itu? Tidak ternilai.
3. Warisan untuk Anak-Anak Anda
Rokok yang Anda bakar hari ini hilang selamanya.
Buku yang Anda beli hari ini bisa dibaca anak Anda, cucu Anda, dan cicit Anda.
Orwell menulis:
"Perpustakaan yang Anda bangun adalah hadiah terbesar yang bisa Anda tinggalkan—bukan uang, bukan properti, tapi akses ke kebijaksanaan."
Penutup: Pilihan Sederhana
George Orwell tidak menulis esai ini untuk membuat Anda merasa bersalah.
Dia menulisnya untuk membongkar kebohongan yang kita ceritakan pada diri sendiri.
Kebohongan bahwa kita "tidak mampu" membeli buku. Kebohongan bahwa kita "tidak punya waktu" untuk membaca. Kebohongan bahwa "buku itu mahal."
Kebenaran yang lebih tidak nyaman adalah: Kita punya uang. Kita punya waktu. Kita hanya memilih untuk menghabiskannya di tempat lain.
Dan itu OK—selama kita jujur tentang itu.
Tapi jika Anda genuinely ingin belajar, tumbuh, dan mengembangkan pikiran Anda—maka Anda tidak punya alasan.
Buku lebih murah dari hampir semua kebiasaan lain yang Anda miliki.
Tantangan 30 Hari
Orwell akan menyukai tantangan praktis. Jadi inilah satu untuk Anda:
Selama 30 hari ke depan:
1. Lacak setiap pengeluaran non-esensial Anda
2. Kurangi satu kebiasaan konsumtif (kopi kafe, rokok, makan di luar)
3. Gunakan uang yang dihemat untuk membeli 2 buku
4. Baca setidaknya satu buku sampai selesai
Di akhir 30 hari, tanyakan pada diri sendiri:
"Apa yang memberi saya nilai lebih: 30 hari kopi kafe, atau 2 buku yang akan saya ingat selamanya?"
Jawaban mungkin mengejutkan Anda.
Dan jika ternyata Anda lebih menghargai kopi—itu valid. Setidaknya sekarang Anda tahu prioritas Anda yang sebenarnya.
Tapi jangan pernah lagi mengatakan: "Saya tidak mampu membeli buku."
Karena seperti yang Orwell buktikan dengan matematika sederhana—Anda mampu.
Tentang Esai Asli
"Books v. Cigarettes" pertama kali diterbitkan di majalah Tribune pada Februari 1946, tak lama setelah Perang Dunia II berakhir.
George Orwell (1903-1950) adalah salah satu penulis paling berpengaruh abad ke-20, terkenal karena novel distopia "1984" dan "Animal Farm," serta esai-esai politik dan sosial yang tajam.
Orwell dikenal karena gaya penulisannya yang lugas, jujur, dan sering kali brutal dalam kejujurannya. Dia tidak tertarik pada abstraksi filosofis—dia tertarik pada kebenaran konkret yang bisa dibuktikan dengan angka.
Esai ini adalah contoh sempurna dari pendekatan Orwell: ambil asumsi yang diterima secara universal ("buku itu mahal"), dan buktikan dengan matematika sederhana bahwa asumsi itu salah.
Untuk membaca esai asli yang lengkap (hanya sekitar 2.000 kata), sangat disarankan mencarinya dalam koleksi esai Orwell atau online. Kejernihan dan ketajaman bahasanya tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan—meskipun ide-ide intinya di sini.
Esai ini tetap relevan hampir 80 tahun kemudian karena sifat manusia tidak berubah—kita masih lebih mudah membenarkan pengeluaran untuk gratifikasi instan daripada investasi jangka panjang.
Sekarang pergilah dan beli buku—bukan karena saya atau Orwell bilang, tapi karena Anda akhirnya jujur tentang apa yang benar-benar Anda hargai.
Dan siapa tahu—mungkin di tahun-tahun mendatang, Anda akan melihat rak buku Anda dan menyadari: Ini adalah investasi terbaik yang pernah saya buat.
Seperti Orwell katakan: "Buku adalah senjata dalam perang ide—dan perang itu tidak pernah berakhir."

