Tweet yang Mengubah Segalanya
25 Oktober 2023. Tiga minggu setelah pemboman Gaza dimulai.
Omar El Akkad duduk di rumahnya di Portland, Oregon, melihat berita-berita yang mengalir tanpa henti. Gambar-gambar anak-anak yang terluka. Gedung-gedung hancur. Keluarga yang berteriak kehilangan.
Dan di sisi lain layar, dia melihat politisi Barat yang berbicara dengan hati-hati. Media yang menggunakan bahasa yang "berimbang." Orang-orang yang dia kenal—liberal, progresif, peduli hak asasi manusia—tiba-tiba bungkam atau berbicara dengan berbisik.
Di moment itulah dia mengetik tweet yang akan mengubah hidupnya:
"Suatu hari nanti, ketika sudah aman, ketika tidak ada lagi risiko pribadi untuk menyebut sesuatu dengan nama sebenarnya, ketika sudah terlambat untuk meminta pertanggungjawaban siapapun, semua orang akan selalu sudah menentang hal ini."
Tweet itu dilihat lebih dari 10 juta kali.
Dalam hitungan jam, mentions-nya meledak. Sebagian orang menyebutnya "antisemit." Yang lain menyebutnya "berani." Sebagian mengancam. Yang lain berterima kasih karena akhirnya ada yang mengatakan apa yang mereka rasakan tapi tak berani ucapkan.
Omar El Akkad—novelis pemenang penghargaan, jurnalis veteran, ayah dari dua anak—tiba-tiba menjadi target. Tapi dia juga menyadari sesuatu yang lebih mendalam: tweet itu mengekspos sesuatu yang fundamental tentang bagaimana Barat bekerja.
"One Day, Everyone Will Have Always Been Against This" lahir dari tweet itu. Tapi buku ini jauh lebih dari sekadar kritik terhadap respons Barat atas Gaza.
Ini adalah memoir seorang imigran yang datang ke Barat dengan mata penuh harapan, hanya untuk menemukan bahwa janji-janjinya adalah kebohongan. Ini adalah manifesto dari seorang ayah yang melihat anak-anaknya bermain aman di rumah sementara anak-anak lain dibunuh dengan senjata yang dibiayai negara adopsinya. Ini adalah surat putus cinta yang menyayat hati dengan sebuah peradaban yang mengklaim bermoral tapi membangun kekayaannya di atas tulang-belulang orang lain.
Mari kita mulai dari awal. Dari Cairo, di mana semuanya dimulai.
Bagian 1: Anak Mesir di Dunia Arab
Lahir di Jantung Sejarah
Omar El Akkad lahir di Cairo tahun 1982, di kota yang telah menyaksikan ribuan tahun sejarah manusia. Mesir—tanah para Firaun, pusat peradaban Islam, jantung dunia Arab.
Tapi Mesir tahun 1980-an bukanlah Mesir dalam buku sejarah. Ini adalah Mesir di bawah Hosni Mubarak, diktator yang didukung Amerika, di mana kebebasan adalah kemewahan dan kritik terhadap pemerintah bisa berujung penjara atau lebih buruk.
Omar kecil tumbuh mengetahui bahwa dunia tidak adil. Bahwa ada orang-orang yang punya kuasa untuk menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati. Bahwa kebenaran sering kali adalah hal pertama yang dikorbankan demi kekuasaan.
Tapi dia juga tumbuh dengan dongeng-dongeng tentang Barat—tentang Amerika dan Kanada dan Eropa—tempat di mana keadilan dan kebebasan bukan hanya slogan, tapi kenyataan.
Qatar: Belajar Menjadi Outsider
Ketika masih kecil, keluarga Omar pindah ke Qatar—negara kecil di Teluk Persia yang kaya minyak tapi miskin sejarah.
Di Qatar, Omar belajar pelajaran pertama tentang bagaimana dunia bekerja: ada orang dalam dan orang luar, dan tempatmu ditentukan bukan oleh siapa kamu, tapi dari mana kamu berasal.
Ekspatriat Barat di Qatar hidup dalam kompleks tertutup. Mereka bersekolah di sekolah internasional, belanja di toko impor, bergaul hanya sesama ekspatriat. Mereka hidup di Qatar tapi tidak dari Qatar. Mereka disebut "expat"—bukan "imigran."
Sementara orang Arab dan Asia Selatan—seperti keluarga Omar—disebut "foreign workers." Mereka tidak punya hak yang sama. Tidak bisa membeli tanah. Tidak bisa menjadi warga negara. Mereka adalah tamu yang bisa diusir kapan saja.
Omar kecil mulai memahami: ras menentukan segalanya. Tapi di mata Barat, hanya ras tertentu yang "dilihat."
Mimpi Tentang Kebebasan
Meski begitu, Omar tetap bermimpi tentang Barat. Dia membaca buku-buku berbahasa Inggris. Menonton film Hollywood. Belajar tentang demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan pers.
Baginya, Barat adalah tempat di mana orang seperti dia—cerdas, ambisius, punya ide—bisa berkembang tanpa dibatasi oleh asal-usul atau agama.
Barat adalah janji kebebasan.
Dan pada usia 16 tahun, janji itu tampak akan menjadi kenyataan ketika keluarganya pindah ke Kanada.
Bagian 2: Kanada—Tanah yang Dijanjikan?
Imigran Baru di Negeri Salju
Toronto, akhir 1990-an. Omar remaja tiba di Kanada dengan mata penuh harapan dan hati penuh rasa syukur.
Kanada tampak seperti segalanya yang dijanjikan: multikultural, toleran, adil. Orang-orang dari berbagai ras hidup berdampingan. Ada hukum yang melindungi hak asasi manusia. Ada pers bebas. Ada kesempatan untuk siapa saja yang mau bekerja keras.
Omar belajar bahasa Inggris dengan cepat. Berprestasi di sekolah. Diterima di universitas. Semua tampak berjalan sempurna.
Tapi perlahan-lahan, dia mulai melihat retakan dalam fasad yang indah itu.
Pelajaran Pertama tentang Kemunafikan
11 September 2001. Serangan teror yang mengubah dunia.
Untuk Omar—pemuda Arab Muslim—9/11 adalah momen yang mengubah segalanya. Tiba-tiba dia bukan lagi hanya "imigran" atau "mahasiswa." Dia menjadi "orang Arab," "Muslim," "potensi teroris."
Dia merasakan tatapan curiga di bandara. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak diajukan kepada orang lain. Asumsi-asumsi tentang apa yang dia percayai berdasarkan nama dan penampilannya.
Tapi yang lebih mengejutkan baginya adalah bagaimana Kanada—negara yang bangga dengan toleransi dan multikulturalisme—dengan mudah berubah menjadi paranoid dan diskriminatif.
Ternyata nilai-nilai liberal Barat sangat rapuh ketika diuji oleh krisis.
Menjadi Jurnalis—Mencari Kebenaran
9/11 mendorong Omar untuk menjadi jurnalis. Dia ingin memahami dunia yang tiba-tiba menjadi sangat kompleks dan menakutkan. Dia ingin mencari kebenaran di tengah propaganda dan kebohongan.
Dia bergabung dengan The Globe and Mail, salah satu koran terbesar Kanada. Sebagai reporter muda, dia dikirim ke berbagai tempat untuk meliput konflik dan krisis.
Dan di sinilah dia mulai melihat pola yang akan membentuk seluruh pandangan dunianya: bagaimana Barat menceritakan kisah tentang dunia, dan siapa yang diizinkan untuk menjadi manusia penuh dalam kisah itu.
Bagian 3: Menyaksikan Perang—Afghanistan hingga Ferguson
Di Medan Perang: Afghanistand dan Guantanamo
Sebagai jurnalis, Omar dikirim ke beberapa tempat paling berbahaya di dunia. Afghanistan yang dilanda perang. Guantanamo Bay dengan penjara militernya. Mesir selama Arab Spring.
Di setiap tempat, dia menyaksikan bagaimana "War on Terror" Amerika bekerja dalam praktik. Bagaimana orang-orang yang terlihat sepertinya—Arab, Muslim—diperlakukan sebagai musuh sampai terbukti sebaliknya.
Di Guantanamo, dia melihat pria-pria yang ditahan selama bertahun-tahun tanpa tuduhan. Di Afghanistan, dia melihat bagaimana "collateral damage" adalah eufemisme untuk membunuh warga sipil. Di Mesir, dia melihat bagaimana Amerika mendukung diktator selama menguntungkan, lalu membiarkannya jatuh ketika sudah tidak berguna.
Pola yang sama berulang: Barat berbicara tentang hak asasi manusia dan demokrasi, tapi hanya menerapkannya ketika menguntungkan secara politik.
Ferguson—Rasisme di Rumah Sendiri
Tapi mungkin yang paling mengejutkan bagi Omar adalah ketika dia dikirim meliput kerusuhan di Ferguson, Missouri, setelah Michael Brown—remaja kulit hitam tak bersenjata—ditembak mati polisi.
Di Ferguson, Omar melihat bagaimana kekerasan rasial bekerja di jantung Amerika. Bagaimana orang kulit hitam diperlakukan sebagai ancaman dalam negara mereka sendiri. Bagaimana polisi menggunakan kekerasan yang sama yang ditentang Amerika ketika dilakukan rezim otoriter di negara lain.
Yang memukul Omar adalah kemiripan antara Ferguson dan tempat-tempat yang dia liput di Timur Tengah: tentara berseragam menghadapi warga sipil dengan kemarahan dan ketakutan yang sama.
Amerika mengkritik negara lain atas pelanggaran hak asasi manusia, tapi melakukan hal yang sama kepada warganya sendiri.
Black Lives Matter—Melihat Pola yang Lebih Besar
Melalui peliputan gerakan Black Lives Matter, Omar mulai memahami sesuatu yang fundamental: rasisme di Amerika bukan bug, tapi feature.
Amerika dibangun di atas perbudakan. Kekayaannya dibangun dengan kerja paksa orang Afrika. Tanah-tanahnya direbut dari penduduk asli melalui genosida. Dan sistem ini tidak pernah benar-benar berubah—hanya berevolusi menjadi bentuk yang lebih halus.
Orang kulit hitam dibebaskan dari perbudakan, tapi dimasukkan ke dalam sistem Jim Crow. Ketika Jim Crow berakhir, mereka dimasukkan ke dalam sistem penjara massal. Selalu ada cara untuk mempertahankan hierarki rasial.
Dan Omar menyadari: dia, sebagai orang Arab, berada dalam spektrum yang sama. Dia adalah "Yang Lain" yang kemanusiaannya selalu conditional.
Bagian 4: Menjadi Ayah di Tengah Kehancuran
Anak-anak dan Moral Clarity
Ketika Omar menjadi ayah, sesuatu berubah dalam cara dia melihat dunia.
Dia melihat anak-anaknya bermain dengan innocent joy—tertawa, berlari, bermimpi tentang masa depan. Dan dia membayangkan anak-anak di tempat lain—di Gaza, di Afghanistan, di Sudan—yang tidak punya luxury untuk bermain karena mereka harus berjuang untuk bertahan hidup.
"Tidak ada yang namanya 'anak-anak orang lain,'" dia menulis. "Ada hanya anak-anak."
Tapi Barat telah menciptakan kategori anak yang berbeda. Ada anak-anak yang layak dilindungi (anak-anak Barat, terutama kulit putih), dan ada anak-anak yang bisa dikorbankan demi "kepentingan yang lebih besar" (anak-anak Arab, Afrika, Asia).
Privilege dan Guilt
Omar menyadari privilege luar biasa yang dimiliki anak-anaknya. Mereka lahir dengan paspor yang tepat, warna kulit yang tepat, agama yang bisa disembunyikan jika perlu.
Tapi privilege itu datang dengan harga: complicitas dalam sistem yang menindas anak-anak lain.
Pajak yang dibayar Omar membiayai senjata yang membunuh anak-anak di Gaza. Suaranya dalam pemilu memvalidasi sistem yang mempertahankan imperialisme. Hidupnya yang nyaman disubsidi oleh penderitaan orang lain di negara yang dieksploitasi.
Bagaimana cara hidup dengan kontradiksi moral yang sebesar itu?
Bagian 5: 7 Oktober dan Aftermath—Topeng yang Terlepas
Hari yang Mengubah Segalanya
7 Oktober 2023. Hamas menyerang Israel. Lebih dari 1.000 orang Israel tewas, sebagian besar warga sipil.
Omar, seperti kebanyakan orang, terkejut dan terguncang. Serangan itu brutal dan menargetkan warga sipil yang tidak bersalah. Tidak ada justifikasi untuk membunuh anak-anak, keluarga, orang tua.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya mengekspos sesuatu yang lebih mendasar tentang bagaimana dunia bekerja.
Respons Israel—"The Most Moral Army in the World"
Israel merespons dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Dalam hitungan minggu, lebih dari 10.000 warga sipil Gaza tewas—sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Rumah sakit dibom. Sekolah dihancurkan. Seluruh keluarga dihapus dari muka bumi. Gaza—yang sudah seperti penjara terbuka selama bertahun-tahun—diubah menjadi neraka di bumi.
Dan semua ini dilakukan dengan senjata yang disuplai Amerika, dengan dukungan diplomatik Eropa, dengan liputan media yang menyebut pembantaian ini sebagai "pertahanan diri."
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia menyaksikan genosida secara live streaming.
Respons Barat—Kemunafikan yang Telanjang
Yang mengejutkan Omar bukanlah brutalitas Israel—dia sudah lama tahu bahwa negara-negara melakukan hal-hal mengerikan ketika mereka bisa lolos begitu saja.
Yang mengejutkannya adalah respons Barat.
Politisi yang sama yang berbicara tentang hak asasi manusia ketika Putin menyerang Ukraina, tiba-tiba bungkam ketika Israel membunuh anak-anak Gaza dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Media yang sama yang menyebut serangan terhadap warga sipil di tempat lain sebagai "kejahatan perang," tiba-tiba menggunakan bahasa yang "berimbang" dan berbicara tentang "kompleksitas situasi."
Aktivis yang sama yang berteriak-teriak tentang keadilan sosial, tiba-tiba menghilang atau berbicara dengan bisikan.
Topeng telah terlepas. Dan yang terlihat di baliknya adalah kemunafikan yang menakutkan.
Tweet yang Mengubah Hidup
Di tengah frustrasi dan kemarahan itulah Omar menulis tweet yang akan mengubah hidupnya:
"Suatu hari nanti, ketika sudah aman, ketika tidak ada lagi risiko pribadi untuk menyebut sesuatu dengan nama sebenarnya, ketika sudah terlambat untuk meminta pertanggungjawaban siapapun, semua orang akan selalu sudah menentang hal ini."
Tweet itu viral karena mengekspos sesuatu yang semua orang tahu tapi takut katakan: kebanyakan orang tahu apa yang terjadi adalah salah, tapi mereka memilih diam karena takut konsekuensinya.
Dan inilah bagaimana sistem bekerja. Bukan melalui dukungan aktif untuk kejahatan, tapi melalui keheningan yang complicit.
Bagian 6: Anatomi Kemunafikan—Bagaimana Barat Bekerja
"Rules-Based Order"—Untuk Siapa?
Barat bangga dengan "rules-based international order"—sistem yang mereka klaim berdasarkan hukum internasional, hak asasi manusia, dan keadilan.
Tapi Omar menunjukkan bagaimana sistem ini sebenarnya bekerja:
● Amerika menyerang Iraq tanpa persetujuan PBB, tapi menuntut negara lain menghormati kedaulatan
● Israel melanggar puluhan resolusi PBB tanpa konsekuensi, tapi Iran disanksi karena program nuklirnya
● Rusia dikecam karena menyerang Ukraina, tapi Israel dipuji karena "mempertahankan diri" saat membunuh 10 kali lebih banyak warga sipil
"Rules-based order" sebenarnya adalah "rules for thee, but not for me"—aturan untuk kamu, tapi bukan untuk kami.
Liberal vs Progressive—Kemunafikan yang Halus
Yang paling mengecewakan bagi Omar bukanlah konservatif yang terbuka mendukung imperialisme. Setidaknya mereka jujur tentang siapa mereka.
Yang mengecewakan adalah liberal—orang-orang yang mengklaim peduli hak asasi manusia tapi memilih diam ketika negara mereka mendukung pembantaian.
Mereka punya excuses yang sophisticated:
● "Situasinya kompleks"
● "Kedua belah pihak salah"
● "Kita harus menunggu semua fakta"
● "Ini bukan waktu yang tepat untuk kritik"
Tapi semua excuses itu hanyalah cara untuk menghindari tanggung jawab moral.
Dehumanisasi yang Sistematis
Omar menunjukkan bagaimana Barat secara sistematis mendehumanisasi "Yang Lain"—Arab, Muslim, Afrika, penduduk asli, siapapun yang berada di luar lingkaran privilege kulit putih Kristen.
Prosesnya halus tapi konsisten:
● Anak-anak Barat yang tewas adalah "korban innocent." Anak-anak Arab yang tewas adalah "korban tragis tapi tak terhindarkan"
● Pejuang kemerdekaan Barat adalah "heroes." Pejuang kemerdekaan Arab adalah "teroris"
● Kekerasan Barat adalah "bedah yang presisi." Kekerasan Arab adalah "barbarisme"
Dengan mengontrol bahasa, Barat mengontrol narasi. Dan dengan mengontrol narasi, mereka mengontrol siapa yang dianggap manusia.
Bagian 7: Generasi yang Bangun—Retakan dalam Sistem
Mahasiswa dan Moral Clarity
Yang memberi harapan kepada Omar adalah melihat respons generasi muda—terutama mahasiswa di universitas-universitas elit America.
Di Harvard, Columbia, NYU, dan puluhan kampus lain, mahasiswa mendirikan kemah protes untuk menuntut universitas mereka memutus hubungan dengan Israel. Mereka bersedia ditangkap, dikeluarkan dari sekolah, diancam karir mereka—demi prinsip moral.
Generasi muda ini tidak mau disuap dengan excuses sophisticated para orang tua mereka. Bagi mereka, genosida adalah genosida, titik.
Crack dalam Elite Establishments
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ada crack dalam consensus elite tentang Timur Tengah.
Beberapa Demokrat mulai mengkritik dukungan tanpa batas untuk Israel. Beberapa media mulai menggunakan kata "genosida." Beberapa akademisi mulai berbicara lebih terus terang.
Sistem yang tampak monolitik mulai menunjukkan retakan.
Harga yang Dibayar
Tapi speaking out datang dengan harga yang berat.
Mahasiswa dikeluarkan dari universitas. Professor kehilangan tenure. Jurnalis dipecat. Politisi disingkirkan dari jabatan.
Omar sendiri menghadapi ancaman, boikot, dan campaign untuk merusak reputasinya.
Tapi inilah yang dimaksud dengan "ketika sudah aman" dalam tweetnya. Sekarang tidak aman. Sekarang ada konsekuensi untuk mengatakan kebenaran.
Bagian 8: Psikologi Complicity—Mengapa Orang Baik Diam
Cognitive Dissonance
Omar mengeksplorasi psikologi mengapa orang-orang baik—orang yang benar-benar peduli keadilan—bisa tetap diam melihat kejahatan besar.
Jawabannya adalah cognitive dissonance. Otak manusia tidak bisa menangani kontradiksi yang terlalu besar antara self-image dan kenyataan.
Jika Anda melihat diri sebagai orang baik, tapi hidup Anda terlibat dalam sistem yang jahat, ada dua pilihan:
1. Mengubah sistem (sangat sulit dan berisiko)
2. Mengubah persepsi tentang sistem (mudah dan aman)
Kebanyakan orang memilih opsi kedua. Mereka meyakinkan diri bahwa sistem tidak sejahat itu, atau bahwa mereka tidak punya pilihan, atau bahwa ini semua terlalu kompleks untuk dipahami.
Privilege sebagai Narkotik
Privilege membuat orang menjadi numb terhadap penderitaan orang lain.
Ketika hidup Anda nyaman—rumah bagus, sekolah bagus untuk anak-anak, pensiun yang aman—sangat mudah untuk mengabaikan fakta bahwa kenyamanan itu disubsidi oleh penderitaan orang lain.
Privilege adalah narkotik yang membuat Anda tidak merasakan sakit orang lain.
Fear of Change
Yang paling dalam, orang takut perubahan.
Mengakui bahwa sistem fundamentally rusak berarti mengakui bahwa seluruh hidup mereka dibangun di atas fondasi yang salah. Dan itu terlalu menakutkan untuk dihadapi.
Jadi mereka memilih untuk tetap tidur, berharap masalah akan hilang sendiri.
Bagian 9: Anak-anak sebagai Mirror Moral
Innocence yang Mengekspos Kejahatan
Salah satu tema paling kuat dalam buku ini adalah focus pada anak-anak—baik anak-anak Omar sendiri yang aman di Portland, maupun anak-anak Gaza yang menjadi target.
Anak-anak adalah mirror moral yang sempurna karena mereka innocent. Mereka tidak terlibat dalam politik. Mereka tidak memilih pemimpin yang buruk. Mereka hanya ingin bermain, belajar, dan dicintai.
Ketika sebuah sistem membunuh anak-anak, tidak ada justifikasi yang bisa membuatnya benar.
"No Such Thing as Other People's Children"
Omar menulis berulang kali: "Tidak ada yang namanya anak-anak orang lain."
Jika kita benar-benar beriman pada kemanusiaan universal, maka semua anak adalah anak kita. Penderitaan anak di Gaza seharusnya terasa sama menyakitkannya dengan penderitaan anak di New York.
Tapi Barat telah menciptakan hierarki nilai manusia di mana beberapa anak "lebih berharga" dari yang lain.
Dan ini mengekspos kebohongan fundamental dari "nilai-nilai universal" yang diklaim Barat.
Membesarkan Anak di Dunia yang Rusak
Sebagai ayah, Omar bergumul dengan pertanyaan: bagaimana membesarkan anak-anak yang baik di dunia yang rusak?
Bagaimana mengajarkan mereka tentang keadilan ketika dunia penuh ketidakadilan? Bagaimana mengajarkan mereka tentang empati ketika sistem mendorong apathy? Bagaimana mengajarkan mereka untuk care ketika caring itu menyakitkan?
Jawabannya, bagi Omar, adalah honesty. Berikan anak-anak truth, sekali pun menyakitkan. Karena hanya dengan truth mereka bisa membuat pilihan yang bermoral.
Bagian 10: Harapan di Tengah Kehancuran
"One Day" sebagai Ramalan dan Harapan
Judul buku ini—"One Day, Everyone Will Have Always Been Against This"—adalah sekaligus ramalan dan harapan.
Ramalan karena Omar yakin bahwa suatu hari nanti, ketika sejarah ditulis, semua orang akan mengklaim selalu menentang genosida Gaza. Sama seperti sekarang semua orang mengklaim selalu menentang perbudakan, Jim Crow, atau Holocaust.
Ini adalah sifat manusia: rewrite sejarah untuk membuat diri terlihat berada di sisi yang benar.
Tapi ini juga harapan. Karena jika "everyone will have always been against this," itu berarti sistem akan berubah. Evil tidak akan menang selamanya.
Generation Z dan Future
Omar melihat harapan dalam generasi muda yang refuse to be gaslit.
Mereka tumbuh dengan internet. Mereka bisa melihat video langsung dari Gaza. Mereka tidak bergantung pada media tradisional untuk informasi. Mereka tidak bisa dibohongi dengan mudah.
Dan mereka angry. Angry dengan cara yang productive.
Love dalam Chaos
Di akhir buku, Omar kembali ke tema love.
Buku ini ditulis dari tempat love—love untuk anak-anaknya sendiri, love untuk anak-anak di mana pun, love untuk kemungkinan dunia yang lebih baik.
Hanya dengan love yang mendalam—love yang menolak untuk menerima yang tidak dapat diterima—kita bisa membuat perubahan yang berarti.
Penutup: Surat Putus Cinta dengan Masa Depan yang Lebih Baik
Breakup Letter dengan Impian
"One Day, Everyone Will Have Always Been Against This" adalah surat putus cinta dengan impian lama Omar tentang Barat.
Impian tentang tempat di mana keadilan bukan hanya slogan, tapi praktek. Tentang tempat di mana semua manusia diperlakukan equally. Tentang tempat di mana words matter dan principles bukan hanya talking points.
Impian itu mati. Dan Omar sedang mourning kematiannya.
Tapi Juga Love Letter untuk Kemungkinan
Tapi buku ini juga love letter untuk kemungkinan dunia yang lebih baik.
Dunia di mana "Never Again" benar-benar berarti never again—untuk siapa pun. Dunia di mana anak-anak di Gaza punya nilai yang sama dengan anak-anak di New York. Dunia di mana kemanusiaan tidak conditional pada warna kulit, agama, atau negara asal.
Dunia itu mungkin. Tapi hanya jika kita berani mengorbankan comfort kita untuk justice.
Pertanyaan untuk Anda
Omar El Akkad berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang menusuk:
● Apakah Anda akan menjadi orang yang "selalu menentang" setelah sudah terlambat untuk bertindak?
● Atau Anda akan menjadi orang yang berbicara sekarang, ketika masih berbahaya untuk melakukannya?
● Berapa banyak anak-anak yang harus mati sebelum Anda mengatakan "cukup"?
● Apa harga yang bersedia Anda bayar untuk conscience yang bersih?
Ini bukan pertanyaan retorik. Ini adalah pertanyaan yang akan define generasi kita.
Karena "one day" sudah di sini. Dan sejarah sedang watching.
Call to Action
El Akkad tidak berakhir dengan despair. Dia berakhir dengan call to action:
Speak. Act. Resist. Care.
Bahkan ketika berbahaya. Bahkan ketika tidak nyaman. Bahkan ketika Anda sendirian.
Karena di akhir hidup, satu-satunya pertanyaan yang benar-benar penting adalah: Ketika tested, apakah Anda memilih kemanusiaan atau kenyamanan?
Omar El Akkad telah membuat pilihannya. Sekarang giliran kita.
Tentang Buku Asli
"One Day, Everyone Will Have Always Been Against This" diterbitkan oleh Alfred A. Knopf pada 2025 dan memenangkan National Book Award untuk Nonfiction. Buku ini juga memenangkan Palestine Book Award dan menjadi New York Times Bestseller.
Omar El Akkad adalah novelis dan jurnalis yang lahir di Mesir, tumbuh besar di Qatar, dan pindah ke Kanada saat remaja. Dia sekarang tinggal di Amerika Serikat. Sebagai jurnalis untuk The Globe and Mail, dia meliput Perang Afghanistan, proses pengadilan militer di Guantanamo Bay, Arab Spring, dan gerakan Black Lives Matter di Ferguson.
Novel-novelnya "American War" dan "What Strange Paradise" memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Scotiabank Giller Prize. Dia dikenal karena kemampuannya menggabungan jurnalisme investigatif dengan prose yang puitis.
Buku ini telah memicu kontroversi luas tapi juga pujian dari tokoh-tokoh seperti Tommy Orange, Brian Eno, dan banyak akademisi. The New York Times menyebutnya sebagai "memoir dan manifesto yang memukau."
Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas moral living di Barat, anatomi kemunafikan sistematis, dan perjuangan conscience di era imperialisme modern, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi argumen El Akkad—tapi buku lengkapnya menawarkan kedalaman personal, detail journalistic, dan kekuatan emotional yang hanya bisa dirasakan melalui kata-kata El Akkad sendiri.
Sekarang pergilah dan tanyakan pada diri sendiri: Ketika sejarah ditulis, di mana Anda akan berdiri?
Karena seperti yang ditunjukkan Omar El Akkad—"one day" adalah hari ini. Pilihan ada di tangan kita. Dan dunia sedang menonton.

