Rumah di Ujung Jalan yang Menyimpan Kengerian
Bayangkan Anda hidup di London tahun 1953.
Perang Dunia II telah berakhir delapan tahun lalu, tapi kota masih dipenuhi reruntuhan. Makanan masih dijatah. Kabut tebal beracun sering menutupi jalan-jalan. Banyak orang tinggal di rumah-rumah kumuh yang gelap, lembab, tanpa pemanas memadai.
Kehidupan sulit. Anda fokus bertahan hidup.
Lalu pada pagi 24 Maret 1953, seorang pria Jamaika bernama Beresford Brown datang ke 10 Rillington Place di Notting Hill untuk melihat apartemen yang kosong. Pemilik rumah baru saja pergi, dan Brown berharap bisa menyewa tempat itu.
Dia berjalan ke dapur yang gelap. Ada sesuatu yang aneh—sebuah dinding yang tampak baru diplester. Dia mengetuk. Suaranya berongga.
Dengan hati-hati, dia mengupas kertas dinding. Merobek plester. Dan menemukan...
Sebuah ruang tersembunyi yang berisi tiga mayat wanita.
Polisi dipanggil. Mereka menggali lebih dalam. Di bawah lantai ruang depan: mayat seorang wanita lagi. Di taman belakang: tulang-tulang dua wanita lain yang telah mati bertahun-tahun.
Enam mayat. Satu rumah.
Berita ini meledak seperti bom di seluruh Inggris.
Siapa yang melakukan ini? Mengapa? Dan yang paling mengerikan: Polisi pernah menyelidiki pembunuhan ganda di rumah yang sama tiga tahun sebelumnya—dan mereka sudah menggantung orang yang salah.
Kate Summerscale, penulis true crime terbaik Inggris, menghabiskan bertahun-tahun menggali arsip nasional untuk menceritakan kisah ini. Tapi dia melakukannya dengan cara yang berbeda.
Dia tidak hanya menceritakan tentang pembunuh—dia menceritakan tentang kita semua yang menonton.
Tentang bagaimana media mengubah tragedi menjadi hiburan. Tentang bagaimana masyarakat mengabaikan korban sampai mereka mati. Dan tentang bagaimana kita semua, tanpa sadar, menjadi pengintip dalam peepshow kengerian.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Reg Christie—Pembunuh yang Suka Menonton
Pria yang Tidak Mencolok
John Reginald Halliday Christie—Reg untuk teman-temannya—bukanlah monster yang jelas terlihat.
Dia pria kecil, pendiam, berusia 54 tahun. Mantan polisi. Berbicara lembut. Ramah dengan tetangga. Suka berkebun di taman belakang rumahnya yang kecil.
Tidak ada yang menyangka dia adalah pembunuh berantai.
Tapi di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang gelap. Christie suka menonton wanita.
Dia mengintip tetangga dari jendela. Dia mengikuti wanita di jalan. Dia mengundang mereka ke rumahnya dengan dalih membantu—menawarkan obat untuk sakit, menawarkan tempat tidur untuk tidur, menawarkan solusi untuk kehamilan yang tidak diinginkan.
Lalu dia membunuh mereka.
Metode yang Mengerikan
Christie tidak membunuh dengan kekerasan brutal. Dia membunuh dengan cara yang lebih insidious—dia membuat mereka tidak sadarkan diri dengan gas, lalu mencekik mereka sementara mereka tak berdaya.
Tapi yang paling mengerikan: dia sering melakukan kekerasan seksual terhadap mereka saat mereka mati atau sekarat.
Christie bukan pembunuh yang membunuh dalam amarah. Dia pembunuh yang membunuh untuk kepuasan voyeuristik dan seksual. Dia ingin kontrol total atas tubuh wanita—dan dia hanya bisa mendapatkannya ketika mereka tidak bisa melawan.
Setelah membunuh, dia menyimpan mayat di rumahnya. Di dinding. Di bawah lantai. Di taman. Dia tinggal bersama mereka.
Mengapa? Karena bahkan setelah mati, mereka masih bisa "dilihat." Masih bisa "dimiliki."
Bagian 2: Korban yang Terlupakan—Wanita yang Tidak Dianggap Penting
Beryl Evans dan Geraldine—Tragedi yang Diabaikan
Tiga tahun sebelum penemuan mayat di Rillington Place, sebuah pembunuhan ganda terjadi di rumah yang sama.
Beryl Evans, 19 tahun, dan putrinya Geraldine, 14 bulan, ditemukan tewas di rumah lantai atas—tepat di atas apartemen Christie.
Suami Beryl, Timothy Evans, ditangkap dan mengaku. Lalu dia menarik pengakuannya dan mengatakan Christie yang membunuh mereka. Polisi tidak percaya. Evans dihukum mati dan digantung pada Maret 1950.
Kasus ditutup.
Tapi sekarang, dengan penemuan enam mayat di rumah Christie, pertanyaan mengerikan muncul: Apakah Evans tidak bersalah? Apakah Inggris menggantung orang yang salah?
Wanita yang Tidak Dihitung
Korban Christie kebanyakan adalah wanita dari kelas bawah:
Beryl Evans - Ibu muda yang ingin menggugurkan kehamilan keduanya karena tidak mampu.
Ruth Fuerst - Perawat dan pekerja seks paruh waktu dari Austria, sendirian di negara asing.
Muriel Eady - Teman Christie yang mempercayainya untuk membantu masalah kesehatannya.
Ethel Christie - Istri Christie sendiri, yang dia bunuh untuk "membebaskan" dirinya agar bisa membunuh lebih banyak.
Rita Nelson, Kathleen Maloney, Hectorina MacLennan - Tiga wanita muda, semua dalam situasi desperate—tanpa tempat tinggal, butuh uang, mencari bantuan.
Summerscale menulis dengan detail yang menyentuh tentang kehidupan mereka. Bukan hanya "korban pembunuhan" tapi manusia dengan mimpi, ketakutan, dan perjuangan.
Dan yang paling menyedihkan: Masyarakat tidak peduli pada mereka sampai mereka mati.
Ketika mereka hilang, tidak ada yang mencari dengan serius. Polisi menganggap mereka "hanya wanita nakal" atau "tidak penting." Keluarga mereka terlalu miskin untuk menuntut keadilan.
Mereka diabaikan saat hidup. Dan hanya menjadi "menarik" setelah menjadi mayat.
Bagian 3: Perburuan Christie—Sensasi Nasional
Tujuh Hari Pelarian
Setelah mayat ditemukan pada 24 Maret, polisi langsung mencari Christie. Tapi dia sudah kabur.
Selama tujuh hari, seluruh Inggris terobsesi dengan perburuan ini.
Foto Christie dipasang di mana-mana. Setiap orang mengklaim melihatnya—di kereta, di pub, di jalan. Polisi menerima ratusan laporan palsu setiap hari.
Media gila. Ini adalah cerita terbesar tahun ini—bahkan mengalahkan berita persiapan penobatan Ratu Elizabeth II.
Koran tabloid berlomba-lomba mencari angle paling sensasional:
● "MONSTER PEMBUNUH MASIH BEBAS!"
● "RUMAH KENGERIAN DI NOTTING HILL!"
● "BERAPA BANYAK LAGI KORBAN?"
Orang-orang berkumpul di luar 10 Rillington Place, mengintip melalui jendela, mencoba melihat ke dalam "rumah pembunuhan."
Tragedi telah menjadi tontonan.
Penangkapan di Tepi Sungai Thames
Pada 31 Maret, polisi menemukan Christie duduk sendirian di tepi Sungai Thames, dekati Jembatan Putney.
Dia tidak melawan. Tidak lari. Hanya duduk dengan tenang, seolah menunggu.
Ketika ditanya, dia dengan tenang mengaku membunuh istrinya. Lalu secara bertahap, dia mengaku membunuh yang lain juga—kecuali Beryl dan Geraldine Evans. Dia bersikeras Timothy Evans yang membunuh mereka.
Tapi hampir tidak ada yang percaya.
Bagian 4: Harry dan Fryn—Dua Jurnalis, Dua Perspektif
Harry Procter—Reporter Tabloid yang Mencari Penebusan
Harry Procter bekerja untuk News of the World, tabloid paling sensasional di Inggris.
Dia reporter veteran yang telah meliput banyak kasus kriminal. Dia tahu caranya: berbicara dengan saksi, menyuap orang untuk informasi, menulis headline yang menjual.
Tapi kasus Christie berbeda. Harry mulai merasa tidak nyaman dengan perannya sendiri.
Dia melihat bagaimana media—termasuk dia—mengubah pembunuhan menjadi entertainment. Bagaimana korban direduksi menjadi "gadis nakal" atau "wanita malang." Bagaimana keluarga korban dieksploitasi untuk quotes yang menjual koran.
Yang paling mengganggu Harry: Dia meliput kasus Timothy Evans tiga tahun lalu dan menulis bahwa Evans bersalah.
Sekarang dia curiga dia salah. Dan artikelnya mungkin membantu mengirim orang tidak bersalah ke tiang gantungan.
Harry mulai menyelidiki lebih dalam. Bukan untuk sensasi. Tapi untuk kebenaran—dan mungkin, penebusan.
Fryn Tennyson Jesse—Penulis Kriminal yang Mencari Keadilan
Fryn Tennyson Jesse adalah penulis terkenal dan jurnalis crime yang dihormati. Dia sudah tua, sakit, tapi ketika mendengar kasus Christie, dia mendesak editornya untuk menugaskannya.
Mengapa? Karena dia melihat sesuatu yang penting dalam kasus ini.
Fryn tidak tertarik pada sensasi. Dia tertarik pada psikologi pembunuh dan keadilan untuk korban.
Dia hadir di pengadilan Christie. Dia mendengar setiap testimony. Dia menulis esai panjang yang menganalisis apakah Christie atau Evans yang membunuh Beryl dan Geraldine.
Kesimpulannya mengejutkan: Dia percaya Christie membunuh Beryl, tapi Evans mungkin membunuh Geraldine dalam panik setelah menemukan istri dan ibu mertuanya mati.
Tapi dia tidak yakin. Dan ketidakpastian itu menghantuinya.
Bagian 5: Pengadilan—Tontonan Publik
Sidang yang Menjadi Sirkus
Pengadilan Christie dimulai Juni 1953 di Old Bailey, pengadilan paling terkenal di Inggris.
Ribuan orang berkumpul di luar, berharap mendapat tempat di galeri penonton. Hanya sedikit yang berhasil masuk—dan mereka yang masuk melihat dengan mata berbinar, seolah menonton pertunjukan teater.
Christie dituduh membunuh istrinya, Ethel. (Secara teknis dia hanya diadili untuk satu pembunuhan, meskipun dia mengaku membunuh enam.)
Strategi pembelaan Christie: insanity. Pengacaranya berargumen bahwa dia gila, tidak tahu apa yang dia lakukan.
Tapi jaksa dan saksi ahli menentang. Christie bukan gila. Dia tahu persis apa yang dia lakukan. Dia merencanakan pembunuhan. Dia menyembunyikan mayat. Dia berbohong kepada polisi.
Dia tidak gila. Dia jahat.
Setelah sidang singkat—hanya empat hari—juri memutuskan: Bersalah.
Hukuman: Mati.
Christie digantung pada 15 Juli 1953, di penjara yang sama di mana Timothy Evans digantung tiga tahun sebelumnya.
Ironi yang Mengerikan
Dua pria digantung di penjara yang sama untuk pembunuhan di rumah yang sama.
Tapi hanya satu yang bersalah—atau mungkin keduanya, dalam cara yang berbeda.
Kebenaran penuh tidak pernah diketahui. Dan itu adalah tragedi terbesar dari semua ini.
Bagian 6: Miscarriage of Justice—Kesalahan yang Tidak Bisa Diperbaiki
Kampanye untuk Pembebasan Evans
Setelah Christie digantung, kampanye publik dimulai untuk membersihkan nama Timothy Evans.
Jurnalis seperti Harry Procter menulis artikel yang mempertanyakan keputusan pengadilan. Aktivis menuntut investigasi ulang.
Pemerintah enggan. Mengakui kesalahan berarti mengakui bahwa sistem peradilan Inggris bisa membunuh orang tidak bersalah. Dan pada saat itu, debat tentang hukuman mati sedang memanas.
Pemerintah konservatif tidak ingin memberi amunisi kepada penentang hukuman mati.
Tapi tekanan publik terlalu besar. Pada 1965—15 tahun setelah Evans digantung—investigasi resmi menyimpulkan bahwa Evans mungkin tidak bersalah dalam pembunuhan istrinya Beryl.
Evans diberi pengampunan anumerta (posthumous pardon) pada 1966.
Tapi itu tidak mengembalikan hidupnya. Tidak mengkompensasi ibunya yang berduka. Tidak memperbaiki ketidakadilan.
Keadilan yang terlambat bukanlah keadilan.
Pertanyaan yang Tidak Terjawab
Sampai hari ini, tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada Beryl dan Geraldine Evans.
Apakah Christie membunuh keduanya? Apakah Evans membunuh putrinya dalam panik setelah Christie membunuh istrinya? Apakah ada kemungkinan ketiga yang belum terpikirkan?
Summerscale menyajikan bukti dari kedua sisi. Dia tidak berpura-pura punya jawaban pasti.
Beberapa misteri tidak pernah terpecahkan—dan kita harus hidup dengan ketidakpastian itu.
Bagian 7: Peepshow—Kita Semua Pengintip
Mengapa Kita Terobsesi dengan Pembunuhan?
Inilah pertanyaan paling penting yang Summerscale ajukan: Mengapa kita begitu terpesona dengan kejahatan kekerasan?
Pada tahun 1953, ribuan orang berkumpul di luar 10 Rillington Place hanya untuk melihat rumah di mana wanita dibunuh.
Hari ini, kita menonton dokumenter true crime di Netflix. Kita mendengarkan podcast tentang pembunuh berantai. Kita membaca buku tentang kasus-kasus paling mengerikan.
Apa bedanya?
Summerscale tidak menghakimi—dia juga bagian dari industri true crime. Tapi dia meminta kita untuk sadar tentang apa yang kita lakukan.
Bahaya dari Voyeurisme
Ada garis tipis antara:
● Mengungkap kebenaran dan mengeksploitasi tragedi
● Menghormati korban dan menggunakan mereka untuk entertainment
● Mencari keadilan dan memuaskan rasa ingin tahu yang morbid
Media pada tahun 1953 melintasi garis itu dengan riang. Mereka menyebut korban Christie sebagai "gadis nakal" dan "wanita jalanan." Mereka mencetak foto mayat (atau setidaknya mencoba). Mereka mewawancarai keluarga korban untuk quotes yang sensasional.
Dan kita membeli koran mereka.
Hari ini, kita lebih sopan. Kita menggunakan bahasa yang lebih sensitif. Tapi apakah substansinya berbeda?
Ketika kita menonton true crime, apakah kita peduli pada korban—atau kita hanya terhibur oleh kengerian?
Tanggung Jawab Kita
Summerscale tidak mengatakan kita harus berhenti membaca atau menonton true crime.
Tapi dia meminta kita untuk melakukannya dengan kesadaran dan tanggung jawab:
● Ingat bahwa ini adalah manusia nyata, bukan karakter dalam cerita fiksi
● Tanyakan siapa yang diuntungkan dari penceritaan ini—korban atau media?
● Dukung karya yang menghormati korban, bukan yang mengeksploitasi mereka
● Sadari bahwa kita semua pengintip—dan pikirkan apakah itu yang ingin kita jadi
Bagian 8: London Pasca-Perang—Konteks yang Menghasilkan Monster
Kota yang Hancur
Untuk memahami kasus Christie, kita harus memahami London pasca-Perang Dunia II.
Kota ini hancur—secara fisik dan psikologis.
Secara fisik:
● Puluhan ribu rumah hancur oleh bom
● Orang tinggal di bangunan yang tidak layak huni
● Makanan masih dijatah sampai 1954
● Kabut beracun (smog) sering membunuh ribuan orang
● Tidak ada pemanas yang memadai di musim dingin
Secara psikologis:
● Trauma perang yang tidak diproses
● Pria kembali dari perang dengan PTSD yang tidak diobati
● Kekerasan domestik merajalela dan dianggap "normal"
● Alkoholisme tinggi
● Bunuh diri dan depresi umum
Dalam konteks ini, kehidupan—terutama kehidupan wanita miskin—tidak dianggap berharga.
Misogini dan Rasisme yang Meluas
Summerscale tidak mempercantik realitas tahun 1950-an.
Misogini:
● Wanita tidak punya kontrol atas tubuh mereka—aborsi ilegal, kontrasepsi sulit didapat
● Kekerasan domestik diterima—polisi enggan campur tangan dalam "masalah rumah tangga"
● Wanita yang hamil di luar nikah dihina dan diasingkan
● Pekerja seks diperlakukan seperti sampah masyarakat
Rasisme:
● Imigran dari Karibia (seperti Beresford Brown yang menemukan mayat) menghadapi diskriminasi brutal
● Mereka hanya bisa menyewa rumah terburuk—termasuk 10 Rillington Place
● Mereka dicurigai, dihina, dan disalahkan untuk semua masalah
● Bahkan Christie, seorang pembunuh, mengeluh tentang "tetangga kulit hitam"
Dalam masyarakat yang begitu tidak adil, tidak mengherankan bahwa pembunuhan wanita miskin tidak ditanggapi dengan serius.
Penutup: Apa yang Kita Pelajari dari Peepshow?
1. Keadilan Bisa Salah—dan Salah yang Fatal
Kasus Timothy Evans membuktikan bahwa sistem peradilan, bahkan dengan hakim, juri, dan pengacara terbaik, bisa membunuh orang yang tidak bersalah.
Ini adalah argumen paling kuat melawan hukuman mati: Kesalahan tidak bisa diperbaiki.
Inggris menghapus hukuman mati pada 1965, sebagian karena kasus ini.
Pelajaran: Tidak ada sistem manusia yang sempurna. Ketika kesalahan berarti kematian, kita harus memilih untuk tidak membunuh.
2. Korban yang Terlupakan Layak Diingat
Wanita yang dibunuh Christie bukan "gadis nakal" atau "korban yang tidak penting."
Mereka adalah manusia—dengan keluarga, mimpi, dan perjuangan.
Ruth Fuerst bermimpi membangun kehidupan baru di Inggris. Muriel Eady ingin sehat lagi. Beryl Evans ingin masa depan yang lebih baik untuk putrinya.
Pelajaran: Setiap korban kejahatan adalah individu dengan nilai inheren—bukan hanya "karakter" dalam cerita yang kita konsumsi.
3. Media Punya Kekuatan—dan Tanggung Jawab
Tabloid tahun 1953 mengubah tragedi menjadi sirkus. Mereka menjual jutaan kopi dengan mengeksploitasi rasa sakit.
Hari ini, media sosial dan streaming platform melakukan hal yang sama—hanya dengan teknologi yang lebih canggih.
Pelajaran: Kita perlu media yang melaporkan dengan tanggung jawab—yang mencari kebenaran, bukan hanya clicks dan views.
4. Masyarakat yang Tidak Adil Menciptakan Korban
Banyak korban Christie adalah wanita yang diabaikan oleh masyarakat:
● Terlalu miskin untuk akses kesehatan yang aman
● Terlalu terstigma untuk mencari bantuan
● Terlalu tidak penting untuk dilindungi
Pelajaran: Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang melindungi yang paling rentan—bukan hanya yang berkuasa.
5. Kita Semua Bertanggung Jawab sebagai "Penonton"
Summerscale tidak menghakimi pembaca true crime—dia sendiri menulis true crime.
Tapi dia meminta kita untuk sadar:
● Mengapa kita tertarik pada kengerian?
● Apakah konsumsi kita membantu mencari keadilan—atau hanya memuaskan voyeurisme?
● Apakah kita menghormati korban—atau mengeksploitasi mereka?
Pelajaran: Tidak apa-apa tertarik pada true crime—tapi lakukan dengan empati, kesadaran, dan rasa hormat.
Pertanyaan untuk Anda
Kate Summerscale menutup bukunya tanpa jawaban yang rapi. Karena beberapa pertanyaan tidak punya jawaban.
Tapi dia meninggalkan kita dengan refleksi:
● Ketika Anda menonton dokumenter pembunuhan atau membaca buku true crime, apa yang Anda cari? Keadilan? Kebenaran? Atau hanya hiburan?
● Apakah Anda ingat nama korban—atau hanya nama pembunuh? Kita sering ingat Ted Bundy, Jeffrey Dahmer, John Wayne Gacy. Tapi berapa banyak dari kita yang ingat nama korban mereka?
● Apakah konsumsi true crime Anda membantu atau merugikan? Apakah Anda mendukung karya yang memberi suara pada korban—atau yang hanya mengeksploitasi tragedi?
10 Rillington Place telah dihancurkan pada tahun 1970. Jalanan itu diganti namanya. Tapi kisahnya tetap hidup.
Dan setiap kali kita mengklik dokumenter pembunuhan, membaca artikel tentang kasus kriminal, atau mendengarkan podcast true crime—kita masuk ke peepshow.
Pertanyaannya: Apakah kita sadar? Dan apakah kita melakukannya dengan tanggung jawab?
Tentang Buku Asli
"The Peepshow: The Murders at Rillington Place" diterbitkan pada tahun 2024 dan memenangkan ALCS Gold Dagger Award for Non-Fiction 2025.
Kate Summerscale adalah penulis Inggris dan mantan editor sastra untuk The Telegraph. Buku pertamanya yang meledak, "The Suspicions of Mr. Whicher" (2008), memenangkan Samuel Johnson Prize dan menjadi bestseller internasional.
Summerscale dikenal karena riset arsipnya yang mendalam dan kemampuannya mengubah kasus kriminal historis menjadi narasi yang menggugah. Dia tidak hanya menceritakan siapa membunuh siapa—dia mengeksplorasi mengapa kita peduli, apa yang kasus itu katakan tentang masyarakat, dan bagaimana tragedi membentuk sejarah.
"The Peepshow" adalah hasil riset bertahun-tahun di British National Archives, termasuk dokumen yang baru saja dibuka untuk publik. Summerscale menemukan surat, laporan polisi, testimony pengadilan, dan catatan pribadi yang belum pernah diterbitkan.
Gaya penulisannya menggabungkan rigor jurnalistik dengan kedalaman novelis—setiap detail dicek ulang, tapi diceritakan dengan cara yang membuat Anda tidak bisa berhenti membaca.
Untuk pengalaman lengkap dari investigasi mendalam Summerscale, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap tema utama, tapi buku lengkap memberikan detail arsip, foto, dan nuansa yang tidak bisa diringkas—termasuk pertanyaan moral yang akan menghantuimu lama setelah Anda menutup halaman terakhir.
Sekarang pergilah dan pikirkan tentang peran Anda sebagai "penonton" dalam peepshow tragedi.
Karena seperti yang ditunjukkan Summerscale: Kita semua ada di sana, mengintip melalui lubang kunci. Pertanyaannya adalah—apakah kita melakukannya dengan rasa hormat pada mereka yang terluka, atau hanya untuk hiburan kita sendiri?
Pilihannya ada pada kita.

