When The Going Was Good

Graydon Carter


Telepon di Bandara yang Mengubah Sejarah 

Bayangkan ini: Anda baru saja menikah. Bulan madu yang sempurna di Bahamas. Sepuluh hari tanpa pikiran tentang pekerjaan, tanpa stres, tanpa tekanan dunia luar. 

Sekarang Anda di bandara kecil Nassau, menunggu penerbangan pulang ke New York. Hidup terasa sempurna. Masa depan terasa cerah. 

Lalu telepon berdering. 

"Graydon, kamu di mana?" suara David, wakil editor Anda, terdengar panik di seberang line. 

Dan tiba-tiba Anda ingat: hari ini, 31 Mei 2005, adalah hari paling penting dalam sejarah jurnalisme Amerika dalam 30 tahun terakhir. 

Hari ini majalah Anda, Vanity Fair, mengungkap identitas "Deep Throat"—sumber rahasia yang membantu Bob Woodward dan Carl Bernstein membongkar skandal Watergate dan menumbangkan Presiden Nixon. 

Selama puluhan tahun, identitas Deep Throat adalah misteri paling besar dalam jurnalisme Amerika. Ribuan artikel ditulis. Ratusan teori diperdebatkan. Film dibuat. Buku diterbitkan. 

Dan sekarang Anda yang mengungkapnya. 

Tapi Anda terjebak di bandara kecil dengan WiFi yang lambat, menonton scoop terbesar karir Anda dari jauh, seperti menonton final Piala Dunia lewat radio. 

Inilah hidup Graydon Carter—selalu di tengah-tengah sejarah yang sedang terjadi, tapi kadang dari tempat yang paling tidak terduga. 

Ini adalah kisah tentang bagaimana anak biasa-biasa saja dari pedalaman Kanada menjadi salah satu editor paling berpengaruh di dunia. Bagaimana dia membangun majalah yang mendefinisikan budaya Amerika selama seperempat abad. Bagaimana dia hidup di era terakhir ketika majalah cetak adalah raja—sebelum internet mengubah segalanya.

Mari kita mulai dari awal. Dari kota kecil di Kanada di mana tidak ada yang pernah membayangkan bahwa anak laki-laki biasa bernama Graydon Carter suatu hari akan menjadi orang yang menentukan siapa yang masuk sampul majalah paling bergengsi di Amerika.

 


Bagian 1: Anak Biasa dari Pedalaman Kanada

Tidak Ada Tanda-tanda Kehebatan 

Graydon Carter lahir tahun 1949 di Ottawa, tumbuh di lingkungan kelas menengah yang sangat biasa. Ayahnya pegawai pemerintah. Ibunya ibu rumah tangga. Tidak ada yang glamour. Tidak ada yang luar biasa. 

Di sekolah, dia siswa rata-rata. Tidak terlalu pintar, tidak terlalu bodoh. Tidak terlalu tampan, tidak terlalu jelek. Tidak terlalu populer, tidak terlalu diasingkan. 

Dia benar-benar definisi dari "biasa-biasa saja." 

Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda: dia gemar membaca. 

Sementara teman-temannya bermain hockey (ini Kanada, jadi semua orang main hockey), Graydon menghabiskan waktu membaca majalah. Bukan majalah anak-anak—tapi majalah "dewasa" seperti Time, Newsweek, Esquire. 

Dia terpesona oleh cara majalah-majalah ini menceritakan dunia. Bagaimana mereka membuat politik terasa glamour. Bagaimana mereka membuat tokoh bisnis terasa seperti superhero. Bagaimana mereka menciptakan narasi dari chaos kehidupan sehari-hari. 

Dan yang paling mempesonanya: New York City. 

Setiap artikel tentang New York membuatnya merasa seperti ada dunia yang jauh lebih menarik dari Ottawa. Dunia di mana hal-hal penting terjadi. Dunia di mana orang-orang berpengaruh membuat keputusan yang mengubah dunia. 

Pada usia 16 tahun, dia sudah tahu: suatu hari, dia akan pindah ke New York.

Jalan Berliku ke Mimpi 

Setelah lulus SMA, Graydon tidak langsung ke universitas. Dia mengambil pekerjaan yang sama sekali tidak glamour: pekerja rel kereta api. 

Enam bulan bekerja di musim dingin Kanada yang brutal. Bangun subuh, bekerja di luar dalam cuaca -30°C, pulang kelelahan dan kotor. 

Tapi pekerjaan ini mengajarkannya sesuatu penting: dia tidak ingin hidup seperti ini selamanya. 

Setelah itu, dia masuk University of Ottawa—tapi tidak untuk belajar sungguh-sungguh. Dia datang ke kampus dengan satu tujuan: mendirikan majalah.

Bersama beberapa teman, dia mendirikan The Canadian Review—majalah mahasiswa yang mencoba meniru gaya Esquire dan Harper's. Mereka menulis tentang politik, budaya, gaya hidup dengan gaya yang lebih canggih dari majalah kampus biasa. 

Majalah itu sukses di kampus. Mendapat perhatian. Bahkan mendapat iklan.

Tapi secara finansial? Bencana total. 

Setelah setahun, The Canadian Review bangkrut. Graydon kehilangan uang, kehilangan waktu, dan hampir kehilangan kepercayaan diri. 

Tapi dia belajar pelajaran berharga: membuat konten yang bagus tidak cukup. Kamu juga harus mengerti bisnis. 

Lonjakan Besar ke New York 

Pada tahun 1978, pada usia 29 tahun, Graydon akhirnya membuat keputusan yang mengubah hidupnya: dia pindah ke New York. 

Dengan satu koper, sedikit uang, dan ambisi yang tidak realistis. 

New York tahun 1978 sangat berbeda dari sekarang. Kota itu hampir bangkrut. Tingkat kejahatan tinggi. Banyak area yang tidak aman. 

Tapi bagi anak muda dengan mimpi, New York adalah kota kemungkinan tak terbatas. 

Dia mendapat kerja sebagai floater di majalah Time—pekerjaan entry-level di mana dia pindah-pindah departemen, melakukan pekerjaan apa saja yang dibutuhkan. 

Fotokopi. Riset. Fact-checking. Mengantarkan kopi. 

Ini bukan glamour yang dia bayangkan tentang dunia jurnalisme. Tapi dia belajar hal paling penting: bagaimana majalah benar-benar bekerja.

 


Bagian 2: Spy Magazine—Menyindir Orang Kaya dan Terkenal 

Ide Gila yang Berhasil 

Setelah beberapa tahun di Time dan kemudian Life, Graydon merasa frustrasi. Majalah-majalah mainstream terlalu serius, terlalu hormat pada tokoh-tokoh besar. 

Bersama temannya Kurt Andersen, dia punya ide gila: bagaimana kalau kita buat majalah yang mengejek orang-orang berpengaruh? 

Lahirlah Spy magazine pada tahun 1986. 

Spy adalah antitesis dari semua majalah yang ada. Jika majalah lain memuji selebriti, Spy mengejek mereka. Jika yang lain menghormati politisi, Spy memparodikan mereka. Jika yang lain takut mengkritik miliarder, Spy menertawakan mereka. 

Gaya penulisannya sarkastik, cerdas, kejam—tapi selalu berdasarkan fakta.

"Short-fingered Vulgarian" 

Salah satu target favorit Spy adalah seorang pengembang properti New York bernama Donald Trump. 

Setiap kali menyebut Trump, Spy selalu menambahkan deskripsi: "the short-fingered vulgarian" (si barbar berjari pendek). 

Julukan ini bukan hanya lelucon—ini adalah strategi psikologis yang brilian. Carter tahu Trump adalah orang yang sangat sensitif tentang penampilannya. 

Dan berhasil. 

Trump mulai mengirim foto tangan-tangannya ke kantor Spy, dengan lingkaran di jari-jarinya dan tulisan, "See, not so short!" (Lihat, tidak begitu pendek!) 

Selama bertahun-tahun, Trump terus mengirim foto tangannya. 

Ini menunjukkan kekuatan media yang dipahami Carter: cara kamu menceritakan seseorang bisa mempengaruhi bagaimana mereka melihat diri sendiri. 

Sukses yang Bermasalah 

Spy menjadi fenomena budaya. Dibaca oleh elit New York yang sama yang mereka ejek. Dikutip di TV. Dibicarakan di pesta-pesta Manhattan.

Tapi ada masalah: secara finansial, majalah ini struggle. 

Mengejek orang kaya ternyata bukan strategi bisnis yang baik. Pengiklan takut untuk beriklan di majalah yang mungkin mengejek mereka besok. 

Setelah beberapa tahun, Graydon mulai merasa lelah. Spy telah membuktikan pointnya—media bisa mengkritik kekuasaan dengan cerdas dan lucu. Tapi dia ingin sesuatu yang lebih besar. 

Dia ingin membangun, bukan hanya menghancurkan.

 


Bagian 3: Vanity Fair—Membangun Kerajaan Media

Tawaran yang Tidak Bisa Ditolak 

Pada tahun 1992, Si Newhouse—pemilik Condé Nast dan salah satu orang paling berpengaruh di dunia penerbitan—menghampiri Graydon dengan tawaran: menjadi editor Vanity Fair. 

Ini ironis. Vanity Fair adalah segalanya yang Spy ejek—majalah tentang selebriti, kekayaan, kekuasaan, kemewahan. 

Tapi Graydon melihat kesempatan. Vanity Fair punya sejarah panjang sebagai majalah berkualitas. Punya brand yang kuat. Yang dibutuhkan adalah visi editorial yang jelas. 

Tantangannya besar: staf yang loyal pada editor sebelumnya, Tina Brown. Ekspektasi tinggi dari Condé Nast. Dan pertanyaan besar: bagaimana seorang yang biasa mengejek selebriti bisa memimpin majalah yang merayakan mereka? 

Filosofi Editorial yang Revolusioner 

Graydon membawa perspektif unik ke Vanity Fair. Dia tidak mau majalah yang hanya memuji selebriti secara membuta. Tapi dia juga tidak mau majalah yang sinis dan destruktif. 

Dia mau majalah yang cerdas tentang kekuasaan. 

Filosofinya sederhana: "Kita akan menulis tentang orang-orang berpengaruh dengan cara yang mereka ingin dibaca, tapi juga dengan cara yang pembaca ingin baca." 

Ini berarti: 

Akses: Mendapat wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh besar 

Analisis: Tidak hanya memuji, tapi menganalisis kekuasaan dan pengaruh

Gaya: Penulisan yang cerdas, tidak membosankan 

Visual: Fotografi yang menakjubkan 

Annie Leibovitz dan Revolusi Visual 

Salah satu keputusan terbaik Graydon adalah berkolaborasi dengan Annie Leibovitz—fotografer paling berbakat di dunia. 

Annie tidak hanya memotret selebriti. Dia menciptakan seni. Setiap sampul Vanity Fair menjadi karya seni yang orang ingin simpan. 

Foto Demi Moore hamil telanjang. Foto Bruce Springsteen yang ikonik. Foto Caitlyn Jenner setelah transisinya.

Setiap sampul menjadi pembicaraan budaya. 

Era Keemasan: 1992-2017 

Selama 25 tahun, Graydon mengubah Vanity Fair menjadi majalah paling berpengaruh di Amerika. 

Beberapa pencapaian legendaris: 

1. "New Establishment" Issues: Setiap tahun, VF menerbitkan daftar 100 orang paling berpengaruh di Amerika—tidak hanya selebriti, tapi tech moguls, politisi, aktivis. Masuk daftar ini berarti kamu "arrived" di puncak kekuasaan Amerika. 

2. Hollywood Issues: Edisi khusus tentang industri film dengan sampul spektakuler featuring bintang-bintang terbesar. Setiap foto adalah event budaya. 

3. Investigative Journalism: Bukan hanya gossip—VF melakukan jurnalisme investigatif serius. Skandal Enron. Kasus Harvey Weinstein. Politik Washington. 

4. Vanity Fair Oscar Party: Graydon menciptakan pesta paling eksklusif di Hollywood. Setelah Academy Awards, semua orang yang penting datang ke pesta VF. Undangan ke pesta ini lebih bergengsi dari nomination Oscar.

 


Bagian 4: Di Balik Layar Kekuasaan 

Makan Malam dengan Kaisar 

Sebagai editor Vanity Fair, Graydon mendapat akses ke lingkaran dalam kekuasaan Amerika dan dunia. 

Dia makan malam dengan Presiden. Ngobrol dengan CEO Fortune 500. Hang out dengan bintang Hollywood. Bertemu dengan royalty Eropa. 

Tapi yang dia pelajari mengejutkan: orang-orang berkuasa juga manusia biasa dengan insecurity dan masalah yang sama. 

Donald Trump (yang sekarang sudah menjadi Presiden) masih sensitif tentang jari-jarinya. Masih mengirim foto tangannya ke Graydon puluhan tahun setelah Spy tutup. 

Harvey Weinstein tampak seperti produser Hollywood yang sukses di permukaan, tapi Graydon mencium ada sesuatu yang gelap. VF menjadi salah satu publikasi pertama yang mengungkap skandal pelecehan seksualnya. 

Anna Wintour dari Vogue—yang sering digambarkan sebagai ice queen yang kejam—sebenarnya profesional yang sangat berdedikasi dan loyal pada teman-temannya. 

Pelajaran tentang Kekuasaan 

Dari dekade-dekade berinteraksi dengan orang-orang paling berpengaruh di dunia, Graydon belajar beberapa hal: 

1. Kekuasaan sejati adalah quiet power. Orang yang paling berpengaruh sering yang paling tidak kelihat di media. 

2. Akses adalah mata uang. Di dunia elit, siapa yang kamu kenal lebih penting dari apa yang kamu tahu. 

3. Semua orang punya harga. Tidak selalu uang—bisa perhatian, validasi, atau sekadar dihormati. 

4. Image adalah segalanya. Cara kamu digambarkan di media membentuk kenyataan tentang kamu. 

5. Loyalitas lebih berharga dari talent. Orang yang bisa dipercaya akan selalu kalahkan orang yang cerdas tapi tidak loyal.

 


Bagian 5: Akhir Era Keemasan 

Internet Mengubah Segalanya 

Pada pertengahan 2000-an, Graydon mulai merasakan perubahan. 

Internet bukan lagi sekadar "trend"—ini adalah revolusi yang menghancurkan model bisnis media tradisional. 

Orang tidak lagi perlu menunggu majalah bulanan untuk mendapat berita. Mereka bisa baca online, real-time. Gratis. 

Pengiklan tidak perlu bayar mahal untuk iklan di majalah. Mereka bisa target audiens spesifik di Google dan Facebook dengan biaya jauh lebih murah. 

Yang paling menyakitkan: generasi muda tidak lagi membaca majalah cetak.

Untuk mereka, majalah adalah teknologi kuno—seperti peta kertas di era GPS.

The Last Dance 

Meskipun tahu perubahan besar sedang terjadi, Graydon terus memimpin Vanity Fair dengan standar tinggi sampai akhir. 

Beberapa momen epic di tahun-tahun terakhir: 

2015: Ekslusif Caitlyn Jenner transition yang memecahkan internet dan mengubah percakapan tentang transgender rights. 

2016: Coverage pemilu Trump vs Hillary yang mendefinisikan narasi politik Amerika.

2017: Investigasi Harvey Weinstein yang memicu #MeToo movement. 

Tapi pada 2017, pada usia 68 tahun, Graydon membuat keputusan: saatnya pensiun.

Bukan Selamat Tinggal, Tapi Sampai Jumpa 

Graydon tidak pensiun total. Dia mendirikan Air Mail—newsletter digital untuk pembaca yang merindukan jurnalisme berkualitas era Vanity Fair. 

Tapi dia tahu: era golden age majalah cetak telah berakhir. 

Era ketika editor majalah bisa mempengaruhi budaya Amerika. Era ketika sampul majalah bisa mengubah karir seseorang. Era ketika majalah adalah gatekeeper informasi dan taste. 

Era itu gone forever.

 


Bagian 6: Pelajaran dari Masa Kejayaan 

1. Timing adalah Segalanya 

Graydon beruntung hidup di era yang tepat—ketika majalah cetak masih powerful, sebelum internet menghancurkan model bisnisnya. 

Dia juga pintar menangkap momentum: Spy muncul ketika New York butuh outlet untuk mengkritik excess di era Reagan. Vanity Fair berkembang ketika Amerika fascinated dengan celebrity culture. 

Pelajaran: Sukses bukan hanya tentang talent—tapi tentang berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat dengan produk yang tepat. 

2. Relationships Adalah Everything 

Karir Graydon dibangun atas relationships. Si Newhouse yang memberinya kesempatan. Annie Leibovitz yang menciptakan visual iconic. Writers berbakat yang menciptakan konten berkualitas. 

Pelajaran: Di industri kreatif, siapa yang kamu kenal dan siapa yang percaya padamu lebih penting dari CV mu. 

3. Adaptasi atau Mati 

Graydon berhasil beradaptasi dari Spy (magazine yang mengkritik) ke Vanity Fair (magazine yang merayakan). Dari print ke digital dengan Air Mail. 

Pelajaran: Jangan terlalu attached pada satu format atau satu cara kerja. Dunia berubah—kamu harus berubah juga. 

4. Quality Never Goes Out of Style 

Meskipun medium berubah, appetite untuk konten berkualitas tidak pernah hilang. Orang masih mau baca writing yang bagus, lihat photography yang menakjubkan, dan mendapat insight yang tidak bisa mereka dapat di tempat lain. 

Pelajaran: Fokus pada kualitas. Medium mungkin berubah, tapi standar tinggi selalu relevant.

5. Know When to Leave 

Graydon meninggalkan Vanity Fair di puncak, tidak menunggu sampai terpaksa. Dia tahu era-nya berakhir dan choose to exit dengan dignity.

Pelajaran: Ada waktu untuk memulai, ada waktu untuk berkembang, dan ada waktu untuk pergi. Wisdom adalah tahu kapan waktunya untuk each stage.

 


Bagian 7: Era Baru Media 

Apa yang Hilang 

Dengan berakhirnya era golden age magazines, ada beberapa hal yang hilang dari budaya Amerika: 

1. Gatekeeping yang Responsible: Dulu, editor magazine seperti Graydon adalah filter—mereka menentukan apa yang layak perhatian public. Sekarang, semua orang bisa publish apa saja tanpa filter. 

2. Shared Cultural Experience: Ketika Vanity Fair publish sesuatu, seluruh Amerika membicarakannya. Sekarang, kita living in information bubbles. 

3. Investment dalam Quality: Magazine punya budget untuk mengirim photographer ke seluruh dunia, pay writers untuk research selama bulan, create content yang really exceptional. Digital media often tidak punya luxury itu. 

4. Long-form Storytelling: Magazine format memungkinkan story yang panjang, complex, nuanced. Social media era mendorong everything jadi bite-sized. 

Apa yang Bertahan 

Tapi ada hal-hal dari era Graydon yang masih relevant: 

1. Storytelling yang Compelling: Cara dia bercerita—dengan detail, personality, insight—masih formula yang bekerja di medium apa pun. 

2. Access: Getting close to power, understanding how things really work—ini masih valuable. 

3. Curation: Di era information overload, kemampuan untuk curate dan present information dengan cara yang meaningful masih sangat dibutuhkan. 

4. Brand Building: Cara Graydon build brand Vanity Fair—consistent vision, high standards, distinctive voice—masih blueprint yang relevant.

 


Penutup: Ketika Masa Keemasan Berakhir 

Di akhir bukunya, Graydon tidak nostalgic atau bitter tentang berakhirnya era golden age magazines. 

Dia grateful. 

Grateful karena hidup di era yang tepat untuk membangun sesuatu yang meaningful. 

Grateful karena punya kesempatan untuk bekerja dengan orang-orang paling talented di dunianya. 

Grateful karena bisa mempengaruhi budaya Amerika selama seperempat abad.

Dan grateful karena tahu kapan waktunya untuk stop. 

Pelajaran Terakhir: Definisikan Success dengan Terms Anda Sendiri 

Graydon bisa saja bertahan di Vanity Fair sampai dipaksa keluar. Bisa saja mencoba desperately adapt ke digital dan mungkin gagal. 

Tapi dia memilih to leave on his own terms. 

Dia memilih untuk remember era itu sebagai "when the going was good"—bukan "when everything fell apart." 

Pertanyaan untuk Anda 

Dalam karir dan hidup Anda: 

Apakah Anda berani mengambil risiko seperti Graydon pindah dari Kanada ke New York dengan satu koper? 

● Bagaimana Anda build relationships yang meaningful dalam industri Anda?

● Bisakah Anda adapt ketika dunia berubah, seperti transisi dari Spy ke Vanity Fair?

● Apakah Anda tahu kapan waktunya untuk double down dan kapan waktunya untuk pivot? 

● Akankah Anda recognize ketika era Anda berakhir dan have courage untuk move on dengan dignity? 

The going was good untuk Graydon Carter. Tapi yang membuatnya special bukan hanya luck—tapi wisdom untuk recognize opportunity, courage untuk take risks, dan integrity untuk maintain standards tinggi. 

Sekarang, di era yang berbeda, dengan challenges yang berbeda, bagaimana Anda akan make your own "going" good?

Karena seperti yang ditunjukkan Graydon: success bukan tentang lasting forever. Success adalah tentang making an impact while you can, building something meaningful, dan knowing when you've done your best work. 

Era magazine cetak sudah berakhir. Tapi era storytelling, relationship building, dan creating impact yang meaningful—era itu tidak akan pernah berakhir. 

Pertanyaannya adalah: Apa yang akan Anda create di era Anda?

 


Tentang Buku Asli 

"When the Going Was Good: An Editor's Adventures During the Last Golden Age of Magazines" diterbitkan oleh Penguin Press pada Maret 2025 dan langsung menjadi New York Times Bestseller. 

Graydon Carter adalah pendiri Air Mail dan mantan editor Vanity Fair selama 25 tahun (1992-2017). Sebelumnya, dia co-founder majalah satiris Spy dan bekerja di Time, Life, dan The New York Observer. Dia juga produser dokumenter pemenang Emmy dan Peabody Award. 

Buku ini ditulis bersama James Fox, dan merupakan chronicle yang entertaining dan insightful tentang era ketika majalah cetak masih menjadi kekuatan budaya yang dominan di Amerika. 

Critics memuji buku ini sebagai "catnip for those still addicted to magazines" (LA Times) dan "a page-turning, bighearted record of a life lived to the full" (Christopher Buckley). 

Untuk pemahaman lengkap tentang dunia penerbitan era golden age, anekdot-anekdot selebriti yang tidak ada di ringkasan ini, dan wisdom Graydon tentang leadership dan relationship building, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi buku lengkapnya memberikan experience seperti berada di dalam lingkaran elite New York selama puluhan tahun. 

Sekarang pergilah dan pikirkan: Bagaimana Anda akan build empire Anda sendiri di era digital ini? 

Karena seperti yang ditunjukkan Graydon Carter—timing, talent, dan relationships masih formula yang tidak akan pernah out of style.