Ketika Hidup Berarti Mati atau Mati
Bayangkan Anda berusia 13 tahun dan harus memilih:
Mati kelaparan di negara sendiri, atau mati di tangan penyelundup manusia di negara asing.
Mati ditembak penjaga perbatasan, atau mati diperkosa berulang kali hingga tubuh tidak kuat lagi.
Mati dieksekusi publik karena "pengkhianatan," atau mati perlahan dalam perbudakan seksual.
Ini bukan pilihan yang seharusnya dihadapi seorang anak berusia 13 tahun.
Tapi bagi Yeonmi Park, ini adalah kenyataan hidup di Korea Utara tahun 2007.
Pada malam yang dingin di bulan Maret, Yeonmi berjalan melintasi Sungai Yalu yang membeku—sungai yang memisahkan Korea Utara dari China. Di belakangnya: negara tempat dia lahir, di mana dia tidak punya masa depan. Di depannya: ketidakpastian yang mengerikan, tapi setidaknya kemungkinan untuk tetap hidup.
Dia tidak tahu bahwa pelarian yang dia pikir akan membawanya pada kebebasan justru akan membawanya ke neraka yang berbeda. Dia tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun berikutnya, dia akan menjadi budak seks, diperdagangkan seperti barang, dan dipaksa membuat pilihan-pilihan yang akan menghantui dia selamanya.
Tapi dia juga tidak tahu bahwa di ujung perjalanan yang mengerikan itu, dia akan menemukan sesuatu yang tidak pernah dia ketahui ada: kebebasan untuk berpikir.
"In Order To Live" adalah memoir Yeonmi Park—kisah tentang bagaimana seorang gadis kecil dari kota Hyesan berubah menjadi salah satu aktivis hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia. Ini bukan hanya cerita tentang pelarian dari rezim totaliter. Ini adalah cerita tentang apa artinya menjadi manusia ketika sistem mencoba menghancurkan kemanusiaan Anda.
Mari kita mulai dari tempat di mana semuanya dimulai. Dari negara yang tidak seharusnya ada.
Bagian 1: Korea Utara—Penjara Terbesar di Dunia
Hyesan—Kota di Ujung Dunia
Yeonmi Park lahir pada 4 Oktober 1993 di Hyesan, sebuah kota kecil di timur laut Korea Utara yang berbatasan dengan China.
Dari jendela rumahnya, Yeonmi bisa melihat Changbai—kota China di seberang Sungai Yalu. Di malam hari, Changbai bercahaya dengan lampu listrik yang tidak pernah padam. Di Hyesan, listrik hanya menyala beberapa jam sehari, kadang tidak sama sekali.
Perbedaan itu menjadi pertanyaan pertama dalam pikiran Yeonmi: "Mengapa mereka memiliki cahaya, sementara kami hidup dalam gelap?"
Pertanyaan yang sangat berbahaya di Korea Utara. Pertanyaan yang bisa membuat seluruh keluarga menghilang.
Sistem Songbun—Kasta yang Menentukan Hidup Mati
Korea Utara memiliki sistem kasta yang disebut songbun—tiga kelas yang menentukan seluruh hidup seseorang:
Kelas Inti (Core): Keluarga yang loyal pada rezim, mendapat akses ke pekerjaan terbaik dan tinggal di Pyongyang.
Kelas Mengambang (Wavering): Mayoritas penduduk, termasuk keluarga Yeonmi. Loyal tapi tidak sepenuhnya dipercaya.
Kelas Bermusuhan (Hostile): Keturunan "pengkhianat"—mantan tentara Selatan, Kristen, atau siapa pun yang dianggap tidak loyal.
Songbun Anda menentukan segalanya: pekerjaan apa yang bisa Anda dapat, sekolah mana yang bisa Anda masuki, makanan apa yang bisa Anda beli, bahkan dengan siapa Anda boleh menikah.
Dan yang terburuk: songbun diwariskan selama tiga generasi. Jika kakek Anda melakukan "kesalahan," cucu-cucu Anda akan membayar harganya.
Ayah yang Berani—Dan Akibatnya
Ayah Yeonmi, Park Jin Sik, adalah pria yang berani. Terlalu berani untuk Korea Utara.
Dia membangun bisnis penyelundupan kecil-kecilan, membawa barang-barang China ke Korea Utara dan menjualnya di pasar gelap. Dengan uang itu, keluarga Yeonmi bisa makan kimchi dan nasi—kemewahan yang tidak bisa dinikmati kebanyakan orang Korea Utara.
Tapi bisnis ayahnya didasarkan pada suap kepada pejabat. Dan suatu hari, pejabat yang dia suap ditangkap. Dalam hitungan hari, ayah Yeonmi juga ditangkap.
Dia dikirim ke kwan-li-so—kamp kerja paksa—dengan tuduhan "perdagangan ilegal." Hukuman: bertahun-tahun kerja paksa dalam kondisi yang dirancang untuk membunuh.
Kelaparan—Teman Sehari-hari
Dengan ayah di penjara, keluarga Yeonmi jatuh ke dalam kemiskinan absolut.
Mereka makan sekali sehari—jika beruntung. Sering kali, makan malam adalah sup rumput dan kulit kayu yang direbus. Yeonmi dan kakaknya, Eunmi, berburu belalang dan capung untuk protein.
Di jalanan Hyesan, mayat-mayat orang yang mati kelaparan adalah pemandangan biasa. Anjing liar memakan bangkai manusia. Anak-anak yang ditinggal mati orangtuanya menjadi gelandangan, mencari sisa makanan di tempat sampah.
Ini bukan kelaparan karena bencana alam. Ini adalah kelaparan yang diciptakan oleh rezim.
Korea Utara mengalokasikan 25% anggaran negara untuk militer, sementara rakyat mati kelaparan. Para pemimpin di Pyongyang makan daging wagyu impor sementara anak-anak di luar ibu kota makan rerumputan.
Indoktrinasi—Mencuri Pikiran
Yang lebih mengerikan dari kelaparan fisik adalah kelaparan mental.
Sejak lahir, anak-anak Korea Utara diajarkan untuk menyembah keluarga Kim seperti dewa. Mereka diajarkan bahwa Kim Il-sung adalah "Presiden Abadi" meski sudah mati. Bahwa Kim Jong-il bisa membaca pikiran dan mengontrol cuaca. Bahwa Amerika Serikat adalah setan yang ingin membunuh semua orang Korea.
Di sekolah, Yeonmi belajar matematika dengan soal seperti: "Jika Anda membunuh 5 tentara Amerika hari ini dan 3 tentara Amerika besok, berapa total tentara Amerika yang Anda bunuh?"
Anak-anak diajarkan untuk mengawasi dan melaporkan orangtua mereka sendiri jika mereka mengatakan sesuatu yang "salah." Ibu Yeonmi memperingatkan dia: "Bahkan burung dan tikus bisa mendengar Anda. Jadi hati-hati dengan apa yang Anda katakan."
Tidak ada akses ke informasi luar. Tidak ada internet. Tidak ada buku asing. Tidak ada musik kecuali pujian untuk rezim. Tidak ada film kecuali propaganda.
Rezim tidak hanya mengontrol tubuh—mereka mengontrol pikiran.
Bagian 2: Pelarian—Dari Penggorengan ke Api
Keputusan yang Tidak Ada Pilihan Lain
Pada 2007, kondisi keluarga Yeonmi sudah tidak bisa lebih buruk. Ayah kembali dari penjara dalam kondisi sekarat—kanker usus besar akibat penyiksaan dan malnutrisi. Kakaknya Eunmi menghilang—kemungkinan sudah melarikan diri ke China.
Ibu Yeonmi, Keum Sook, membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya: mereka harus melarikan diri.
Di Korea Utara, upaya pelarian dihukum mati. Bukan hanya untuk pelaku—tetapi untuk seluruh keluarga. Tiga generasi bisa dimasukkan ke kamp konsentrasi atau dieksekusi publik.
Tapi tetap tinggal juga berarti kematian—kematian yang perlahan karena kelaparan.
Malam di Sungai Yalu
31 Maret 2007. Malam yang akan mengubah hidup Yeonmi selamanya.
Dengan bantuan calo manusia, Yeonmi dan ibunya berjalan melintasi Sungai Yalu yang membeku. Suhu udara minus 20 derajat Celsius. Satu langkah salah bisa mematahkan es dan menenggelamkan mereka. Satu suara terlalu keras bisa menarik perhatian penjaga perbatasan yang akan menembak mereka di tempat.
Yeonmi berusia 13 tahun. Dia tidak punya sepatu yang layak. Kakinya mati rasa karena dingin. Tapi dia terus berjalan.
Setelah berjam-jam berjalan dalam kegelapan, mereka sampai di China.
Yeonmi mengira dia akhirnya bebas. Dia tidak tahu bahwa mimpi buruk sesungguhnya baru saja dimulai.
China—Neraka yang Berbeda
Di China, pengungsi Korea Utara tidak punya status hukum. Pemerintah China menganggap mereka "migran ekonomi ilegal" dan rutin mendeportasi mereka kembali ke Korea Utara—di mana mereka akan dieksekusi atau dikirim ke kamp konsentrasi.
Karena statusnya yang ilegal, pengungsi Korea Utara menjadi mangsa empuk perdagangan manusia.
Calo yang "membantu" Yeonmi dan ibunya sebenarnya adalah pedagang manusia. Begitu mereka tiba di China, mereka langsung dijual.
Ibunya dijual seharga $2,100 kepada petani China untuk dijadikan "istri"—sebenarnya budak seks dan pekerja paksa.
Yeonmi dijual kepada Hongwei, seorang pedagang manusia yang mengkhususkan diri dalam "pengantin Korea Utara."
Perbudakan—Kehilangan Kemanusiaan
Pada usia 13 tahun, Yeonmi menjadi budak seks.
Dia diperkosa berulang kali oleh Hongwei dan "pelanggan" nya. Dia tidak bisa melawan karena ancaman deportasi kembali ke Korea Utara. Dia tidak bisa melarikan diri karena tidak punya dokumen, tidak bisa berbahasa Mandarin, dan tidak punya uang.
Yang paling menghancurkan: Yeonmi dipaksa membantu menjual gadis-gadis Korea Utara lain.
Hongwei membuat dia menerjemahkan ketika dia "berbisnis" dengan gadis-gadis Korea Utara yang baru tiba. Yeonmi harus membujuk mereka untuk "kooperatif" agar tidak dianiaya lebih parah.
Setiap kali dia melakukan ini, sepotong jiwanya mati.
Dia menjadi korban sekaligus pelaku. Dia diselamatkan dengan mengorbankan yang lain.
Ayah yang Sekarat—Cinta di Tengah Neraka
Satu-satunya hal yang membuat Yeonmi bertahan adalah cintanya pada keluarga.
Hongwei akhirnya mengijinkan ayahnya bergabung dengan mereka di China. Tapi ayah Yeonmi sudah dalam tahap akhir kanker usus besar. Dia sekarat.
Dalam bulan-bulan terakhir hidupnya, ayah Yeonmi melihat putrinya diperkosa dan dianiaya setiap hari. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena melawan berarti seluruh keluarga akan dideportasi.
Ayah Yeonmi meninggal pada Januari 2008. Karena mereka tidak punya status legal, dia tidak bisa dimakamkan di pemakaman. Mereka menguburkan dia secara diam-diam di hutan, tanpa batu nisan, tanpa upacara.
Yeonmi berjanji pada makam ayahnya: dia akan hidup. Dia akan bebas. Dia akan menceritakan kisah ini pada dunia.
Bagian 3: Perjalanan ke Kebebasan—Mengarungi Gurun Gobi
Keputusan untuk Melarikan Diri Lagi
Setelah dua tahun dalam perbudakan, Yeonmi dan ibunya menemukan kesempatan untuk melarikan diri.
Mereka mengetahui bahwa jika bisa sampai ke Korea Selatan, mereka akan mendapat status pengungsi dan kebebasan. Tapi untuk sampai ke Korea Selatan dari China, mereka harus melintasi Mongolia—perjalanan yang melintasi Gurun Gobi, salah satu tempat paling mematikan di bumi.
Dengan bantuan misionaris Kristen China dan calo manusia yang bersimpati, mereka memulai perjalanan yang akan menentukan hidup atau mati.
Gurun Gobi—Ujian Terakhir
Perjalanan melintasi Gurun Gobi memakan waktu berminggu-minggu.
Suhu siang hari bisa mencapai 45 derajat Celsius. Suhu malam hari turun hingga minus 15 derajat. Tidak ada air selama berhari-hari. Tidak ada makanan kecuali beberapa biskuit yang dibawa.
Yeonmi melihat halusinasi karena dehidrasi. Ibunya pingsan karena kelelahan. Berkali-kali mereka hampir menyerah dan menunggu mati.
Tapi setiap kali mereka akan menyerah, mereka mengingat ayah Yeonmi. Mengingat janji untuk hidup. Mengingat semua orang yang masih terjebak di Korea Utara.
Mereka terus berjalan.
Perbatasan Mongolia—Gerbang Kebebasan
Setelah berminggu-minggu dalam perjalanan, mereka akhirnya sampai di perbatasan Mongolia.
Tentara Mongolia menangkap mereka—yang sebenarnya adalah berkah. Mongolia memiliki kebijakan untuk tidak mendeportasi pengungsi Korea Utara kembali ke China atau Korea Utara.
Setelah berbulan-bulan dalam tahanan Mongolia, Yeonmi dan ibunya akhirnya dikirim ke Korea Selatan.
Pada tahun 2009, setelah dua tahun dalam neraka, mereka akhirnya bebas.
Bagian 4: Korea Selatan—Belajar Menjadi Manusia
Hanawon—Sekolah untuk Mantan Robot
Di Korea Selatan, semua defector Korea Utara harus melalui program rehabilitasi di Hanawon—pusat yang mengajarkan mereka cara hidup dalam masyarakat bebas.
Bagi Yeonmi, ini seperti belajar menjadi manusia untuk pertama kali.
Dia harus belajar konsep "pilihan." Di Korea Utara, tidak ada pilihan—semua keputusan dibuat oleh negara. Di Korea Selatan, dia harus memilih makanan di supermarket, memilih pakaian, memilih program TV.
Dia harus belajar "berpikir kritis." Di Korea Utara, berpikir berarti menerima apa yang diberitahu. Di Korea Selatan, dia diajarkan untuk mempertanyakan, menganalisis, membentuk pendapat sendiri.
Dia harus belajar bahwa dia adalah individu yang punya hak—bukan hanya bagian dari kolektif.
Depresi dan Trauma
Tapi kebebasan datang dengan harga.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yeonmi punya waktu untuk memproses apa yang telah dia alami. Semua trauma yang dia tekan selama bertahun-tahun—kematian ayah, pemerkosaan, perbudakan, keputusan-keputusan mengerikan yang dipaksa dia buat—semuanya kembali menghantui.
Dia mengalami depresi berat. Dia tidak punya kosa kata untuk menjelaskan apa yang dia rasakan karena di Korea Utara, konsep "kesehatan mental" tidak ada.
Butuh bertahun-tahun terapi dan dukungan untuk mulai sembuh.
Pendidikan—Kunci Transformasi
Yang mengubah hidup Yeonmi adalah pendidikan.
Untuk pertama kalinya, dia membaca buku-buku yang tidak dibatasi pemerintah. Dia membaca tentang sejarah dunia, filsafat, sastra. Dia menonton film dari negara-negara lain. Dia belajar bahasa Inggris.
Setiap buku yang dia baca, setiap ide baru yang dia temui, memperluas dunianya. Dia menyadari bahwa informasi adalah kekuatan. Bahwa pengetahuan adalah kebebasan.
Dan dia memutuskan untuk menggunakan kekuatan itu.
Bagian 5: Menjadi Suara—Dari Korban ke Aktivis
Memutuskan untuk Bercerita
Pada awalnya, Yeonmi hanya ingin melupakan masa lalunya dan hidup normal di Korea Selatan.
Tapi dia menyadari bahwa diam berarti membiarkan penderitaan berlanjut.
25 juta orang masih terjebak di Korea Utara. Ribuan gadis Korea Utara masih diperdagangkan di China setiap tahun. Dunia internasional masih tidak peduli atau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jika dia diam, siapa yang akan bercerita untuk mereka?
One Young World Dublin 2014
Titik balik dalam hidup Yeonmi adalah ketika dia berbicara di One Young World Summit di Dublin, 2014.
Dengan suara bergetar dan air mata di mata, dia menceritakan kisahnya di depan ribuan pemuda dari seluruh dunia. Dia menceritakan tentang kelaparan, pemerkosaan, kematian ayahnya, dan perjuangan untuk kebebasan.
Video pidatonya menjadi viral dan ditonton jutaan orang. Tiba-tiba, dunia tahu tentang kenyataan Korea Utara dari sudut pandang korban yang sebenarnya.
Menulis "In Order To Live"
Menulis memoir adalah proses yang menyakitkan bagi Yeonmi.
Dia harus mengingat kembali trauma yang telah dia coba lupakan. Dia harus mengakui keputusan-keputusan yang membuatnya merasa bersalah. Dia harus membuka luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Tapi dia juga tahu bahwa cerita memiliki kekuatan.
Ceritanya bukan hanya tentang dia—ini tentang 25 juta orang yang tidak punya suara. Ini tentang gadis-gadis yang masih diperdagangkan. Ini tentang anak-anak yang masih mati kelaparan.
Dia menulis "In Order To Live" untuk mereka.
Aktivisme—Memberikan Suara pada yang Tidak Bersuara
Sejak menerbitkan bukunya, Yeonmi menjadi salah satu aktivis hak asasi manusia paling berpengaruh di dunia.
Dia berbicara di PBB, di universitas-universitas top, di konferensi internasional. Dia bertemu dengan pemimpin dunia. Dia menjadi duta untuk berbagai organisasi hak asasi manusia.
Tapi yang paling penting: dia memberikan wajah manusiawi pada statistik.
25 juta orang Korea Utara bukan hanya angka—mereka adalah manusia dengan mimpi, harapan, cinta, dan rasa sakit seperti kita semua.
Bagian 6: Pelajaran dari Perjalanan Yeonmi
1. Kebebasan Dimulai dari Pikiran
Pelajaran terbesar dari Yeonmi adalah bahwa kebebasan sejati dimulai dari kebebasan berpikir.
Rezim totaliter tidak hanya mengontrol tubuh—mereka mengontrol pikiran. Mereka menciptakan "penjara mental" di mana korban bahkan tidak menyadari bahwa mereka dipenjara.
Pelajaran: Lindungi kemampuan Anda untuk berpikir kritis. Pertanyakan informasi. Carilah perspektif berbeda. Jangan biarkan siapa pun—pemerintah, media, atau kelompok—mengendalikan cara Anda berpikir.
2. Informasi Adalah Hak Asasi Manusia
Yeonmi menyadari bahwa akses terhadap informasi adalah hak asasi manusia fundamental.
Di Korea Utara, orang mati bukan hanya karena kekurangan makanan—mereka mati karena kekurangan informasi. Mereka tidak tahu bahwa hidup bisa lebih baik. Mereka tidak tahu bahwa ada alternatif.
Pelajaran: Hargai akses Anda terhadap informasi. Gunakan internet, buku, media untuk memperluas wawasan. Dan berjuang untuk akses informasi bagi mereka yang tidak memilikinya.
3. Keberanian Bukan Ketiadaan Rasa Takut
Yeonmi takut setiap hari—takut ditangkap, takut diperkosa, takut mati.
Tapi dia tetap melakukan apa yang harus dilakukan meskipun takut.
Pelajaran: Keberanian bukan tidak merasakan takut. Keberanian adalah bertindak benar meskipun Anda takut. Setiap tindakan kecil untuk melawan ketidakadilan membutuhkan keberanian.
4. Trauma Tidak Menentukan Identitas
Yeonmi mengalami trauma yang tidak terbayangkan—pemerkosaan, perbudakan, penyiksaan, kehilangan.
Tapi dia tidak membiarkan trauma itu mendefinisikan siapa dia.
Pelajaran: Anda bukan trauma yang Anda alami. Anda lebih kuat dari rasa sakit yang pernah Anda rasakan. Penyembuhan mungkin, dan Anda berhak untuk sembuh.
5. Kekuatan Bercerita
Cerita Yeonmi mengubah cara dunia melihat Korea Utara.
Sebelumnya, Korea Utara adalah masalah politik abstrak. Setelah Yeonmi bercerita, Korea Utara menjadi krisis kemanusiaan yang nyata.
Pelajaran: Cerita Anda punya kekuatan. Mungkin Anda merasa pengalaman Anda tidak penting, tapi cerita Anda bisa mengubah hidup orang lain. Jangan takut untuk bercerita.
6. Setiap Manusia Punya Martabat
Di Korea Utara, Yeonmi diajarkan bahwa dia tidak punya nilai sebagai individu—hanya sebagai bagian dari kolektif yang melayani negara.
Di China, dia diperlakukan seperti barang yang bisa dibeli dan dijual.
Tapi dia belajar bahwa setiap manusia punya martabat yang tidak bisa diambil siapa pun.
Pelajaran: Tidak peduli apa yang orang lain katakan atau lakukan pada Anda, Anda punya nilai inherent sebagai manusia. Perjuangkan martabat Anda dan martabat orang lain.
Penutup: "Saya Bersyukur Dilahirkan di Korea Utara"
Di akhir bukunya, Yeonmi menulis kalimat yang mengejutkan:
"Saya paling bersyukur untuk dua hal: bahwa saya dilahirkan di Korea Utara, dan bahwa saya melarikan diri dari Korea Utara."
Mengapa dia bersyukur dilahirkan di tempat yang mengerikan itu?
Karena pengalaman di Korea Utara mengajarkannya untuk menghargai hal-hal yang sering orang ambil begitu saja: kemampuan berpikir bebas, akses terhadap informasi, hak untuk memilih, martabat sebagai manusia.
Dia tahu betapa berharganya kebebasan karena dia pernah kehilangan kebebasan.
Pesan untuk Dunia
Yeonmi tidak menulis buku ini untuk mendapat simpati. Dia menulis untuk memberikan suara pada 25 juta orang yang masih terjebak di Korea Utara.
Dia menulis untuk mengingatkan dunia bahwa diam di hadapan ketidakadilan adalah kejahatan.
Dia menulis untuk menunjukkan bahwa satu suara bisa mengubah dunia—jika suara itu cukup berani untuk bercerita.
Pertanyaan untuk Anda
Yeonmi mengakhiri bukunya dengan tantangan:
● Kebebasan apa yang Anda ambil begitu saja?
● Ketidakadilan apa yang Anda abaikan karena tidak mempengaruhi Anda secara langsung?
● Suara apa yang bisa Anda berikan untuk mereka yang tidak bersuara?
● Cerita apa yang perlu Anda ceritakan, meskipun itu sulit?
Korea Utara mungkin terasa jauh dari hidup Anda. Tapi prinsip-prinsip yang diperjuangkan Yeonmi—kebebasan berpikir, martabat manusia, keberanian untuk bercerita—relevan di mana pun Anda berada.
Setiap hari, Anda memilih: diam atau bersuara, peduli atau acuh, bebas atau terpenjara.
Seperti yang ditulis Yeonmi: "Untuk hidup, saya harus menceritakan kebenaran. Dan kebenaran itu telah membebaskan saya."
Sekarang pertanyaannya: Kebenaran apa yang akan Anda ceritakan untuk membebaskan diri Anda sendiri—dan orang lain?
Tentang Buku Asli
"In Order To Live: A North Korean Girl's Journey to Freedom" diterbitkan pada tahun 2015 dan menjadi bestseller internasional yang diterjemahkan ke puluhan bahasa.
Yeonmi Park lahir tahun 1993 dan kini menjadi aktivis hak asasi manusia terkemuka. Dia telah berbicara di PBB, Harvard, Oxford, dan forum internasional lainnya. Dia tinggal di AS dan terus memperjuangkan hak-hak pengungsi Korea Utara.
Maryanne Vollers adalah penulis berpengalaman yang telah berkolaborasi dengan Hillary Clinton dalam "Living History" dan beberapa memoir terkenal lainnya.
Buku ini mendapat pujian luas dari media internasional dan menjadi salah satu memoir paling berpengaruh dalam dekade terakhir.
Untuk memahami sepenuhnya kekuatan narasi Yeonmi, kedalaman trauma yang dia alami, dan transformasi luar biasa yang dia jalani, sangat disarankan membaca buku lengkapnya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi pengalaman membaca kata-kata Yeonmi sendiri akan mengubah cara Anda melihat kebebasan, kemanusiaan, dan keberanian.
Sekarang pergilah dan hargai kebebasan Anda. Gunakan suara Anda. Dan ingatlah bahwa di suatu tempat di dunia ini, ada orang yang mempertaruhkan hidup mereka hanya untuk memiliki apa yang Anda miliki hari ini.
Jangan sia-siakan kebebasan itu.

