Mereka yang Mengira Diri Mereka Pahlawan
Bayangkan Anda duduk di ruang pertemuan yang elegan di San Francisco, tahun 2019.
Di depan Anda ada sekelompok orang jenius—ilmuwan komputer terbaik di dunia, pengusaha visioner, pemikir futuristik. Mereka berbicara dengan antusias tentang misi mulia mereka: menciptakan kecerdasan buatan yang akan menguntungkan seluruh umat manusia.
Bukan untuk keuntungan. Bukan untuk kekuasaan. Tapi untuk kebaikan bersama.
Perusahaan mereka didirikan sebagai nonprofit. Keselamatan adalah misi inti. Transparansi adalah komitmen. Mereka bahkan menamakan diri mereka "OpenAI"—terbuka, bukan tertutup.
Mereka bilang: "Kami berbeda dari Google, Facebook, atau Microsoft. Kami tidak dikendalikan oleh pemegang saham. Kami tidak mengejar profit. Kami di sini untuk memastikan AI tidak jatuh ke tangan yang salah."
Dan Karen Hao—jurnalis teknologi yang brilian—percaya pada mereka.
Tapi lima tahun kemudian, di tahun 2024, Hao melihat sesuatu yang sangat berbeda:
OpenAI telah bermitra dengan Microsoft dengan miliaran dolar. Sam Altman, CEO-nya, telah menjadi salah satu orang paling berkuasa di Silicon Valley. ChatGPT telah mengubah dunia—tapi dengan biaya yang tidak pernah mereka ceritakan.
Di balik layar gemerlap peluncuran produk dan headline tentang "revolusi AI," ada:
● Pekerja di Kenya yang dibayar $2 per jam untuk membersihkan konten traumatis—bunuh diri, pelecehan anak, kekerasan—sehingga AI bisa "belajar" apa yang tidak boleh diproduksi
● Komunitas di Chile yang kehilangan akses air bersih karena data center AI mengonsumsi jutaan liter air untuk pendinginan
● Konsumsi energi yang setara dengan seluruh negara kecil, memperburuk krisis iklim
● Konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir perusahaan tech terkaya dalam sejarah manusia
Dan yang paling mengerikan: Tidak seorang pun di OpenAI merasa mereka adalah villain dalam cerita ini.
Mereka semua masih berpikir mereka adalah pahlawan.
"Empire of AI" adalah kisah tentang bagaimana orang-orang yang bermaksud baik bisa membangun sesuatu yang sangat berbahaya—dan bahkan tidak menyadarinya.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Awal yang Penuh Janji—The Good Guys
2015: Kelahiran OpenAI
Desember 2015. Sekelompok tokoh tech terkemuka berkumpul dengan visi yang berani:
Elon Musk, Sam Altman, Greg Brockman, Ilya Sutskever, dan lainnya mendirikan OpenAI sebagai nonprofit research lab.
Misi resmi mereka: "Memastikan bahwa kecerdasan buatan umum (AGI) menguntungkan seluruh umat manusia."
Apa itu AGI? Artificial General Intelligence—sistem AI yang bisa melakukan tugas intelektual apa pun yang bisa dilakukan manusia, bahkan lebih baik.
Mereka percaya AGI akan segera ada. Dan mereka takut: Jika AGI jatuh ke tangan perusahaan seperti Google yang profit-driven, bisa jadi bencana bagi kemanusiaan.
Jadi mereka bilang: "Kami akan membuatnya lebih dulu—tapi dengan aman, transparan, dan untuk semua orang."
Kedengarannya mulia, bukan?
Ketakutan yang Membentuk Ideologi
OpenAI didirikan atas dasar ketakutan.
Takut bahwa Google akan mengembangkan AGI lebih dulu dan menggunakannya untuk dominasi global. Takut bahwa AI yang terlalu powerful bisa menghancurkan umat manusia jika tidak dikontrol dengan benar.
Tapi ada ironi besar di sini: Mereka begitu takut pada orang lain yang mendapat kekuasaan, sehingga mereka memutuskan mereka sendiri yang harus mendapatkannya.
Hao menulis: "Tidak ada yang berpikir mereka adalah penjahat. Ideologi selalu menemukan cara untuk membungkus kekuasaan telanjang."
Dan ideologi OpenAI adalah: Hanya kami yang cukup bijaksana dan aman untuk mengendalikan teknologi paling powerful dalam sejarah manusia.
Karen Hao Bertemu OpenAI
Tahun 2019, Karen Hao—saat itu senior editor AI di MIT Technology Review—mendapat kesempatan eksklusif untuk wawancara mendalam dengan OpenAI.
Dia kagum. Orang-orang di sana jenius. Bersemangat. Idealis.
Mereka berbicara tentang keselamatan, tentang transparansi, tentang membangun AI yang adil dan tidak bias.
"Saya pikir mereka adalah good guys," tulis Hao.
Tapi seiring waktu, saat dia terus meliput mereka, sesuatu tidak pas.
Ada gap antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan. Ada kerahasiaan yang semakin meningkat. Ada transformasi yang mulai terjadi—perlahan, tapi pasti.
Dan Hao mulai bertanya: "Apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup OpenAI?"
Bagian 2: Perceraian—Ketika Orang Baik Berpisah
2020: The Breakup
Tidak semua orang di OpenAI setuju dengan arah perusahaan.
Pada tahun 2020, beberapa founding member—termasuk Dario Amodei (VP Research) dan Daniela Amodei (VP Operations)—keluar dari OpenAI dan mendirikan perusahaan baru: Anthropic.
Mengapa? Mereka tidak setuju dengan kecepatan dan skala ambisi OpenAI.
Mereka merasa OpenAI terlalu terburu-buru. Terlalu ambisius. Terlalu rela mengorbankan keselamatan demi kecepatan.
Perpecahan ini sangat simbolis: Bahkan di antara orang-orang yang dulunya berbagi visi yang sama, ada ketidaksepakatan fundamental tentang bagaimana membangun AI dengan aman.
Dan ini baru permulaan dari retakan.
2021: Transformasi menjadi For-Profit
Tahun 2019, OpenAI mengumumkan sesuatu yang mengejutkan: mereka akan membentuk entitas for-profit.
Mengapa? Karena mereka bilang: "Untuk membangun AGI, kami butuh uang yang sangat banyak. Lebih dari yang bisa kami dapat sebagai nonprofit."
Mereka bermitra dengan Microsoft—investasi miliaran dolar.
Struktur barunya rumit: Ada nonprofit yang mengontrol, tapi ada for-profit subsidiary yang bisa mengambil keuntungan (dengan cap maksimum).
Beberapa orang melihat ini sebagai pragmatisme yang diperlukan. Yang lain melihatnya sebagai pengkhianatan terhadap misi awal.
Hao menulis: "Mereka bilang struktur ini akan menjaga misi mereka tetap utuh. Tapi pertanyaannya: Jika Anda membutuhkan miliaran dolar untuk membangun AGI, apakah Anda masih bisa melayani kemanusiaan—atau Anda sekarang melayani Microsoft dan investor?"
Bagian 3: Sam Altman—Karisma dan Manipulasi
Wajah OpenAI
Sam Altman adalah CEO OpenAI—dan dia sangat karismatik.
Pintar. Artikulatif. Visioner. Rendah hati dalam penampilan (hoodie, tidak sombong). Dia berbicara tentang AI dengan cara yang membuat orang percaya pada masa depan yang lebih baik.
Dia menjadi wajah publik dari revolusi AI. Berbicara di kongres. Diwawancara di berbagai media. Menjadi salah satu orang paling berpengaruh di dunia tech.
Tapi Hao mengungkap sisi lain: Sam Altman dari dalam sangat berbeda dari Sam Altman dari luar.
Manipulasi Halus
Melalui wawancara dengan mantan karyawan dan dokumen internal, Hao menemukan pola:
Altman sangat ahli dalam "people skills"—dia tahu bagaimana membuat orang merasa spesial, didengar, penting. Tapi dia juga tahu bagaimana memanipulasi, memarginalisasi, dan menyingkirkan orang yang tidak setuju dengannya.
Ketika ada kekhawatiran tentang keselamatan, dia mendengarkan dengan baik—lalu mengabaikannya.
Ketika ada kritik tentang arah perusahaan, dia tersenyum dan berjanji akan mempertimbangkan—lalu melanjutkan dengan rencana awalnya.
Dia ahli dalam membuat orang merasa didengar tanpa benar-benar mendengarkan.
November 2023: Boardroom Drama
Momen yang paling dramatis: November 2023, board OpenAI memecat Sam Altman.
Alasan? Board merasa Altman tidak konsisten dalam komunikasi dan kehilangan kepercayaan.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya mengejutkan dunia:
Dalam 5 hari, hampir semua karyawan OpenAI mengancam akan resign jika Altman tidak dikembalikan. Microsoft turun tangan. Tekanan publik luar biasa.
Dan Altman kembali sebagai CEO.
Bagi banyak orang, ini adalah bukti bahwa Altman dicintai dan dipercaya oleh timnya.
Bagi Hao, ini adalah bukti sesuatu yang lebih gelap: Altman telah membangun kultus kepribadian yang begitu kuat sehingga bahkan board tidak bisa mengontrolnya.
Setelah drama ini, board yang lama diganti. Kontrol perusahaan semakin terpusat pada Altman.
Dan pertanyaan mengganggu muncul: Jika board yang seharusnya mengawasi keselamatan AI bisa digulingkan begitu mudah, siapa yang mengawasi Sam Altman?
Bagian 4: Biaya Tersembunyi—Siapa yang Benar-Benar Membayar?
Pekerja Data di Kenya—Wajah Tersembunyi AI
ChatGPT terasa ajaib. Anda tanya apa saja, dia menjawab dengan cerdas.
Tapi ada yang tidak diceritakan: Siapa yang "mengajarkan" AI untuk tidak memberikan konten yang berbahaya?
Jawabannya: Ribuan pekerja data di negara-negara berkembang seperti Kenya.
Hao melakukan perjalanan ke Nairobi dan mewawancarai pekerja-pekerja ini. Yang dia temukan mengerikan:
Pekerjaan mereka:
● Membaca dan melabel konten yang sangat traumatis: bunuh diri, penyiksaan anak, kekerasan seksual, eksekusi
● Mengajarkan AI mana yang "aman" dan mana yang "tidak aman"
● Bekerja 8-10 jam sehari menatap konten yang bisa membuat orang trauma permanen
Kompensasi mereka:
● Dibayar sekitar $2 per jam
● Tidak ada konseling mental yang memadai
● Kontrak kerja yang tidak stabil
● Jika mereka komplain atau bicara ke media, mereka dipecat
Satu pekerja berkata: "Saya mimpi buruk setiap malam. Saya tidak bisa tidur tanpa melihat gambar-gambar itu lagi. Tapi saya butuh uang ini untuk keluarga saya."
Ini adalah harga tersembunyi dari AI yang "bersih".
Air di Chile—Sumber Daya yang Dicuri
AI membutuhkan compute power yang luar biasa besar. Dan compute power membutuhkan data center. Dan data center membutuhkan pendinginan.
Pendinginan membutuhkan air—jutaan liter air.
Hao melakukan perjalanan ke Chile, di mana beberapa data center besar AI beroperasi. Yang dia temukan:
Komunitas lokal kehilangan akses air bersih karena data center mengonsumsi begitu banyak air untuk mendinginkan server.
Petani tidak bisa mengairi tanaman. Keluarga harus membeli air dengan harga mahal. Sungai mengering.
Dan ketika komunitas komplain? Perusahaan tech berjanji "akan lebih bertanggung jawab"—tapi tidak mengubah apa-apa.
Satu model AI besar mengonsumsi air setara dengan kebutuhan ribuan keluarga selama setahun.
Energi—Memperburuk Krisis Iklim
Training satu model AI besar menggunakan energi setara dengan:
● 125 penerbangan pulang-pergi New York ke Beijing
● Konsumsi listrik 100 rumah selama setahun
● Emisi karbon ribuan ton
Dan ini hanya untuk satu model. OpenAI, Google, Microsoft, Meta—semuanya berlomba untuk membuat model yang lebih besar, yang artinya konsumsi energi yang lebih besar.
Hao menulis: "Mereka berbicara tentang menyelamatkan dunia dengan AI. Tapi mereka membakar planet dalam prosesnya."
Bagian 5: Perlombaan Tanpa Tujuan—The AI Arms Race
"Kami Harus Sampai Lebih Dulu!"
Salah satu pembenaran OpenAI untuk kecepatan mereka adalah: "Jika bukan kami, maka Google atau China yang akan sampai lebih dulu—dan itu akan lebih berbahaya."
Tapi Hao mengajukan pertanyaan yang menusuk: "Sampai ke mana? Dan untuk apa?"
Tidak ada yang bisa mendefinisikan dengan jelas apa itu AGI. Tidak ada yang bisa menjelaskan kapan kita akan sampai di sana. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa "sampai lebih dulu" berarti "lebih aman."
Yang jelas hanya ini: Ada perlombaan. Dan semua orang berlari sekencang mungkin tanpa tahu ke mana mereka berlari.
Hanya Sedikit yang Bisa Bermain
Untuk bermain dalam perlombaan AI ini, Anda butuh:
● Miliaran dolar untuk compute power
● Akses ke chip AI terbaik (yang terbatas dan dikontrol ketat)
● Data dalam skala masif—seluruh internet, semua buku, semua gambar
● Tim ilmuwan jenius yang jumlahnya sangat terbatas di dunia
Hasilnya: Hanya segelintir perusahaan yang bisa bermain: OpenAI, Google, Microsoft, Meta, Anthropic.
Ini adalah kolonialisme baru—bukan kolonialisme geografis, tapi kolonialisme digital.
Segelintir perusahaan di Silicon Valley menentukan masa depan seluruh planet. Dan mayoritas dunia hanya bisa menonton—sambil membayar biayanya.
Tidak Ada yang Tahu Tujuan Akhirnya
Hao mewawancarai banyak engineer dan researcher di OpenAI. Dan dia menemukan sesuatu yang mengejutkan:
Bahkan mereka tidak tahu dengan pasti apa yang mereka bangun atau mengapa.
Mereka berbicara tentang "AGI yang akan mengubah segalanya." Tapi ketika ditanya spesifiknya:
● Apa definisi sukses?
● Bagaimana kita tahu kita sudah sampai?
● Apa yang akan kita lakukan dengan AGI setelah kita punya?
Tidak ada jawaban yang jelas.
Hao menulis: "Mereka berlari dalam perlombaan tanpa garis finis yang jelas, mengejar sesuatu yang bahkan mereka tidak bisa definisikan dengan baik, sambil mengorbankan pekerja, lingkungan, dan stabilitas sosial."
Bagian 6: Ideologi yang Membungkus Kekuasaan
"Kami Melakukan Ini untuk Kemanusiaan"
Di setiap wawancara, di setiap presentasi publik, OpenAI selalu menekankan: "Misi kami adalah memastikan AGI menguntungkan seluruh umat manusia."
Kedengarannya mulia. Tapi Hao mengungkap bahwa ini adalah ideologi yang membungkus kekuasaan telanjang.
Karena pertanyaan yang tidak pernah dijawab adalah: "Siapa yang memutuskan apa yang 'menguntungkan kemanusiaan'?"
Jika OpenAI yang memutuskan—berdasarkan nilai-nilai Silicon Valley, didominasi oleh laki-laki kulit putih dari Amerika yang kaya—apakah itu benar-benar "untuk seluruh umat manusia"?
Bagaimana dengan perspektif dari:
● Pekerja data di Kenya yang dibayar $2/jam?
● Komunitas di Chile yang kehilangan air?
● Negara-negara berkembang yang tidak punya akses ke teknologi ini?
● Orang-orang yang bahasa dan budayanya tidak terwakili dalam dataset AI?
"Untuk kemanusiaan" terdengar universal. Tapi implementasinya sangat terpusat dan eksklusif.
Mesianisme Tech
Hao mengidentifikasi apa yang dia sebut "mesianisme tech"—keyakinan bahwa tech elites ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia.
Sam Altman dan banyak tech leaders percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang "melihat masa depan" lebih jelas dari yang lain. Dan karena itu, mereka punya tanggung jawab—bahkan hak—untuk membangun masa depan itu, bahkan tanpa persetujuan demokratis dari masyarakat.
Ini adalah bentuk baru dari paternalisme: "Kami tahu yang terbaik untuk Anda, jadi percayalah pada kami."
Masalahnya: Sejarah penuh dengan orang-orang yang berpikir mereka menyelamatkan dunia tapi malah menghancurkannya.
Bagian 7: Alternatif yang Mungkin—AI Tidak Harus Seperti Ini
Bukan Anti-AI, Tapi Anti-Cara Ini
Hao sangat jelas dalam buku ini: Dia tidak menolak AI secara total.
AI punya potensi luar biasa untuk membantu dalam:
● Diagnosis medis
● Penelitian ilmiah
● Pendidikan yang lebih personal
● Aksesibilitas untuk orang disabilitas
Tapi yang dia tolak adalah visi OpenAI dan Silicon Valley yang mengharuskan:
● Ekstraksi data tanpa batas
● Konsumsi energi dan air yang tidak sustainable
● Eksploitasi tenaga kerja murah di negara berkembang
● Konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir perusahaan
AI tidak harus dibangun dengan cara ini.
Model AI yang Lebih Kecil dan Lebih Efisien
Hao menyoroti penelitian yang menunjukkan bahwa model AI yang lebih kecil bisa sama efektifnya—jika dirancang dengan baik.
Anda tidak perlu model dengan 175 miliar parameter (seperti GPT-3) untuk sebagian besar tugas. Model yang lebih kecil, lebih efisien, dengan konsumsi energi jauh lebih rendah, bisa melakukan pekerjaan yang sama.
Tapi kenapa perusahaan tidak melakukan ini? Karena bigger is better adalah narrative yang menjual. Karena investor terkesan dengan angka besar. Karena perlombaan tidak tentang efisiensi—tapi tentang dominasi.
Open Source dan Desentralisasi
Ada alternatif lain: model AI yang benar-benar open source dan desentralisasi.
Alih-alih semua kekuasaan terpusat di OpenAI atau Google, bagaimana jika:
● Model AI dikembangkan secara kolaboratif oleh komunitas global?
● Data dan compute didistribusikan, bukan dikontrol satu perusahaan?
● Keputusan tentang bagaimana AI digunakan dibuat secara demokratis?
Ini bukan utopia yang tidak mungkin. Ini sudah terjadi dalam skala kecil—komunitas open source telah membuktikan bahwa kolaborasi global bisa menghasilkan teknologi yang powerful dan lebih adil.
Tapi ini membutuhkan political will dan regulasi untuk menantang dominasi tech giants.
Bagian 8: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Tidak Terlambat—Tapi Waktu Terbatas
Hao menulis dengan urgensi: Kita masih punya waktu untuk mengubah arah, tapi jendela kesempatan menutup dengan cepat.
Setiap hari, lebih banyak infrastruktur AI dibangun. Lebih banyak investasi mengalir. Lebih banyak kekuasaan terkonsentrasi.
Semakin lama kita menunggu, semakin sulit untuk mengubah arah.
Tiga Level Aksi
1. Regulasi Pemerintah
Pemerintah harus:
● Membatasi konsumsi energi dan air untuk data center
● Mengharuskan transparansi dalam dataset AI dan proses training
● Melindungi pekerja data dengan upah layak dan dukungan kesehatan mental
● Mencegah monopoli tech dengan antitrust laws yang kuat
● Membuat AI development process lebih demokratis dan inklusif
2. Tekanan Publik dan Kesadaran
Masyarakat harus:
● Memahami biaya tersembunyi dari AI yang kita gunakan
● Mempertanyakan narrative "AI untuk kemanusiaan" dengan kritis
● Mendukung jurnalis dan researcher yang mengungkap kebenaran
● Memboikot perusahaan yang eksploitatif jika perlu
3. Pilihan Individual
Sebagai individu:
● Gunakan AI dengan lebih sadar—apakah benar-benar perlu?
● Dukung alternative yang lebih ethical dan sustainable
● Edukasi diri sendiri tentang bagaimana AI bekerja
● Berpartisipasi dalam diskusi publik tentang masa depan AI
Pertanyaan yang Harus Terus Kita Tanyakan
Hao mengakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus kita ajukan terus-menerus:
● Siapa yang mendapat manfaat dari AI ini? (Jika jawabannya hanya investor dan perusahaan, ada yang salah)
● Siapa yang membayar biayanya? (Jika pekerja miskin dan lingkungan yang membayar, ada yang salah)
● Siapa yang membuat keputusan? (Jika hanya CEO Silicon Valley, ada yang salah)
● Apakah ada alternatif yang lebih baik? (Hampir selalu ada)
Penutup: Empire or Democracy?
Di akhir buku, Hao menyajikan pilihan yang jelas:
Kita berdiri di persimpangan sejarah.
Jalan pertama: Empire of AI—di mana segelintir perusahaan tech mengendalikan teknologi paling powerful dalam sejarah, membangun kekayaan dan kekuasaan yang belum pernah terjadi, sambil mengekstraksi sumber daya dari planet dan tenaga kerja dari negara berkembang. Keputusan tentang masa depan kita dibuat di boardroom tertutup oleh orang-orang yang tidak accountable kepada siapa pun kecuali investor mereka.
Jalan kedua: Democratic AI—di mana teknologi AI dikembangkan secara terbuka, dengan partisipasi global, dengan perlindungan untuk pekerja dan lingkungan, dengan keputusan yang dibuat secara demokratis, dan dengan manfaat yang didistribusikan secara adil.
Jalan mana yang akan kita ambil?
Tidak Ada Netralitas
Hao sangat tegas: Tidak ada posisi netral dalam pertarungan ini.
Jika kita diam, jika kita pasif, jika kita hanya menerima apa yang diberikan tech companies—itu adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah membiarkan empire dibangun.
Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus aktif memperjuangkannya.
Pesan untuk Anda
Karen Hao menulis buku ini dengan harapan sederhana tapi powerful:
"Saya ingin Anda tahu kebenaran. Saya ingin Anda melihat di balik marketing dan hype. Saya ingin Anda memahami biaya sebenarnya. Dan kemudian, saya ingin Anda memutuskan: Apakah ini masa depan yang Anda inginkan?"
Teknologi tidak netral. Tidak tidak bisa dihindari. Tidak ditakdirkan untuk berkembang dalam satu arah.
Teknologi adalah pilihan. Dan pilihan itu masih di tangan kita—untuk sekarang.
Pertanyaannya adalah: Apa yang akan Anda pilih?
Akan Anda diam sementara empire dibangun? Atau akan Anda berbicara, bertindak, dan memperjuangkan masa depan yang lebih adil?
Sam Altman dan OpenAI telah membuat pilihan mereka. Mereka memilih kekuasaan yang dibungkus dalam ideologi altruisme.
Sekarang giliran Anda untuk membuat pilihan Anda.
Dan ingat apa yang Hao tulis di halaman terakhir:
"Mereka bilang tidak ada alternatif. Tapi itu bohong. Selalu ada alternatif. Yang tidak ada adalah political will untuk memperjuangkannya."
Jadi—apakah Anda punya political will itu?
Masa depan menunggu jawaban Anda.
Tentang Buku Asli
"Empire of AI: Dreams and Nightmares in Sam Altman's OpenAI" diterbitkan pada Mei 2025 dan langsung menjadi New York Times Bestseller.
Karen Hao adalah jurnalis pemenang penghargaan yang meliput dampak kecerdasan buatan pada masyarakat. Dia adalah mantan senior editor untuk AI di MIT Technology Review, reporter untuk Wall Street Journal, dan kontributor untuk The Atlantic. Dia juga memimpin Pulitzer Center's AI Spotlight Series—program yang melatih ribuan jurnalis di seluruh dunia tentang cara meliput AI.
Buku ini adalah hasil dari enam tahun investigasi mendalam, termasuk:
● Ratusan wawancara dengan mantan dan current karyawan OpenAI
● Perjalanan ke Kenya, Chile, dan lokasi lain untuk melihat dampak AI secara langsung
● Akses ke dokumen internal dan komunikasi yang bocor
● Analisis mendalam tentang struktur corporate dan keuangan OpenAI
OpenAI menolak untuk bekerja sama dengan Hao untuk buku ini, dan Sam Altman telah mengkritik buku ini secara publik di media sosial. Beberapa kritikus mengatakan ini membuktikan bahwa Hao telah menyentuh saraf—dan kebenaran yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Buku ini dibandingkan dengan "The Anarchy" karya William Dalrymple—yang menceritakan kebangkitan East India Company, sebuah corporate empire yang mengubah dunia. Perbandingan ini sangat tepat: OpenAI, seperti East India Company, dimulai dengan retorika tentang perdagangan dan kemajuan—tapi berakhir dengan ekstraksi, eksploitasi, dan konsentrasi kekuasaan yang luar biasa.
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana AI sedang membentuk ulang dunia kita—baik yang terlihat maupun yang tersembunyi—sangat disarankan membaca buku aslinya. Hao menulis dengan kejelasan jurnalistik dan kedalaman riset akademik, membuat topik yang kompleks menjadi accessible tanpa menyederhanakan.

