The Boys of Riverside

Thomas Fuller


Tidur di Parkiran Target 

Bayangkan Anda berusia 16 tahun. Sekolah dimulai besok pagi. Tapi Anda tidak tidur di kamar yang hangat. Anda tidur di mobil ayah Anda—di parkiran Target, di seberang lapangan sekolah. 

Ini adalah kehidupan Phillip Castaneda. 

Setiap malam, dia meringkuk di kursi belakang mobil yang penuh dengan pakaian berantakan dan sisa makanan cepat saji. Ayahnya tidur di kursi depan. Mereka tidak punya rumah. Mereka tidak punya tempat lain untuk pergi. 

Tapi setiap pagi, Phillip bangun. Dia cuci muka di toilet sekolah. Dia masuk ke kelas. Dan di sore hari—di sore hari, dia berubah. 

Dia mengenakan seragam nomor 7. Dia berlari lebih cepat dari siapa pun di lapangan. Dia meluncur melewati lawan seperti petir. Dan untuk beberapa jam—hanya beberapa jam—dia bukan anak tunawisma yang tidur di mobil. 

Dia adalah Phillip Castaneda, running back terbaik tim California School for the Deaf, Riverside. 

Phillip tidak bisa mendengar sorakan penonton. Tapi dia tidak perlu mendengar. Dia merasakan—getaran kaki ribuan orang yang bertepuk tangan. Dia melihat—lampu stadion yang menyala terang. Dan dia tahu: Di lapangan ini, dia bukan yang "kurang." Dia adalah juara. 

Ini bukan hanya cerita tentang Phillip. Ini cerita tentang seluruh tim—anak-anak yang dunia anggap "disabled," tapi yang mengubah "kekurangan" mereka menjadi senjata paling ampuh di lapangan. 

Thomas Fuller—wartawan New York Times yang biasanya meliput perang, kebakaran hutan, dan penembakan massal—menemukan tim ini di tengah pandemi 2021. Dan dia menyadari: Ini bukan cerita olahraga biasa. 

Ini cerita tentang bagaimana sekelompok anak yang diremehkan dunia, yang ditolak tim mendengar, yang dianggap "tidak bisa"—bangkit dan menjadi juara negara bagian California.

Ini cerita tentang bahasa isyarat yang lebih cepat dari kata-kata. Tentang persaudaraan yang lahir dari pengalaman yang sama. Tentang pelatih yang tidak hanya mengajarkan sepak bola—tapi mengajarkan bahwa menjadi tuli bukan kelemahan. 

Ini adalah The Boys of Riverside.

 


Bagian 1: Sekolah di Mana Keheningan Adalah Bahasa

California School for the Deaf, Riverside 

Berdiri sejak 1949, California School for the Deaf, Riverside (CSDR) adalah sekolah negara bagian untuk anak-anak tuli di California Selatan. 

Ini bukan sekolah besar. Hanya 168 siswa SMA. Hanya sekitar 50 anak laki-laki—dari mana mereka harus membentuk tim sepak bola. 

Dan selama puluhan tahun, tim sepak bola Cubs—julukan tim CSDR—hampir tidak pernah menang. Papan skor lama di stadion mereka adalah saksi bisu dari musim demi musim kekalahan. 

Tapi CSDR bukan hanya sekolah. Ini adalah komunitas. 

Di sini, bahasa isyarat Amerika (ASL) adalah bahasa utama. Di sini, tuli bukan "kecacatan"—itu adalah identitas. Di sini, anak-anak yang pernah merasa terisolasi di dunia mendengar akhirnya menemukan tempat di mana mereka bisa berkomunikasi tanpa hambatan. 

Kafetaria CSDR penuh dengan gerakan tangan yang ekspresif—tawa, argumen, gosip remaja—semuanya dalam bahasa isyarat. Tidak ada yang perlu berteriak untuk didengar. Semua orang melihat. Semua orang mengerti. 

Dan inilah yang berbeda dari dunia luar: Di CSDR, menjadi tuli adalah normal.

Mengapa Sepak Bola Penting 

Bagi banyak siswa CSDR, sepak bola adalah lebih dari sekadar olahraga. 

Ini adalah tempat di mana mereka bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya: belonging

Banyak dari pemain Cubs pernah mencoba bermain di tim mendengar. Dan pengalaman itu menyakitkan. 

Felix Gonzalez ingat bagaimana pelatih tim mendengar berteriak instruksi—dan dia tidak bisa mendengar. Bagaimana teman satu tim frustasi karena dia "tidak mengerti." Bagaimana dia merasa seperti beban. 

Dominic Turner punya cochlear implant—alat yang memberi sebagian kemampuan mendengar. Tapi bahkan dengan itu, dia merasa terasing. Dia tidak cukup tuli untuk komunitas tuli. Tidak cukup mendengar untuk tim mendengar. 

Tapi di Cubs? Semua orang berbicara bahasa yang sama—bahasa isyarat. Semua orang mengerti. Dan untuk pertama kalinya, mereka merasa: Ini adalah tim kami.

 


Bagian 2: Keith Adams—Pelatih yang Mengubah Segalanya 

Dari Pemain yang Diremehkan ke Pelatih Juara 

Keith Adams adalah pelatih kepala Cubs. Dan dia tuli sejak lahir. 

Dia tahu persis apa yang dirasakan pemainnya—karena dia pernah di posisi mereka. 

Ketika Adams muda, dia bermain sepak bola di tim mendengar. Dia pemain berbakat—cepat, cerdas, taktis. Tapi pelatih dan teman satu tim selalu meremehkannya. Mereka pikir "anak tuli" tidak bisa memahami permainan yang kompleks. 

Adams membuktikan mereka salah. Dia bermain di level kuliah. Dia menjadi atlet yang luar biasa. 

Tapi pengalaman itu mengajarkan dia sesuatu yang penting: Dunia mendengar salah tentang apa artinya menjadi tuli. 

Menjadi tuli bukan berarti kamu tidak pintar. Bukan berarti kamu tidak bisa berkomunikasi. Bukan berarti kamu tidak bisa menjadi juara. 

Filosofi Pelatihan: Ketahanan, Kerja Keras, dan Percaya Diri

Ketika Adams menjadi pelatih Cubs, dia punya visi yang jelas: 

Kami tidak akan bermain sebagai tim yang "disabled." Kami akan bermain sebagai tim yang superior. 

Adams menekankan tiga hal: 

1. Ketahanan fisik - Latihan yang keras, tanpa henti. Cubs mungkin lebih kecil dari lawan—tapi mereka harus lebih kuat, lebih cepat, lebih fit. 

2. Kerja tim - Di lapangan, setiap pemain harus percaya satu sama lain. Tidak ada bintang tunggal—semua orang penting. 

3. Kebanggaan identitas - "Kalian tuli. Dan itu adalah kekuatan kalian. Gunakan itu." 

Adams tidak mencoba membuat pemainnya "seperti tim mendengar." Sebaliknya—dia mengajarkan mereka bagaimana menjadi tim tuli yang lebih baik dari tim mendengar. 

Keluarga Adams di Lapangan

Dua anak Adams—Trevin dan Kaden—bermain untuk Cubs. 

Trevin Adams adalah quarterback tim. Pemimpin di lapangan. Dia yang membaca pertahanan lawan, yang memanggil play, yang membuat keputusan split-second. 

Bayangkan tekanan itu: Ayahmu adalah pelatih. Seluruh tim bergantung padamu. Dan kamu harus membuktikan bahwa kamu di sini karena kemampuan—bukan karena nepotisme. 

Tapi Trevin terbukti. Dengan kepemimpinan dan bakatnya, dia membawa Cubs dari tim yang hampir tidak pernah menang menjadi juara yang tak terkalahkan.

 


Bagian 3: Keuntungan Tersembunyi—Ketika Tuli Adalah Senjata 

Komunikasi yang Lebih Cepat 

Inilah yang kebanyakan orang tidak mengerti: Tim tuli bermain lebih cepat dari tim mendengar. 

Di tim sepak bola mendengar, inilah yang terjadi setiap play: 

1. Quarterback berlari ke pinggir lapangan 

2. Pelatih berteriak instruksi 

3. Quarterback berlari kembali ke huddle 

4. Quarterback berbicara dengan tim 

5. Tim bersiap di posisi 

6. Play dimulai 

Total waktu: Hampir satu menit. 

Di Cubs, inilah yang terjadi: 

1. Pemain berdiri di posisi mereka 

2. Mereka melihat Coach Adams di pinggir lapangan 

3. Adams memberi sinyal play dalam bahasa isyarat 

4. Semua pemain mengangguk 

5. Play dimulai 

Total waktu: Dua detik. 

Kecepatan ini memberi Cubs keuntungan besar. Mereka bisa menjalankan lebih banyak play. Mereka bisa melelahkan lawan. Dan yang paling penting—lawan tidak bisa mendengar play mereka karena tidak ada yang diucapkan. 

Fokus Visual yang Superior 

Peneliti kognitif seperti David Corina menemukan sesuatu yang menarik: Orang tuli punya "hyper-abilities" visual. 

Karena mereka tidak bergantung pada pendengaran, otak mereka mengompensasi dengan meningkatkan kemampuan visual. Mereka melihat lebih cepat. Mereka menangkap gerakan lebih baik. Mereka membaca bahasa tubuh lawan dengan lebih akurat. 

Di lapangan sepak bola, ini berarti: 

● Cubs bisa melihat celah di pertahanan lawan lebih cepat

● Mereka bisa bereaksi terhadap gerakan lawan sebelum play dimulai 

● Mereka tidak terganggu oleh kebisingan penonton 

Sementara tim lawan terganggu oleh sorakan penonton, Cubs bermain dengan fokus yang sempurna—karena mereka tidak mendengar apa-apa. 

Ironi Huddle 

Ada fakta yang indah dan ironis yang Fuller temukan: 

Huddle sepak bola—lingkaran pemain yang berdiskusi sebelum play—diciptakan oleh tim tuli. 

Tahun 1890-an, di Gallaudet University (universitas untuk tuli), quarterback menyadari masalah: Tim lawan yang juga tuli bisa membaca sign language mereka. 

Jadi dia membuat strategi: "Kita bentuk lingkaran. Kita berdiri dengan punggung menghadap lawan. Mereka tidak bisa melihat sign language kita." 

Huddle lahir. 

Dan sekarang, lebih dari 100 tahun kemudian, Cubs menggunakan kebalikan strategi itu: Mereka tidak perlu huddle sama sekali. 

Karena mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat dari jarak jauh—tanpa lawan mengerti. 

Dunia tuli memberi sepak bola huddle. Dan dunia tuli juga yang pertama tidak memerlukannya.

 


Bagian 4: Musim 2021—Dari Underdog ke Juara yang Hampir 

Awal yang Berat 

Musim 2021 dimulai setelah lebih dari setahun tanpa latihan—karena pandemi COVID-19. 

Hari pertama latihan, pemain kesulitan dengan latihan kondisi fisik dasar. Mereka lelah. Mereka tidak fit. 

Tapi Adams tidak panik. Dia tahu: Ini adalah proses. 

Pertandingan pertama melawan Noli Indian School Braves adalah kemenangan telak. Tapi Adams tidak terlalu optimis—lawan itu lemah. 

Pertandingan kedua, melawan Calvary Christian—tim dengan pemain berbakat—adalah ujian nyata. Dan Cubs menang. 

Adams mulai percaya: Tim ini bisa melakukan sesuatu yang istimewa.

Dominic Turner Bergabung 

Di tengah musim, pemain baru bergabung: Dominic Turner. 

Dominic punya cochlear implant. Di tim mendengar, dia selalu merasa seperti orang luar—tidak cukup mendengar. Di komunitas tuli, beberapa orang skeptis terhadap cochlear implant—mereka melihatnya sebagai penolakan terhadap identitas tuli. 

Tapi di Cubs, Dominic menemukan penerimaan. Tidak ada yang peduli apakah dia punya implant atau tidak. Yang penting: Dia adalah bagian dari tim. 

Dominic menjadi defensive player terbaik tim—agresif, cepat, tanpa ampun.

Media Mulai Memperhatikan 

Thomas Fuller menulis artikel tentang Cubs di New York Times. Dan tiba-tiba, tim kecil dari sekolah dengan 168 siswa ini menjadi berita nasional. 

Reporter datang. Kamera TV mengikuti mereka. Empat pemain Cubs diundang ke Super Bowl 2022 untuk melakukan coin toss—pengakuan dari NFL bahwa mereka adalah cerita inspiratif. 

Tapi tekanan juga meningkat. Sekarang, semua orang mengharapkan mereka menang.

Final 2021—Kekalahan yang Menyakitkan

Cubs mencapai final negara bagian California untuk eight-man football division.

Hampir 3.000 orang hadir di stadion. Media di mana-mana. Ekspektasi tinggi.

Babak pertama brutal. Cubs tertinggal 50-22. 

Babak kedua, mereka tidak bisa comeback. Skor akhir: 74-22. Mereka kalah. 

Pemain menangis. Fans tetap di stadion sampai akhir—memberi standing ovation untuk tim yang membuat mereka bangga meskipun kalah. 

Adams berkumpul dengan tim. Dia memberi tahu mereka: "Ini bukan akhir. Ini adalah awal. Tahun depan, kita akan kembali. Dan kita akan menang."

 


Bagian 5: Musim 2022—Jalan Menuju Penebusan

Kehilangan dan Penambahan 

Musim 2022 dimulai dengan berita buruk: Phillip Castaneda dikeluarkan dari tim. 

Phillip—anak yang tidur di mobil di parkiran Target—tertangkap membawa siswa yang lebih muda ke toko ganja. Pelanggaran aturan sekolah. 

Adams tidak punya pilihan. Meskipun Phillip adalah running back terbaik mereka, dia harus dikeluarkan. 

Tapi tim tidak patah. Pemain lain melangkah maju. Andrei Voinea, yang sebelumnya backup, menjadi starting lineman. 

Dominasi Tak Terkalahkan 

Cubs memulai musim dengan kemenangan demi kemenangan. 

54-16 melawan Chadwick School—sekolah elit dengan fasilitas militer. 

54-6 melawan rival mereka, California School for the Deaf, Fremont. 

Kemenangan telak melawan sekolah tuli dari Indiana dan Florida. 

Mereka peringkat kedua di liga. Lalu peringkat pertama. 

Mereka tidak terkalahkan. Dan semua orang tahu: Mereka adalah tim yang harus dikalahkan.

Tragedi Felix Gonzalez 

Kemudian, dalam pertandingan crucial, terjadi sesuatu yang menghancurkan. 

Felix Gonzalez—salah satu star player—patah tibia (tulang kering). Cedera parah. Musimnya berakhir. 

Felix tergeletak di lapangan, menangis. Bukan karena sakit fisik—tapi karena dia tahu dia tidak bisa membantu tim di final nanti. 

Tapi tim membuat keputusan: "Kita akan menang untuk Felix." 

Mereka menang pertandingan itu meskipun kehilangan Felix. Dan mereka melanjutkan ke final dengan tekad yang lebih besar. 

Final 2022—Penebusan

Final 2022 adalah rematch melawan Faith Baptist—tim yang mengalahkan mereka tahun lalu.

Cubs mempelajari kesalahan mereka. Mereka lebih fit. Lebih siap. Lebih percaya diri.

Babak pertama ketat. Tapi babak kedua—Cubs meledak. 

Di halftime: 42-12 untuk Cubs. 

Di babak kedua, mereka terus menghancurkan. Skor akhir: 80-26. 

Cubs adalah juara negara bagian California. 

Pemain berlari ke lapangan, melompat, menangis kebahagiaan. Felix—dengan kaki di gips—dibawa ke lapangan oleh teman-temannya. Mereka mengangkatnya tinggi-tinggi. 

Adams berdiri di pinggir lapangan, air mata mengalir. Ini bukan hanya kemenangan sepak bola. Ini adalah pembuktian bahwa anak-anak yang dunia anggap "kurang" bisa menjadi juara.

 


Bagian 6: Pelajaran dari Lapangan Riverside

1. "Kecacatan" Adalah Konstruksi Sosial 

Fuller menulis: "Saya terus bertanya: Bagian mana dari ini yang merupakan kecacatan?" 

Definisi "disabled" adalah "kurang mampu." Tapi Cubs membuktikan bahwa tuli bukan "kurang mampu"—dalam konteks yang tepat, itu adalah keunggulan

Pelajaran: Apa yang kita sebut "kecacatan" sering kali bukan masalah dengan orang—tapi masalah dengan bagaimana dunia didesain. Ubah konteksnya, dan "kekurangan" bisa menjadi kekuatan. 

2. Komunitas dan Identitas Adalah Fondasi Kemenangan 

Cubs tidak menang hanya karena taktik atau fisik. Mereka menang karena mereka merasa belong. 

Setiap pemain pernah merasa terasing di dunia mendengar. Tapi di CSDR, mereka menemukan keluarga. Dan keluarga itu membuat mereka kuat. 

Pelajaran: Kamu tidak bisa mencapai potensi penuhmu sendirian. Kamu perlu komunitas yang melihatmu, yang mengerti, yang percaya padamu. 

3. Bahasa dan Komunikasi Adalah Kekuatan 

Bahasa isyarat bukan "bahasa yang lebih rendah" dari bahasa lisan. Penelitian menunjukkan bahwa ASL memicu bagian otak yang sama dengan bahasa lisan—itu adalah bahasa yang lengkap, kompleks, dan natural. 

Dan dalam kasus Cubs, bahasa isyarat memberi mereka keunggulan taktis. 

Pelajaran: Jangan pernah meremehkan kekuatan bahasa dan komunikasi. Cara kita berkomunikasi membentuk cara kita berpikir dan berkolaborasi. 

4. Adversity Bisa Menjadi Fuel 

Phillip tidur di mobil, tapi dia berlari lebih cepat dari siapa pun. 

Felix patah kaki, tapi dia menginspirasi tim untuk menang untuknya. 

Dominic ditolak tim mendengar, tapi dia menjadi defensive player terbaik. 

Pelajaran: Adversity bisa menghancurkanmu—atau bisa menjadi bahan bakar yang membuat kamu lebih kuat. Pilihannya ada padamu.

5. Representasi dan Visibility Penting 

Ketika Cubs menang, sesuatu yang lebih besar terjadi: Dunia mulai melihat orang tuli dengan cara yang berbeda. 

April McArthur, superintendent CSDR, mengatakan: Perhatian yang dibawa Fuller dan Cubs membuat enrollment sekolah meningkat. Lebih banyak orang tahu tentang pendidikan bahasa isyarat. Stigma tentang ASL mulai berkurang. 

Pelajaran: Ketika orang yang dimarjinalkan mendapat platform dan visibility, itu mengubah narasi untuk seluruh komunitas mereka.

 


Penutup: Lebih dari Sepak Bola 

Thomas Fuller meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala biro San Francisco untuk New York Times—posisi bergengsi—untuk mengikuti tim sepak bola SMA selama satu musim. 

Mengapa? 

Karena di tengah semua berita buruk yang dia liput—perang, pandemi, penembakan massal, kebakaran hutan—dia menemukan sesuatu yang langka: 

Harapan. 

Cubs bukan hanya cerita olahraga. Mereka adalah "flesh-and-blood realization of the American dream"—bukti hidup bahwa siapa pun, tidak peduli dari mana mereka berasal atau apa "keterbatasan" mereka, bisa mencapai keagungan. 

Tapi Fuller juga jujur: Ini bukan cerita "mereka mengatasi kecacatan mereka dan menang." Itu narasi yang salah. 

Cerita yang benar adalah: Mereka menggunakan identitas mereka—identitas tuli—sebagai kekuatan dan menang. 

Pertanyaan untuk Anda 

Setelah membaca cerita Cubs, Fuller ingin kita bertanya: 

● Apa yang Anda anggap sebagai "kekurangan" dalam diri Anda—yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan? 

● Di mana Anda merasa belong—dan bagaimana Anda bisa membangun komunitas itu untuk orang lain? 

● Siapa yang Anda remehkan—dan apa asumsi yang perlu Anda ubah?

Dan yang paling penting: 

Apakah Anda bersedia melihat dunia dari perspektif yang berbeda—dan belajar bahwa "normal" bukan satu-satunya cara untuk menang? 

Karena seperti yang Cubs tunjukkan: Dunia mendengar punya banyak hal untuk dipelajari dari dunia tuli. 

Kecepatan, efisiensi, fokus visual, komunikasi yang solid—semua ini adalah hal yang bisa kita pelajari. 

Tapi yang paling penting: Kita bisa belajar untuk tidak meremehkan orang hanya karena mereka berbeda.

Phillip Castaneda masih tidur di mobil di parkiran Target. Tapi sekarang, dia bukan hanya anak tunawisma. Dia adalah juara negara bagian. 

Felix Gonzalez patah kaki. Tapi sekarang, dia bukan hanya pemain yang cedera. Dia adalah inspirasi bagi seluruh tim. 

Keith Adams diremehkan sebagai pemain tuli. Tapi sekarang, dia bukan hanya pelatih. Dia adalah pahlawan yang mengubah cara dunia melihat komunitas tuli. 

Dan Cubs? Mereka bukan hanya tim sepak bola SMA. 

Mereka adalah bukti bahwa keheningan bisa lebih powerful dari kebisingan.

 


Tentang Buku Asli 

The Boys of Riverside: A Deaf Football Team and a Quest for Glory diterbitkan oleh Doubleday pada 2024 dan langsung masuk daftar buku terbaik oleh Book Riot dan berbagai publikasi. 

Thomas Fuller adalah Page One Correspondent untuk The New York Times, berbasis di San Francisco Bay Area. Sebelum menulis buku ini, dia adalah kepala biro San Francisco untuk Times, meliput California, Pacific Northwest, dan Hawaii. Dia juga pernah menjadi kepala biro Bangkok, meliput Asia Tenggara. 

Fuller meninggalkan posisinya sementara untuk mengikuti Cubs selama musim 2022, menghadiri setiap pertandingan, melakukan wawancara melalui interpreter bahasa isyarat, dan benar-benar merendam diri dalam komunitas tuli. 

Buku ini dipuji karena: 

● Storytelling yang vivid dan cepat—seperti Friday Night Lights untuk komunitas tuli

● Riset mendalam tentang Deaf Culture dan sejarahnya 

● Penggambaran karakter yang kaya dan empati 

● Keseimbangan antara aksi sepak bola dan cerita manusia 

Untuk pengalaman penuh dari aksi di lapangan, detail taktis permainan, dan nuansa emosional perjalanan setiap pemain, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi kekuatan penuh dari penulisan Fuller, dengan play-by-play yang mendebarkan dan wawancara yang mendalam, hanya bisa dirasakan dari membaca lengkap. 

Sekarang pergilah dan lihat dunia dengan mata baru. 

Karena seperti yang Cubs tunjukkan: Apa yang dunia sebut "kelemahan" bisa menjadi superpower terbesar Anda. 

Dan kemenangan sejati bukan tentang menjadi seperti orang lain—tapi tentang menjadi diri Anda sendiri, dengan segala keunikan Anda, dan membuat dunia mengakui bahwa Anda adalah juara.