The Infernal Machine

Steven Johnson


Ledakan yang Tidak Ada yang Menduga 

Bayangkan Anda hidup di New York City pada awal abad ke-20. Setiap pagi, Anda membuka surat kabar dan membaca berita terbaru: bom meledak di sini, gedung hancur di sana, pejabat pemerintah tewas di kota lain. Bukan di zona perang. Bukan di negeri asing. Di kota Anda sendiri. 

Selama tiga dekade, lebih dari tujuh ribu bom meledak di New York City saja. Tujuh ribu. Bukan seratus, bukan seribu — tujuh ribu. Jumlah yang bahkan sulit dibayangkan hari ini. 

Siapa yang melakukannya? Bukan musuh dari luar negeri. Melainkan sekelompok orang yang percaya bahwa dunia harus dihancurkan dulu sebelum bisa dibangun kembali menjadi lebih adil. Mereka menyebut diri mereka anarkis. Dan senjata pilihan mereka adalah sesuatu yang baru ditemukan, sesuatu yang koran-koran saat itu sebut dengan nama yang mengerikan: mesin neraka. 

Nama aslinya: dinamit. 

Steven Johnson menulis buku ini bukan sekadar untuk menceritakan kisah bom dan kejahatan. Dia menulis untuk mengajukan pertanyaan yang terasa sangat relevan hari ini: Apa yang terjadi ketika teknologi baru jatuh ke tangan kelompok yang marah? Dan bagaimana negara merespons — apakah dengan keadilan, atau dengan kekuasaan yang justru melampaui ancaman itu sendiri? 

Jawabannya, seperti yang akan kita lihat bersama, mengubah dunia selamanya.

 


Bagian 1: Pria yang Menciptakan Kehancuran — dan Menyesalinya 

Alfred Nobel dan Dinamit 

Alfred Nobel adalah ilmuwan yang ingin membuat dunia lebih aman. Sungguh. 

Di pertengahan abad ke-19, bahan peledak utama yang digunakan untuk konstruksi — menggali terowongan, membangun rel kereta api, membuka tambang — adalah nitrogliserin. Masalahnya, nitrogliserin sangat tidak stabil. Ia meledak secara tak terduga, membunuh pekerja tanpa peringatan. 

Nobel percaya bahwa jika ia bisa membuat bahan peledak yang lebih stabil dan terkontrol, ia bisa menyelamatkan nyawa para pekerja sekaligus memajukan pembangunan dunia. Setelah bertahun-tahun percobaan, termasuk ledakan yang menewaskan adiknya sendiri, ia berhasil. Ia mencampur nitrogliserin dengan tanah diatom — sejenis tanah yang menyerap cairan — dan menciptakan bahan peledak yang bisa dibawa, disimpan, bahkan dipukul tanpa meledak kecuali dipicu dengan sengaja. 

Ia memberinya dua nama. Yang pertama: Nobel's Safety Powder. Yang kedua, yang kemudian terkenal ke seluruh dunia: dinamit. 

Dalam beberapa tahun, dinamit memang merevolusi konstruksi. Terowongan Alpine dibangun. Kanal Panama menjadi mungkin. Pertambangan modern lahir. Tapi sesuatu yang tidak Nobel bayangkan juga terjadi: dinamit menyebar ke tangan yang salah. 

Para anarkis di Eropa — yang sedang mencari cara untuk menyerang penguasa tanpa perlu tentara atau senjata mahal — menemukan bahwa dinamit adalah jawaban sempurna. Murah. Tersedia luas. Mematikan. Dan bisa dibuat oleh siapa saja yang tahu resepnya. 

Nobel, yang di akhir hidupnya menyaksikan penemuannya digunakan untuk membunuh raja dan meledakkan gedung pemerintah, dilaporkan sangat terguncang. Ada yang bilang inilah yang mendorongnya mendirikan Hadiah Nobel — upaya terakhir seorang pria kaya untuk mengasosiasikan namanya dengan perdamaian, bukan kehancuran. 

Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Mesin neraka sudah ada di dunia.

 


Bagian 2: Mimpi yang Berubah Menjadi Bom

Anarkisme — Ide Mulia yang Salah Jalan 

Sebelum kita mengutuk para anarkis, Steven Johnson meminta kita untuk sejenak memahami dari mana mereka berasal. 

Di akhir abad ke-19, kondisi kaum buruh di Eropa dan Amerika sangat mengenaskan. Para pekerja pabrik bekerja dua belas hingga enam belas jam sehari dengan upah yang hampir tidak cukup untuk makan. Anak-anak bekerja di tambang. Kecelakaan kerja dibiarkan tanpa kompensasi. Sementara itu, para pemilik pabrik dan bangsawan hidup dalam kemewahan yang tidak terbayangkan. 

Ke dalam situasi ini datanglah Peter Kropotkin — seorang pangeran Rusia yang meninggalkan gelarnya, memilih hidup di antara rakyat jelata, dan mengembangkan sebuah teori yang menggetarkan. Dalam ekspedisi ilmiah ke Siberia, Kropotkin mengamati sesuatu yang bertolak belakang dengan gagasan Darwin populer saat itu. Alih-alih "bertahan yang terkuat" melalui persaingan brutal, Kropotkin melihat bahwa binatang-binatang paling berhasil bertahan adalah yang hidup dalam komunitas saling tolong. 

Ia menyebut prinsip ini mutual aid — saling bantu. Dan ia menggunakannya sebagai landasan ilmiah untuk anarkisme: gagasan bahwa manusia, jika dibiarkan hidup dalam komunitas kecil yang setara tanpa hierarki negara maupun modal, akan secara alami saling tolong dan makmur bersama. 

Anarkisme bukan soal kekacauan seperti yang banyak orang kira. Anarkisme adalah tentang tatanan tanpa pemimpin paksa — tatanan yang tumbuh dari bawah, bukan dipaksakan dari atas. Ia menentang kapitalisme sekaligus menentang pemerintahan besar. Itulah mengapa anarkisme sulit dipetakan ke kiri atau kanan dalam peta politik kita hari ini. 

Tapi ada bagian dari gerakan ini yang tersesat ke dalam kekerasan. Mereka menyebutnya propaganda of the deed — propaganda melalui tindakan. Artinya: bukan dengan pidato atau pamflet, tetapi dengan membunuh penguasa, para anarkis percaya mereka bisa memicu kebangkitan rakyat. 

Strategi itu, seperti yang Johnson catat dengan tajam, terbukti menjadi salah satu strategi branding paling bencana dalam sejarah politik.

 


Bagian 3: Dua Jiwa yang Terbakar 

Emma Goldman dan Alexander Berkman 

Di pusat cerita ini ada dua figur yang akan terus menghantui halaman demi halaman buku Johnson: Emma Goldman dan Alexander Berkman, dua imigran Yahudi-Rusia yang melarikan diri dari kekejaman Tsar dan tiba di Amerika dengan hati penuh api. 

Emma Goldman adalah orator yang luar biasa. Pidato-pidatonya membakar semangat ribuan orang. Ia berbicara tentang hak perempuan, kebebasan berbicara, penolakan atas wajib militer. Ketika ia berbicara, orang mendengarkan. Bahkan musuh-musuhnya mengakui bahwa ia adalah salah satu orator terhebat zamannya. 

Alexander Berkman, kekasihnya, adalah pria yang lebih gelap. Ia percaya bahwa kekerasan langsung adalah jalan revolusi. Pada 1892, ketika terjadi pemogokan brutal di pabrik baja Carnegie di Homestead — di mana buruh yang mogok ditembaki oleh agen keamanan bayaran — Berkman memutuskan untuk bertindak. Ia pergi ke kantor Henry Clay Frick, sang manajer kejam, dan menembaknya. 

Frick selamat. Berkman ditangkap dan dijatuhi hukuman 22 tahun penjara. 

Goldman melihat kekerasan merusak perjuangan mereka, namun ia tidak sanggup mengutuk kekasihnya secara terbuka. Inilah dilema yang menghancurkan: ia tahu bom-bom itu salah secara strategis, bahwa setiap ledakan mendorong simpati publik menjauh dari kaum buruh dan ke arah pemerintah. Tapi bagaimana ia bisa mengkhianati orang-orang yang berjuang dengan cara yang mereka percayai benar? 

Ketegangan ini — antara cita-cita mulia dan cara yang salah — adalah jantung dari tragedi anarkisme. 

Sementara Berkman mendekam di penjara selama lebih dari satu dekade, Goldman terus berpidato dan menulis. Ia menerbitkan majalah Mother Earth, mengorganisasi protes, dan menjadi simbol paling terkenal dari gerakan radikal Amerika. Tapi reputasinya selalu terikat pada bayangan kekerasan yang ia tidak bisa — atau tidak mau — sepenuhnya tolak. 

Johnson melukis kedua tokoh ini dengan penuh nuansa: mereka bukan villain murni, juga bukan pahlawan. Mereka adalah manusia yang dihancurkan oleh sistem yang tidak adil, lalu memilih cara yang akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri dan gerakan yang mereka cintai.

 


Bagian 4: Polisi yang Belajar Berpikir 

Arthur Woods, Joseph Faurot, dan Lahirnya Detektif Modern 

Sementara bom-bom meledak, ada sisi lain cerita ini: bagaimana sebuah kepolisian yang korup dan tidak kompeten dipaksa untuk berevolusi. 

Pada April 1914, Arthur Woods mengambil alih komando kepolisian New York. Ia adalah orang luar — bukan polisi karir, melainkan teman Theodore Roosevelt yang ditugaskan untuk membersihkan institusi yang telah lama tenggelam dalam korupsi zaman Tammany Hall. 

Woods menghadapi tantangan yang hampir mustahil. Dalam hitungan minggu setelah ia menjabat, kota tenggelam dalam kampanye pengeboman paling intens dalam sejarah Amerika. Polisinya terbiasa mengandalkan otot, bukan otak. Memecahkan kejahatan bukan bagian dari pekerjaan mereka — menakut-nakuti orang jauh lebih mudah dan menguntungkan. 

Woods membawa cara pikir yang berbeda: data, sains, dan metode. 

Di sisinya ada Inspektur Joseph Faurot, yang telah belajar teknik sidik jari di Eropa dan berjuang keras untuk memperkenalkannya di Amerika. Sidik jari — yang tampak seperti sihir bagi kebanyakan polisi saat itu — memberikan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: bukti yang tidak bisa disangkal. Ketika Faurot menggunakan sidik jari untuk pertama kalinya mendapatkan vonis pengadilan di Amerika dalam kasus Charles Crispi, itu adalah momen bersejarah. 

Woods juga memahami sesuatu yang mendahului zamannya: bahwa mencegah kejahatan lebih baik daripada merespons setelah terjadi. Ia membangun sistem pengumpulan informasi yang sistematis, mendorong polisinya untuk mengenal warga lingkungan mereka, dan menciptakan unit khusus yang fokus pada ancaman terorganisir. Ia mengubah kepolisian dari pasukan pemukulan menjadi institusi yang — setidaknya dalam ambisinya — berbasis bukti dan akuntabel. 

Tidak semua berhasil. Korupsi tidak hilang dalam semalam. Tidak semua anggota kepolisian mau berubah. Tapi fondasi yang Woods dan Faurot bangun — bahwa kejahatan bisa dipecahkan melalui sains, data, dan intelijen, bukan hanya kekerasan — bertahan dan berkembang. 

Ada pula Owen Eagen — satu-satunya petugas pemusnah bom di kepolisian New York selama bertahun-tahun. Pria ini menjinakkan lebih dari tujuh ribu bom sepanjang karirnya. Tujuh ribu. Sendirian. 

Dan ada Amadeo Polignani, agen penyamaran Italia-Amerika yang berhasil menyusup ke dalam Lingkaran Bresci, kelompok anarkis paling berbahaya di kota itu. Operasinya adalah salah satu operasi mata-mata yang paling berani di era tersebut.

Dari konflik inilah lahir banyak hal yang kita anggap biasa hari ini: sidik jari sebagai bukti hukum, unit bom khusus, operasi penyamaran, pengumpulan intelijen sistematis. Kepolisian modern, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, lahir dari pertarungan melawan dinamit.

 


Bagian 5: Ironi yang Paling Pahit 

Anarkisme Melahirkan Apa yang Paling Ia Takuti 

Inilah twist terbesar dari seluruh cerita ini, dan Steven Johnson tidak menyembunyikannya: 

Para anarkis bermimpi tentang dunia tanpa negara, tanpa pengawasan, tanpa kontrol dari atas. Mereka menggunakan bom untuk menghancurkan tatanan yang menindas. 

Yang terjadi justru sebaliknya. 

Setiap bom yang meledak memberi pemerintah alasan untuk memperluas kekuasaan pengawasannya. Setiap serangan mendorong publik yang semula mungkin bersimpati pada keluhan kaum buruh untuk mendukung tindakan keras pemerintah. Setiap pembunuhan pejabat menghasilkan undang-undang baru yang membatasi kebebasan berkumpul, berbicara, dan berorganisasi. 

Anarkisme, yang lahir dari penolakan terhadap kekuasaan negara, justru menjadi bahan bakar terkuat untuk pertumbuhan negara pengawas. 

J. Edgar Hoover muda — yang saat itu masih bekerja paruh waktu di perpustakaan dan sangat ahli dalam sistem pengarsipan — melihat peluang. Ia membangun sistem kartu indeks raksasa yang mengidentifikasi, mengkategorikan, dan melacak semua orang yang dianggap "berbahaya." Sistem inilah yang kemudian menjadi tulang punggung FBI. Keahlian Hoover bukan dalam menembak atau berkelahi, melainkan dalam mengklasifikasikan dan mengarsipkan informasi — kemampuan yang di era modern kita kenal sebagai pengumpulan data. 

Pada 1919-1920, dalam gelombang Ketakutan Merah (Red Scare) yang dipicu oleh serangkaian pengeboman baru, Goldman dan Berkman bersama 247 orang lainnya dideportasi ke Rusia Soviet. Perjalanan panjang mereka — dari Rusia ke Amerika karena lari dari kekejaman Tsar, lalu diusir kembali ke Rusia karena kekerasan yang mereka anut atau dianut rekan-rekan mereka — berakhir dengan kekecewaan mendalam. Rusia Soviet ternyata bukan surga yang mereka bayangkan. Lenin membungkam anarkis sama kerasnya dengan Tsar. 

Mimpi telah runtuh. Dan di reruntuhannya, berdiri negara pengawas yang lebih kuat dari sebelumnya.

 


Bagian 6: Pelajaran yang Menembus Waktu

1. Teknologi Tidak Memilih Sisi 

Nobel menciptakan dinamit untuk menyelamatkan nyawa pekerja konstruksi. Akhirnya dinamit digunakan untuk membunuh orang di jalanan kota. Kita sering berpikir bahwa teknologi baru adalah netral — ia hanya alat, bergantung siapa yang memegangnya. Tapi Johnson menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih rumit: teknologi tertentu, karena sifatnya, cenderung lebih mudah disalahgunakan daripada yang lain. 

Pertanyaan yang relevan hari ini: Ketika kita menciptakan teknologi baru, apakah kita cukup memikirkan ke tangan siapa ia akan jatuh? 

2. Kemarahan yang Sah Bisa Mengarah ke Cara yang Salah 

Kondisi buruh di akhir abad ke-19 memang sangat buruk. Kemarahan para anarkis bukan tanpa dasar. Johnson menulis bahwa "untuk setiap kematian di tangan anarkis yang melempar bom, seratus orang atau lebih mati akibat kecelakaan pabrik." Sistem memang tidak adil. 

Tapi cara yang salah — kekerasan yang membunuh orang tak bersalah — tidak hanya gagal mencapai tujuan, ia justru memperburuk kondisi yang hendak diperbaiki. Simpati publik yang mungkin ada untuk kaum buruh menguap setiap kali bom meledak di tengah keramaian. 

Pelajaran ini tidak usang: gerakan apapun yang mengadopsi kekerasan acak sebagai strategi hampir selalu menghancurkan dirinya sendiri. Dan ironi terbesarnya: kekerasan itu justru memberi musuh mereka legitimasi untuk bertindak lebih keras. 

3. Krisis Melahirkan Kekuasaan yang Tidak Pernah Pergi 

Setiap kali ada krisis keamanan, pemerintah memperluas kekuasaannya. Dan kekuasaan itu jarang pernah dikembalikan setelah krisis berlalu. 

Hoover membangun sistem pengarsipan di bawah tekanan ancaman anarkis. Sistem itu kemudian digunakan untuk memata-matai aktivis hak sipil, politisi yang tidak disukai, jurnalis — siapa saja yang dianggap "ancaman." Infrastruktur pengawasan yang dibangun untuk menghadapi teroris menjadi alat kontrol yang jauh lebih luas. 

Kita melihat pola yang sama berulang: setelah setiap krisis besar, datang perluasan kekuasaan pengawasan yang biasanya tidak dicabut meski krisis sudah berlalu. 

4. Ide Besar Membutuhkan Strategi yang Bijak 

Kropotkin mengembangkan teori mutual aid yang, jika dikembangkan dengan cara lain, mungkin bisa membentuk tatanan sosial yang lebih manusiawi. Gagasannya tentang kerja sama sebagai kekuatan evolusioner, tentang komunitas yang tumbuh dari bawah, mendahului banyak pemikiran modern tentang jaringan desentralisasi.

Tapi karena anarkisme dikaitkan dengan dinamit dan pembunuhan, ide-ide itu tenggelam bersama para pengebom. Johnson bertanya dengan sungguh-sungguh: bagaimana jika Kropotkin, bukan Marx, yang menjadi bapak revolusi kiri? Akankah abad ke-20 berbeda? 

Ide yang bagus saja tidak cukup. Cara menyebarkannya — cara memperjuangkannya — menentukan apakah ide itu akan hidup atau mati.

 


Penutup: Mesin Neraka yang Masih Bekerja

Di akhir buku ini, Steven Johnson membawa kita kembali ke masa kini. 

Jaringan anarkis yang terdesentralisasi, pesan yang menyebar tanpa pemimpin tunggal, warga yang merekam polisi dan menyebarkan video di media sosial, kelompok milisi yang menyerbu gedung pemerintah — semua ini terasa familiar. Bukan karena sejarah berulang persis, tapi karena pola dasarnya sama. 

Selalu ada kelompok yang merasa sistem tidak adil. Selalu ada teknologi baru yang memberi kekuatan kepada individu untuk melawan institusi yang lebih besar. Dan selalu ada negara yang merespons dengan memperluas kekuasaan pengawasannya — kadang dengan alasan yang sah, kadang melampaui batas yang seharusnya. 

Yang berubah hanya alatnya. Dinamit digantikan oleh algoritma. Kartu indeks Hoover digantikan oleh basis data digital. Agen penyamaran digantikan oleh akun media sosial palsu. 

Mesin neraka sudah tidak lagi bernama dinamit. Tapi ia masih bekerja. 


Pertanyaan untuk Anda 

Steven Johnson menulis buku ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami. Dan pemahaman itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah: 

● Ketika Anda menciptakan atau mengadopsi teknologi baru, sudahkah Anda memikirkan cara terburuk ia bisa digunakan? 

● Ketika Anda memperjuangkan sesuatu yang Anda yakini benar, apakah cara yang Anda pilih mendukung atau justru merusak tujuan itu? 

● Seberapa banyak kebebasan Anda bersedia korbankan untuk rasa aman? Dan apakah rasa aman itu benar-benar datang? 

● Siapa yang Anda percayai untuk memegang kekuasaan pengawasan — dan apa yang mencegah kekuasaan itu disalahgunakan? 

Goldman dan Berkman percaya mereka berjuang untuk dunia yang lebih baik. Nobel percaya ia menciptakan alat untuk kemajuan manusia. Hoover percaya ia melindungi negara dari ancaman nyata. 

Semuanya tidak sepenuhnya salah. Dan semuanya tidak sepenuhnya benar. 

Itulah yang membuat sejarah ini — dan pertanyaan yang ditimbulkannya — begitu sulit, begitu penting, dan begitu tidak pernah selesai.

 


Tentang Buku Asli 

"The Infernal Machine: A True Story of Dynamite, Terror, and the Rise of the Modern Detective" diterbitkan pada Mei 2024 oleh Crown Publishing dan langsung mendapat sambutan luas. Buku ini memenangkan Edgar Award — penghargaan bergengsi di dunia penulisan kejahatan dan detektif — serta masuk daftar Buku Terbaik Chicago Public Library tahun 2024. 

Steven Johnson adalah penulis bestseller dengan tiga belas buku sebelumnya, termasuk "The Ghost Map," "Where Good Ideas Come From," dan "How We Got to Now." Ia juga pembawa acara serial PBS/BBC dan salah satu pendiri NotebookLM dari Google. Johnson menghabiskan empat tahun meneliti dan menulis buku ini, menelusuri arsip surat kabar lama, dokumen kepolisian, dan memoar para tokoh yang terlibat. 

Kekuatan terbesar buku ini adalah kemampuan Johnson merajut lima benang cerita yang berbeda — penemuan dinamit, teori anarkisme, perkembangan ilmu forensik, karir Goldman dan Berkman, serta reformasi kepolisian New York — menjadi satu narasi yang mengalir dengan ketegangan kisah kriminal. 

Untuk pengalaman penuh dari detail-detail mencengangkan yang Johnson ungkap — termasuk kisah pendeta pembunuh Hans Schmidt, operasi penyamaran Polignani yang berbahaya, dan ledakan dahsyat di Wall Street 1920 yang menewaskan puluhan orang — sangat disarankan untuk membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap garis besar; kekayaan sesungguhnya ada dalam setiap halaman. 

Karena seperti yang Johnson tunjukkan: sejarah yang terlupakan selalu punya cara untuk kembali mengetuk pintu masa kini.