Successful Failure

Kevin Fredericks


Frederick's of Hollywood dan Mimpi Seorang Anak 

Bayangkan Anda berusia 8 tahun, berjalan di mal El Paso, Texas, dan melihat papan nama besar bertuliskan "Frederick's of Hollywood." 

Nama keluarga Anda juga Frederick. Dan tiba-tiba, dalam pikiran polos seorang anak, Anda merasa ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda

"Suatu hari nanti," pikir Kevin Fredericks kecil, "aku akan pergi ke Hollywood. Nama ini adalah takdir." 

Tidak peduli bahwa Frederick's of Hollywood adalah toko pakaian dalam. Tidak peduli bahwa dia tinggal di kota kecil yang jauh dari gemerlap industri hiburan. Bagi Kevin, papan nama itu adalah rambu jalan menuju masa depan yang cemerlang. 

Dan dia percaya pada takdirnya sampai ke tulang sumsum, sepanjang hidupnya. 

Kevin Fredericks—atau yang kini Anda kenal sebagai KevOnStage—memang akhirnya sampai di Hollywood. Dia menjadi bintang viral, comedian pemenang NAACP Image Award, founder KevOnStage Studios, dan penulis bestseller New York Times. 

Tapi seperti yang dia tulis dalam memoirnya "Successful Failure," jalan menuju kehidupan yang kita inginkan ternyata lebih panjang, lebih aneh, lebih memalukan, dan lebih menghibur daripada yang kita bayangkan. 

Dari performance dengan nama samaran untuk menghindari pemecatan dari pekerjaan kantoran, hingga memecahkan kursi di atas panggung dan berhenti dari stand-up selama enam bulan. Dari buang air besar di celana di dalam bus tepat di sesamping calon istrinya, hingga memulai lini pakaian bernama "Dreams Don't Die" (yang ironisnya, mimpi itu memang mati kalau barang dagangannya tidak laku).

Buku ini bukan tentang bagaimana menghindari kegagalan. Ini tentang bagaimana kegagalan—yang benar-benar memalukan dan menggelikan—justru menjadi fondasi kesuksesan yang sesungguhnya. 

Mari kita mulai dari awal. Dari seorang anak di El Paso yang menemukan kekuatan ajaib dari tawa.

 


Bagian 1: Kekuatan Tawa—Pelajaran Pertama dari Goliath

Anak yang Belajar Manipulasi dengan Humor 

Kevin Fredericks belajar sesuatu yang sangat berharga di usia muda: Kalau dia bisa membuat orang dewasa tertawa, dia bisa begadang lebih lama. 

Ini adalah discovery moment yang mengubah hidupnya. 

Dalam drama gereja, Kevin bermain sebagai Goliath. Dan karena dia begitu committed dengan perannya, dia sampai bibirnya berdarah saat adegan pertarungan. Tapi alih-alih menangis atau berhenti, Kevin malah melanjutkan dengan darah di bibirnya. 

Penonton tidak bisa berhenti tertawa. Dan Kevin merasakan sesuatu yang adiktif: kekuatan untuk mengendalikan suasana hati orang lain. 

Dari momen itu, dia tahu dia ingin menjadi performer. Dia ingin menemukan "big break" yang akan meluncurkannya ke dunia selebriti. 

Mimpi Hollywood dan Realitas El Paso 

Tumbuh di El Paso, Kevin bermimpi tentang Hollywood. Setiap kali melihat papan nama Frederick's of Hollywood, rasa takdirnya semakin menguat. 

"Aku ditakdirkan untuk jadi besar," pikirnya. 

Keyakinan ini membentuk seluruh pendekatan hidupnya. Dia tidak hanya ingin sukses—dia yakin dia akan sukses. Pertanyaannya bukan "apakah," tapi "kapan." 

Tapi seperti kebanyakan anak dari kota kecil yang bermimpi besar, Kevin tidak tahu betapa panjang, berliku, dan menggelikannya jalan menuju mimpi itu.

 


Bagian 2: Kehidupan Ganda—Korporat di Siang Hari, Komedi di Malam Hari 

Pria Berdasi yang Menyimpan Rahasia 

Setelah college, Kevin mengikuti jalur "normal": bekerja di perusahaan, memakai jas dan dasi, duduk di kantor dengan AC dingin. 

Tapi di malam hari, dia menjalani kehidupan rahasia. 

Kevin mulai perform stand-up comedy—tapi dengan nama samaran. Mengapa? Karena dia takut ketahuan oleh atasan dan dipecat dari pekerjaan "sesungguhnya." 

Bayangkan hidup dengan identitas ganda seperti superhero, tapi alih-alih melawan kejahatan, Anda melawan kebosanan penonton di club comedy yang asap rokoknya tebal. 

Pada siang hari: Kevin si karyawan teladan yang rapi dan profesional. 

Pada malam hari: Kevin si comedian yang berusaha membuat orang tertawa di venue-venue kecil yang seringkali hanya diisi belasan orang. 

Pelajaran dari Kehidupan Ganda 

Kevin menyadari sesuatu dari periode ini: Ketakutan terhadap kegagalan seringkali menghalangi kita untuk benar-benar berkomit pada impian kita. 

Dengan menggunakan nama samaran, dia sebenarnya tidak fully committed. Dia masih punya "safety net" berupa pekerjaan kantoran. Dan karena tidak fully committed, dia tidak bisa fully succeed. 

Ini adalah pola yang akan terulang berkali-kali dalam hidupnya: rasa takut terhadap kegagalan yang justru menciptakan kegagalan itu sendiri.

 


Bagian 3: The Chair Incident—Momen yang Mengubah Segalanya 

Malam yang Memalukan di Atas Panggung 

Ada malam yang akan Kevin ingat selamanya—bukan karena performancenya yang luar biasa, tapi karena kegagalan yang spektakuler. 

Kevin sedang perform di sebuah venue kecil. Di tengah-tengah set-nya yang sedang berjalan lancar, dia duduk di kursi untuk bagian tertentu dari routine-nya. 

Dan kursi itu patah

Kevin jatuh ke lantai di depan penonton yang awalnya tertawa karena joke-nya, tapi kemudian tertawa karena melihat dia jatuh dengan konyol. 

Tapi alih-alih bangkit dan melanjutkan dengan humor, Kevin merasa sangat malu

Dia tidak tahu bagaimana cara recover dari momen itu. Dia berdiri, mengucapkan terima kasih dengan canggung, dan turun dari panggung dengan perasaan hancur. 

Hiatus Enam Bulan 

Insiden kursi itu menghancurkan kepercayaan diri Kevin. 

Dia berhenti dari stand-up comedy selama enam bulan penuh. 

Selama periode ini, Kevin merasa seperti pecundang. Dia pikir, "Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk ini. Mungkin aku harus puas dengan pekerjaan kantoran." 

Tapi dalam kesendirian itu, Kevin belajar sesuatu yang penting: Kegagalan hanya menjadi final jika kita memutuskan untuk menyerah. 

Setelah enam bulan, Kevin kembali ke panggung. Dan anehnya, pengalaman jatuh telungkup itu malah membuatnya lebih kuat dan lebih otentik sebagai comedian. 

Pelajaran dari Kursi yang Patah 

Kevin menyadari bahwa momen paling memalukan dalam hidupnya sebenarnya mengajarkannya beberapa hal: 

1. Audience sebenarnya tidak peduli dengan kegagalan kecil. Mereka malah relate dengan vulnerability.

2. Recovery lebih penting daripada perfeksi. Cara Anda bangkit dari jatuh lebih memorable daripada tidak pernah jatuh sama sekali. 

3. Shame adalah emosi yang kita ciptakan sendiri. Kursi patah adalah fakta. Merasa malu adalah pilihan.

 


Bagian 4: Love on a Bus—Momen Paling Memalukan dengan Happy Ending 

Cerita yang Tidak Pernah Dia Ceritakan (Sampai Sekarang) 

Ada satu cerita yang Kevin hampir tidak pernah ceritakan kepada siapa pun—terlalu memalukan bahkan untuk seorang comedian yang hidupnya adalah tentang membagikan embarrassing moments. 

Tapi dia akhirnya menceritakannya dalam buku ini, karena ada pelajaran berharga di dalamnya. 

Kevin sedang dalam bus dengan seorang wanita yang dia taksir. Mereka sedang dalam perjalanan yang cukup panjang, dan hubungan mereka masih dalam tahap "getting to know each other." 

Dan kemudian terjadi hal yang paling mengerikan yang bisa dibayangkan: Kevin buang air besar di celana. 

Di dalam bus. Di sebelah wanita yang dia sukai. Dengan bau yang tidak bisa disembunyikan.

Plot Twist yang Tidak Terduga 

Inilah yang membuat cerita ini luar biasa: wanita itu tidak pergi. Dia tidak jijik. Dia bahkan membantu Kevin mengatasi situasi yang super awkward itu dengan humor dan kasih sayang. 

Wanita itu kemudian menjadi istrinya. 

Melissa Fredericks—yang sekarang menjadi co-author buku laris Kevin "Marriage Be Hard"—melihat Kevin di momen paling rendah dan vulnerable-nya, dan memutuskan bahwa dia tetap ingin bersamanya. 

Pelajaran tentang Vulnerability dan Cinta 

Kevin menyadari sesuatu yang profound dari pengalaman ini: 

Cinta sejati tidak datang ketika Anda dalam kondisi terbaik. Cinta sejati datang ketika seseorang melihat Anda di kondisi terburuk—secara literal—dan tetap memilih untuk tinggal. 

Jika Kevin tidak mengalami momen super memalukan itu, dia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa Melissa adalah "the one." 

Kegagalan paling memalukan dalam hidupnya ternyata membuka jalan untuk kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

 


Bagian 5: Dreams Don't Die (But Merchandise Does)

Venture Bisnis yang Ambitious 

Di puncak kepercayaan dirinya sebagai comedian yang mulai mendapat recognition, Kevin memutuskan untuk expand ke dunia bisnis. 

Dia meluncurkan lini pakaian bernama "Dreams Don't Die"—nama yang inspiring dan sesuai dengan brand-nya sebagai comedian yang tidak menyerah. 

Kevin yakin ini akan menjadi hit besar. Dia bayangkan semua fans-nya akan membeli kaos, hoodie, dan merchandise dengan logo dan quote-quote motivational-nya. 

Dia invest banyak uang. Dia design produk. Dia siapkan inventory. Dia buat website. Dia launch dengan fanfare. 

Realitas yang Menyakitkan 

"Dreams Don't Die" merchandise tidak laku. 

Hampir tidak ada yang beli. Inventory menumpuk di rumahnya. Website tidak menghasilkan traffic yang berarti. ROI-nya negatif besar. 

Setelah beberapa bulan, Kevin harus mengakui kenyataan pahit: Mimpi tentang Dreams Don't Die sudah mati. 

Ironi yang menyakitkan, mengingat nama brand-nya sendiri adalah "Dreams Don't Die."

Pelajaran dari Merchandise yang Gagal 

Kevin belajar beberapa hal penting dari kegagalan bisnis ini: 

1. Passion tidak selalu equals profit. Hanya karena Anda passionate tentang sesuatu, tidak berarti pasar akan passionate juga. 

2. Timing is everything. Ide yang bagus di timing yang salah tetap saja gagal. 

3. Know your audience. Fans comedy tidak selalu mau membeli merchandise. Mereka datang untuk hiburan, bukan untuk shopping. 

4. Diversifikasi itu penting, tapi fokus juga penting. Kevin mencoba terlalu banyak hal sekaligus alih-alih master satu hal dulu. 

Yang paling penting: Kegagalan satu venture tidak menentukan value Anda sebagai entrepreneur.

 


Bagian 6: The Credit Card Scheme—Ketika Good Intentions Meet Bad Execution 

Partnership dengan Barber 

Salah satu venture paling absurd Kevin adalah ketika dia partnership dengan seorang tukang cukur untuk "membantu community mendapatkan credit card." 

Ide dasarnya sebenarnya baik: banyak orang di neighborhood mereka yang kesulitan mendapat approval credit card karena credit history yang buruk atau tidak ada sama sekali. 

Kevin dan partner barber-nya pikir mereka bisa menjadi "middleman" yang membantu orang-orang ini mendapatkan akses ke credit card dengan syarat yang lebih mudah. 

Execution yang Bermasalah 

Tapi seperti kebanyakan skema get-rich-quick, idenya terdengar lebih baik di kertas daripada di realitas. 

Mereka tidak punya lisensi yang proper. Mereka tidak punya infrastructure yang memadai. Mereka tidak fully understand regulasi financial services. 

Yang mereka punya adalah ambisi besar dan naivitas yang lebih besar lagi. 

Venture ini cepat collapse ketika mereka menyadari bahwa dunia financial services itu jauh lebih kompleks dan regulated daripada yang mereka bayangkan. 

Pelajaran tentang Good Intentions vs Proper Preparation

Kevin belajar perbedaan antara wanting to help dan actually being able to help.

Good intentions saja tidak cukup. Anda perlu: 

● Pengetahuan yang memadai tentang industri 

● Capital yang sufficient 

● Network dan connections yang tepat 

● Understanding tentang regulasi dan compliance 

● Business model yang sustainable 

Yang paling penting: Jangan pernah masuk ke industri yang Anda tidak understand hanya karena terlihat profitable.

 


Bagian 7: Going Viral—Ketika Kesuksesan Datang Tak Terduga 

Momen yang Mengubah Segalanya 

Setelah bertahun-tahun struggle, performing di venue-venue kecil, mengalami berbagai kegagalan bisnis, Kevin akhirnya mengalami breakthrough. 

Tapi breakthrough itu datang bukan dari grand plan atau strategi marketing yang elaborate. Breakthrough datang dari video viral yang tidak dia rencanakan. 

Kevin membuat video comedy tentang kehidupan sehari-hari—topik yang sangat relatable dan delivery yang natural. Video itu di-share, di-repost, dan dalam hitungan hari, jutaan orang melihatnya. 

Tiba-tiba, Kevin Fredericks alias KevOnStage menjadi nama yang dikenal di internet.

Transisi dari Viral ke Sustainable 

Yang menarik dari perjalanan Kevin adalah bagaimana dia navigate dari menjadi viral sensation ke membangun business yang sustainable. 

Banyak orang yang viral kemudian hilang begitu saja karena mereka tidak tahu cara mengkapitalisasi momentum tersebut. 

Kevin belajar untuk: 

● Konsisten membuat konten 

● Diversifikasi platform (YouTube, Instagram, TikTok, dll.) 

● Monetisasi dengan cara yang authentic 

● Membangun brand pribadi yang kuat 

● Tidak bergantung pada satu platform saja 

Pelajaran tentang Overnight Success yang 15 Years in the Making

Kevin sering bilang bahwa dia "overnight success" yang butuh 15 tahun untuk achieve.

Viral moment hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada: 

● Bertahun-tahun latihan stand-up 

● Ratusan performance di venue kecil 

● Pengalaman dari berbagai kegagalan bisnis 

● Ketahanan mental yang dibangun dari rejection dan embarrassment 

● Skills dalam storytelling dan timing yang diasah selama bertahun-tahun

Success yang terlihat tiba-tiba sebenarnya adalah culmination dari preparation yang panjang.

 


Bagian 8: Redefining Success—Lebih dari Hustle Culture

Kritik terhadap Hustle Culture 

Salah satu tema central dalam "Successful Failure" adalah kritik Kevin terhadap hustle culture yang toxic. 

Kevin melihat banyak orang—termasuk dirinya di masa lalu—yang terperangkap dalam mindset: 

● "Grind 24/7 atau Anda tidak deserve success" 

● "Sleep is for the weak" 

● "If you're not working, you're falling behind" 

● "Failure is not an option" 

Kevin menyadari bahwa mindset ini tidak hanya tidak sustainable, tapi juga destructive untuk mental health, relationships, dan ironically, untuk success jangka panjang. 

Success yang Sehat vs Success yang Toxic 

Kevin membedakan antara dua jenis approach terhadap success: 

Toxic Success: 

● Sacrifice everything for career 

● Work-life balance adalah myth 

● Worth ditentukan oleh achievement 

● Failure harus dihindari dengan segala cara 

● Comparison dengan orang lain sebagai motivasi 

Healthy Success: 

● Success as part of well-rounded life 

● Family dan relationships as priority 

● Worth tidak ditentukan oleh achievement saja 

● Failure sebagai learning opportunity 

● Internal motivation lebih penting dari external validation 

Pelajaran: "Failure Isn't the End, But Neither Is Success" 

Salah satu quote paling powerful dari Kevin adalah: "Failure isn't the end, but neither is success." 

Maksudnya:

● Failure bukanlah akhir karena Anda selalu bisa bangkit, belajar, dan try again

● Success juga bukanlah akhir karena success yang sustainable adalah journey, bukan destination 

Kevin belajar bahwa personal growth dan fulfillment adalah real payoff, bukan sekedar achievement atau recognition.

 


Bagian 9: KevOnStage Studios—Membangun Empire dengan Cara yang Benar 

From Comedian menjadi Entrepreneur 

Setelah viral, Kevin tidak puas hanya menjadi content creator. Dia ingin membangun bisnis yang sustainable dan scalable. 

Kevin mendirikan KevOnStage Studios—production company yang handle semua aspek dari content creation hingga brand partnerships. 

Tapi kali ini, dia approach bisnis dengan cara yang berbeda. Dia tidak lagi naive seperti di era "Dreams Don't Die" atau credit card scheme. 

Pelajaran dari Ventures Sebelumnya 

Kevin apply semua pelajaran dari kegagalan-kegagalan sebelumnya: 

1. Start small and scale gradually - Tidak langsung invest besar

2. Focus on core competency - Stick dengan apa yang dia kuasai: comedy dan content

3. Build proper team - Hire orang yang complement skills-nya

4. Understand the market - Research audience dan demand dengan proper

5. Have sustainable business model - Tidak bergantung pada satu revenue stream 

Success yang Sustainable 

KevOnStage Studios menjadi success karena Kevin membangunnya di atas foundation yang solid: 

● Track record yang proven di comedy 

● Understanding mendalam tentang audience-nya 

● Multiple revenue streams (content, sponsorship, merchandise, speaking engagements)

● Team yang kompeten 

● Business model yang scalable 

Yang paling penting: Kevin tidak sacrifice family life dan mental health untuk business growth.

 


Bagian 10: Pelajaran dari Jatuh Telungkup—Wisdom dari KevOnStage 

1. Failure adalah Data, Bukan Identity 

Kevin belajar membedakan antara "I failed" dan "I am a failure." 

"I failed" adalah statement tentang event yang specific. "I am a failure" adalah statement tentang identity yang destructive. 

Pelajaran: Treat failure sebagai data untuk improvement, bukan sebagai confirmation tentang worth Anda sebagai manusia. 

2. Embarrassment adalah Temporary, Regret adalah Permanent 

Kevin punya banyak momen memalukan—dari jatuh karena kursi patah hingga buang air besar di bus. Tapi dia lebih takut dengan regret karena tidak mencoba. 

Pelajaran: Lebih baik embarrassed karena tried and failed, daripada regret karena never tried.

3. Your Network Is Your Net Worth—But Build It Authentically 

Kevin sukses bukan hanya karena talent, tapi juga karena relationship yang dia bangun sepanjang perjalanan. 

Tapi dia tidak networking dengan cara yang fake atau transactional. Dia genuine dalam berinteraksi dengan orang, dan itu eventually pay off. 

Pelajaran: Build relationships because you care about people, not because you want something from them. 

4. Consistency Beats Intensity 

Kevin tidak pernah punya satu breakthrough moment yang langsung mengubah hidupnya. Success-nya adalah hasil dari consistency dalam: 

● Membuat content 

● Perform stand-up 

● Engage dengan audience 

● Belajar dari mistakes 

● Improve skills-nya 

Pelajaran: Small consistent actions lebih powerful daripada sporadic intense efforts.

5. Success tanpa Fulfillment adalah Ultimate Failure 

Kevin melihat banyak orang yang "successful" tapi miserable. Mereka achieve semua goals mereka tapi tidak happy. 

Kevin memilih untuk define success bukan hanya dari external metrics (uang, fame, recognition) tapi juga dari internal metrics (happiness, relationships, purpose). 

Pelajaran: Success without fulfillment is the ultimate failure. 

6. Vulnerability adalah Superpower 

Semua momen paling powerful Kevin—baik di atas panggung maupun dalam relationships—datang dari vulnerability. 

Ketika dia share embarrassing stories, audience connect dengan dia. Ketika dia vulnerable dengan Melissa, relationship mereka deepened. 

Pelajaran: Your vulnerability is not weakness—it's your greatest strength for connecting with others. 

7. Perfectionism adalah Creativity Killer 

Kevin belajar bahwa waiting untuk perfect conditions atau perfect content adalah cara tercepat untuk tidak pernah create anything. 

"Done is better than perfect" menjadi mantra-nya. 

Pelajaran: Ship the work, get feedback, improve. Don't wait for perfection.

 


Penutup: We're All Out Here Trying—Dan Itu Sudah Cukup 

Di akhir "Successful Failure," Kevin sampai pada realisasi yang beautiful dan humble: 

"Kita mungkin tidak menjadi The Rock, Warren Buffett, atau Kevin Hart. Tapi kita semua di sini berusaha. Dan itu sudah okay." 

Ini bukan mindset yang settles for mediocrity. Ini mindset yang celebrates the effort, bukan hanya hasil. 

Redefinisi Success 

Kevin mengajak kita untuk redefine success: 

Old definition: Success = achievement, money, recognition, fame, "making it" 

New definition: Success = growth, fulfillment, positive impact, meaningful relationships, enjoying the journey 

The Real Message 

Message sebenarnya dari "Successful Failure" bukanlah "how to succeed" atau "how to avoid failure." 

Message-nya adalah: "How to be okay with being human." 

Manusia itu: 

● Tidak sempurna 

● Sering gagal 

● Kadang memalukan 

● Tidak selalu tahu apa yang sedang dilakukan 

Dan semua itu okay

Yang penting adalah: 

● Tetap mencoba 

● Belajar dari mistake 

● Bangkit setelah jatuh 

● Tidak kehilangan sense of humor 

● Menghargai orang-orang yang support kita 

Pertanyaan untuk Anda

Kevin meninggalkan pembaca dengan beberapa pertanyaan reflektif: 

● Apa definisi success Anda—dan apakah itu really yours atau social conditioning?

● Failure apa yang Anda takuti—dan apakah ketakutan itu rational?

● Kapan terakhir kali Anda try something baru tanpa guarantee success?

● Siapa orang-orang yang tetap stay ketika Anda at your worst? 

● Apa yang akan Anda coba jika Anda tahu failure is not final? 

Final Wisdom 

Kevin Fredericks menghabiskan bertahun-tahun trying to be perfect, trying to avoid failure, trying to control narrative hidupnya. 

Tapi dia menemukan freedom dan success yang sesungguhnya ketika dia embrace imperfection, learn from failure, dan share story-nya dengan vulnerability dan humor. 

"Road menuju kehidupan yang kita inginkan memang panjang, aneh, memalukan, dan menghibur," tulis Kevin. "Tapi itulah yang membuatnya worth it." 

Jadi go out there. Try something. Fail spectacularly jika perlu. Bangkit. Try again. Dan jangan lupa untuk tertawa—terutama pada diri sendiri. 

Karena di akhir hari, kita semua hanya manusia yang berusaha. Dan honestly? That's pretty amazing.

 


Tentang Buku Asli 

"Successful Failure: Lessons Learned Flat on My Face" diterbitkan oleh Random House pada September 2025 dan langsung menjadi New York Times Bestseller. 

Kevin Fredericks (KevOnStage) adalah comedian viral, pemenang NAACP Image Award, founder KevOnStage Studios, dan penulis bestseller. Bersama istrinya Melissa, dia juga co-author buku "Marriage Be Hard." Karyanya telah ditampilkan di Good Morning America, Complex, Ebony, Newsweek, dan MSNBC. 

Buku ini mendapat pujian dari Tabitha Brown, Yvonne Orji, dan Tony Baker. Publishers Weekly menyebutnya sebagai "upbeat encouragement for readers to pick themselves up and try again." 

Kevin menyampaikan pesan-nya dengan tone yang affable dan can-do attitude, mendorong pembaca untuk melihat karir dalam terms yang less binary dan lebih nuanced. 

Untuk pengalaman penuh dari humor Kevin yang infectious dan storytelling yang engaging, sangat disarankan membaca (atau mendengar audiobook yang dinarasi Kevin sendiri) buku aslinya. Ringkasan ini menangkap essence—tapi pengalaman lengkap dari comedy timing dan personal anecdotes Kevin hanya bisa dirasakan melalui kata-katanya sendiri. 

Sekarang pergilah dan coba sesuatu yang baru. Fail spectacularly if necessary. Bangkit. Try again. Dan jangan lupa tertawa. 

Karena seperti yang Kevin tunjukkan—sometimes the best success stories start with the most spectacular failures. 

The only real failure adalah never trying at all.