The Gods of New York

Jonathan Mahler


Kota dengan Dua Wajah 

Bayangkan Anda berdiri di tengah Manhattan, Januari 1986. 

Di sebelah kiri Anda: gedung pencakar langit Wall Street yang berkilauan. Bonus jutaan dollar mengalir seperti air. Champagne dipecahkan di lantai perdagangan. Limousine hitam memadati jalanan. Restoran mewah tidak bisa menampung semua bankir muda yang ingin merayakan kekayaan baru mereka. 

New York sedang BOOM. 

Di sebelah kanan Anda, hanya beberapa blok: ribuan orang tidur di jalanan. Tunawisma di setiap sudut subway. Crack cocaine meluluhlantakkan lingkungan miskin. AIDS membunuh ribuan pria gay—dan pemerintah hampir tidak peduli. Ketegangan rasial yang siap meledak kapan saja. 

New York sedang RUNTUH. 

Dua kota dalam satu. Kekayaan yang tidak terbayangkan berdampingan dengan kemiskinan yang brutal. Dan di tengah-tengah kontradiksi yang menghancurkan ini, sekelompok pria dengan ego raksasa bertarung untuk mengontrol jiwa kota—dan dalam prosesnya, mengubah tidak hanya New York, tetapi Amerika. 

Ed Koch—walikota yang pernah dicintai, sekarang dikelilingi skandal. 

Donald Trump—pengembang real estate yang haus publisitas dan kekuasaan.

Al Sharpton—pendeta yang naik dari kontroversi demi kontroversi. 

Rudy Giuliani—jaksa yang memburu Wall Street dan membangun reputasi politik.

Spike Lee—filmmaker yang mencoba menangkap kemarahan komunitas kulit hitam. 

Jonathan Mahler menyebut mereka "The Gods of New York"—para dewa kota New York.

Bukan karena mereka baik atau bijaksana. Tapi karena mereka punya kekuatan untuk membentuk kenyataan jutaan orang—dan ego untuk percaya bahwa mereka ditakdirkan melakukannya. 

Dari tahun 1986 hingga 1990, empat tahun yang brutal dan transformatif, para "dewa" ini bertarung. Dan dalam pertempuran mereka, sebuah kota—dan bangsa—berubah selamanya. 

Mari kita masuki periode paling gila dalam sejarah modern New York.

 


Bagian 1: 1986—Tahun Kekayaan dan Delusi

Wall Street Meledak—Tapi untuk Siapa? 

1986 dimulai dengan euforia. 

Wall Street menghasilkan keuntungan rekor. Bonus rata-rata di firma investasi? $77,000—setara dengan lebih dari $200,000 hari ini. Untuk anak-anak muda berusia 20-an yang baru lulus kulusi. 

Uang mengalir ke Manhattan seperti banjir. Apartemen mewah dijual sebelum selesai dibangun. Restaurant reservasi penuh berbulan-bulan ke depan. Ferrari dan Porsche memenuhi jalanan Midtown. 

Inilah era "greed is good"—keserakahan adalah baik—dirayakan dalam film "Wall Street" yang akan keluar setahun kemudian. 

New York, yang hampir bangkrut dekade sebelumnya, sekarang adalah ibu kota keuangan dunia. 

Tapi ada masalah besar: Kekayaan ini hanya untuk segelintir orang. 

Kota yang Terbagi 

Sementara Wall Street berpesta, sepertiga dari penduduk kulit hitam dan Hispanic New York hidup di bawah garis kemiskinan. 

Ribuan orang tidur di jalanan—bukan karena pilihan, tapi karena: 

● Pemerintah federal memotong dana perumahan publik 

● Rumah sakit jiwa ditutup, melempar pasien mental ke jalan 

● Harga sewa melonjak karena gentrification 

● Tidak ada sistem untuk membantu mereka 

Dan yang paling mengerikan: banyak orang kaya tidak peduli. 

Mahler menceritakan bagaimana pengusaha kaya berjalan melewati tunawisma tanpa melihat—seolah mereka tidak ada. Bagaimana pemerintah kota lebih fokus pada proyek megah untuk menarik investor daripada membangun shelter. 

Dua kota dalam satu. Dan jurang di antara mereka semakin lebar setiap hari.

Enter: Donald Trump 

Di tengah boom ini, satu nama mulai mendominasi tabloid: Donald Trump.

Pengembang real estate berusia 39 tahun ini tidak puas hanya kaya. Dia ingin terkenal. Dia ingin dikagumi. Dia ingin namanya di setiap bangunan, setiap headline, setiap percakapan. 

Trump Tower sudah berdiri—menara emas-nya di Fifth Avenue. Tapi dia ingin lebih. Dia membeli Plaza Hotel. Dia berencana membangun Television City—proyek raksasa di West Side. 

Dan dia menguasai seni yang akan mendefinisikan karirnya: manipulasi media. 

Trump menelepon wartawan tabloid hampir setiap hari. Kadang menggunakan nama samaran ("John Barron") untuk memuji dirinya sendiri. Dia menciptakan cerita. Dia membesar-besarkan kekayaannya. Dia menjual ilusi—dan media memakannya. 

Tapi di balik fasad, Trump sebenarnya kesulitan finansial. Investasinya di Atlantic City casino gagal. Hutangnya meningkat. Tapi selama dia bisa kontrol narasi di media, tidak ada yang peduli dengan fakta. 

Trump mengajarkan pelajaran yang akan dia pakai bertahun-tahun kemudian: Dalam era media, persepsi adalah realitas.

 


Bagian 2: Ketegangan Rasial Meledak—Howard Beach

Malam yang Mengubah Segalanya 

20 Desember 1986. Tiga pria kulit hitam—Michael Griffith, Cedric Sandiford, dan Timothy Grimes—mobilnya mogok di Howard Beach, lingkungan kulit putih kelas pekerja di Queens. 

Mereka mencari bantuan. Masuk ke pizza shop untuk menelepon. 

Apa yang terjadi selanjutnya akan mengguncang New York selama berbulan-bulan: 

Sekelompok pemuda kulit putih menyerang mereka dengan tongkat baseball sambil berteriak slur rasial. Mereka mengejar Michael Griffith ke jalan raya—di mana dia ditabrak mobil dan tewas. 

Pembunuhan rasial di New York tahun 1986. 

Komunitas kulit hitam meledak dalam kemarahan. Bagaimana ini bisa terjadi? Di kota yang mengklaim dirinya progresif dan multikultural? 

Ed Koch—Walikota yang Kehilangan Rakyatnya 

Ed Koch, walikota New York yang sedang menjalani periode ketiga, mencoba menangani krisis.

Tapi Koch punya masalah: dia kehilangan kepercayaan komunitas kulit hitam. 

Mengapa? Karena selama bertahun-tahun, Koch lebih fokus pada menarik investasi dan membuat Manhattan menarik bagi perusahaan daripada menangani masalah di lingkungan miskin. 

Ketika dia datang ke pemakaman Michael Griffith, dia di-boo oleh kerumunan. "Kemana Anda selama ini?!" teriak seseorang. 

Koch, yang dulu karismatik dan dicintai, sekarang terlihat terputus dari rakyatnya.

Enter: Al Sharpton 

Di tengah kemarahan ini, satu tokoh naik: Reverend Al Sharpton. 

Berusia 30-an, dengan tracksuit dan medali emas, Sharpton bukan pemimpin sipil tradisional. Dia kontroversial. Dia flamboyan. Dia mengerti media seperti Trump—tapi untuk tujuan yang sangat berbeda. 

Sharpton memimpin demonstrasi besar-besaran melalui Howard Beach. Ribuan orang berbaris, memblokir lalu lintas, menuntut keadilan.

Kritik mengatakan Sharpton hanya mencari publisitas. Pendukung mengatakan dia memberi suara pada yang tidak punya suara. 

Tapi satu hal pasti: Sharpton mengerti bahwa dalam era TV dan tabloid, drama mendapat perhatian—dan perhatian membawa kekuasaan.

 


Bagian 3: Epidemi Ganda—AIDS dan Crack

AIDS—Kematian yang Diabaikan 

Sementara Wall Street merayakan, komunitas gay New York sedang sekarat

Pada tahun 1986, lebih dari 12.000 orang telah meninggal karena AIDS di New York. Ribuan lagi sakit. Tapi pemerintah federal dan kota hampir tidak melakukan apa-apa. 

Presiden Reagan bahkan tidak mengucapkan kata "AIDS" sampai 1987—enam tahun setelah epidemi dimulai. 

Mengapa diabaikan? Karena korbannya terutama gay men—kelompok yang banyak politisi konservatif anggap "pantas menderita" sebagai "hukuman dari Tuhan." 

Larry Kramer, penulis dan aktivis, tidak akan diam. 

Dia mendirikan ACT UP (AIDS Coalition to Unleash Power)—kelompok aktivis radikal yang menggunakan demonstrasi dramatis, civil disobedience, dan konfrontasi publik untuk memaksa pemerintah bertindak. 

Mereka memblokir FDA. Mereka mengganggu perdagangan Wall Street. Mereka membuat poster ikonik: "SILENCE = DEATH." 

Kramer menulis dengan kemarahan yang membakar: "Pemerintah kita membunuh kita dengan ketidakpedulian." 

Dan dia benar. Hanya setelah tekanan luar biasa dari aktivis seperti ACT UP, pemerintah mulai mengalokasikan dana untuk penelitian dan pengobatan. 

Crack—Epidemi yang Menghancurkan Lingkungan 

Di sisi lain kota, epidemi lain melanda: crack cocaine. 

Crack adalah versi murah dari cocaine—dijual dalam potongan kecil seharga $5-$10. Sangat adiktif. Sangat destruktif. 

Dalam beberapa tahun, crack meluluhlantakkan lingkungan miskin—terutama di Bronx, Harlem, dan Brooklyn. 

Kekerasan meledak. Geng bertarung untuk wilayah. Pembunuhan melonjak. Anak-anak kehilangan orang tua karena addiction atau penjara. 

Tapi respon pemerintah sangat berbeda dari AIDS: 

Bukan kesehatan publik—tetapi kriminalisasi massal.

Hukuman untuk crack (digunakan terutama oleh kulit hitam) jauh lebih berat daripada powder cocaine (digunakan terutama oleh kulit putih). Seseorang bisa mendapat 10 tahun penjara untuk 5 gram crack—tetapi butuh 500 gram powder cocaine untuk hukuman yang sama. 

Hasilnya: Ribuan pria kulit hitam dipenjara. Komunitas dihancurkan. Dan siklus kemiskinan dan kriminalitas diperkuat. 

Mahler menunjukkan ironi yang brutal: Ketika kulit putih gay sekarat karena AIDS, respon lambat dan tidak peduli. Ketika kulit hitam terjebak dalam crack, respon cepat dan brutal—tetapi bukan untuk membantu, tetapi untuk menghukum.

 


Bagian 4: Black Monday—Ilusi Runtuh 

19 Oktober 1987—Dunia Berubah 

Selama hampir dua tahun, Wall Street seperti mesin uang tak terbatas. Naik terus. Tidak ada yang bisa salah. 

Lalu pada satu hari—19 Oktober 1987, yang kemudian dikenal sebagai Black Monday—pasar saham jatuh 22% dalam satu hari. 

Lebih buruk dari Black Tuesday 1929 yang memicu Great Depression. 

Kekayaan menguap. Bonus hilang. Pekerjaan terancam. Champagne berhenti mengalir. 

Dan Donald Trump? Dia dalam masalah besar. Investasinya di Atlantic City casino hemorrhaging uang. Hutangnya ratusan juta dollar. Bank mulai khawatir. 

Tapi Trump melakukan apa yang dia lakukan terbaik: berbohong dan menjual ilusi. 

Dia terus memberi tahu media bahwa dia baik-baik saja. Bahwa dia lebih kaya dari sebelumnya. Bahwa dia merencanakan proyek besar berikutnya. 

Dan media—terutama tabloid—mempromosikan narasi ini karena Trump menjual koran.

Koch Tenggelam dalam Skandal 

Sementara itu, Ed Koch menghadapi krisis lain: skandal korupsi di pemerintahannya. 

Deputy mayor-nya ditangkap karena suap. Komisioner lain terlibat dalam kickback scheme. Satu demi satu, orang-orang terdekat Koch jatuh. 

Koch sendiri tidak dituduh melakukan kejahatan. Tapi sebagai pemimpin, dia bertanggung jawab atas kultur korupsi yang berkembang di bawah pengawasannya. 

Kombinasi skandal, kegagalan menangani masalah rasial, dan ketidakpedulian terhadap tunawisma membuat Koch—yang dulu tampak tidak terkalahkan—sekarang rentan

Dan Rudy Giuliani sedang mengasah parangnya.

 


Bagian 5: Tawana Brawley—Kebohongan yang Membakar Kota 

Kasus yang Membagi 

November 1987. Tawana Brawley, remaja kulit hitam berusia 15 tahun, ditemukan di dalam kantong sampah, tubuhnya penuh kotoran dan tulisan rasial. 

Dia mengklaim dia diculik dan diperkosa oleh enam pria kulit putih—termasuk polisi dan jaksa. 

Komunitas kulit hitam meledak dalam kemarahan. Ini bukti lagi dari rasisme sistemik. Dari kekerasan terhadap perempuan kulit hitam. Dari polisi yang korup. 

Al Sharpton menjadi penasihat keluarga Brawley dan memimpin kampanye publik untuk keadilan. 

Tapi ada masalah: cerita Brawley tidak konsisten. 

Investigasi menemukan bukti yang bertentangan. Tidak ada saksi. Tidak ada bukti medis yang mendukung klaimnya. 

Grand jury akhirnya menyimpulkan: Tawana Brawley membuat cerita itu.

Tapi kerusakan sudah terjadi. 

Kebenaran vs Narasi 

Inilah yang membuat kasus Brawley begitu kompleks dan tragis: 

Bahkan setelah terbukti bohong, banyak orang di komunitas kulit hitam masih percaya padanya—atau setidaknya, merasa ceritanya melambangkan kebenaran yang lebih besar tentang rasisme di Amerika. 

Sharpton menolak untuk mundur. Dia mengatakan bahkan jika detail spesifik salah, cerita Brawley mewakili realitas kekerasan rasial yang dialami komunitas kulit hitam. 

Kritik mengatakan ini berbahaya. Bahwa kebohongan—bahkan untuk tujuan "lebih besar"—merusak kredibilitas gerakan keadilan rasial. 

Mahler tidak mengambil sisi dengan mudah. Dia menunjukkan bagaimana kasus ini mengungkapkan jurang kepercayaan yang dalam: 

Komunitas kulit hitam tidak mempercayai polisi, sistem peradilan, atau pemerintah—karena mereka telah dikhianati berkali-kali.

Komunitas kulit putih tidak memahami mengapa orang terus mendukung Brawley bahkan setelah bukti menunjukkan dia bohong. 

Dan jurang itu terus melebar.

 


Bagian 6: Central Park Five—Salah Tangkap yang Tragis

Malam di Central Park 

April 1989. Seorang wanita kulit putih—seorang investment banker—diperkosa dan dipukuli hampir mati saat jogging di Central Park. 

Serangan itu brutal. Dia dalam koma selama 12 hari. Ketika dia bangun, dia tidak ingat apa-apa. 

Polisi, di bawah tekanan media dan publik yang intens, menangkap lima remaja kulit hitam dan Latino: Kevin Richardson, Antron McCray, Yusef Salaam, Raymond Santana, dan Korey Wise. 

Semuanya berusia 14-16 tahun. 

Polisi mengatakan mereka mengaku. Kasus ditutup. 

Trump Membeli Iklan Penuh Halaman 

Sebelum persidangan, Donald Trump melakukan sesuatu yang luar biasa:

Dia membeli iklan full-page di empat surat kabar New York dengan headline besar:

"BRING BACK THE DEATH PENALTY. BRING BACK OUR POLICE!" 

Trump menuntut lima remaja ini dieksekusi. 

Bukan setelah persidangan. Bukan setelah bukti dikaji. Sebelum mereka bahkan dibawa ke pengadilan. 

Iklan itu menghabiskan $85,000—dan Trump dengan senang hati membayar untuk memastikan darah ini. 

Kebenaran yang Terlambat 

Lima remaja itu dijatuhi hukuman penjara—menghabiskan 6-13 tahun di balik jeruji.

Tapi pada tahun 2002, kebenaran keluar: 

Seorang pemerkosa berseri bernama Matias Reyes mengaku—dan DNA-nya cocok. Lima remaja itu tidak bersalah. 

Mereka dibebaskan. Kota New York akhirnya membayar mereka $41 juta sebagai penyelesaian. 

Tapi 13 tahun kehidupan mereka telah dicuri. Trauma yang tidak akan pernah hilang.

Dan Trump? Dia tidak pernah meminta maaf. Bahkan bertahun-tahun kemudian, dia masih mengklaim mereka bersalah. 

Mahler menunjukkan: Central Park Five adalah simbol dari apa yang terjadi ketika ras, kelas, media, dan kekuasaan bertabrakan di New York.

 


Bagian 7: "Do the Right Thing"—Seni Menangkap Kemarahan 

Spike Lee sebagai Nabi 

Di tengah semua chaos ini—Howard Beach, Tawana Brawley, Central Park Five—filmmaker muda Spike Lee membuat film yang akan menjadi zeitgeist dari era ini: 

"Do the Right Thing" (1989). 

Film ini terjadi dalam satu hari di lingkungan Brooklyn. Hari paling panas di musim panas. Ketegangan rasial antara penduduk kulit hitam dan pemilik pizzeria Italia meningkat—sampai meledak dalam kekerasan. 

Film berakhir dengan kerusuhan dan kematian. 

Lee tidak memberikan jawaban mudah. Dia menunjukkan kompleksitas—bagaimana orang baik bisa melakukan hal buruk ketika ketegangan mencapai titik didih. 

Kontroversi Sebelum Rilis 

Bahkan sebelum film dirilis, kritikus kulit putih panik

Mereka menulis bahwa film ini akan memicu kerusuhan. Bahwa itu berbahaya. Bahwa Lee tidak bertanggung jawab. 

Joe Klein dari New York Magazine menulis bahwa film ini "bisa menyebabkan trouble." 

Tapi Lee menolak. Dia berkata: "Saya tidak menciptakan masalah. Saya hanya menunjukkan masalah yang sudah ada." 

Dan ketika film dirilis? Tidak ada kerusuhan. Tidak ada kekerasan. Hanya diskusi yang intens dan diperlukan tentang ras di Amerika. 

"Do the Right Thing" menjadi salah satu film paling penting dalam sinema Amerika—dan masih relevan hari ini.

 


Bagian 8: 1989—Akhir dari Era, Awal dari yang Baru

Koch Kalah—Giuliani Menunggu 

Pemilihan walikota 1989 adalah akhir era Ed Koch. 

Setelah 12 tahun berkuasa, Koch kalah dalam primary Demokrat—dikalahkan oleh David Dinkins, borough president Manhattan yang tenang dan diplomatis. 

Dinkins menjadi walikota kulit hitam pertama New York—simbol dari kota yang berubah. 

Tapi kemenangannya sangat tipis. Dan Rudy Giuliani—yang kalah dalam pemilihan umum—sudah merencanakan comeback. 

Trump—Dari Kota ke Bangsa 

Sementara itu, Donald Trump—meskipun tenggelam dalam hutang dan kegagalan bisnis—telah belajar pelajaran berharga: 

Media adalah kekuatan. Narasi adalah segalanya. Fakta tidak penting jika Anda bisa kontrol cerita. 

Dalam empat tahun berikutnya, Trump akan semakin dalam ke politik—menggunakan strategi yang sama yang dia asah di New York 1980-an. 

Dan pada tahun 2016, strategi itu akan membawanya ke Gedung Putih.

Kota yang Berubah Selamanya 

Pada akhir 1989, New York adalah kota yang sangat berbeda dari 1986: 

● Lebih kaya—tetapi kekayaan terkonsentrasi di tangan sedikit 

Lebih terbagi—jurang rasial dan ekonomi lebih dalam 

● Lebih keras—crime mencapai puncak, crack menghancurkan lingkungan

Lebih sinis—kepercayaan pada institusi publik runtuh 

Tapi juga: 

● Lebih beragam dalam kepemimpinan—Dinkins membuka pintu 

Lebih vokal—aktivisme AIDS, gerakan keadilan rasial menemukan suara mereka

● Lebih sadar—seni seperti "Do the Right Thing" memaksa percakapan sulit 

New York 1986-1990 adalah laboratorium untuk apa yang akan terjadi di Amerika.

 


Penutup: Warisan Para Dewa 

Pelajaran dari Empat Tahun yang Mengguncang 

Jonathan Mahler tidak menulis buku ini hanya sebagai sejarah. Dia menulis sebagai peringatan

Karena semua yang terjadi di New York 1986-1990 sedang terjadi lagi di Amerika hari ini:

1. Ketimpangan Ekonomi yang Ekstrem 

Seperti Wall Street boom sementara ribuan tidur di jalanan, kita hidup di era di mana miliarder bertambah kaya sementara jutaan orang berjuang untuk bertahan. 

Pelajaran: Ketimpangan ekstrem tidak berkelanjutan. Pada suatu titik, itu meledak.

2. Perpecahan Rasial yang Dalam 

Dari Howard Beach hingga Central Park Five, New York 1980-an menunjukkan bagaimana ketegangan rasial yang tidak ditangani membakar. 

Pelajaran: Anda tidak bisa mengabaikan ketidakadilan rasial dan berharap itu hilang. Itu harus dihadapi dengan jujur dan berani. 

3. Media yang Membakar, Bukan Mencerahkan 

Tabloid tahun 1980-an memperburuk setiap krisis untuk menjual koran. Media sosial hari ini melakukan hal yang sama untuk klik. 

Pelajaran: Media yang hanya mencari sensasi menghancurkan diskusi yang sehat dan memperdalam perpecahan. 

4. Politik sebagai Pertunjukan 

Trump, Sharpton, Koch—mereka semua mengerti bahwa politik bukan lagi tentang kebijakan. Ini tentang drama, kepribadian, dan headline. 

Pelajaran: Ketika politik menjadi hiburan, demokrasi menderita. 

5. Narasi Lebih Kuat dari Fakta 

Dari Tawana Brawley hingga Central Park Five, New York 1980-an menunjukkan bagaimana narasi—bahkan yang salah—bisa membentuk realitas. 

Pelajaran: Kebenaran membutuhkan usaha. Dan kita semua bertanggung jawab untuk mencarinya.

Pertanyaan untuk Kita Hari Ini 

Mahler mengakhiri buku dengan pertanyaan implisit: 

Apakah kita mengulangi kesalahan yang sama? 

Apakah kita membiarkan ketimpangan tumbuh tanpa tindakan? Apakah kita mengabaikan ketegangan rasial sampai meledak? Apakah kita membiarkan media membakar perpecahan untuk profit? Apakah kita membiarkan politisi dengan ego raksasa membentuk kota dan bangsa kita tanpa akuntabilitas? 

Atau apakah kita belajar dari New York 1986-1990 dan memilih jalan yang berbeda?

Para Dewa Masih di Antara Kita 

Yang paling menakutkan dari buku ini adalah menyadari bahwa "para dewa" dari New York 1980-an tidak hilang. 

Trump menjadi presiden. Giuliani menjadi pengacaranya—dan jatuh dalam skandal. Sharpton masih aktivis dan pembawa acara TV. 

Mereka semua masih membentuk narasi Amerika hari ini. 

Dan pola yang dimulai di New York—ketimpangan, perpecahan, politik sebagai pertunjukan—telah menyebar ke seluruh bangsa. 

Apa yang terjadi di New York tidak tinggal di New York. Itu menjadi blueprint untuk Amerika. 

Pilihan Kita 

Tapi ada harapan dalam buku Mahler juga. 

Dia menunjukkan bahwa orang biasa membuat perbedaan: 

● Larry Kramer dan ACT UP memaksa pemerintah bertindak pada AIDS

● Aktivis komunitas berjuang untuk keadilan di Howard Beach 

● Spike Lee menggunakan seni untuk memaksa percakapan sulit 

● Orang-orang biasa melawan—bahkan ketika sistem mengecewakan mereka

Kita bukan hanya penonton. Kita adalah peserta.

 


Tentang Buku Asli 

"The Gods of New York: Egotists, Idealists, Opportunists, and the Birth of the Modern City: 1986-1990" diterbitkan pada tahun 2024 dan langsung menjadi New York Times Book Review Editors' Choice. 

Jonathan Mahler adalah staff writer untuk The New York Times Magazine dan penulis bestseller "Ladies and Gentlemen, the Bronx Is Burning," yang diadaptasi menjadi miniseri ESPN. 

Mahler menghabiskan bertahun-tahun meriset periode 1986-1990, mewawancarai ratusan orang, menggali arsip koran dan video, dan merekonstruksi momen demi momen dari empat tahun yang mengubah New York. 

Gaya penulisannya seperti thriller—fast-paced, penuh drama, dengan karakter yang hidup. Tapi ini bukan fiksi. Ini adalah sejarah yang terlalu gila untuk dibuat-buat. 

Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana New York 1980-an membentuk Amerika hari ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Mahler memberikan detail, nuansa, dan karakter yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya dalam ringkasan. 

Buku ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini tentang masa kini—dan masa depan yang kita pilih. 

Sekarang pergilah dan lihat kota dan bangsa Anda dengan mata yang baru. 

Tanyakan: Siapa "para dewa" di komunitas kita? Narasi apa yang mereka jual? Perpecahan apa yang mereka eksploitasi? Dan yang paling penting—apa yang akan kita lakukan tentang itu? 

Karena seperti yang ditunjukkan Mahler: 

Sejarah tidak terjadi pada kita. Kita membuatnya—setiap hari, dengan setiap pilihan. 

Dan pilihan hari ini akan menentukan apakah kita mengulangi kesalahan 1986-1990—atau akhirnya belajar dari mereka.